Uhang Dihi
Anak Rantau

Archive for the ‘skripsi’ Category

SISTEM PERAMALAN PENJUALAN BUKU DAN ALAT TULIS PADA TOKO BUKU DIPONEGORO PALEMBANG METODE TREND MOMENT

Wed ,01/04/2015

SISTEM PERAMALAN PENJUALAN BUKU DAN ALAT TULIS PADA TOKO BUKU DIPONEGORO PALEMBANG METODE TREND

Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Bina Darma

Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12 Palembang

Email :, yani_ranius@mail.binadarma.ac.id,Baibul_Tujni@mail.binadarma.ac.id., reny789@gmail.com

Abstract :

Bookstore Diponegoro engaged in the sale,based on the sales of books and stationery that are running on Diponegoro Bookstore today,there are still some constraints,namely the lenght of the process of making the bill of sale of books and stationery,because the manufacturing process is a way to write.As for forecasting sales of books and stationery at the Bookstore Diponegoro currently done by estimating the sales results of the previous period by counting in writting that causes every wanted to know peramalan per period employees must recalculate. Such Conditions that cause wasted so much time jobs do not run effctively and efficiently.To overcome the existing problems need a system that uses a computer to make it easier to forecast sales per periodenya so that time can be used effectively and effeciently.

Keywords : Forecasting,trend method of moments, the book.

I. PENDAHULUAN

Pertumbuhan bisnis di era globalisasi dan kemajuan dibidang teknologi informasi yang cepat memberikan pengaruh yang cukup besar baik dalam bidang industri maupun jasa. Hal ini juga membawa suatu perubahan besar dalam tingkat persaingan antara perusahaan terutama dalam bidang penjualan, sehingga pelaku-pelaku perusahaan tersebut harus selalu menciptakan berbagai teknik untuk terus survive. Teknologi informasi saat ini sudah semakin berkembang pesat, dalam hal ini di bidang penjualan, teknologi informasi bisa dimanfaatkan untuk membantu proses penjualan buku agar terus meningkat dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, di dalam suatu perusahan diharuskan memilki suatu sistem agar bisa mengikuti perkembangan teknologi informasi tersebut . Masalah utama yang dihadapi pada saat menjual suatu barang adalah barang apa yang akan dijual, berapa biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan agar barang tersebut dapat terjual, berapa harga barang tersebut agar dapat keuntungan bagi perusahaan tetapi tetap terjangkau oleh 2     Jurnal Ilmiah Fak.Ilkom Vol.1 No.1, Maret 2015:1 -20 pembeli. Oleh karena itu, sebaiknya perusahaan menggunakan forecasting atau peramalan dalam menentukan berapa besar penjualan yang akan dicapai dimasa yang akan datang melalui pengujian keadaan dimasa lalu. Peramalan penjualan (forecasting) adalah suatu perhitungan untuk meramalkan keadaan dimasa mendatang melalui pengujian keadaan dimasa lalu. Meramalkan penjualan dimasa mendatang berarti menentukan perkiraan besarnya volume penjualan, bahkan menentukan potensi penjualan dan luas pasar yang dikuasai dimasa yang akan datang (Eriyanto, 2012, Hal:2). Peramalan memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan pembeli, untuk memperkecil resiko yang timbul akibat pengambilan keputusan dalam suatu perencanaan persedian barang yang mempengaruhi stok, dan sebagai alat untuk perencanaan dimasa depan. Toko Buku Diponegoro Palembang merupakan merupakan jenis usaha yang bergerak di bidang penjualan, yang berlokasi di jalan Jendral Sudirman No. 232 Palembang.Kegiatan utama Toko Buku Diponegoro Palembang yaitu menjual buku-buku sekolah, buku-buku kuliah dan buku-buku umum serta alat-alat tulis. Toko Buku Diponegoro Palembang menyediakan beberapa jenis buku dan alat-alat tulis. Diantaranya yaitu menjual berbagai macam buku pelajaran, mulai dari buku Taman kanak-kanak (TK) sampai dengan perguruan tinggi, buku-buku agama, buku-buku umum serta alat-alat tulis dan kantor.

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih dari waktu ke waktu kebutuhan buku dan alat tulis dalam dunia pedidikan semakin meningkat.Toko buku Diponegoro Palembang dihadapkan pada persaingan pasar yang ketat dalam menghadapi era globalisasi. Toko Buku Diponegoro yang bergerak dalam bidang penjualan, berdasarkan proses penjualan buku dan alat tulis yang sedang berjalan pada Toko Buku Diponegoro saat ini, masih terdapat beberapa kendala, yaitu lamanya proses pembuatan nota penjualan buku dan alat tulis, dikarenakan dalam proses pembuatannya masih dengan cara menulis. Adapun peramalan penjualan buku dan alat tulis pada Toko Buku Diponegoro saat ini dilakukan dengan memperkirakan hasil penjualan dari priode sebelumnya dengan menghitung secara tertulis yang menyebabkan setiap ingin mengetahui peralaman per periodenya pegawai harus menghitung ulang.Kondisi semacam ini yang menyebabkan banyaknya waktu yang terbuang sehingga pekerjaan tidak berjalan dengan efektif dan efisien. Untuk mengatasi permasalahan yang ada perlu adanya sistem yang menggunakan komputer untuk mempermudah melakukan peramalan penjualan per priodenya sehingga waktu yang digunakan bisa efektif dan efesien.

Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penelitian ini penulismengambil judul Sistem Peramalan Penjualan Buku Dan Alat Tulis Pada Toko Buku Diponegoro Dengan Metode Trend Moment. Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan yang dapat diambil adalah “ Bagaimana membangun sistem peramalan penjualan buku dan alat tulis pada Toko Buku diponegoro dengan metode trend moment ?”. SISTEM PERAMALAN PENJUALAN BUKU DAN ALAT TULIS PADA TOKO BUKU DIPONEGORO PALEMBANG METODE TREND MOMENT

Guna lebih terarahnya pembahasan dan tidak menyimpang dari pemasalahan yang terdapat dalam perusahaan, maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasan tentang, sistem ini bisa memprediksi penjualan buku dan alat tulis dengan data persediaan, penjualan, buku, alat tulis menggunakan metode trend moment .

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis hasil peramalan penjualan dan merancang aplikasi peramalan penjualan buku dan alat tulis dengan menggunakan metode Trend Moment untuk mengatasi kerugian yang akan dihadapi perusahaan.

Memberikan kemudahan bagi pihak TokoBuku Diponegoro dalam penyusunan laporan dan memprediksi penjualan buku dan alat tulis yang sedang trend atau yang banyakdiminati oleh masyarakat.    Penelitiam ini dilakukakan di Toko Buku Diponegoro Jln. Jend sudirman No. 232 Palembang dari bulan dari bulan September 2014 sampai dengan bulan Januari 2015.

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Hardware

Adapun perangkat keras (hardware) yang digunakan: laptop Samsung processor: intel® celeron ® cpu 847 @ 1.10 GHz 1.10 GHz, harddisk dengan kapasitas: 2.00 GB.

Software

Kebeutuhan perangkat lunak software yang digunakan:

  1. Sistem operasi Windows 7
  2. Microsoft Word 2007
  3. Mysql sebagai database
  4. PHP sebagai bahasa pemrograman

Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif artinya penelitian yang dilakukan adalah menekankan analisanya pada data-data numeric (angka), yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai suatu keadaan berdasarkan data yang diperoleh dengan cara menyajikan, mengumpulkan dan menganalisis data tersebut sehingga menjadi informasi baru yang dapat digunakan untuk menganalisa mengenai masalah yang sedang diteliti.

Metode pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan data dari suatu informasi, maka metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data sebagai berikut :

  1. Observasi

Metode pengumumplan data yang akan dilakukan adalah melihat serta mempelajari permasalahan yang ada dilapangan yang erat kaitannya dengan objek yang diteliti.

  1. Studi Pustaka

Metode yang dilakukan sebagai bahan pembelajaran dengan cara mencari bahan yang mendukung dalam pendefenisian masalah melalui buku-buku, internet.

  1. Wawancara

Merupakan teknik pengumpulan data

dengan cara mengadakan tanya jawab secara langsung kepada pimpinan penjualan pada Toko Buku Diponegoro Palembang. Prototyping adalah pengembangan yang cepat dan pengujian terhadap model kerja (prototipe) dari aplikasi baru melalui proses interaksi dan berulang-ulang yang biasa digunakan ahli sistem informasi dan ahli bisnis. Prototyping disebut juga desain aplikasi cepat (rapid application design/RAD) karena menyederhanakan dan mempercepat desain sistem (O’Brien, 2005).Skema tahapan

pengembangan sistem informasi dengan pendekatan prototyping menurut O’Brien

Pengembangan Sistem (O’Brien, 2005)

Tahapan dalam Prototype

  1. Analisis Kebutuhan Sistem Pembangunan sistem informasi memerlukan penyelidikan dan analisis mengenai alasan timbulnya ide atau gagasan untuk membangun dan mengembangkan sistem informasi.Analisis dilakukan untuk melihat berbagai komponen yang dipakai sistem yang sedang berjalan meliputi hardware, software, jaringan dan sumber daya manusia. Analisis juga mendokumentasikan aktivitas sistem informasi meliputi input, pemrosesan, output,penyimpanan dan pengendalian (O’Brien, 2005).
  2. Desain sistem (system design) Menentukan bagaimana sistem akan memenuhi tujuan tersebut. Desain sistem terdiri dari aktivitas desain yang menghasilkan spesifikasi fungsional. Desain sistem dapat dipandang sebagai desain interface, data dan proses dengan tujuan menghasilkan spesifikasi yang sesuai dengan produk dan metodeinterface pemakai, struktur database serta pemrosesan dan prosedur pengendalian.
  3. Pengujian Sistem Paket software prototipe diuji, diimplementasikan, dievaluasi dan dimodfikasi berulang-ulang hingga dapat diterima pemakainya (O’Brien, 2005).
  4. Implementasi Setelah prototipe diterima maka pada tahap ini merupakan implementasi sistem yang siap dioperasikan dan selanjutnya terjadi proses pembelajaran terhadapsistem baru dan membandingkannya dengan sistem lama, evaluasi secara teknis dan operasional serta interaksi pengguna, sistem dan teknologi informasi.

Analisis sistem merupakan penguraian suatu sistem yang utuh ke dalam bagian komponen – komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan, kesempatan-kesempatan, hambatan-hambatan yang terjadi, dan kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan untuk membuat sistem yang baru. Langkah pertama dalam membuat sistem SISTEM PERAMALAN PENJUALAN BUKU DAN ALAT TULIS PADA TOKO BUKU DIPONEGORO PALEMBANG METODE TREND MOMENT baru ini adalah mempelajari sistem yang sedang berjalan pada sebuah organisasi beserta dengan permasalahannya.Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran secara jelas tentang bentuk permasalahan yang ada pada perusahaan tersebut.

Pada saat ini, berdasarkan proses penjualan buku dan alat tulis yang sedang berjalan pada Toko Buku Diponegoro saat ini, masih terdapat beberapa kendala, yaitu lamanya proses pembuatan nota penjualan buku dan alat tulis, dikarenakan dalam proses pembuatannya masih dengan cara menulis. Adapun peramalan penjualan buku dan alat tulis pada Toko Buku Diponegoro saat ini dilakukan dengan memperkirakan hasil penjualan dari priode sebelumnya dengan menghitung secara tertulis yang menyebabkan setiap ingin mengetahui peralaman per periodenya pegawai harus menghitung ulang, Toko Buku Diponegoro dalam pembuatan laporan juga masih secara tertulis. Aliran sistem yang terjadi pada Toko Buku Diponegoro adalah sebagai berikut :

  1. Pemilik mengecek ketersediaan jenis buku dan alat tulis yang akan habis atau menanyakan ketersediannya kepada pekerja.
  2. Pemilik toko menyimpan kwitansi (bon) pembelian buku dan alat tulis sebagai bukti pembelian.
  3. Karyawan bertugas untuk melayani pembeli.
  4. Pembeli datang ke toko untuk membeli buku dan alat tulis yang dicarinya.
  5. Pemilik mencatat transaksi penjualan buku dan alat tulis yang terjadi sebagai laporan penjualan.
  6. Pemilik toko mengambil kebijakan dari hasil pencatatan laporan penjualan buku dan alat tulis serta pertimbangan-pertimbangan lainnya.

