Uhang Dihi
Anak Rantau

Archive for the ‘Penelitian’ Category

PENGOLAHAN DATA HELPDESK PERBAIKAN SISTEM INFORMASI DAN KOMUNIKASI PADA PT. PERTAMINA (PERSERO) REFENERY Unit III PLAJU PALEMBANG

Tue ,24/09/2013

Oleh : A.Yani Ranius, Imam Alfariez.

Abstrak : PT Pertamina RU III Plaju Palembang merupakan perusahaan instansi pemerintah yang bergerak dalam bidang pengolahan data yang sudah menggunakan sistem aplikasi yang diatur oleh Divisi IT. Sistem aplikasi Helpdesk ini digunakan untuk menyampaikan keluhan atau kerusakan tentang masalah IT. Selanjutnya menindaklanjuti segala kerusakan yang ada pada IT. Lalu memproses segala kerusakan yang diperbaiki oleh pihak teknisi IT. Setelah diperbaiki, para teknisi IT akan memberi laporan atau pemberitahuan ke dalam aplikasi helpdesk ini. Laporan kerusakan IT akan dilaporkan tiap bulan kepada Manager IT untuk melihat segala statistik jenis kerusakan yang terjadi di IT Area PT Pertamina RU III Plaju Palembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengolahan data keluhan dan perbaikan sistem informasi dan komunikasi yang telah dilakukan secara terkomputerisasi menggunakan aplikasi Helpdesk perbaikan Sistem Informasi dan Komunikasi.

Kata kunci : Analisis Pengolahan Data Helpdesk  Perbaikan Sistem Informasi dan Komunikasi.

  1. PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Pada saat ini perkembangan teknologi sangatlah pesat dan sangat diperlukan, ini semua hasil dari pemikiran manusia yang ingin maju dan berkembang. Salah satu karya manusia yang sangat canggih yaitu komputer. Perkembangan ilmu komputer pada saat ini sangatlah pesat apalagi pada zaman sekarang ini komputer sangat dibutuhkan. Karena mengingat teknologi komputer memegang peranan yang sangat penting untuk membantu proses aktivitas kerja instansi maupun perusahaan baik dari lembaga pemerintah maupun swasta. Dengan adanya alat bantu seperti komputer maka proses pengolahan data dan penyimpanan data dapat terselesaikan dengan baik dan menghemat waktu kerja dan tenaga para pegawai instansi pemerintah maupun swasta. sistem pengolahan data helpdesk perbaikan sistem informasi & komunikasi yang digunakan oleh PT Pertamina (persero) Plaju Palembang dengan Aplikasi Helpdesk Berbasis PHP dan Mysql.

1.2       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan permasalahan pada penelitian ini adalah. “Bagaimana prosedur pengolahan data pada aplikasi helpdesk dan apa kendala yang terdapat pada pengolahan data tersebut sehingga diketahui tindakan perbaikan sistem informasi dan komunikasi?”

1.3       Tujuan Penelitian

Untuk memenuhi salah satu syarat agar dapat menyelesaikan Diploma III Fakultas Ilmu Komputer Program Studi Manajemen Informatika Universitas Bina Darma Palembang. Untuk Menganalisis Data keluhan dan tindakan perbaikan sistem informasi & komunikasi Menggunakan Aplikasi HelpdeskPerbaikan Sistem Informasi & komunikasi pada PT Pertamina RU III Plaju Palembang.

Diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam meningkatkan kinerja pegawai pada PT. Pertamina RU III Plaju Kota Palembang saat ini maupun yang akan datang.

1.4       Batasan Masalah

Agar pembahasan yang akan dilakukan lebih terarah dan tidak menyimpang dari permasalahan yang ada, maka dibatasi pembahasan hanya pada Analisis Aplikasi Pengolahan Data Helpdesk Perbaikan Sistem Informasi & Komunikasi pada PT Pertamina (persero) RU III Plaju Palembang menggunakan metode analisis PIECES.

1.5 Metode Analisis

Metode yang digunakan penulis untuk menganalisis Analisis Aplikasi Pengolahan Data Helpdesk Perbaikan Sistem Informasi dan Komunikasi pada PT.Pertamina  RU III Plaju Palembang adalah metode PIECES menurut Al Fatta (2007:51).

Yang terdiri dari :

  1. Performance (Kinerja)
  2. Information (informasi)
  3. Economi (ekonomis)
  4. Security (keamanan)
  5. Efficiency (efisiensi)
  6. Service (pelayanan)

2. METODOLOGI PENELITIAN

1.Lokasi penelitian

Lokasi penelitian dilakukan penulis di di PT. Pertamina (PERSERO) RU III Plaju Palembang yang berlamat di JL Beringin No. 1. Komperta Plaju Palembang. Yang di mulai pada tanggal 1 maret sampai dengan 30 April 2012.

2. Waktu penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh penulis  dimulai pada tanggal 19 Maret sampai dengan 21 Mei 2012 dari jam 08.00 WIB s/d 15.30 WIB.

3.Metode Pengumpulan Data

Data Primer / Penelitian Lapangan

Yaitu data pokok atau utama yang diperoleh secara langsung dari objek yang diteliti yaitu Kepala Bidang dan para Pegawai serta untuk mengetahui data Helpdesk, PT. Pertamina RU III Kota Plaju Palembang khususnya Bidang IT Area PT. Pertamina RU III Plaju Palembang.

Data Sekunder / Data Kepustakaan

Yaitu data pendukung atau tambahan yang diperoleh dengan cara mempelajari buku-buku dan tulisan-tulisan yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dibahas baik dari buku referensi maupun internet.

2.1.1     Analisis

Menurut Febrian (2007 : 29), analisis adalah tahap pertama dimana sistem engineering menganalisis hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek pembuatan atau pengembangan sistem dalam bidang komunikasi dan komputerasi.

Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa analisis adalah teknik pemecahan masalah yang menguraikan bagian-bagian komponen dengan mempelajari seberapa bagus bagian-bagian komponen tersebut bekerja dan berinteraksi untuk mencapai tujuan mereka.

2.1.2    Aplikasi

Menurut Sutabri (2005 : 21), Aplikasi adalah sebuah program yang ditulis untuk atau oleh pengguna yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya. jenis tugas atau pekerjaan yang dilakukan suatu program atau sistem komputer.

2.1.3 Pengolahan Data

Menurut Kristanto (2007 : 8), Pengolahan Data adalah waktu yang di gunakan untuk mengambarkan perubahan bentuk data menjadi informasi yang memiliki kegunaan. semakin banyak data dan kompleksnya aktivitas pengolahan data dalam suatu organisasi, baik itu organisasi besar maupun organisasi kecil, maka metode pengolahan data yang tepat sangat dibutuhkan.

2.1.4 Data

Menurut Febrian (2007 : 129), Data merupakan fakta, atau bagian dari fakta yang mengandung arti yang dihubungkan dengan kenyataan, simbol-simbol, gambar-gambar, kata-kata, angka-angka, huruf-huruf, atau atau simbol-simbol yang menunjukkan suatu ide, objek, kondisi, atau situasi dan lain-lain.

Menurut Sutabri (2005 : 24), Data adalah kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian serta merupakan suatu kesatuan yang nyata dan merupakan suatu bentuk yang masih mentah yang belum dapat becerita banyak sehingga perlu diolah lebih lanjut melalui suatu model untuk menghasilkan informasi.

Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa data adalah sesuatu yang belum memiliki arti yang diangkat dari suatu kejadian dan masih diperlukan pengolahan lebih lanjut agar dapat memberikan arti berupa informasi.

2.1.5 Helpdesk

Helpdesk adalah sebuah departemen atau bagian dalam perusahaan yang melayani atau menanggapi pertanyaan teknis pengguna. helpdesk digunakan untuk menjawab pertanyaan client. Pertanyaan dan jawaban dapat disampaikan melalui telepon, email, web atau fax. Bahkan ada software helpdeskyang membuat orang lebih mudah untuk menjalankan helpdesk dengan cepat untuk menemukan jawaban yang bersifat umum.

(http://www.webpcwebipedia.com akses tanggal 30 april 2012)

Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa helpdesk merupakan sebuah bagian atau program aplikasi dalam perusahaan yang menangani pertanyaan dan keluhan, baik dari pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan dengan menyediakan informasi serta solusi yang diperlukan.

2.1.6 Service

Menurut Ahman Sutardi dan Endang Budiasih, Service adalah setiap kegiatan yang diperuntukkan atau ditujukan untuk memberikan kepuasan melalui pelayanan yang diberikan seseorang secara memuaskan.

Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa service adalah suatu kegiatan yang terjadi atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan kepuasan pelanggan.

(http://carapedia.com/pengertian_definisi_service_info2099.html akses tanggal 30 april 2012)

2.1.7 Sistem Informasi

Menurut Supriyanto (2005 : 243), Sistem Informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi, yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transkasi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.

2.1.8 Komunikasi

Menurut (William C. Himstreet dan Wayne Murlin Baty), Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim) baik dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan. Purwanto (2003 : 1).

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan yang dapat berupa pesa informasi, ide, emosi, keterampilan, dan sebagainya melalui simbol atau lambang yang dapat menimbulkan efek berupa tigkah laku yang dilakukan dengan media-media tertentu.

2.1.9    Metode PIECES

Metode yang digunakan penulis untuk menganalisis Sistem Informasi Pegawai pada Bidang Pengembangan dan Pengelolaan Data Pegawai Kota Palembang adalah metode PIECES menurut Al Fatta (2007:51).

Metode PIECES terdiri dari :

  1. Performance (Kinerja), adalah kemampuan dalam menyelesaikan tugas bisnis dengan cepat sehingga sasaran dapat segera tercapai. Kinerja diukur dengan jumlah produksi (throughput) dan waktu tanggap (response time) dari suatu sistem. Sistem yang dikembangkan ini akan menyediakan jumlah produksi dan waktu tanggap yang memadai untuk kebutuhan manajemen.
  2. Information (informasi), adalah laporan-laporan yang sudah selesai diproses digunakan untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan oleh manajemen di dalam pengambilan keputusan. Informasi merupakan hal yang tidak kalah penting karena dengan informasi tersebut pihak manajemen akan merencanakan langkah-langkah selanjutnya.
  3. Economi (ekonomis), adalah penilaian sistem dalam pengurangan dan keuntungan yang akan didapatkan dari sistem yang dikembangkan. Sistem ini akan memberikan penghematan operasional dan menigkatkan keuntungan perusahaan. Penghematan didapat melalui pengurangan bahan baku dan perawatan. Sementara keuntungan didapat dari peningkatan nilai informasi dan keputusan yang dihasilkan.
  4. Security (keamanan), yaitu sistem keamanan yang digunakan harus dapat mengamankan data dari kerusakan, misalnya dengan membuat back up data. Selain itu sistem keamanan juga harus dapat mengamankan data dari akses yang tidak diijinkan, biasanya dilakukan dengan passwordterutama pada form aplikasi dan database-nya.
  5. Efficiency (efisiensi), peningkatan terhadap efisiensi operasi. Efisiensi berbeda dengan ekonomis. Bila ekonomis berhubungan dengan jumlah sumber daya yang digunakan, efisiensi berhubungan dengan bagaimana sumber daya tersebut digunakan dengan pemborosan yang paling minimum.
  6. Service (pelayanan), adalah untuk memecahkan masalah pelayanan khusus, memanfaatkan sebaik-baiknya peluang untuk meningkatkan pelayanan atau memenuhi petunjuk dari pimpinan.

2.2      Sistem yang Sedang Berjalan

Adapun proses pengolahan data yang diadopsi pada IT RU III PT Pertamina (persero) Plaju Palembang dimulai dari menyampaikan segala kerusakan dengan langkah melakukan helpdesk perbaikan, selanjutnya ditindak lanjutkan oleh pihak teknisi guna memperhatikan segala kerusakan yang ada pada IT Area Pertamina Plaju RU III Palembang. setelah diperbaiki, teknisi terkait akan memberikan laporan atau pemberitahuan ke dalam aplikasi helpdesk ini. Laporan kerusakan IT akan dilaporkan tiap bulan kepada Manager IT untuk melihat segala statistik jenis kerusakan yang terjadi di IT Area RU III PT. Pertamina RU III Plaju Palembang. Berikut ini adalah bagan proses pengolahan data helpdesk pebaikan sistem informasi dan komunikasi:

Dari Penjelasan diatas, dimana terdapat langkah-langkah untuk memproses segala kerusakan yang ada pada IT lalu menindaklanjuti segala kerusakan IT yang akan diperbaiki oleh pihak teknisi IT, teknisi IT akan memberikan laporan atau pemberitahuan ke dalam aplikasi helpdesk ini. Laporan kerusakan IT akan dilaporkan pada tiap bulan kepada Manager IT Area RU III Pertamina Plaju.

3.HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Adapun yang mendukung proses komputerisasi dalam pengolahan data helpdesk perbaikan sistem informasi dan komunikasi pada IT Area RU III PT. Pertamina Plaju Palembang sebagai berikut :

Adapun komponen-komponen tersebut adalah :

  1. 1. Hardware (Perangkat Keras)

Hardware terdiri dari tiga bagian yaitu, Input device, processing device dan output device, IT Area RU III Plaju Palembang khususnya ruangan Divisi IT  telah memiliki Sembilan  buah personal komputer lengkap dengan perangkat keras dengan komponen –komponen sebagai berikut :

a. Processor Intel Pentium Dual core

b. Memory (RAM) 2 GB DDR2

c. Monitoring Dell LCD

d. Mouse

e. Keyboard

f.Printer Cannon MP258 Series

  1. 2. Software (Perangkat Lunak)

Adapun Software (perangkat lunak) yang biasa digunakan dalam pengolahan data helpdesk perbaikan sistem informasi dan komunikasi adalah sebagai berikut:

1.Windows 7 (seven) Professional sebagai sistem operasi.

2.PHP sebagai bahasa pemprograman.

3.Macromedia Dreamweaver 2004 sebagai web editor.

  1. PHP Triad sebagai database server.

5. Mozilla Firefox sebagai web browser.

3. Brainware (Pengguna)

Divisi IT khususnya Bagian Pengolahan Data Helpdesk memiliki  sepuluh pegawai yaitu Asisten manager operasi komputer, Asisten data operasi center, Asisten Aplikasi Pendukung, Asisten PC dan Multimedia Pendukung, Pemeriksa barang, Administrasi Inventaris dan Operator Komputer. Untuk user di Bagian Perlengkapan ada satu orang yaitu Asisten Aplikasi pendukung yang bertugas dalam penginputan dan pengolahan data helpdesk yang diinput oleh user dari semua IT Area RU III PT. Pertamina Plaju Palembang, yang terdiri dari semua jaringan kerja IT Area RU III PT. Pertamina Plaju Palembang.

3.2       Analisa Sistem / Aplikasi yang Sedang Berjalan

Berdasarkan data yang diperoleh dan dikumpulkan dari penelitian di IT Area PT. Pertamina RU III Plaju Palembang khususnya bidang AplikasiHelpdesk, maka penulis menganalisis suatu sistem yang biasanya digunakan dalam aktifitas kerja. Kemudian dalam pembahasan ini penulis akan menjelaskan mengenai hasil dari analisis penulis, yang berupa tampilan dari aplikasi Helpdesk tersebut, bagaimana cara menjalankan aplikasiHelpdesk dalam mengolah data Helpdesk dengan menggunakan analisis PIECES (Performance, Information, Economy, Effisiency, Security, Service). Berikut analisisnya:

1. Analisis Kinerja (Performance)

Performance Adalah kemampuan menyelesaikan tugas bisnis dengan cepat sehingga sasaran segera tercapai. Kinerja diukur dengan jumlah produksi (throughput) dan waktu tanggap (response time) dari suatu system. Berdasarkan analisis data kinerja yang  diperoleh melalui wawancara, maka dapat diukur dari waktu tanggap, jika user menginput data dan menyimpannya maka secara otomatis akan tersimpan oleh sistem, dan langsung dapat dilihat dan dicetak bila sewaktu-waktu diperlukan.

2. Analisis Informasi (information)

Laporan-laporan yang sudah selesai diproses digunakan untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan oleh manajemen di dalam pengambilan keputusan. Informasi merupakan hal yang tidak kalah penting karena dengan informasi.

3. Ekonomi (Economy)

Economy adalah penilaian sistem atas pengurangan dan keuntungan yang akan didapatkan dari sistem yang dikembangkan. Sistem ini akan memberikan penghematan operasional dan meningkatan keuntungan perusahaan. Penghematan didapat melalui pengurangan bahan baku dan perawatan. Sementara keuntungan didapat dari peningkatan nilai informasi dan keputusan yang dihasilkan.

4. Analisis Keamanan (Security)

Sitem keamanan yang digunakan harus dapat mengamankan data dari kerusakan, misalnya dengan membuat back up data. Selain itu sistem keamanan juga harus dapat mengamankan data dari akses yang tidak diijinkan, biasanya dengan memberi password pada form aplikasi dan database.

5. Analisis Efisiensi (Eficiency)

Berhubungan dengan sumber daya yang ada guna meminimalkan pemborosan. Efisiensi dari sistem yang dikembangkan adalah pemakaian secara maksimal atas sumber daya yang tersedia seperti manusia, waktu, uang, peralatan, ruang, dan keterlambatan pengolahan data.

6. Analisis Layanan (Service)

Perkembangan organisasi dipicu peningkatan pelayanan yang lebih baik. Peningkatan pelayanan terhadap sistem yang dikembangkan akan memberi :

  1. Akurat dalam pengolahan data.
  2. Kehandalan terhadap konsistensi dalam pengolahan input dan outputnya serta kehandalan dalam menangani pengecualian.
  3. Kemampuan menangani masalah yang di luar kondisi normal.
  4. Sistem mudah pakai.

Kelebihan  dan Kekurangan dari Aplikasi Helpdesk

1. Performence

Dalam sebuah sistem terdapat throughput dan response time yang sudah  maksimal dan semua proses data dilakukan tidak menggunakan waktu yang lama karena sudah menggunakan sistem komputerisasi.

