Uhang Dihi
Anak Rantau

Archive for the ‘Proceding’ Category

Evaluasi Manajemen Sistem Informasi Rawat Jalan Pada Rumah Sakit Umum Daerah BARI Palembang

Fri ,04/03/2016

Abstrak. Teknologi informasi adalah contoh dari produk teknologi yang berkembang cepat yang dapat membantu manusia dalam mengolah data dan menyajikan informasi yang berkualitas. Informasi ini diperlukan untuk memberikan media atau alat untuk mengelola berbagai data yang akan disajikan menjadi informasi yang berguna dengan kemasan menarik dan dipandu oleh kriteria kualitas informasi. Penggunaan Sistem Informasi rawat jalan dari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bari Palembang, digunakan sebagai kebutuhan untuk analisis tingkat kualitas sistem informasi yang mudah dipelajari, mudah digunakan dan pengguna sistem sebagai bantuan dalam menyelesaikan pekerjaan. Kegunaan mencerminkan keberhasilan sistem ini diterima oleh pengguna. Prinsip kegunaan yang baik dapat membuat pekerjaan lebih produktif, efektif, efisien, aman dan fungsional. Analisis Discriminant Validity semua nilai rhitung > rtable sebesar 0,217, jadi data dinyatakan valid, Average Variance Extracted (AVE) semua konstruk nilai AVE > 0,50 sebagaimana kriteria yang direkomendasikan, Composite Reliability nilai composite reliability > 0,60 sampai 0,70 menunjukan bahwa semua data reabilitas. Uji Hipotesis semua variabel berhubungan kecuali variabel ERROR terhadap EFFICIENCY t tabel (0.681) atau thitung 0,412 > ttabel 0.681, dan variabel MEMORABILITY terhadap variable EFFICIENCY t tabel (0.681) atau thitung 0.0002 < ttabel 0.681.

Kata Kunci: Information, Sistem, Teknologi, Usabiliti

  1. Pendahuluan

Masing-masing instansi pemerintah atau sektor kesehatan swasta atau sektor lain pasti membutuhkan suatu sistem informasi dalam kegiatannya. Pekerjaan akan menjadi lebih terorganisir dan terfokus dengan waktu lebih efisien. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bari Palembang adalah salah satu rumah sakit yang telah diimplementasikan terkomputerisasi menggunakan peralatan komputer untuk melakukan aktivitas kerja. Sistem informasi yang digunakan untuk administrasi rawat jalan pengolahan data. Sistem informasi yang ada dapat dengan mudah digunakan dan mendorong pengguna untuk menggunakan sistem sebagai bantuan dalam menyelesaikan tugas. Kegunaan mencerminkan keberhasilan sistem yang dapat diterima oleh pengguna.

Antarmuka perangkat lunak yang dirancang dengan prinsip-prinsip Usability yang baik dapat membuat pekerjaan lebih produktif, efektif, efisien, aman dan fungsional. Pekerjaan yang akan lebih mudah diselesaikan dengan interaksi yang baik, sehingga menguntungkan pengguna. Desain antarmuka yang tidak sesuai dapat menyebabkan masalah yang tak terduga dan akhirnya merugikan pengguna. Sebuah perangkat lunak yang tidak memenuhi prinsip-prinsip kegunaan yang tidak akan mudah untuk belajar, sehingga pengguna biasa akan sulit untuk mulai menggunakan perangkat lunak. Perangkat lunak ini juga tidak akan efisien dalam penggunaannya, pengguna akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Perintah pada perangkat lunak yang tidak memenuhi prinsip-prinsip kegunaan tidak akan mudah diingat oleh pengguna.

 

  1. Teori

2.1. Evaluasi

Evaluasi adalah “batas processof, memperoleh, dan memberikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan,” itu adalah proses evaluasi menggambarkan, memperoleh dan memberikan informasi yang berguna untuk merumuskan keputusan alternatif. [1]

 

2.2. Sistem Informasi

Pemahaman tentang sistem adalah kombinasi dari informasi antara prosedur kerja, informasi, orang, dan teknologi informasi yang diselenggarakan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi ‘. [2]

2.3 Administrasi

Administrasi adalah penyusunan dan catatan sistematis dan informasi dengan maksud untuk memberikan informasi serta mudah untuk mendapatkannya kembali secara keseluruhan dan dalam hubungannya satu sama lain. Data dan informasi yang berkaitan dengan kegiatan organisasi, baik internal maupun eksternal. [3]

2.4. Rumah Sakit

Rumah sakit adalah sebuah lembaga yang fungsi utamanya adalah untuk memberikan layanan kepada kesehatan masyarakat. Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas kesehatan sebagai perilaku kesehatan. Upaya kesehatan adalah semua kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. [4]

2.5. Pasien Rawat Jalan

Rawat jalan merupakan salah satu unit di rumah sakit yang melayani pasien rawat jalan dan dengan tidak lebih dari 24 jam pelayanan, termasuk semua prosedur diagnostik dan terapeutik. [5]

2.6. Usability

Usability adalah ukuran seberapa efektif karakteristik yang menggambarkan pengguna untuk berinteraksi dengan produk. Kegunaan juga ukuran seberapa mudah sebuah produk bisa dipelajari dengan cepat dan mudah bagaimana suatu produk dapat digunakan. [6]

2.7. SmartPLS

Pertama dikembangkan oleh Herman Wold (1982). Beberapa metode yang dikembangkan sehubungan dengan Bagian liest Square (PLS) adalah model PLS Regression (PLS-R) dan PLS Jalur Modeling (PLS-PM). PLS Jalur Modeling Square dikembangkan sebagai alternatif untuk struktural equation modeling (SEM) yang merupakan teori dasar lemah. Varian PLS-PM berbasis berbeda dari metode SEM dengan software AMOS, Lisrel, EQS, SmartPLS menggunakan dasar kovarians. [7]

 

  1. 3. Pembahasan dan Kesimpulan

3.1. Pembahasan

Dari hasil pengolahan data kuesioner yang disebar ke 80 sampel diperoleh hasil berupa deskripsi permasing-masing variable. Variable LEARNABILITY berjumlah 64 orang atau 61% yang memilih sangat setuju, 22 orang atau 28% yang memilih setuju, dan 9 orang atau 11% yang memilih cukup setuju, 0 yang memilih dan sangat tidak setuju, dapat disimpulkan variable ini masih dalam kategori sangat setuju oleh responden. Variable EFFICIENCY berjumlah 52 orang atau 65% yang memilih sangat setuju, 23 orang atau 29% yang memilih setuju, dan 5 orang atau 6% yang memilih cukup setuju, 0 yang memilih dan sangat tidak setuju, dapat disimpulkan variable ini masih dalam kategori sangat setuju oleh responden. Variable MEMORABILITY berjumlah 41 orang atau 51% yang memilih sangat setuju, 24 orang atau 30% yang memilih setuju, dan 14 orang atau 18% yang memilih cukup setuju, 1 orang atau 1% yang memilih tidak setuju, dan 0 yang memilih sangat tidak setuju, dapat disimpulkan variable ini masih dalam kategori sangat setuju oleh responden. Variable ERRORS berjumlah 44 orang atau 55% yang memilih sangat setuju, 21 orang atau 26% yang memilih setuju, dan 7 orang atau 9% 0 yang memilih tidak setuju dan sangat tidak setuju, dapat disimpulkan variable ini masih dalam kategori sangat setuju oleh responden. Variable SATISFACTION berjumlah 48 orang atau 60% yang memilih sangat setuju, 22 orang atau 28% yang memilih setuju, dan 10 orang atau 13%, dan 0 yang memilih tidak setuju dan sangat tidak setuju, dapat disimpulkan variable ini masih dalam kategori sangat setuju oleh responden.

3.2. Pengujian Model Struktural (Inner Model)

Pengujian inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat hubungan antara konstruk, nilai signifikansi dan R-square dari model penelitian. Model struktural dievaluasi dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen uji t serta signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural.

3.3. Hasil Penelitian Menunjukan bahwa :

  1. Variabel SATISFACTION sebesar 5% berkorelasi dengan variable EFFICIENCY, variable ERRORS, variable MEMORABILITY.
  2. Variabel ERRORS sebesar 74% berkorelasi dengan variable EFFICIENCY dan variable MEMORABILITY
  3. Variabel EFFICIENCY sebesar 56% berkorelasi dengan variable ERRORS, variable MEMORABILITY, variable SATISFACTION, dan variabel LEARNABILITY
  4. Variabel MEMORABILITY sebesar 65% berkorelasi dengan variable EFFICIENCY
  5. Variabel LEARNABILITY sebesar 100% berkorelasi dengan variable SATISFACTION, variable ERRORS, variable EFFICIENCY dan variable MEMORABILITY.

3.4. Deskripsi Objek Penelitian

Antarmuka perangkat lunak yang dirancang dengan prinsip-prinsip kegunaan yang baik dapat membuat pekerjaan lebih produktif, efektif, efisien, aman dan fungsional. Jumlah kuesioner yang dibagikan dengan jumlah responden sebanyak 80 orang.

  1. Learnability variable

Variabel pengguna terdiri dari 4 butir pertanyaan yang terkelompok. Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi variabel LEARNABILITY berdasarkan hasil pengumpulan kuisioner yang diolah.

Tabel 1 Responden variabel LEARNABILITY

Interval Letter Frek. % Criteria
100% – 84.01% SS 49 61% Sangat Setuju
84.00% – 68.01% S 22 28% Setuju
68.00% – 52.01% CS 9 11% Cukup Setuju
52.00% – 36.01% TS 0 0% Tidak Setuu
36.00% – 20.00% STS 0 0% Sangat Tidak Setuju
Jumlah 80 100%  

Hasil yang diperoleh adalah 61% responden merasa sangat setuju, 28% disepakati, 11% merasa cukup setuju, 0% perasaan tidak setuju, dan 0% merasa sangat tidak setuju. Responden sehingga dapat disimpulkan tertinggi untuk Learnability variabel sangat setuju.

Gambar 1 Responden variabel LEARNABILITY

  • Variable efficiancy

Variabel pengguna dari 2 butir pertanyaan yang terkelompok. Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi variabel EFFICIANCY berdasarkan hasil pengumpulan kuisioner yang sudah diolah.

Tabel 2 Responden variabel EFFICIANCY

Interval Letter Frek. % Criteria
100% – 84.01% SS 52 65% Sangat Setuju
84.00% – 68.01% S 23 29% Setuju
68.00% – 52.01% CS 5 6% Cukup Setuju
52.00% – 36.01% TS 0 0% Tidak Setuu
36.00% – 20.00% STS 0 0% Sangat Tidak Setuju
Jumlah 80 100%  

Hasil yang didapatkan adalah 65% responden merasa sangat setuju, 29% merasa setuju, 6% merasa cukup setuju, 0% merasa tidak setuju, dan 0% merasa sangat tidak setuju. Sehingga dapat diambil kesimpulan jawaban responden tertinggi untuk variable EFFICIANCY adalah sangat setuju.

Gambar 2 Responden variable EFFICIANCY

  1. Variable

Variabel pengguna terdiri dari 3 butir pertanyaan yang terkelompok. Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi variabel MEMORABILITY berdasarkan hasil pengumpulan kuisioner yang diolah.

Tabel 3 Responden variabel MEMORABILITY

Interval Letter Frek. % Criteria
100% – 84.01% SS 41 51% Sangat Setuju
84.00% – 68.01% S 24 30% Setuju
68.00% – 52.01% CS 14 18% Cukup Setuju
52.00% – 36.01% TS 1 1% Tidak Setuu
36.00% – 20.00% STS 0 0% Sangat Tidak Setuju
Jumlah 80 100%  

Hasil yang didapatkan adalah 51% responden merasa sangat setuju, 30% merasa setuju,18% merasa cukup setuju, 1% merasa tidak setuju, dan 0% merasa sangat tidak setuju. Sehingga dapat diambil kesimpulan jawaban responden tertinggi untuk variable MEMORABILITY adalah sangat setuju.

Gambar 3 Responden variable MEMORABILITY

  1. VariableERRORS

Variabel pengguna terdiri dari 4 butir pertanyaan yang terkelompok. Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi variabel ERRORS berdasarkan hasil pengumpulan kuisioner yang diolah.

Tabel 4 Responden variabel ERRORS

Interval Letter Frek. % Criteria
100% – 84.01% SS 44 55% Sangat Setuju
84.00% – 68.01% S 21 26% Setuju
68.00% – 52.01% CS 7 9% Cukup Setuju
52.00% – 36.01% TS 8 10% Tidak Setuu
36.00% – 20.00% STS 0 0% Sangat Tidak Setuju
Jumlah 80 100%  

Hasil yang didapatkan adalah 55% responden merasa sangat setuju, 26% merasa setuju,9% merasa cukup setuju, 0% merasa tidak setuju, dan 0% merasa sangat tidak setuju. Sehingga dapat diambil kesimpulan jawaban responden tertinggi untuk variable ERRORS adalah sangat setuju.

Gambar 4 Responden variable ERRORS

  1. VariableSATISFACTION

Variabel Manusia terdiri dari 3 butir pertanyaan yang terkelompok. Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi variabel SATISFACTION berdasarkan hasil pengumpulan kuisioner yang diolah.

Tabel 5 Responden variabel SATISFACTION

Interval Letter Frek. % Criteria
100% – 84.01% SS 48 60% Sangat Setuju
84.00% – 68.01% S 22 28% Setuju
68.00% – 52.01% CS 10 13% Cukup Setuju
52.00% – 36.01% TS 0 0% Tidak Setuu
36.00% – 20.00% STS 0 0% Sangat Tidak Setuju
Jumlah 80 100%  

Hasil yang didapatkan adalah 60% responden merasa sangat setuju, 28% merasa setuju,13% merasa cukup setuju, 0% merasa tidak setuju, dan 0% merasa sangat tidak setuju. Sehingga dapat diambil kesimpulan jawaban responden tertinggi untuk variable SATISFACTION adalah sangat setuju.

Gambar 5 Responden variable SATISFACTION

3.5. Diskusi Hipotesis Penelitian

Dari hasil analisis Uji nilai R Square dan Uji nilai t diperoleh hasil hipotesis sebagai berikut :

  1. Pengujian Hipotesis 1 (variabel ERRORS tidak berhubungan dan negative terhadap variable EFFICIENCY)

Nilai tersebut lebih kecil dari t tabel (0.688) atau thitung 0.387 > ttabel 0.688. Hasil ini berarti bahwa Variabel ERRORS tidak memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap variable EFFICIENCY Hal ini berarti Hipotesis 1 ditolak.

  1. Pengujian Hipotesis 2 (variable ERRORS berhubungan langsung dan positif terhadap variable MEMORABILITY)

Nilai tersebut lebih besar dari t tabel (0.688) atau thitung 0.985 > ttabel 0.688. Hasil ini berarti bahwa variable ERRORS memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap variable MEMORABILITY yang berarti sesuai dengan hipotesis kedua dimana variable ERRORS berpengaruh terhadap variable MEMORABILITY. Hal ini berarti Hipotesis 2 diterima.

  1. Pengujian Hipotesis 3 (variable LEARNABILITY berhubungan langsung dan positif terhadap variable EFFICIENCY)

Nilai tersebut lebih besar dari t tabel (0.688) atau thitung 1.012 > ttabel 0.688. Hasil ini berarti bahwa variable LEARNABILITY memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap variable EFFICIENCY Hal ini berarti Hipotesis 3 diterima.

  1. Pengujian Hipotesis 4 (variable LEARNABILITY berhubungan langsung dan positif terhadap variable ERRORS)

Nilai tersebut lebih besar dari t tabel (0.688) atau thitung 1.074 > ttabel 0.688. Hasil ini berarti bahwa variable LEARNABILITY memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap variable ERRORS Hal ini berarti Hipotesis 4 diterima.

  1. Pengujian Hipotesis 5 (variable LEARNABILITY berhubungan langsung dan positif terhadap variable MEMORABILITY).

Nilai tersebut lebih besar dari t tabel (0.688) atau thitung 1.496 > ttabel 0.688. Hasil ini berarti bahwa variable LEARNABILITY memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap variable MEMORABILITY Hal ini berarti Hipotesis 5 diterima.

  1. Pengujian Hipotesis 6 (variable LEARNABILITY berhubungan langsung dan positif terhadap variable SATISFACTION)

Nilai tersebut lebih besar dari t tabel (0.688) atau thitung 2.041 > ttabel 0.688. Hasil ini berarti bahwa variable LEARNABILITY memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap variable SATISFACTION Hal ini berarti Hipotesis 6 diterima.

  1. Pengujian Hipotesis 7 (variable MEMORABILITY tidak berhubungan langsung dan negative terhadap variable EFFICIENCY)

Nilai tersebut lebih kecil dari t tabel (0.688) atau thitung 0.000 < ttabel 0.688. Hasil ini berarti bahwa variable MEMORABILITY memiliki hubungan yang negative dan tidak signifikan terhadap variable EFFICIENCY Hal ini berarti Hipotesis 7 ditolak.

  1. Pengujian Hipotesis 8 (variable SATISFACTION berhubungan langsung dan positif terhadap variable EFFICIENCY).

Nilai tersebut lebih besar dari t tabel (0.688) atau thitung 2.572 >ttabel 0.688. Hasil ini berarti bahwa variable SATISFACTION memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap variable EFFICIENCY Hal ini berarti Hipotesis 8 diterima.

  1. Pengujian Hipotesis 9 (variable SATISFACTION berhubungan langsung dan positif terhadap variable ERRORS).

Nilai tersebut lebih besar dari t tabel (0.688) atau thitung 21.958 >ttabel 0.688. Hasil ini berarti bahwa variable SATISFACTION memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap variable ERRORS Hal ini berarti Hipotesis 9 diterima.

Pengujian Hipotesis 10 (variable SATISFACTION berhubungan langsung dan positif terhadap variable MEMORABILITY).

Nilai tersebut lebih besar dari t tabel (0.688) atau thitung 3.966 >ttabel 0.688. Hasil ini berarti bahwa variable SATISFACTION memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap variable MEMORABILITY Hal ini berarti Hipotesis 10 diterima.

 

  1. Kesimpulan

Pengujian Hipotesis ada 2 variabel yang tidak berhubungan yaitu : variabel ERRORS tidak terhadap variable EFFICIENCY dan MEMORABILITY tidak terhadap variable EFFICIENCY dikarenakan kesalahan dari system tidak berpengaruh pada proses effisiensi yang dihasilkan program billing yang sering dialami oleh user/pengguna program dan berupa tampilan menu, ikon dan animasi gambar tidaklah berhubungan dengan effisiensi waktu penggunaan aplikasi karena menurut user tidak ada hubungan dengan proses.

 

  1. Daftar Referensi
  • Lababa, Djunaidi : Evaluasi program : sebuah pengantar, http://evaluasipendidikan.blogspot.com
  • Kadir, Abdul : Pengenalan Sistem Informasi, Penerbit Andi, Yogyakarta,
  • Silalahi, Ulbert : Studi Tentang administrasi Konsep, Teori dan Dimensi, Sinar Baru Algesindo, Bandung, 2007.
  • Siregar : Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan, EGC. Jakarta, 2003.
  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2002.
  • upasoc.org, Jeff Axup, 2004
  • http://www.statistikolahdata.com/2011/12/partial-least-square.html, Pengertian dan Analisis SEM menggunakan aplikasi

EVALUASI KETERGUNAAN SISTEM INFORMASI MONITORING DELIVERY PURCHASE SUPPLIES (DPS) PADA DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KOTA PALEMBANG

Thu ,13/08/2015

A Yani Ranius

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Bina Darma

Jln. Jend. A. Yani No 3 Plaju Palembang, 30264

email : ay_ranius@yahoo.com

 

 

 

AbstrakSeiring dengan kemajuan ilmu teknologi saat ini, perkembangan teknologi informasi semakin meningkat. Sarana dan prasarana teknologi informasi yang memadai membuktikan bahwa kini informasi telah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palembang melaksanakan kegiatan monitoring stock barang IT dengan menggunakan bantuan aplikasi Sistem Informasi Delivery Purchase Supplies (DPS). Maka dari itu Sistem Informasi DPS dievaluasi dengan menggunakan metode usability testing untuk mengetahui sejauh mana kemudahan dipelajari, kemudahan digunakan, kepuasan, efisiensi dan error dari Sistem Informasi DPS. Evaluasi Sistem Informasi DPS dengan menggunakan teknik usability dengan biaya rendah, sehingga memutuskan untuk mulai melakukan uji ketergunaan secara formal. Hasil dari penilaian metode usability testing ini akan memberikan masukan untuk pengembangan Sistem Informasi DPS kedepan agar lebih baik lagi.

 

Kata Kunci: evaluasi, sistem informasi, DPS, usability testing

 


 


  1. PENDAHULUAN

 

Sistem Informasi Delivery Purchase Supplies (DPS) yang berfungsi sebagai tempat pencarian data berbasis aplikasi web dan sebagai sarana penunjang bagi pegawai dan dapat membantu dalam pendataan barang masuk dan keluar. Sistem tersebut akan dirancang sebagai aplikasi yang berbasis web agar dapat lebih menunjang kemudahan dan keefektifan dalam proses mengelola data barang.