Analisis input adalah menganalisis segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan yang diproses. Pada sistem lama Toko Buku Diponegoro, analisis input dilakukan terhadap bukti-bukti pembelian barang yang telah dibeli oleh pemilik toko ke toko grosir buku dan alat tulis. Proses input yang terdapat pada sistem lama Toko Buku Diponegoro hanyalah bukti pembelian barang.Bukti tersebut berupa kertas yang data-datanya belum tersimpan rapi di dalam basis data, sulit untuk menyimpan, mengatur, dan mencari data tersebut secara cepat dan akurat.

Analisis proses adalah menganalisis bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lebih bernilai. Pada sistem lama Toko Buku Diponegoro, analisis proses dilakukan terhadap proses penjualan buku dan alat tulis yang terjadi pada toko tersebut. Proses penjualan buku dan alat tulis yang terjadi pada Toko Buku Diponegoro adalah sebagai berikut.

  1. Pembeli datang ke toko untuk membeli buku dan alat tulis yang dicarinya.
  2. Pemilik mencatat transaksi penjualan buku dan alat tulis yang terjadisebagai laporan penjualan
  3. Pemilik memperkirakan banyaknya buku dan alat tulis yang akan dibeli dari hasil penjualan buku dan alat tulis.
  4. Pemilik toko mengambil kebijakan dari hasil laporanpenjualan buku dan alat tulis serta pertimbangan-pertimbangan lainnya.

Pada prosespenjualan di atas, tampak bahwa peramalan penjualan masih dilakukandengan perkiraan saja (tertulis), transaksi manual, danpenyimpanan data-data transaksi penjualan buku dan alat tulis asih pada buku besar. Analisis output adalah menganalisis hasil dari pemrosesan, dapat berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan, dan sebagainya. Pada Toko Buku Diponegoro, analisis output dilakukan terhadap laporan transaksi penjualan yang dicatat oleh pemilik toko secara manual (tertulis) pada buku besar setiap harinya.Laporan transaksi ini tidak direkap dan tidak tersimpan pada database.

Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap sistem yang sedang berjalan pada Toko Buku Diponegoro, maka dapat diketahui kelemahan-kelemahan yang terdapat pada sistem tersebut yaitu sebagai berikut.

  1. Masukan yang terdapat pada sistem lama Toko Buku Diponegoro hanyalah bukti pembelian barang. Bukti tersebut berupa kertas yang data-datanya belum tersimpan rapi di dalam basis data, sulit untuk menyimpan, mengatur, dan mencari data tersebut secara cepat dan akurat.
  2. Pada proses penjualan di Toko Buku Diponegoro, peramalan penjualan masih dilakukan dengan perkiraan, transaksi manual (tertulis, dan penyimpanan data-data transaksi penjualan buku dan alat tulis masih pada buku besar.
  3. Keluaran yang terdapat pada sistem lama Toko Buku Diponegoro adalah laporan transaksi penjualan yang dicatat oleh pemilik toko secara tertulis pada buku besar setiap harinya. Laporan transaksi ini tidak direkap dan tidak tersimpan pada basis data.Peramalan penjualan yang dilakukan juga dengan perkiraan saja.

Setelah mengevaluasi dan menemukan kelemahan-kelemahan pada sistem yang sedang berjalan pada Toko Buku Diponegoro, tahap selanjutnya adalah menentukan solusi-solusi yang akan dibuat dan iterapkan pada sistem yang baru.Berikut ini adalah beberapa pengusulan pada sistem yang baru:

  1. Masukan pada sistem baru Toko Buku Diponegoro yang berupa data buku dan alat tulis dapat dientrikan pada sebuah form agar dapatdisimpan pada database. Hal ini bertujuan agar pemilik tokodapat memperoleh data tersebut secara cepat dan akurat.
  2. Untuk proses penjualan, dibuatkan sebuah aplikasi peramalan penjualanyang dapat memudahkan administrator dan bagian penjualan dalam mengelola aplikasi tersebut serta memberikan kemudahan bagi pemilik dalam menentukan banyaknya buku dan alat tulis yang akan dipesan.
  3. Keluaran yang dihasilkan oleh aplikasi peramalan penjualan ini adalah berupa fakturpenjualan dan hasil ramalan penjualan buku dan alat tulis yang berguna bagi administrator, bagian penjulan, dan pemilik yang datanya diambil daridatabase.

Perancangan sistem baru ini merupakan tahapan pengembangan sistemsetelah analisis sistem. Perancangan sistem baru dibagi menjadi dua bagian, yaituperancangan sistem secara umum dan perancangan sistem secara terinci. Perancangan sistem secara umum adalah merancang sistem dengan tujuanuntuk memberikan gambaran secara umum kepada user tentang sistem yang baru. Perancangan ini disebut juga dengan perancangan konseptual, perancanganlogikal, atau perancangan secara makro. Alat bantu yang digunakan oleh penulis untuk merancang sistem secaraumum adalah Unified Modelling Language (UML). Diagram UML yang digunakan adalah use case diagram, class diagram, activity diagram.

memperoleh nilai a dan b yaitu dengan cara sebagai berikut:

Di ket:

Σy = jumlah dari data penjualan

Σx = jumlah dari periode waktu

Σxy = jumlah dari data penjualan dikali dengan periode waktu

n = jumlah data

Rumus : = a.n + b.

= a. + b 2

Hitung :

= a.n + b.     12360

= 24a + 276b           x23

= a. + b 2

151794 = 276a + 4324b       x2

284280 = 552a + 6348b

303588 = 552a + 8648b -19308 = -2300b

b = 8,39

Mencari nilai a, adalah sebagai berikut :

Di ket :

Σy = jumlah dari data penjualan

Σx = jumlah dari periode waktu

n = jumlah data

Rumus :

= a.n + b.

Hitung :

12360 = 24a + 276b

12360 = 24a + 276 (8,39)

12360 = 24a + 2315, 64

24a     = 12360 – 2315,64

24a     = 10044,36

a       = 418,52

Setelah mendapatkan nilai a dan b, maka nilai tersebut dimasukkan ke dalam rumus Trend Moment, yaitu sebagai berikut :

Di ket :

Y = nilai trend atau variable yang

akan diramalkan

a = bilangan konstan

b = slope atau koefisien garis trend

X = indeks waktu

Rumus :

Y = a + b X

Hitung :

Y = 418,52 + 8,39 X

Y = 418,52 + 8,39 (25)

Y = 628,27

Setelah itu peramalan yang diperoleh dari nilai trend diatas akan dihitung menggunakan indeks musim. Berdasarkan rumus indeks musim maka :   = 0,99

Setelah dipengaruhi oleh indeks musim maka hasil akhirnya sebagai berikut :

Di ket :

Y* = Hasil ramalan dengan menggunakan metode Trend Moment yang telah dipengaruhi oleh indeks musim.

Y   = Hasil ramalan dengan menggunakan

Trend Moment.

Rumus : Y* = Indeks Musim × Y

Hitung :

Y* = 0,99 x 628,27 = 622 14     Jurnal Ilmiah Fak.Ilkom Vol.1 No.1, Maret 2015:1 -20

Berdasarkan data yang telah diperoleh sebelumnya pada table 5.2, maka untuk memperoleh nilai a dan b yaitu dengan cara sebagai berikut:

Di ket:

Σy = jumlah dari data penjualan

Σx = jumlah dari periode waktu

Σxy = jumlah dari data penjualan dikali dengan periode waktu

n = jumlah data

Rumus :

= a.n + b.

= a. + b 2

Hitung :

= a.n + b.

12197   = 24a + 276b           x23

= a. + b 2

151142 = 276a + 4324b      x2

280531 = 552a + 6348b

302284 = 552a + 8648b- 93753 = -2300b

b = 9,46

Mencari nilai a, adalah sebagai berikut :

Di ket :

Σy = jumlah dari data penjualan

Σx = jumlah dari periode waktu

n = jumlah data

Rumus :

= a.n + b.

Hitung :

12197 = 24a + 276b

12197 = 24a + 276 (9,46)

12197 = 24a + 2610,96

24a     = 12197 – 2610,96

24a     = 9586,04

a       = 399,42

Setelah mendapatkan nilai a dan b, maka nilai tersebut dimasukkan ke dalam rumus Trend Moment, yaitu sebagai berikut :

Di ket :

Y = nilai trend atau variable yang

akan diramalkan

a = bilangan konstan

b = slope atau koefisien garis trend

X = indeks waktu

Rumus :

Y = a + b X

Hitung :

Y = 399,42 + 9,46 X

Y = 399,42 + 9,46 (24)

Y = 626,46

Setelah itu peramalan yang diperoleh dari nilai trend diatas akan dihitung menggunakan indeks musim. Berdasarkan rumus indeks musim maka : = 0,66

Setelah dipengaruhi oleh indeks musim maka hasil akhirnya sebagai berikut :

Di ket :

Y* = Hasil ramalan dengan menggunakan metode Trend Moment yang telah dipengaruhi oleh indeks musim.

Y   = Hasil ramalan dengan menggunakan Trend Moment.

Rumus :

Y* = Indeks Musim × Y

Hitung :

Y* = 0,66x 626,46

= 413

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang peramalan penjualan dengan metode Trend Moment pada Toko Buku Diponegoro, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Sistem yang telah dibuat mengacu pada permasalahan yang ada, dimana sistem dapat meramalkan penjualan perbulannya dengan menggunakan data penjualan pada bulan-bulan sebelumnya sesuai dengan perhitungan berdasarkan metode Trend Moment.
  2. Sistem Peramalan penjualan buku dan alat tulis ini dapat memberikan solusi kepada pihak Toko Buku Diponegoro untuk meramalkan jumlah penjualan buku dan alat tulis pada periode tertentu dengan model peramalan yang telah dihasilkan didalam sistem. Hasil peramalan tersebut dapat digunakan sebagai acuan didalam pemenuhan target permintaan barang kepada supplier pada periode-periode mendatang.

Adapun beberapa saran yang dapat disampaikan untuk mengembangkan aplikasi yang telah dibuat antara lain:

  1. Dalam melakukan proses peramalan penjualan buku dan alat tulis, sebaiknya perusahaan menggunakan metode trend moment, agar perusahaan bisa meramalkan penjualan berdasarkan trend yang ada.
  2. Peneliti mengakui terdapat sejumlah keterbatasan yang ada dalam penelitian ini. Untuk itu disarankan kepada penelitian yang akan datang dapat mengurangi keterbatasa-keterbatasan dari penelitian sebelumnya dan untuk mengetahui tingkat keakuratan sebuah peramalan

hendaknya disertakan pembanding untuk metode-metode peramalan yang akan digunakan.

DAFTAR RUJUKAN

Eriyanto Ocki. 2012. AnalisisPeramalanPenjualanHandphone Blackberry PadaPT. Selular Shop Mall.Skripsi.UniversitasMaritim Raja Ali Haji.Tanjungpinang.

HeryPrasetya, Drs, danfitrilukiastuti, SE., M.M. 2009. ManajemenOperasi. Yogyakarta: Media Pressindo. Halaman 43-45.

Muthia. 2013. PenerapanMetode Trend Moment dalam Forecast Penjualan Motor Yamaha di PT. HasjratAbadi. Skripsi.UniversitasNegeriGorontalo. Gorontalo. 20     Jurnal Ilmiah Fak.Ilkom Vol.1 No.1, Maret 2015:1 -20

Setiadi J Nugroho, SE.,MM. 2003. PrakiraanBisnis. Jakarta: Pernada Media. Halaman 2.