2. Information

Sistem ini sudah akurat dalam pengolahan dan pengaksesannya, relevan dalam penyajian dan tepat waktu dalam penyampaiannya. Karena data perwatam dan perbaikan  ini sudah tersimpan dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan yang ada yaitu dengan menggunakan sistem AplikasiHelpdesk.

3. Economy

Dengan adanya sistem ini dalam analisis, ekonomi sudah memberikan penghematan operasional dan peningkatan keuntungan perusahaan, sistem ini  menggunakan biaya yang tidak begitu besar dan waktu yang digunakan sudah efisien karena beban kerja lebih sedikit.

  1. Control

Pengaksesan dan keamanan data dalam sistem ini sudah efisien dan dapat terjamin dari gangguan internal maupun eksternal.

  1. 5. Service

Tingkat pelayanannya sudah baik karena dalam pengolahan dan pengaksesan data bisa langsung dibuka jika sewaktu-waktu akan dibutuhkan.

2. Kekurangan

Adapun kekurangan dari hasil analisis PIECES dalam proses pengolahan data Aplikasi Helpdesk perbaikan sistem informasi dan komunikasi Pertamina  sebagai berikut:

  1. Effisiensi

Penggunaan dalam sumber daya manusia belum begitu efisien karena masih dibutuhkan 2 orang untuk mengelola data Helpdesk perbaikan, Jika yang satu berhalangan seperti sakit atau urusan keluarga maka proses sistem tersebut menjadi lambat.

3.3 Usulan Sistem Baru

Setelah penulis mempelajari dan menganalisis masalah yang terjadi, maka penulis menyimpulkan pengolahan data helpdesk perbaikan sistem informasi dan komunikasi pada IT Area RU III PT Pertamina Plaju Palembang yang sedang berjalan yaitu pada pelayanan pengisian informasi kerusakan hanya bisa dilakukan oleh karyawan bagian sistem informasi dan komunikasi saja. Sebaiknya informasi kerusakan bisa dilakukan oleh karyawan yang mengalami kerusakan dan ditanggapi oleh bagian sistem informasi dan komunikasi. Selanjutnya adalah pengaksesan data helpdesk hanya bisa dijalankan di portal intranet.

4.1             KESIMPULAN DAN SARAN

Dari uraian dan pembahasan yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa :

  1. Pada setiap bagian kantor PT.Pertamina memiliki jarak kantor yang jauh dari kantor Sistem Komunikai dan Informasi (SI&K), sehingga jika ada permasalahan yang terjadi para karyawan akan menghubungi bagian Sistem Informasi dan Komunikasi untuk penanganan permasalahan yang terjadi, bagian Sistem Informasi dan Komunikasi tidak selalu ada ditempat, dengan permasalahan ini akan mempengaruhi tingkat kinerja karyawan.
  2. Aplikasi Helpdesk dapat menjadi alternatif lain dalam penyampaian permasalahan yang terjadi di PT. Pertamina (persero) RU III Plaju sehingga dalam pemrosesan data Helpdesk akan lebih efektif dan efisien.

3.    Aplikasi Helpdesk PT.Pertamina (Persero) RU III, Plaju yang dibuat menggunakan script PHP sehingga memungkinkan membuat halaman webyang menunjang adanya suatu penyimpanan data mempunyai database MySQL.

4.2 Saran

Dari kesimpulan diatas, penulis ingin memberikan saran yang akan dijadikan sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi PT.Pertamina (persero) RU III Plaju khususnya dibagian Sistem komunikasi dan Informasi (SI&K), penulis memberikan saran sebagai berikut :

  1. Diperlukan sosialisasi, evaluasi, dan guna memperkenalkan sistem Helpdesk dan mengetahui kelebihan dan kelemahan sistem yang telah berjalan serta yang paling penting selalu melakukan perubahan kearah yang lebih baik lagi.
  2. Aplikasi Helpdesk ini sangat diharapkan kedepannya bisa dimanfaatkan dengan maksimal, dan memperbaiki semua kekurangan yang ada pada aplikasi ini,  Agar semua kekurangan dapat diperbaiki kembali
  3. 3. Diharapkan bagi setiap karyawan PT. Pertamina (Persero) RU III Plaju dapat memanfaatkan Aplikasi Helpdesk ini dengan baik sebagai alternatif dalam penyampaian semua permasalahan yang terjadi pada peralatan  yang beroperasi di PT. Pertamina (Persero) RU III  Plaju.

DAFTAR RUJUKAN

Referensi Buku

Al- Fatta, Hanif.  2007. Analisis dan Perancangan Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi Offset.

Febrian, Jack. 2007. Kamus Komputer dan Teknologi Informasi. Bandung: Informatika.

Kristanto, Andri. Perancangan Sistem Informasi dan Aplikasinya. Yogyakarta: Gava Media.

PT. Pertamina RU III Plaju Palembang yang Beralamat di Jl. Beringin No. 1. Komperta Plaju Palembang

Purwanto, Djoko. 2003. Komunikasi Bisnis. Jakarta: Erlangga.

Supriyanto, Aji. 2007. Pengantar Teknologi Informasi. Jakarta: Salemba Infotek.

Sutabri, Tata. 2005. Analisa Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi Offset.

Sutabri, Tata. 2005. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: Andi Offset.