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi usability yang mempengaruhi sikap penerimaan pengguna yang diukur berdasarkan parameter-parameter kepuasaan pengguna. Alat evaluasi pengukuran aplikasi ini menggunakan metode usability dengan menggunakan kuisioner yang akan diisi oleh 3 (tiga) responden yaitu responden pengguna awam, responden pengguna aktif, dan responden terampil. Menghasilkan suatu sistem pencarian data yang lebih baik, lebih mudah digunakan dalam mengakses data yang diperlukan sehingga dalam pencarian data menjadi lebih cepat, efektif, akurat, serta mudah digunakan oleh pengguna. Solusi yang digunakan untuk mengetahui tingkat ketergunaan sistem tersebut yaitu dengan mengevaluasi sistem informasi DPS yang ada di Dinas Kebudayaan dan Periwisata Kota Palembang dengan usability testing.

 

  1. LANDASAN TEORI

 

2.1. Evaluasi

Evaluasi dapat juga diartikan sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas obyek yang dievaluasi[4].

Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi [5]. Tanpa evaluasi, maka tidak akan diketahui bagaimana kondisi objek evaluasi tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Istilah evaluasi sudah menjadi kosa kata dalam bahasa Indonesia tetapi kata ini adalah kata serapan dari bahasa Inggris yaitu evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran.

Evaluasi diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (seperti ketentuan, kegiatan, keputusan, kinerja, suatu proses, seseorang, suatu obyek, dll.) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian [2].

 

2.2. Uji Ketergunaan

Dalam Suparmo [10] mengemukakan langkah-langkah dalam melakukan uji ketergunaan yaitu :

  1. Planning a usability test, merupakan faktor yang penting karena faktor ini akan menentukan keberhasilan uji ketergantungan. Di dalam perencanaan ini perlu mencakup tujuan, permasalahan data responden, daftar soal, peralatan yang akan digunakan, dan data yang harus dikumpulka
  2. Selecting a representative sample and recruting participants, merupakan elemen penting. Responden yang dipilih seharusnya disesuaikan dengan ciri dan kondisi responden yang akan menggunakan situs ataupun sistem.
  3. Condocting the usability tes, yakin terhadap pelaksanaan uji tergantungan
  4. Debriefing the participant, Debriefing dimaksudkan untuk menanyakan kepada responden tentang semua yang telah dilakukan selama pengujia
  5. Analyzing the data of the usability tes, dimaksudkan sebagai pengelompokan data sesuai dengan kategori data yang telah terkumpul.
  6. Reporting the results anda making recommendations to improve the design and effectivenes of the produst, pembuatan laporan uji ketergunaan hendaknya memuat masalah dan usulan untuk memperbaikinya.

Dalam Suparmo [10] mengemukakan   langkah-langkah dalam melakukan uji ketergunaan. Langkah-langkah yang digunakan adalah sebagai berikut:

“Planning a usability test, selecting a representative sample and recruiting partipipants,   Preparing   the test materials and actual test environtment, Conduction the usability test, Debriefing the Participant, Analyzing the data of the usability test, Reporting the result and making recommendations to improve the design and effectivess of the product”.

Desain dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Memilih Objek, langkah ini adalah proses penentuan objek yang akan diteliti yaitu, sistem informasi DPS.
  2. Memilih responden   untuk pengisian kuisioner   berdasarkan   tingkatan pengguna yang aktif, terampil dan awam.
  3. Mempresentasikan tugas kepada responden, langkah ini adalah memberikan penjelasan kepada responden bahwa yang diuji bukan responden tetapi objek penelitian dan memberikan   penjelasan   bagaimana proses   mengisikan kuisioner.
  4. Memberikan tugas kepada responden, yaitu memberikan tugas-tugas dalam kuisioner untuk dijawab oleh responden
  5. Pengisian kuisioner dari responden, responden memberikan jawaban untuk kuisioner yang diberikan sesuai dengan yang dialami oleh responde
  6. Analisa jawaban dari responden terhadap website dari segi jawaban responden
  7. Dari evaluasi yang dilakukan akan mendapatkan informasi yang lengkap mengenai kelebihan dan kekurangan website yang sekarang ini ada mengunakan teknik usability testing.
  8. Membuat laporan dari evaluasi dan memberikan rekomendasi.

 

2.3. Sistem Informasi Monitoring Delivery Purchase Supplies (DPS).

Sistem Informasi Monitoring DPS (Delivery Purchase Purchase) adalah persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada masa atau periode yang akan datang [1]

Persediaan diterjemahkan dari kata inventory yang merupakan timbunan barang (bahan baku, komponen, produk setengah jadi, atau produk akhir, dan lain-lain) yang secara sengaja disimpan sebagai cadangan (safety atau buffer-stock) untuk manghadapi kelangkaan pada saat proses produksi sedang berlangsung. Lebih jelasnya mengenai persediaan dijelaskan dari beberapa defenisi sebagai berikut:

  1. Menurut Skousen, Stice [11], persedian ditujukan untuk barang-barang yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan bisnis yang normal, dan pada kasus perusahaan manufaktur, kata ini ditujukan untuk proses produksi atau yang ditempatkan dalam kegiatan produksi.
  2. Rangkuti [9] menyatakan bahwa persediaan adalah bahan-bahan, atau bagian yang disediakan, dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi atau produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari konsumen atau pelanggan setiap waktu.

 

2.4. Teknik Usability Testing

Badre [3]   memberikan definisi usability testing atau uji ketergunaan yaitu “Usability testing has traditionally meant testing for efficiency, ease of  learning, and the ability to remember how to perform interactive tasks without difficulty or errors”.

Saat mulai dikembangkan internet uji ketergantungan menekankan dengan dua hal pokok yaitu :

  1. Ease of learning

Mengukur ketergantungan dengan membandingkan waktu yang diperlukan pemakai dalam mempelajari sistem komputer yang sama sekali belum dikenalnya untuk melakukan sesuatu, dengan waktu yang diperlukan.

  1. Ease of use

Mengukur jumlah tindakan yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Sebagai contoh membandingkan sejumlah klik mouse pada dua desain.

Dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan usability sangat penting untuk keberlangsungan sebuah website. Jika website tersebut sulit untuk digunakan maka pengguna akan pengguna tidak akan menggunjungi website tersebut. Dengan demikian website tersebut juga harus dirancang seekonomis mungkin dengan prinsip human centred design, sehingga dengan mudah untuk digunakan. Ujian ketergantungan situs web merupakan kombinasi dari lima aspek yaitu :

  1. Ease of learning (mudah dipelajari)
  2. Effiency of use (efisien dalam penggunaan)
  3. Memorability (mudah diingat)
  4. Error frequency and severity (frekuensi kesalahan dan kesederhanaan)
  5. Subjective satisfaction (kepuasan subyektif bagi pemakai).

 

 

2.5. Komponen Usability Testing

Usability adalah suatu atribut untuk menilai seberapa mudah interface website digunakan. Usability sering juga digunakan untuk meningkatkan kemudahan pengguna selama proses desain. usability memiliki komponen yang sangat penting yaitu:

  1. Learnability, seberapa mudah pengguna dapat menyelesaikan tugas-tugas dasar ketika mereka melihat desain.
  2. Efficiency, setelah mereka mempelajari tentang desain, berapa cepat mereka dapat menyelesaikan tugas-tugas tersebut .
  3. Memorability, setelah pengguna tidak lagi menggunakan website tersebut maka seberapa ingat mereka menemukan kembali website tersebut.
  4. Errors, berapa banyak kesalahan yang dibuat oleh pengguna, seberapa parah kesalahan yang terjadi, dan bagaimana mereka memperbaiki kesalahan tersebut.
  5. Satisfaction, apakah desain yang sudah dibuat menyenangkan bagi pengguna. Memuat teori-teori pendukung dari metode yang diusulkan untuk pemecahan suatu masalah dan/atau pengembangan dari metode tersebut, yang didasarkan referensi yang jelas (buku, jurnal, prosiding dan artikel ilmiah lainnya).

Menurut Nielsen [6], ada lima syarat yang harus dipenuhi agar suatu website mencapai tingkat usability yang ideal, yaitu learnability, efficiency, memorability, errors, satisfaction.

 

Tabel 1 Definisi Variabel

No Variabel Dimensi
1. Learnability Untuk mengetahui ukuran bagi pengguna dalam memahami,alas an mengakses dan mengidentifikasi yang di cari.
2. Efficiency Menjelaskan bagaimana ukuran suatu website yang efisien yang dapat menyajikan informasi dengan cepat.
3. Memorability Menjelaskan apakah website mudah diingat apakah website mudah dipelajari dari cara menjalankan nya.
4. Errors Menjelaskan seberapa sering suatu website terjadi kesalahan ,link yang tidak berfungsi .
5. Satisfaction Menjelaskan keinginan pengguna bagaimana pengguna dapat pergi kemana saja dalam sebuah website.

 

2.6. Populasi dan Sampel

Dalam evaluasi yang dilakukan terhadap Sistem Informasi Monitoring DPS, diperlukan sampel dari sebuah populasi. Sampel yang diambil dari pupulasi adalah pengguna yang nantinya akan dijadikan responden dalam usability testing [6]. Pengguna yang akan dijadikan sampel harus mewakili dari seluruh populasi (pengguna). Didalam usability Testing terhadap Sistem Informasi Monitoring DPS ini akan diambil sampel yang mewakili tiga tingkatan pengguna yaitu:

  1. Pengguna aktif :   pengguna yang terampil   internet dan aktif dalam mengakses Sistem Informasi Monitoring DPS.
  2. Pengguna terampil : pengguna yang terampil Sistem Informasi Monitoring DPS.
  3. Pengguna awam : pengguna yang baru tahu Sistem Informasi Monitoring

Dalam buku Don’t Make Me Think! A Common Sense Approach to Web Usability. [7] mengatakan bahwa:

In most cases, I tend to think the ideal number of users for each round of testing is three or at most four.

Dapat diartikan dalam “kebanyakan kasus, saya cenderung berpikir jumlah pengguna yang ideal untuk setiap putaran pengujian tiga, atau empat paling banyak”.

 

III. PEMBAHASAN

 

Berdasarkan hasil dari task pada bagian formulir uji ketergunaan” yang diberikan kepada responden untuk Evaluasi Sistem Informasi DPS maka dapat dilakukan rekapitulasi dari semua jawaban task yang dijawab oleh responden tiga sampel yang diambil ini adalah satu orang yang mewakili pengguna aktif, satu orang mewakili pengguna terampil, dan satu orang mewakili pengguna awam.

Keterangan Variabel dan Bobot Nilai Responden digunakan sebagai berikut :

Tabel 2 : Bobot Nilai

 

No Variabel Keterangan Bobot Nilai
1 SS Sangat Setuju 5 (85-100)
2 S Setuju 4 (70-84)
3 KS Kurang Setuju 3 (55-64)
4 TS Tidak Setuju 2 (40-54)
5 STS Sangat Tidak Setuju 1 (0-39)

 

Hasil kalkulasi dari responden dilakukan penggabungan keseluruhan jawaban responden yang kemudian akan dihasilkan total persentase nilai. Dapat dilihat pada tabel 3 berikut :

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3 Total Persentase Nilai

Dari hasil penilaian dengan menggabungkan seluruh responden berdasarkan komponen learnability, efficiency, memoriability error dan satisfaction, maka dihasilkan bobot nilai seperti pada tabel 4.

Tabel 4 Hasil Penilaian

 

No Komponen R.1 R.2 R.3 Bobot Nilai
1 Learnability 25 25 25 75
2 Efficiency 24 25 25 74
3 Memoriability 24 25 25 75
4 Error 25 25 25 75
5 Satisfaction 24 25 25 74

 

Dapat dijelaskan hasil yang diperoleh dari jawaban responden berdasarkan kategori yang ada yaitu 75 poin untuk learnability, 74 poin untuk efficiency, 75 poin untuk memoriability, 75 poin untuk error dan 74 point untuk satisfaction.

 

Gambar 1 Grafik Nilai Jawaban Responden

 

Setelah didapatkan hasil dari poin komponen-komponen usability kemudian langkah selanjutnya menghitung hasil akhirnya yaitu dengan menjumlahkan nilai seluruh komponen kemudian dibagi lima dengan rumus :[7]

 

 

Keterangan:

M  :   Nilai rata-rata

∑   :   Jumlah

f     :   Frekuensi

x    :   Nilai data/komponen

n    :   Satuan objek penghasilan data/jumlah komponen

Berdasarkan rumus dapat ditentukan hasilnya dengan menambahkan seluruh komponen kemudian dibagi dengan jumlah komponen.

Setelah dilakukan penjumlahan seluruh komponen maka hasil yang didapat yaitu 74,6.

 

  1. IV. KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Sistem Informasi DPS mencapai nilai 75 untuk komponen learnability, 74 untuk efficiency, 75 untuk memoriability, 75 untuk error dan 74 untuk satisfaction. Dari hasil penjumlahan komponen tersebut maka diperoleh nilai 74,6 yang dibuat berdasarkan parameter yang digunakan maka Sistem Informasi DPS mencapai nilai 4 (70-84) yang berarti mudah dimengerti oleh para pengguna/operator.

.

 


 

DAFTAR REFERENSI

 

[1] Agus Ristono.2009. Manajemen Persediaan Edisi 1. Graham Ilmu: Yogyakarta.
[2] Ahmad, Sabri. 2007. Strategi Belajar Mengajar Mikro Teaching. Ciputat:   Quantum Teaching.
[3] Badre, A.N. 2002, Shaping Web Usability: Interaction design in context, Addison-Wesley, Boston.
[4] Djaali, Pudji. 2008. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
[5]

Echols, John M and Hassan Shadily. 2000. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta :   Gramedia Pustaka Utama

[6] Jacob Nielson. Usability Engineering. 2012. Academic Press.
[7] Krug S., 2000, Don’t Make Me Think! A Common Sense Approach
[8] Muliawan J, 2014, Metode Penelitian Pendidikan, Gava Media, Yogyakarta.
[9] Rangkuti, F. 2002. Manajemen Persediaan. Aplikasi di Bidang Bisnis. Edisi 2. PT Rafa Grafindo Persada. Jakarta
[10] Suparmo P., 2007, Uji Ketergunaan Situs Web Jaringan Perpustakaan Asosiasi Perguruan Tinggi Khatolik Di Indonesia (APTIK) bagi Mahasiswa Yang Sedang Menulis Skripsi Pada tahun Akademik 2006/2007 Di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Tesis Magister, Universitas Indonesia.
[11] Stice dan Skousen. 2009. Akuntansi Intermediate. Edisi Keenam Belas, Terjemahan. Jakarta: Salemba Empat.

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN DESTINASI WISATA UNGGULAN DI KOTA PALEMBANG

Thu ,13/08/2015

A Yani Ranius

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Bina Darma

Jln. Jend. A. Yani No 3 Plaju Palembang, 30264

email : ay_ranius@yahoo.com

 

AbstrakDestinasi merupakan suatu tempat yang dikunjungi dengan waktu yang signifikan selama perjalanan wisata. Industri pariwisata saat ini merupakan salah satu sektor pendapatan yang sangat besar dampaknya bagi suatu daerah maupun Negara. Aplikasi yang dibuat merupakan sistem yang dikemas untuk menentukan destinasi wisata unggulan sehingga dapat memberikan masukan untuk mengetahui wisata yang dijadikan detinasi unggulan. Kota Palembang merupakan diantara kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1382 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit. Menurut Prasasti tersebut tahun 16 Juni 682. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang http://www.palembang.go.id. Palembang merupakan kota terbesar kedua di Pulau Sumatera. Selain terkenal dengan pempeknya, Palembang juga mempunyai potensi wisata yang tidak kalah dengan kota lainnya di Sumatera. AHP merupakan suatu model sistem pendukung keputusan (SPK) yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Beberapa kriteria penunjang keputusan antara lain Ketersediaan sumber daya dan daya tarik wisata, Fasilitas pariwisata dan fasilitas umum, Aksesebilitas, Kesiapan dan Keterlibatan masyarakat, Potensi pasar, dan Posisi strategis pariwisata.

Kata Kunci : AHP, destinasi, pariwisata, SPK.



  1. PENDAHULUAN

 

Kota Palembang adalah ibukota propinsi Sumatera Selatan. Tempat wisata di Palembang tumbuh dengan pesat berkat keunikan kondisi alam Palembang yang dialiri sungai Musi. Sungai Musi adalah diantara sungai terpanjang dan terlebar di Indonesia. Daya tarik sungai Musi diikuti dengan pertumbuhan sektor wisata lain seperti wisata kuliner, wisata budaya dan wisata bahari. Selain itu kota Palembang juga masih menyimpan panorama serta keindahan objek – objek wisata di kawasan sekitarnya yang juga dapat dinikmati, salah satunya objek wisata sejarah. Dengan menyusuri objek-objek tersebut bisa mengetahui dan menyibak masa lalu kota legenda yang dahulunya merupakan kerajaan Sriwijaya.

Menurut Kabassi, 2010 dalam Oktovianus. P, dkk, Pariwisata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan sosial ekonomi yang dipandang sebagai salah satu industri yang prospektif di masa yang akan datang. Mengacu kepada instruksi presiden nomor 9 tahun 1969, khususnya Bab II pasal 3, yang menyebutkan “Usaha-usaha pengembangan pariwisata di Indonesia bersifat suatu pengembangan “industri pariwisata” dan merupakan bagian dari usaha pengembangan dan pembangunan serta kesejahteraan masyarakat dan Negara”. Pembangunan kepariwisataan perlu terus diupayakan guna menjadi sub sektor yang dapat meningkatkan perekonomian nasional dan daerah. Pariwisata sebagai industri jasa, menjadi pendorong utama perekonomian dunia sehingga banyak negara berusaha menjadikan negerinya sebagai objek yang kaya akan daya tarik kepariwisataan. Meningkatnya perkembangan teknologi informasi telah mengharuskan industri pariwisata serta berbagai industri lainnya untuk menerapkannya. Seiring pesatnya perkembangan teknologi tersebut membuka peluang untuk mempromosikan daerah wisata yang dapat dioptimalkan.

Secara umum teknologi informasi akan sangat bermanfaat dalam penyajian informasi yang cepat, mudah dan akurat yang sangat dibutuhkan oleh wisatawan. Salah satu dari sekian banyak teknologi informasi yang bermanfaat bagi wisatawan dan dapat diakses dengan mudah dari manapun adalah internet. Dengan keberadaan internet membantu wisatawan memperoleh informasi pariwisata suatu daerah. Selain sebagai media penyedia informasi, internet juga dapat memudahkan wisatawan untuk berinteraksi dengan operator pariwisata yang dikehendakinya antara lain untuk kepentingan pemesanan kamar hotel, tiket perjalanan, tiket pertunjukan dan mengakses segala kebutuhan informasi pariwisata lainnya. Cara ini sangat memudahkan dan menghemat biaya serta menghemat waktu karena tidak perlu pergi sendiri ke tempat penjualannya.

Saat ini perkembangan teknologi informasi sudah sedemikian pesat tidak hanya teknologi perangkat keras dan perangkat lunak saja, tetapi metode komputasi juga ikut berkembang. Salah satu metode komputasi yang cukup berkembang saat ini adalah metode sistem pengambilan keputusan (Decisions Support System). Dalam teknologi informasi, sistem pengambilan keputusan merupakan cabang ilmu yang letaknya diantara sistem informasi dan sistem cerdas. Proses pengambilan keputusan dari berbagai alternatif yang ada maka dibutuhkan adanya suatu kriteria. Setiap kriteria harus mampu menjawab satu pertanyaan penting mengenai seberapa baik suatu alternatif dapat memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Salah satu permasalahan pengambilan keputusan yang dihadapkan pada berbagai kriteria adalah proses pemilihan obyek wisata. Banyak metode yang dapat digunakan dalam sistem pengambilan keputusan. Salah satu metode tersebut yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Konsep metode AHP adalah merubah nilai-nilai kualitatif menjadi nilai kuantitatif.

Tujuan penelitian untuk membuat sistem guna penyampaian informasi mengenai obyek wisata, kawasan wisata ataupun wahana yang berada di obyek tersebut dapat dilakukan dengan media internet dengan menggunakan aplikasi sistem informasi. Sistem informasi akan menyajikan informasi-informasi mengenai suatu objek wisata, kawasan wisata ataupun wahana-wahana di suatu objek atau kawasan wisata. Wisatawan dapat menetukan destinasi wisata yang menjadi pilihan, oleh karenanya dibutuhkan sebuah sistem dalam bidang kepariwisataan. Sistem informasi tersebut diharapkan dapat digunakan untuk mendapatkan informasi dan pengambilan keputusan pemilihan obyek wisata secara efektif.

 

  1. LANDASAN TEORI

 

2.1. Metode Analitic Hirarchy Process (AHP)

Metode AHP adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan yang kompleks dengan menyederhanakan dan mempercepat proses pengambilan keputusan dengan mengurai persoalan tersebut kedalam bagian-bagiannya. Metode AHP membantu memecahkan persoalan yang kompleks dengan menstruktur suatu hirarki kriteria, pihak yang berkepentingan, hasil dan didasari dari berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot atau prioritas. Metode ini juga menggabungkan kriteria yang ditentukan dan logika sesuai aturan dari berbagai persoalan, selanjutnya dengan menyeimbangkan dari berbagai pertimbangan yang beragam menjadi hasil yang cocok untuk diterapkan (Saaty, 1994).