Sugiarto, danDergibson, S. 2002. MetodeStatistikaUntukBisnisdanEkonomi. Jakarta : PT. GramediaPustakaUtama. Halaman 208-217.

IT REPORTING

Sat ,06/10/2012

ANALISIS APLIKASI PENGOLAHAN DATA IT REPORTING PADA

PT PERTAMINA (PERSERO) RU III PALEMBANG

A. Yani Ranius

Roby Rahim

Universitas Bina Darma

ABSTRACT

PT.Pertamina (Persero) Plaju Refinery Unit III is one of the oil processing unit owned by Pertamina to cover the operating area and Sei Plaju Musi refinery and terminal Gerong Sambu Island and Cape Gray. Oil refinery built in order to manage the crude oil comes from the region and partly from outside Sumbagsel Sumbagsel. At RU III PT.Pertamina Palembang in data processing applications already using the system report that is set by the Division of IT (Information Technology). This application uses the programming language PHP and uses MySQL database. The processing of data in this report discusses the existing reports on the IT that is intended as the data is given to the manager. Absent such a report monthly, monthly leave reports, and others. This application is on the IT Application Reporting PT.Pertamina RU III Palembang.

Key word: Analysis, Application, Reporting.

PENDAHULUAN

Pada saat ini perkembangan teknologi dari tahun ke tahun sangatlah pesat, ini semua hasil dari pemikiran manusia yang ingin maju dan berkembang. Saat ini komputer telah digunakan di kantor pemerintah, perusahaan, dan sekolah. Komputer tidak lagi hanya digunakan sebagai pengganti mesin ketik ataupun alat hitung, namun kini juga banyak digunakan dalam membantu pekerjaan yang penting dengan menggunakan aplikasi perangkat lunak.

Mengingat teknologi komputer memegang peranan yang sangat penting untuk membantu  proses aktivitas kerja instansi maupun perusahaan baik dari lembaga  pemerintah maupun swasta, dengan adanya alat bantu seperti komputer maka proses pengolahan data dan penyimpanan data dapat terselesaikan dengan baik dan menghemat waktu kinerja dan tenaga para pegawai instansi pemerintah maupun swasta.

PT.Pertamina (Persero) RU III Palembang yang beralamat di jalan Beringin No.1 Komplek Pertamina Plaju terdapat sebuah divisi yang bertugas merencanakan, mengkoordinir, mengendalikan dan mengevaluasi kegiatan pengembangan sistem informasi,sistem database, sistem komunikasi dan jaringan yaitu Divisi Sistem Informasi dan Komunikasi (SI&K).Pada Divisi SI&K terbagi menjadi tiga bidang yaitu Bidang Keuangan bertugas untuk mengatur keuangan yang berada di Divisi SI&K, Bidang Information Technology (IT) bertugas untuk merencanakan, mengkoordinir, mengembangkan sistem komunikasi dan jaringan, Bidang Pengawas Closed Circuit Television (CCTV) bertugas dalam memonitoring setiap kegiatan yang terekam dalam CCTV.

Pada PT.Pertamina RU III Palembang dalam pengolahan data laporan sudah menggunakan sistem aplikasi yang diatur oleh Divisi IT (Information Technology). Adapun dalam pengolahan data laporan ini membahas tentang laporan-laporan yang ada pada bagian IT yang diperuntukan sebagai data yang diberikan kepada manager. Seperti laporan absen bulanan, laporan cuti bulanan, dan lain-lain.

Di bagian Information Technology (IT Area) pada PT.PERTAMINA RU III Plaju sistem yang dilakukan sudah sepenuhnya terkomputerisasi, namun penulis mengamati suatu program yang terdapat di bagian IT tersebut, yaitu “Aplikasi IT Reporting pada PT.Pertamina RU III Palembang”.

METODE PENGUMPULAN DATA

Adapun metode dalam pengumpulan data penulis menggunakan beberapa cara untuk mendapatkan data, antara lain adalah :

Field Research: Yaitu  data informasi yang di peroleh secara langsung dari PT. Pertamina RU III Palembang. Adapun cara yang digunakan untuk mengumpulkan data primer dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut :

  1. Metode Wawancara: Pengumpulan data dengan cara wawancara secara langsung dengan Pegawai PT.Pertamina RU III Palembang, dengan tujuan untuk mengetahui informasi yang ada di PT.Pertamina RU III tersebut.
  2. Metode Observasi: Yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan peninjauan langsung terhadap objek penelitian dibagian IT, sehingga mendapatkan data yang relevan.
  3. Metode Kepustakaan : data yang di ambil dari buku-buku ilmu pengetahuan yang di dapat penulis baik berasal dari buku referensi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, media cetak maupun media elektronik.

Library Research, Yaitu suatu metode pengumpulan data yang dilaksanakan dengan cara membaca dan mempelajari buku-buku literatur yang ada hubungannya dengan masalah pembahasan dalam penyusunan tugas akhir ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Analisis Sistem Berjalan

Dalam proses pengolahan data laporan yang ada pada IT RU III PT Pertamina (Persero) Plaju Palembang, dimulai dari login, memilih jenis laporan, mengupload ke dalam aplikasi IT Reporting, serta memberikan laporan kepada Manager IT untuk melihat segala jenis laporan yang ada di IT Area RU III PT. Pertamina RU III Plaju Palembang. Berikut ini adalah bagan proses pengolahan data IT Reporting.

1. Menu Halaman Awal

Pada saat program dijalankan akan ada tampilan menu login yang berfungsi sebagai menu awal ketika akan masuk kedalam program.

Gambar di atas adalah menu awal dari proses aplikasi IT Reporting Pada PT. Pertamina RU III Palembang. Proses tersebut dapat diakses oleh admin dan pimpinan. Aplikasi ini hanya dapat diakses dengan melewati portal Pertamina RU III Palembang. Hal itu dilakukan karena pentingnya keamanan data-data perusahaan yang bersifat pribadi.

2. Menu  Setelah Login

Gambar di atas adalah menu setelah kita mengakses menu login dari aplikasi IT Reporting Pada PT. Pertamina RU III Palembang. Di dalam menu ini terdapat lima menu utama diantaranya adalah View, Upload, Admin, Ubah password, dan menu keluar. Proses di atas juga bisa dikatakan pengantar dari keseluruhan dari menu-menu yang ada pada aplikasi IT Reporting yang diakses oleh admin dan pimpinan.

3. Menu View

Menu View berfungsi untuk menampilkan seluruh laporan yang ada pada aplikasi IT Reporting PT. Pertamina RU III Palembang. Dengan penggunaan  tanda warna hijau untuk laporan yang sudah diupload, dan yang merah adalah laporan yang belum dimasukkan ke aplikasi IT Reporting.Dalam pengaksesan data, admin dan pimpinan bisa melihat menu view tersebut.

4. Menu Upload

Menu Upload adalah menu yang berfungsi untuk memasukkan atau mengentrikan suatu data untuk dijadikan laporan yang hanya dapat diakses oleh admin. Karena isi dari laporan ini bersifat privasi perusahaan. Pada penginputan data laporan ini terdapat beberapa field seperti Jenis Laporan, Bulan, Tahun, dan File. Setelah proses Upload dilakukan, pimpinan dapat melihat laporan dalam aplikasi ini.

5.  Menu Download

Menu download berfungsi untuk melihat isi dari data yang telah diupload oleh admin yang diberikan kepada pimpinan dalam bentuk laporan dengan cara mengklik link download. Menu ini hanya dapat diakses oleh pimpinan.

6.  Menu Admin

Menu Admin berfungsi untuk manambahkan, mengedit, dan menghapus jenis laporan yang ada pada aplikasi IT Reporting. Dengan cara memilih Record yang akan diubah. Admin juga dapat bisa menambahkan atau menghapus user yang dapat mengakses aplikasi ini.

7.   Menu Ubah Password

Menu Ubah Password berfungsi untuk mengedit Username, Password, Role, dan Filter yang ada pada aplikasi IT Reporting. Para admin, user, dan pimpinan dapat mengubah username dan password mereka di dalam menu ini. Dengan adanya menu ini para user bisa memperbarui data login mereka untuk terjaminnya isi dari aplikasi IT Reporting pada PT. Pertamina RU III Palembang.

8.  Menu Keluar Admin

3.2.1     Kelebihan dan Kekurangan

Setelah melakukan serangkaian penelitihan pada PT. Pertamina RU III Palembang terdapat kelebihan dan kekurangan dalam sistem pengolahan data aplikasi IT Reporting adalah sebagai berikut :

3.2.1.1  Kelebihan

Adapun kelebihan yang didapat dari hasil analisis PIECES pada aplikasi IT Reporting adalah :

  1. 1. Performence

Dalam sebuah sistem terdapat penyimpanan data dan ketepatan waktu yang sudah  maksimal dan semua proses data dilakukan tidak menggunakan waktu yang lama karena sudah menggunakan sistem komputerisasi.

  1. 2. Information

Sistem ini sudah mempunyai keakuratan dalam pengolahan dan pengaksesannya, tepat waktu dalam penyampaiannya. Karena data laporan IT ini sudah tersimpan dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan yang ada.

  1. Economy, Dengan adanya sistem ini, dalam analisis ekonomi sudah memberikan penghematan operasional dalam perusahaan dalam jangka panjang.
  2. Control, Pengaksesan dan keamanan data dalam sistem ini sudah baik, ditambah lagi aplikasi ini hanya bisa diakses melalui intranet.
  3. Effisiensi, Sistem berbasis komputer sehingga menjadikan pekerjaan lebih efisien karena dokumentasi dilakukan secara otomatis dan memerlukan ruang penyimpanan data yang lebih sedikit.
  4. Service, Tingkat pelayanannya sudah baik karena dalam pengolahan dan pengaksesan data bisa langsung dibuka jika sewaktu-waktu akan dibutuhkan.

3.2.1.2  Kekurangan

Adapun kekurangan dari hasil analisis PIECES dalam proses pengolahan data IT Reporting pada PT. Pertamina RU III Palembang sebagai berikut:

1. Performence, Dalam aplikasi ini masih memiliki kekurangan, seperti diperlukannya scanning yang dilakukan diluar sistem. Sehingga masih membutuhkan waktu untuk melakukan proses tersebut.

2. Information, Sistem ini masih mempunyai kekurangan dalam keakuratan waktu upload laporan. Admin sering terlambat memasukkan laporan-laporan baru yang seharusnya ada setiap bulannya.

3.Economy, Dalam hal ekenomi, aplikasi ini masih menbutuhankan mesin scanner yang membuat biaya pengeluaran perusahaan kurang maksimal.

4.Control, Pengaksesan dan keamanan data dalam sistem ini masih terdapat kekurangan, karena banyaknya admin yang bisa mengakses aplikasi ini. Lebih efisien bila  hanya ada 2 atau 3 admin yang bertanggung jawab atas aplikasi ini.

5. Effisiensi, Sistem ini masih kurang maksimal, karena admin masih harus melakukan scanning untuk mengubah data menjadi file yang selanjutnya dimasukkan ke dalam aplikasi IT Reporting.

6. Service, Dalam hal pelayanan, sistem aplikasi tidak dapat mengontrol apabila terjadi kekurangan data yang dimasukkan oleh admin, sehingga pengolahan data dan penyajiannya kembali sebagai informasi menjadi kurang akurat.