SISTEM INFORMASI PREDIKSI PERSEDIAN ATK PADA TOKO INDONESIA PRESS MENGGUNAKAN METODE SINGLE MOVING AVERAGE

Sat ,07/09/2013

Abstrak:
Penjualan merupakan unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan. Dalam menjalankan aktvitas toko penjualan banyak terdapat peluang baik dimasa sekarang maupun di masa yang akan datang. Akan tetapi peluang yang datang pada suatu toko penjualan tidak selamanya menghasilkan peluang yang baik atau menghasilkan keuntungan yang baik. Untuk menghindari dan meminimalisasi kerugian penjualan dimasa ketidakpastian di waktu yang akan datang, maka perusahaan melakukan suatu kegiatan peramalan. Peramalan sangat diperlukan dalam suatu toko penjualan, agar toko tersebut dapat memperhitungkan berapa tingkat angka penjualan dapat terjual dengan target yang di inginkan. Peramalan adalah suatu usaha untuk meramalkan keadaan dimasa yang akan datang dengan melihat data-data pada masa lalu. Peramalan adalah kegiatan memperkirakan atau memprediksi apa yang terjadi pada waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu rencana
diantaranya didasarkan pada suatu proyeksi atau Peramalan. Peramalan adalah suatu untuk memperkirakan keadaan dimasa yang akan datang melalui pengujian keadaan dimasa lalu. Dalam kehidupan sosial segala sesuatu itu serba tidak pasti, sukar diperkirakan secara tepat. Dalam hal ini perlu diadakan peramalan. Peramalan yang dibuat selalu diupayakan agar dapat meminimumkan pengaruh ketidak pastian ini terhadap sebuah permasalahan yang ada
.
kata kunc i: penjualan, peramalan,persediaan
.
1. PENDAHULUAN
Perkembangan dalam bidang usaha penjualan harus selalu diperhatikan, hal tersebut disebabkan karena didukung oleh kegiatan yang dilakukan toko itu. Tujuan utama toko adalah memperoleh keuntungan. Salah satu kegiatannya adalah dengan melaksanakan penjualan yang optimal. Naik turunnya penjualan yang dicapai dapat dipergunakan sebagai alat ukur berkembangnya suatu toko. Naik turunnya penjualan yang dicapai dapat dipergunakan sebagai alat pengukur (success indicator) maju mundurnya perusahaan. Penjualan merupakan unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan. Dalam menjalankan aktvitas toko banyak terdapat peluang baik dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang. Akan tetapi peluang yang datang pada suatu toko tidak selamanya menghasilkan peluang yang baik atau menghasilkan keuntungan yang baik. Untuk menghindari dan meminimalisasi kerugian penjualan dimasa ketidakpastian diwaktu yang akan datang, maka perusahaan melakukan suatu kegiatan peramalan. Peramalan sangat diperlukan dalam suatu toko, agar toko tersebut dapat memperhitungkan berapa tingkat angka penjualan dapat terjual dengan target yang diinginkan. Peramalan adalah suatu usaha untuk meramalkan keadaan dimasa yang akan datang dengan melihat data-data pada masa lalu. Dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari, Toko ATK Indonesia Press Palembang sudah menggunakan komputer tetapi hanya terbatas sebagai alat bantu saja dengan aplikasi yang digunakan adalah paket aplikasi perkantoran. Dengan sistem tersebut, data penjualan, data stok serta data pembelian masih dikerjakan menggunakan komputer kemudian dicetak hardcopynya melalui media printer. Dengan menggunakan cara ini, timbul masalah, antara lain: lambat dalam pencarian data karena pegawai harus mencari data secara manual pada dokumen kertas hasil print-out dari pengetikan, terlebih lagi jika file hasil pengetikan sudah terhapus atau teredit dengan data terbaru. Lambatnya dalam pembuatan laporan ketika pimpinan membutuhkannya dalam waktu yang cepat, terlebih lagi jika laporan yang diminta memiliki kelompok kriteria tertentu, misalnya laporan penjualan per periode tertentu, laporan pembelian per periode tertentu, atau laporan persediaan per kode tertentu karena pegawai harus merekap satu per satu secara manual kemudian mengetiknya dengan bantuan komputer. Kemungkinan terjadinya kerangkapan (redundancy) data yaitu kondisi dimana terjadi pencatatan berulang terhadap satu data yang sama yang disebabkan tidak adanya validasi keunikan pendataan. Misalnya sebuah data sudah dicatat kemudian petugas tersebut lupa dan mencatatnya kembali sehingga terjadi dua kali pencatatan terhadap satu data yang sama. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, penulis merasa perlu merencanakan adanya pembuatan sistem yang berbasis komputer untuk menangani masalah persediaan ATK di toko Indonesia Press Palembang sehingga penulis memberikan judul skripsi ini “Sistem Informasi Prediksi Persediaan Alat Tulis Kantor pada toko Indonesia Press palembang menggunakan metode Single Moving Average”.
1.1.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk membangun sebuah program sistem informasi persediaan pada toko ATK Indonesia Press palembang.
1.2.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :Bagi pembeli dapat mengetahui ATK yang layak untuk dibeli karena telah erprediksi semua ATK yang telah digunakan.
Bagi pimpinan:
Sistem Informasi Prediksi persediaan ATK Pada Indonesia Press Menggunakan Metode Single Moving Aerage (Rendi Antickha)
a. Memudahkan pemilik agar dapat mengingat kembali stok ATK yang tersisa dan yang masih bisa digunakan.
b. Pengolahan data bisa menjadi lebih cepat dan tepat karena telah terintegrasi dengan (DBMS/ Data Base anagement System).
2.
METODOLOGI PENELITIAN
2.1.Tempat dan Waktu Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah Toko ATK Indonesia Press Palembang yang berlokasi di Jl. Temon No.259 Palembang.
2.2.Tahapan Pengembangan Sistem
Metodologi yang disebut waterfall atau air terjun yang membagi daur hidup pengambangan sistem. Untuk membuat suatu sistem dibutuhkan beberapa tahapan agar didapat suatu sistem yang benar-benar bermanfaat sesuai kebutuhan, menurut (Rosa, Shalahudin, 2011) tahapan dalam pengembangan sistem adalah sebagai berikut :
1. Analisa
Langkah ini merupakan analisa terhadap kebutuhan sistem. Pengumpulan data dalam tahap ini bisa alakukan sebuah penelitian, wawancara atau study literatur. Seorang sistem analis akan menggali informasi sebanyak-banyaknya dari user sehingga akan tercipta sebuah sistem komputer yang bisa melakukan tugas-tugas yang diinginkan oleh user tersebut. Tahapan ini akan menghasilkan dokumen user requirment atau bisa dikatakan sebagai data yang berhubungan dengan keinginan user dalam pembuatan
sistem. Dokumen ini lah yang akan menjadi acuan sistem analis untuk menterjemahkan ke dalam bahasa pemprogram.
2. Design
Proses desain akan menerjemahkan syarat kebutuhan ke sebuah perancangan perangkat lunak yang dapat diperkirakan sebelum dibuat coding. Proses ini berfokus pada : struktur data, arsitektur perangkat lunak, representasi interface, dan detail (algoritma) prosedural. Tahapan ini akan menghasilkan dokumen
yang disebut software requirment. Dokumen inilah yang akan digunakan proggrammer untukmelakukan aktivitas pembuatan sistemnya.
3. Coding dan Testing
Coding merupan penerjemahan design dalam bahasa yang bisa dikenali oleh komputer. Dilakukan oleh programmer yang akan meterjemahkan transaksi yang diminta oleh user. Tahapan ini lah yang merupakan tahapan secara nyata dalam mengerjakan suatu sistem. Dalam artian penggunaan komputer akan dimaksimalkan dalam tahapan ini. Setelah pengkodean selesai maka akan dilakukan testing terhadap sistem yang telah dibuat tadi. Tujuan testing adalah menemukan kesalahan-kesalahan terhadap sistem tersebut dan kemudian bisa diperbaiki.
4. Penerapan
Tahapan ini bisa dikatakan final dalam pembuatan sebuah sistem. Setelah melakukan analisa, design dan
pengkodean maka sistem yang sudah jadi akan digunakan oleh user.
5. Pemeliharaan
Perangkat lunak yang sudah disampaikan kepada pelanggan pasti akan mengalami perubahan. Perubahan tersebut bisa karena mengalami kesalahan karena perangkat lunak harus menyesuaikan dengan lingkungan (periperal atau sistem operasi baru) baru, atau karena pelanggan membutuhkan perkembangan fungsional.
2.3.Sistem Informasi
Sistem Informasi adalah suatu sistem didalam organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan ransaksi yang mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategis dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan (Jogiyanto, 2001:11). mendefinisikan sistem informasi sebagai suatu sistem dalam suatu organisasi yang merupakan kombinasi dari orang-orang, fasilitas, teknologi, media, prosedur-prosedur dan pengendalian untuk mendapatkan jalur komunikasi penting, memproses tipe transaksi rutin tertentu, memberi sinyal kepada manajemen dan yang lainnya terhadap kejadian-kejadian internal dan eksternal yang penting dan menyediakan suatu dasar informasi untuk pengambilan keputusan.
2.4.Persediaan
Persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam periode usaha tertentu, atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses priduksi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam atu proses produksi, jadi persediaan merupakan bahan-bahan, bagian yang disediakan, dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi atau produksi yang disediakan untuk meme
nuhi permintaan dari konsumen atau pelanggan setiap waktu. Rangkuti (2004:1).
2.5.Microsoft SQL Server 2000
Menurut Kadir (2002:11) SQL adalah kependekan dari Structured Query Language, dalam bahasa Inggris SQL biasa dibaca sebagai SEQUEL dan bukan ES-KYUEL, bahasa ini merupakan standar yang digunakan untuk mengakses basis data relational. Standard SQL mula-mula didefinisikan oleh ISO (International Standard Organization) dan ANSI (the American National Standard Institute) yang dikenal dengan SQL86. Sistem Informasi Prediksi persediaan ATK Pada Indonesia PressMenggunakan Metode Single Moving Aerage(Rendi Antickha)
2.6.Visual Bsic 6.0
Visual Basic 6.0 (VB6) merupakan suatu development tools untuk membangun aplikasi dalam lingkungan windows. Dalam pengembangan aplikasi, visual basic menggunakan pendekatan visual untuk merancang user interface dalam bentuk form, sedangkan untuk kodingnya menggunakan dialek bahasa basic yang cenderung mudah di pelajari. Visual basic telah menjadi tools yang terkenal bagi para pemula maupun developer(Wahana, 2004).
2.7.Metode Single Moving Average
Moving Average merupakan indikator yang paling sering digunakan dan paling standar. Jika di Indonesiakan artinya kira-kira adalah rata-rata bergerak. Moving average sendiri memiliki aplikasi yang sangat luas meskipun
sederhana. Dikatakan sederhana karena pada dasarnya metode ini hanyalah pengembangan dari metode rata-rata yang kita kenal disekolah ( nah, ada gunanya juga bukan kita bersekolah). Rata-rata bergerak tunggal (Moving average) untuk periode t adalah nilai rata-rata untuk n jumlah data terbaru. Dengan munculnya data baru, maka nilai rata-rata yang baru dapat dihitung dengan menghilangkan data yang terlama dan menambahkan data yang terbaru. Model ini sangat cocok digunakan pada data yang stasioner atau data yang konstant terhadap variansi, tetapi tidak dapat bekerja dengan data yang mengandung unsur trend atau musiman. Rata-rata bergerak pada orde 1 akan menggunakan data terakhir (Ft), dan menggunakannya untuk memprediksi data pada periode selanjutnya. Metode ini sering digunakan pada data kuartalan atau bulanan untuk membantu mengamati komponen-komponen suatu runtun waktu. Semakin besar orde rata-rata bergerak, semakin besar pula pengaruh pemulusan (smoothing).Dibanding dengan rata-rata sederhana (dari satu data masa lalu) rata-rata bergerak berorde T mempunyai karakteristik sebagai berikut.
a.Hanya menyangkut T periode tarakhir dari data yang diketahui.
b.Jumlah titik data dalam setiap rata-rata tidak berubah dengan berjalannya waktu.
Implementasi metode ini dalam program terletak di tabel peramalan dimana tabel ini akan menampung data-data transaksi per bulan per tahun dari masing-masing obat, dari tabel inilah nantinya akan didapat peramalan jumlah permintaan untuk masing-masing atk untuk bulan berikutnya.Rumus Single Moving Average dapat dijelaskan sebagai berikut:
Mt= Y t+1= dimana: Mt= moving average pada periode t.
Yt+1= nilai ramalan untuk periode berikutnya.
n = jumlah data dalam moving average Rata-rata bergerak untuk periode
t adalah nilai rata-rata untuk n jumlah data terbaru. Contoh kasus, teknik peramalan dengan metode rata-rata bergerak pada toko sepatu, (y1+ yt-1+ yt-2+ … + yt-n+1) ———————————–(1) -20 peramalan dengan rata-rata bergerak untuk kwartal pertama tahun 1992 adalah: Y2-+ Y20-1+ Y20-2+ Y20-4+1M20= Y20+1
= —————————————–4Y20+ Y19+ Y18+ Y17Y21
= ———————————–4550 + 400 + 350 + 600 1990Y21
= ———————————
= ——-
= 4754 4 sumber: Arsyad(2001:76)
2.8.DataFlowDiagram(DFD)
Data Flow Diagram adalah diagram arus pemroses data yang merupakan gambaran secara menyeluruh mengenai urutan pengolahan data hingga menghasilkan informasi yang diinginkan (Rosa, Shalahudin, 2011). di dalam atk nya yang berjudul Analisis dan Perancangan Sistem Informasi dengan Metodologi Berorentasi Objek edisi revisi, menyatakan bahwa DFD adalah gambaran grafis yang memperlihatkan aliran data dari sumbernya dalam objek kemudian melewati suatu proses yang mentransformasinya ke tujuan yang lain, yang ada pada objek lain.
1.Rancangan Data Flow Diagram(DFD)
Rancangan Data Flow Diagram (DFD)Sistem Informasi Penjualan Barang pada toko ATK Indonesia Press Palembang adalah sebagai berikut :
1.Diagram Konteks
Gambar
1. Diagram Konteks
Diagram konteks adalah diagram yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Diagram konteks merupakan level tertinggi dari DFD yang menggambarkan seluruh input kesistem atau output dari sistem.Diagram konteks diatas terdiri dari 3 entitas yaitu pelanggan, admin dan pimpinan. Masing-masing entitas mempunyai aktifitas atau proses yang dilakukannya. Entitas pelanggan dan admin mempunyai aktifitas dari dan ke sistem,sedangkan entitas pimpinan hanya mempunyai aktifitas dari sistem. Detail dari masing-masing entitas dapat dilihat pada diagram level 0 seperti gambar dibawah ini:
2. Diagram Level 0
Gambar 2.
Diagram Level 0
Sistem Informasi Prediksi persediaan ATK Pada Indonesia Press Menggunakan Metode Single Moving Aerage (Rendi Antickha)
Diagram ini merupakan penjelasan dari diagram konteks sebelumnya, dalam diagram ini entitas-entitas yang ada seperti gudang, pelanggan, bagian penjualan dan pimpinan sudah dijelaskan lebih lanjut. Entitas pelanggan menerima dari sistem berupa faktur penjualan sedangkan pemberian ke sistem berupa data pelanggan, entitas gudang memberikan data barang ke sistem, entitas bagian penjualan memberikan data penjualan ke sistem dan dari sistem menerima daftar barang dan daftar pelanggan, terakhir entitas pimpinan menerima laporan yang terdiri dari laporan barang, laporan pelanggan, laporan penjualan per periode dan laporan faktur penjualan.
3. Diagram Level 1
Gambar 3.
Diagram Level 1
4. Diagram Level 1 Proses 1.0
Gambar 4.
Diagram Level 2 Proses 1.0
Diagram ini merupakan penjelasan dari diagram konteks sebelumnya, dalam diagram ini entitas-entitas yang ada seperti suplier, pembelian.Sulier input data suplier,suplier input data masuk,data pembelian.
5. Diagram Level 2 Proses 1.0
Gambar 5.
Diagram Level 2 Proses 2.0
Diagram ini merupakan penjelasan dari diagram konteks sebelumnya, dalam diagram ini entitas-entitas yang ada seperti pelanggan, penjual. pelanggan input data pelanggan,pelanggan input data barang keluar,data penjualan.
6. Diagram Level
2Proses 4.0
Gambar 6.
Diagram Level 2 Proses 4.0
Diagram ini merupakan penjelasan dari diagram konteks sebelumnya, dalam diagram ini entitas-entitas yang ada seperti pelanggan, penjual, pelanggan, suplier.pelanggan input data laporan pelanggan,pembelian input data laporan pembelian,penjualan input data laporan penjualan,suplier input data laporan suplier kepada pempinan,pimpinan laporan persedian.
2.9.EntityRelationshipDiagram (ERD)
Menurut (Rosa, Shalahudin, 2011), ERD adalah gambaran sistematis antara simbol-simbol himpunan entitas dan himpunan relasi yang masing-masing dilengkapi dengan atribut-atribut yang mewakili semua faktor. ERDadalah diagram yang berisi komponen-komponen himpunan entitas dan himpunan relasi yang masing-masing dilengkapi dengan atribut-atribut yang merepresentasikan seluruh fakta dari dunia nyata yang kita tinjau. ERD juga bisa diartikan sebagai notasi grafis dalam pemodelan data konseptual yang mendeskripsikan hubungan antara penyimpanan.
1.Rancangan Entity Relatioship Diagaram (ERD)Entity Relationship Diagram(ERD)
Sistem Informasi Penjualan barang pada toko ATK Indonesia Press Palembang adalah
Gambar 1.Entity Relationship Diagram
Diagram ini merupakan penjelasan dari diagram konteks sebelumnya, dalam diagram ini entitas-entitas yang ada seperti pelanggan, penjualan, stok, pembelian, suplier .pelanggan membeli penjualan,penjualan mengurangi stok,suplier memasok pembelian, pembelian menambah setok.
3.HasilBerdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada Toko Indonesia Press Palembang, pada bab ini kan membahas hasil yang telah didapat setelah melalui beberapa tahapan dalam pembuatan sistem. Sistem yang dihasilkan merupakan suatu system informasi yang telah jadi, sesuai dengan hasil rancangan Sistem Informasi Prediksi persediaan ATK Pada Indonesia Press Menggunakan Metode Single Moving Aerage(Rendi Antickha) dengan tahapan-tahapan pembuatan sistem dan tahapan pembuatan perangkat lunak pada.Sistem Informasi tersebut dapat diaplikasikan kedalam sistem yang ada pada Toko Indonesia Press Palembang khususnya dalam mengolah data penjualan. Sistem informasi tersebut terdiri dari beberapa file pendukung yang terakumulasi dalam suatu project program, adapun file-file pendukung program tersebut adalah sebagai berikut :
1.File Barang
2.File Suplier
3.File Pelanggan
4.File Pembelian
5.File Penjualan
1.Form Menu Utama Form menu utama berisikan menu-menu yang dapat dipilih oleh petugas adnimistrasi. Form menu utama terdapat master, transaksi, laporan, perhitungan rumus dan selesai untuk menutup menu utama. Gambar 1.Menu Utama
2.Form Master Data Suplier Submenu master data suplier merupakan menu untuk menginput data dan pengolah data suplier. Input data yang berisi kode suplier untuk input kode suplier, nama suplier input nama suplier, alamat input alamat suplier, telepon input No telepon. Pada form suplier berisi tombol tambah untuk menambah data suplier, edit untuk merubah data suplier, simpan untuk menyimpan data suplier dan selesai untuk menutup form suplier.
Gambar 2.Menu Data Suplier
3.Form Data Pelanggan Sumenu master data pelanggan merupakan menu untuk menginput data pelanggan dan pengolah data pelanggan. Input data yang berisi kode pelanggan untuk input kode pelanggan, nama pelanggan input nama pelanggan, alamat input alamat pelanggan, telepon input No telepon. Pada form pelanggan berisi tombol tambah untuk menambah data pelanggan, edit untuk merubah data pelanggan, simpan untuk menyimpan data pelanggan dan selesai untuk menutup form pelanggan .
Gambar 3.Menu Data Pelanggan
4 Form Data Barang Submenu master data barang merupakan menu untuk menginput data dan pengolah data barang. Imput data yang berisi kode barang untuk input kode barang, nama barang input nama barang, satuan input satuan barang, harga beli input harga beli barang, harga jual input harga jual, jumlah persediaan input jumlah persediaan. Pada form barang berisi tombol tambah untuk menambah data barang, edit untuk merubah data barang, simpan untuk menyimpan data barang dan selesai untuk menutup form barang.
Gambar 4.Menu Data Baran
5.Form Data Pembelian BarangSubmenu transaksi data pemebelian barang merupakan menu untuk menginput data dan pengolah data pemebelian barang. Input data yang berisi nomor faktur untuk nomor faktur, nama suplier input nama suplier, kode barang input kode barang, tanggal input tanggal beli, jumlah persediaan input jumlah pembelian. Pada form barang berisi tombol tambah untuk menambah data pembelian, simpan untuk menyimpan data pembeliandan selesai untuk menutup form pembelian.
Gambar 5. Menu Data Pembelian Barang
6.Form Data Penjualan Barang
Sub menu transaksi data penjualan barang merupakan menu untuk menginput data dan pengolah data penjualan barang. Input data yang berisi nomor faktur untuk nomor faktur, kode pelanggan input kode pelanggan, kode barang input kode barang, tanggal input tanggal penjualan, jumlah input jumlah penjualan. Pada form barang berisi tombol tambah untuk menambah data penjualan, simpan untuk menyimpan data penjualan dan selesai untuk menutup form penjualan.
Gambar 6.Menu Data Penjualan Barang
7.Laporan suplier
Sub menulaporan suplierberfungsi untuk melihat kesup suplier, nama suplier, alamat suplier, No telepon suplier.Sistem Informasi Prediksi persediaan ATKPada Indonesia Press Menggunakan Metode Single Moving Aerage(Rendi Antickha)
Gambar 7.Laporan Suplier
8.Laporan Pelanggan
Sub menu laporan Pelanggan berfungsi untuk melihat kdplg Pelanggan, nama Pelanggan, alamat Pelanggan, No telepon Pelanggan.
Gambar 8.Laporan Pelanggan
9.Laporan Persediaan Barang Sub menu laporan barang berfungsi untuk melihat kdbrg barang, nama barang, satuan, harga beli, harga jual, stok barang.
Gambar 9.Laporan barang
10.Laporan PembelianSub menulaporan pembelian berfungsi untuk melihat kdfaktur barang, nama barang,
tanggal beli barang, harga barang, jumlah barang.
Gambar 10.Laporan Pembelian Barang
11.Laporan Penjualan Sub menu laporan pembelian berfungsi untuk melihat kdfaktur barang, nama barang, tanggal beli barang, harga barang, jumlah barang.
Gambar 11.Laporan Penjualan Barang
12.Form Perhitungan Perpriode
Submenu file perhitungan pepriode merupakan menu untuk menginput periode awal hingga ke priode akhir. ada form terdapat tombol proses untuk proses prediksi perpriode brikutnya.
Gamabar 12.Form Perhitungan Perpriode
13.Laporan Prediksi Penjualan Perpriode Pada laporan prediksi penjualan ini berfungsi untuk mengetahui jumlah penjualan dan memprediksi bulan berikutnya. Total kolom jumlah dibagi berapa banyak data yang ditampilkan sesuai periode awal dan periode akhir.
Gambar 13.Laporan Prediksi Penjualan
14.Form Perhitungan Perbarang
Submenu file perhitungan perbarang merupakan menu untuk menginput kode barang, nama barang. Pada form terdapat tombol proses untuk proses prediksi perbarang perpriode berikutnya.
Gamabar 14.
Form Perhitungan PerbarangSistem Informasi Prediksi persediaan ATK Pada Indonesia Press Menggunakan metode Single Moving Aerage(Rendi Antickha)
15.Laporan Prediksi Penjualan Perbarang
Pada laporan prediksi penjualan perbarang ini berfungsi untuk mengetahui jumlah penjualan perbarang dan memprediksi bulan berikutnya. Total kolom jumlah dibagi berapa banyak data yang ditampilkan sesuai periode awal dan periode akhir.
Gambar 15.Laporan Prediksi Penjualan Perbarang
16.Form Perhitungan Perpriode Perbarang Submenu file perhitungan perpriode perbarang merupakan menu untuk menginput kode barang, nama barang. Pada form terdapat tombol proses untuk proses prediksi perbarang
perpriode brikutnya.
Gambar 16. Form Perhitungan Perpriode Perbarang
17.Laporan Prediksi Penjualan Perpriode Perbarang
Pada laporan prediksi penjualan perbarang perpriode ini berfungsi untuk mengetahui jumlah penjualan perbarang priode dan memprediksi bulan berikutnya. Total kolom jumlah dibagi berapa banyak data yang ditampilkan sesuai periode awal dan periode akhir.
Gambar 17.Laporan Prediksi Penjualan Perpriode Perbarang
4.SIMPULAN
Setelah melakukan pengamatan dan merumuskan pemecahan masalah, maka dapat diambil beberapa Kesimpulan yang menyangkut pelaksanaan dan pemanfaatan komputer khususnya dalam pengolahan data prediksi persediaan yang merupakan hasil penelitian yaitu :
2. Sistemyang dihasilkan adalah sistem informasi prediksi persediaan barang pada toko. Indonesia Press Palembang secara komputerisasi melalui suatu program khusus yang dirancang menggunakan aplikasi pemrograman berbasis desktop yaitu visual basic 6.0 dan menggun akan database sqlserver2000 yang diharapkan dapat mempermudah dalam pengolahan data barang.
3. Dengan adanya sistem informasi yang dibangun ini dapat mempercepat pembuatan laporan yang berhubungan dengan prediksi persediaan.
4. Dalam proses pengolahan data dapat dilakukan dengan cepat karena data yang telah diolah telah tersimpan pada database.
DAFTAR RUJUKAN
Freddy Rangkuti, 2004,“Manajemen Persediaan”,Andi,Yogyakarta.
Jogiyanto, 2005, ”Analisis &Desain”, Andi,Yogyakarta.
Lincolin Arsyat,2001 “Peramalan Bisnis”,BPFE,Yogyakarta.
Rosa A.S, M. Shalahudin, 2011, ”Rekayasa Perangkat Lunak”, Modula, Bandung.
Wahana, 2004,”Pemprograman Visual Basic 6.0”, Andi,Yogyakarta.

SISTEM INFORMASI REKAM MEDIS RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) LAHAT MENGGUNAKAN METODE TOTAL ARCHITECTURE SYNTESIS (TAS)

Sat ,07/09/2013

A.Haidar Mirza, A.Yani Ranius, AJ Perdana Putra
Universitas Bina Darma
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12 Palembang
Pos-el : haidarmirza@yahoo.com , yani_ranius@mail.binadarma.ac.id, ajperdanaputra@yahoo.co.id

ABSTRACT : Patient information system at the Regional General Hospital (Hospital) Lahat is an information system that has a queue of activities, registration and examination at each clinic. The system performance in patient care in hospitals Lahat running is still not optimal due to the processing of patient data and medical records do still use the media or manual bookkeeping. Therefore patient care in hospitals Lahat become ineffective and inefficient, since media reports bookkeeping slow down. Methods medical record system development in hospitals Lahat Total Architecture Syntesis method (TAS). System development tool using Use Case Diagrams and Class Diagrams. Implementation of programs using Borland Delphi 7 application programming with databases using SQL Server 2000. Medical record information system designed aiming to build a computerized information system, making it easier for hospitals Lahat in processing patient data and medical records of patients.

Keywords: Medical Record,Patient,Total Architecture Syntesis, TAS

ABSTRAK : Sistem informasi pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lahat adalah sistem informasi yang mempunyai kegiatan antrian, registrasi, dan pemeriksaan pada tiap-tiap poliklinik. Adapun kinerja sistem dalam pelayanan pasien yang berjalan di RSUD Lahat tersebut masih belum optimal karena pada pengolahan data pasien dan data rekam medis dilakukan masih menggunakan media pembukuan atau manual. Oleh karena itu pelayanan pasien di RSUD Lahat menjadi tidak efektif dan efisien, karena media pembukuan memperlambat jalannya laporan. Metode pengembangan sistem rekam medis di RSUD Lahat menggunakan metode Total Architecture Syntesis (TAS). Alat bantu pengembangan sistem menggunakan Use Case Diagram dan Class Diagram. Implementasi program menggunakan aplikasi pemrograman Borland Delphi 7 dengan database menggunakan SQL Server 2000. Sistem informasi rekam medis dirancang bertujuan untuk membangun sistem informasi yang terkomputerisasi, sehingga memudahkan RSUD Lahat dalam mengolah data pasien dan data rekam medis pasien.
.

Keywords : Rekam Medis,Pasien,Total Architecture Syntesis (TAS)

1. PENDAHULUAN

Dalam era globalisasi sekarang ini tak bisa dipungkiri bahwa perkembangan teknologi informasi khususnya komputer sangatlah pesat sehingga menuntut orang – orang yang bergerak pada bidang ini untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan. Persaingan bisnis yang semakin ketat dan perkembangan ilmu pengetahuan dalam era sekarang ini, menuntut perusahaan untuk menyusun kembali proses bisnis yang terjadi dalam internal perusahaan. Dalam hal ini teknologi komputer dan telekomunikasi
memegang peranan yang sangat penting karena kemampuannya untuk menembus batas ruang dan waktu serta mampu mendukung kelancaran proses dalam suatu perusahaan. Tentunya dengan penggunaan teknologi yang tepat guna dan mampu menghasilkan informasi yang cepat dan akurat sesuai dengan kebutuhan oleh pengguna teknologi informasi.
Penyelenggaraan upaya kesehatan di rumah sakit juga tidak lepas dari peran serta rekam medis pada setiap unit pelayanan kesehatan. Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. Catatan-catatan tersebut kemudian diolah dan selanjutnya akan bermanfaat bagi pihak manajemen untuk mengetahui informasi mengenai data yang telah ada.
Pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lahat, pengolahan data pasien dan data rekam medis masih dilakukan dengan cara manual dimana data diisikan pada formulir data pasien yang kemudian dicatat kembali pada buku-buku yang disediakan untuk itu. Untuk sistem pelaporan rumah sakit sudah menggunakan bantuan komputer dimana data pasien dan rekam medis diketik dengan bantuan aplikasi perkantoran. Banyaknya data pasien yang harus diolah dan data yang berkelanjutan dari riwayat penyakit pasien, membuat pengarsipan data riwayat pasien dengan metode manual (hardcopy) sangat tidak efektif. Akibatnya, perawat yang pada dasarnya sebagai pembantu dokter di bidang medis menjadi tersita sebagian besar waktunya untuk mencari data pasien dan pengarsipkannya kembali, hal ini mengakibatkan berubahnya fungsi utama profesi yang pada akhirnya Rumah Sakit harus mempekerjakan perawat dengan tugas administrasi., sehingga kurang akurat dan membutuhkan waktu yang relatif lama serta menyebabkan kerja ekstra bagi petugas terkait dalam menyediakan laporan.
Metode Total Architecture Syntesis (TAS) menurut Brown (2008) adalah pola pikir yang berfokus pada tujuan perusahaan yang sederhana dari desain tradisional kegiatan untuk menghasilkan desain yang lebih efisien yang secara konseptual berfokus pada proses bisnis, manusia, dan informasi. Metode ini bertujuan untuk melakukan desain sistem informasi terdistribusi, pengujian dan meninjau desain baik proses bisnis dan mendukung sistem di atas kertas sebelum melakukan upaya implementasi. Pengunaan metode TAS, menjadikan proses pengumpulan informasi akan kebutuhan dari sebuah perusahaan bukan lagi menjadi sebuah aktifitas yang terpisah dari proses bisnis dan arsitektur sistem. Semua aktivitas dari sebuah perusahaan kini secara iterative akan saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lainnya.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis tertarik untuk merancang dan membangun sebuah Sistem Informasi Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lahat Menggunakan Metode Total Architecture Syntesis (TAS).

