Uhang Dihi
Anak Rantau

Archive for September, 2017

Kepemimpinan Dalam Organisasi Belajar

Mon ,25/09/2017

Tugas Kuliah

Prof. Dr. Bintang Petrus Sitepu, M.A

 

Kepemimpinan Yang Efektif dan Dinamis

Suatu organisasi akan menjalani masalah berubah, waktu berubah, kemasayarakatan yang berubah, dan sikap-sikap manusiapun berubah, Pemimpin yang efektif dan dinamis seharusnya mempertimbangkan perubahan-perubahan tersebut. Sebagai pemimpin haruslah menyadari lingkungannya dan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya. Harus mengingat dan menyadari bahwa seorang pemimpin yang membawa pembaharuan dan bukan hanya melihat ke belakang. Sebagai seorang pemimpin selalu hadir dan ada diantara lingkungannya. Kemampuan akan mengkaji ulang permasalahan sebenarnya belum ditemukan suatu cara yang tepat untuk dapat memandu menjadi seorang pemimpin yang efektif dan yang dinamis.

Harus disadari akan siapa dirinya maka ia akan dapat mengembangkan gaya atau pola sendiri dalam kepemimpinan. Hal ini akan mendasari pada banyak hal dan akan bertemu dengan banyaknya jenis orang yang berbeda dan akan bertanggung jawab atas dan lingkungan dimana ia beraktifitas. Untuk dapat terus berjalan dan bertahan hidup, tentunya sebuah perusahaan akan memerlukan pemimpin yang bersifat efektif dan dinamis. Dengan demikian kepemimpinan yang diharapkan pada dunia di masa modernisasi ini.

Kepemimpinan yang efektif dan dinamis selalu dapat atau bisa dicapai jika ia mampu untuk beradaptasi dengan cepat dan efektif pada masa atau zaman saat ini dengan perubahan yang cepat. Kecepatan perubahan ini begitu cepat sehingga sulit untuk mempertahankan pada suatu tingkat yang komitmen yang sama, dengan demikian akan berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan yang terjadi.

Peter Senge (1990) dalam bukunya The Fifth Discipline: The Art & Practice of The Learning Organization  menyebutkan bahwa seorang pemimpin yang dinamis sejatinya memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan cara kerja dan berpikir menjadi jelas, perubahan cara kerja dan berpikir adalah manifestasi dari bagaimana sistem itu sendiri mendorong kembali, proses alami yang bergerak terhadap homeostasis. Kebanyakan inisiatif perubahan fokus hanya pada proses pertumbuhan dan tidak membatasi proses.

Dalam penjelasan ini, seorang pemimpin yang dinamis harus dapat  melakukan dan menjaga perubahan. Selanjutnya disebutkan ada tiga phase perubaha dalam sepuluh tahapan sbb:

– Memulai Perubahan

  1. Tidak punya waktu untuk hal perubahan (tidak membuang waktu untuk hal tidak perlu)
  2. Tidak membantu perubahan (tidak membantu untuk melakukan hak yang negative)
  3. Tidak relevan peruhaan (meninggalkan hal yang tidak relevan)
  4. Tidak hanya bicara perubahan (perubahan dengan bekerja

– Mempertahankan Momentum

  1. Hal ini adalah  kejadian (melihat peluang yang sedang terjadi)
  2. Hal ini tidak bekerja dengan sendirinya (menghindari atau membuang hal yang tidak produktif)
  3. Memiliki cara yang benar, ketidak mengertian (mereka tahu apa yang harus mereka lakukan, walaupun orang lain tidak memahaminya)

– Mendesain ulang Organisasi

  1. Siapa yang bertanggung jawab atas hal ini ?. (memilih orang yang tepat untuk sebuah pekerjaan tertentu).
  2. Terus menciptakan kembali roda aktifitas (mereka senantiasa menjadikan organisasi terus berubah sesuai dengan tuntutan zaman)
  3. Kemana akan pergi ?, untuk apa di sini ?, (mereka selalu mempertanyakan setiap tahapan yang mereka lakukan, apakah sudah benar atau belum, sehingga menjaga organisasi tidak jatuh pada kondisi yang tidak baik,selalu mempertanyakan eksistensi mereka pada sebuah posisi, hal ini menjaga apakah mereka sudah benar berada pada sebuah keadaan tertentu

Lebih lanjut Peter Senge  menegaskan dinamika perubahan, interaksi antara faktor-faktor penguat dan faktor pertumbuhan membatasi. Tantangan perubahan yang  dinamis, non-linear, dan saling tergantung. Dia menggambarkan Proses yang seimbang dan  umpan balik kompensasi yang merupakan aspek alami dari proses pertumbuhan.