Prosedur dalam menggunakan metode AHP

terdiri dari beberapa tahap yaitu (Nugraha. DW, Wirdayanti :

  1. Menyusun hirarki dari permasalahan yang dihadapi Penyusunan hirarki yaitu dengan menentukan tujuan yang merupakan sasaran sistem secara keseluruhan pada level teratas. Level berikutnya terdiri dari kriteria-kriteria untuk menilai atau mempertimbangkan alternatif-alternatif yang ada dan menentukan alternatif-alternatif tersebut. Setiap kriteria dapat memiliki subkriteria dibawahnya dan setiap kriteria dapat memiliki nilai intensitas masing-masing.
  2. Menentukan prioritas elemen dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  3. Membuat perbandingan berpasangan.

Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat perbandingan berpasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan sesuai kriteria yang diberikan. Untuk perbandingan berpasangan digunakan bentuk matriks. Matriks bersifat sederhana, berkedudukan kuat yang menawarkan kerangka untuk memeriksa konsistensi, memperoleh informasi tambahan dengan membuat semua perbandingan yang mungkin dan menganalisis kepekaan prioritas secara keseluruhan untuk merubah pertimbangan. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan, dimulai dari level paling atas hirarki untuk memilih kriteria, misalnya C, kemudian dari level dibawahnya diambil elemen-elemen yang akan dibandingkan, misal A1, A2, A3, A4, A5, maka susunan elemen-elemen pada sebuah matrik seperti Tabel 1.

Tabel 1. Matrix perbandingan berpasangan

C A1 A2 A3 A4 A5
A1 1
A2 1
A3 1
A4 1
A5

 

  1. Mengisi matrik perbandingan berpasangan.

Untuk mengisi matrik perbandingan berpasangan yaitu dengan menggunakan bilangan untuk merepresentasikan kepentingan relatif dari satu elemen terhadap elemen lainnya yang dimaksud dalam bentuk skala dari 1 sampai dengan 9. Skala ini mendefinisikan dan menjelaskan nilai 1 sampai 9 untuk pertimbangan dalam perbandingan berpasangan elemen pada setiap level hirarki terhadap suatu kreteria di level yang lebih tinggi. Apabila suatu elemen dalam matrik dan dibandingkan dengan dirinya sendiri, maka diberi nilai 1. Jika i dibanding j mendapatkan nilai tertentu, maka j dibanding i merupakan kebalikkannya. Pada tabel 2 memberikan definisi dan penjelasan skala kuantitatif 1 sampai dengan 9 untuk menilai tingkat kepentingan suatu elemen dengan elemen lainnya.

 

 

Tabel 2. Skala kuantitatif dalam spk

Intensitas Kepentingan Definisi Penjelasan
1 Kedua elemen sama pentingnya Dua elemen mempunyai pengaruh

yang sama besar terhadap tujuan

3 Elemen yang satu sedikit lebih penting

dari pada elemen yang lainnya

Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen dibandingkan

elemen yang lainnya

5 Elemen yang satu lebih penting dari pada elemen yang lainnya Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya
7 Satu elemen jelas lebih mutlak penting dari pada elemen

yang lainnya

Satu elemen yang kuat disokong dan dominan terlihat dalam praktek
9 Satu elemen mutlak penting dari pada elemen

yang lainnya

Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan
2, 4, 6, 8 Nilai-nilai antara 2 nilai pertimbangan yang berdekatan Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi diantara 2 pilihan
Kebalikan Jika aktifitas i mendapat satu angka dibanding aktifitas j, maka j mempunyai nilai kebalikkannya dibanding dengan i

 

  1. Sintesis

Pertimbangan – pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesis untuk memperoleh keseluruhan prioritas dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada matriks.
  2. Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks.
  3. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap matriks dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan nilai rata-rata.
  4. Mengukur konsistensi.

Dalam pembuat keputusan, penting untuk mengetahui seberapa baik konsistensi yang ada, karena kita tidak ingin keputusan berdasarkan pertimbangan dengan konsistensi yang rendah. Karena dengan konsistensi yang rendah, pertimbangan akan tampak sebagai sesuatu yang acak dan tidak akurat. Konsistensi penting untuk mendapatkan hasil yang valid dalam dunia nyata. AHP mengukur konsistensi pertimbangan dengan rasio konsistensi (consistency ratio). Nilai Konsistensi rasio harus kurang dari 5% untuk matriks 3×3, 9% untuk matriks 4×4 dan 10% untuk matriks yang lebih besar. Jika lebih dari rasio dari batas tersebut maka nilai perbandingan matriks di lakukan kembali.

Gunakan matriks random dengan skala penilaian 1 sampai 9 beserta kebalikkannya sebagai random consistency (RC). Berdasarkan perhitungan saaty dengan menggunakan 500 sampel, jika pertimbangan memilih secara acak dari skala 1/9, 1/8, … , 1, 2, … , 9 akan diperoleh rata-rata konsistensi untuk matriks yang berbeda seperti pada Tabel 3.

 

Tabel 3. Nilai rata-rata konsistensi

Ukuran Matriks Konsistensi acak

(Random Consistency)

1 0,00
2 0,00
3 0,58
4 0,90
5 1,12
6 1,24
7 1,32
8 1,41
9 1,45
10 1,49

 

  • Proses Pemilihan Destinasi Wisata Menggunakan Metode AHP

Sistem pendukung keputusan pemilihan destinasi wisata di kota Palembang digunakan 3 yaitu wisata alam, wisata sejarah budaya, dan wisata minat khusus (http://www.palembang-tourism.com/kategori_destinasi), faktor kriteria dikutip dari Peraturan Kebudayaan dan Periwisata nomor PM.37/UM.001/MKP/07 tentang Kriteria untuk penetapan destinasi pariwisata unggulan, sekurang-kurangnya meliputi (http://hukum.unsrat.ac.id/wisata/) :

  1. Ketersediaan sumber daya dan daya tarik wisata;
  2. Fasilitas pariwisata dan fasilitas umum;
  3. Aksesebilitas;
  4. Kesiapan dan Keterlibatan masyarakat;
  5. Potensi pasar; dan
  6. Posisi strategis pariwisata dalam pembangunan daerah.

Dari ketiga faktor kriteria dan 5 intensitas pada masing-masing kriteria tersebut dilakukan penilaian pada masing-masing destinasi dengan menggunakan model AHP sehingga didapatkan nilai total pada masing-masing destinasi. Sehingga berdasarkan faktor kriteria dan intensitas-intensitas pada masing-masing kriteria tersebut urutan hirarkinya dapat digambarkan seperti pada gambar 1.

 

Gambar 1. Urutan hirarki sistem

 

Setelah disusun hirarki dari permasalahan yang dihadapi langkah selanjutnya yaitu menentukan prioritas elemen. Pada langkah ini terbagi menjadi dua langkah yaitu membuat perbandingan berpasangan dan mengisi matrik perbandingan berpasangan. Untuk membuat perbandingan berpasangan digunakan bentuk matriks, sehingga dari susunan hirarki diatas maka matriks perbandingan berpasangan dari kriteria dan masing-masing intensitas kriteria dapat dibentuk seperti pada tabel berikut.

 

Tabel 4. Matrix perbandingan berpasangan kriteria

KS FP AS KK PP PS
KS 1 2 3 4 5 4
FP 1/2 1 2 3 2 3
AS 1/3 1/2 1 2 1 2
KK 1/4 1/3 1/2 1 1/2 1
PP 1/5 1/4 1/3 1/2 1 1/2
PS 1/5 1/3 2 1 1/2 1

 

Tabel 5.   Matrix perbandingan berpasangan intensitas masing-masing kriteria

ST T C R SR TA
ST 1 2 3 4 5 6
T 1/2 1 2 3 4 5
C 1/3 1/2 1 2 3 4
R 1/4 1/3 1/2 1 2 3
SR 1/5 1/4 1/3 1/2 1 2
TA 1/6 1/5 1/4 1/3 1/2 1

 

Nilai elemen matriks diisi dengan menggunakan bilangan untuk mempresentasikan kepentingan relatif dari elemen terhadap elemen lainnya dalam bentuk skala dari 1 sampai dengan 9.

Setelah nilai-nilai elemen matrix diketahui langkah selanjutnya dihitung nilai prioritas tiap kriteria, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menjumlahkan nilai elemen setiap kolom matiks Tabel 4.
  2. Membagi setiap elemen pada kolom Tabel 4 dengan jumlah perkolom yang sesuai.
  3. Menghitung nilai prioritas kriteria dengan cara menjumlahkan tiap baris dan hasilnya bagi dengan banyaknya elemen (n=4).

Setelah didapatkan nilai prioritas untuk masing-masing kriteria, selanjutnya memeriksa konsistensi perbandingan antar kriteria tersebut dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mengalikan elemen pada kolom matriks Tabel 4 dengan nilai prioritas yang bersesuaian.
  2. Hasil perkalian tersebut kemudian dijumlahkan pertiap baris.
  3. Jumlah tiap baris tersebut dibagi dengan nilai prioritas yang bersesuaian.
  4. Mencari Eigen Value (λmax ) dengan cara menjumlahkan jumlah tiap baris di bagi prioritas yang bersesuaian (pada langkah 3), kemudian bagi dengan banyak elemen (n=4).
  5. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) dengan rumus :

CI = (λmax-n)/n

Dimana CI   :   Consistensi Index

Λmax             :   Eigen Value

n                      :   Banyak elemen

  1. Menghitung rasio konsistensi dengan rumus:

CR=CI/RC

Dimana CR :   Consistency Rasio

CI                   :   Consistency Index

RC                  :   Random Consistency

Setelah nilai konsistency rasio diperoleh, maka diperiksa apakah masih memenuhi rasio konsistensi yang diperbolehkan yaitu sama dengan atau kurang dari 10%, apabila melebihi batas maka perbandingan antar elemen tidak konsisten dan perbandingan antar elemen dapat diulang. Untuk intensitas-intensitas tiap kriteria dilakukan langkah-langkah yang sama untuk menghitung prioritas dan konsistensi rasio, tetapi setelah didapatkan nilai prioritas dan konsistensi rasio yang diperbolehkan maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mengalikan nilai prioritas intensitas dan prioritas kriteria yang bersesuaian untuk mendapatkan prioritas global.
  2. Hasilnya dibagi dengan prioritas terbesar yang bersesuaian.

Penghitungan nilai destinasi dilakukan dengan mengalikan nilai prioritas berdasarkan data nilai intensitas destinasi dengan nilai kriteria yang bersesuaian. Kemudian hasilnya dijumlahkan dan akan diperoleh total nilai hasil perhitungan setiap destinasi.

 

III. PEMBAHASAN

 

Pengujian sistem pendukung keputusan ini memerlukan beberapa masukan data yaitu, masukan data destinasi wisata, data unggulan masing-masing wisata, lalu pemberian memberikan penilaian dengan bobot berdasarkan range intensitas masing-masing kriteria. Masing-masing data tersebut dimasukan kedalam masing-masing form yang telah disediakan. Sistem melakukan beberapa langkah proses sesuai urutan yang terdapat dalam sistem sesuai dengan data-data yang dimasukan. Langkah-langkah proses yang dilakukan sistem ini yaitu melakukan penyaringan data destinasi berdasarkan penilaian keterpenuhan unsur unsur kreteria yang ditetapkan. Pembobotan nilai destinasi menjadi intensitas dengan metode AHP, dan perangkingan. Pada pengujian ini pada masing-masing destinasi akan dilakukan pemilihan sebanyak 15 detinasi wisata sebagai contoh. Proses pengujian dilakukan perhitungan tahap demi tahap mulai proses penyaringan destinasi berdasarkan penilaian destinasi wisata yang ada, pembobotan nilai, pengubahan ke intensitas, proses penilaian sampai dengan perangkingan semua destinasi wisata.

  1. Proses Penyaringan

Proses penyaringan data destinasi dilakukan dengan membandingan antara penilaian yang dimiliki oleh destinasi dengan pemberian nilai pada masing-masing destinasi. Apabila nilai yang dimiliki oleh destinasi lebih besar atau sama dengan nilai yang dipersyaratkan pada kriteria penilaian destianasi unggulan, maka data destinasi tersebut akan diproses pada langkah selanjutnya.

  1. Proses Pembobotan Destinasi Wisata

Setelah data-data dilakukan penyaringan sesuai syarat nilai pada masing-masing kriteria penilaian detinasi, langkah selanjutnya yaitu melakukan pembobotan nilai ketersediaan pada masing-masing destinasi. Proses pembobotan nilai dilakukan dengan cara mengalikan penilaian destinasi dengan nilai bobot yang diberikan. Misalnya pada data hasil penyaringan pada detinasi wisata Jembatan Ampera termasuk destinasi witasa sejarah budaya diberikan penilaian 82 dikalikan dengan bobot nilai destiasi wisata dengan bobot nilai 90 %, sehingga hasilnya seperti pada perhitungan berikut.

Nilai Hasil Bobot   =  destinasi wisata X

Bobot Nilai            =  82 X 90 %

=  73,8

  1. Pengubahan Intensitas Kriteria

Kriteria-kriteria yang dimiliki pada setiap destinasi belum dalam bentuk intensitas, maka dengan proses pengubahan intensitas tersebut, data diubah kedalam bentuk intensitas. Pengubahan tersebut berdasarkan range-range intensitas yang telah dimasukkan. Misalnya saja data destinasi yang pertama pada wisata sejarah budaya yang mempunyai data seperti pada Tabel 6, dan dengan range intensitas pada kriteria destinasi wisata unggulan maka akan dihasilkan seperti pada Tabel 7.

Tabel 6. Data destinasi wisata yang pertama menjadi pilihan.

Destinasi Nama Wisata KS FP AS KK PP PS
Wisata Sejarah Budaya Jembatan Ampera 75 70 80 85 85 97

 

Tabel 7. Hasil pengubahan intensitas data destinasi untuk kriteria wisata unggulan

Destinasi Nama Wisata KS FP AS KK PP PS
Wisata Sejarah Budaya Jembatan Ampera C R T T T ST

 

  1. Penilaian Destinasi dengan Metode AHP

Setelah pengubahan intensitas kriteria dilakukan, maka langkah selanjutnya melakukan penilaian destinasi berdasarkan hasil data kriteria wisata unggulan pada proses pengubahan intensitas. Penghitungan nilai destinasi dilakukan dengan mengalikan nilai prioritas global intensitas berdasarkan data nilai intensitas destinasi dengan nilai kriteria yang bersesuaian. Kemudian hasilnya dijumlahkan dan akan diperoleh total nilai hasil perhitungan setiap destinasi. Misalnya saja untuk data destinasi yang mempunyai data-data seperti pada Tabel 7.

Langkah pertama dalam proses penilaian ini yaitu melakukan penilaian pada masing-masing kriteria sesuai intensitas yang dimiliki, kemudian dijumlahkan. Dari data pada Tabel 7 diatas nilai total yang dimiliki oleh destinasi.

  1. Perangkingan

Setelah didapatkan nilai total destinasi pada masing-masing kriteria wisata unggulan langkah terakhir yaitu melakukan perangkingan. Pada proses ini terbagi menjadi 2 proses yaitu perangkingan masing-masing kriteria dan perangkingan semua kriteria yang merupakan hasil analisis. Berdasarkan total nilai yang didapat pada masing-masing destinasi dari proses penilaian, maka dapat dicari rangking pada masing-masing kriteria. Rangking didapatkan nilai yang diberikan untuk masing-masing destinasi, mulai dari nilai terbesar diberikan rangking pertama sampai nilai terendah diberikan rangking terakhir.

Setelah perangkingan masing-masing kriteria wisata, langkah terakhir yaitu perangkingan semua kriteria yang ada. Perangkingan semua kriteria wisata dilakukan untuk mengambil 3 data destinasi yang mempunyai rangking terbaik pada masingmasing kriteria wisata. Disamping itu karena terdapat kemungkinan satu destinasi terpilih pada lebih dari satu kriteria wisata dan setiap destinasi hanya diperbolehkan dipilih salah satu kriteria wisata sehingga destinasi tersebut harus dipilih salah satu kriteria wisata berdasarkan prioritas kriteria wisata. Berdasarkan data-data perangkingan pada masing-masing kriteria wisata dan prioritas kriteria wisata, maka hasil dari perangkingan semua kriteria wisata. Sedangkan hasil analisis yang dihasilkan oleh sistem pendukung keputusan berdasarkan masukan data yang sama dari perhitungan secara manual.

 

  1. IV. KESIMPULAN

 

Berisi berbagai kesimpulan yang diambil berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebagai berikut :

  1. Memakai metode ini dapat memberikan pertimbangan untuk menentukan destinasi wisata unggulan berdasarkan kriteria yang ditetapkan.
  2. Hasil perhitungan yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai rekomendasi yang dapat digunakan wisatawan untuk menentukan pilihan destinasi wisata yang akan dituju.
  3. Pemberian penilaian terhadap destinasi wisata akan berpengaruh pada hasil proses penentuan distinasi wisata yang menjadi tujuan atau pilihan.

 

 

DAFTAR REFERENSI

 

[1] Astuti, Yuli, Seniwati, Erni, 2011; Sistem Pendukung Keputusan Untuk Pemilihan Lokasi Usaha Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP), Prosiding Seminar Nasional Teknoin, ISSN : 0583-8697.
[2] http://www.palembang-tourism.com/kategori_destinasi.
[3] http://www.palembang.go.id.
[4] http://hukum.unsrat.ac.id/wisata/
[5] Kusrini, 2007, Konsep dan aplikasi sistem pendukung keputusan, Andi Offset, Yogyakarta.
[6] _______, Sulistyawati, Ester, 2006; Pemanfaatan analytical hierarchy process (AHP) sebagai model sistem pendukung keputusan seleksi penerimaan karyawan. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana VI 2006, Program Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
[7] Nugraha. DW, Wirdayanti, “Sistem Pemdukung Keputusan Pemilihan Supplier Menggunakan Metode AHP”, Jurnal Foristek Vol.3, No.2, 2013
[8] Oktovianus. P, dkk, Sistem pendukung Keputusan Pemilihan Tempat Wisata di Timor Leste Dengan Metode Lectre, e-journal.uajy.ac.id, 2014
[9] Saaty, T.L., “Fundamental Of Decision Making and Priority Theory With The Analytic Hierarchy Process”, University of Pittsburgh, RWS publication, 1994
[10] Supriyono, dkk., 2007. Sistem Pemilihan Pejabat Struktural dengan Metode AHP, Prosiding Seminar Nasional III SDM Teknologi Nuklir, Yogyakarta. 21-22 Nopember 2007. ISSN 1978-0176
[11] Turban, 2005, Decision Support Systems and Intelligent Systems (Sistem pendukung keputusan dan system cerdas) Jilid 1, Andi Offset, Yogyakarta.

MENINGKATKAN MOTIVASI TECHNOPRENEURSHIP SEBAGAI POTENSI INOVASI MAHASISWA UNTUK BERBISNIS

Thu ,13/08/2015
  1. Yani Ranius

Fakultas Ilmu Komputer

Universitas Bina Darma, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia

+62-711.7014442, Email: ay_ranius@yahoo.com

 

 

Abstrak

Proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor baik berasal dari diantaranya melalui pendidikan, sosial, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Konsep technopreneurship merupakan basis pengembangan kewirausahaan yang dimulai dari adanya invensi dan inovasi dalam bidang teknologi. Keinginan berwirausaha di kalangan mahasiswa dengan pengetahuan dan teknologi merupakan budaya tidak begitu mudah untuk dilakukan. Umumnya mahasiswa hanya dituntut untuk giat belajar dan saat ia sebagai pelaku bisnis ia juga dituntut sebagai pekerja keras. Perubahan pola pikir sebagai mahasiswa dan juga sebagai pelaku usaha terutama technopreneurship terdapat perbedaan kepentingan dan tujuan pekerjaan yang dilakukan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), saat ini jumlah wirausaha di Indonesia belum mencapai batas minimal wirausaha suatu negara yaitu 2% dari jumlah populasi penduduk. Peran mahasiswa sangatlah penting untuk meningkatkannya melalui technopreneurship sebagai bagian diantara bidang usaha. Masih rendahnya minat mahasiswa terhadap technopreneurship dipandang perlu dipelajari dan diupayakan untuk ditingkatkan serta bagaimana menggali potensi inovasi yang ada. Dari penelitian ini dapat diketahui tingkat motivasi mahasiswa terhadap technopreneurship dengan potensi inovasi dalam berbisnis. Saatnya tingkat wirausaha Indonesia ditingkatan melalui kontribusi nyata mahasiswa untuk menjadi pelaku technopreneurship yang mampu membawa bangsa agar lebih maju dan berdaya saing global.

 

Keywords: technopreneurship, motivasi, potensi inovasi

 

  1. PENDAHULUAN

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan bahwa jumlah wirausaha di Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan jumlah wirausaha yang ada di Singapura mencapai 7 persen, dan yang ada di Malaysia mencapai 5 persen yaitu kurang dari 2 persen dari jumlah penduduk Indonesia yaitu sekitar 256 juta jiwa. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah wirausaha di negara maju lainnya dengan tingkat pertumbuhan ekonominya semakin tinggi, seperti Amerika Serikat mencapai 11 persen. Banyak pertumbuhan perusahaan di Indonesia diawali dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) atau small medium enterprise. Pertumbuhan perusahaan ini dinilai sebagai motor penggerak roda perekonomian dan sudah dapat menciptakan lapangan kerja. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 diikuti dengan krisis politik yang terjadi di Indonesia, saat itu telah memberi pelajaran berharga bahwa sebagai penggerak utama bangkitnya Indonesia dari keterpurukan adalah UMKM yang dapat bertahan selama krisis.

