Articles Comments

Itryah » Uncategorized » Konflik Persaingan Dalam Keluarga Suku Palembang (call paper, Temu Ilmiah Nasional 2012 Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta)

Konflik Persaingan Dalam Keluarga Suku Palembang (call paper, Temu Ilmiah Nasional 2012 Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta)

KONFLIK PERSAINGAN DALAM KELUARGA SUKU PALEMBANG
Itryah Arfianto.
Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma
itryah@yahoo.com

Abstrak
Penelitian ini mengangkat permasalahan tentang konflik yang terjadi dalam keluarga suku palembang, dimana dalam keluarga besar yang banyak anak keturunan dengan karakteristik trait yang berbeda, terutama dipengaruhi pula oleh perlakuan yang diberikan orang tua mempengaruhi kualitas hubungan antar saudara kandung, realitas menunjukkan bahwa hubungan saudara kandung justru diliputi oleh suasana pertengkaran dan saling mengejek. Penelitian ini dilakukan karena karena konflik antar saudara dalam keluarga besar suku palembang ini menimbulkan permusuhan dan secara psikologis mempengaruhi kesehatan mental. Sampel dalam penelitian ini adalah 1 keluarga besar yang memiliki 15 anak. Hasil penelitian ini diharapkan pula dapat menjadi sumbangsih bagi perkembangan ilmu psikologi kuhususnya psikologi perkembangan dan budaya, selain itu hasil penelitian ini semoga bisa menjadi masukan bagi studi lanjutan dalam mengungkap masalah karakteristik individu yang tinggal dalam keluarga besar khususnya masyarakat palembang khususnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam serta observasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik persaingan yang terjadi dalam keluarga suku palembang disebabkan oleh pengasuhan orangtua kepada anak-anaknya, ini dipengaruhi pula oleh jumlah anak yang banyak dengan strata ekonomi rendah. Didukung pula oleh gambaran budaya suku palembang yang keras, sifat mudah curiga kepada orang lain serta terlalu hati-hati dengan orang baru. Adanya kelas sosial antar anggota keluarga yang berbeda dapat membentuk proses sosial dan dinamika dalam keluarga, baik yang sifatnya asosiatif maupun yang disasosiatif. Asosiatif dapat berupa bentuk kerjasama antar mereka, sedangkan yang disasosiatif berupa kompetisi atau persaingan termasuk di dalamnya sehingga terjadi konflik . Perbedaan dalam keluarga, tidak adanya kompromi, kurangnya pemahaman dan penghargaan, kesabaran dan toleransi, dan batasan orang lain, sehingga hal ini merupakan potensi konflik persaingan dalam keluarga yang menjadi benih munculnya permusuhan.
Kata kunci: Konflik, Persaingan, Keluarga, Suku
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang heterogen. Hal ini dapat dilihat dari berbagai aspek seperti adanya keberagaman suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat dan sebagainya. Keberagaman suku bangsa yang ada di Indonesia merupakan salah satu kekayaan alam di Indonesia. Masing masing memiliki keunikan dan kelebihan yang berbeda beda. Keragaman budaya yang ada di Indonesia ini menimbulkan pula karakteristik, sifat yang berbeda pula. Adanya beberapa perbedaan pada sifat-sifat, perilaku dan tujuan-tujuan dari masing-masing suku seringkali menjadikan benturan-benturan budaya yang dapat menghambat perkembangan lingkungan masyarakat.
Menurut Kartasapoetra dan Kreimers (1997) termologi tentang suku melangsungkan perhatian pada aspek-aspek fisis dan biologis manusia yang menurun temurunkan sifat-sifat dan kebiasaan kepada para anggota suatu kelompok, dibatasi dengan tegas, baik sifat-sifat fisis yaitu variasi-variasi individu di antara manusia-manusia, baik dalam perawakannya, timbangan badan, warna kulit maupun sifat-sifat biologis tertentu yang lainnya ada dalam satu jajaran yang sangat terbatas, dan sifat-sifat mental yaitu para anggota dari tiap kelompok rasial mempunyai perangkat sifat-sifat psikologis yang sama seperti daya tanggapan, daya ingat, kesanggupan, untuk menyusun konsepsi-konsepsi abstrak, kapasitas untuk menghalangi dorongan-dorongan hati, serta sifat-sifat mental utama lainnya pada manusia muncul merupakan hal yang sama pada semua kelompok rasial.