Daniel Theyagu seorang pembicara dan penulis buku tentang kepemimpinan mengatakan : “Becoming a leader is the easy part. But how you motivate yourself and have the ability to motivate others is going to be challenging.”

Menjadi pemimpin adalah bagian yang mudah, tetapi bagaimana cara memotivasi agar dapat menjadi seorang pemimpin yang unggul yang bukan hanya dapat memotivasi diri sendiri saja tetapi juga dapat memotivasi  orang lain juga. Dan Daniel menyatakan hal itu dapat diperoleh bila kita melakukan dan menerapkan 10 langkah untuk dapat menjadi pemimpin yang sempurna.

Berikut 10 langkah untuk dapat menjadi pemimpin yang unggul menurut Danie Theyagu :

  1. Memiliki pandangan yang jelas dan bertindak sesuai dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Diperlukan pembelajaran agar mau belajar untuk mengubah pola pikir untuk tetap kredibel dan efektif di dunia yang selalu ada perubahan.
  2. Tidak peduli apapun yang terjadi, selalu menjaga sikap mental yang positif untuk menghadapi tantangan apa pun, ingat bahwa untuk memimpin adalah agar berani dan karena berani akan mencoba.
  3. Memiliki rasa komitmen berkesinambungan untuk apa yang telah dilakukan. Bila akan tetap berkomitmen, maka orang-orang yang dipimpinya pasti akan mengikutinya.
  4. Sebagai seorang pemimpin harus memiliki energi, untuk dapat menghadapi tantangan yang datang secara mendadak dimana posisi sebagai seorang pemimpin dituntut untuk tetap menjaga kepala tetap dingin untuk dapat menyelesaikan segala sesuatu secara efektif.
  5. Melibatkan diri dalam diskusi untuk mengevaluasi dan menerangi masalah yang ada. Dimana harus menyelesaikan semua masalah dengan keputusan yang kita harus buat.
  6. Menciptakan lingkungan dan memperkaya untuk memotivasi diri sendiri dan pengikutnya.
  7. Mengatur waktu dan merencanakan apa yang harus dilakukan, ingat pepatah, “Jika kita gagal untuk merencanakan, maka kita berencana untuk gagal”
  8. Tanda sesungguhnya dari seorang pemimpin adalah kepercayaan. Kepercayaan adalah kualitas yang mendahului kepercayaan, ras, agama dan seks. Bila kita menunjukkan bahwa kita dapat dipercaya, maka orang akan mengikutinya sampai akhir.
  9. Atur hidup sebelum dia mulai mengatur kehidupan orang lain.
  10. Bertanggung jawab dan belajar untuk bertanggung jawab atas tindakan.

Sebagai pemimpin biasa mengalami situasi yang serba salah antara memilih untuk pengikutnya dan juga atasannya sendiri,  beliau akan bekerja dan mempercayakan untuk memimpin.  Terkadang situasi yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang sudah direncanakankan atau diprediksi, sebagai pemimpin dan juga owner atau pemilik dan ia bekerja di tempatnya sendiri. Tetapi pemikiran-pemikiran yang harus cepat segera diambil untuk menjadi suatu keputusan dalam suatu keadaan yang mendesak dan itu biasanya akan menimbulkan pro dan kontra bagi berbagai pihak dan itu akan menjadi suatu situasi yang sulit yang sering hadapi.

Daniel Theyagu nyatakan sebagai seorang ahli dalam kepemimpinan : “Becoming a leader is the easy part. But how you motivate yourself and have the ability to motivate others is going to be challenging.” Dimana menurut Daniel menjadi pemimpin itu memang suatu hal yang mudah tetapi bagaimana dapat memotivasi diri kita sendiri sebagai seorang pemimpin dan bagaimana dapat memotivasi orang lain, dan hal itu menjadi motivasi yang kuat untuk tetap dapat menjalankan akan posisinya sebagai seorang pemimpin yang baik.

Seorang pemimpin yang dinamis adalah ketika memiliki pandangan yang jelas dan bertindak sesuai dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Keadaan dapat berubah dengan cepat sesuai dengan keadaan atau kondisi yang terjadi di tempat kejadian, dengan tetap memiliki semangat dan memegang akan komitmen untuk tetap dapat memotivasi karyawan sekalipun perubahan yang terjadi begitu cepat terjadi yang diluar dari kemauan atau kehendak. Tentu dengan tidak melupakan akan keterlibatan dari semua orang termasuk juga karyawan tanpa membedakan ras, suku, agama ataupun perasaan terlepas dari suka atau tidak suka.

 

Referensi

Daniel Theyagu, http://www.lateralsc.com/dev/about (24 September 2017)

Kiseki, Iris . 1 Mei 2011.  Kepemimpinan Yang Dinamis . WWW.blogspot.