Saat ini jumlah lulusan sarjana di Indonesia setiap tahun dapat melahirkan lebih dari 700.000 sarjana yang menganggur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran sarjana atau lulusan universitas pada Februari 2013 mencapai 360 ribu orang, atau 5,04% dari total pengangguran yang mencapai 7,17 juta orang (http://finance.detik.com). Dari kondisi ini pemerintah telah pengambil kebijakan agar perguruan tinggi tidak hanya untuk mencetak sarjana tetapi juga agar mencetak calon wirausaha. Diharapkan lulusan perguruan tinggi akan tersaring menjadi wirausahawan yang kreatif dalam mengolah kekayaan sumber-sumber daya yang ada serta dapat melahirkan UMKM yang cerdas. Secara tidak langsung cara ini akan mengurangi angka pengangguran, dan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Universitas Bina Darma merupakan perguruan tinggi swasta yang ada di Palembang telah menjadikan mata kuliah kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib. Tujuan utama keberadaan mata kuliah ini adalah merubah mindset mahasiswa setelah lulus tidak hanya mencari kerja (job seeker) tetapi dapat membuat lapangan kerja (job creator). Seiringan dengan perkembangan tekhnologi maka tidak hanya bertujuan menciptakan pelaku wirausaha (entrepreneurship) tetapi juga mengarahkan ke wirausaha yang didukung oleh tekhnologi atau usaha dibidang tekhnologi (technopreneurship).

Pembahasan ini didasari dari jumlah proposal rencana bisnis yang diajukan oleh mahasiswa sebagai tindak lanjut dari mengikuti matakuliah kewirausahaan yang lebih banyak membuat usaha dibidang kuliner dari pada usaha dibidang teknologi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dari data pengajuan proposal bisnis, memberikan gambaran bagaimana proses pendidikan kewirausahaan dan mengarahkan wirausaha didukung tekhnologi atau usaha dibidang teknologi yang dilaksakan di Universitas Bina Darma.

 

  1. TEORI KEWIRAUSAHAAN DAN TECHNOPRENEURSHIP

Wirausaha adalah seseorang yang menciptakan sebuah bisnis baru dengan mengambil resiko ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang dan menggabungkan berbagai sumber daya.

Pengertian Technopreneurship menurut Tata Sutabri adalah sebuah inkubator bisnis berbasis teknologi, yang memiliki wawasan untuk menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa sebagai peserta didik dan merupakan salah satu strategi terobosan baru untuk mensiasati masalah pengangguran intelektual yang semakin meningkat.

Technopreneurship dapat dilibatkan untuk mengirimkan satu produk teknologi atau membuat penggunaan teknologi dalam satu cara inovatif untuk menawarkan atau memasarkan produknya kepada konsumen atau keduanya. Contohnya memasarkan produk dengan konsep technopreneurship melalui media internet yang pada dasarnya mengintegrasikan antara teknologi dengan keterampilan kewirausahaan (enterpreneurship skills). Dalam konsep technopreneurship ini merupakan pengembangan kewirausahaan dari adanya motivasi untuk berinovasi dalam berbisnis. Teknologi yang gunakan pada konteks ini tidak harus teknologi berupa high tech, tetapi dalam bentuk sederhanapun dapat dilakukan. Teknologi hanya didefinisikan alat bantu untuk mengaplikasikan pada pola kerja orang (human work). Dengan demikian bentuk usaha yang menggunakan alat bantu untuk proses akuntansi, ekonomi order quantity, pemasaran secara online, dan monitoring juga dapat dirumuskan sebagai bentuk dari technopreneurship.

 

  1. PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DI PERGURUAN TINGGI

Pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi bertujuan untuk merubah mindset mahasiswa agar setelah lulus mempunyai tujuan utama mencari kerja tetapi dapat menciptakan lapangan kerja. Perguruan tinggi mempunyai peran penting dalam mengembangkan pendidikan kewirausahaan karena perguruan tinggi dapat menciptakan orang-orang yang memiliki kompetensi dan kemampuan analisis.

Perguruan tinggi memiliki tiga peran penting dalam rencana pendidikan kewirausahaan (dalam Khan, 2008).

  1. Sebagai fasilitator budaya kewirausahaan yaitu fokus yang kuat pada pendidikan kewirausahaan serta membantu mempromosikan budaya kewirausahaan.
  2. Sebagai mediator ketrampilan, dimana mahasiswa mampu mengejar karir kewirausahaannya karena dilengkapi dengan seperangkat ketrampilan yang dapat membantu mengidentifikasi ide-ide bisnis dan menjalankan praktek bisnis berdasarkan pendekatan kewirausahaan.
  3. Sebagai lokomotif pengembangan bisnis regional, yaitu fokus politik yang kuat pada kewirausahaan yang akan mendorong perguruan tinggi berhubungan dengan pemegang kepentingan lainnya dalam lingkup kewirausahaan.

Untuk menjalankan pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship), perguruan tinggi mendesain kurikulum secara komprehensif dan terintegrasi sehingga mampu memfasilitasi pembelajaran ini sebagaimana yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Pengetahuan tersebut akan diterapkan sebagai wirausaha yaitu pengetahuan umum mengenai bisnis, pengetahuan umum perusahaan, pengetahuan khusus mengenai peluang bisnis, dan pengetahuan khusus mengenai usaha.

  1. PEMBAHASAN

Kewirausahaan merupakan mata kuliah wajib ditempuh mahasiswa di setiap progran studi yang ada di setiap fakultas Universitas Bina Darma. Dosen pengajarnya adalah tim dosen yang ditunjuk dan di SK-kan Rektor sebagai dosen kewirausahaan Universitas yang dapat mengajar di setiap program studi dan mempunyai kompetensi dan atau ketertarikan dalam bidang usaha. Penetapan tim dosen mata kuliah ini bertujuan agar dalam proses pembelajaran dan perkuliahan mempunyai materi maupun metode pembelajaran yang sama. Dukungan tekhnologi pada pola pembelajaran yang dilakukan di Universitas Bina Darma serta mengarahkan mahasiswa untuk menjadi tidak hanya sebagai entrepreneurship saja tetapi technopreneurship sebagai pengembangan potensi inovasi dalam berbisnis.

Proses pembelajaran entrepreneurship ini adalah sebagai berikut:

  1. Desain Kurikulum

Kurikulum mata kuliah kewirausahaan mempunyai materi dan kajian yang sama antara program studi dan memberikan gambaran peluang bisnis sesuai dengan bidang ilmu masing-masing program studi. Untuk mencapai keperluan tersebut maka dibentuk tim dosen kewirausahaan yang terdiri dari dosen masing-masing fakultas. Diantara kelemahan mahasiswa Universitas Bina Darma dalam mengikuti matakuliah kewiwausahaan merubah mindset setelah lulus mencari kerja bukan membuka lapangan kerja. Bidang lapangan kerjapun masih bersifat umum yang belum didukung oleh tekhnologi. Dari hasil pembelajaran ini ada empat hal yang wajib dilakukan mahasiswa untuk mengawali sebagai entrepreneurship yaitu (1) menentukan produk; (2) mempelajari dan memahami Business Canvas Model (BCM); (3) mengikuti bazar sebagai latihan memperkenalkan produk yang ditawarkan dan; (4) membuat proposal bisnis yang siap dipresentasikan kepada tim penilai eksternal. Dengan demikian hasil dari penilaian tersebut proposal bisnis dapat diajukan ke program PMW ataupun PKMK. Selain itu bersamaan dengan waktu pelaksanaan bazar mahasiswa juga disertakan mengikuti seminar kewirausahaan untuk meningkatkan motivasi entrepreneurship. Kegiatan ini dimasukan pada unsur penilaian untuk menentukan nilai akhir matakuliah kewirausahaan dan proses mengajuan proposal PMW ataupun PKMK yang diselenggarakan oleh Dikti.

  1. Tim Dosen Pengajar

Tim pengajar yang berkompeten mengajar mata kuliah ini ditentukan dan di SK-kan oleh Rektor dibawah naungan unit Bina Darma Entrepreneurship Centre (BDEC) bertujuan agar mempunyai kesamaan persepsi pengajar dalam proses pembelajaran. Selain itu juga mengundang praktisi bisnis maupun pihak stakeholder untuk memberikan penilaian terhadap proposal bisnis dan sebagai sponsorship untuk kegiatan bazar dan seminar motivasi entrepreneurship. Kegiatan ini menjadi program yang dilakukan di setiap akhir semester untuk meng-update pengetahuan entrepreneurship.

  1. Metode Pembelajaran

Kewirausahaan bisa dipelajari tidak mungkin hanya diberikan di kelas hal ini akan membosankan dan tidak membangkitkan motivasi pengembangan potensi inovasi terhadap bisnis. Metode pembelajaran dengan melaksanakan seminar kewirausahaan yang menghadirkan pelaku dan atau praktisi bisnis, membentuk kelompok bisnis (business group), game-game, pemutaran video cerita-cerita sukses pengusaha, merancang skema dalam berwirausaha, melatih promosi dengan melaksanakan bazar, menindaklajuti rencana bisnis dengan membuat proposal bisnis yang akan diajukan ke Dikti dan melaksanakan kunjungan ke perusahaan jika memungkinkan.

  1. Praktek Wirausaha

Untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dari perkuliahan mahasiswa diarahkan untuk membuat proposal bisnis yang akan dinilai oleh tim dosen kewirausahaan maupun tim penilai ekternal dari pelaku bisnis atau praktisi bisnis dan dipresentasikan untuk diikutkan dalam seleksi program Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) dan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) maupun Program Mahasiswa Mandiri untuk realisasi bisnisnya. Untuk mempromosikan dan memasarkan produk bisnis dilaksanakan Bazar Competition yang memperebutkan piala Rektor Universitas Bina Darma yang dijadikan ajang praktek menjual produk-produk bisnis mereka. Selain itu juga mahasiswa diikutsertakan dalam kegiatan kewirausahaan pada instansi maupun perguruan tinggi lain.

Berdasarkan produk usaha pada kegiatan bazar dan pembuatan proposal bisnis mahasiswa pada semester ganjil 2013-2014 di Universitas Bina Darma masih banyak yang tidak sesuai dengan bidang ilmunya. Dari data pada bazar tersebut terdapat 80% ide bisnis mahasiswa dibidang kuliner, aksesoris barang eletronik dan masih sangat minim didukung oleh tekhnologi termasuk bisnis dibidang tekhnologi sebagai bagian pengembangan inovasi.

  1. PENUTUP

Mindset mahasiswa setelah lulus tidak hanya menjadi mencari kerja tetapi dapat menciptakan lapangan kerja sangat penting dalam proses pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship) di perguruan tinggi. Dukungan tekhnologi dalam proses pembelajaran tidak terlalu berpengaruh untuk meninggkatkan motivasi technopreneurship segabai potensi inovasi mahasiswa untuk berbisnis terbukti dari jumlah proposal bisnis yang ada masih banyak bisnis dibidang kuliner yang tergolong entrepreneurship saja.

Desain kurikulum yang tepat, metode pembelajaran yang baik dan efektif serta didukungan dengan tekhnologi yang lengkap akan mempercepat proses entrepreneurship. Namun perlu diperhatikan bahwa untuk meningkatkan entrepreneurship menjadi technopreneurship seperti bagaimana untuk meningkatkan motivasi mencari peluang bisnis masih perlu terus kembangkan.

 


DAFTAR PUSTAKA

Graevenitz, George von, Harhoff, D and Weber, R (2010). The Effect of Entrepreneurship Education. Journal of Economic Behavior & Organization.

Heru Priyanto, Sony (2009). Mengembangkan Pendidikan Kewirausahaan di Masyarakat. Andragogia, Jurnal PNFI, Vol.1, No. 1, Nopember.

http://finance.detik.com, 360.000 Sarjana di Indonesia Masih Menganggur, Wahyu Daniel, diakses 21/04/2014.

http://perancangansisteminformasi.blog.com, Perancangan Sistem Informasi, Tata Sutabri, Seminar Nasional Tecknopreneurship 8 April 2011, diakses 21/04/2014.

Khan, S.A (2008) Entrepreneurship Education in Pakistani Universities. University of Essex Southend-on-Sea, School of Entrepreneurship and Business.

Solomon, GT., Duffy, S and Tarabishy, A (2002). The State of Entrepreneurship Education in The United States: A Nationwide Survey and Analysis. International Journal of Entrepreneurship Education, Vol. 1 No.1, pp.1-22.

Zimmerer, T.W. and Norman,M.S (2002). Essensials of Entrepreneurship and Small Business Management. Second edition. New Jersey; prentice Hall,Inc.

HUBUNGAN PEMASARAN SECARA ONLINE TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN DALAM PEMBELIAN

Thu ,13/08/2015
  1. Yani Ranius

Manajemen Informatika, Jl. A. Yani No 12 Palembang

email: ay_ranius@yahoo.com

 

 

Abstrak – Perubahan perilaku konsumen dalam membeli produk menuntut layanan pemasaran saat memasarkan produk secara online melalui internet. Dalam melakukan pembelian pada dasarnya konsumen menginginkan kemudahan pada saat membeli suatu produk. Keinginan tersebut diantaranya mendapatkan informasi produk yang diiklankan. Pemasaran melalui media internet yang dapat diakses menyesuaikan kebutuhan mereka terhadap suatu produk. Guna memenuhi kebutuhan konsumen akan infomasi suatu produk maka para pengusaha khususnya bagian pemasaran menyadari bahwa mereka segera menyesuaikan cara tidak hanya pemasaran secara konvensional tetapi juga melakukan cara pemasaran berbasis internet atau secara online. Dengan menerapkan cara pemasaran seperti ini diharapkan mampu meningkatkan omset yang akan meningkatkan penjualan. Tujuan dari penulisan ini untuk mengetahui apakah pemasaran produk secara online dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk pembelian suatu produk.

 

Kata Kunci: Pemasaran, Online, Pembelian.



  1. PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi yang semakin maju terutama dibidang Internet, menciptakan cara baru untuk menawarkan produk. Saat ini pemasaran dapat dapat dilakukan melalui teknologi internet yang cepat dan mampu menjangkau konsumen secara global dalam waktu singkat. Ditinjau dari sisi biaya operasional tidak terlalu besar. Metode pemasaran dengan menggunakan media elektronik ini dapat menekan biaya operasional pemasaran serta dapat meningkatkan omset penjualan. Melalui metode pemasaran ini maka dapat menciptakan hubungan antara konsumen dan produsen.

Pemasaran secara online dapat mempengaruhi proses periklanan yang dapat mempengaruhi tingkat pembelian oleh para pengguna internet. Dari informasi iklan tersebut dapat mempengaruhi keputusan para pengguna internet untuk melakukan pembelian. Cara pemasaran melalui internet dan periklanan dilakukan terus-menerus juga dapat berpengaruh secara langsung terhadap keputusan pembelian. Cara seperti ini dapat mengukur tingkat pelaksanaan program pada pemasaran, periklanan, pemasaran, serta keputusan konsumen untuk melakukan pembelian melalui Internet. Cara penilaian ini dilakukan berdasarkan tanggapan dan asumsi konsumen.

 

  1. LANDASAN TEORI

2.1. Transaksi Elektronik.

Pemasaran dan pembelian secrara online merupakan bentuk transaksi elektronik yang dilakukan oleh penjual dan pembeli. Dalam melakukan transaksi elektronik dilakukan dengan menggunakan perangkat komputer, jaringan internet, dan media elektronik pendukung lainnya. Penyelenggaraan transaksi elektronik adalah rangkaian transaksi adalah rangkaian transaksi elektronik yang dilakukan oleh pengirim dan penerima dengan menggunakan sistem elektronik.[6]

 

2.2. Pemasaran.

Hukum pemasaran berasumsi bahwa dengan menganggap hal lainnya tetap, kuantitas barang yang ditawarkan akan meningkat ketika harga barang tersebut terus meningkat [5]. Hubungan antara harga produk dengan kuantitas yang ditawarkan dapat dilihat dalam skedul pemasaran (supply schedule)[5]. Dapat dikatakan bahwa pemasaran  adalah sejumlah barang atau jasa yang tersedia dapat dijual oleh penjual pada berbagai tingkat harga dalam waktu tertentu.

 

2.3. Online

Secara umum sesuatu yang dikatakan online adalah bila ia terkoneksi atau terhubung dalam suatu jaringan ataupun sistem yang lebih besar. Arti kata online lainnya yang lebih spesifik yaitu dalam percakapan secara umum pada, jaringan atau network. Dalam konteks ini biasanya lebih mengarah pada fasilitas internet sehingga online lebih pada menjelaskan status bahwa ia dapat mengdiakses melalui internet. Dapat dikatakan online adalah terhubung, terkoneksi, aktif yang siap untuk komunikasi dan dikontrol oleh komputer. Online juga bisa diartikan sebagai suatu keadaan dimana sebuah device (komputer) terhubung dengan device lain melalui perangkat modem. Online adalah sedang menggunakan jaringan yang terhubung dalam jaringan, satu perangkat dengan perangkat lainnya yang terhubung sehingga bisa saling berkomunikasi.

 

2.4. Pembelian

Proses pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen melakukan pemembelian. Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang ditawarkan [4]. Dapat dikatakan bahwa pembelian merupakan keputusan konsumen dalam kegiatan untuk mendapatkan barang atau jasa yang ditawarkan.

Pemasaran melalui internet umumnya berkisar pada hal-hal yang berhubungan dengan produk periklanan, pencarian prospek atau pembeli serta penulisan kalimat pemasaran. Pemasaran internet secara umum meliputi kegiatan pembuatan desain web (web design), periklanan dengan menggunakan gambar tampilan, mempromosikan perusahaan melalui mesin pencari informasi (search engine), surat elektronik (e-mail), periklanan lewat e-mail (email advertising), advertensi interaktif (interactive advertising) dan lain-lain.

Ada dua jenis cara pemasaran online, yaitu :

  1. Layanan online komersial yaitu layanan lewat internet yang memberikan informasi dan layanan kepada pelanggan yang akan melakukan pembayaran, misalnya Artajasa sebagai penyedia fasilitas pembayaran online bagi perusahaan penyedia tagihan (billing provider).[2]
  2. Internet, yaitu web global jaringan komputer yang berkembang pesat dan tidak mempunyai struktur manajemen secara pisik dan dapat juga tidak mempunyai kepemilikan sentral.

 

 

Gambar 1. Contoh Layanan Online [2]

 

 

Gambar 2. Contoh Pemasaran Online [3]

 

2.5. Keputusan Konsumen Pembelian

Pemasaran harus mempunyai pengetahuan yang cermat terhadap prilaku konsumen agar dapat memberikan keinginan pasar yang sesuai terhadap perubahan perilaku konsumen dan berupaya terus menerus merancang bauran perkembangan pasar.

Perilaku konsumen menggambarkan bagaimana konsumen dapat memutuskan untuk membeli dan bagaimana mereka dapat melakukan dan mengatur pembelien barang atau jasa. Proses pengambilan keputusan pembelian terdiri dari lima tahap: pengenalan masalah, pencarian informasi, dan evaluasi alternatif, keputusan pembelian, serta perilaku pasca pembelian. Lima tahap pada tiap pembelian, yaitu :

 

 

Gambar 3. Model lima tahap proses pembelian [4]

 

  • Pengenalan Masalah.

Proses pembelian dimulai dari pengenalan masalah sesuai dengan kebutuhan (need recognition) pembeli akan mengenali permasalahan atau kebutuhannya. Adanya perbedaan antara keadaan aktual dengan keadaan yang diinginkan. Kebutuhan dapat dipengaruhi oleh stimulus internal ketika muncul kebutuhan normal meningkat cukup tinggi sehingga menjadi pendorong keinginan. Saat kondisi ini, pemasaran harus membaca peluang untuk mengetahui kebutuhan apa yang muncul, dan bagaimana cara menawarkan produk ke konsumen agar membeli produk tersebut.

  • Pencarian Informasi.

Ketika konsumen sudah berkeinginan mencari informasi tentang produk yang ia butuhkan dan kemungkinan muncul dorongan kuat ia cenderung akan membelinya. Namun jika tidak, konsumen akan menyimpan rencananya itu kedalam ingatan untuk melakukannya dikemudian hari mengerjakan pencarian kembali tentang informasi yang berhubungan dengan kebutuhannya itu. Konsumen dapat memperoleh informasi dari sumber pribadi (dintaranya dari keluarga, teman, tetangga, rekan kerja), sumber penawarna komersial (seperti iklan, penjual, pengecer, situs Web), sumber publik (seperti koran, televisi, radio), atau sumber lain dari pengalaman (seperti pengguna atau pemakai produk). Diantara sumber informasi yang berbeda-beda tersebut relatif berpengaruh terhadap keputusan pembeli.

  • Penilaian Alternatif.

Cara konsumen mencari informasi yang menghasilkan sekumpulan beberapa produk yang akhirnya diantaranya akan ia pilih. Dari informasi produk yang telah diperoleh konsumen akan memilih alternatif produk yang dicari, untuk menjadi pertimbangan agar konsumen melakukan evaluasi secara tunggal dan sederhana untuk melakukan beberapa proses evaluasi. Cara konsumen mengevaluasi alternatif pembelian tergantung pada konsumen secara individual dan situasi pada saat melakukan pembelian. Pemasaran produk harus mempelajari pembeli agar dapat memberikan alternatif produk secara aktual. Jika pemasaran dapat mengetahui proses evaluasi konsumen maka pemasaran harus menentukan langkah agar dapat mempengaruhi keputusan konsumen.

  • Keputusan Pembeli.