Palembang merupakan kota dengan pendapatan perkapita paling tinggi di seluruh Indonesia. Lokasinya di tepi sungai Musi, propinsi Sumatera Selatan. Kelompok suku Palembang memenuhi 40 – 50% daerah kota atau 12 juta orang. Suku Palembang dibagi dalam dua kelompok : Wong Jeroo merupakan keturunan bangsawan/hartawan dan sedikit lebih rendah dari orang-orang istana dari kerajaan tempo dulu yang berpusat di Palembang, dan Wong Jabo adalah rakyat biasa. Seorang yang ahli tentang asal usul orang Palembang yang juga keturunan raja, mengakui bahwa suku Palembang merupakan hasil dari peleburan bangsa Arab, Cina, suku Jawa dan kelompok-kelompok suku lainnya di Indonesia (http://www.sabda.org, Akses tgl 2- April-2012).
Hasil observasi menunjukkan bahwa masing-masing suku palembang memiliki karakteristik yang berbeda. Beberapa pendapat mengatakan pada umumnya karakteristik orang suku palembang banyak bicara, materialistik, suka mengatur, berbicara kasar, wataknya keras/sikapnya keras, sifat terlalu curiga dan berhati-hati terhadap orang baru pada diri orang palembang umumnya menjadikan hubungan awal berkesan kaku dan bahkan dapat terlalu mudah akrab dengan orang yang barupun mengakibatkan kita kurang bersikap waspada terhadap hal buruk yang kemungkinan akan terjadi, bicara dengan intonasi yang kencang, bersifat egois ingin menang sendiri. Munculnya karakateristik ini dilatar belakangi oleh sifat-sifat kesukuan secara biologis, fisis maupun mental.
Jika menelaah tentang sifat kesukuan dan kultur manusia , maka jelas terdapat suatu tingkatan tinggi tentang keseragaman dan stabilitasnya, artinya bahwa individu adalah sama atau memiliki kemiripan dalam sifatnya yang asli yaitu masalah fisik, mental serta ciri-ciri watak (Kartasapoetra & Kreimers, 1997). Pada umumnya karakteristik kepribadian yang berasal dari suku palembang dengan watak yang keras, ingin menang sendiri, egois. Ini juga dapat disebabkan oleh faktor wilayah yang berbeda yaitu daerah ilir dan hulu yang dipisahkan oleh sungai musi, individu yang tinggal di ilir rata-rata penduduknya memang asli suku palembang dengan karakteristik watak keras, mudah terpengaruh, berpendidikan, secara ekonomi sudah maju, sedangkan hulu rata-rata penduduknya banyak pendatang bermacam-macam suku, primitif, kurang termotivasi, banyak melakukan penyimpangan perilaku, ekonomi kurang berkembang baik.
Pada umumnya orang suku palembang berada di keluarga besar (extended family). Menurut Kertamuda ( 2009) menjelaskan bahwa keluarga besar merupakan anggota-anggotanya diikat berdasarkan hubungan darah, keluarga ini anggotanya tidak hanya terdiri dari ibu, ayah, dan anak tetapi juga kakek, nenek, keponakan saudara sepupu, dan anggota lainnya, keluarga besar merupakan sau ciri dari keluarga Indonesia. Ditambah pula banyak anak dan saudara yang tinggal bersama-sama sejak kecil, dengan orang tua yang berada pada keluarga kelas sosial bawah. Kelas sosial bawah umumnya memiliki banyak anak, penghasilan kecil, hidup di dalam rumah yang penuh sesak. Dalam kondisi demikian anak dituntut untuk patuh, tidak boleh ribut, tidak boleh terlalu berinisiatif agar tidak menimbulkan banyak resiko bagi keluarga. Masalah-masalah yang muncul pada keluarga suku palembang selalu berhubungan dengan perhatian, ekonomi, penghasilan dan harta. Sampai sering terjadi pertengkaran, perselisihan, adu mulut, salah persepsi, dan prasangka antar saudara kandung. Karena karakteristik individu suku palembang yang cenderung materialistik sehingga sering pula terjadi persaingan harta kekayaaan, ekonomi.
Sesungguhnya keluarga berperan membina anggota-anggotanya untuk beradaptasi dengan lingkungan fisik maupun lingkungan budaya di mana berada. Bila semua anggota sudah mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan di mana ia tinggal, maka kehidupan masyarakat akan tercipta menjadi kehidupan yang tenang, aman dan tenteram. Tetapi jika dalam keluarga tidak diajarkan untuk beradaptasi dengan lingkungan pasti akan tercipta kehidupan yang penuh dengan ketidaknyamanan, kekhawatiran, dan kecurigaan. Menurut Ahmadi (2004), keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang dikenalkan kepada anak. Dalam keluarga, orangtua mengenalkan nilai-nilai kebudayaan kepada anak dan di sinilah dialami interaksi pertama yang dikenalkan kepadanya dalam kehidupan sosial. Adanya interaksi antara anggota keluarga yang satu dengan yang lain menyebabkan seorang anak menyadari dirinya sebagai individu dan sebagai makhluk sosial. Perkembangan seorang anak di dalam keluarga sangat ditentukan oleh kondisi situasi keluarga dan pengalaman-pengalaman yang dimiliki orangtuanya.