2. METODOLOGI PENELITIAN

2.1.1 Sistem

Di dalam buku Sistem Informasi Manajemen Jilid 1, McLeod, Jr. (2001:11) menyatakan bahwa sistem adalah sekelompok elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan.
Jogiyanto (2001:2) di dalam bukunya yang berjudul Analisis dan Desain Sistem Informasi mendefiniskan bahwa sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Selanjutnya, Turban, dkk. (2005:57) di dalam bukunya yang berjudul Decision Support System and Intelligent System (Sistem Pendukung Keputusan dan Sistem Cerdas) Edisi 7 Jilid 1 menyatakan bahwa sistem adalah kumpulan objek seperti orang, sumber daya, konsep, dan prosedur yang dimaksudkan untuk melayani suatu tujuan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sistem terdiri dari elemen-elemen yang disebut juga subsistem-subsistem, ada kerja sama diantara elemen-elemen tersebut, serta terdapat tujuan-tujuan yang hendak dicapai dari kerja sama tersebut.

2.1.2 Informasi

Pada dasarnya pengertian data tidak dapat dipisahkan dari pengertian informasi karena keduanya mempunya hubungan sebab akibat yang sangat erat.
Di dalam sebuah artikel populer yang diterbitkan oleh situs www.ilmukomputer.com yang berjudul Pengantar Database, Irmansyah (2003:1) menyatakan bahwa data adalah nilai/value yang turut merepresentasikan deskripsi dari suatu objek atau kejadian (event), sedangkan informasi adalah hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian (event) yang nyata (fact) yang digunakan untuk pengambilan keputusan.
Pendapat lain menyatakan bahwa data terdiri dari fakta-fakta dan angka-angka yang relatif tidak berarti bagi pemakai, sedangkan Informasi adalah data yang telah diproses, atau data yang memiliki arti (McLeod, Jr., 2001:15).
Dapat disimpulkan bahwa data adalah bahan mentah yang belum berguna yang jika diolah akan menghasilkan informasi, yang juga berarti bahwa informasi adalah sesuatu yang berguna dan memiliki arti yang merupakan produk hasil daripada pengolahan data.
Kualitas informasi menurut Jogiyanto (2001:10) tergantung pada tiga hal, yaitu sebagai berikut.
1. Akurat: informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak bias atau menyesatkan.
2. Tepat waktu: informasi yang datang pada penerima tidak boleh terlambat.
Relevan: informasi tersebut haruslah mempunyai manfaat untuk pemakainya.

2.1.3 Sistem Informasi

Menurut Susanto (2004:55) sistem informasi adalah “kumpulan dari sub-sub sistem baik fisik maupun non fisik yang saling berhubungan satu sama yang lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan tertentu yaitu mengolah data menjadi informasi yang berarti dan berguna”.
Leitch dan Davis dalam Jogiyanto, 2005:11 mengemukakan bahwa “sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial, dan kegiatan strategis dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan”.
Pengertian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Jogiyanto (2005:34) bahwa Sistem dapat didefinisikan sebagai “kumpulan dari komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk satu kesatuan mencapai tujuan tertentu. Sedangkan informasi didefinisakan sebagai pengolahan data yang berarti dan bermanfaat (Susanto, 2004:55).
Dari tiga definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem informasi sebagai kumpulan dari subsistem apapun baik fisik maupun non fisik yang saling berhubungan satu sama yang lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan yaitu mengolah data menjadi informasi yang berarti dan bermanfaat.
Komponen-komponen yang terkait dengan sistem informasi antara lain:
a. Data
Data harus akurat dan yang terpenting data benar, jangan data berupa sampah atau data yang tidak benar.
b. Masukan
Masukan harus dikode dengan jelas sesuai kebutuhan dan dengan cara tertentu. Misalnya data untuk membuat grafik dibentuk dalam gambaran tabel.
c. Proses
Harus jelas diproses dengan cara apa dan alat apa, perangkat keras dan perangkat lunak serta tehnisi yang sesuai.

d. Keluaran
Keluaran harus jelas dan memenuhi ciri-ciri informasi yang baik dan benar.
e. Tujuan
Keluaran yang dihasilkan harus sesuai dengan tujuan agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.
f. Pemakai
Pemakai harus terlatih memanfaatkan informasi yang terbentuk, bila tidak informasi yang dihasilkan akan sia-sia.
g. Model
Cara pengolahan dengan logika, perhitungan atau pengolahan kata, atau tata letak.
h. Teknologi
Komputer yang digunakan berjenis apa, atau masih secara manual.
i. Pengendali
Cara untuk mencegah kecurian data dan atau kehilangan data.

2.1.4 Rekam Medis

Menurut Indonesian Medical Council (2006) dalam penjelasan Pasal 46 ayat (1) UU Praktik Kedokteran, yang dimaksud dengan rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis dijelaskan bahwa rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan.
Kedua pengertian rekam medis diatas menunjukkan perbedaan dimana Permenkes hanya menekankan pada sarana pelayanan kesehatan, sedangkan dalam UU Praktik Kedokteran tidak. Ini menunjukan pengaturan rekam medis pada UU Praktik Kedokteran lebih luas, berlaku baik untuk sarana kesehatan maupun di luar sarana kesehatan
Adapun isi dari Rekam Medis adalah :
1. Catatan, merupakan uraian tentang identitas pasien, pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain baik dilakukan oleh dokter dan dokter gigi maupun tenaga kesehatan lainnya sesuai dengan kompetensinya.

2. Dokumen, merupakan kelengkapan dari catatan tersebut, antara lain foto rontgen, hasil lab dan keterangan lain sesuai dengan kompetensi keilmuannya.
Jenis Rekam Medis dibedakan menjadi:
1. Rekam medis konvensional
2. Rekam medis elektronik

Manfaat Rekam Medis antara lain:
1. Pengobatan Pasien
Rekam medis bermanfaat sebagai dasar dan petunjuk untuk merencanakan dan menganalisis penyakit serta merencanakan pengobatan, perawatan dan tindakan medis yang harus diberikan kepada pasien.
2. Peningkatan Kualitas Pelayanan
Membuat rekam medis bagi penyelenggaraan praktik kedokteran dengan jelas dan lengkap akan meningkatkan kualitas pelayanan untuk melindungi tenaga medis dan untuk pencapaian kesehatan masyarakat yang optimal.
3. Pendidikan dan Penelitian
Rekam medis yang merupakan informasi perkembangan kronologis penyakit, pelayanan medis, pengobatan dan tindakan medis, bermanfaat untuk bahan informasi bagi perkembangan pengajaran dan penelitian di bidang profesi kedokteran dan kedokteran gigi.
4. Pembiayaan
Berkas rekam medis dapat dijadikan petunjuk dan bahan untuk menetapkan pembiayaan dalam pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan. Catatan tersebut dapat dipakai sebagai bukti pembiayaan kepada pasien.
5. Statistik Kesehatan
Rekam medis dapat digunakan sebagai bahan statistik kesehatan, khususnya untuk mempelajari perkembangan kesehatan masyarakat dan untuk menentukan jumlah penderita pada penyakit-penyakit tertentu.

6. Pembuktian Masalah Hukum, Disiplin dan Etik
Rekam medis merupakan alat bukti tertulis utama, sehingga bermanfaat dalam penyelesaian masalah hukum, disiplin dan etik.

2.1.5 TAS ( Total Architecture Syntetis)

Menurut Brown (2008) “Total Architecture adalah pola pikir yang berfokus pada tujuan perusahaan yang sederhana dari desain tradisional kegiatan untuk menghasilkan desain yang lebih efisien yang secara konseptual berfokus pada proses bisnis, manusia, informasi”. Bertujuan untuk melakukan desain sistem informasi terdistribusi, pengujian dan meninjau desain baik proses bisnis dan mendukung sistem diatas kertas sebelum melakukan upaya implementasi.
Pengunaan metode TAS, menjadikan proses pengumpulan informasi akan kebutuhan dari sebuah perusahaan bukan lagi menjadi sebuah aktifitas yang terpisah dari proses bisnis dan arsitektur sistem. Semua aktifitas di atas kini secara iterative akan saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lainnya.

Tahap pengembangan sistem dalam buku Implementing SOA (Services Oriented Architecture) Total Architecture Syntesis in Ptactice. Brown (2008:130). Adapun tahap-tahap perancangan yang ada dalam konsep TAS antara lain:
1. Menentukan Initial Scope (Defining the Initial Scope).
TAS dimulai dengan mendifinisikan ruang lingkup proyek. Yakni dengan mendefinisikan proses-proses bisnis. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan dampaknya dengan menggunakan bagan-bagan terstruktur dari tujuan proyek. Setelah proses bisnis teridentifikasi, sejumlah informasi dibutuhkan untuk setiap proses. Kemudian akan teridientifikasi juga entitas pengguna dari dalam setiap proses bisnis. Setiap informasi perkiraan digunakan untuk menentukan tingkatan proses bisnis dari yang terpenting sampai yang tidak terlalu penting dan dari yang tersulit sampai yang termudah mendesainnya.
2. Menentukan Kebutuhan (Defining the Requirements).
Setelah menentukan tingkatan proses bisnis, dengan melakukan wawancara pada stakeholders untuk mengetahui proses dan untuk melihat bagaimana proses itu terjadi. Langkah selanjutnya yaitu menentukan kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan tujuan bisnis. Mengumpulkan kebutuhan input, kebutuhan output, masalah serta batasan masalah termasuk input proses bisnis lain.
3. Mendesain Arsitektur Proses Bisnis (Designing the Bussiness Process Architecture).
Setelah seluruh kebutuhan dikumpulkan maka langkah selanjutnya merancang proses bisnis. Ini adalah desain tingkat tinggi pada proses bisnis, yang berfokus pada identifikasi para peserta dalam proses yaitu menentukan orang dan sistem yang terlibat dalam sistem, kegiatan yang dilakukan oleh peserta dan dialog antar muka dibutuhkan untuk proses bisnis. Dengan demikian akan didapatkan aturan-aturan bisnis dan macam-macam alternatif proses bisnis.
4. Mendesain Arsitektur system (Designing the Systems Architecture).
Setelah memilih kandidat proses bisnis, langkah selanjutnya yaitu merancang arsitektur sistem secara keseluruhan yang meliputi rancangan proses bisnis dan rancangan sistem yang sesuai dengan keuntungan dan biaya yang sudah terjadwal. Sistem diuji dan dievaluasi.
5. MengevaluasiArsitektur (Evaluating Architectures).
Evaluasi adalah proses pengujian terhadap kesesuaian proses bisnis dan desain sistem yang diperlukan secara keseluruhan. Proses evaluasi ini dilakukan untuk memastikan bahwa sistem sudah benar dan sesuai dengan kebutuhan pengguna serta sesuai dengan karakteristik yang diterapkan dan tidak ada kesalahan-kesalahan yang terkandung di dalamnya.

Rincian dari pendekatan TAS dapat dilihat pada gambar diagram 2.1 berikut :

Gambar 1. Gambar Diagram TAS
3.1.2.1 Wawancara

1. Analisa Wawancara
Adapun metode untuk pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan tinjauan langsung kelapangan, dengan menggunakan wawancara seperti tabel berikut :

Tanggal wawancara Senin,4 Desember 2012
Jam Wawancara 09.30-11.00
Tempat RSUD Lahat
Daftar Pertanyaan :
1. Apa saja penambahan atau perubahan yang ingin dilakukan terhadap sistem yang sedang berjalan?
2. Apa saja permasalahan yang muncul selama penggunaan dari sistem yang sedang berjalan saat ini?
3. Seperti apakah harapan dari pihak Puskesmas Rawat Inap terhadap sistem yang akan dibuat?
4. Laporan dengan format seperti apa yang diinginkan oleh pihak Puskesmas rawat Inap Merapi II kab Lahat?
Tabel 1. Tabel Wawancara

2. Analisa Permasalahan
Adapun permasalahan yang ada pada sistem yang berjalan selama ini adalah sebagai berikut:
1. Sistem yang ada selama ini mempunyai kendala yaitu kesulitan mendapatkan data akurat untuk dijadikan laporan yang akan diberikan kepada Direktur Rumah Sakit.
2. Perlu mengadakan perubahan pada sistem yang ada selama ini yang masih menggunakan Microsoft Office seperti Microsoft Word dan Excel dan belum menggunakan program khusus untuk mengelola data rekam medis Petugas Pendaftaran, dengan cara membangun sebuah sistem baru yang berbasis data yang dirancang sesuai dengan kebutuhan khusus dari sistem rekam medis elektronis.
Dari pihak RSUD Lahat khususnya bagian pendaftaran Petugas Pendaftaran untuk mengubah sistem yang lama menjadi sistem yang baru yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja sistem secara keseluruhan agar lebih efektif dan efisien.

3.1.2.2 Analisis Permasalahan
Adapun permasalahan yang ada pada sistem yang berjalan selama ini adalah sebagai berikut:
3. Sistem yang ada selama ini mempunyai kendala yaitu kesulitan mendapatkan data akurat untuk dijadikan laporan yang akan diberikan kepada Direktur Rumah Sakit.
4. Perlu mengadakan perubahan pada sistem yang ada selama ini yang masih menggunakan Microsoft Office seperti Microsoft Word dan Excel dan belum menggunakan program khusus untuk mengelola data rekam medis Petugas Pendaftaran, dengan cara membangun sebuah sistem baru yang berbasis data yang dirancang sesuai dengan kebutuhan khusus dari sistem rekam medis elektronis.
5. Dari pihak RSUD Lahat khususnya bagian pendaftaran Petugas Pendaftaran untuk mengubah sistem yang lama menjadi sistem yang baru yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja sistem secara keseluruhan agar lebih efektif dan efisien.
3.1.3 Menentukan Kebutuhan (Defining the Requirements)
Setelah menentukan tingkatan proses bisnis, dengan melakukan wawancara pada stackholders untuk mengetahui proses dan untuk melihat bagaimana proses itu terjadi. Langkah selanjutnya mengumpulkan kebutuhan input dan output dimana data pasien diberikan kepada admin kemudian admin melakukan login dan menginputkan data pasien tersebut dan menghasilkan output data pasien berupa kartu berobat dan laporan mengenai pasien.

3.1.31 Kebutuhan Functional
Kebutuhan functional adalah kebutuhan yang harus ada di dalam sistem yang akan dibuat. Kebutuhan yang ada pada RSUD Lahat yaitu:
1. Sistem harus dapat membuat informasi dengan lengkap, benar, dan jelas kepada Pimpinan.
2. Menyediakan sarana bagi RSUD Lahat untuk menyimpan dan menemukan kembali data yang telah dibuat serta dapat memberikan laporan kepada pihak yang memerlukan.
3. Mewujudkan sistem pengelolahan informasi dan dokumen RSUD Lahat yang berisi informasi dan dokumen yang dapat diandalkan.
4. Mewujudkan transparansi dokumen-dokumen yang perlu dipublikasikan dari RSUD Lahat.

3.1.3.2 Kebutuhan Nonfunctional
Kebutuhan nonfunctional adalah kebutuhan tambahan yang tidak memiliki input, proses, dan output. Namun demikian, kebutuhan nonfunctional ini sebaiknya dipenuhi, karena akan sangat menentukan apakah sistem ini akan digunakan user atau tidak. Kebutuhan nonfunctional ini dapat dikategorikan berdasarkan PIECE framework. Kebutuhan nonfunctional yang telah diuraikan diatas dapat dirangkumkan dalam tabel dibawah ini, dengan klasifikasi PIECES framework.

Table 3.2. Klasifikasi Kebutuhan Nonfunctional berdasarkan PIECES
No Simbol Keterangan
1 Aktor

Aktor adalah entitas manusia atau mesin yang berinteraksi dengaan sistem untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu.
2 Use Case

Use Case adalah deskripsi dari urutan-urutan aksi-aksi yang ditampilkan sistem yang menghasilkan suatu hasil yang terstruktur bagi suatu aktor.
3 Asosiasi

Asosiasi adalah apa yang menghubungkan antara obyek satu dengan objek yang lainnya.
4 Generalisasi

Generalisasi adalah hubungan dimana objek anak (descendent) berbagai prilaku dan struktur data dari objek yang diatasnya atau sebaliknya dari bawah ke atas.
5 Dependency

Dependency (ketergantungan) adalah hubungan dimana perubahan yang terjadi pada suatu elemen Dependen (mandiri) akan mempengaruhi elemen yang bergantung padanya (Independen)

Tabel 2.1. Use Case Diagram

No Simbol Keterangan
1 Kelas

Class menggambarkan keadaan (atribut/property) suatu sistem, sekaligus menawarkan layanan untuk memanipilasi keadaan tersebut (metode/fungsi).
2 Asosiasi

Asosiasi, yaitu hubungan statis antar class
3 Directed Asosiasi (Pewarisan)

Pewarisan, yaitu hubungan hirarkis antara class. Class dapat diturunkan dari class lain dan metode class asalnya dan menambahkan fungsionalitas baru, sehingga ia disebut anak dari class yang diwarisinya.
4 Generalization

Hubungan dinamis, yaitu rangkaian pesan (message) yang di passing dari satu class kepada class lain.
Tabel 2.2 Class Diagram
(Sumber: Nugroho, 2005:16, Rational Rose Untuk Permodelan Berorientasi Objek)

Gambar 3.1 Use Case Diagram Rekam Medis

Gambar 3.2 Class Diagram Rekam Medis

4 KESIMPULAN

1. Program yang dihasilkan adalah Sistem Informasi Rekam Medis pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lahat yang diberi nama P_Rekam _Medis. Program ini di buat dengan menggunakan aplikasi pemrograman Borland Delphi 7.0 dan aplikasi database managemen system (DBMS) Microsoft SQL Server 2000.
2. Dengan adanya Sistem Informasi ini diharapkan dapat membantu meringankan tugas dan kebutuhan terhadap system rekam medis dalam melakukan prosedur pendataan dan pembuatan laporan sehingga pekerjaan dapat menjadi lebih efektif dan efisien.
3. Program ini hanya dapat di akses di jaringan local saja.
DAFTAR PUSTAKA

Referensi dari buku:
Arsip Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lahat. 2012.