Hasil evaluasi konsumen akan menghasilkan peringkat produk yang akan ia beli dan membentuk kecenderuangan (niat) untuk membeli. Keputusan pembelian konsumen yang akan membeli produk dapat berdasarkan merek yang paling disukai. Diantara kecenderungan pembelian dan keputusan pembelian dapat dipengaruhi oleh faktor sikap konsumen lain terhadap produk yang ia beli dan faktor situasi tak terduga.

  • Perilaku Setelah Pembelian.

Setelah membeli produk, konsumen akan merasa puas ataupun tidak puas, dan ini akan masuk ke perilaku konsumen setelah pembelian. Jika produk yang dibeli jauh dari harapan konsumen maka konsumen kecewa, dan jika produk yang dibeli telah memenuhi harapannya maka konsumen akan merasa terpuaskan. Akan tetapi jika produk tersebut melebihi harapannya, maka konsumen akan sangat senang. Penilaian konsumen terhadap produk yang dibeli merupakan kunci keberlangsungan hubungan jangka panjang dengan konsumen. Untuk mempertahankan dan menumbuhkan kepuasan konsumen serta untuk memetik hasilnya berupa konsumen akan kembali membeli dan akan menyampaikan ke orang lain tentang produk tersebut.

Saat konsumen melakukan pengambilan keputusan menjadi suatu keseluruhan melalu tiga komponen berikut : [7]

  1. Masukan (Input)

Pengaruh dari luar akan berlaku sebagai sumber informasi tentang produk tertentu yang akan mempengaruhi nilai, sikap dan prilaku konsumen terhadap produk yang akan dibeli. Masukan ini terdiri dari dua yaitu pertama masukan pemasaran dilakukan secara langsung untuk memberikan informasi dan mempengaruhi konsumen untuk membeli dan menggunakannya. Kedua dari sisi sosial budaya yang akan mempengaruhi, yang bersumber dari komentar dan pendapat teman, pemakaian anggota keluarga, atau pendapat kelompok diskusi.

  1. Proses (Process)

Proses merupakan model yang berhubungan dengan cara konsumen saat mengambil keputusan, terdapat tiga tahap yaitu :

  1. Pengenalan kebutuhan terjadi saat konsumen dihadapkan dengan suatu masalah. Persoalan ini akan muncul dikalangan konsumen dengan dua kondisi pengenalan kebutuhan atau masalah yang berbeda.
  2. Pembelian dimulai ketika konsumen merasa adanya kebutuhan yang harus dipenuhi dengan membeli dan mengkonsumsi suatu produk. Informasi pengalaman masa lalu dapat memepengaruhi konsumen untuk melakukan pilihan saat Jika konsumen belum mempunyai pengalaman sebelumnya maka konsumen dapat melakukan pencarian informasi yang berguna sebagai dasar pemilihan untuk mencapai keputusan.
  3. Penilaian alternative dilakukan para konsumen dengan menggunakan dua macam pencarian informasi diantaranya membuat daftar berdasarkan merek dan kriteria produk yang akan di Melakukan penilaian dari semua merek yang didata dan memilih berdasarkan kriteria si pemakai sehingga membantu proses pengambilan keputusan.
  4. Keluaran (Output)

Pengambilan keputusan konsumen menjadi pertimbangan ada dua kegiatan setelah melakukan proses pembelian yakni perilaku pembelian dan penilaian setelah pembelian. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kepuasaan konsumen terhadap pembelian produk tersebut. Pembelian yang bersifat penjajakan, konsumen akan berusaha menilai suatu produk dengan pemakaian langsung. Ada tiga hasil penilaian yang akan muncul yaitu kinerja yang sesungguhnya sesuai dengan harapan, kinerja melebihi harapan, dan ketidakpuasan konsumen. Penilaian ini mempunyai hubungan yang erat saat konsumen cenderung menilai pengalaman mereka ketika melakukan penilaian produk setelah melakukan pembelian

 

 

Gambar 4 Model Pengambilan Keputusan Konsumen[7]

 

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

  • Mencari Calon Pelanggan Secara Online

Memiliki produk yang baik dan berkualitas sebagai produk andalan tidak cukup untuk menarik minat calon pelanggan untuk membeli produk tersebut, ketatnya persaingan sekarang harus diikuti strategi jitu dalam menarik pelanggan. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain :

  1. Product Knowledge, harus mengetahui produk yang dijual, spesifikasi dan manfaat produk, serta cara penggunaan atau perawatan produknya.
  2. Target Konsumen, Sebaiknya menetapkan pasar calon pelanggan yang akan membeli produknya. Dengan demikian dapat lebih mendalami karakter pelanggan dan dapat mengetahui keinginkan pasar terhadap produknya.
  3. Gaya bahasa yang memikat, harus dapat merangkai kata dalam iklan yang sesuai bagi mereka sesuai dengan target konsumen. Misalnya target pasar adalah kalangan pelajar, maka pemasaran seharusnya bisa memberi kesan pendidikan yang menarik dan semangat belajar yang disusun dalam iklan.
  4. Tulis deskripsi lengkap keunggulan dan manfaat produk perusahaan ketika konsumen membeli produknya, spesifikasi produk, saran dan penilaian dari konsumen terhadap membeli produk tersebut.
  5. Tampilan gambar atau visual produk, menawarkan produk dengan gambar atau dengan visualisasi produk akan lebih membuat konsumen tertarik melihat produk yang ditawarkan. Keinginan konsumen rasa ingin tahu dan penasaran terhadap produk tersebut akan mempengaruhi keputusan untuk membeli.
  6. Promosi yang gencar, menawarkan produk promosi gencar terhadap produk yang dijual. Contoh membuat tulisan Potongan harga hingga 50%, Beli 2 Gratis 1, atau kata-kata lainnya.
  7. Layanan penjualan, setelah melaksanakan transaksi pembelian produk tidak lupa juga untuk mencantumkan nama pelanggan agar dapat dihubungi bagian penjual perusahaan pembeli dapat sebanyak mungkin melakukan pembeliannya serta dapat memberikan rasa aman bagi pelanggan.
  8. Cepat memberikan tanggapan, calon pelanggan ingin cepat dilayani dan begitu juga dalam melakukan transaksi jual beli online. Ketika pelanggan mengirim tanggapan terhadap produk yang ditawarkan, maka sebaiknya harus secepat mungkin menanggapinya. Hal ini akan berpengaruh dan berpeluang bagi pesaing untuk untuk berubah pikiran dan berpaling ke produk lain.

 

  • Pemasaran Online.

Pemasaran Online dilakukan dengan system komputer online secara interaktif, yang menghubungkan antara pembeli dan penjual menggunakan mendia elektronik.

Dua jenis pemasaran online :

  1. Layanan Online Komersial, layanan yang menawarkan informasi dan pelayanan pemasaran secara online kepada pelanggan dan membayar biaya bulanan, seperti co.id.
  2. Internet, Web global jaringan komputer yang luas dan berkembang dan tidak memiliki manajemen dan kepemilikan terpusat.

Perdagangan elektronik (ecommerce) adalah istilah yang lazim pada proses pembelian dan penjualan menggunakan sarana elektronik. Proses tersebut dilakukan oleh konsumen online adalah penguna internet. Cara melakukan pemasaran online adalah dengan menciptakan kehadiran konsumen secara online. Cara seperti ini dilakukan dengan dua cara yaitu memberi ruang pada layanan online komersial dan membentuk situs internet tersendiri seperti situs web perusahaan.

 

  • Membuat Iklan Online

Merupakan layanan iklan yang akan muncul ketika para pencari layanan secrara online. Misalnya pada situs internet yang menyiapkan layanan iklan, tampilan jendela yang timbul dan tengelam, ticker, roadblock dan lain-lain. Cara lain misalnya mengikuti dan berperan aktif dalam subuah forum, group tertentu, dan diantara kelompok masyarakat internet. Kesempatan ini akan memungkinkan untuk menampilkan atau menyisipkan iklan.

Media e-mail atau webcasting, dimaksudkan melalui webcasting proses download yang dilakukan secara otomatis. Informasi yang disampaikan dapat dikirimkan ke media komputer si penerima dan dapat membuat saluran yang menarik serta mampu mengirimkan pemasangan iklan internet.

 

  • Pembelian Secara Online.

Belanja secara online sebetulnya sudah terjadi beberapa tahun sebelumnya. Media yang digunakan bukan dengan layanan internet tetapi dilakukan dengan memakai media televisi dan atau telepon. Produsen dapat mengiklankan produknya melalui media televisi dan pembeli dapat membelinya secara online dengan menelepon. Cara seperti ini sama saja dengan belanja secara online seperti layanan pada internet. Cara ini tidak jauh berbeda, pembeli tinggal menghubungi penjual serta melakukan pembayaran, kemudian penjual mengirimkan barang Sesuai dengan alamat yang ditunjuk. Dari proses tersebut sudah terjadi transaksi jual beli secara online.                 Saat ini dinilai sudah biasa ketika seseorang menginginkan sesuatu untuk mendapatkannya dengan mudah dan dilakukan secara sederhana. Diantaranya dalam hal berbelanja. Pembelian tidak perlu harus datang ke toko yang menjual produk yang dicari. Pembeli dapat mengakses melalui internet kemudian memilih barang dari website toko online. Setelah memilih barang sesuai keinginan berikut spesifikasinya, selanjutnya melakukan pembayaran dengan kartu kredit atau pembayaran dengan cara mentransfer bank atau dapat juga dengan phone banking atau juga melalui internet banking. Selanjutnya pembeli akan menunggu barang yang telah dipesan akan dikirim alamat yang ditentukan.

  • Keunggulan Belanja Secara Online.

Keunggulan berbelanja secara online antara lain :

  1. Pembeli tidak terhambat antara jarak dan waktu. Misalnya pembelinya dari Palembang yang membeli suatu produk yang dijual di Jakarta. Sebelum membeli akan melakukan survei yang tidak perlu harus datang ke Jakarta. Begitu juga pada saat melakukan transaksi dilakukan tidak harus pembayaran dengan uang tunai dan tidak perlu datang langsung.
  2. Dari dana yang tersedia dapat membeli barang yang sesuai dan diinginkan secara online. Pembeli hanya memilih barang yang dipesan lalu melakukan pembayaran melalui transfer uang. Proses ini dapat dilakukan dengan cukup kontak lewat telepon atau kontak lewat web, selanjutnya barang akan diantar langsung ke alamat yang ditunjuk. Car seperti ini akan lebih mudah, cepat, dan hemat biaya serta waktu. Calon pembeli tidak harus keluar rumah atau mengeluarkan biaya perjalanan.
  3. Belanja secara online sangat menghemat waktu dan tenaga. Bagi pekerja yang selalu disibukan dengan pekerjaannya pemanfaatan waktu dan energi adalah hal yang sangat berharga. Dengan adanya pembelian secara online, tidak perlu lagi khawatir karena berbelanja dapat dilakukan tanpa menyita waktu dan tenaga. Toko online akan buka selama 24 jam dan selalu siap melayani saat transaksi dan selalu memberikan informasi tentang produk yang ditawarkan.

 

  • Kelemahan Belanja Online.

Beberapa kelemahan berbelanja secara online antara lain :

  1. Produk yang dipajang di internet bisa saja berbeda dengan yang dikirimkan sesuai dengan keinginan pembeli. Jika hal ini tidak sesuai dengan yang dicantumkan di toko online, pembeli berhak mendapatkan penggantian atau uang kembali. Ketika akan melakukan komplain terhadap barang yang dibeli bila tidak sesuai dengan yang tercantum di internet. Pemberian garansi adalah hal yang lumrah pada proses jual beli. Adanya garansi justru akan memberikan keyakinan pembeli dan dapat menaikan reputasi toko
  2. Jika barang yang dikirim tidak sesuai yang paling repot adalah melakukan klaim. Prosesnya akan lebih lama dibandingkan dengan proses membelinya. Proses klaim ini menunjukan tingkat kualitas dari toko online Cara mengantisipasinya adalah dengan melihat testimoni dari toko online tersebut. Pengelolaan testimoni sebuah toko online akan mempengaruhi reputasi toko online di mata calon pembeli. Pembeli akan menjadi pelanggan tetap jika ia merasa puas dengan layanan ang baik.
  3. Toko online juga bergantung pada kurir atau jasa pengiriman barang. Toko online harus teliti menentukan kurir rekanan toko online Proses pengiriman barang bisa saja lebih lama dari waktu yang dijanjikan terutama pada libur hari besar nasional. Sebaliknya durasi pengiriman dengan cepat dapat meningkatkan reputasi toko online. Sebaiknya pembeli juga memahami mana perusahaan jasa pengiriman yang menjadi rekanan toko online yang melayani pengiriman barang yang dipesan.

Untuk mengatasi kelemahan tersebut dapat dilakukan dengan cara milihat testimoni dan reputasi toko online tersebut. Jadilah pembeli yang cerdas dimulai dari memilih toko online yang memang sudah memiliki reputasi baik. Agar terhindar dari penipuan dan cybercrime lainnya, pembeli juga harus teliti terhadap barang yang ditawarkan. Gunakan istilah pembeli adalah raja, jadi jangan malu bertanya kepada customer service bila perlu sedikit cerewet untuk memastikan bahwa barang yang akan dipesan sesuai dengan keinginan. Dengan menggunakan fasilitas contact person atau telepon atau e_mail dan lainnya dapat ditanyakan langsung tentang kejelasan barang yang akan dibeli.

 

  • Keunggulan dan Kelemahan Pemasaran Online.

Saat ini pemasaran online memiliki beberapa keunggulan diantaranya biaya yang lebih murah dalam artian pemasaran online tidak perlu membangun atau menyewa tempat.selain itu tidak terikat oleh waktu dan jarak dalam artian pemasaran online dapat memasarkan produk kapan saja dan dimana saja di seluruh wilayah. Dilakukan tanpa berpengaruh kapan dan dimana pembeli bekerja, bahkan tidak harus dilakukan pada waktu yang sama saat melakukan pekerjaan. Keunggulan yang lain yaitu dalam bisnis online penjual dapat sebagai manager dan pemiliknya karena dalam bisnis online tidak terikat oleh orang lain yang dapat mengatur jadwal pekerjaan dan dalam menjalankan bisnisnya. Keunggulan lainnya adalah dapat menghemat waktu dan biaya opersional dalam artian melalui situs pemasaran online dapat mengirimkan daftar produk yanhg dapat dilihat oleh para pelanggan. Dengan sendirinya pelanggan akan melihat produknya dan tidak perlu membutuhkan karyawan menjelaskan produk yang ditawarkan. Bila pelanggan akan membeli produk tersebut tidak perlu membutuhkan karyawan untuk melayani proses pembelian.

  1. Beberapa kelemahan yang membuat orang masih lebih memilih cara pemasaran secara konvensional. Kelemahan pemasaran online diantaranya kepercayaan masyarakat masih kecil, dalam artian kepercayaan para pelanggan masih kecil karena kehati-hatian dan takut ditipu. Kelemahan berikutnya adalah pada pemasaran online produk yang ditawarkan kurang nyata, dalam artian hanya menampilkan produk dengan gambar dan dilihat melalui jaringan internet sehingga pelanggan tidak bisa merasakan produk tersebut secara keseluruhan. Kelemahan yang lain adalah terhadap kredibilitas bisnis yang ditawarkan, dalam artian pelanggan akan berpikir apakah situs tersebut benar-benar ada atau berupa penipuan.

3.8. Perlindungan Transaksi Elektronik

                Pada dasarnya pemerintah Indonesia telah menuangkan aturan pada pelaksanaan transaksi elektronik yang berkaitan dengan pemasaran secara online. Peraturan tersebut untuk menghindari proses penjualan dan pembelian dari unsur penipuan. Diantara aturan tersebut tertuang pada pasal 43 ayat 1 yaitu Penyelenggaraan transaksi elektronik di wilayah Negara Republik Indonesia harus : [6]

  1. Memperhatikan aspek keamanan, keandalan, dan efisiensi.
  2. Melakukan penyimpanan data transaksi di dalam negeri.
  3. Memanfaatkan gerbang nasional, jika dalam penyelenggaraannya melibatkan lebih dari satu Penyelenggara Sistem Elektronik, dan
  4. Memanfaatkan jaringan Sistem Elektronk dalam negeri.

Diantara hal lain yang mewajibkan kepada penjual maupun pembeli dalam melaksanakan transaksi elektronik juga telah diatur pada pasal 46 ayat 2 yaitu penyelenggaraan transaksi elektronik yang dilakukan para pihak wajib memperhatikan itikad baik, prinsip kehati-hatian, transparansi, akuntabilitas, dan kewajaran. [6]

 

  1. IV. KESIMPULAN

Kesimpulan pada hasil pembahasan tentang hubungan pemasaran secara online terhadap keputusan konsumen dalam pembelian yaitu:

  1. Kemungkinan barang yang tidak sesuai dengan keinginan menyebabkan konsumen lebih suka melakukan belanja secara konvensional.
  2. Adanya program pemasaran dengan menggunakan internet dapat meningkatkan tingkat penjualan karena dengan adanya program pemasaran melalui internet dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
  3. Bagi perusahaan yang belum menerapkan pemasaran melalui internet dapat melakukan cara periklanan seperti ini karena cara seperti ini lebih murah dan dapat meningkatkan tingkat penjualan yeng dapat meningkatkan laba
  4. Pengetahuan perilaku konsumen harus dipahami agar dapat mengikuti perubahan terus menerus serta untuk menyesuaikan bauran pemasaran yang tepat.
  5. Pemasaran secara online memiliki banyak keunggulan dan kemudahan dibandingkan dengan transaksi secrara konvensional, terutama untuk pengusaha mikro, kecil dan menengah.
  6. Untuk mengatasi unsur penipuan transaksi online telah diatur dalam peraturan pemerintah diantaranya tertuang pada pasal 49 ayat 2 yaitu pelaku usaha wajib memberikan kejelasan informasi tentang penawaran kontran atau iklan, dan ayat 4 yaitu pelaku usaha wajib menyampaikan informasi mengenai barang yang telah dikirim. [6]

 

DAFTAR REFERENSI

 

  • Destianty Citra, Pengembangan Rooster dalam Menunjang Sistem Pelayanan Iduhelp!, 2013,http://widuri.raharja.info/index.php
  • http://www.artajasa.co.id/id/online-payment.html. diakses 28 Nop. 2013.
  • http://www.lazada.co.id/ diakses 28 Nop. 2013.
  • Kloter, Philip, Strategi Pemasaran Untuk Organisasi Nirlaba, Edisi ketiga, Universitas Gajah Mada Press, 2002.
  • Mankiw Gregory, Pengantar Ekonomi Makro, Edisi kelima, Erlangga, Jakarta, 2003
  • PP RI no. 82 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, Dirjen Aplikasi Informatika, Kementrian Kominfo.
  • Schiffman, Kanuk (2008;p.493),

http://library.binus.ac.id/Bab2001.pdf diakses 28 Nop. 2013.

Biodata Penulis

A Yani Ranius, memperoleh gelar Sarjana Komputer (S.Kom), Jurusan Manajemen Informatika STMIK Bina Darma Palembang, lulus tahun 1998. Memperoleh gelar Magister Manajemen (M.M) Program Pasca Sarjana Magister Manajemen Universitas Bina Darma Palembang, lulus tahun 2006. Saat ini menjadi Dosen di Universitas Bina Darma Palembang.

SISTEM REMEDIAL NILAI SISWA SMA OLAH RAGA NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG MENGGUNAKAN J2ME DENGAN METODE SOFT SYSTEM METHODOLOGY (SSM)

Thu ,13/08/2015

A.Yani Ranius,S.Kom.,M.M.

Nita Rosa Damayanti, S. Kom

Universitas Bina Darma, Dosen Universitas Bina Darma

Jalan Jend. Ahmad Yani No.12 Palembang

Pos-el :ay_ranius@yahoo.com

 

Abstrak : Penelitian ini dilakukan untuk memberikan solusi dan dapat membantu siswa untuk mengetahui nilai ujian semester secara cepat dan dapat mengetahui jadual remidial mereka yang sesuai dengan standar kriteria ketuntasan minimal. Akses dapat dilakukan menggunakan aplikasi J2ME (java Mobile) menggunakan handphone. Aplikasi ini diharapkan dapat membantu siswa dalam mengakses informasi dengan cepat tanpa harus datang langsung ke sekolah untuk melihat nilai dan hasil perbaikan setelah di-remidial serta mengetahui jadualnya. Dalam kajian ini menggunakan pendekatan Soft System Methodology (SSM), dengan metode analisis dan pemodelan sistem yang terintegrasi ke teknologi (hard) sistem dan human (soft) sistem yang biasanya digunakan perubahan.

 

Kata kunci: Aplikasi java mobile (J2ME), remedial nilai, soft system methodology

 

  1. Pendahuluan

Remedial adalah kegiatan yang ditujukan untuk perbaikan dan merubah kembali nilai guna membantu siswa memperbaiki nilai yang diperoleh. Tujuan Remedial nilai agar mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum yang berlaku. Sedangkan SMA Olahraga Negeri Sriwijaya Provinsi Sumatera Selatan merupakan Sekolah Khusus Olahraga (SKO) yang bertujuan menyaring dan membina pelajar berbakat olahraga untuk mencapai prestasi dibidang akademis maupun olahraga.

Sekolah Menangah Atas Olahraga ini selain dituntut untuk berprestasi dibidang akademik juga prestasi dibidang olah raga. Kenyataannya prestasi belajar siswa cukup baik terlihat dari cara belajar siswa dan hasil nilai yang ada. Walaupun demikian ada juga beberapa siswa yang memiliki nilai yang tidak cukup dan nilai tersebut harus diulang kembali (remedial). Setelah ujian selesai seluruh siswa terutama yang mengikuti pertandingan olahraga di dalam kota maupun di luar kota, akan kesulitan untuk melihat nilai ujian semester karena mereka sudah mengikuti kegiatan yang olah raga.