KESIMPULAN

Berdasarkan yang telah dilakukan dan sudah diuraikan dalam laporan tentang analisis aplikasi IT Reporting pada PT. Pertamina RU III Palembang sebagai pengolahan data laporan , maka saya dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. PT. Pertamina RU III Palembang dalam melakukan pengolahan data laporan sudah menggunakan aplikasi yang telah terkomputerisasi dan memiliki basis data yang tersimpan dengan baik serta sesuai degan kebutuhan yang ada. Aplikasi tersebut diberi nama aplikasi IT Reporting.
  2. Kelebihan Dalam aplikasi IT Reporting ini adalah memiliki performance yang baik, information yang akurat, economy sudah mengurangi beban kerja dan biaya operasional, keamanan data dapat terjamin dan  tingkat pelayanannya sudah baik.  Disamping kelebihan yang ada, aplikasi ini memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki. Seperti keakuratan waktu, pendektesian kesalahan pada saat memasukkan data, dan lain-lain. Oleh sebab itu walaupun aplikasi IT Reporting ini sudah sangat baik dan membantu jalan kerja pegawai, namun masih dibutuhkan pembaharuan di dalam aplikasi ini. Demi pengoptimalan suatu sistem yang ada pada PT. Pertamina RU III Palembang.

SARAN

Berdasarkan kesimpulan yang telah disajikan terlebih dahulu, maka ada beberapa saran yang semoga dapat bermanfaat dan memaksimalkan sistem yang telah dijalankan antara lain :

1.   Untuk meminimalisir terjadinya input data yang tidak lengkap dari user, sebaiknya di form penginputan data dibuat sebuah MessageBox yang akan muncul apabila user memasukkan data yang tidak lengkap.

2.   Sebaiknya sistem dipelihara dan evaluasi secara rutin sehingga dapat diketahui apakah perlu adanya perbaikan atau penyempurnaan kembali aplikasi agar proses pengolahan data IT Reporting dapat berjalan dengan lancar

DAFTAR PUSTAKA

Febrian, Jack. 2004.  Pengetahuan Komputer dan Teknologi Informasi.  Bandung : Informatika.

Jogiyanto. 2005. Pengenalan Komputer.  Yogyakarta : Penerbit  Andi.

Supriyanto, Aji. 2005. Pengantar Teknologi Informasi.  Jakarta : Salemba Infotek.

Febrian, Jack dan Andayani Farida. 2002. Kamus Komputer dan Istilah Teknologi Informasi. Bandung : Informatika.

Sudarmo, Panji. 2006. Kamus Istilah Komputer, Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung : Yrama Widya

Winarmo, Wahyu. 2003. Teknologi Komputer Dalam Bisnis. Yogyakarta : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi.

http://internet-web.infogue.com/pengertian_web.diakses tanggal 30/5/2012.

http://aderiska-pilyang.blogspot.com/2011/06/pengertian-laporan.html.diakses tanggal 30/5/2012.

http://haididglow.wordpress.com/2012/04/04/pengertian-flowchart/.diakses tanggal 2/6/2012.

http://lennysweet90.blogspot.com/2012/02/analisis-web-portal-debganmenggunakan.html.diakses tanggal 2/6/2012.

PEMANFAATAN E-LEARNING SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

Fri ,20/01/2012

PEMANFAATAN E-LEARNING SEBAGAI

MEDIA PEMBELAJARAN

OLEH

A. YANI RANIUS, S.KOM., M.M

FAKULTAS ILMU KOMPUTER

PROGRAM STUDI MANAJEMEN INFORMATIKA

UNIVERSITAS BINA DARMA PALEMBANG

2011

ABSTRAK

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi (TI) yang semakin pesat, kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar berbasis TI menjadi tak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan       e-learning ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, Puas secara isi (content) dan sistemnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengerahui bagaimana pemanfaatan e-learning sebagai media pembelajaran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Universitas Bina Darma Palembang yang dikaji berdasarkan karakteristik             e-learning yang terdiri dari Non-linearity, Self-managing,  Feedback-interactivity, Multimedia-Leaners style, Just in Time, Dynamic Updating, Easy Accesibility dan Colaborative Learning. Penelitian ini menggunakan desain deskriftif dengan menggunakan kuisioner sebagai instrumen penelitian. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 100 responden dengan populasi mahasiswa program studi Sistem Informasi semester 5 (lima). Dari hasil analisa dan pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini didapat kesimpulan bahwa kondisi pemanfaatan    e-learning sebagai media pembelajaran di Universitas Bina Darma berada pada kondisi Cukup Puas dengan tingkat persentase sebesaar 60%. Dimana dari delapan karakteristik yang ada  karakteristik Non-linearity, Self-managing, Just in Time, dan Easy Accesibility yang sudah Cukup Puas kondisinya. Sedangkan karakteristik  Feedback-interactivity, Multimedia-Leaners style, Dynamic Updating, dan Colaborative Learning belum Puas kondisinya.

Kata kunci        : Teknologi informasi, e-learning,

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan teknologi informasi (TI) yang sangat pesat membawa dampak yang begitu besar bagi pola hubungan antar individu, antar komunitas, bahkan antar negara atau bangsa. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi ini telah mengubah pemikiran baru di masyarakat, peran ilmu pengetahuan sangatlah menonjol yang menuntut sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang tinggi dalam mengikuti perkembangan teknologi dan informasi. Sehingga  tidak terjadi ketimpangan antara perkembangan ilmu pengetahuan yang didukung perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan  kemampuan Sumber Daya Manusia yang ada.

Pada studinya tentang tujuan pemanfaatan TI dibeberapa perguruan tinggi terkemuka di Amerika, Alavi dan Gallupe (2003) dalam Fathul Wahid (2007) menemukan beberapa tujuan pemanfaatan TI yaitu  (1) memperPuasi competitive positioning; (2) meningkatan brand image; (3) meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran; (4) meningkatkan kepuasan mahasiswa; (5) meningkatkan pendapatan; (6) memperluas basis mahasiswa; (7) meningkatkan kualitas pelayanan; (8) mengurangi biaya operasi; (9) mengembangkan produk dan layanan baru.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar (pendidikan) berbasis TI menjadi tak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan e-learning ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, Puas secara isi (content) dan sistemnya. Saat ini konsep e-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-learning di lembaga pendidikan (sekolah, training dan universitas) maupun industry (Cisco, IBM, Oracle, dsb).

http://warto.wordpress.com

Berbagai pengertian tentang e-learning saat ini sebagian besar meggacu pada pembeajaran yang menggunakan teknologi internet. Seperti pengertian dari  Rosenberg menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Cambell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menggunakan media internet dalam pendidikan sebagai hakikat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi internet.

Universitas Bina Darma (UBD) sebagai salah satu institusi yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan dalam proses mencapai visi dan misinya menjadi perguruan tinggi yang menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berstandar internasional. Ada banyak aturan dan kebijakan yang ditegakan, salah satunya proses pembelajaran secara online dengan menggunakan fasilitas e-learning sebagai media pembelajaran alternatif. Sejauh ini penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran dilingkungan UBD dapat dikatakan Puas dan diterima dengan Puas juga oleh para dosen dan mahasiswa. Dari pihak manajemen UBD sendiri dalam rangka memotivasi khususnya para dosen, maka disetiap akhir semester aktivitas para dosen dalam menggunakan e-learning di nilai dan diberikan apresiasi bagi dosen yang tergolong aktif dan dengan Puas menggunakan e-learning dalam proses pembelajaran

Mengacu pada situasi dan kondisi penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran di lingkungan UBD, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai tingkat kepuasan mahasiswa dan dosen UBD dalam menggunakan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, dirumuskan beberapa  permasalahan sebagai berikut :

  1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kepuasan mahasiswa dan dosen terhadap penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma Palembang ?
  1. Bagaimana tingkat kepuasan mahasiswa terhadap penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma Palembang?
  2. Bagaimana tingkat kepuasan dosen terhadap penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma Palembang?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

  1. Menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan dosen dan mahasiswa terhadap penggunaan  e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma Palembang.
  2. Mengetahui tingkat kepuasan mahasiswa terhadap penggunaan  e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma Palembang.
  3. Mengetahui tingkat kepuasan mahasiswa terhadap penggunaan  e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma Palembang.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun  manfaat penelitian ini adalah :

  1. Dengan diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan mahasiswa dan dosen terhadap penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif, maka dapat ditetapkan peraturan serta kebijakan oleh pihak institusi dalam menunjang peningkatkan faktor-faktor yang dinyatakan belum memuaskan.
  2. Meningkatkan kepuasan dosen dan mahasiswa dalam penggunaan            e-learning sebagai media pembelajaran  alternatif dalam proses pendidikan terutama proses belajar mengajar di Universitas Bina Darma Palembang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 E-learning

Dikatakan oleh Darin E. Hartley bahwa: e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain. Nugraha (2007) mengutif dari LearnFrame.Com dalam Glossary of e-learning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa:           e-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer maupun komputer stand alone.

Pengertian e-learning yang sederhana namun mengena dikatakan oleh Maryati S.Pd. dalam Nugraha (2007), e-learning terdiri dari dua bagian yaitu e- yang merupakan singkatan dari elektronika dan learning yang berarti pembelajaran. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, khususnya perangkat komputer. Terdapat kata “khususnya komputer” pada akhir kalimat yang memberi pengertian bahwa komputer termasuk alat elektronik disamping alat pembelajaran elektronik yang lain.

Komponen- komponen yang membentuk e-learning adalah:

  1. Infrastruktur e-learning: Infrastruktur e-learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk didalamnya peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning melalui teleconference.
  2. Sistem dan Aplikasi e-learning: Sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management System (LMS). LMS banyak yang opensource sehingga bisa kita manfaatkan dengan mudah dan murah untuk dibangun di sekolah dan universitas kita.
  3. Konten e-learning: Konten dan bahan ajar yang ada pada e-learning system (Learning Management System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa). Biasa disimpan dalam Learning Management System (LMS) sehingga dapat dijalankan oleh siswa kapanpun dan dimanapun. (http://romisatriawahono.net/2008/01/23/meluruskan-salah-kaprah-tentang-e-learning/ )

Selanjutnya sebagai suatu sistem yang menggabungkan beberapa konsep dan teori pembelajaran, maka e-learning memiliki karakteristik, diantaranya adalah:

  1. Non-linearity, Pemakai (user) bebas untuk mengakses objek pembelajaran dan terdapat fasilitas untuk memberikan persyaratan tergantung pada pengetahuan pemakai.
  2. Self-managing, Dosen dapat mengelola sendiri proses pembelajaran dengan mengikuti struktur yang telah dibuat.
  3. 3. Feedback-Interactivity, Pembelajaran dapat dilakukan dengan interaktif dan disediakan feedback pada proses pembelajaran.
  4. 4. Multimedia-Learners style, E-learning menyediakan fasilitas multimedia. Keuntungan dengan menggunakan multimedia, siswa dapat memahami lebih jelas dan nyata sesuai dengan latar belakang siswanya.
  5. 5. Just in time, E-learning menyediakan kapan saja jika diperlukan pemakai, untuk menyelesaikan permasalahan atau hanya ingin meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.
  6. 6. Dynamic Updating, Mempunyai kemampuan memperbaharui isi materi secara online pada perubahan yang terbaru.
  7. 7. Easy Accessibility/Access Ease, Hanya menggunakan browser (dan mungkin beberapa device yang terpasang).
  8. 8. Collaborative learning, Dengan tool pembelajaran memungkinkan bisa saling interaksi, maksudnya bisa berkomunikasi secara langsung pada waktu yang bersamaan (synchronous) atau berkomunikasi pada waktu yang berbeda (asynchronous). Pemakai bisa berkomunikasi dengan pembuat materi, siswa yang lain. (Team, Univ. Utrech&UNPAD, 2004)

2.2 Paradigma Mengajar dan Belajar

Pembelajaran pada hakekatnya adalah kegiatan guru dalam membelajarkan siswa, ini berarti bahwa proses pembelajaran adalah membuat atau menjadikan siswa dalam kondisi belajar. Siswa dalam kondisi belajar dapat diamati  dan dicermati melalui indikator aktivitas yang dilakukan, yaitu  perhatian fokus, antusias, bertanya, menjawab, berkomentar, presentasi, diskusi, mencoba, menduga, atau menemukan. Sebaliknya siswa dalam kondisi tidak belajar adalah kontradiksi dari aktivitas tersebut, mereka hanya berdiam diri, beraktivitas tak relevan, pasif, atau menghindar. (http://educare.e-fkipunla.net).