Azwar .1996. Pengantar Administrasi Kesehatan Edisi Ketiga. Binarupa Aksara. Jakarta..

Charles, Siregar. 2004. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan, Cetakan I. Penerbit EGC. Jakarta.

Direktorat Jendral Pelayanan Medik. 1997. Pedoman Penyelenggaraan Rekam Medis Rumah Sakit di Indonesia. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Direktorat Jendral Pelayanan Medik. 2005. Buku Petunjuk Pengisian Pengolahan dan Penyajian Data Rumah Sakit. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Fowler, Martin. 2004. UML Distilled Edisi 3. Penerbit ANDI. Yogyakarta.

Indonesian Medical Council. 2006. UU Praktik Kedokteran.

Jogiyanto. 2001. Analisis dan Desain Sistem Informasi. Penerbit Andi. Yogyakarta

Jogiyanto. 2005. Sistem Teknologi Informasi. Penerbit Andi. Yogyakarta

McLeod Jr, Raymond. 2001. Sistem Informasi Manajemen Jilid 1. PT. Prenhallindo. Jakarta.

Nugroho, Adi. 2005. Rational Rose untuk Pemodelan Berorientasi Objek. Penerbit Informatika. Bandung.

PerMenKes Nomor 749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis.

Susanto, Azhar. 2004. Sistem Informasi Manajemen. Lingga Jaya. Bandung.

Turban, Efraim, dkk. 2005. Decision Support System and Intelligent System Edisi 7 Jilid 1. Penerbit Andi. Jogjakarta.

Tutang. 2003. Microsoft SQL Server 2000 bagi Pemula. Penerbit Datakom Lintas Buana. Jakarta.

Widiarta. 2007. Komputerisasi Sensus Harian Rawat Jalan di Rumah Sakit Pembinaan Kesejahteraan Umat Muhammadiyah Karanganyar.

EVALUASI PENERIMAAN TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI KEPEGAWAIAN POLDA SUMSEL MENGGUNAKAN METODE TAM (TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL)

Thu ,29/08/2013

Oleh :

A.Yani Ranius
Meiky Pratama
1. Pendahuluan
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dewasa ini dirasakan banyak berperan dalam berbagai aspek kehidupan sudah menjadi alat yang begitu penting dalam menyelesaikan pekerjaan serta menghasilkan sebuah informasi secara cepat dan tepat, media yang sering digunakan saat ini adalah komputer. Untuk itu harus diimbangi dengan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk dapat menguasai perkembangan IPTEK komputer tersebut.
Komputer sangat membantu pengguna dalam melakukan pengolahan data dan mempercepat mendapatkan informasi, informasi itu merupakan salah satu kunci yang sangat dibutuhkan dalam melakukan berbagai aktifitas, baik aktifitas dalam suatu instansi pemerintahan diataranya kepolisian. Oleh karena itu dengan adanya perkembangan teknologi informasi perlu dikembangkan berbagai sistem komputerisasi untuk membantu instansi kepolisian untuk memperlancar pekerjaan-pekerjaan seperti suatu sistem informasi untuk membantu dalam pengolahan data pegawai pada kantor Polda Sumsel Palembang.
Instansi kepolisian Polda Sumsel Palembang merupakan suatu Instansi pemerintahan yang bergerak dalam bidang keamanan masyarkat, menjaga ketertiban dan melayani serta menangani tugas-tugas di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat. Pada Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Undang-undang nomor 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Pengembangan kemampuan dan kekuatan serta penggunaan kekuatan Polri dikelola sedemikian rupa agar dapat mendukung pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Polri sebagai pengemban fungsi keamanan dalam negeri.
Instansi kepolisian Polda Sumsel Palembang yang memiliki jumlah pegawai 3437 orang dengan 2 bagian yang dibagi atas bagian anggota Polri 2937 orang serta bagian fungsional/Pegawai Negeri Sipil sebanyak 500 orang. Dalam melakukan aktifitasnya Polda Sumsel Palembang ini sudah menggunakan sistem informasi kepegawaian menggunakan komputer. Sistem informasi yang diterapkan Polda Sumsel Palembang yang dilihat dari segi kualitas dan pelayanannya yang sudah berjalan dengan baik didalam memberikan pelayanan kepada pegawainya maupun masyarakat. Guna memaksimalkan dan meningkatkan kinerja untuk pengelola sistem tersebut perlu ditingkatkan lagi mengingat ada aplikasi yang belum dapat digunakan.
Model yang dikembangkan oleh para peneliti untuk mengukur penerimaan teknologi oleh penggunanya adalah model Technology Acceptance Model (TAM). Model TAM dikembangkan oleh Davis (1989) yang mengadaptasi model TRA (Theory of Reasoned Action). Perbedaan antara TRA dan TAM adalah penempatan sikap-sikap dari TRA, dengan memperkenalkan dua variabel kunci, yaitu kebermanfaatan (perceived usefulness) dan kemudahan (perceived ease of use) yang memiliki relevancy pusat untuk memprediksi sikap penerimaan pengguna (Acceptance of IT) terhadap teknologi komputer. Ada dua variabel penting yang menentukan penerimaan terhadap teknologi informasi yaitu kebermanfaatan dan kemudahan. Faktor kebermanfaatan didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang meyakini bahwa penggunaan teknologi/sistem tertentu meningkatkan kinerja. Sementara kemudahan diartikan sebagai tingkat dimana seseorang meyakini bahwa penggunaan teknologi adalah mudah dan tidak memerlukan usaha keras dari pemakainya untuk bisa menggunakannya. Berdasarkan studi yang sudah dilakukan oleh Davis dapat dikatakan bahwa dalam mengembangkan sebuah teknologi perlu dipertimbangkan faktor kebermanfaatan dan kemudahan dari pengguna teknologi/sistem sehingga penggunaan keseluruhan dapat diketahui.
Berdasarkan uraian diatas, maka dipilih judul Evaluasi Penerimaan Teknologi Sistem Informasi Kepegawaian Pada Polda Sumsel Palembang dengan Menggunakan Metode TAM (Technology Acceptance Model).
2. Metodologi Penelitian
2.1 Waktu Dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian ini dimulai dari bulan Septmber 2012 sampai dengan bulan Desember 2012. Lokasi tempat penelitian adalah Instansi kepolisian Polda Sumsel Palembang yang beralamat di Jl. Jenderal Sudirman. Km 4,5 Palembang 30000. Telp/Fax. (0711) 360295.

2.2 Metode Penelitian
Metode penelitian disini menggunakan metode penelitian deskriptitf kuantitatif yaitu penelitian tentang data yang dikumpulkan dan dinyatakan dalam bentuk angka-angka, meskipun juga berupa data kualitatif sebagai pendukungnya, seperti kata-kata atau kalimat yang tersusun dalam angket, kalimat hasil konsultasi atau wawancara antara peneliti dan informan.
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan. Data kualitatif yang diangkakan misalnya terdapat dalam skala pengukuran. Suatu pernyataan/pertanyaan yang memerlukan alternatif jawaban, dimana masing-masing : sangat setuju digunakan angka 5, setuju 4, cukup setuju 3, tidak setuju 2, dan sangat tidak setuju 1.
Penelitian kuantitatif mengambil jarak antara peneliti dengan objek yang diteliti. Penelitian kuantitatif menggunakan instrumen formal, standar dan bersifat mengukur.

2.3 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran merupakan suatu model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah riset. Kerangka pemikiran akan memberikan manfaat, yaitu terjadi pendapat yang sama antara periset dan pembaca terhadap alur-alur pikiran periset, dalam rangka membentuk hipotesis-hipotesis risetnya secara logis.
Dalam kerangka penelitian ini akan menguji faktor-faktor penentu dan perilaku penggunaan dalam model TAM, yaitu faktor kebermanfaatan (perceived usefulness) (X1) dan faktor kemudahan (perceived ease of use) (X2) terhadap penerimaan teknologi untuk penggunaan sistem informasi kepegawaian (Y) pada Polda Sumsel.
Kerangka pemikiran menggunakan model TAM, terlihat pada gambar sebagai berikut :

Gambar 1. Kerangka model TAM
2.4. Hipotesis
Hipotesis pada penelitian ini adalah :
1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor kebermanfaatan (perceived Usefulness) terhadap penerimaan teknologi dalam penggunaan sistem informasi kepegawaian pada Polda Sumsel.
2. Terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor kemudahan (Perceived Ease Of Use) terhadap penerimaan teknologi dalam penggunaan sistem informasi kepegawaian pada Polda Sumsel.
3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor kebermanfaatan (perceived Usefulness) dan faktor kemudahan (Perceived Ease Of Use) terhadap penerimaan teknologi dalam penggunaan sistem informasi kepegawaian pada Polda Sumsel.

2.5 Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan 3 (tiga) variabel yang telah dimodifikasi dari model penelitian TAM sebelumnya yaitu : kebermanfaatan (perceived usefulness) sebagai variabel pertama (X1), kemudahan (perceived ease of use) sebagai variabel bebas kedua (X2) dan penerimaan teknologi dalam penggunaan teknologi/sistem kepegawaian sebagai variabel terkait (Y). Dimana menurut teori TAM secara signifikan variabel kebermanfaatan dan variabel kemudahan berpengaruh terhadap penerimaan teknologi dalam penggunaan teknologi/sistem kepegawaian. Dari penjelasan sebelumnya penulis membuat beberapa variabel dari objek penelitian untuk membantu kegiatan peghitungan data analisis. Variabel tersebut adalah :
– Variabel Y = Penerimaan teknologi
– Variabel X1 = Kemanfaatan teknologi
– Variabel X2 = Kemudahan teknologi
Uraian dari masing masing variabel ini adalah sebagai berikut :

1. Variabel Penerimaan Teknologi
Variabel Sub Variabel

Penerimaan Teknologi Menambah keterampilan
Menambah pengetahuan
Mempunyai pengaruh positif dan negatif
Memotivasi kinerja

2. Variabel Kebermanfaatan Teknologi
Variabel Sub Variabel
Kemanfaatan Teknologi Menambah produktivitas kinerja
Mempertinggi efektivitas
Meningkatkan kualitas pekerjaan
Mengembangkan kinerja

3. Variabel Kemudahan Teknologi
Variabel Sub Variabel
Kemudahan Teknologi Teknologi mudah dipelajari
Teknologi jelas dan mudah dipahami
Bebas dari kesulitan
Mengurangi usaha,waktu dan tenaga
Fleksibel

2.6 Penelitian Kuantitatif
Penelitian Kuantitatif dilakukan dengan alat bantu statistika yang dipakai untuk mengevaluasi pengaruh variabel yang diteliti. Evaluasi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu menggunakan statistik inferensi. Statistik inferensi digunakan untuk pengambilan keputusan dan pada umumnya menyertakan pengambilan keputusan dengan uji hipotesis. Uji hipotesis yang dilakukan pada penelitian yaitu menggunakan evaluasi korelasi yaitu melalui evaluasi korelasi Pearson yang merupakan uji statistik bagi variabel yang berskala interval dimana alternatif jawaban kuesioner yang diisi oleh responden akan diberi bobot skala likert, yaitu 5, 4, 3, 2, 1 untuk setiap pernyataan/pertanyaan. Untuk mengetahui skor total yang diperoleh dari masing-masing variabel digunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
Skor actual = Jawaban seluruh responden
Skor Ideal = Skor /nilai tertinggi /semua responden diasumsikan memilih jawaban tertinggi.
Skor aktual adalah jawaban seluruh responden atas kuesioner yang telah diajukan. Skor ideal adalah skor atau bobot tertinggi atau semua responden diasumsikan memilih jawaban dengan skor tertinggi. Penjelasan bobot nilai skor
aktual dapat dilihat pada tabel berikut:
Kriteria Persentase Tanggapan Responden
No. % Jumlah Skor Kriteria
1. 20.00% – 36.00% Sangat Tidak Setuju
2. 36.01% – 52.00% Tidak Setuju
3. 52.01% – 68.00% Cukup
4. 68.01% – 84.00% Setuju
5. 84.01% – 100% Sangat Setuju

2.7 Uji Validitas
Setelah kuisioner ditabulasi maka dilakukan uji validitas untuk mengetahui sejauh mana alat pengukur dapat mengukur apa yang ingin diukur. Pengujian validitas untuk mengetahui apakah pertanyaan (Instrumen) penelitian yang diajukan untuk mengukur variabel penelitian adalah valid. Uji validitas dilakukan dengan cara melihat nilai signifikansi masing-masing instrumen. Untuk menghitung nilai korelasi antara data pada masing–masing pernyataan dengan skor total memakai rumus teknik korelisasi product moment, dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
r : Nilai Korelasi
n : Jumlah Responden
X : Skor pernyataan dengan kode tertentu
Y : Skor total pernyataan
XY : Skor pernyataan x skor total pernyataan
(∑X)2 : Kuadrat jumlah skor item
∑X2 : Jumlah kuadrat skor item
(∑Y)2 : Kuadrat jumlah skor total
∑Y2 : Jumlah kuadrat skor total.

2.8 Uji Reabilitas
Jika alat ukur telah valid, selanjutnya alat ukur tersebut diujikan. Reabilitas adalah suatu nilai yang menunjukan konsistensi suatu alat pengukur dalam mengukur gejala yang sama. Pengujian reabilitas digunakan guna mengukur konsistensi jawaban responden.
Teknik pengukuran reabilitas yang digunakan adalah teknik Cronbach Alpha (CA). Mencari reabilitas instrumen yang skornya bukan 0-1, tetapi merupakan antara beberapa nilai. Skor yang digunakan oleh penulis adalah 1 sampai 5. Rumus yang digunakan adalah:

Keterangan :
r11 : Reabilitas instrumen
k : Banyak butir pernyataan
αt2 : Deviasi standar total
∑αp2 : Jumlah deviasi standar butir.

Untuk jumlah varians butir ditentukan dengan cara menentukan nilai varians tiap butir dengan menggunakan rumus berikut :

Keterangan :
N : Jumlah responden
X : Nilai skor yang dipilih dari butir pernyataan.

2.9 Model Evaluasi
Adapun bentuk persamaan regresi linier berganda yang digunakan dalam penelitian ini. Persamaan regresi yang dipakai adalah sebagai berikut (Supranto, 1998) (dalam Indriarty, 2010):

Keterangan:
Y = penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian
β1, β2 = koefisien regresi
X1 = faktor kebermanfaatan (perceived usefullness)
X2 = faktor kemudahan (perceived ease of use)
e = standard error.

3. Hasil
Hasil yang akan diukur dalam penelitian ini adalah penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian pada Polda Sumsel Palembang. Model yang dipakai dalam penelitian ini adalah Technology Acceptance Model (TAM). Pada penelitian ini akan dibahas mengenai pengaruh faktor kebermanfaatan (perceived usefullness) dan faktor kemudahan (perceived ease of use) terhadap penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian.
Hal pertama yang akan dilakukan adalah evaluasi instrumen penelitian, instrumen penelitian dikatakan baik dan layak apabila instrumen penelitian tersebut memenuhi syarat validitas dan reliabilitas. Kemudian dilakukan uji asumsi klasik dan uji regresi berganda.
3.1. Karakteristik Responden
Berikut ini akan dikemukakan gambaran umum responden yang menjadi obyek penelitian ini. Responden dalam penelitian ini adalah anggota Polisi dan Pegawai Negeri Sipil Polda Sumsel Palembang. Kuisioner yang disebarkan sebanyak 35 kuisioner yang ditujukan kepada pemakai sistem informasi kepegawaian Polda Sumsel. Untuk lebih jelas, identitas responden dapat dilihat pada tabel berikut ini :
3.1.1.Jenis Kelamin
Tabel 1. Responden berdasarkan jenis kelamin
Jenis_Kelamin
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Laki-laki 17 48.6 48.6 48.6
Perempuan 18 51.4 51.4 100.0
Total 35 100.0 100.0
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa dari jumlah total 35 responden, terdapat 17 orang atau 48,6% responden berjenis kelamin laki-laki dan 18 orang atau 51,4% responden berjenis kelamin perempuan. Maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan. Dalam hal ini peneliti tidak membedakan jenis kelamin, karena responden dipilih secara random. Komposisi anggota polisi dan pegawai negeri sipil berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini :

Gambar 2. Responden Berdasarkan Jenis kelamin

3.1.2. Status
Tabel 2. Responden berdasarkan Status
Status
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Anggota Polri 16 45.7 45.7 45.7
PNS 19 54.3 54.3 100.0
Total 35 100.0 100.0
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa dari jumlah total 35 responden, terdapat 16 orang atau 45,7% responden adalah anggota Polri dan 19 orang atau 54,3% responden adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden adalah PNS. Komposisi anggota Polri dan PNS berdasarkan status dapat dilihat pada gambar 3 berikut ini :

Gambar 3. Responden Berdasarkan Status
3.2. Deskripsi Jawaban Responden
Berikut adalah hasil tabulasi jawaban kuisioner dari total 35 orang atau 100% responden pada setiap variabel penelitian.