Sedangkan cara yang digunakan pada SMA Olahraga guna mengetahui informasi nilai yang berjalan saat ini kurang efektif yaitu sebagai contoh ketika siswa selesai ujian semester mereka harus menunggu 5-7 hari untuk mengetahui informasi nilai mereka apakah mereka harus mengikuti remedial atau tidak. Selain itu juga setelah siswa mendapatkan informasi nilai, siswa juga harus menunggu pengumuman jadwal ujian remedial. Hal ini mengakibatkan siswa lambat untuk mendapatkan informasi nilai. Oleh karenanya dibutuhkanlah sebuah sistem untuk membantu siswa dalam mendapatkan informasi nilai secara cepat.

Sistem yang dibuat dengan menggunakan aplikasi J2ME adalah sebuah kombinasi yang terbentuk antara sekumpulan interface java yang sering disebut dengan (Aplication Programming Interface) yang dapat menggunakan telepon genggam. SSM merupakan metodologi sebagai pembaharuan dari Hard System methodology (HSM) yang pola pikirnya adalah membatasi jumlah variabel seminimum mungkin sehingga dapat menyederhanakan masalah dan memudahkan perumusan formulasi solusi. (Sofian Lusa, Mario Iskandar, 2010)

  1. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang ada dan untuk menyelesaikan masalah pemberian informasi nilai dan remidial nila siswa maka dirumuskan masalah yaitu bagaimana merancang sistem informasi remedial nilai siswa.

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merancang sistem informasi remidial nilai siswa:

  1. Guna mempermudah siswa untuk mengetahui nilai dan me-remidial.
  2. Sebagai pembelajaran dalam pemecahan masalah dengan pendekatan Soft System Methodology (SSM).
  3. Aplikasi yang digunakan adalah dengan menggunakan J2ME.

Metodologi Penelitian

4.1  Metode Penelitian

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, metode yang menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai informasi yang sebenarnya sesuai fakta-fakta yang dilapangan.

4.2  Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh gambaran mengenai data yang dibutuhkan dalam perancangan ini, metode yang digunakan adalah :

  1. Data Primer

Data yang dikumpulkan langsung dari tempat penelitian, melalui wawancara kepada kepala bagian staff guru dan kepada karyawan-karyawan yang dapat memberikan keterangan yang diperlukan.

Data primer terdiri dari :

  1. Wawancara

Untuk memperoleh data dan informasi yang lengkap dan benar dilakukan dengan mengadakan wawancara terhadap pegawai yang mempunyai wewenang untuk memberi data.

  1. Observasi

Melakukan pengamatan secara langsung serta pencatatan terhadap data dan informasi pada bagian pengelola nilai.

  1. Dokumentasi

Mencari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pembahasan masalah-masalah serta melengkapi data-data yang diperlukan dalam perancangan ini.

  1. Data Sekunder

Data yang didapat dan digunakan berupa pengetahuan teoritis yang didapat, baik dari buku-buku referensi yang relevan serta dari hasil penjelajahan (browsing) melalui internet.

4.3  Metode pendekatan Soft System Methodology

Tahapan Metode analisis sistem dalam perancangan informasi remedial nilai siswa dengan menggunakan metodologi soft system methodology yaitu:

Tahapan metode soft system methodology adalah sebagai berikut:

  1. Problem Situation Unstructured

Pada tahap ini yang pertama kali dilakukan adalah mengumpulkan informasi mengenai struktur dan proses melalui penelitian, pengumpulan data dan melalui wawancara. Diharapkan dengan pengumpulan informasi yang ada dapat menemukan masalah utama yang terjadi.

  1. Problem Situation Expressed

Pada tahap ini, berdasarkan data serta informasi yang ada dibentuk suatu “Rich Picture”. Rich Picture adalah sebuah gambaran yang digunakan untuk persentasi yang dapat menunjukan masalah yang muncul, konflik yang ada serta kepentingan dari tiap-tiap bagian. Rich picture menggambarkan suatu masalah yang terjadi pada suatu perusahaan secara detail sehingga orang yang melihat gambar tersebut dapat mengerti arti pengambaran dari Rich Picture.

  1. Root Definitions Of Relevant System

Pada tahap ini, Root Definition berkaitan dengan perluasan dari masalah dan dituliskan dalam kalimat. Root Definition adalah suatu pandangan yang ideal dari suatu sistem yang relevan. Tujuan Root Definition adalah untuk mencari apa yang akan dilakukan, mengapa harus dilakukan, siapa yang melaksanakan, siapa yang mendapat rugi/untung dari masalah yang ada. Segala macam tindakan itu dapat dilakukan dengan menggunakan metode CATWOE. CATWOE terdiri dari :

  1. C/ customer adalah orang yang mengharapkan manfaat dari tindakan yang diambil.
  2. A/ Actor pelaku yang melakukan tindakan.
  3. T/ Transformation process adalah perubahan dari masukan yang ada untuk menuju ke arah yang lebih baik.
  4. W/ Weltanschauung adalah bentuk tindakan yang ideal untuk menghadapi dan mengamati permasalahan.
  5. O/ Owner adalah pelaku yang dapat menghentikan tindakan.
  6. E/ Enviromental Constraint adalah rintangan yang terdapat pada sistem.
  7. Conceptual Model

Model konseptual adalah suatu aktivitas yang harus dilakukan untuk memenuhi persyaratan dari pendefinisian masalah. Model konseptual dibuat dengan menggambarkan dalam bentuk kata-kata yang diperlukan untuk menggambarkan aktivitas yang harus dilakukan dalam pendefinisian masalah.

  1. Comparisons with Reality

Pada tahap ini akan membandingkan kenyataan dengan sistem yang telah akan dibuat dalam model konseptual. Pertama akan diberikan nomor pada model yang telah dibuat untuk mencari perbedaan yang terdapat pada real world (sistem yang nyata). Kedua, penulisan dari perbedaan yang ada antara sistem yang nyata deengan model konseptual juga pemberian pertanyaan dimana jawaban yang ada harus sesuai dengan situasi yang terjadi.

  1. Debate about Change

Pada tahap ini, segala perbandingan antara sistem yang nyata dengan model konseptual akan dibandingkan hal mana yang akan dirubah atau tidak. Perubahan yang ada juga harus dipertimbangkan karena tidak mudah seperti memilih antara hitam dan putih, tetapi perubahan yang terjadi harus dipertimbangkan dengan kondisi yang ada.

  1. Action to improve the problem situation

Melakukan tindakan bearti mengimplementasikan perubahan yang dibutuhkan dan dilakukan.

4.4  Analisis dan Perancangan

Pada tahapan analisis menggunakan metode soft system methodology dengan analisisinya yaitu:

  1. Problem Situation Unstructured

Secara umum situasi permasalahan berdasarkan hasil temuan dalam proses sistem informasi remedial nilai siswa yang melibatkan siswa di SMA Olahraga, antara lain:

  1. Proses informasi nilai yang lambat dan harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan informasi nilai mengakibatkan siswa lambat juga untuk memperbaiki nilai mereka, sedangkan di SMA Olahraga ini setelah siswa selesai ujian semester siswa sering mengikuti pertandingan olahraga, jadi dengan sistem yang lambat siswa harus menunggu lama untuk memperbaiki nilai mereka.
  2. Secara teknologi di SMA ini belum memiliki sistem informasi nilai yang cepat dan efektif. Hal ini sangat menyulitkan dalam proses informasi nilai siswa.
  3. Problem Situation Expressed

     Data yang diperoleh pada tahapan problem situation unstructured diklafikasikan dan dibuatkan suatu penggambaran yang menjelaskan permasalahan yang terjadi di SMA Olahraga. Pada tahapan ini diperoleh sebuah bentuk midel secara simbolik yang disebut rich picture, berupa formulasi permasalahan dan bentuk pemahaman atas situasi masalah yang dihadapi, dimana berhubungan dengan permasalahan yang terjadi. Gambar rich picture yang diperoleh dari hasil situation unstructured sebagai berikut:

Memberikan data nilai siswa ujian semester

 

Memberikan pengumuman nilai remedial
Memberikan soal ujian semester
GURU

 

Memberikan informasi jadwal remedial

 

Melihat pengumuman remedial
Melihat jadwal

remedial

Ujian semester
SISWA
SEKOLAH

 

 

Gambar 1. Situation unstructured

  1. Root Definitions Of Relevant System

Dari hasil analisa permasalahan dan rich picture dapat ditarik sebuah definisi sistem yang paling relevan untuk dijadikan sebuah root definition adalah sistem informasi nilai yang lambat.

Sedangkan analisa dalam elemen CATWOE (Client, Actor, Transformation, World view, Owner, Environment) adalah sebagai berikut:

C: SMA olahraga (problem sistem informasi nilai yang lambat).

A: Guru dan siswa, Guru lambat menginformasikan nilai sehingga siswa harus menunggu pengumuman.

T:  Kebutuhan sistem yang ada belum cepat sehingga akan dibuat sistem yang baru.

W:        Sistem yang akan dibuat diklaim mampu merubah cara memberikan informasi dengan cepat dan efektif.

O:        Klien (problem sistem yang lambat) informasi nilai setelah ujian semester yang lambat sehingga siswa harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan informasi nilai mereka, ‘Apakah remedial atau tidak ?’.

E: Kebijakan sekolah dengan perubahan sistem informasi nilai dengan tujuan akan tercapai informasi nilai secara tepat.

  1. Conceptual Model

Model konseptual awal yang dihasilkan oleh root definition adalah sistem informasi nilai siswa dimana proses yang ada di SMA ini setelah siswa selesai ujian semester, siswa harus menunggu lama informasi nilai mereka. Maka dibuatlah usecase, Activity dan class diagram agar dapat mendefinisikan permasalahan yang ada di SMA Olahraga. Dapat dilihat pada gambar 2 use case diagram, gambar 3 Activity diagram, gambar 4 Class Diagram.

  1. Usecase Diagram

   Use case diagram ini menggambarkan fungsional yang diharapkan dari mobile handphone siswa dengan sebuah sistem. Siswa dapat melihat informasi nilai dan jadwal remedial setelah melakukan login, dimana sistem informasi nilai ini berintegrasi pada sistem Admin SMA Olahraga Sriwijaya pada proses pertukaran data.

 

Gambar 2. Rancangan Use Case Diagram

  1. Activity Diagram

Activity Diagram ini menjelaskan kegiatan atau interaksi yang dilakukan siswa dan sistem pertama-tama akan menampilkan login. Setelah login berikutnya sistem akan menampilkan informasi nilai, informasi jadwal ujian remedial, dan informasi hasil ujian remedial.

Gambar 3. Rancangan Activity Diagram

 

 

 

 

 

 

 

  1. Class Diagram

Gambar 4. Rancangan Class Diagram

 

  1. Comparisons with Reality

Selanjutnya pada model konseptual awal belum memiliki sistem teknologi informasi nilai dengan handphone secara cepat dan efektif sehingga lambat untuk mendapatkan informasi nilai.

Informasi jadwal remedial dan informasi hasil ujian remedial. Oleh karenanya siswa bisa melihat informasi nilai, informasi jadwal remedial dan informasi nilai hasil ujian remedial dengan teknologi handphone secara cepat dan efektif.

Gambar 5. Rancangan Model Konsep Perbaikan

  1. Debate about Change

Setelah dilihat dari analisa dan hasil analisa: rich picture, model konseptual awal, dan model konsep perbaikan terhadap sistem pendukung, maka ada beberapa kebutuhan yang harus diantisipasi oleh model tersebut. Pada tahap guru memberikan informasi nilai siswa maka siswa dengan cepat dapat melihat informasi nilai, informasi jadwal remedial, dan informasi hasil ujian remedial.

  1. Action to improve the problem situation

Berdasarkan hasil permasalahan tersebut maka dirancang aplikasi Java Mobile untuk informasi nilai siswa bertujuan untuk mempermudah siswa mendapatkan informasi nilai secara cepat dan efisien. Selanjutnya melakukan perancangan (Design) pada tahap perancangan (Design) menggunakan metode pengembangan perangkat lunak. Adapun metode pengembangan perangkat lunak yang digunakan adalah unified Software Development Process. Tahapan metode perancangan (Design) ini adalah tahapan kedua setelah melakukan proses analisis.

 

  1. 5. Rancangan Menu siswa menggunakan (J2ME).
  2. Rancangan Menu Login, menu ini sebagai fasilitas siswa yang akan memasuki sistem melalui telpon genggam. Dari menu inilah siswa bisa mengakses dan mengetahui informasi yang diperlukannya.
  3. Menu Utama, dibuat agar siswa dapat melihat informasi nilai dan jadwal remedial.
  4. Informasi nilai, adalah informasi untuk siswa melihat apakah nilai mereka di-remedial atau lulus.
  5. Informasi jadwal remedial, diperuntukan agar siswa mengetahui jadwal ujian remedial bagi mereka yang tidak lulus.
  6. Informasi hasil ujian remedial adalah untuk siswa melihat kembali nilai mereka setelah mereka selesai mengikuti ujian remedial.

 

  1. Hasil

Rancangan sistem ini berupa aplikasi yang dapat memberikan informasi bagi siswa di SMA Olahraga Sriwijaya dengan menggunakan bahasa pemrograman berbasis mobile phone yaitu J2ME.

Sistem informasi ini dibuat untuk mempermudah siswa melihat informasi nilai dan jadwal ujian remedial, sehingga siswa tidak harus lama menunggu pengumuman informasi nilai dan jadwal remedial karena bisa dilakukan menggunakan aplikasi J2ME.

Adapun aplikasi nilai remedial siswa yang telah dibuat memiliki sub-sub menu sebagai berikut:

  1. Menu Login, merupakan menu yang digunakan oleh user untuk masuk ke aplikasi.
  2. Halaman Menu Utama, terdiri dari sub menu yaitu:
  3. Menu informasi nilai berfungsi untuk menampilkan semua informasi nilai siswa setelah mengikuti ujian semester.
  4. Menu informasi jadwal berfungsi untuk menampilkan informasi jadwal ujian remedial.
  5. Menu Informasi hasil ujian remedial berfungsi untuk menampilkan hasil ujian remedial

 

  1. Kesimpulan
  2. Sistem Informasi yang dihasilkan adalah sistem informasi remedial nilai siswa di SMA Olahraga Sriwijaya dengan handphone diimplementasikan dengan menggunkan J2ME Netbeans 6.9.1 dan xampp dan php untuk masukan data. Sistem informasi ini dibangun menggunakan metode SSM (Soft System Methodology).
  3. Aplikasi ini dapat membantu siswa untuk memperoleh data informasi nilai dan jadwal mengikuti ujian remedial, bagi siswa tidak lagi menunggu informasi pengumuman nilai karena dapat mengakses menggunakan aplikasi J2ME.

 

Daftar Pustaka

Adi Nugroho. 2010. Rekayasa Perangkat Lunak Berorientasi Objek dengan metode USDP (Unified Software Development Process). Andi Yogjakarta

Agus Saputra. 2011.Panduan praktis menguasai Data base Server MySQL Jakarta. PT Elex   Media Komputindo.

Budi Raharjo. 2007.Tuntunan pemrograman Java untuk Handphone dan alat komunikasi mobile Bandung. Informatika.

Nana Sudjana. 1989. Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.

Rosa & M. Shalahudin 2011. Rekayasa Perangkat Lunak.Bandung. Modula.

Sutarman, 2009. Pengantar Teknologi dan Informasi. Yogjakarta. Bumi aksara.

Sofian Lusa, Mario Iskandar, 2010. Kajian Penerapan Aplikasi Open Source di Perguruan Tinggi Dengan Pendekatan Soft System Methodology, Proseding, Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu (SENMI-2010) Universitas Budi Luhur.

Tata, Sutarbi, 2003. Analisa sistem informasi. Jakarta.Andi

Analisis SWOT Penyusunan Rencana Induk e-Government Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Muara Enim

Thu ,13/08/2015
  1. Yani Ranius1), Emel Apriandes2)

1) Fakultas Ilmu Komputer Univ. Bina Darma Palembang 30264, email: ay_ranius@yahoo.com

2) Fakultas Ilmu Komputer Univ. Bina Darma Palembang 30264, email: virgo.emel@yahoo.com

 

 

 

 

Abstrak : Salah satu cara yaitu implementasi e-government diperlukan adanya rencana induk e_govrnment dengan berpedoman dalam integrasi teknologi informasi di Pemerintah Daerah, sehingga implementasi e-government diharapkan dapat membantu meningkatkan interaksi antara pemerintah, masyarakat dan bisnis sehingga mampu mendorong perkembangan politik dan ekonomi. Penelitian ini menghasilkan analisis penyusunan rencana induk e-government pada Pemerintah Daerah Kabupaten Muara Enim melalui Kantor Komunikasi dan Informatik.

Kata Kunci: Analisis, SWOT, egovernment.

Abstract : One way that the implementation of e-government master plan is needed e_govrnment by referring to the integration of information technology in local government, so that the implementation of e-government is expected to help improve interaction between government, community and business so as to encourage political and economic developments. This research resulted in the preparation of analysis of e-government master plan in Muara Enim District Government through the Office of Communications and Informatics.

Keywords: Analysis, SWOT, egovernment

1. PENDAHULUAN

Seiring dengan semakin cepatnya perubahan lingkungan strategis yang dinamis, kompleks, dan beraneka ragam yang mengakibatkan terjadinya kompetisi serta berakibat semakin luasnya keinginan dan kebutuhan masyarakat. Dengan keragaman tersebut juga ikut andil peran perguruan tinggi untuk memberikan masukan atau ide yang dapat dijadikan refrensi yang dituangkan dalam bentuk penelitian ini. Selain itu guna memenuhi hal tersebut pemerintahan telah melakukan upaya yang ditunjang dengan teknologi informasi supaya reformasi birokrasi dalam penyelenggaraan dan pemerintahan dapat dioptimalkan dengan efektif. Berdasarkan Instruksi Presiden No 3 tahun 2003 tentang kebijakan dan strategi nasional pengembangan e-government dan keputusan menteri negara komunikasi dan informasi nomor : 12/SK/MENEG/KI/2002 tanggal 1 maret 2002 tentang pembentukan satuan tugas pengembangan e-government disetiap lembaga pemerintah Republik Indonesia [5], membuka jalan bagi penerapan teknologi komunikasi dan informasi dibidang pemerintahan. Saat ini telah banyak instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah otonom yang berinisiatif mengembangkan pelayanan publik melalui jaringan komunikasi dan informasi dalam bentuk website.

E-government [3] adalah istilah yang digunakan berbagai kegiatan pemerintahan yang dibantu melalui media teknologi informasi dan komunikasi. E-government sudah digunakan oleh negara-negara berkembang untuk meningkatkan layanan terhadap warga negara dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Untuk meningkatkan kepuasan warga negara terhadap pemerintah maka digunakan elektronik government atau e-governrment sebagai sarana mengevaluasi kinerja.

Kabupaten Muara Enim adalah salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Selatan. Ibu kota kabupaten ini terletak di kota Muara Enim. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 9.323,06 km² dan populasi sebanyak lebih dari 700.000 jiwa. Kecamatan yang ada di kabupaten muara enim yaitu, kecamatan Abad, Gelumbang, Benakat, Gunung Megang, Kelekar, Lawang Kidul, Lembak, Lubai, Muara Belida, Muara Enim, Penukal Abab, Panukal Utara, Rambang, Rambang Dangku, Semondo Darat Laut, Semendo Darat Ulu, Sungai Rotan, Talang Ubi, Tanjung Agung dan Ujan Mas. Pemeritah Kabupaten Muara Enim melalui kantor Komunikasi dan Informatika kabupaten Muara Enim menyadari pentingnya peranan informasi dengan menggunakan electronic government (egov) sebagai penerapan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik yang dalam implementasinya pemerintah kabupaten Muara Enim membangun website dengan alamat http://www.muaraenimkab.go.id. Beberapa fungsi dan manfaat dari adanya website atau situs remi Pemerintah Kabupaten Muara Enim ini yaitu, memperkenalkan dan mempromosikan sumber daya alam maupun produk hasil bumi, memperlihatkan secara nyata kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam melaksanakan urusan pemerintahan kepada masyarakat umum secara luas, tersedianya sarana interaksi langsung antara Pemerintah daerah dan masyarakat dan menjadi indikator dan barometer bagi pembangunan daerah kabupaten muara enim. E-government pada website pemerintah kabupaten Muara Enim terdiri dari header yang bergambar logo kabupaten Muara Enim dan gedung pemerintah. Menu menu atas terdapat link terdapat home, profil terdiri dari submenu visi misi dan lambang pemerintah terdiri dari submenu dinas, pejabata eselon dan pemerintahan terkait, informasi umum RUP APBD 2012, RUP APBD/P 2012, pengumuman lelang, dan berita lelang, webmail, kontak kami dan buku tamu, pada menu atas juga terdapat fasilitas pencarian. Menu kanan terdapat gambar wakil bupati muara enim, daftar link terkait dan polling. Menu kiri terdapat gambar bupati muara enim, jumlah pengunjung, fasilitas login dan daftar pengumuman. Menu footer terdapat pengelolah website yaitu Kantor Komunikasi dan Informatika.