Sedangkan menurut Fox, seorang ahli pendidikan dari Inggris, menemukan bahwa guru-guru mendefinisikan tujuan mengajar berbeda-beda. Dia mengelompokkan definisi-definisi itu ke dalam empat kategori, yaitu: transfer, shaping, travelling, dan growing (dalam Celdic, 1995:23). Berikut adalah penjelasannya:

  1. Transfer. Dalam model ini, mengajar dilihat sebagai proses pemindahan pengetahuan (process of transferring knowledge) dari seseorang (guru) kepada orang lain (siswa). Siswa (anak) dipandang sebagai wadah yang kosong (empty vessel), dan jika pengetahuan tidak berhasil ditransferkan masalahnya cenderung dilihat sebagai kesalahan siswa.
  2. Shaping. Pengajaran merupakan proses pembentukan siswa pada bentuk-bentuk yang ditentukan. Di sini siswa diajar keterampilan-keterampilan dan cara-cara bertingkah laku yang dianggap bermanfaat bagi mereka. Minat dan motif siswa hanya dianggap penting sepanjang membantu proses pembentukan tersebut.
  3. Travelling. Dalam model ini pengajaran dilihat sebagai pembimbingan siswa melalui mata pelajaran. Mata pelajaran dipandang sebagai sesuatu yang menantang dan kadang-kadang sulit untuk dieksplorasi.

4. Growing. Model ini memfokuskan pengajaran pada pengembangan kecerdasan, fisik, dan emosi siswa. Tugas guru adalah menyediakan situasi dan pengalaman untuk membantu siswa dalam perkembangan mereka. Ini merupakan model yang berpusat pada siswa (a child-centred model), di mana mata pelajaran penting, tidak sebagai tujuan, tetapi sepanjang sesuai dengan kebutuhan siswa dan berada dalam minat siswa.

2.3 Media Pembelajaran

Kata “media” berasal dari bahasa Latin “medium” yang berarti “perantara” atau “pengantar”. Lebih lanjut, media merupakan sarana penyalur pesan atau informasi belajar yang hendak disampaikan oleh sumber pesan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut (Rahardjo, 1986:47). Dalam kegiatan belajar-mengajar, sumber pesan adalah guru dan penerima pesan adalah murid. Pada proses pembelajaran, media pengajaran merupakan wadah dan penyalur pesan dari sumber pesan, dalam hal ini guru, kepada penerima pesan, dalam hal ini siswa. Dalam batasan yang lebih luas, Miarso (dalam Rahardjo, 1986:48) memberikan batasan media pengajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga mendorong tedadinya proses belajar pads diri siswa. Sejalan dengan pendapat di atas, Ely (dalam Danim, 1994:13) menyebutkan manfaat media dalam pengajaran adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan mutu pendidikan dengan cara meningkatkan kecepatan belajar (rate of learning), membantu guru untuk menggunakan waktu belajar siswa secara Puas, mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi dan membuat aktivitas guru lebih terarah untuk meningkatkan semangat belajar
  2. Memberi kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan memperkecil atau mengurangi kontrol guru yang tradisional dan kaku, memberi kesempatan luas kepada anak untuk berkembang menurut kemampuannya serta memungkinkan mereka belajar menurut cara yang dikehendakinya.
  3. Memberi dasar pengajaran yang lebih ilmiah dengan jalan menyajikan/merencanakan program pengajaran yang logic dan sistematis, mengembangkan kegiatan pengajaran melalui penelitian, Puas sebagai pelengkap maupun sebagai terapan.
  4. Pengajaran dapat dilakukan secara mantap karena meningkatnya kemampuan manusia untuk memanfaatkan media komunikasi, informasi dan data secara lebih konkrit dan rasional.
  5. Meningkatkan terwujudnya kedekatan belajar (immediacy learning) karena media pengajaran dapat menghilangkan atau mengurangi jurang pemisah antara kenyataan di luar kelas dan di dalam kelas serta memberikan pengetahuan langsung.
  6. Memberikan penyajian pendidikan lebih luas, terutama melalui media massa, dengan jalan memanfaatkan secara bersama dan lebih luas peristiwa¬peristiwa langka dan menyajikan informasi yang tidak terlalu, menekankan batas ruang dan waktu. (http://mfadil.blog.unej.ac.id/pemanfaatan-media-pempelajaran/)

2.4 Konsep Kepuasan

Kepuasan (satisfaction) berasal dari bahasa latin. satis artinya enough atau cukup, dan facere berarti to do atau melakukan. Jadi produk atau jasa yang bisa memuaskan adalah produk dan jasa yang sanggup memberikan sesuatu yang dicari oleh konsumen pada tingkat cukup. Oliver mendefinisikan : kepuasan adalah tingkat respon pemenuhan dari konsumen. kepuasan adalah hasil dari penilaian dari konsumen bahwa produk atau pelayanan telah memberikan tingkat kenikmatan dimana tingkat pemenuhan ini bisa lebih atau kurang. Kotler mendefinisikan kepuasan menjadi “… a person’s feeling of pleasure or disappoinment resulting from comparing a product’s received performance (or outcome) in relations to the person’s expectation“.
jadi kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang sebagai hasil dari perbandingan antara prestasi atau produk yang dirasakan dan diharapkan.

Teori kepuasan menekankan pemahaman faktor-faktor dalam individu yang menyebabkan mereka bertindak dengan cara tertentu (Wirawan, 1994). Individu mempunyai kebutuhannya sendiri sehingga ia dimotivasi untuk mengurangi atau memenuhi kebutuhan tersebut, artinya individu akan bertindak atau berperilaku dengan cara yang menyebabkan kepuasan kebutuhannya (Stoner, 1986 dikutip oleh Wirawan 1994).

Kepuasan adalah tingkat keadaan yang dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari membandingkan penampilan produk yang dirasakan dalam hubungannya dengan harapan seseorang. Dengan demikian tingkat kepuasan adalah suatu fungsi dari perbedaan antara penampilan yang dirasakan dan harapan. (http://nursingbegin.com/konsep-dasar-kepuasan-klien/)

2.5 Kerangka Konseptual Penelitian

Kerangka konseptual penelitian adalah suatu model Puas yang digambarkan berupa suatu diagram maupun ditulis dalam bentuk persamaan matematis tentang bagaiman teori-teori dikaitkan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah penelitian. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana tingkat kepuasan mahasiswa dan dosen terhadap penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma Palembang, dimana tingkat kepuasan akan diukur dengan menggunakan faktor-faktor dikaji berdasarkan karakteristik e-learning menurut Team, Univ. Utrech & UNPAD (2004), antara lain :

  1. 1. Non-linearity, bagaimana kebebasan pemakai (user) dalam mengakses objek pembelajaran.
  2. 2. Self-managing, bagaimana kemampuan dosen dalam mengelola sendiri proses pembelajaran dengan mengikuti struktur yang telah dibuat.
  3. 3. Feedback-Interactivity, bagaimana pembelajaran dapat dilakukan dengan interaktif dan disediakan feedback pada proses pembelajaran.
  4. 4. Multimedia-Learners style, bagaimana e-learning menyediakan fasilitas multimedia.
  5. 5. Just in time, bagaimana e-learning menyediakan kapan saja jika diperlukan pemakai, untuk menyelesaikan permasalahan atau hanya ingin meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.
  6. 6. Dynamic Updating, bagaimana pembaharuan isi materi secara online pada perubahan yang terbaru.
  7. 7. Easy Accessibility/Access Ease, bagaimana kemudahan akses dan proses e-learning.
  8. 8. Collaborative learning, bagaimana interaksi e-learning maksudnya bisa berkomunikasi secara langsung pada waktu yang bersamaan (synchronous) atau berkomunikasi pada waktu yang berbeda (asynchronous). Pemakai bisa berkomunikasi dengan pembuat materi, siswa yang lain.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif yang bersifat eksploratif dengan tujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena. Penelitian ini akan  memaparkan bagaimana tingkat kepuasan mahasiswa dan dosen terhadap e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma serta menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan terhadap e-learning tersebut.

3.2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Universitas Bina Darma Palembang yang beralamat di jalan A. Yani No.12 Plaju Palembang.

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa dan dosen dari Fakultas Ilmu Komputer dan Fakultas Non Komputer Universitas Bina Darma. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah metode non probability dengan purposive random sampling. Purposive Random Sampling digunakan dengan cara menetapkan sampel penelitian dimana peneliti menentukan responden berdasarkan anggapan bahwa informasi dapat memberikan data pasti, lengkap, dan akurat. Teknik Random sampling digunakan dengan cara menetapkan sampel yang semua anggotanya memiliki peluang sama dan tidak terikat oleh apa pun untuk dimasukkan ke dalam sampel penelitian.

Menurut pendapat Champion dan AA.K. Baila menyatakan bahwa sampel cukup valid untuk dianalisis secara statistic sedikitnya diperlukan 30 sampai 100 responden (Manase malo : 268). Berdasarkan pendapat ini, maka dalam penelitian ini sampel yang digunakan sebanyak 100 orang yang terdiri dari 50 mahasiswa dan 50 orang dosen yang berasal dari Fakultas Ilmu Komputer dan Fakultas Non Komputer.

3.4. Defenisi Operasional

Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data tentang tingkat kepuasan mahasiswa dan dosen terhadap e-learning dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan e-learning di Universitas Bina Darma. Selanjutnya semua data di klasifikasikan ke dalam indikator-indikator yang akan di konstruksikan dalam instrumen penelitian berupa kuisioner. Kemudian kuisioner sebagai instrumen penelitian akan di uji validitas dan reliabilitasnya.

Berikut ini uraian operasional variabel penelitian :

Tabel 3.1 Operasional Variabel Penelitian

Variabel

Dimensi

Indikator

Skala

Pemanfaatan

E-learning sebagai media pembelajaran

Non-linearity
  1. 1. Kebebasan mengakses objek belajar mengajar seperti upload materi dan download materi dan tugas-tugas.
  2. 2. Terdapatnya fasilitas yang menunjang proses pembelajaran dengan menggunakan e-learning ( wireless, kios-K).
Interval
Self-managing
  1. 1. Kemampuan dosen mengelola proses pembelajaran dengan mengikuti struktur yang terdapat pada e-learning.
  2. 2. Kemampuan dosen dalam memutahirkan materi belajar sehingga lebih dapat dimengerti oleh mahasiswa.
Interval
Feedback-Interactivity
  1. 1. Proses pembelajaran dilakukan secara interaktif.
  2. 2. Terdapat feedback dalam proses pembelajaran.
Interval
Multimedia-Learners style

  1. 1. Fasilitas multimedia dalam proses pembelajaran dengan      e-learning.
  2. 2. Fasilitas multimedia mempermudah mahasiswa dalam memahami materri  pembelajaran secara jelas dan nyata.
Interval
Just in time

  1. 1. Sebagai media pembelajaran e-learning dapat  digunakan kapan saja.
  1. 2. Materi pembelajaran yang terdapat di             e-learning dapat menyelesaikan permasalahan dan meningkatan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa.
Interval
Dynamic Updating

  1. 1. Pembaharuan materi secara online
  2. 2. Pembaharuan materi mengikuti perubahan teknologi baru
Interval
Easy Accessibility

  1. 1. Kemudahan mengakses e-learning.
  2. 2. Kemudahan mengakses fasilitas e-learning
Interval
Collaborative learning

  1. 1. Tool pembelajaran yang terdapat pada e-learning memungkinkan terjadinya komunikasi secara langsung Puas pada waktu yang bersamaan maupun berbeda.
  2. 2. Melalui e-learning user dapat berkomunikasi Puas dengan dosen maupun sesama mahasiswa.
Interval

3.5. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini berupa kuisioner dengan menggunakan skala Linkert, dimana variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel yang dapat diukur. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Linkert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. (Syahirman dan Umiyati, 2009).   Pada instrumen penelitian ini semua item pertanyaan yang terdiri dari lima alternatif jawaban sebagai berikut :

– nilai 1 untuk tingkat yang sangat tidak puas

– nilai 2 untuk tingkat yang tidak puas

– nilai 3 untuk tingkat yang cukup puas

– nilai 4 untuk tingkat yang puas

– nilai 5 untuk tingkat yang sangat puas

3.6. Sumber (Jenis) Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara pengamatan lansung di lapangan yang berpedoman pada instrumen penelitian yang sudah ditetapkan. Sedangkan data skunder diperoleh peneliti melalui studi literatur dari berbagai sumber pusaka seperti jurnal (online/offline), buku, laporan serta publikasi yang relevan dengan penelitian ini.