3.2.1.Kebermanfaatan (Perceived Usefullness)
Tabel 3 Jawaban Responden atas variabel kebermanfaatan (X1)
Variabel
Sangat Setuju
(5) Setuju (4) Cukup Setuju
(3) Tidak Setuju
(2) Sangat Tidak Setuju
(1) Total

X1_1 17 13 5 0 0 35
X1_2 10 15 10 0 0 35
X1_3 14 12 7 0 2 35
X1_4 10 20 5 0 0 35
Total 51 60 27 0 2 140
Proporsi 36,4% 42,9% 19,3% 0,0% 1,4% 100,0%

Sumber : Data diolah dengan MS Excel 2007

Dari tabel diatas terlihat bahwa sebanyak 1,4% responden menjawab sangat tidak setuju, responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 0,0%, responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 19,3%, responden yang menjawab setuju sebanyak 42,9% dan responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 36,4%.

3.2.2.Kemudahan (Perceived Ease of Use)
Tabel 4 Jawaban Responden atas variabel kemudahan (X2)
Variabel
Sangat Setuju
(5) Setuju (4) Cukup Setuju
(3) Tidak Setuju (2) Sangat Tidak Setuju
(1) Total

X2_1 10 17 8 0 0 35
X2_2 8 15 12 0 0 35
X2_3 10 11 12 2 0 35
X2_4 5 13 13 2 2 35
X2_5 7 15 13 0 0 35
Total 40 71 58 4 2 175
Proporsi 22,9% 40,6% 33,1% 2,3% 1,1% 100,0%

Sumber : Data diolah dengan MS Excel 2007

Dari tabel diatas terlihat bahwa sebanyak 1,1% responden menjawab sangat tidak setuju, responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 2,3%, responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 33,1%, responden yang menjawab setuju sebanyak 40,6% dan responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 22,9%.
3.2.3. Penerimaan (Acceptance of IT)
Tabel 5. Jawaban Responden atas variabel Penerimaan (Y)
Variabel
Sangat Setuju
(5) Setuju (4) Cukup Setuju
(3) Tidak Setuju
(2) Sangat Tidak Setuju
(1) Total

Y1 14 12 7 0 2 35
Y2 14 12 7 0 2 35
Y3 10 17 8 0 0 35
Y4 8 15 12 0 0 35
Total 46 56 34 0 4 140
Proporsi 32,9% 40,0% 24,3% 0,0% 2,9% 100,0%
Sumber : Data diolah dengan MS Excel 2007

Dari tabel diatas terlihat bahwa sebanyak 2,9% responden menjawab sangat tidak setuju, responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 0,0%, responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 24,3%, responden yang menjawab setuju sebanyak 40,0% dan responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 32,9%.
3.3. Uji Kualitas Data
3.3.1. Uji Validitas
Sugiyono (2006) menyatakan bahwa uji validitas merupakan suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi (content) dari suatu instrumen, dengan tujuan untuk mengukur ketepatan instrumen yang digunakan dalam suatu penelitian.
Tujuan dilakukan uji validitas adalah untuk mengetahui validitas item dari setiap pertanyaan berdasarkan kuisioner yang telah dibagikan dan diisi oleh responden. Semua pengolahan data dilakukan menggunakan bantuan program SPSS 17.0 untuk menghindari kesalahan.
Uji validitas dilakukan dengan membandingkan dengan ketentuan jika rhitung > rtabel maka item tersebut dinyatakan valid. Dalam penelitian ini n = 35, dan terdapat 3 variabel, jadi df = n – 3 = 32, dengan tingkat signifikan 0,05 maka didapat rtabel sebesar 0,339 (2-tailed) Jika Nilai pearson correlation > nilai pembanding berupa r-kritis atau r tabel, maka item tersebut valid. Atau jika nilai Sig. (2-tailed) < 0,05 berarti item tersebut valid dan berlaku sebaliknya. berikut hasil Pengujian validitas setiap variabel dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 6. Hasil Uji Validitas Instrumen Kebermanfaatan (X1)
Correlations
X1_1 X1_2 X1_3 X1_4 Total
X1_1 Pearson Correlation 1 .687** .555** .518** .810**
Sig. (2-tailed) .000 .001 .001 .000
N 35 35 35 35 35
X1_2 Pearson Correlation .687** 1 .645** .710** .897**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000
N 35 35 35 35 35
X1_3 Pearson Correlation .555** .645** 1 .503** .851**
Sig. (2-tailed) .001 .000 .002 .000
N 35 35 35 35 35
X1_4 Pearson Correlation .518** .710** .503** 1 .782**
Sig. (2-tailed) .001 .000 .002 .000
N 35 35 35 35 35
Total Pearson Correlation .810** .897** .851** .782** 1
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000
N 35 35 35 35 35
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Tabel 7. Hasil Uji Validitas Instrumen Kemudahan (X2)

Correlations
X2_1 X2_2 X2_3 X2_4 X2_5 Total
X2_1 Pearson Correlation 1 .654** .718** .242 .453** .784**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .162 .006 .000
N 35 35 35 35 35 35
X2_2 Pearson Correlation .654** 1 .728** .497** .432** .867**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .002 .010 .000
N 35 35 35 35 35 35
X2_3 Pearson Correlation .718** .728** 1 .281 .425* .825**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .102 .011 .000
N 35 35 35 35 35 35
X2_4 Pearson Correlation .242 .497** .281 1 .308 .652**
Sig. (2-tailed) .162 .002 .102 .072 .000
N 35 35 35 35 35 35
X2_5 Pearson Correlation .453** .432** .425* .308 1 .670**
Sig. (2-tailed) .006 .010 .011 .072 .000
N 35 35 35 35 35 35
Total Pearson Correlation .784** .867** .825** .652** .670** 1
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000
N 35 35 35 35 35 35
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0

Tabel 8. Hasil Uji Validitas Instrumen Penerimaan (Y)
Correlations
Y_1 Y_2 Y_3 Y_4 Total
Y_1 Pearson Correlation 1 1.000** .377* .656** .935**
Sig. (2-tailed) .000 .026 .000 .000
N 35 35 35 35 35
Y_2 Pearson Correlation 1.000** 1 .377* .656** .935**
Sig. (2-tailed) .000 .026 .000 .000
N 35 35 35 35 35
Y_3 Pearson Correlation .377* .377* 1 .654** .651**
Sig. (2-tailed) .026 .026 .000 .000
N 35 35 35 35 35
Y_4 Pearson Correlation .656** .656** .654** 1 .847**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000
N 35 35 35 35 35
Total Pearson Correlation .935** .935** .651** .847** 1
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000
N 35 35 35 35 35
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Tabel 9. Keterangan Hasil Uji Validitas Tiap Instrumen Variabel
Variabel r hitung r tabel
(two tailed) Validitas
Kebermanfaatan (X1)
X1_1 0,810 0,339 Valid
X1_2 0,897 0,339 Valid
X1_3 0,851 0,339 Valid
X1_4 0,782 0,339 Valid
Kemudahan (X2)
X2_1 0,784 0,339 Valid
X2_2 0,867 0,339 Valid
X2_3 0,825 0,339 Valid
X2_4 0,652 0,339 Valid
X2_5 0,670 0,339 Valid
Penerimaan (Y)
Y1 0,935 0,339 Valid
Y2 0,935 0,339 Valid
Y3 0,651 0,339 Valid
Y4 0,847 0,339 Valid

Sumber : Diolah dengan Microsoft Excel 2007
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil pengujian validitas pada instrument-instrumen dalam setiap variabel yang menunjukkan rhitung > rtabel , sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen – instrumen dalam setiap variabel terbukti valid dan akan digunakan dalam penelitian ini.
3.3.2. Uji Reliabilitas
Jika alat ukur telah valid, selanjutnya alat ukur tersebut diuji. Reliabilitas adalah proses pengukuran terhadap ketepatan (konsisten) dari suatu instrumen. Pengujian ini dimaksudkan untuk menjamin instrumen yang digunakan merupakan sebuah instrumen yang handal, konsistensi, stabil dan dependibalitas, sehingga bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama (Husaini, 2003). Reliabilitas dilakukan untuk mengetahui konsistensi alat ukur dalam mengukur gejala yang sama. syarat untuk menyatakan jika item itu reliabel adalah dengan melihat hasil uji reliabilitas dan jika hasilnya mendekati 1 maka item tersebut dinyatakan reliabel. Adapaun hasil uji reliabilitas dengan menggunakan Software SPSS 17.0 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 10. Keterangan Hasil Uji Validitas Tiap Instrumen Variabel
Case Processing Summary
N %

Cases Valid 35 100.0
Excludeda 0 .0
Total 35 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.
Reliability Statistics
Cronbach’s Alpha N of Items
.841 4

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Tabel 11. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Kemudahan (X2)
Reliability Statistics
Cronbach’s Alpha N of Items
.804 5

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Tabel 12. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penerimaan (Y)
Reliability Statistics
Cronbach’s Alpha N of Items
.867 4

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Tabel 13. Keterangan Hasil Uji Reliabilitas Tiap Instrumen Variabel
Variabel Cronbach’s Alpha Keterangan
Kebermanfaatan (X1) 0, 841 Reliabel
Kemudahan (X2) 0, 804 Reliabel
Penerimaan (Y) 0, 867 Reliabel
Sumber : Diolah dengan Microsoft Excel 2007
Seperti yang terlihat pada tabel 11 dari hasil output pengolahan menggunakan SPSS, nilai Cronbach’s Alpha pada setiap variabel > 0,6 dan semua pernyataan/pertanyaan pada kuisioner pada penelitian ini dinyatakan reliabel.
3.4. Uji Asumsi klasik
3.4.1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel bebas dan variabel terikat keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Berikut ini adalah hasil uji normalitas data yang berupa grafik normal plot dan grafik histogram dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 4. Grafik Normal Probality Plot

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Gambar 5. Grafik Histogram

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Dengan melihat grafik histogram dan grafik normal probability plot diatas, maka dapat disimpulkan bahwa grafik histrogram menunjukkan pola distribusi yang normal, sedangkan grafik probability plot terlihat titik – titik menyebar disekitar garis diagonal serta penyebarannya tidak jauh dari garis atau masih dikategorikan mengikuti garis diagonal. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa model regresi layak karena memenuhi asumsi normalitas. Kedua grafik ini menunjukkan bahwa model regresi memenuhi uji normalitas.
3.4.2. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Multikolinearitas dapat dilihat dari nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Jika nilai tolerance value dibawah 0,1 atau variance inflation factor diatas 10 maka terjadi multikolinearitas.

Tabel 14. Hasil Uji Multikolinieritas
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) -.581 .305 -1.904 .066
X1 .872 .138 .754 6.321 .000 .263 3.802
X2 .257 .148 .208 1.744 .091 .263 3.802

a. Dependent Variable: Y

Tabel 15. Keterangan Hasil Uji Multikolinieritas
Variabel Collinearity Statistics
Tolerance VIF
Kebermanfaatan (X1) 0.263 3.802
Kemudahan (X2) 0.263 3.802

Dari tabel diatas maka dapat dilihat bahwa nilai VIF untuk setiap variabel berada dibawah angka 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.
3.5. Uji Hipotesis
Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Variabel penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian diprediksi dipengaruhi oleh variabel kebermafaatan dan variabel kemudahan.
3.5.1. Uji F
Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi bisa atau tidak dipakai untuk memprediksi variabel dependen yaitu penerimaan. Hasil uji F dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 16. Hasil Uji F
ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 18.157 2 9.079 117.713 .000a
Residual 2.468 32 .077
Total 20.625 34

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
1 .938a .880 .873 .27771 2.301

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0

Berdasarkan hasil uji F test diatas, dihasilkan Fhitung sebesar 117.713 dengan tingkat signifikan (P Value) 0,000 < 0,05. Atas dasar perbandingan tersebut maka H1a diterima dan H1b ditolak atau dengan kata lain bahwa faktor kebermanfaatan dan kemudahan dari sistem informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi kepegawaian. Angka Adjusted R2 sebesar 0.873 menunjukkan bahwa 87,3% penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian Polda bisa dijelaskan oleh kedua variabel independent, dan sisanya sebesar 12,7% dijelaskan oleh faktor lain.
3.5.2. Uji t
Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh secara parsial variabel independent terhadap variabel dependent.
Dari tabel 15 didapatkan model analisis regresi linier berganda sebagai berikut:

Hasil Uji t dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 17. Output Hasil Uji t dengan SPSS
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) -.581 .305 -1.904 .066
X1 .872 .138 .754 6.321 .000 .263 3.802
X2 .257 .148 .208 1.744 .091 .263 3.802

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0

a. Dependent Variable: Penerimaan (Y)
Tabel 18. Keterangan Hasil Uji t
Variabel Hasil Uji Keterangan
Signifikansi
Kebermanfaatan (X1) 0.000 Signifikan
Kemudahan (X2) 0.091 Tidak Signifikan

Berdasarkan hasil uji t, didapat 1 hipotesis alternative yang diterima (H1a), dan satu hipotesis yang tidak diterima (H1b).
1. H1a menyatakan bahwa kebermanfaatan dari sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya. Pada tabel 5.11 dapat dilihat bahwa P Value sebesar 0.000 dengan derajat kepercayaan 95% (α =0,05). Dengan melihat bahwa P Value > 0,05 maka H1a diterima atau dengan kata lain kebermanfaatan dari sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya.
2. H1b menyatakan bahwa kemudahan dari sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya. Pada tabel 5.18 dapat dilihat bahwa P Value sebesar 0.091 dengan derajat kepercayaan 95% (α =0,05). Dengan melihat bahwa P Value > 0,05 maka H1b ditolak atau dengan kata lain fasilitas yang diberikan sistem informasi kepegawaian tidak berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya.
Rangkuman hasil uji hipotesis dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 19. Hasil Pengujian Hipotesis
Hipotesis Kesimpulan
H1a kebermanfaatan dari sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan teknologi penggunanya Diterima
H1b kemudahan dari sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan teknologi penggunanya Ditolak

3.6. Pembahasan
3.6.1. Pengaruh Kebermanfaatan dari Sistem Informasi Kepegawaian terhadap Penerimaan Pengguna Teknologi
Pernyataan hipotesis pertama yang menyatakan bahwa kebermanfaatan pada sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya dapat diterima. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikan (P Value) sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Dengan melihat bahwa P Value < 0,05 maka H1a atau dengan kata lain kebermanfaatan pada sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya. Dan hasil koefisien regresi sebesar 0,872 yang bernilai positif, menyatakan bahwa setiap penambahan kebermanfaatan yang dihasilkan, maka akan menambah penerimaan pengguna sebanyak 0,872. Dapat disimpulkan bahwa walaupun semakin tinggi kebermanfaatan dari sistem informasi, maka akan menambah penerimaan bagi penggunanya. Dari sisi kebermanfaatan (perceived usefullness), tanggapan anggota polisi dan pegawai negeri sipil yang memberikan pernyataan sebanyak 1,4% responden menjawab sangat tidak setuju, responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 0,0%, responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 19,3%, responden yang menjawab setuju sebanyak 42,9% dan responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 36,4%. Hal ini dapat diartikan bahwa, Instansi Polda Sumsel Palembang masih perlu meningkatkan respon anggota Polisi dan PNS terhadap faktor kebermanfaatan dari sistem informasi tersebut, sehingga kelompok anggota Polisi dan PNS yang menyatakan Sangat Setuju menjadi mayoritas untuk menerima kebermanfaatan (perceived usefullness) yang dihasilkan oleh sistem informasi kepegawaian.
3.6.2. Pengaruh Kemudahan dari Sistem Informasi Kepegawaian terhadap Penerimaan Pengguna Teknologi
Pernyataan hipotesis kedua yang menyatakan bahwa kemudahan dari sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya tidak dapat diterima. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikan (P Value) sebesar 0,091 yang lebih besar dari 0,05. Dengan melihat bahwa P Value < 0,05 maka H1b ditolak atau dengan kata lain kemudahan pada sistem informasi kepegawaian tidak berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya. Dan hasil koefisien regresi sebesar 0.257 yang bernilai positif, menyatakan bahwa setiap penambahan kemudahan yang dihasilkan, maka akan meningkatkan penerimaan pengguna sebanyak 0.257. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kemudahan yang dihasilkan pada sistem informasi kepegawaian, maka akan semakin meningkatkan penerimaan penggunanya. Dari variabel kemudahan (perceived ease of use), tanggapan anggota Polisi dan PNS yang memberikan pernyataan sebanyak 1,1% responden menjawab sangat tidak setuju, responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 2,3%, responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 33,1%, responden yang menjawab setuju sebanyak 40,6% dan responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 22,9%. Hal ini dapat diartikan bahwa, Instansi Polda Sumsel Palembang masih perlu meningkatkan respon anggota Polisi dan PNS terhadap faktor kemudahan pada sistem informasi kepegawaian tersebut, sehingga kelompok anggota Polisi dan PNS yang menyatakan Sangat Setuju menjadi mayoritas untuk menerima kemudahan pada sistem informasi kepegawaian.
4. Kesimpulan dan Saran
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Tanggapan responden terhadap penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian Polda Sumsel dapat dilihat dibawah ini:
a. 42,9% responden menjawab Setuju terhadap variabel Kemanfaatan (X1).
b. 40,6% responden menjawab Setuju terhadap variabel Kemudahan (X2).
c. 40,0% responden menjawab Setuju terhadap variabel Penerimaan (Y).
d. Tanggapan responden terhadap penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian yang ada pada Instansi Polda Sumsel Palembang adalah baik, dan rata-rata jawaban responden dari setiap variabel adalah setuju, yang mengartikan sistem informasi tersebut memberikan penerimaan kepada pegawainya.
2. Sistem informasi kepegawaian cukup berpengaruh berdasarkan pengolahan data dengan mengunakan SPSS 17.0.
a. Berdasarkan Uji F, untuk Hipotesis H1:
Faktor kebermanfaatan dan kemudahan dari informasi yang dihasilkan oleh Sistem Informasi Kepegawaian, dan kemudahan pengguna Sistem Informasi tersebut, secara bersama-sama mempengaruhi penerimaan penggunanya. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis (uji F), didapatkan nilai signifikan sebesar 0,000 yang jauh lebih kecil dari 0,05. Menurut kriteria uji, jika Nilai signifikasi (P Value) < 0,05 maka H1a diterima dan H1b ditolak.
b. Berdasarkan Uji T, untuk Hipotesis H1a, H1b :
1. Kebermanfaatan (perceived usefullness) yang dihasilkan oleh sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis (uji T), dihasilkan P Value sebesar 0.000 yang lebih kecil dari 0,05. Dengan melihat bahwa P Value < 0,05 maka H1a diterima.
2. Kemudahan (perceived ease of use) dari informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi kepegawaian tidak berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis (uji T), dihasilkan P Value sebesar 0,091 yang jauh lebih besar dari 0,05. Dengan melihat bahwa P Value > 0,05 maka H1b ditolak.
Dari hasil uji T diatas, maka hipotesis yang diterima adalah H1a.

