Uhang Dihi
Anak Rantau

Archive for the ‘Pariwisata’ Category

Benteng Kuto Besak

Mon ,07/03/2016

Dibangun pada abad ke 17, Kuto Besak merupakan warisan Kesultanan Palembang Darussalam yang memerintah pada 1550-1823. Arsitek Benteng tidak diketahui dengan pasti, pelaksanaan pengawasan pekerjaan dipercayakan pada seorang Tionghoa. Semen perekat bata menggunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur. Benteng ini memiliki panjang 288,75 m, lebar 183,75 m, tinggi 9,99 m dan tebal 1,99 m, berfungsi sebagai pos pertahanan. Lokasi Benteng ini baik secara politik dan geografis sangat strategis karena membentuk pulau sendiri, berbatasan dengan sungai musi di sebelah selatan, sungai sekanak di sebelah barat, sungai kapuran di sebelah utara dan sungai tengkuruk di sebelah timur.

Benteng Kuto Besak (http://wisataraya.com)

Berdasarkan catatan sejarah di Balai Arkeologi Kota Palembang, benteng ini pendiriannya memakan waktu 17 tahun (1780-1797). Pembangunan Benteng Kuto Besak diprakarsai Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah 1724-1758. Konstruksinya dimulai pada 1780 selama era Sultan Mahmud Badaruddin. Benteng ini dimaksudkan sebagai sebuah istana yang dibangun untuk menggantikan Keraton Kuto Lamo Tua atau Benteng Kuto Lamo yang luasnya tidak cukup besar. Saat ini, Benteng Kuto Lamo digunakan sebagai Museum Sultan Mahmud Badarudin II. Benteng Kuto Besak akhirnya digunakan secara resmi sebagai pusat pemerintahan Kesultanan dari 21 Februari 1797.

Pesona Pariwisata di Kota Palembang

Mon ,07/03/2016

Palembang sebagai ibu kota Propinsi Sumatera Selatan, punya banyak potensi aset wisata budaya. Kota yang sudah berusia 13 abad lebih ini banyak meninggalkan jejak-jejak sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Secara kronologis, peninggalan itu berasal dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, sampai zaman kolonial Belanda. Dulu perencanaan kota pada masa Sriwijaya umumnya berada di meander Sungai Musi yang berupa tanggul alam atau tanah yang meninggi. Hal ini menunjukkan bahwa Sri Jayanasa menempatkan lokasi pemukiman sesuai dengan kondisi geografis Palembang.
Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, kegiatan kota terpusat di sepanjang tepi Sungai Musi. Sebagian besar aspek pemukiman berlokasi di tepi utara sungai, berupa bangunan keraton, masjid, dan pemukiman rakyat. Rumah tinggal berupa rumah panggung dari bahan kayu atau bambu dan beratap daun kelapa, juga ada rumah rakit yang ditambatkan di tepi Sungai Musi. Setelah dihapuskannya Kesultanan Palembang Darussalam pada tahun 1823, wilayah sekitar Benteng Kuto Besak (BKB) ini dijadikan daerah administrasi Hindia-Belanda yang dipimpin oleh seorang residen. Pada masa ini, BKB yang awalnya tempat tinggal Sultan Palembang, dialihfungsikan menjadi instalasi militer dan tempat tinggal komisaris Hindia-Belanda, pejabat pemerintah, dan perwira militer.

Secara umum, pembangunan Kota Palembang menjadi kota yang modern dilakukan oleh Pemerintah Hindia-Belanda dan dimulai pada awal abad XX M. Berdasarkan UU Desentralisasi yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia-Belanda, Palembang ditetapkan menjadi Gemeente pada 1 April 1906 dengan Stbl No.126 dan dipimpin oleh seorang burgemeester, yang dalam struktur pemerintahan sekarang setara dengan walikota. Meskipun demikian, burgemeester pertama Kota Palembang baru diangkat tahun 1919, yaitu LG Larive.

https://www.facebook.com/permalink.php?id=112142165617814&story_fbid=121898837975480

Prasasti Bukit Kedukan

Mon ,07/03/2016

The Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh Belanda M. Batenburg pada 29 November 1920 di Bukit Kedukan , Sumatera Selatan, Indonesia di tepi Sungai Tatang, anak sungai dari Sungai Musi. Ini adalah spesimen tertua dari bahasa Melayu, dalam bentuk yang dikenal sebagai Old Melayu. [1] Ini adalah batu kecil 45 oleh 80 cm. Prasasti ini tanggal tahun 11, 02, 605 Saka (1, 05, 683 AD) dan berisi banyak kata-kata bahasa Sansekerta.
George Coedes menyatakan prasasti mengatakan, bahwa pada tanggal 23 April, 682, raja mulai ekspedisi (siddha yatra) dengan perahu, yang pada tanggal 19 Mei ia meninggalkan sebuah muara dengan tentara bergerak bersamaan dengan tanah dan laut, dan itu, sebulan kemudian, ia membawa kemenangan, kekuasaan, dan kekayaan untuk Sriwijaya. Raja anonim ini hampir pasti Jayanasa yang mendirikan taman umum dua tahun kemudian, pada tanggal 23 Maret 684, di Talang Tuwo.

https://en.wikipedia.org/wiki/Kedukan_Bukit_inscription

Wisata Palembang

Mon ,07/03/2016

Palembang adalah salah satu kota besar di Indonesia dan merupakan ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan iniĀ  diyakini pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya sebelum kemudian berpindah ke Jambi. Wilayah Bukit Siguntang yang berada di bagian barat Kota Palembang, saat ini tempat tersebut masih dikeramatkan banyak orang dan dianggap sebagai bekas tempat suci di masa lalu. Pemerintah provinsi Sumatera Selatan telah menetapkan daerah tersebut sebagai Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) yang dimaksudkan bahwa tempat tersebut menyimpan nilai-nilai sejarah kerajaan Sriwijaya.

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini berdasarkan prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang. Prasasti ini menyebutkan pendirian sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibu kota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 682 Masehi. Dari tanggal tersebut kemudian dijadikan hari lahir Kota Palembang.