Karena dalam keluarga ada hubungan sedarah, atau saudara kandung maka banyak konsekuensinpositif bagi perkembangan sosial kepribadian seseorang dimasa yang akan datang. Hubungan tersebut memberikan seseorang konteks sosial emosional untuk mengasah keterampilan psikososial, belajar penyesuaian diri, bernegosiasi dan berkompromi, pemahaman dan penghargaan terhadap orang lain, kesabaran dan toleransi, dan batasan orang lain. Akan tetapi realitanya memperlihatkan bahwa hubungan saudara dalam keluarga suku palembang justru diliputi oleh suasana pertengkaran, saling mengejek antar saudara baik secara langsung maupun tidak langsung, saling mengejek, bahkan tidak menyapa dalam beberapa hari dan berbulan-bulan.
Masalah atau perbedaan yang mungkin ada dalam sebuah keluarga dalam suatu suku budaya tidak akan diselesaikan dengan mudah hanya karena kognitif orang-orang menyadari alasan perbedaan dan strategis ada solusi yang ditentukan untuk itu. Sebab suku dan budaya adalah sesuatu yang dipelajari melalui pengalaman dalam kehidupan awal. individu telah mengembangkan lampiran emosional yang kuat dengan budayanya. terkait dengan sistem kepercayaannya, nilai, dan kebiasaan gaya hidupnya. Sehingga tidak lepas dari konflik (Dessi, 2011).
Dalam kehidupan konflik berarti benturan kepentingan, keinginan, pendapat, dan lain- lain yang paling tidak melibatkan dua pihak atau lebih. konflik dalam kehidupan sosial dapat disebabkan atau hanya berakar pada ketidakpuasan batin, kecemburuan, iri hati, kebencian, masalah perut, masalah tanah, masalah tempat tinggal, masalah pekerjaan, masalah uang, dan masalah kekuasaan, masalah keluarga. Menurut Chang (2001) menjelaskan bahwa tidak hanya masalah ketidakpuasan, kecemburuan, iri hati, pekerjaan dan uang saja tetapi emosi manusia sesaat pun dapat memicu terjadinya konflik. Selain itu juga faktor-faktor yang menyebabkan konflik terjadi karena, perbedaan Individu, perbedaan latar belakang kebudayaan, perbedaan kepentingan, perubahan nilai yang cepat, perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik. Sehingga dibutuhkan interaksi yang baik, awal mula terjadinya interaksi sosial berada di dalam keluarga. Interaksi antara anggota keluarga melalui adanya kontak dan komunikasi baik secara verbal dan non verbal. Bentuk interaksi dalam keluarga dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan pertentangan atau konflik (conflict). (Risnafhanih, 2012)
Persaingan atau competition diartikan sebagai suatu proses sosial dimana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing untuk mencari keuntungan atau memperebutkan tujuan-tujuan tertentu yang sifatnya terbatas dan pada suatu masa tertentu akan menjadi pusat perhatian umum, baik perorangan maupun kelompok manusia. Pada umumnya, persaingan dibagi atas dua tipe yakni persaingan personal dan impersonal. Persaingan ini biasanya akan terjadi dalam keluarga biasanya terjadi persaingan personal yakni persaingan antara satu anggota keluarga dengan satu anggota keluarga lain. Seorang anak biasanya selalu ingin mendapat pujian yang lebih dari orang tuanya dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Untuk mencapai hal tersebut, anak itu harus bersaing dengan saudaranya sendiri, terutama jika saudara kandung nya banyak. Persaingan dapat memberikan dampak yang negatif pula ketika orang tua yang berfungsi panutan dan tempat mengadu seorang anak tidak dapat bersikap adil sehingga persaingan tersebut memberikan dampak negatif. Jika berada pada keluarga yang besar kompetisi ini akan selalu muncul karena memperebutkan perhatian, dukungan sosial dari orangtua dan lingkungannya. Sangat erat kaitannya dengan bagaimana orangtua memberikan perlakuan terhadap anak-anaknya apakah dengan disiplin yang keras atau pemahaman yang empatik, acuh tak acuh, yang akan mempengaruhi emosional anak sampai dewasa.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konflik persaingan yang terjadi dalam keluarga suku palembang.

Landasan Teori
Kertamuda (2009) menjelaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan dimana seorang anak untuk pertama kalinya mengenal orang-orang disekitarnya sebelum berafiliasi ke masyarakat secara luas, sehingga peran keluarga sangatlah penting untuk perkembangan kepribadian seorang anak. Pada masyarakat kita, keluarga adalah tempat seorang bergantung , baik secara ekonomi maupun untuk kehidupan sosial lainnya, sekaligus juga berperan dominan dalam menentukan dan mengambil suatu keputusan.