Sedangkan yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah para responden yang masuk sebagai sampel dari populasi yang telah ditetapkan.

3.7. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuisioner, yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden yang menjadi objek penelitian dalam rangka untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana tingkat kepuasan mahasiswa dan dosen dan faktor apa saja yang mempengaruhi kepuasan terhadap e-learning sebagai media pembelajaran di Universitas Bina Darma.

Sebagai instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian, pada kuisioner diberikan petunjuk pengisian supaya berjalan dengan Puas dan sesuai dengan yang diharapkan. Selanjutnya terhadap butir pertanyaan yang terdapat  pada kuisioner akan di uji validitas dan reliabilitas.

Uji Validitas ditujukan untuk menguji sejauh mana alat ukur dalam hal ini dapat mengukur apa yang hendak di ukur. Instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sampai sejauh mana data yang dikumpulkan tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang diteliti.

Dalam survey uji validitas dilakukan dengan mengkorelasikan skor setiap item dengan total skor. Teknik korelasi yang digunakan adalah Pearson Product Moment, dimana instrumen dikatakan valid apabila nilai koefisien korelasinya (r) > r tabel.

Sedangkan Uji Reliabilitas bertujuan untuk mengetahui apakah alat pengumpul data pada dasarnya menunjukan tingkat ketepatan, keakuratan, kestabilan atau konsistensi alat tersebut dalam mengungkapkan gejala tertentu dari sekelompok individu, walaupun dilakukan pada waktu yang berbeda.

Uji reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukurannya dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Singarimbun dan Effendi, 1995). Sedangkan Sugiyono (2002), berpendapat bahwa instrumen dikatakan reliabel adalah instrumen yang jika digunakan beberapa kali dalam waktu yang berbeda untuk mengukur obyek yang sama akan menghasilkan data yang sama.

Dalam penelitian ini uji reliabilitas digunakan Tehnik Alpha Cronbach, dimana suatu instrumen dapat dikatakan reliabel apabila memiliki koefisien keandalan (alpha) > 0,6 (Ari kunto, 1992). (http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/manajemen-keuangan/uji-validitas-dan-uji-reliabilitas).

3.8.Teknik Analisis Data

Terhadap data-data penelitian yang telah terkumpul, maka data-data tersebut akan diklasifikasikan menjadi dua kelompok data yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Terhadap data yang bersifat kulaitatif yaitu yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Selanjutnya data yang bersifat kuantitatif, yang berwujud angka-angka hasil perhitungan atau pengukuran akan diproses dengan cara antara lain :

–         Dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan dipersentasekan. Teknik ini merupakan teknik deskriptif kualitatif dengan persentase.

–         Dijumlahkan, diklasifikasikan kemudian disajikan dalam bentuk tabel serta divisualisasikan dalam bentuk grafik.

Proses analisis yang dijelaskan diatas dalam pengolahan data-datanya menggunakan bantuan software komputer (SPSS dan Mic. Excel).

Mengacu pada perumusan masalah yang telah di tetapkan bahwa terdapat dua rumusan masalah yaitu

  1. Bagaimana tingkat kepuasan mahasiswa dan dosen terhadap e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma.

Untuk menjawab rumusan masalah ini akan dilakukan pengolahan data dan dilanjutkan proses analisa terhadap hasil pengolahan data tersebut dengan merujuk pada kondisi yang ada di Universitas Bina Darma dalam pemanfaatan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif. Apakah sudah sangat memuaskan mahasiswa dan dosen atau belum pelaksanaannya sebagai pemakai.

  1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kepuasan terhadap      e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma.

Untuk menjawab rumusan masalah yang ini akan ditampilkan dalam bentuk persentase faktor mana yang paling dominan yang mendukung kondisi yang terjadi.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian mengenai bagaimana tingkat kepuasan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif dan faktor-faktor yang mempengaruhi yang ditinjau berdasarkan karakteristik e-learning. Untuk melihat bagaimana kondisi yang terjadi serta mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kepuasan e-learning dilakukan dengan mengolah data yang telah dikumpulkan menggunakan kuisioner sebagai instrumen pengumpulan data.

Selanjutnya berdasarkan hasil pengolahan data yang ada akan dilakukan analisa secara menyeluruh dan rinci untuk menghasilkan gambaran kondisiyang terjadi di Universitas Bina Darma dalam pemanfaatan e-learning sebagai media pembelajaran. Untuk faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan mahasiswa dan dosen terhadap e-learning sebagai media pembelajaran akan disajikan dalam bentuk presentase sehingga akan menunjukan faktor mana yang paling dominan dalam menentukan tingkat kepuasan terhadap e-learning sebagai media pembelajaran alternatif.

4.1.1 Karakteristik Respoden

Karakteristik responden dalam penelitian ini antara lain jenis kelamin, fakultas, status, waktu penggunaan internet dalam sehari, dan tempat menggunakan internet.

  1. Jenis Kelamin

Pada tabel dan grafik 4.1 dibawah ini dapat dilihat bahwa dari 50 responden mahasiswa yang ada terdiri dari 27 laki-laki dan 23 perempuan. Sedangkan pada tabel 4.2 dan gambar grafik 4.2 dapat dilihat dari 50 orang responden dosen terdiri dari 32 dosen perempuan dan 18 dosen laki-laki.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Mahasiswa

Berdasarkan Jenis Kelamin

Sumber : Data primer yang telah diolah dengan komputer (program spss versi 12.00)

Gambar 4.1 Grafik Distribusi Frekuensi Responden Mahasiswa

Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Dosen

Berdasarkan Jenis Kelamin

Sumber : Data primer yang telah diolah dengan komputer (program spss versi 12.00)

Gambar 4.2 Grafik Distribusi Frekuensi Responden Dosen

Berdasarkan Jenis Kelamin

  1. Fakultas

Pada tabel 4.3 dan gambar grafik dibawah ini dapat dilihat bahwa dari 50 responden mahasiswa yang ada terdiri dari 23 dari Fakultas Ilmu Komputer dan 27 dari fakultas non komputer . Sedangkan pada tabel dan gambar grafik 4.4 dapat dilihat dari 50 orang responden dosen terdiri dari 20 dosen Fakultas Ilmu Komputer dan 30 dosen dari fakultas non komputer.

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Mahasiswa

Berdasarkan Fakultas

Sumber : Data primer yang telah diolah dengan komputer (program spss versi 12.00)

Gambar 4.3 Grafik Distribusi Frekuensi Responden Mahasiswa

Berdasarkan Fakultas

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Dosen

Berdasarkan Fakultas

Sumber : Data primer yang telah diolah dengan komputer (program spss versi 12.00)

Gambar 4.4 Grafik Distribusi Frekuensi Responden Dosen

Berdasarkan Fakultas

  1. Waktu Penggunaan Internet dalan Sehari

Pada tabel dan gambar grafik 4.5 dibawah ini dapat dilihat waktu penggunaan internet dalam sehari responden mahasiswa 12%  kurang dari 1 jam. Untuk penggunaan internet 1 sampai dengan 2 jam sehari frekuensinya sebesar 16%. Selanjutnya 46% untuk penggunaan internet 2 sampai dengan 3 jam sehari dan 26% untuk penggunaan lebih dari 3 jam sehari dari total responden yang ada.

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Responden Mahasiswa

Berdasarkan Waktu Penggunaan Internet dalam Sehari

Sumber : Data primer yang telah diolah dengan komputer (program spss versi 12.00)

Gambar 4.5 Grafik Distribusi Frekuensi Responden Mahasiswa

Berdasarkan Waktu Menggunakan Internet

Sedangkan untuk responden dosen pada tabel dan grafik 4.6 dapat dilihat waktu penggunaan internet dalam sehari responden mahasiswa 8%  kurang dari 1 jam. Untuk penggunaan internet 1 sampai dengan 2 jam sehari frekuensinya sebesar 14%. Selanjutnya 48% untuk penggunaan internet 2 sampai dengan 3 jam sehari dan 30% untuk penggunaan lebih dari 3 jam sehari dari total responden yang ada.

Dari tabel dan gambar grafik 4.7 diatas menunjukan bahwa frekuensi penggunaan internet 26% dilakukan responden mahasiswa di warung internet, 34% dilakukan di rumah dan 40% dikampus. Sedangkan responden dosen dari hasil pengolahan data dapat dlhat bahwa penggunaan internet  56% dilakukan di kampus, di rumah sebanyak 38% dan sisanya dilakukan di warnet sebanyak 6%.

4.1.2 Analisis Uji Validitas dan Reliabilitas

1. Validitas Alat Ukur

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa validitas menunjukan sejauh mana alat ukur dapat mengukur apa yang diukur. Kuisioner yang peneliti gunakan diuji tingkat validitasnya dengan mengacu pada nilai r-tabel, dimana nilai korelasi yang akan digunakan untuk mengukur validitas ( r bt ) harus positif atau lebih besar. Dalam penelitian ini N = 100, maka r-Tabel dengan taraf signifikan 95% adalah 0.195. Berikut ini adalah tabel korelasi dan hasil analisis validitas alat ukur dari setiap dimensi

Untuk menganalisis variabel penelitian diambil dari skor rata-rata jumlah skor dari dimensi yang ada kemudian membuat interval untuk masing-masing nilai pada setiap dimensi.

Jarak interval (r) ditentukan dengan rumus sebagai berikut :

nMax – nMin

r =

nR

5  –   1

r =                                            =   0.8

5

jadi jarak interval yang digunakan adalah 0.8

4.1.3.1 Responden Mahasiswa

  1. Variabel Kepuasan Penggunaan  e-learning pada dimensi non-linearity

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi non-linearity e-learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner dari responden mahasiswa yang telah diolah

Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Dimensi non-linearity

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

2

5

21

46

26

4%

10%

42%

92%

52%

Pada tabel 4.11 di atas menunjukan bahwa sebanyak 4% responden mahasiswa merasa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatf ditinjau dari dimensi non-linearity Sangat tidak puas, merasa Tidak Puas 10%, 42% Cukup Puas, 92% merasa Puas dan 52% merasa sangat Puas.

  1. Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi self-managing

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi self-managing e-learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Dimensi self-managing

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

12

21

30

28

9

24%

42%

60%

56%

18%

Pada tabel 4.12 di atas menunjukan responden mahasiswa merasa bahwa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatf ditinjau dari dimensi self-managing 24% sangat tidak puas, 42% merasa tidak puas,  Cukup Puas sebesar 60%, 56% merasa Puas dan 18% merasa penggunaan   e-learning sebagai media pembelajaran alternatif sangat Puas.

  1. Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi feedback-interactivity.