Senge, P. (1990). The Fifth Discipline: The Art & Practice of The Learning Organization. New York: Doubleday

Sitepu, B.P. Ledership. Bahan Kuliah Kepemimpinan dalam organisasi,Pascasarjana Universitas Negeri Jakarata.

 

Opini : Isu Kritis Dalam Pendidikan

Mon ,18/09/2017

TUGAS KULIAH

Dosen Prof. Dr. Bintang Sitepu, M.A

1. PENGANTAR

Pendidikan merupakan suatu yang perlu mendapat perhatian oleh seluruh bangsa di dunia ini. Maju atau mundurnya suatu negara akan dipengaruhi oleh sumber daya manusianya oleh sebab itu kualitas sumber daya manusia akan dapat membangun negaranya. Pendidikan berlangsung sepanjang hayat yang dimulai sejak lahir dan pada hakekatnya pendidikan adalah menyediakan lingkungan bagi perkembangan anak  karena di dalam lingkungan tersebut anak dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki dengan baik.( Jamaris, 2013)

Belajar adalah membangun penafsiran diri terhadap dunia nyata melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi, selanjutnya belajar merupakan proses aktif untuk membangunkan pengetahuan. Kemudian pengajaran juga suatu proses membangunkan pengetahuan dan mengkomunikasikan pengetahuan, sementara belajar terstruktur bukan merupakan suatu tugas, tetapi meminta peserta didik mempergunakan piranti secara aktual dalam situasi dunia nyata dan aktif mempelajari masalah-masalah serta berpikir reflektif.

2. ISU PENDIDIKAN

  • Issu kritis Aspek Masalah Kurikulum dan Pembelajaran.

Banyak permasalahan kurikulum dan cara pembelajaran yang dialami turut andil dan dampaknya berpengaruh terhadap pembelajaran dan pendidikan.

Pendapat penulis adalah :

  1. Terlalu komplek, kurikulum yang dijalankan di Indonesia dinilai terlalu kompleks hal ini berakibat bagi guru dan siswa yang akan terbebani dengan beragam materi yang harus dikuasainya. Siswa harus berusaha untuk memahami dan mengejar materi yang sudah ditargetkan.
  2. Seringnya berganti nama, perubahan nama walaupun sebatas perubahan nama kadang dijadikan sebagai lahan bisnis.
  3. Peralatan pendukung, minimnya peralatan pendukung menyebabkan kurangnya pemerataan pendidikan hal ini berkaitan dengan materi akan yang diajarkan.
  4. Dilaksanakan dalan satu tahun ajaran, kurikulum merupakan sebuah acuan yang dibuat secara nasional dan menjadi dasar pijakan setiap sekolah atau lembaga pendidikan yang ada dengan tujuan agar terjadinya persamaan pengatahuan siswa, namun dalam pelaksanaan kurikulum yang ada dijalankan dalan satu tahun ajaran pendidikan.
  5. Issu kritis aspek Pembelajaran

Skinner (1958) memberikan definisi belajar “Learning is a process progressive behavior adaptation”. Dfinisi tersebut menjelaskan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Skinner percaya bahwa proses adaptasi akan mendatangkan hasil yang optimal apabila diberi penguatan (reinforcement). Ini berarti bahwa belajar akan mengarah pada keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Selain itu belajar juga memebutuhkan proses yang berarti belajar membutuhkan waktu hingga berhasil.

  1. Issu kritis aspek guru
  2. Rendahnya Kualitas Guru

Pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat. Berkaitan dengan paasal tersebut masih ada guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya.

  • Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru akan berperan dalam melaksanakan pendidikan yang akan membuat rendahnya kualitas pendidikan.

  1. Issu kritis aspek Siswa
  2. Faktor intern belajar, siswa akan mengalami beragam masalah dan berpengaruh ketika mereka dalam penyelesainya, mereka akan mengalami masalah atau kesulitan dalam belajar.
  3. Faktor ekstern belajar, proses belajar didorong oleh motivasi intrinsik siswa. Proses belajar dapat terjadi atau menjadi bertambah kuat bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan kata lain aktivitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan baik.
  4. Issu kritis aspek orang tua

Orang tua merupakan tempat anak menerima pendidikan yang pertama dalam proses menerima pengetahuan dan tidak hanya itu orang juga menjadi faktor utama yang terpenting dalam menentukan masa depan seorang anak, namun perkembangan pendidikan yang semakin pesat dan semakin rumit membuat orang tua sulit mengendalikan sikap dan menerapakan tanggung jawab untuk anaknya.