Loundon & Bitta (Kertamuda, 2009) menjelaskan bahwa istilah keluarga (family) dan rumah tangga (household) tidak selalu bermakna sinonim karena terdapat hal yang membedakan dari keduanya. Pada sebuah rumah tangga tercakup didalamnya hubungan antara anggota keluarga dan bukan anggota keluarga yang tinggal di sebuah rumah. Rumah tangga bisa terdiri atas keluarga dan bukan keluarga, sedangkan keluarga cakupannya lebih terbatas dan hanya terdiri atas dua orang atau lebih berdasarkan ikatan darah, pernikahan, atau adopsi.
Schiffman & Kanuk (2007) menjelaskan keluarga adalah dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan mempunyai ikatan darah, pernikahan, atau pengadopsian serta tinggal secara bersama-sama. Menurut Ahmadi (2007) Keluarga merupakan kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat. Keluarga merupakan sebuah group yang terbentuk dari perhubungan laki-laki dan wanita, perhubungan mana sedikit banyak berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak.
Keluarga merupakan suatu sistem di mana didalamnya terdapat hubungan yang spesifik, aturan-aturan, dan peran-peran, dari masing-masing anggota yang memiliki keunikan tersendiri (Ivey, Simek-Morgan, 1993). Sedangkan lingkungan keluarga merupakan suatu tempat dimana anak berinteraksi sosial dengan orang tua yang paling lama, sehingga upaya pencegahan yang difokuskan pada keluarga kemudian sekolah. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas bapak, ibu, anak, dan lain-lain (kakek, nenek dan sebagainya) yang hidup dibawah satu atap dan saling berhubungan (Suryanto, 2008).
Menurut Sarwono (Setianingsih, 2007), keluarga merupakan lingkungan primer hampir setiap individu, hubungan antara manusia yang paling intensif dan paling awal terjadi dalam keluarga. Sebelum seorang anak mengenal lingkungan yang lebih luas, ia terlebih dahulu mengenal lingkungan keluarganya sehingga sebelum ia mengenal norma-norma dan nilai-nilai dari masyarakat umum, pertama kali ia menyerap norma norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarganya untuk dijadikan bagian dari kepribadiannya.
Menurut Kertamuda (2009) bahwa keluarga di Indonesia sangat kuat dipengaruhi oleh suatu sistem, baik itu kekerabatan, budaya, aturan-aturan yang berlaku, dan juga sistem nilai yang ada. Bentuk keluarga juga erat kaitannya dengan semakin kompleksnya kehidupan saat ini yang ditimbulkan oleh status sosial dan ekonomi dan juga dinamika yang terjadi dalam keluarga Indonesia. Menurut Friedman ( 1998) menjelaskan bahwa bentuk keluarga antara lain 1) Keluarga Inti (Nuclear Family): keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak, 2) Keluarga Besar (Extended Family): keluarga inti ditambah sanak saudara misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi, dsb. Keluarga besar tidak selalu bertempat tinggal dalam satu rumah.
Raven dan Rubin (1983) mengatakan bahwa konflik adalah suatu persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest). Istilah Kepentingan bisa juga diartikan sebagai “nilainilai” (value) atau “kebutuhan”(needs). Kepentingan adalah perasaan orang mengenai apa yang sesungguhnya ia inginkan. Perasaan itu cenderung bersifat sentral dalam pikiran dan tindakan orang, yang membentuk inti dari banyak sikap, tujuan dan niat (intensi)-nya.
Coser (Poloma, 2003) membedakan konflik menjadi dua tipologi, yakni konflik realistis dan konflik non-realistis. Konflik realistis adalah konflik yang berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada objek yang dianggap mengecewakan. Selanjutnya, konflik non-realistis diartikan sebagai konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan saingan yang antagonistik, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari satu pihak. Soekanto (2006) mengutarakan bahwa konflik atau pertentangan mempunyai beberapa bentuk khusus, antara lain; pertentangan pribadi, pertentangan rasial, pertentangan politik, pertentangan internasional, serta pertentangan antara kelas-kelas sosial.