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi feedback-interactivity e-learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Dimensi feedback-interactivity

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

22

20

25

26

7

44%

40%

50%

52%

14%

Pada tabel 4.13 di atas menunjukan bahwa sebanyak 44%  merasa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif ditinjau dari dimensi feedback-interactivity Sangat tidak puas, merasa Tidak Puas 40%, 50% Cukup Puas, 52% merasa Puas, dan yang merasa sangat puas sebanyak 14%.

  1. Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi multimedia-leaners style.

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi multimedia-leaners style. e-learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.14 Distribusi Frekuensi Dimensi multimedia-leaners style.

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

33

36

14

11

6

66%

72%

28%

22%

12%

Pada tabel 4.13 di atas menunjukan bahwa sebanyak 66%  merasa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif ditinjau dari dimensi multimedia-leaners style Sangat tidak puas, merasa Tidak Puas 72%, 28% Cukup Puas, 22% merasa Puas dan merasa sangat puas sebanyak 12%.

  1. Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi dynamic updating

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi dynamic updating e-learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.15 Distribusi Frekuensi Dimensi dynamic updating

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

2

9

22

51

16

4%

18%

44%

102%

32%

Pada tabel 4.15 di atas menunjukan bahwa sebanyak 4%  merasa penggunaan e-learning sebagai media alternatif pembelajaran ditinjau dari dimensi dynamic updating Sangat tidak puas, merasa Tidak Puas 18%, 44% Cukup Puas, 102% merasa Puas dan 32% merasa sangat puas.

  1. Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi just in time

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi just in time  e-learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.16 Distribusi Frekuensi Dimensi just in time

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

17

26

42

13

2

34%

52%

84%

26%

4%

Pada tabel 4.16 di atas menunjukan bahwa sebanyak 34%  merasa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif ditinjau dari dimensi just in time Sangat tidak puas, merasa Tidak Puas 52%, 84% Cukup Puas, 26% merasa Puas dan 4% yang merasa sangat puas.

  1. Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi easy accessbility

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi easy accessbility berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.17 Distribusi Frekuensi Dimensi easy accessbility

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

2

10

38

40

10

4%

20%

76%

80%

20%

Pada tabel 4.17 di atas menunjukan bahwa sebanyak 20%  merasa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alterantif ditinjau dari dimensi easy accessbility sangat Puas, merasa Puas 80%, 76% Cukup Puas, dan 20 % merasa Tidak Puas dan yang merasa sangat tdak puas sebanyak 4% dar responden.

  1. Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi collaborative learning

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi collaborative learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.18 Distribusi Frekuensi Dimensi collaborative learning

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

4

9

31

45

11

8%

18%

62%

90%

22%

Pada tabel 4.18 di atas menunjukan bahwa hanya sebanyak 22%  merasa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif ditinjau dari dimensi collaborative learning sangat Puas, merasa Puas 90%, 62% Cukup Puas, 18% merasa Tidak Puas dan 8% Sangat tidak puas.

4.1.3.2 Responden Dosen

1. Variabel Kepuasan Penggunaan  e-learning pada dimensi non-linearity

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi non-linearity e-learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner dari responden dosen  yang telah diolah

Tabel 4.19 Distribusi Frekuensi Dimensi non-linearity

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

5

9

20

40

26

10%

18%

40%

80%

52%

Pada tabel 4.19 di atas menunjukan bahwa sebanyak 10% responden  merasa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatf ditinjau dari dimensi non-linearity Sangat tidak puas, merasa Tidak Puas 18%, 40% Cukup Puas, 80% merasa Puas dan 52% merasa sangat Puas.

  1. Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi self-managing

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi self-managing e-learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.20 Distribusi Frekuensi Dimensi self-managing

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

9

17

35

28

11

18%

34%

70%

56%

22%

Pada tabel 4.20 di atas menunjukan responden mahasiswa merasa bahwa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatf ditinjau dari dimensi self-managing 18% sangat tidak puas, 34% merasa tidak puas,  Cukup Puas sebesar 70%, 56% merasa Puas dan 22% merasa penggunaan   e-learning sebagai media pembelajaran alternatif sangat Puas.

10.  Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi feedback-interactivity.

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi feedback-interactivity e-learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.21 Distribusi Frekuensi Dimensi feedback-interactivity

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

12

19

33

27

9

24%

38%

66%

54%

18%

Pada tabel 4.21 di atas menunjukan bahwa sebanyak 24%  merasa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif ditinjau dari dimensi feedback-interactivity Sangat tidak puas, merasa Tidak Puas 38%, 66% Cukup Puas, 54% merasa Puas, dan yang merasa sangat puas sebanyak 18%.

11.  Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi multimedia-leaners style.

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi multimedia-leaners style. e-learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.22 Distribusi Frekuensi Dimensi multimedia-leaners style.

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

25

28

24

13

10

50%

56%

48%

26%

20%

Pada tabel 4.22 di atas menunjukan bahwa sebanyak 50%  merasa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif ditinjau dari dimensi multimedia-leaners style Sangat tidak puas, merasa Tidak Puas 56%, 48% Cukup Puas, 26% merasa Puas dan merasa sangat puas sebanyak 20%.

12.  Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi dynamic updating

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi dynamic updating e-learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.23 Distribusi Frekuensi Dimensi dynamic updating

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

1

9

22

49

19

2%

18%

44%

98%

38%

Pada tabel 4.23 di atas menunjukan bahwa sebanyak 2%  merasa penggunaan e-learning sebagai media alternatif pembelajaran ditinjau dari dimensi dynamic updating Sangat tidak puas, merasa Tidak Puas 18%, 44% Cukup Puas, 98% merasa Puas dan 38% merasa sangat puas.

13.  Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi just in time

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi just in time  e-learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.24 Distribusi Frekuensi Dimensi just in time

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

15

20

42

14

9

30%

40%

84%

28%

18%

Pada tabel 4.24 di atas menunjukan bahwa sebanyak 30%  merasa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif ditinjau dari dimensi just in time Sangat tidak puas, merasa Tidak Puas 40%, 84% Cukup Puas, 28% merasa Puas dan 18% yang merasa sangat puas.

14.  Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi easy accessbility

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi easy accessbility berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.25 Distribusi Frekuensi Dimensi easy accessbility

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

3

11

34

38

14

6%

22%

68%

76%

28%

Pada tabel 4.25 di atas menunjukan bahwa sebanyak 28%  merasa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alterantif ditinjau dari dimensi easy accessbility sangat Puas, merasa Puas 76%, 68% Cukup Puas, dan 22 % merasa Tidak Puas dan yang merasa sangat tdak puas sebanyak 6% dar responden.

15.  Variabel Pemanfaatan e-learning pada dimensi collaborative learning

Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi dimensi collaborative learning berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Tabel 4.26 Distribusi Frekuensi Dimensi collaborative learning

Skor

Interval

Frekuensi

Persentase

Sangat tidak puas

Tidak Puas

Cukup Puas

Puas

Sangat Puas

1- 1.8

1.9 – 2.6

2.7 – 3.4

3.5 – 4.2

4.3 – 5

4

10

24

45

17

8%

20%

48%

90%

34%

Pada tabel 4.26 di atas menunjukan bahwa hanya sebanyak 34%  merasa penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif ditinjau dari dimensi collaborative learning sangat Puas, merasa Puas 90%, 48% Cukup Puas, 20% merasa Tidak Puas dan 8% Sangat tidak puas.

4.1.4 Deskripsi Variabel Pemanfaatan E-learning Secara Keseluruhan.

Berikut ini akan disajikan penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif dikaji dari seluruh dimensi yang ada, berdasarkan data hasil pengumpulan kuisioner yang telah diolah.

Pada penyajian tabel dibawah ini, dapat di jelaskan bahwa jumlah pertanyaan yang terdapat pada kuisioner berjumlah 16 pertanyaan dari 8 dimensi. Sedangkan alternatif jawaban terhadap pertanyaan terdiri dari 5 alternatif jawaban, yaitu :

– nilai 1 untuk tingkat yang Sangat tidak puas

– nilai 2 untuk tingkat yang Tidak Puas

– nilai 3 untuk tingkat yang Cukup Puas

– nilai 4 untuk tingkat yang Puas

– nilai 5 untuk tingkat yang sangat Puas

Tabel 4.27 Persentase Distribusi Jawaban Responden Mahasiswa

Pertanyaan

Jawaban

Total

Persentase

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

1

2

2

6

21

19

50

4,00

4,00

12,00

42,00

38,00

2

0

3

15

25

7

50

0,00

6,00

30,00

50,00

14,00

3

4

11

18

13

4

50

8,00

22,00

36,00

26,00

8,00

4

8

10

12

15

5

50

16,00

20,00

24,00

30,00

10,00

5

18

12

10

8

2

50

36,00

24,00

20,00

16,00

4,00

6

4

8

15

18

5

50

8,00

16,00

30,00

36,00

10,00

7

18

15

8

7

2

50

36,00

30,00

16,00

14,00

4,00

8

15

21

6

4

4

50

30,00

42,00

12,00

8,00

8,00

9

0

4

12

24

10

50

0,00

8,00

24,00

48,00

20,00

10

2

5

10

27

6

50

4,00

10,00

20,00

54,00

12,00

11

7

14

20

9

0

50

14,00

28,00

40,00

18,00

0,00

12

10

12

22

4

2

50

20,00

24,00

44,00

8,00

4,00

13

2

6

20

18

4

50

4,00

12,00

40,00

36,00

8,00

14

0

4

18

22

6

50

0,00

8,00

36,00

44,00

12,00

15

2

5

15

23

5

50

4,00

10,00

30,00

46,00

10,00

16

2

4

16

22

6

50

4,00

8,00

32,00

44,00

12,00

Total

94

136

223

260

87

800

11,75

17,00

27,88

32,50

10,88

Tabel 4.28 Persentase Distribusi Jawaban Responden Dosen

Pertanyaan

Jawaban

Total

Persentase

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

1

3

4

8

18

17

50

6,00

8,00

16,00

36,00

34,00

2

2

5

12

22

9

50

4,00

10,00

24,00

44,00

18,00

3

4

10

20

10

6

50

8,00

20,00

40,00

20,00

12,00

4

5

7

15

18

5

50

10,00

14,00

30,00

36,00

10,00

5

8

10

15

12

5

50

16,00

20,00

30,00

24,00

10,00

6

4

9

18

15

4

50

8,00

18,00

36,00

30,00

8,00

7

15

10

15

5

5

50

30,00

20,00

30,00

10,00

10,00

8

10

18

9

8

5

50

20,00

36,00

18,00

16,00

10,00

9

1

3

10

24

12

50

2,00

6,00

20,00

48,00

24,00

10

0

6

12

25

7

50

0,00

12,00

24,00

50,00

14,00

11

7

10

22

8

3

50

14,00

20,00

44,00

16,00

6,00

12

8

10

20

6

6

50

16,00

20,00

40,00

12,00

12,00

13

2

8

14

20

6

50

4,00

16,00

28,00

40,00

12,00

14

1

3

20

18

8

50

2,00

6,00

40,00

36,00

16,00

15

2

5

10

25

8

50

4,00

10,00

20,00

50,00

16,00

16

2

5

14

20

9

50

4,00

10,00

28,00

40,00

18,00

Total

74

123

234

254

115

800

9,25

15,38

29,25

31,75

14,38

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian

Pembahasan yang akan disajikan berdasarkan hasil penelitian terhadap penggunaan e-learning Bina Darma secara nyata dikaji dari 8 (delapan) karakteristik e-learning yaitu Non-linearity, Self-managing,  Feedback-interactivity, Multimedia-Leaners style, Just in Time, Dynamic Updating, Easy Accesibility dan Colaborative Learning.

4.2.1        Tingkat Kepuaasan Mahasiswa Terhadap Penggunaan E-learning sebagai

Media Pembelajaran Alternatif di Universitas Bina Darma.