  • Issu kritis aspek pemerintah Daerah

Pemberlakuann UU otonomi daerah yang dimulai dengan diterapkannya UU nomor 22 tahun 1999 dan kemudian disempurnakan dengan UU nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, dengan diserahkannya sejumlah kewenangan yang semula menjadi urusan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, dengan demiklian akan terjadi perubahan dalam berbagai aspek pembangunan termasuk dalam aspek pendidikan.

  • Issu kritis aspek pemerintah pusat

Diantara persoalan yang hingga kini masih dialami bangsa Indonesia adalah isu seputar kebijakan pendidikan. Pendidikan di Indonesia belum semuanya mampu menghasilkan alumni siap kerja, para lulusan kurang mampu dan memiliki kualitas yang dapat diandalkan, para tamatan SMU/SMK dan Perguruan Tinggi minim terhadap kecerdasaan dan kemampuan kewirausahaan (enterpreneurship).

Untuk mengatasi isu kritis perihal mutu (layanan) pendidikan, maka pihak-pihak terkait antara lain pemerintah, Civil Society, dan seluruh stakeholder di bidang pendidikan perlu bersinergi untuk mencari langkah-langkah strategis pencapaian mutu layanan pendidikan seperti diamanatkan oleh Pasal 31 Amandemen UUD 1945, Pasal 28 Konvensi Hak Anak (KHA), dan Pasal 12 UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang sekaligus menjadi arah dan dasar kebijakan pendidikan nasional.

 

3. MUTU PENDIDIKAN

Strategi yang perlu dilakukan dalam kegiatan peningkatan mutu pendidikan antara lain:

  1. Pendidikan dan pelatihan(off the job training). Pelatihan secara individual maupun dalam kelompok untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terbaik dengan menghentikan kegiatan mengajarnya. Kegiatan pelatihan seperti akan memiliki keunggulan karena akan lebih terkonsentrasi dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
  2. Pelaksanaan tugas atau on the job training.Model ini dikenal dengan istilah magang. Pemagangan dapat dilakukan pada ruang lingkup lokal atau pada tempat lain yang memiliki mutu yang lebih baik.
  3. Lesson Studi. Kegiatan ini pada prinsipnya merupakan bentuk kolaborasi pendidik dalam memperbaiki kinerja mengajarnya dengan berkonsentrasi pada studi tentang dampak positif guru terhadap  kinerja belajar siswa dalam kelas.
  4. Penilitian Tindakan Kelas (PTK), kegiatan  ini dilakukan pendidik dalam kelas dalam proses pembelajaran. PTK dapat dilakukan sendiri dalam pelaksanan tugas, melakukan penilaian  proses maupun hasil untuk mendapatkan data mengenai prestasi maupun kendala yang siswa hadapi serta menentukan solusi perbaikan. Karena perlu ada solusi perbaikan. PTK sebaiknya dilakukan melalui beberapa putaran atau siklus sampai guru mencapai prestasi kinerja yang diharapkannya. Penelitian tindakan kelas ini merupakan salah satu sarana bagi pendidik untuk pengembangan profesi secara berkelanjutan.

 

4. RANGKUMAN

  1. Pelaksanaan pendidikan idealnya, pendidik yang efektif tidak membatasi diri hanya pada evaluasi yang formal dan terencana tapi secara berkelanjutan mengobservasi para anak didiknya dalam beragam konteks untuk mengumpulkan informasi mengenai pikiran, keyakinan, perasaan, dan hasil belajar.
  2. Pendidkan merupakan tantangan bagi pendidik untuk bisa mengambil keputusan. Seorang pendidik mungkin harus berpegang kuat pada pedoman pengajaran dan ketika seorang pendidik menjadi semakin berpengalaman, akhirnya akan mampu membuat keputusan-keputusan mengenai berbagai situasi dan masalah rutin secara cepat dan efesien serta akan memiliki banyak waktu dan tenaga untuk berpikir kreatif dan fleksibel mengenai cara-cara terbaik untuk mengajar.
  3. Di samping itu bahwa perubahan prilaku itu sebagai akibat belajar dari latihan (practice)  atau karena pengalaman (experience). Pada pengertian latihan dibutuhkan usaha dari individu yang bersangkutan, sedangkan dari pengertian pengalaman usaha tersebut tidak tentu diperlukan. Artinya adalah bahwa dengan pengalaman seseorang atau individu dapat berubah perilakunya, disamping perubahan itu dapat disebabkan oleh karena latihan.

 

Bahan Referensi

Hanafi, Abdillah. 1987. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional

Jamaris, Martini, Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, cet.ke-1, Bogor: Ghalia Indonesia, 2013

Rogers, Everett M, 1995, Diffusions of Innovations, Forth Edition. New York: Tree Press.

Skinner. 1958. Model Dan Media Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.