Tipe-tipe konflik menurut Sadarjoen (2009) sebagai berikut: 1) Zero-sum dan Motive Conflict yaitu terjadinya kekalahan selama proses konflik dan terdapat lebih banyak kemungkinan menang atau keuntungan atau habis semua, juga terdapat dalam situasi motive conflict yang terjadi, 2) konflik situasional dan konflik atas dasar perbedaan kepribadian, 3) Konflik basic dan non basic yaitu konflik basic yang berarti ketidakstabilan individu dan konflik non basic berarti perubahan situasional. Biasanya berhubungan dengan masalah ekonomi dan kesepakatan, 4) Konflik yang tidak terelakkan yaitu suatu kondisi atau keadaan, kejadian yang membuat suatu sistem tercabik-cabik, yang memiliki konsekuensi negatif dan harus dihindari. Konflik ini dibagi menjadi 2 yaitu a. Konflik yang menguntungkan yaitu dengan adanya konflik terjadi justru memperkuat ikatan relasi sosial dan membuat ikatan itu mengandung ganjaran yang diharapkan, b. Konflik yang menghancurkan merupakan konflik yang akan justru menghancurkan hubungan di antara anggota kelompok. Apabila anggota atau individu berusaha unuk mencoba mengatasi konflik secara berlanjut memperkuat kekuasaan yang tidak diakui, merasa dieksploitasi, merasa tidak puas, dan tidak dipercaya, maka konflik tersebut akan diakhiri dengan hancurnya hubungan. 5) Area konflik yaitu, keuangan, pendidikan, hubungan teman, keluarga besar, pembagian tugas, komunikasi dan masalah-masalah yang tidak spesifik.
Menurut Putra (2011) menjelaskan bahwa dalam menganalis konflik sedikitnya terdapat beberapa indikator penting. Indikator-indikator tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Interaksi (interaction), yakni hubungan-hubungan sosial yang terjadi antara individu ataupun kelompok yang dapat menyebabkan konflik. b. Sumber-sumber konflik (source), yang meliputi; perbedaan fisik, perbedaan kepentingan, perbedaan perlakuan, perbedaan identitas, kekecewaan, keterbatasan sumber daya, bahasa, terputusnya komunikasi, perbedaan persepsi, dan stereotip. c. Pihak-pihak yang berkonflik (stakeholder), yakni pihak-pihak yang berkonflik atau memiliki kepentingan atas terjadinya konflik, meliputi; individu, kelompok, dan pihak ketiga (mediator, free rider, dan lain sebagainya). d. Proses (process), yakni bagaimana konflik diawali dan berlangsung hingga saat ini. Proses konflik juga meliputi sampai sejauhmana konflik atau potensi konflik akan terjadi, yang dapat digambarkan sebagai eskalasi dan deskalasi konflik. e. Ekspresi (expression), yakni dalam bentuk apa konflik ditunjukkan, seperti; ucapan (verbal), tulisan, gerak tubuh (gesture), dan kontak fisik.
f. Hasil akhir (result), meliputi bagaimana hasil akhir dari konflik yang terjadi, seperti; win-win, win-lose, dan lose-lose condition.
Konsep tentang suku menurut Kartasapoetra dan Kreimer (1997) menjelaskan konsep suku secara biologis, konsep biologis dari suku adalah suatu keseragaman umat manusia yang permanen yang tersusun dari para individu yang merasa seketurunan dari suatu kedatukan tertentu dalam suatu lingkungan masyarakat, suatu kesukuan adalah bagian dari suatu rumpun yang masih memiliki ciri-ciri yang konstan sehingga dapat dibedakan tata cara kehidupannya daripada bagian-bagian manusia yang lainnya yang juga memiliki kesukuan tersendiri.

Penelitian Terdahulu
Penelitian sebelumnya mengenai: Kualitas bermasyarakat suku bangsa jawa, bali dan nusa tenggara barat yang diteliti oleh Dalil Adisubroto (1994) hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam kualitas masyarakat antara orang-orang suku bangsa jawa, jawa, bali dan nusa tenggara barat, juga antara kelompok jenis kelamin antara kelompok pendidikan dan antara kelompok jenis pekerjaan, tetap tidak ada perbedaan antara kelompok usia, Konflik penyesuaian Perkawinan yang berbeda suku budaya diteliti oleh Dessi (2011) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pada budaya yang berbeda dan kebiasaan yang berbeda kemungkinan terjadinya konflik dalam proses penyesuaian perkawinan sangat besar. Penelitian yang dilakukan oleh Sundari, dkk (1994) tentang sikap terhadap program keluarga berencana pada wanita suku jawa dan etnis cina, hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan sikap terhadap program keluarga berencana pada wanita usia subur antara kelompok wanita etnis cina dan kelompok wanita etnis jawa.
METODE
Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Siregar (Dessi, 2011) Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang memaparkan situasi dan peristiwa yang terjadi. Penelitian ini juga tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis dan membuat prediksi. Penelitian ini dapat diuraikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang sedang diselidiki dengan menggambarkan atau menuliskan keadaan subyek atau obyek penelitian, suatu lembaga, masyarakat dan lain. Pada hakekatnya, penelitian deskriptif mengumpulkan data secara keseluruhan. Karakteristik data diperoleh dari survei survei langsung, wawancara, dan mencari wacana yang revelensi dengan obyek penelitian. Ciri lain metode deskriptif ialah titik berat pada observasi dan suasana alamiah. Disini peneliti hanya bertindak sebagai pengamat, yang hanya membuat kategori perilaku, mengamati gejala dan mencatat ke dalam buku observasi. Dengan suasana alamiah dimaksudkan bahwa peneliti terjun langsung ke lapangan ( Sugiyono, 2008). Penelitian ini mengambil responden 1 keluarga besar yang memiliki 15 anak, semuanya sudah berkeluarga dan hidup terpisah, kedua orang tua 15 anak tersebut sudah tidak ada. Keluarga ini asli suku palembang, di salah satu wilayah yaitu daerah 18 ilir kota palembang.
Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan motode wawancara dan observasi. Setelah peneliti memperoleh dari teknik wawancara. Peneliti dalam penelitian ini akan menggunakan teknik penggumpulan adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara kepada responden dan jawaban jawaban respoden dicatat. Daftar pertanyaan untuk wawancara ini disebut sebagai interview scedule sedangkan catatan garis besar tentang pokok pokok yang akan ditanyakan disebut sebagai pedoman wawancara atau interview quide. Metode observasi yang digunakan bersamaan dengan metode wawancara. Peneliti mengamati langsung keadaan yang sebenarnya. Marshall dan Rosman (Poerwandari, 2009) menyatakan untuk meningkatkan kredibilitas penelitian kualitatif, dapat dilakukan dengan metode triangulasi, yaitu triangulasi data yaitu yang mengacu pada upaya mengambil sumber data yang berbeda, dengan cara yang berbeda untuk memperoleh kejelasan mengenai suatu hal.

HASIL
Menurut Poloma (Putra, 2011) dalam kehidupan sosial di tingkat interpersonal, konflik cenderung disebabkan oleh adanya ikatan yang intim dengan orang lain. Pada tahapan ini, semakin dekat suatu hubungan semakin besar rasa kasih sayang yang tertanam, sehingga semakin besar juga kecenderungan untuk menekan daripada mengungkapkan rasa permusuhan. Sementara di sisi lain, penekanan rasa permusuhan itu sendiri dapat menyebabkan akumulasi permusuhan yang akan meledak apabila konflik tersebut berkembang, selanjutnya menurut Dahrendorf (Poloma, 2003) konflik yang sering muncul berhubungan dengan masalah kekayaan, status ekonomi, dan status sosial, meskipun bukan determinan kelas akan tetapi dapat mempengaruhi intensitas pertentangan.
Dalam hal ini di keluarga suku palembang ini yang memegang prinsip bahwa orang yang paling tua yang berhak mengatur dan harus mematuhi segala keinginan, pendapat, dan selalu mendominasi adalah kakak atau saudara yang paling tua. Setiap permasalahan yang muncul berkaitan dengan masalah keluarga baik itu keputusan dalam hal apapun, masalah harta keluarga yang ditinggalkan oleh orang tua, maka yang memegang kendali adalah anak tertua. Diketahui pula bahwa karakteristik sifat dan watak orang suku palembang yang keras kepala, ingin menang sendiri, sedangkan saudara yang lain dengan status sebagai adik tidak mau diatur, ingin memaksakan kehendak masing-masing. Sehingga pertengkaran, saling mengejek, memaki sering juga dilakukan antar saudara, maka konflik selalu muncul dan berlarut-larut. Jika dilihat dari status ekonomi memang berada pada status sosial ekonomi yang tinggi, sehingga semua merasa mampu dan berhak memutuskan. Kajian interaksi sosial bahwa menurut Putra (2011) menjelaskan bahwa persaingan, pertentangan (konflik) yang paling sering muncul. Sehingga selalu memunculkan suatu kompetisi yang terjadi dalam suatu hubungan, kompetisi itu sendiri merupakan suatu proses dimana individu atau kelompok saling bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan (sumber daya) yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum. Persaingan juga terjadi dan menimbulkan konflik. Pada keluarga suku palembang asli ini, selalu memamerkan kekayaan, harta yang diperoleh, dan berlomba-lomba untuk memenuhi kebutuhan diatas rata-rata dari saudara. Hal ini juga dilatar belakangi karena orangtua berada pada status sosial ekonomi rendah, kurangnya perhatian, peran pengasuhan ayah yang kurang tapi kadang-kadang tindakan otoriter di dukung pula pendapat Kurniawan (2005) bahwa para orangtua yang berasal dari status sosial ekonomi rendah digambarkan lebih otoriter, kecenderungan menghukum tinggi dan berpusat pada orang tua. Apalagi jika di hubungkan dengan sistem kekeluargaan suku palembang ayah atau suami adalah orang yang berperan penuh mencari nafkah, pelindung keluarga dan ibu atau istri sebagai orang yang bertanggung jawab menjaga ketertiban dan keharmonisan rumah tangga. Peran ibu yang sangat besar, mengasuh 15 orang anak dengan karakteristik sifat yang berbeda, selalu emosional dalam mendidik. Greenfield dan Suzuki ( Kurniawan, 2005) menyatakan bahwa model masyarakat individualistik, anak-anak pada awal kehidupan tergantung pada orangtuanya sejalan dengan bertambahan usia. Sebaliknya, dalam model masyarakat kolektivistik, anak-anak pada awal kehidupannya sebagai makhluk yang tidak suka bergaul dengan orang lain dan menunjukkan sebuah peningkatan baik dalam konsep maupun praktek, tanggung jawab sosial dan interdependensi sejalan dengan bertambahnya usia.