Berdasarkan pada hasil pengolahan data yang telah dilakukan terhadap data yang diperoleh secara langsung dari responden maka dapat dijelaskan bahwa tingkat kepuasan mahasiswa terhadap penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma berada pada kondisi Puas dengan total persentase sebesar 71.25% dengan indikator berupa tingkat persentase sebesar 27.88% Cukup Puas, di dukung dengan persentase kondisi Puas sebesar 32.50% dan kondisi sangat Puas dengan 10.88%.

Namun dalam proses pemanfaatan e-learning sebagai media pembelajaran di Universitas Bina Darma harus terus ditingkatkan  dengan memaksimalkan semua dimensi dari karakteristik e-learning yang ada.

4.2.2   Tingkat Kepuaasan Dosen Terhadap Penggunaan E-learning sebagai

Media Pembelajaran Alternatif di Universitas Bina Darma.

Demikan halnya dengan mahasiswa tingkat kepuasan dosen terhadap penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma berdasarkan hasl pengolahan data berada pada kondisi Puas dengan total persentase sebesar 75.38% dengan indikator berupa tingkat persentase sebesar 29.25% Cukup Puas, di dukung dengan persentase kondisi Puas sebesar 31.75% dan kondisi sangat Puas dengan 14.38%.

4.2.3 E-learning Bina Darma berdasarkan Karakteristik E-learning

1.  Non-Linerity E-learning Bina Darma

Non-Linearity merupakan karakteristik berupa kebebasan pemakai (user) dalam mengakses objek pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan terhadap data yang telah diperoleh dapat dilihat bahwa tingkat kepuasan mahasiswa terhadap dimensi non-linearity e-learning Bina Darma merasa Puas dengan persentase sebesar 92%, yang berarti kebebasan dalam mengakses fasilitas-fasilitas pembelajaran seperti download materi kuliah dan tugas-tugas dari para dosen dapat digunakan oleh para mahasiswa dengan baik. Sedangkan dari responden dosen untuk dimensi non-linearity e-learning Bina Darma juga merasa Puas dengan tingkat persentase sebesar 80%. Dengan kondisi ini mennggambarkan bahwa para dosen merasa puas dengan fasilitas-fasilitas yang terdapat pada e-learning Bina Darma yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran alternatif seperti upload materi mengajar, memberikan asiggment kepada mahasiswa dan fasilitas lainnya.

2.  Self-Managing E-learning Bina Darma

Self-Managing merupakan karakteritik berupa kemampuan dosen dalam mengelola sendiri proses pembelajaran dengan mengikuti struktur yang telah dibuat. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data terhadap data yang telah diperoleh dapat dilihat bahwa self-managing e-learning Bina Darma berada pada kondisi Cukup Puas dengan presentase sebesar 60% yang berarti menurut mahasiswa bahwa kemampuan dosen dalam mengelola dan mengatur proses pembelajaran melalui e-learning dilakukan dengan baik mengikuti struktur yang terdapat pada e-learning. Dari sisi dosen sebagai tenaga pengajar berdasarkan hasil pengolahan data menunjukan tingkat kepuasan sebesar 70% dengan kondisi Cukup Puas, yang dalam hal ini menggambarkan bahwa para dosen sudah dapat mengikuti sturktur yang terdapat pada e-learning Bina Darma.

3.  Feedback-Interactivity E-learning Bina Darma

Feedback-Interactivity merupakan karakteristik berupa bagaimana pembelajaran dapat dilakukan dengan interaktif dan disediakan feedback pada proses pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan terhadap data yang telah diperoleh dapat dilihat bahwa Feedback-Interactivity e-learning Bina Darma dalam kondisi Puas dengan persentase sebesar 52%, dari sisi mahasiswa yang berarti proses pembelajaran melalui e-learning Bina Darma dilakukan secara interaktif dan terdapat feedback dari para dosen. Demikian juga dari sisi dosen dari hasil pengolahan data menunjukan kepuasan pada tingkat Cukup Puas dengan persentase 66%.

4. Multimedia-Learners style E-learning Bina Darma

Multimedia-Learners style merupakan karakteristik berupa ketersediaan fasilitas multimedia dalam e-learning yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran terutama dari phak dosen, seperti menggunakan video, animasi dll.  Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan terhadap data yang telah diperoleh dapat dilihat bahwa multimedia-Learners style e-learning Bina Darma dar sisi mahasiswa merasa Tidak Puas dengan persentase sebesar 72%, yang berarti tidak terdapat fasilitas multimedia dalam e-learning. Sedangkan dari sisi dosen terdapat kondisi yang sama yaitu pada tingkat Tidak Puas dengan persentase sebesar 56%.

5. Just in Time E-learning Bina Darma

Just in Time merupakan karakteristik berupa menyediakan kapan saja jika diperlukan pemakai, untuk menyelesaikan permasalahan atau hanya ingin meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan terhadap data yang telah diperoleh dapat dilihat bahwa para mahasiswa merasa Puas terhadap Just in time e-learning Bina Darma  dengan persentase sebesar 102%, yang berarti kebebasan dalam mengakses e-learning Bina Darma, kapan saja dan dapat membantu dalam kegiatan belajar mahasiswa. Demikan juga halnya dengan para dosen yang juga merasa Puas dengan persentase sebesar 90%.

6.  Dynamic updating E-learning Bina Darma

Dynamic updating merupakan karakteristik berupa bagaimana pembaharuan isi materi secara online pada perubahan yang terbaru. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan terhadap data yang telah diperoleh dapat dilihat bahwa dynamic updating e-learning Bina Darma sudah cukup bak sehingga menurut mahasiswa sudah cukup puas dengan persentase sebesar 84%%, yang berarti pembaharuan isi materi kuliah di e-learning dilakukan oleh para dosen karena berdasarkan data yang diolah para dosen juga merasa cukup puas dengan persentase sebesar 84%.

7. Easy Accessbility E-learning Bina Darma

Easy Accessbility merupakan karakteristik berupa kemudahan dalam mengakses e-learning. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan terhadap data yang telah diperoleh dapat dilihat bahwa easy accessbility e-learning Bina Darma baik menurut mahasiswa maupun dosen sudah Puas dengan persentase sebesar 80% dari responden mahasiswa dan 76% dari sisi dosen. Yang berarti akses terhadap               e-learning Bina Darma dapat dilakukan dengan mudah oleh para mahasiswa dan dosen.

8. Colaborative  Learning E-learning Bina Darma

Colaborative Learning merupakan karakteristik berupa bagaimana interaksi e-learning maksudnya bisa berkomunikasi secara langsung pada waktu yang bersamaan (synchronous) atau berkomunikasi pada waktu yang berbeda (asynchronous). Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan terhadap data yang telah diperoleh dapat dilihat bahwa colaborative learning e-learning Bina Darma sudah berada pada tingkat memuaskan baik mahasiswa maupun dosen dengan persentase sebesar 90% menurut mahasiswa dan dosen, yang berarti melalui e-learning Bina Darma dapat dilakukan komunikasi.

Berikut ini tabel yang menunjukan tingkat kepuasan terhadap        e-learning Bina Darma dari setiap dimensi secara keseluruhan.

Tabel 4.29 Persentase Kondisi 8 Dimensi Karakteristik E-Learning

No.

Karakteristik

E-Learning

Tingkat Kepuasan

Dosen

Tingkat Kepuasan

Mahasiswa

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Non-Linerity

Self-Managing

Feedback-Interactivity

Multimedia-Learners style

Just in Time

Dynamic updating

Easy Accessbility

Colaborative  Learning

Puas

Cukup Puas

Cukup Puas

Tidak Puas

Puas

Cukup Puas

Puas

Puas

Puas

Cukup Puas

Cukup Puas

Tidak Puas

Puas

Cukup Puas

Puas

Puas

Dari penyajian pada tabel 4.29 diatas dapat diketahui bahwa dari delapan dimensi atau faktor dari e-learning Universitas Bina Darma baru empat faktor yang sudah Puas kondisinya yaitu Non-Linerity, Just in Time, dan Easy Accesbility dan Colaborative Learning. Kondisi ini menunjukan bahwa tingkat kepuasan mahasiswa dan dosen terhadap penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif di Universitas Bina Darma untuk faktor kebebasan pemakai (user) dalam mengakses objek pembelajaran, dan waktu terhadap pengaksesan e-learning, kemudahan dalam mengakses e-learning serta pembelajaran secara kolaboratif melalui e-learning berada pada tingkat Puas.

Sedangkan untuk faktor Self-Managing, Feedback-Interactivity, Multimedia-Learners style, dan Colaborative  Learning belum Puas kondisinya.


BAB  V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisa dan hasil pembahasan yang telah dilakukan dikaitkan dengan rumusan masalah dan tujuan yang telah ditetapkan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Tingkat kepuasan mahasiswa terhadap penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif berada pada kondisi Puas, dengan total persentase sebesar 71.25%.
  2. Tingkat kepuasan dosen terhadap penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif berada pada kondisi Puas, dengan total persentase sebesar 75.38 %.
  3. Dari delapan karakteristik sebuah e-learning yaitu Non-linearity, Self-managing,  Feedback-interactivity, Multimedia-Leaners style, Just in Time, Dynamic Updating, Easy Accesibility dan Colaborative Learning, hanya di dimensi Non-linearity, Just in Time, dan Easy Accessibility serta Colaborative Learning berada di kondisi Puas, sedangkan dimensi yang lain masih berada di kondisi cukup dan tidak Puas.

5.2. Saran

Berhubungan dengan simpulan diatas, maka saran yang dapat diberikan sebagai berikut :

  1. Karakterisik e-learning yang belum Puas, untuk lebih ditingkatkan lagi sehingga tujuan dibangun dan digunakannya e-learning sebagai media pembelajaran dapat benar-benar dirasakan oleh civitas Universitas Bina Darma.
  2. Dukungan sepenuhnya dari manajemen Universitas Bina Darma dalam pemanfaatan e-learning sebagai media pembelajaran Puas dalam bentuk instruksi maupun kebijakan.

DAFTAR RUJUKAN

Akbar, Ilham Muhammad, 2008, Blog sebagai media pembelajaran alternatif (online) , (http://mfadil.blog.unej.ac.id/pemanfaatan-media-pempelajaran/ diakses tanggal 5 Novemver 2009)

Ali Muhammad, Sigi Y, dkk, 2008, Studi Penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran alternatif Guru dan Siswa SMK di Yogyakarta (online), (http://www.elektro.uny.ac.id/muhal, diakses tanggal 27 Oktober 2009)

Fathul Wahid., 2007, Teknologi Informasi di Perguruan Tinggi:Peluang dan Tantangan(online), (www.geocities.com diakses tanggal 18 Juni 2009)

Paulus Nidito Adi., Flexible Learning UKSW, (online),

(http:// www.flearn.uksw.edu/course/, di akses tanggal 15 juni 2009)

Roy Sembel., 2004,  yang perlu anda tahu tentang e-learning (online),

(http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2004/0217/man01.html, di akses tanggal 23 juni 2008)

Syahrul, Aini dan Saleh., 2004, Teknologi Informasi dan Pendidikan(online),

(http://educare.e-fkipunla.net, diakses tanggal 23 Juni 2009)

Team, Univ Utrech&UNPAD, Panduan WebCT4.1 Untuk Pengajar, 2004

(http://www.webict.com/e-learning/ 2009)

Wiyono, Teguh., 2004 Cara Mudah Melakukan Analisis Statistik dengan SPSS.

Penerbit. Gava Media. Yogyakarta.

Wahono., 2008, Meluruskan Salah Kaprah tentang e-learning (online).,

(http://romisatriawahono.net/2008/01/23/meluruskan-salah-kaprah-tentang-e-learning/ diakses tanggal 19 juni 2008)

Warto Adi Nugraha., 2009, E-learning VS I-learning (online),

http://ilmukomputer.org/wp-content/uploads/2007/11/warto-e-learning.doc, diakses tanggal 22 Juni 2009)