4.2. Saran
Saran yang ingin disampaikan yaitu :
1. Sesuai dengan perkembangan teknologi informasi maka sistem informasi yang digunakan harus selalu dievaluasi apakah sistem masih layak atau tidak untuk digunakan, sehingga dapat diketahui perlu tidaknya dilakukan pengembangan atau pergantian sistem yang ada demi memenuhi kebutuhan sistem informasi kepegawaian pada Instansi Polda Sumsel Palembang.
2. Adanya dukungan Instansi dalam bentuk pelatihan dan dukungan secara teknis, konsisten dan berkesinambungan agar penggunaan sistem menjadi sangat baik.
3. Adanya pelatihan serta fasilitas pemanfaatan teknologi sehingga penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian lebih maksimal.

ANALISIS PENGOLAHAN DATA KARYAWAN PADA PT BUKIT ASAM (persero) tbk, CABANG DERMAGA KERTAPATI PALEMBANG

Wed ,28/08/2013

A. Yani Ranius, Asvin suryadi
Universitas Bina Darma
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12 Palembang

Abstrak : Meningkatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengakibatkan peranan sistem informasi dalam kegiatan pemenuhan kebutuhan akan informasi yang akurat dan efisisen. Perkembangan tersebut menuntut adanya ilmu komputer yang dapat memberikan informasi pendataan karyawan secara transparan yang dibutuhkan oleh semua pihak. Peran serta teknologi informasi memudahkan untuk dapat menggunakan system informasi yang awalnya dikerjakan secara tidak terkomputerisasi yang terbatas jarak, waktu, tetapi dengan adanya suatu sistem teknologi informasi walaupun dengan jarak yang cukup jauh tidak akan menjadi hambatan untuk mendapatkan informasi yang akurat dan aktual. PT.Bukit Asam adalah perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan batubara. Dalam menjalankan usahanya semua kegiatan harus dilakukan dengan maksimal, sehingga dapat berjalan dengan baik salah satunya adalah pengolahan data karyawan. pada PT. Bukit Asam. Sistem komputerisasi yang sekarang ini berjalan sudah baik dengan menggunakan system Aplikasi Ellipse Explorer, maka dari itu penulis menganalisis sistem data karyawan agar menjadi lebih baik.

Kata Kunci : Karyawan, Aplikasi Ellipse Explorer.

1. PENDAHULUAN

Berkembangnya ilmu pengetahuan selalu diiringi oleh kemajuan teknologi yang sangat dibutuhkan dalam pengolahan data. Agar proses pengolahan data dilakukan dengan cepat dan akurat maka digunakanlah komputer. Komputer merupakan media untuk memproses atau mengolah data, yaitu suatu proses menerima data sebagai masukan (input), dan memproses (procesing) menggunakan program tertentu dan mengeluarkan hasil proses data tersebut dalam bentuk informasi (output).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mencoba merumuskan masalah yang dapat menjadi pembahasan yang akan dijelaskan pada Tugas Akhir yaitu:
Bagaimana proses pengolahan data karyawan PT BA Cabang Dermaga Kertapati Palembang ?

1.3 Tujuan dan Manfaat penelitian
1.3.1 Tujuan penelitian
Adapun tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah mempelajari, mengamati, dan menganalisa bagaimana pengolahan data karyawan pada PT. Bukit Asam Cabang Dermaga Kertapati Palembang.

1.3.2 Metode Penelitian
. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk memusatkan perhatian dan penelitian suatu pemecahan masalah yang ada dengan jalan mengumpulkan, menyusun, mencatat, dan menganalisa data serta mencari pemecahan masalah.

2. LANDASAN TEORI DAN OBJEK PENELITIAN
1.Menurut Tata Sutabri, (2012:67) Analisis adalah teknik pemecahan masalah yang menguraikan bagian-bagian komponen dengan mempelajari seberapa bagus bagian komponen tersebut bekerja dan berinteraksi untuk mencapai tujuan mereka.
2.Menurut Robbins Coulter, (1999:229) Mendefinisikan Analisis SWOT adalah suatu analisis organisasi yang menggunakan, kekuatan, kelemahan, kesempatan serta ancaman dari lingkungan.
3.Menurut George R Terry,Pengolahan data adalah Serangkaian operasi atas informasi yang direncanakan guna mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan.
4. Data merupakan Dokumen-dokumen yang berupa angka-angka maupun karakter-karakter yang tidak memiliki arti, yang perlu diolah sehingga menjadi informasi.

Karyawan dari kata dasar “karya” berarti pekerja, sering kali disebut pabrik atau kantor besar. Oleh pemerintah Orde Baru kata ini digunakan untuk menggantikan istilah buruh yang sejak 1965 ditabukan di Indonesia.Tentang karyawan. Karyawan yang baik adalah karyawan yang mampu memberikan kontribusi terhadap perusahaan tempat dia bekerja,tidak hanya terbatas pada tenaga tetapi juga pikiran, ide, improvement agar semua yang mereka kerjakan bias mendapatkan hasil yang maksimal baik dari segi kualitas,kuantitas dan efisiensi waktu.Karyawan pun terus berperan aktif dalam melakukan pekerjaan sehingga mampu memberikan keuntungan terhadap perusahaan.

2.2 Gambaran Umum Objek Penelitian
PT.Bukit Asam ( Persero ), Tbk atau PT.BA ini didirikan pada tanggal 2 Maret 1981, berdasarkan Peraturan Pemerintah RI, No.42 Tahun 1980. Badan Usaha Milik Negara yang berada dibawah pembinaan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN ini berkantor pusat di Tanjung Enim Sumatra Selatan.Kegiatan penambangan batu bara di Tanjung Enim sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1919 di bawah pemerintahan Belanda, dan pada tahun 1942 pengolahannya di tangani oleh pemerintah Jepang dan sempat kembali ke Pemerintah Belanda sebelum kemudian di ambil alih oleh Pemerintah RI pada awal kemerdekaan tahun 1945.
Sejak tahun 1945 sampai dengan beridirinya PTBA, Lembaga Pemerintahan yang membawahi pertambangan batubara Tanjung Enim telah mengalami beberapa kali perubahan nama berturut – turut yaitu : Direktorat Pertambangan, Biro Urusan Tambang Batubara ( PN.TABA ) dan kemudian menjadi Perum Tambang Batubara.
Pada tahun 1990 Pemerintah Perum Tambang Batubara ke dalam PTBA melalui Peraturan Pemerintah No. 56 dengan demikian PTBA juga bertugas mengelola Tambang Ombilin dan Perjanjian Kerjasama Pengusaha Pertambangan Batubara (PKP2B). Pada tahun 1990 (PKP2B) diambil alih oleh Pemerintah dengan keputusan Presiden RI No.75 tahun 1996,disampingitu PTBA ditugaskan mempelopori dan memasyarakatkan penggunaanbatubara. Pada tahun 1966 PTBA membentuk anak perusahaan yaitu PT. Tambang Batubara Bukit Kendi yang berkantor di Tanjung Enim. Pada 1990 Pemerintah menetapkan penggabungan Perum Tambang Batubara dengan Perseroan.Sesuai dengan program pengembangan ketahanan energi nasional , pada tahun 1993 Pemerintah menugaskan Perseroan untuk mengembangkan usaha briket batu bara. Kemudian pada 23 Desember 2002 Perseroan mencatatkan diri sebagai perusahaan Publik di Bursa Efek Indonesia dengan kode “PTBA”.
Struktur Organisasi PT Bukit Asam Cabang Dermaga Kertapati Palembang.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut ini penulis akan menjelaskan mengenai hasil analisis yang berupa tampilan dari Aplikasi Ellipse Explorer. Ellipse Explorer adalah aplikasi siap pakai yang telah di desain khusus untuk mengolah data karyawan yang menggunakan system computer berbasis desktop, yang digunakan PT Bukit Asam Cabang Dermaga Kertapati Palembang.
3.1 Tampilan Form Menu Ellipse Login

Tampilan menu login user,dimana didalamnya terdapat User name, password, district, posision, ok, cancel. Form menu login merupakan halaman login dari aplikasi Ellipse Explorer milik PT Bukit Asam, dimana tamplan ini terdapat menu login user.
Tampilan spesialis SDM

.form kedua dari form login dimana spesialis sdm ini memiliki satu Listbox yang berfungsi untuk masuk ke desain input data karyawan, rekapitulasi gaji,dan absen. Listbox form diatas harus diisi sesuai kode pengimput data,kode untuk masuk ke input data karyawan,laporan rekapitulasi gaji, dan absen ini hanya dimiliki oleh admin yang berada dipusat dan operator PT Bukit Asam Cabang Kertapati Palembang.
Tampilan mainetain employee care menu

Form Maintain Employee Care Menu,digunakan untuk masuk ke data karyawan dengan memilih modify an Employee yang akan mengantar operator ke input data karyawan,
Modify employee care details

modify employee care details memiliki delapan link yaitu : Name, Residential Address, Postal Address, Phone, Primary Resource, General, Photo, SSN/SIN yang digunakan untuk memasukan seluruh data karyawan yang ada,setelah data karyawan diisi dengan lengkap maka operator akan menyimpan data karyawan dengan meng klik button save. Data karyawan yang sudah diinput dan disimpan akan dikirim ke admin yang berada dipusat secara otomatis pengiriman.

open employee absen

penginputan dan absen dengan mengisi id karyawan yang akan di cetak sebagai data absen tiap bulan, absensi yang telah dicetak dan di input akan dikirim ke admin pusat sebagai laporan absen karyawan PT Bukit Asam Cabang Dermaga Kertapati Palembang
Create Employee Payroll Transactions

Gambar di atas menjelaskan tentang balasan yang di beri admin pusat untuk operator sdm PT Bukit Asam Cabang Dermaga Kertapati Palembang. Setelah operator menerima balasan dari maka operator akan memasuki gaji lembur karyawan kedalam rekapitulasi gaji lembur karyawan.
3.2 analisis sistem
PT Bukit Asam (persero) Tbk Unit Dermaga Kertapati Palembang dalam mengolah data karyawan yang telah dikirim dari Tanjung Enim ke Unit Dermaga Kertapati, data yang dikelola untuk dijadikan sebagai bahan laporan dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan aplikasi Ellipse eksplorer, adapun yang mendukung proses komputerisasi dalam mengolah data karyawan adalah sebagai berikut :
1. Hardware (perangkat keras) Hardware terdiri dari tiga bagian yaitu, input device, processing device dan output device. PT Bukit Asam (persero) tbk Unit Dermaga Kertapati Palembang telah memiliki dua buah personal komputer lengkap dengan perangkat keras dengan komponen-komponen sebagai berikut :
a. Processor Intel Pentium Dual Care
b. Hardisk 150 GB
c. Memory(RAM) 512 GB
d. Monitor LCD
e. Mouse
f. Keyboard
g. Printer
2. Software (perangkat Lunak)
Untuk memproses data karyawan pada PT Bukit Asam (persero) Tbk Unit Dermaga Kertapati yang telah dilakukan secara komputerisasi, adapun software (perangkat lunak) yang biasa digunakan dalam mengolah data karyawan adalah sebagai berikut:
a. Windows XP Proffesional sebagai system operasi.
b. Aplikasi Ellipse Eksplorer, bahasa pemrograman yang digunakan dalam aplikasi ini adalah bahasa pemrograman Java.
3. Brainware (pengguna)
PT Bukit Asam (persero) Tbk Unit Dermaga Kertapati Palembang pada bagian humas terdapat dua orang user yang bertugas untuk mengelola data karyawan yang telah dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan aplikasi Ellipse eksplorer.
3.3 Analisis SWOT Pada PT.Bukit Asam (persero) Tbk Dermaga Kertapati Palembang
Pada PT Bukit Asam (Persero) Tbk Dermaga Batubara Kertapati Palembang merupakan salah satu metode untuk menggambarkan dan mengevaluasi suatu masalah yang berdasarkan faktor internal (dalam) dan faktor eksternal (luar) yaitu Strengths, weakness, opportunities, threats. Metode ini paling sering digunakan dalam metode evaluasi bisnis untuk mencari strategi yang akan dilakukan. Analisis SWOT hanya mengambarkan situasi yang terjadi bukan sebagai pemecah masalah . Yang saya lakukan untuk mengetahui kekuatan sistem pada PT Bukit Asam (persero) Tbk Dermaga Batubara Batubara Kertapati Palembang yaitu mengunakan Analisis SWOT yang terdiri dari empat faktor, yaitu
1.Strengths(kekuatan)
1. Dalam hal ini tidak perlu takut data karyawan telah
2. Tersimpan akan hilang, karena data yang di input operator telah tersimpan di admin.
3. Menghemat waktu pada proses pendataan karyawan.
4. Operator dapat menguasai system yang ada.
5. Fasilitas komputer sangat mendukung.
6. Kemudahan dalam penyimpanan data seluruh karyawan.
2. Weakness(kelemahan)
1. Operator tidak diberikan hak untuk mengedit data karyawan apabila terjadi kesalahan sehingga memperlambat dalam pembuatan laporan data karyawan.
2. Keterbatasan Memory atau Ram yang secara serius dapat menghambat kinerja efektif perusahaan.
3. System masih menggunakan aplikasi yang belum terkoneksi ke internet, sehingga belum maksimal untuk digunakan di tempat yang terpisah.
4. Operator hanya terdapat 2 orang sehingga, jika salah seorang tidak hadir, maka dapat memperlambat pendataan karyawan.
5. Aplikasi Ellipse adalah aplikasi visual yang berjalan di atas system operasi windows, tidak bisa untuk system operasi lainya.
3. Opportunity (peluang)
1. Dalam hal ini semua data karyawan langsung bisa dimasukan ke dalam sistem, sehingga operator tidak perlu lg membuat catatan ke dalam buku.
2. Rencana kebijakan perusahaan untuk pengembangan karyawan sudah ada.
3. Dapat memacu semangat karyawan untuk lebih memaksimalkan pekerjaannya dibagiannya masing masing.
Threat(ancaman)
4. Perubahan teknologi dapat menjadi ancaman perusahaaan.
6. Apabila operator lupa password maka program tersebut tidak dapat dijalankan.
7. Keterlambatan informasi akan menghambat pengaksesan data ke pusat.
3.4 Usulan Perbaikan Sistem
Setelah melakukan analisis di atas, kemudian dilakukan perbandingan antara factor internal yang meliputi strength dan weakness dengan factor luar opportunities dan threat. Setelah itu kita bisa melakukan strategi alternatif untuk dilaksanakan. Strategi yang di pilih merupakan strategi yang paling menguntunghkan dengan resiko ancaman yang paling kecil. Dengan mengetahui kelebihan (strength dan opportunity) dan kelemahan kita (weakness dan threat), maka perusahaan melakukan perbaikan. Mungkin salah satu strateginya dengan meningkatkan strengh dan opportunity atau melakukan strategi yang lain yaitu mengurangi weakness dan threat. Contohnya:
1. Agar pengguna sistem ini memberikan pengamananan seperti password guna menghindari gangguan dari pihak lain.
8. Tenaga penguna aplikasi di tambah agar tidak menjadi hambatan jika pengguna yang biasa menjalankan tidak hadir.
9. Lebih efektif dan efisien lagi bila perusahaan tersebut menambah kapasitas handwidth dan menggunakan perangkat keras (hardware) seperti RAM (random acces memory) dengan kapasitas lebih besar.

4. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan dari analisis yang telah dilakukan dan sudah diuraikan dalam laporan yang berbentuk tugas akhir tentang analisis pengolahan data karyawan dengan menggunakan aplikasi Ellipse explorer pada PT Bukit Asam Cabang Dermaga Kertapati Palembang,maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengolahan data karyawan yang ada pada PT.Bukit Asam Cabang Dermaga Kertapati Palembang menggunakan aplikasi Ellipse Explorer ini sudah baik, karena dengan menggunakan aplikasi ini pengolahan data karyawan dapat dengan cepat dan akurat.
2. Perangkat lunak aplikasi Ellipse Explorer sudah mempunyai system keamanan yang cukup baik karena mempunyai password sendiri sendiri.
3. Pengembangan aplikasi Ellipse Explorer sudah cukup baik, sehingga hasil yang ditetapkan sudah sesuai dengan kebutuhan.

4.1 Saran
Sebagai masukan penulis menyampaikan saran yang mungkin berguna bagi PT Bukit Asam Cabang Dermaga Kertapati Palembang khususnya bagi pengguna aplikasi, adapun saran saran yang penulis sampaikan yaitu :
1. Dengan bertambahnya pengguna jaringan internet maka sudah seharusnya PT Bukit Asam Cabang Dermaga Kertapati Palembang, menambahkan kecepatan koneksi jaringan seperti menambah kapasitas Ram dan Hard Disk.
10. Pada system data karyawan ini memerlukan koneksi jaringan interner tersendiri, supaya pengiriman laporan tidak terlambat.
11. Bagi pembaca, penulis mengharapkan tugas akhir ini dapat menjadi wawasan dibidang komputer.