Menurut Putra (2011) menjelaskan bahwa dalam menganalis konflik sedikitnya terdapat beberapa indikator penting. Indikator-indikator tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Interaksi (interaction), yakni hubungan yang terjadi dalam keluarga suku palembang ini kurang harmonis, kurangnya komunikasi antar saudara, sering muncul prasangka yang negatif dan biasanya didapat dari saudara sekandung lain yang berpandangan negatif terhadap saudara kandung lain terutama saudara tertua. Salah komunikasi akan menimbulkan perselisihan yang panjang, saling adu mulut dan pertengkaran kadang sampai berbulan0bulan dan akhirnya hubungan komunikasi, silaturahmi terputus. b. Sumber-sumber konflik (source), yang dalam keluarga suku palembang ini yang paling sering sumber konflik muncul dan berlarut-larut adalah masalah perbedaan kepentingan, perlakuan, kekecewaan, komunikasi dengan bahasa verbal yang kasar sering menyindir, perbedaan pandangan atau persepsi, dan persaingan harta, ekonomi. c. Pihak-pihak yang berkonflik (stakeholder), dalam keluarga besar suku palembang ini yang selalu memicu konflik antar saudara adalah saudara tertua yang merasa punya hak untuk mengatur, dan mereka selalu bersaing untuk menang, egois, sehingga saudara yang lain merasa tidak terima, dan muncul konflik saling mencaci satu sama lain sampai bersikap acuh tak acuh. Karena termasuk keluarga yang banyak saudara yaitu 15 orang kakak beradik, terbagi menjadi kelompok yang pro dan kontra atau saling berpihak . d. Proses (process), yakni sampai saat ini konflik antar saudara selalu saja terjadi, karena semua menganggap ingin mendapat keuntungan, menang, dan dihormati. Jika setiap ada masalah keluarga, acara keluarga, kompromi keluarga, pertemuan keluarga, pasti ada pro dan kontra, tidak ada penyelesaian kalaupun ada penyelesaian akhirnya diselesaikan sebelah pihak saja e. Ekspresi (expression), yakni dalam bentuk apa konflik ditunjukkan, dalam keluarga besar suku palembang yang karakteristiknya tidak mudah percaya dengan orang lain, curigaan, saat terjadi pertengkaran dengan ucapan dengan intonasi yang tinggi, bahasa dan kata yang kasar, tidak tegur sapa, gerak tubuh jika berinteraksi atau ketemu terlihat kaku. f. Hasil akhir (result), meliputi bagaimana hasil akhir dari konflik yang sering terjadi di suku palembang, tidak terselesaikan kalaupun terselesaikan hanya terjadi satu pihak saja. Didukung pendapat Galvin dan Brommel (Utami, 2005) Konflik juga bisa disebabkan bisa timbul karena perilaku dan keingginan seseorang menghalangi tujuan orang lain, sebagai akibat adanya perselisihan nilai, perilaku, kekuasaandan sumber daya dimana setiap pihak berusaha mencapai tujuannya, yang biasanya mengorbankan orang lain. Keluarga yang berada dalam suku palembang yang terkenal dengan suku yang terbuka dan berterus terang dalam hal berbicara sehingga cenderung keras dan kasar. Disamping itu orang Palembang
memiliki sifat boros dan pelit. Dengan karakteristik ini yang bisa menimbulkan konflik persaingan antara saudara apalagi keluarga besar dengan keinginan dan kepentingan yang sama.
Steward (Kurniawan, 2005) mencatat bahwa masalah perilaku anak-anak yang lebih tua lebih jarang terjadi ketika para orang tua tetap memberikan perhatian kepada mereka ketika adiknya lahir. Para orang tua ketika tetap memperhatikan kebutuhan simulasi dan perhatian anak-anaknya yang lebih tua sebenarnya tidak hanya mengurangi kemungkinan terjadinya masalah perilaku pada anak-anak yang lebih tua membentuk hubungan yang lebih baik dengan adiknya yang baru lahir. Artinya perlakuan yang diberikan orang tua mempengaruhi kualitas hubungan antar saudara kandung seperti apa yang dikembangkan nantinya.