DAFTAR RUJUKAN
Lisma Puspita.2010.Modul Pengantar Basis DataDengan MySQL.Palembang:UBD.
Sutarbi.2012.analisis sistem informasi, ANDI,Yogyakarta
http://id.wikipedia.org/wiki/analisis,diakses,13 Desember 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/karyawan,diakses,13Desember2013
http://carapedia.com/pengertian_definisi.htmldiakses,5Februari2013
http://hanihohoy.com/2012/definisis swot diakses,5februari2013

SISTEM REMEDIAL NILAI SISWA SMA OLAH RAGA NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG MENGGUNAKAN J2ME DENGAN METODE SOFT SYSTEM METHODOLOGY (SSM)

Fri ,02/08/2013

Abstrak : Penelitian ini dilakukan untuk memberikan solusi dan dapat membantu siswa untuk mengetahui nilai ujian semester secara cepat dan dapat mengetahui jadual remidial mereka  yang sesuai dengan standar kriteria ketuntasan minimal. Akses dapat dilakukan menggunakan aplikasi J2ME (java Mobile) menggunakan handphone. Aplikasi ini diharapkan dapat membantu siswa dalam mengakses informasi dengan cepat tanpa harus datang langsung ke sekolah untuk melihat nilai  dan hasil perbaikan setelah di-remidial serta mengetahui jadualnya. Dalam kajian ini menggunakan pendekatan Soft System Methodology (SSM), dengan metode analisis dan pemodelan sistem yang terintegrasi ke teknologi (hard) sistem dan human (soft) sistem yang biasanya digunakan perubahan.

Kata kunci: Aplikasi  java mobile (J2ME), remedial nilai, soft system methodology

  1. 1. Pendahuluan


Remedial adalah kegiatan yang ditujukan untuk perbaikan dan merubah kembali nilai guna membantu siswa memperbaiki nilai yang diperoleh. Tujuan Remedial nilai agar mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum yang berlaku. Sedangkan SMA Olahraga Negeri Sriwijaya Provinsi Sumatera Selatan merupakan Sekolah Khusus Olahraga (SKO) yang bertujuan menyaring dan membina pelajar berbakat olahraga untuk mencapai prestasi dibidang akademis maupun olahraga.

Sekolah Menangah Atas Olahraga ini selain dituntut untuk berprestasi dibidang akademik juga prestasi dibidang olah raga. Kenyataannya prestasi belajar siswa cukup baik terlihat dari cara belajar siswa dan hasil nilai yang ada. Walaupun demikian ada juga beberapa siswa yang memiliki nilai yang tidak cukup dan nilai tersebut harus diulang kembali (remedial). Setelah ujian selesai seluruh siswa terutama yang mengikuti pertandingan olahraga di dalam kota maupun di luar kota, akan kesulitan untuk melihat nilai ujian semester karena mereka sudah mengikuti kegiatan yang olah raga.

Sedangkan cara yang digunakan pada SMA Olahraga  guna mengetahui informasi nilai yang berjalan saat ini kurang efektif yaitu sebagai contoh ketika siswa selesai ujian semester mereka harus menunggu 5-7 hari untuk mengetahui  informasi nilai mereka apakah mereka harus mengikuti remedial atau tidak. Selain itu juga setelah siswa mendapatkan informasi nilai, siswa juga harus menunggu pengumuman jadwal ujian remedial. Hal ini mengakibatkan siswa lambat untuk mendapatkan informasi nilai. Oleh karenanya dibutuhkanlah sebuah sistem untuk membantu siswa dalam mendapatkan informasi nilai secara cepat.

Sistem yang dibuat dengan menggunakan aplikasi J2ME adalah sebuah kombinasi yang terbentuk antara sekumpulan interface java yang sering disebut dengan (Aplication Programming Interface) yang  dapat menggunakan telepon genggam. SSM merupakan metodologi sebagai pembaharuan dari Hard System methodology (HSM) yang pola pikirnya adalah membatasi jumlah variabel seminimum mungkin sehingga dapat menyederhanakan masalah dan memudahkan perumusan formulasi solusi. (Sofian Lusa, Mario Iskandar, 2010)

2.    Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang ada dan untuk menyelesaikan masalah pemberian informasi nilai dan remidial nila siswa maka dirumuskan masalah yaitu bagaimana merancang sistem informasi remedial nilai siswa.

  1. 3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merancang sistem informasi remidial nilai siswa:

  1. Guna mempermudah siswa untuk mengetahui nilai  dan me-remidial.
  2. Sebagai pembelajaran dalam pemecahan masalah dengan pendekatan Soft System Methodology (SSM).
  3. Aplikasi yang digunakan adalah dengan menggunakan J2ME.
  1. 4. Metodologi Penelitian

4.1   Metode Penelitian

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, metode yang menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai informasi yang sebenarnya sesuai fakta-fakta yang dilapangan.

4.2   Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh gambaran mengenai data yang dibutuhkan dalam perancangan ini, metode yang digunakan adalah :

  1. 1. Data Primer

Data yang dikumpulkan langsung dari tempat penelitian, melalui wawancara kepada kepala bagian staff guru dan kepada karyawan-karyawan yang dapat memberikan keterangan yang diperlukan.

Data primer terdiri dari :

  1. Wawancara

Untuk memperoleh data dan  informasi  yang  lengkap dan benar dilakukan dengan mengadakan wawancara terhadap pegawai yang mempunyai wewenang untuk memberi data.

  1. Observasi

Melakukan pengamatan secara langsung serta  pencatatan terhadap data dan informasi pada bagian pengelola nilai.

  1. Dokumentasi

Mencari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pembahasan masalah-masalah serta melengkapi data-data yang diperlukan dalam perancangan ini.

  1. 2. Data Sekunder

Data yang didapat dan digunakan berupa pengetahuan teoritis yang didapat,  baik  dari  buku-buku referensi yang relevan serta dari hasil penjelajahan (browsing) melalui internet.

4.3   Metode pendekatan Soft System Methodology

Tahapan Metode analisis sistem dalam perancangan informasi remedial nilai siswa dengan menggunakan metodologi soft system methodology yaitu:

Tahapan metode soft system methodology adalah sebagai berikut:

  1. 1. Problem Situation Unstructured

Pada tahap ini yang pertama kali dilakukan adalah mengumpulkan informasi mengenai struktur dan proses melalui penelitian, pengumpulan data  dan melalui wawancara. Diharapkan dengan pengumpulan informasi yang ada dapat  menemukan masalah utama yang terjadi.

  1. 2. Problem Situation Expressed

Pada tahap ini, berdasarkan data serta informasi yang ada dibentuk suatu “Rich Picture”. Rich Picture adalah sebuah gambaran yang digunakan untuk persentasi yang dapat menunjukan masalah yang muncul, konflik yang ada serta kepentingan dari tiap-tiap bagian. Rich picture menggambarkan suatu masalah yang terjadi pada suatu perusahaan secara detail sehingga orang yang melihat gambar tersebut dapat mengerti arti pengambaran dari Rich Picture.

  1. 3. Root Definitions Of Relevant System

Pada tahap ini, Root Definition berkaitan dengan perluasan dari masalah dan dituliskan dalam kalimat. Root Definition adalah suatu pandangan yang ideal dari suatu sistem yang relevan. Tujuan Root Definition adalah untuk mencari apa yang akan dilakukan, mengapa harus dilakukan, siapa yang melaksanakan, siapa yang mendapat rugi/untung dari masalah yang ada. Segala macam tindakan itu dapat dilakukan dengan menggunakan metode CATWOE. CATWOE terdiri dari :

  1. C/ customer adalah orang yang mengharapkan manfaat dari tindakan yang diambil.
  2. A/ Actor pelaku yang melakukan tindakan.
  3. T/ Transformation process adalah perubahan dari masukan yang ada untuk menuju ke arah yang lebih baik.
  4. W/ Weltanschauung adalah bentuk tindakan yang ideal untuk menghadapi dan mengamati permasalahan.
  5. O/ Owner adalah pelaku yang dapat menghentikan tindakan.
  6. E/ Enviromental Constraint adalah rintangan yang terdapat pada sistem.
  7. 4. Conceptual Model

Model konseptual adalah suatu aktivitas yang harus dilakukan untuk memenuhi persyaratan dari pendefinisian masalah. Model konseptual dibuat dengan menggambarkan dalam bentuk kata-kata yang diperlukan untuk menggambarkan aktivitas yang harus dilakukan dalam pendefinisian masalah.

  1. 5. Comparisons with Reality

Pada tahap ini akan membandingkan kenyataan dengan sistem yang telah akan dibuat dalam model konseptual. Pertama akan diberikan nomor pada model yang telah dibuat untuk mencari perbedaan yang terdapat pada real world (sistem yang nyata). Kedua, penulisan dari perbedaan yang ada antara sistem yang nyata deengan model konseptual juga pemberian pertanyaan dimana jawaban yang ada harus sesuai dengan situasi yang terjadi.

  1. 6. Debate about Change

Pada tahap ini, segala perbandingan antara sistem yang nyata dengan model konseptual akan dibandingkan hal mana yang akan dirubah atau tidak. Perubahan yang ada juga harus dipertimbangkan karena tidak mudah seperti memilih antara hitam dan putih, tetapi perubahan yang terjadi harus dipertimbangkan dengan kondisi yang ada.

  1. 7. Action to improve the problem situation

Melakukan tindakan bearti mengimplementasikan perubahan yang dibutuhkan dan  dilakukan.

4.4   Analisis dan Perancangan

Pada tahapan analisis menggunakan metode soft system methodology dengan analisisinya yaitu:

  1. 1. Problem Situation Unstructured

Secara umum situasi permasalahan berdasarkan hasil temuan dalam proses sistem informasi remedial nilai siswa yang melibatkan siswa di SMA Olahraga, antara lain:

a)    Proses informasi nilai yang lambat dan harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan informasi nilai mengakibatkan siswa lambat juga untuk memperbaiki nilai mereka, sedangkan di SMA Olahraga ini setelah siswa selesai ujian semester siswa sering mengikuti pertandingan olahraga, jadi dengan sistem yang lambat siswa harus menunggu lama untuk memperbaiki nilai mereka.

b)   Secara teknologi di SMA ini belum memiliki sistem informasi nilai yang cepat dan efektif. Hal ini sangat menyulitkan dalam proses informasi nilai siswa.

2. Problem Situation Expressed

Data yang diperoleh pada tahapan problem situation unstructured diklafikasikan dan dibuatkan suatu penggambaran yang menjelaskan permasalahan yang terjadi di SMA Olahraga. Pada tahapan ini diperoleh sebuah bentuk midel secara simbolik yang disebut rich picture, berupa formulasi permasalahan dan bentuk pemahaman atas situasi masalah yang dihadapi, dimana berhubungan dengan permasalahan yang terjadi. Gambar rich picture yang diperoleh dari hasil situation unstructured sebagai berikut:

Memberikan data nilai siswa ujian semester

Memberikan pengumuman nilai remedial
Memberikan soal ujian semester
GURU
Memberikan informasi jadwal remedial
Melihat pengumuman remedial
Melihat jadwal

remedial

Ujian semester
SISWA
SEKOLAH

Gambar 1. Situation unstructured

  1. 3. Root Definitions Of Relevant System

Dari hasil analisa permasalahan dan rich picture dapat ditarik sebuah definisi sistem yang paling relevan untuk dijadikan sebuah root definition adalah sistem informasi nilai yang lambat.

Sedangkan analisa dalam elemen CATWOE (Client, Actor, Transformation, World view, Owner, Environment) adalah sebagai berikut:

C: SMA olahraga (problem sistem informasi nilai yang lambat).

A: Guru dan siswa, Guru lambat menginformasikan nilai sehingga siswa harus menunggu pengumuman.

T:  Kebutuhan sistem yang ada belum cepat sehingga akan dibuat sistem yang baru.

W: Sistem yang akan dibuat diklaim mampu merubah cara memberikan informasi dengan cepat dan efektif.

O:        Klien (problem sistem yang lambat) informasi nilai setelah ujian semester yang lambat sehingga siswa harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan informasi nilai mereka, ‘Apakah remedial atau tidak ?’.

E: Kebijakan sekolah dengan perubahan sistem informasi nilai dengan tujuan akan tercapai informasi nilai secara tepat.

  1. 4. Conceptual Model

Model konseptual awal yang dihasilkan oleh root definition adalah sistem informasi nilai siswa dimana proses yang ada di SMA ini setelah siswa selesai ujian semester, siswa harus menunggu lama informasi nilai mereka. Maka dibuatlah usecase, Activity dan class diagram agar dapat mendefinisikan permasalahan yang ada di SMA Olahraga. Dapat dilihat pada gambar 2 use case diagram, gambar 3 Activity diagram, gambar 4 Class Diagram.

  1. 5. Usecase Diagram

Use case diagram ini menggambarkan fungsional yang diharapkan dari mobile handphone siswa dengan sebuah sistem. Siswa dapat melihat informasi nilai dan jadwal remedial setelah melakukan login, dimana sistem informasi nilai ini berintegrasi pada sistem Admin SMA Olahraga Sriwijaya pada proses pertukaran data.

Gambar 2. Rancangan Use Case Diagram

  1. 6. Activity  Diagram

Activity Diagram ini menjelaskan kegiatan atau interaksi yang dilakukan siswa dan sistem pertama-tama akan menampilkan login. Setelah login berikutnya sistem akan menampilkan informasi nilai, informasi jadwal ujian remedial, dan informasi hasil ujian remedial.

Gambar 3. Rancangan Activity Diagram

  1. 7. Class Diagram

Gambar 4. Rancangan Class Diagram

  1. 8. Comparisons with Reality

Selanjutnya pada model konseptual awal belum memiliki sistem teknologi informasi nilai dengan handphone secara cepat dan efektif sehingga lambat untuk mendapatkan informasi nilai.

Informasi jadwal remedial dan informasi hasil ujian remedial. Oleh karenanya siswa bisa melihat informasi nilai, informasi jadwal remedial dan informasi nilai hasil ujian remedial dengan teknologi handphone secara cepat dan efektif.

Gambar 5. Rancangan Model Konsep Perbaikan

  1. 9. Debate about Change

Setelah dilihat dari analisa dan hasil analisa: rich picture, model konseptual awal, dan model konsep perbaikan terhadap sistem pendukung, maka ada beberapa kebutuhan yang harus diantisipasi oleh model tersebut. Pada tahap guru memberikan informasi nilai siswa maka siswa dengan cepat dapat melihat informasi nilai, informasi jadwal remedial, dan informasi hasil ujian remedial.

10. Action to improve the problem situation

Berdasarkan hasil permasalahan tersebut maka dirancang aplikasi Java Mobile untuk informasi nilai siswa bertujuan untuk mempermudah siswa mendapatkan informasi nilai secara cepat dan efisien. Selanjutnya melakukan perancangan (Design) pada tahap perancangan (Design) menggunakan metode pengembangan perangkat lunak. Adapun metode pengembangan perangkat lunak yang digunakan adalah unified Software Development Process. Tahapan metode perancangan (Design) ini adalah  tahapan kedua setelah melakukan proses analisis.

5. Rancangan Menu siswa menggunakan (J2ME).

  1. Rancangan Menu Login, menu ini sebagai fasilitas siswa yang akan memasuki sistem melalui telpon genggam. Dari menu inilah siswa bisa mengakses dan mengetahui informasi yang diperlukannya.
  2. Menu Utama, dibuat agar siswa dapat melihat informasi nilai dan jadwal remedial.
  3. Informasi nilai, adalah informasi untuk siswa melihat apakah nilai mereka di-remedial atau lulus.
  4. Informasi jadwal remedial, diperuntukan agar siswa mengetahui jadwal ujian remedial bagi mereka yang tidak lulus.
  5. Informasi hasil ujian remedial adalah untuk siswa melihat kembali nilai mereka setelah mereka selesai mengikuti ujian remedial.

6. Hasil

Rancangan sistem ini berupa aplikasi yang dapat memberikan informasi bagi siswa di SMA Olahraga Sriwijaya dengan menggunakan bahasa pemrograman berbasis mobile phone yaitu J2ME.

Sistem informasi ini dibuat untuk mempermudah siswa melihat informasi nilai dan jadwal ujian remedial, sehingga siswa tidak harus lama menunggu pengumuman informasi nilai dan jadwal remedial karena bisa dilakukan menggunakan aplikasi J2ME.

Adapun aplikasi nilai remedial siswa yang telah dibuat memiliki sub-sub menu sebagai berikut:

  1. Menu Login, merupakan menu yang digunakan oleh user untuk masuk ke aplikasi.
  2. Halaman Menu Utama, terdiri dari sub menu yaitu:
  3. Menu informasi nilai berfungsi untuk menampilkan semua informasi nilai siswa setelah mengikuti ujian semester.
  4. Menu informasi jadwal berfungsi untuk menampilkan informasi jadwal ujian remedial.
  5. Menu Informasi hasil ujian remedial berfungsi untuk menampilkan hasil ujian remedial siswa.

7. Kesimpulan

1.  Sistem Informasi yang dihasilkan adalah sistem informasi remedial nilai siswa di SMA Olahraga Sriwijaya dengan handphone diimplementasikan dengan menggunkan J2ME Netbeans 6.9.1 dan xampp dan php untuk masukan data. Sistem informasi ini dibangun menggunakan metode SSM (Soft System Methodology).

2.  Aplikasi ini dapat membantu siswa untuk memperoleh data informasi nilai dan jadwal mengikuti ujian remedial, bagi siswa tidak lagi menunggu informasi pengumuman nilai karena dapat mengakses menggunakan aplikasi J2ME.

Daftar Pustaka

Adi Nugroho. 2010. Rekayasa Perangkat Lunak Berorientasi Objek dengan metode USDP (Unified Software Development Process). Andi Yogjakarta

Agus Saputra. 2011.Panduan praktis menguasai Data base Server MySQL Jakarta. PT Elex   Media Komputindo.

Budi Raharjo. 2007.Tuntunan pemrograman Java untuk Handphone dan alat komunikasi mobile Bandung. Informatika.

Nana Sudjana. 1989. Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung. PT  Remaja Rosdakarya.

Rosa & M. Shalahudin 2011. Rekayasa Perangkat Lunak.Bandung. Modula.

Sutarman, 2009. Pengantar Teknologi dan Informasi. Yogjakarta. Bumi aksara.

Sofian Lusa, Mario Iskandar, 2010.  Kajian Penerapan Aplikasi Open Source di Perguruan Tinggi Dengan Pendekatan Soft System Methodology, Proseding, Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu (SENMI-2010) Universitas Budi Luhur.

Tata, Sutarbi, 2003. Analisa sistem informasi. Jakarta.Andi.