DISKUSI DAN SIMPULAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik persaingan yang terjadi dalam keluarga suku palembang disebabkan oleh pengasuhan orangtua kepada anak-anaknya, ini dipengaruhi pula oleh jumlah anak yang banyak dengan strata ekonomi rendah. Didukung pula oleh gambaran budaya suku palembang yang keras, sifat mudah curiga kepada orang lain serta terlalu hati-hati dengan orang baru. Adanya kelas sosial antar anggota keluarga yang berbeda dapat membentuk proses sosial dan dinamika dalam keluarga, baik yang sifatnya asosiatif maupun yang disasosiatif. Asosiatif dapat berupa bentuk kerjasama antar mereka, sedangkan yang disasosiatif berupa kompetisi atau persaingan termasuk di dalamnya sehingga terjadi konflik . Perbedaan dalam keluarga, tidak adanya kompromi, kurangnya pemahaman dan penghargaan, kesabaran dan toleransi, dan batasan orang lain, sehingga hal ini merupakan potensi konflik persaingan dalam keluarga yang menjadi benih munculnya permusuhan.
Dalam mengatasi konflik yang ada, diperlukan komunikasi yang sehat. Komunikasi sehat mencakup beberapa unsur seperti keterbukaan, kedewasaan, sikap tenang, sabar, tidak menghakimi, dan mencari jalan keluar yang terbaik bagi semua pihak. Jangan sekali-sekali bersikap tidak adil dalam menghadapi konflik. Jangan menyalahkan pihak yang benar atau sebaliknya, membenarkan pihak yang salah. Hal itu hanya akan memperparah keadaan. Konflik yang diselesaikan akan membuat sebuah keluarga lebih sehat, karena masing-masing pihak memahami, menerima, dan terbuka satu dengan lainnya. Namun, sebaliknya konflik yang berkepanjangan hanya akan membuat keluarga hancur berantakan.

DAFTAR PUSTAKA
Karya Buku
Ahmadi, A. 2007. Psikologi Sosial. Rineka Cipta. Jakarta.
Friedman, M.M, (1998). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek . EGC. Jakarta
Kartasapoetra , G & Kreimers, B, J, L. (1997). Sosiologi Umum. Jakarta: PT. Bina Aksara.
Kertamuda. (2009). Konseling Pernikahan untuk Keluarga Indonesia. Salemba Humanika. Jakarta.
Poloma, M. (2003). Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sadarjoen, S. (2009). Konflik Marital. PT. Refika Aditama. Bandung
Sugiyono, ( 2008). Metode Penelitian Kualitatif, Kualitatif dan RPD. Bandung: CV.Alfabeta
Internet
Ahmadi. 2004. Keluarga sebagai media sosialisasi dalam pembentukan kepribadian. Diakses pada 29 maret 2012. http://www.scribd.com/html
Dessi. (2011). Konflik Interpersonal Pada Pasangan Suami-Istri Etnis Jawa-Palembang Dalam Menjaga Keharmonisan Rumah Tangganya. Diakses pada 28 april 2012. publikasi.umy.ac.id/index.php/komunikasi/article/view
Putra, (2011). Konflik dalam kehidupan. Diakses pada 28 Mei 2012. repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22509/…/Chapter%20II.pdf

http:// www. sabda.org/Isi/Profilo. Akses tgl 2 April 2012
Risnafhanih, (2012). Proses sosial dalam keluarga. Diakses pada 29 Maret 2012 dari http://sosiologiuntukindonesia.blogspot.com/2012/02/sosiologi-keluarga.html
Majalah & Jurnal
Chang, W. 2001. Dimensi etis konflik sosial. Kompas Rabu 2 Februari 2001.
Ivey & Morgan, (2002). Theories of counseling and psychotherapy: A Muliticultural Perspective. 5 th Ed. Boston : Allyn and Bacon
Kurniawan. (2005). Strategi manajemen konflik dalam interaksi antara saudara kandung ditinjau dari keyakinan orangtua, jenis kelamin. Jakarta: Jurnal Psikologika
Raven, B.H dan Rubin, J.Z. (1983). Social Psycology. Second edition. John Wiley and
Sons. Inc; .
Suryanto, (2008). Optimalisasi peran dan fungsi keluarga. Gemari. Edisi 87/Tahun IX/April/2008
Schiffman & Kanuk, (2007). Consumer Behavior. 9th Edition. New York: Pearson Education International.
http:// www. sabda.org/Isi/Profilo. Akses tgl 2 April 2012

Written by

Nama pangggilan Iit, Lahir di palembang 28 september 1980, sekarang bekerja sebagai tenaga Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang. status menikah dengan Olek arfianto, ST. dan memiliki 1 putri dengan nama hemasayu putri manyar arfianto. saya lulusan S2 Magister Sains Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. saat ini menjabat Dekan fakultas Psikologi UBD sudah 2 tahun. harapan ke depan ingin kuliah S3 dan menambah 1 anak.

Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>