Pada penelitian ini analisis SWOT dapat mengetahui tentang faktor eksternal yang ada di Kabupaten Muara Enim yaitu peluang adanya teknologi informasi yang menunjukan perkembangan yang pesat dengan adanya fasilitas website. Sedangkan ancaman ekstrenal seperti pencurian data dan data yang rusak. Untuk kekuatan faktor eksternal seperti adanya sumber daya manusia yang memiliki kualitas yang baik dalam updating data pada website dan kelemahan faktor internal seperti kurangnya pemahaman untuk pegawai tentang pentingnya website untuk Kabupaten Muara Enim. Berdasarkan visi dan misi dari kabupaten Muara Enim maka disusunlah rencana strategis (renstra) menggunakan metode analisis SWOT yang terdiri dari analisis lingkungan internal (ALI) dan analisis lingkungan eksternal (ALE) dan menghasilkan perumusan asumsi melalui pembobotan analisis lingkungan internal (ALI) dan analisis lingkungan eksternal (ALE). Analisis SWOT juga menghasilkan analissi stratejik alternatif dan pilihan (ASAP) untuk mendapatkan analisis faktor penentu keberhasilan (FPK). Dari analisis restra yang ada maka dapat disusun Rencana Induk Pengembangan (RIP) untuk periode tahun yang akan datang. Berdasarkan uraian-uraian tersebut maka diangkat permasalahan dengan penetapan judul penelitian yang dipilih yaitu ”Analisis SWOT Guna Penyusunan Rencana Induk E-Government Pada Pemerintahan Daerah Kabupaten Muara Enim”.

2. METODE ANALISIS

2.1. Analisis SWOT

Dari analisis SWOT [9] menurut [6] “Analisis SWOT adalah dentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi Perusahaan” Analisis SWOT mempunyai peranan penting dalam kemajuan usaha yang akhir-akhir ini semakin kompetitif persaingannya dalam mencapai tujuan. arti dari SWOT adalah Strengths, Weakness, Opportunity, and Threats. Yang artinya Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman. Berikut ilustrasi gambar analisis SWOT menurut Rangkuti:

Sumber : [6]

Gambar 1 : Analisis SWOT

Definisi analisis SWOT [8] adalah sebagai berikut:

  1. Peluang (Opportunities) Suatu peluang merupakan situasi utama yang mengguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Kecenderungan-kecenderungan utama ini adalah salah satu peluang identifikasi dari segmen pasar yang sebelumnya terlewatkan, perubahan-perubahan dalam keadaan bersaing, atau peraturan, hubungan pembeli, perubahan teknologi dan hubungan pembeli dan pemasok yang telah diperbaiki dapat menunjukan peluang bagi perusahaan.
  2. Ancaman (Threaths) Ancaman adalah rintangan-rintangan utama bagi posisi sekarang atau yang diinginkan dari perusahaan. Masuknya pesaing baru, pertumbuhan pasar yang lambat, daya tawar pembeli dan pemasok utama yang meningkat, perubahan teknologi, dan peraturan yang baru atau yang direvisi dapat merupakan ancaman bagi keberhasilan suatu perusahaan.
  3. Kekuatan (Strenghts) Kekuatan adalah sumber daya, ketrampilan atau keunggulan lain yang relatif terhadap pesaing dan kebutuhan dari pasar suatu perusahaan layani atau hendak layani. Kekuatan merupakan suatu kompetensi yang berbeda (destintive competence) yang memberperusahaan suatu keunggulan komparatif (comparative advantage) dalam pasar. Kekuatan berkaitan dengan sumber daya, keuangan, citra, kepemimpinan pasar, hubungan pembeli/pemasok, dan faktor-faktor lain.
  4. Kelemahan (weaknesses) Kelemahan merupakan keterbatasan/kekurangan dalam sumber daya, ketrampilan, dan kemampuan yang secara seerius menghalangi kinerja efektif suatu perusahaan. Dari pembahasan diatas analisis SWOT merupakan instrumen yang ampuh dalam melakukan analisis strategi. Keampuhan tersebut terletak pada kemampuan para penentu strategi perusahaan untuk memaksimalkan peranan faktor kekuatan dan pemanfaatan peluang sehingga sekaligus berperan sebagai alat untuk meminimalisasi kelemahan yang terdapat dalam tubuh organisasi dan menekan dampak ancaman yang timbul dan harus dihadapi.

2.2 TIK Kabupaten Muara Enim

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada Pemda Kabupaten Muara Enim mempunyai bagian pengurusan TIK. Pada TIK terdapat beberapa komputer yang terbagi menjadi dua kompetensi yaitu kompetensi teknis dan non-teknis. Kompetensi teknis adalah kemampuan dasar TIK, teknis perangkat keras, dan jaringan. Kompetensi nonteknis disini adalah kemampuan komunikasi dan hubungan interpersonal. Pada TIK Pemda Kabupaten Muara Enim terdapat beberapa bagian yang mengelola TIK yaitu :

  1. Kasi PDE yang berfungsi untuk membuat perencanaan strategis, mengelola organisasi, proses-proses yang dilakukan organisasi, mengelola aspek pendidikan, pelatihan kepada SDM yang terkait, dan mengelola keamanan.
  2. Application system analyst yang berfungsi untuk mengembangkan dan mengelola perawatan aplikasi yang dilakukan oleh Sistem Analisis dan Pemrograman.
  3. Application-System Analyst yang berfungsi untuk membuat rancangan sistem berdasarkan kebutuhan pengguna.
  4. Application-Programmer yang berfungsi untuk mengembangkan atau tambahan aplikasi komputer dan dapat melakukan pengujian terhadap aplikasi hasil pengembangannya.
  5. Koordinator data yang berfungsi untuk dokumen arsitektur data dan dokumen perencanaan strategis TIK termasuk arsitektur informasi Unit.
  6. Database administrator yang berfungsi untuk membuat rancangan basisdata dan data definition , ikut mengamankan basisdata, melakukan perawatan data. Memonitor penggunaan basisdata dan statistik kinerja.
  7. Network administrator yang berfungsi untuk membuat perencanaan infrastruktur telekomunikasi, mengimplementasikan perencanaan infrastruktur telekomunikasi, melakukan perawatan terhadap infrastruktur telekomunikasi.
  8. System analyst yang berfungsi untuk mempelajari permasalahan-permasalahan dan kebutuhan-kebutuhan organisasi.
  9. System programmer yang berfungsi merawat sistem dan melakukan pengujian.
  10. Coordinator operation yang berfungsi untuk mengelola kegiatan operasi, mengelola SDM yang terlibat dalam operasi termasuk operator/users, librarians, dan lain-lain.

3. HASIL

3.1 Renstra TIK

3.1.1 Tujuan dan Sasaran Renstra TIK

Tujuan penyusunan Rencana Strategi TIK ini adalah untuk merumuskan rencana pentahapan pengembangan TIK Kabupaten Muara Enim tahun 2013 – 2017. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai :

  1. Ketersediaan gambaran strategi pengembangan TIK Kabupaten Muara Enim.
  2. Ketersediaan gambaran prioritas pengembangan TIK Kabupaten Muara Enim.
  3. Ketersediaan gambaran mengenai tahapan pengembangan TIK Kabupaten Muara Enim.

3.1.2 Analysis Kesenjangan

Hal yang perlu dilakukan pertama kali dalam merencanakan strategi TIK adalah dengan melakukan analisa kesenjangan sehingga strategi TIK bisa berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang seluas-luasnya terhadap Pemerintah Daerah maupun masyarakat Kabupaten Muara Enim. Berdasarkan hasil dari analisa terhadap kondisi yang ada saat ini maka ada beberapa kesenjangan dan solusi yang diusulkan seperti ditunjukkan pada tabel dibawah ini:

1. Organisasi dan Tata Kelola TIK
Kesenjangan Solusi yang diusulkan
·  Pada tingkat strategis belum ada Tim Pengarah yang merencanakan, penetapkan dan mengendalikan kebijakan pengembangan sistem informasi.

·  Pengendalian pelaksanaan kebijakan pengembangan sistem informasi tidak ada, hal ini merupakan konsekuensi logis ketiadaan Tim Pengarah pada tingkat strategis.

·  Belum terdapat perencanaan dan pelaksanaan pengendalian risiko sistem informasi secara sistematis;

·  Pengembangan sistem informasi dilakukan secara terpisah dan kurang terkoordinasi oleh masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

·  Operasional kegiatan SI, pengendalian keamanan, dan pengelolaan risiko dilaksanakan secara terpisah oleh masing-masing SKPD.

·  Membentuk Tim Pengarah TIK Pemerintah guna mengoordinasikan pengembangan dan penerapan TIK. Merumuskan dan menata organisasi pengelolaan TIK secara menyeluruh dan terpadu (IT overnance) sehingga bisa memberi daya dorong yang kuat dan berdaya guna.

·  Merumuskan penataan dan perencanaan tata kelola sistem informasi (IT Governance) secara bertahap, terarah, dan terukur.

·  Melakukan perencanaan untuk mengadopsi dan mengadaptasi berbagai kebijakan, standar, dan prosedur yang menjadi best practices industri teknologi informasi. Meningkatkan fungsi Kantor Komunikasi & Informasi sebagai pengelola semua sistem dan aplikasi yang ada di Pemerintah Daerah Muara Enim.

 

2. Sumber Daya Manusia
Kesenjangan Solusi yang diusulkan
·   Jumlah sumber daya manusia TI yang ada saat ini masih kurang.

·   Ketersediaan sumber daya manusia TI yang belum mampu memenuhi seluruh aspek penerapan sistem informasi.

·   Kesulitan yang sering timbul akibat dinamika organisasi (mis. mutasi, promosi ke bidang lain, dsb.) pada sumber daya manusia TI, sementara tenaga pengganti belum tersedia.

·   Analisis secara menyeluruh kebutuhan sumber daya manusia TIK baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, mengingat semakin pentingnya penyelenggaraan layanan TI di lingkungan pemerintah.

·   Menyusun perencanaan pengembangan kompetensi sumber daya manusia TIK sesuai dengan kebutuhan saat ini dan masa depan.

·   Menyiapkan jenjang karir dan insentif sumber daya manusia TIK.

·   Memperbaiki pola kaderisasi melalui perencanaan pelatihan yang lebih terarah dan terukur.

·   Memperbaiki jenjang karir dan insentif sumber daya manusia TIK. Menambah Sumber Daya Manusia yang memiliki kompetensi dalam bidang Teknologi Informasi.

 

3. Pengembangan Sistem Informasi
Kesenjangan Solusi yang diusulkan
·     Belum tersedia perencanaan sistem informasi yang up-to-date pada tingkat strategis, yang melingkupi seluruh lingkungan Pemerintah Muara Enim.

·  Belum tersedia arsitektur rinci yang mendefinisikan kebutuhan dan interaksi antar sistem aplikasi.

·  Belum tersedia panduan dan/atau rujukan bagi masing-masing SKPD dalam pengembangan sistem informasi.

·  Belum tersedia kebijakan, standar, dan prosedur pada pengembangan sistem informasi misalnya terkait dengan manajemen proyek /kegiatan, penjaminan kualitas, manajemen konfigurasi, manajemen perubahan, dan sebagainya.

·  Belum tersedia kerangka koordinasi pengembangan sistem informasi yang dapat dipergunakan sebagai landasan pelaksanaan koordinasi pengembangan sistem informasi Pemerintah Daerah Muara Enim.

·  Menyusun dan menetapkan perencanaan sistem informasi pada tingkat strategis, serta merencanakan pelaksanaannya antara lain sosialisasi, perumusan langkah taktis dan teknisnya, pengendalian, dan perbaikan perencanaan secara berkelanjutan.

·  Menyusun dan menetapkan kebijakan, standar, dan prosedur pengembangan sistem informasi.

4. Pengembangan Infrastruktur

Kesenjangan Solusi yang diusulkan
·  Jaringan lokal antar SKPD tidak semuanya berfungsi dengan baik karena pemeliharaan dan pemanfaatannya belum optimal.

·  Belum terdapat kebijakan yang secara formal mengatur pengelolaan infrastruktur jaringan serta kebijakan dan standar yang mengatur pengelolaan tingkat ketersediaan layanan (Service Level Management) pada penyelenggaraan infrastruktur jaringan.

·  Belum terdapat dokumentasi perencanaan pengembangan infrastruktur jaringan yang disepakati dan tersosialisasi dengan baik.

·  Belum terdapat data center sebagai pusat sumber daya data dan informasi. Koneksi sering bermasalah, misalnya ketika ada satu titik yang terputus maka ada beberapa jaringan lainnya yang juga terputus.

·  Bandwith cukup besar tetapi akses sering lambat.

 

·  Menyusun rencana pengembangan infrastruktur jaringan secara terpadu, dengan mempertimbangkan perkembangan teknologi dan berbagai fitur yang mungkin dapat dimanfaatkan secara optimal dalam meningkatkan kinerja dan efisiensi penyelenggaraan infrastruktur jaringan.

·  Menyusun dan menetapkan kebijakan pengelolaan infrastruktur jaringan pada berbagai aspek terkait.

·  Meningkatkan kinerja dan aspek keamanan infrastruktur jaringan, antara lain dengan mengembangkan NOC (Network Operation Center) terpadu dan fasilitas Helpdesk.

·  Membangun data center sebagai pusat sumber daya data dan informasi terpadu. Topology jaringan disesuaikan sehingga memakai Konsep Arsitektur jaringan Hierarchical Internetworking Model.

·  Diperlukan adanya pengelolaan bandwith (Bandwith Management)

3.2 SWOT TIK

3.2.1 Analisis Lingkungan Stratejik

Analisis lingkungan Stratejik yang dilakukan melalui analisis lingkungan internal (ALI) dan analisis lingkungan eksternal (ALE).

3.2.2 Analisis Lingkungan Internal (ALI)

Analisis lingkungan internal dilakukan melalui pencermatan lingkungan internal organisasi yang menghasilkan :

  1. Kekuatan (Strength).
  2. Adanya PERDA No. 15 Tahun 2008 tentang pembentukan dan tata kerja inspektorat, satuan polisi pamong praja dan lembaga teknisi daerah Kabupaten Muara Enim.
  3. Adanya program kerja yang jelas.
  4. Adanya alokasi anggaran yang memadai.
  5. Adanya kewenangan dan mengkoordinasikan tugas bidang TIK.
  6. Telah ditandatanganya MOU dengan pihak investor
  7. Kelemahan (Weakness).
  8. Kurangnya kualitas dan kompetensi SDM bidang TIK.
  9. Kerjasama pegawai masih kurang.
  10. Belum adanya prosedur standar pelayanan operasional yang jelas.
  11. Terbatasnya sasaran dan prasarana.
  12. Masih lemahnya sistem keamanan data.

3.2.3Analisis Lingkungan Ekternal (ALE)

Analisis lingkungan ekternal dilakukan melalui pencermatan lingkungan ekternal organisasi yang menghasilkan :

  1. Peluang (Opportunities).
  2. Kondisi keamanan daerah yang kondusif.
  3. Tingginya animo masyarakat akan kebutuhan informasi.
  4. Tersedianya dana investasi bidang teknologi informasi.
  5. Pesatnya pertumbuhan pembangunan multi media.
  6. Terbitnya kesempatan mengikuti diklat bagi pegawai.
  7. Tantangan (Threats).
  8. Tingginya daya saing dalam menghadapi pasar bebas.
  9. Luasnya jangkuan wilayah.
  10. Lemahnya koordinasi lintas sektor/wilayah.

Dari asumsi dan informasi lain yang telah dikembangkan sebelumnya dilakukan Analisis Stratejik dan Pilihan (ASAP) melalui SWOT, sehingga diperoleh strategi alternatif sebagai berikut :

  1. Strategi Strength-Opportunity (SO) :
  2. Dayagunakan alokasi anggaran yang ada untuk memenuhi animo masyarakat akan kebutuhan TIK.
  3. Manfaat Kewenangan yang ada untuk mengawasi pesatnya pertumbuhan pembangunan multimedia
  4. Strategi Strength-Opportunity (WO) :
  5. Atasi keterbatasn sarana dan prasarana dengan memanfaatkan tersedianya dana invenstasi bidang teknologi informasi.
  6. Tingkatkan kompetensi SDM pegawai dengan memanfaatkan terbukanya kesempatan mengikuti diklat pegawai.
  7. Strategi Strength-Treat (ST) :
  8. Realisasikan nota kerjasama (MoU) dengan pihak mengatasi luasnya jangkauan wilayah.
  9. Manfaatkan program kerja yang jelas untuk meningkatkan koordinasi lintas sektoral/ wilayah.
  10. Strategi Weakness-Treat (WT) :
  11. Terbitkan prosedur standar pelayanan operasional yang jelas untuk mengatasi peraturan yang berubah-ubah.
  12. Tingkatkan sistem keamanan data untuk mencegah adanya ancaman serangan hacker dan virus komputer.

 4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan dari penelitian yang telah dilaksanakan dan sudah diuraikan dalam analisis SWOT guna penyusunan rencana induk e-government pada Pemerintahan Daerah Kabupaten Muara Enim di Kantor Komunikasi dan Informatika sebagai berikut :

  1. Penelitian ini menghasilkan analisis penyusunan rencana induk e-government pada Pemerintah Daerah Kabupaten Muara Enim melalui Kantor Komunikasi dan Informatika.
  2. Rencana induk e-government pada Pemerintah Daerah Kabupaten Muara Enim melalui Kantor Komunikasi dan Informatika menggunakan metode analisis SWOT.
  3. Membantu pegawai dalam menyusun rencana stratejik (RENSTRA) dan rencana induk pengembangan (RIP) untuk website e-goverment.

4.2. Saran

Saran analisis SWOT guna penyusunan rencana induk

e-government pada Pemerintahan Daerah Kabupaten Muara Enim mmelalui Kantor Komunikasi dan Informatika yaitu:

  1. Diharapkan analisis SWOT ini menjadi bagian dari penyusunan rencana induk e-government pada Kantor Komunikasi dan Informatika.
  2. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tidak menutup kemungkinan analisis SWOT guna penyusunan rencana induk e-government pada Pemerintahan Daerah Kabupaten Muara Enim di Kantor Komunikasi dan Informatika nantinya menggunakan metode lain.

DAFTAR REFERENSI

 

  • Habibullah, “Kajian Pemanfaatan dan Pengembangan E-Government”, 2010.
  • Indrajit, R. Eko. “Electronic Government Strategi Pembangunan dan Pengembangan Sistem Pelayanan Publik Berbasis Teknologi Digital”, Yogyakarta, Andi Yogyakarta, 2002.
  • Jogiyanto, “Analisis dan Desain Sistem Informasi”, Andi, Yogyakarta, 2005.
  • Kominfo, Inpres No 3 tahun 2003 tentang pedoman penerapan e-government, Kementerian Komunikasi dan Informasi, Muara Enim, 2003.
  • Rangkuti Freddy, “Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis” Gramedia Pustaka Utama (GPU), Jakarta 1997.
  • Sutabri Tata, “Analisa Sistem Informasi”, Andi, Yogyakarta, 2004.
  • Tunggal, Amin, Wijdjaja, “Pengantar manajemen Strategi”, harvarindo, Jakarta 1994
  • Zidni, “Pengembangan Website BKD Karanganyar untuk Meningkatkan Kualitas Penyediaan Informassi Kepegawaian”. Sekolah Tingggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta

Sistem Pendukung Keputusan Memilih Perguruan Tinggi Swasta di Palembang Sebagai Pilihan Tempat Kuliah

Tue ,31/03/2015

A Yani Ranius
Fakultas Ilmu Komputer Universitas Bina Darma Palembang
ay_ranius@yahoo.com

Abstrak
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) adalah sistem yang dapat membantu seseorang dalam mengambil keputusan juga merupakan suatu pendekatan untuk mendukung pengambilan keputusan pada sebuah masalah tertentu. Pengambilan keputusan adalah sebuah pemilihan dari beberapa alternatif pilihan dengan harapan akan menghasilkan sebuah keputusan yang baik. Sistem pendukung keputusan menggunakan data, memberikan antarmuka pengguna (user interface) yang mudah digunakan, dan dapat menggabungkan pemikiran pengambil keputusan. Metode dalam sistem pendukung keputusan yaitu metode Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan metode untuk melakukan pengambilan keputusan secara ilmiah dan rasional untuk memberikan solusi terhadap masalah multi kriteria dan kompleks dengan berbagai alternatif. SPK dapat dipakai untuk memilih perguruan tinggi swasta dengan menggunakan metode AHP dengan kriteria kualitas, fasilitas, dan biaya.

Keywords : AHP, Biaya, Fasilitas, Kriteria, SPK

1. PENDAHULUAN
Metode komputasi yang berkembang saat ini adalah metode sistem pengambilan keputusan (Decisions Support System). Sistem pendukung keputusan memiliki banyak sekali metode-metode yang digunakan diantaranya adalah metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Merupakan metode untuk melakukan pengambilan keputusan secara ilmiah dan rasional untuk memberikan solusi terhadap masalah kriteria yang kompleks dari berbagai alternatif.
Saat ini tekonologi informasi (IT) bukanlah hal yang tabu atau baru bagi para lulusan SMA/SMK. Oleh karenanya pengetahuan dibidang IT dapat membantu dalam menentukan pilihan perguruan tinggi swasta yang tepat dijadikan sebagai tempat kuliah. Akan tetapi banyak calon mahasiswa merasa kesulitan untuk menentukan perguruan tinggi mana yang akan dipilih khususnya perguruan tinggi swasta di Palembang.
Metode yang pilih dalam penelitian ini adalah metode AHP yang dapat memberikan alternatif dari beberapa pilihan perguruan tinggi yang akan menjadi pilihan tempat kuliah. Pertimbangan lain dari permasalahannya adalah alternatif dan kriteria. Dengan menggunakan metode AHP masalah-masalah tersebut dapat memberikan pilihan sehingga didapatkan alternatif untuk menetapkan pilihan perguruan tinggi yang dipilih. Penelitian ini mencari alternatif pemecahan masalah dalam pemilihan perguruan tinggi swasta yang ada di Palembang dengan mempertimbangkan fasilitas, biaya dan kualitas.

2. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan sangatlah penting dalam suatu melakukan penetitian, oleh karenanya penelitian tersebut menentukan suatu keputusan atau kesimpulan akan ditentukan. Penelitian tindakan (action research) yaitu penelitian terhadap sebuah kasus dan akan diselesaikan menggunakan metode AHP dengan membuat sebuah rancangan aplikasi.

3. HASIL PENELITIAN
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) merupakan suatu sistem yang mendukung manajer dalam pengambilan keputusan untuk permasalahan semi terstruktur. Sistem Pendukung Keputusan juga digunakan sebagai alat bantu bagi para manajer untuk memperluas kapabilitas mereka dalam pengambilan keputusan dan bukan untuk menggantikan manajer . (6)
Dalam SPK ada beberapa bagian yaitu: (3)
1. Data internal dan eksternal.
Data internal yaitu data yang sudah ada dalam suatu organisasi dan dapat dikendalikan oleh organisasi tersebut, yaitu data mengenai orang, produk, layanan dan proses-proses.
Data eksternal yaitu data yang tidak dapat diambil dari organisasi, dan data tersebut berasal dari luar sistem.
2. Manajemen data sub sistem.
Manajemen data digunakan untuk menyimpan data yang dihasilkan oleh internal dan eksternal serta dapat diinterkoneksikan dengan data warehouse perusahaan untuk data perusahaan yang relevan untuk pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pimpinan.
3. Manajemen model.
Manajemen model adalah paket perangkat lunak yang memasukkan model keuangan, statistik, ilmu manajemen, atau model kuantitatif lainnya yang memberikan kapabilitas analitik dan manajemen perangkat lunak yang tepat dan digunakan untuk menyederhanakan permasalahan sehingga masalah lebih mudah dipahami, meminimalkan biaya dan meminimalkan resiko agar lebih efektif.
4. Manajemen Pengetahuan.
Subsistem ini mendukung semua subsistem lain atau bertindak langsung sebagai suatu komponen independen dan sifatnya optional. Dapat memberikan intelegensi untuk memperbesar pengetahuan bagi pengambil keputusan. Bagian dari sistem ini dapat diinterkoneksikan dengan repositori pengetahuan perusahaan (bagian dari sistem manajemen pengetahuan), umumnya yang disebut basis pengetahuan organisasional, pengetahuan ini bersifat opsional artinya bisa digunakan bisa juga tidak digunakan. Manajemen pengetahuan biasa digunakan jika modelnya berbasis kecerdasan buatan.
5. Antar Muka Pemakai.
Pengguna berkomunikasi dengan dan memerintahkan DSS melalui subsistem ini, pengunanya adalah merupakan bagian yang dipertimbangkan dari sistem. Antarmuka pemakai sistem ini sebagai perantara atau yang menghubungkan antara user dan programmer, user yang bertindak sebagai manajer.
3.1. Analytical Hierarchy Process (AHP)
Menurut Supriyono dkk, metode AHP merupakan salah satu model untuk pengambilan keputusan yang dapat membantu kerangka berfikir manusia. Metode ini dikembangkan oleh Thomas L Saaty pada tahun 1970an. Dasar berfikirnya metode AHP ini adalah proses membentuk skor secara numerik untuk menyusun rangking setiap alternatif keputusan berbasis pada bagaimana sebaiknya alternatif itu dicocokkan dengan kriteria pembuat keputusan.(5)
Metode AHP ini membantu memecahkan persoalan yang kompleks dengan menstruktur suatu hirarki kriteria, pihak yang berkepentingan, hasil dan dengan menarik berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot atau prioritas. Metode merupakan penggabungan antara kekuatan dari perasaan dan logika yang bersangkutan pada berbagai persoalan, lalu mensintesis berbagai pertimbangan yang beragam menjadi hasil yang cocok dengan perkiraan secara intuitif sebagaimana yang dipresentasikan pada pertimbangan yang telah dibuat. Struktur AHP yaitu: (4)

Gambar 1 Struktur AHP (4)
Dengan demikian AHP digunakan manakala keputusan yang diambil melibatkan banyak faktor, saat pengambil keputusan mengalami kesulitan dalam menentukan bobot setiap faktor tersebut. AHP akan memecahkan suatu situasi yang kompleks, tidak terstruktur ke dalam beberapa komponen dalam susunan yang hirarki. Dengan memberi nilai subjektif tentang pentingnya setiap variable secara relative, dan menetapkan variable mana yang memiliki prioritas yang paling tinggi bertujuan untuk mempengaruhi hasil pada situasi saat keputusan akan diambil.
3.2. Prinsip dasar AHP
Untuk menyelesaikan permasalahan menggunakan metode AHP ada beberapa prinsip yang harus dipahami yaitu (2) :
1. Membuat hierarki.
Hierarki digunakan untuk mempermudah pemahaman yaitu dengan cara memecahnya menjadi elemen-elemen pendukung, penyusunan elemen dilakukan secara hierarki dan menggabungkannya.
2. Pemilihan kriteria dan alternatif kriteria dan alternatif dilakukan dengan melakukan perbandingan berpasangan. Menurut Saaty dalam bukunya untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik untuk mengekspresikan pendapat. Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan dapat diukur dengan tabel analisis berikut :

Tabel 1 Skala Penilaian Perbandingan Berpasangan (4)
Tingkat Kepentingan Definisi
1 Kedua elemen sangat penting
3 Elemen yang satu sedikit lebih penting dibanding elemen yang lain
5 Elemen yang satu esensial atau sangat penting dibanding elemen yang lainnya
7 Elemen yang satu benar-benar lebih penting dari yang lain
9 Elemen yang satu mutlak lebih penting dibanding elemen yang lain
2,4,6,8 Nilai tengah diantara dua penilaian berurutan
Kebalikan Jika aktifitas i mendapat satu angka bila dibandingkan dengan aktifitas j, maka j akan memiliki nilai dibandingkan dengan nilai i

3. Menentukan prioritas (Synthesis of priority). Setiap kriteria dan alternatif perlu dilakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif dari seluruh alternatif kriteria bisa disesuiakan dengan judgement yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan prioritas. Bobot dan prioritas dihitung dengan memanipulasi matriks atau melalui penyelesaian persamaan matematika.
4. Konsistensi logis (Logical Consistency) Arti konsistensi yaitu:
a. Objek-objek yang serupa bisa dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi.
b. Menyangkut tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada kriteria tertentu.

4. PEMBAHASAN
Metode AHP adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan yang kompleks dengan menyederhanakan dan mempercepat proses pengambilan keputusan dengan mengurai persoalan tersebut kedalam bagian-bagiannya. Metode AHP membantu memecahkan persoalan yang kompleks dengan menstruktur suatu hirarki kriteria, pihak yang berkepentingan, hasil dan didasari dari berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot atau prioritas. Metode ini juga menggabungkan kriteria yang ditentukan dan logika sesuai aturan dari berbagai persoalan, selanjutnya dengan menyeimbangkan dari berbagai pertimbangan yang beragam menjadi hasil yang cocok untuk diterapkan (4).
Proses hierarki adalah suatu model yang memberikan kesempatan bagi perorangan atau kelompok untuk membangun kebijakan dan mendefinisikan persoalan dengan cara membuat perkiraan agar masing-masing dapat memperoleh pemecahan dari persoalan yang ada sesuai dengan yang diinginkan Ada dua alasan untuk menyatakan suatu tindakan akan lebih baik dibanding tindakan lain. Pertama adalah pengaruh tindakan tersebut kadang-kadang tidak dapat dibandingkan karena sutu ukuran atau bidang yang berbeda. Kedua adalah menyatakan bahwa pengaruh tindakan tersebut kadang-kadang saling bentrok, yang berarti perbaikan pengaruh tindakan tersebut yang satu dapat dicapai dan yang lainnya tidak. Dari alasan tersebut akan menyulitkan dalam membuat ekuivalensi antar pengaruh sehingga diperlukan suatu skala luwes yang disebut prioritas.
Prinsip Dasar dan Aksioma AHP
AHP berdasarkan atas 3 prinsip dasar yaitu : (1)
1. Dekomposisi, dengan prinsip ini struktur masalah yang kompleks dibagi menjadi bagian-bagian secara hierarki. Tujuannya untuk mendefinisikan dari yang umum sampai khusus. Bentuk yang paling sederhana struktur akan dibandingkan dengan tujuan, kriteria dan level alternatif. Himpunan alternatif dapat dibagi dengan lebih banyak menjadi tingkatan yang lebih detail, mencakup lebih banyak kriteria yang lain. Level paling atas dari hirarki tersebut merupakan tujuan yang terdiri atas satu elemen. Level berikutnya mungkin memiliki beberapa elemen, dari elemen-elemen tersebut bisa dibandingkan apakah memiliki kepentingan yang hampir sama dan tidak memiliki perbedaan yang terlalu mencolok. Bila perbedaan tersebut terlalu besar harus dibuatkan level yang baru.
2. Perbandingan penilaian/pertimbangan (comparative judgments), menggunakan prinsip ini akan dibangun perbandingan berpasangan dari semua elemen yang ada dengan tujuan menghasilkan skala kepentingan relatif dari elemen yang ada. Penilaian dapat menghasilkan skala penilaian yang berupa angka. Perbandingan seacara berpasangan dalam bentuk matriks bila dikombinasikan akan menghasilkan prioritas.
3. Sintesa prioritas, dilakukan dengan mengalikan prioritas lokal dengan prioritas dari kriteria bersangkutan di level atasnya dan menambahkannya ke tiap elemen dalam level yang dipengaruhi oleh kriteria. Hasil yang diperoleh berupa gabungan atau dikenal dengan prioritas global yang kemudian digunakan untuk memboboti prioritas lokal dari elemen di level terendah sesuai dengan kriterianya.
4.1. Prosedur AHP
Langkah-langkah atau prosedur pada metode AHP adalah (2):
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, selanjutnya menentukan hierarki dari permasalahan yang dihadapi. Penyusunan hierarki dilakukan dengan cara menetapkan tujuan yang merupakan sasaran system pada level teratas.
2. Menentukan prioritas elemen.
a. Membuat perbandingan yang berpasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan sesuai kriteria yang diberikan.
b. Matrik perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk mempresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen terhadap elemen yang lainnya.
3. Sintesis Pertimbangan – pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesis untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah :
a. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom matrik.
b. Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matrik.
c. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapat nilai rata-rata.
4. Mengukur konsistensi.
Dalam pembuatan keputusan perlu diketahui seberapa baik konsistensi yang akan ada, karena jika tidak menginginkan keputusan berdasarkan kepentingan dengan konsistensi yang rendah. Hal yang harus dilakukan dalam langkah ini yaitu :
a. Kalikan nilai pada kolom pertama dengan prioritas relatif elemen pertama, lalu nilai pada kolom kedua dengan prioritas relatif elemen yang kedua, dan seterusnya.
b. Jumlahkan setiap baris.
c. Hasil dari penjumlahan baris dibagi dengan banyaknya elemen yang ada, dan hasilnya disebut lamda maks (λ maks).
5. Hitung Consistency Index (CI) dengan rumus : CI = (λ maks-n) / n dimana n = banyaknya elemen.
6. Hitung Rasio Konsistensi (consistency ratio) / CR dengan rumus : CR = CI / IR dimana CR = Consistency Ratio, CI = Consistency Index, IR = Indeks Random Consistency.
7. Memeriksa konsistensi hierarki.
Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data judgement harus diperbaiki. Namun jika rasio konsistensi (CI / IR) ≤ 0,1 maka hasil perhitungan bisa dinyatakan benar. Daftar indeks random konsistensi (IR) yaitu :

Tabel 2 Daftar Indeks Random Konsistensi (4)
Ukuran Matrik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Nilai IR 0 0 0,58 0,9 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49

Gambar 2 Flowchart prosedur metode AHP
8. Langkah – langkah dan proses Analisis Hierarki Proses (AHP) sebagai berikut :
a. Mendefinisikan permasalahan dan menentukan tujuan. Jika AHP digunakan untuk memilih dari alternatif yang ada atau menyusun prioriras alternatif, tahapan ini dilakukan untuk pengembangan alternatif.
b. Menyusun masalah kedalam hierarki sehingga permasalahan yang kompleks dapat ditinjau dari sisi yang detail dan terukur.
c. Penyusunan prioritas untuk tiap elemen masalah pada hierarki. Proses tersebut menghasilkan bobot atau kontribusi elemen terhadap pencapaian tujuan sehingga elemen dengan bobot tertinggi memiliki prioritas penanganan. Prioritas yang dihasilkan dari suatu matriks perbandingan berpasangan antara seluruh elemen pada tingkat hierarki yang sama.
d. Melakukan pengujian konsitensi terhadap perbandingan antar elemen yang didapatkan pada tiap tingkat hierarki.
4.2. Pengolahan Data
Untuk menganalisa sistem ini maka penulis gunakan sebuah kasus sebagai berikut : calon mahasiswa akan memilih perguruan tinggi sebagai tempat kuliahnya, diantara perguruan tinggi yang akan dijadikan sebagai referensi yaitu perguruan tinggi swasta A, B dan C. Calon mahasiswa akan memilih peguruan tinggi berdasarkan tiga pilihan kriteria, yaitu :
1. Perguruan tinggi yang berkualitas, parameternya adalah :
a. Baik, jika terakreditasi B atau A.
b. Cukup, jika terakreditasi C.
c. Buruk, jika tanpa akreditas atau masih ijin dikti2.
2. Perguruan tinggi yang memiliki fasilitas dengan parameter :
a. Memadai
1. Mempunyai laboraturium komputer dan jumlah komputer sesuai jumlah mahasiswa dalam 1 kelas.
2. Gedung milik sendiri.
3. Mempunyai area parkir yang luas.
4. Mempunyai perpustakaan.
b. Kurang memadai
1. Mempunyai laboraturium komputer dan jumlah komputer kurang dari jumlah mahasiswa dalam 1 kelas.
2. Gedung milik sendiri
3. Mempunyai area parkir yang luas.
4. Mempunyai perpustakaan.
c. Tidak memadai
1. Mempunyai laboraturium komputer dan jumlah komputer kurang dari jumlah mahasiswa dalam 1 kelas
2. Gedung bukan milik sendiri
3. Tidak mempunyai area parkir yang luas
4. Mempunyai perpustakaan.
3. Perguruan tinggi yang biaya perkuliahannya terjangkau, parameternya adalah :
a. Mahal jika biaya masuk dan biaya persemesternnya ≥ 10.000.000
b. Sedang jika biaya masuk dan biaya persemesternnya < 10.000.000 - ≥ 7.500.000 c. Murah jika biaya masuknya dan biaya persemesternnya < 7.500.000 Langkah penyelesaian dari kasus tersebut yaitu : Menentukan prioritas kriteria. a. Membuat matrik perbandingan berpasangan. Tabel ini berisi perbandingan nilai antara kualitas dengan kualitas, kualitas dengan fasilitas, kualitas dengan biaya, kualitas dengan kualitas, biaya dengan biaya, dan fasilitas dengan biaya. Tabel 3 Matrik Perbandingan Berpasangan Kriteria Kualitas Fasilitas Biaya Fasilitas 3,000 1,000 2,000 Biaya 4,000 0,500 1,000 Kualitas 1,000 0,333 0,250 Jumlah 8,000 1,833 3,250 b. Membuat matrik nilai kriteria Tabel ini untuk menjumlahkan nilai dan untuk menentukan prioritas dari masing kriteria. Tabel 4 Matrik Nilai Kriteria Kriteria Kualitas Fasilitas Biaya Jumlah Prioritas Fasilitas 0,375 0,545 0,615 1,536 0,512 Biaya 0,500 0,273 0,308 1,080 0,360 Kualitas 0,125 0,182 0,077 0,384 0,128 c. Membuat matrik penjumlahan setiap baris Pada tabel ini untuk menjumlahkan dari masing-masing kriteria. Tabel 5 Matrik Penjumlahan Setiap Baris KRITERIA Kualitas Fasilitas Biaya Jumlah Fasilitas 1,536 0,512 1,024 3,072 Biaya 2,048 0,256 0,512 2,816 Kualitas 0,512 0,171 0,128 0,811 d. Penghitungan rasio konsistensi Pada tabel ini untuk menentukan konsistensi hierarki. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data judgement harus diperbaiki. Namun jika rasio konsistensi (CI/CR) ≤ 0,1 maka hasil perhitungan bisa dinyatakan benar. Tabel 6 Matrik Rasio Konsistensi Jml/baris Prioritas Hasil Kualitas 0,811 0,128 0,938 Fasilitas 3,072 0,512 3,584 Biaya 2,816 0,360 3,176 Jumlah 7,698 Dari tabel perhitungan rasio konsistensi diperoleh : n (jumlah kriteria) : 3 λ maks (jumlah/n) : 2,566 CI ((λ maks-n)/n) : -0,145CR (CI/IR) : -0,249 Perhitungan dari poin a sampai poin d juga dilakukan pada kriteria fasilitas, biaya dan kualitas, sehingga menghasilkan nilai seperti yang ada pada tabel 7. 4. Menghitung hasil. Pada tabel ini sudah diperoleh nilai hasil akhir dari perhitungan AHP, sehingga nilainya akan dijadikan untuk acuan untuk pemilihan perguruan tinggi swasta. Tabel 7 Matrik Hasil KUALITAS 0,128 FASILITAS 0,512 BIAYA 0,360 Baik 1,000 Memadai 1,000 Mahal 1,000 Cukup 0,581 Kurang Memadai 0,384 Sedang 0,806 Buruk 0,329 Tidak Memadai 0,439 Murah 0,335 Seandainya diberikan data nilai dari 3 lokasi usaha, maka hasil akhirnya sebagai berikut : Tabel 8 Matrik Contoh Perguruan Tinggi Yang Akan Dipilih PTS Kualitas Fasilitas Biaya A Baik Memadai Mahal B Baik Kurang Memadai Sedang C Cukup Tidak Memadai Murah Dari tabel 8 dapat menggunakan nilai dengan memadukan tabel 7 sehingga mendapatkan hasil seperti yang ada pada tabel 9. Tabel 9 Matrik Pemilihan Perguruan Tinggi Komputer PTS Kualitas Fasilitas Biaya Total A 0,128 0,512 0,360 1,000 B 0,128 0,197 0,290 0,615 C 0,074 0,225 0,121 0,420 Dengan demikian total nilai yang paling besar dapat ditentukan nilai sebagai hasil akhirnya dengan kata lain dapat menentukan pilihan perguruan tinggi swasta yang menjadi rekomendasi pilihan. Tabel 10 Hasil Akhir Alternatif A. Perguruan Tinggi A B. Perguruan Tinggi B C. Perguruan Tinggi C Dari hasil perhitungan diatas maka disimpulkan bahwa perguruan tinggi A yang layak untuk dipilih berdasarkan metode AHP dengan penilaian fasilitas yang memadai, biaya mahal dan fasilitas baik. 5. KESIMPULAN Dalam sistem pendukung keputusan ini dapat diambil kesimpulan : 1. Sistem pendukung keputusan menggunakan metode AHP dapat digunakan untuk memilih perguruan tinggi swasta sebagai tempat kuliah. 2. Hasil perhitungan yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai rekomendasi yang dapat digunakan calon mahasiswa untuk menentukan pilihan perguruan tinggi swasta. 3. Penentuan pilihan perguruan tinggi sangatlah berpengaruh dari pilihan secara individu karena jika terdapat kekeliruan pada perguruan tinggi yang dipilih maka akan sangat mempengaruhi hasilnya dan juga keluaran yang berbeda pula. DAFTAR PUSTAKA [1] Astuti, Yuli, Seniwati, Erni, 2011; Sistem Pendukung Keputusan Untuk Pemilihan Lokasi Usaha Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP), Prosiding Seminar Nasional Teknoin, ISSN : 0583-8697. [2] Kusrini, 2007, Konsep dan aplikasi sistem pendukung keputusan, Andi Offset, Yogyakarta. [3] _______, Sulistyawati, Ester, 2006; Pemanfaatan analytical hierarchy process (AHP) sebagai model sistem pendukung keputusan seleksi penerimaan karyawan. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana VI 2006, Program Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. [4] Saaty, T.L., 2004. Decision making-the analytic hierarichal process and theanalytic network process. Journal of Systems Science and Systems Engineering. Vol 13 (1) : 35. [5] Supriyono, dkk., 2007. Sistem Pemilihan Pejabat Struktural dengan Metode AHP, Prosiding Seminar Nasional III SDM Teknologi Nuklir, Yogyakarta. 21-22 Nopember 2007. ISSN 1978-0176 [6] Turban, 2005, Decision Support Systems and Intelligent Systems (Sistem pendukung keputusan dan system cerdas) Jilid 1, Andi Offset, Yogyakarta.

HUBUNGAN PEMASARAN SECARA ONLINE TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN DALAM PEMBELIAN

Tue ,31/03/2015

A. Yani Ranius
Manajemen Informatika, Jl. A. Yani No 12 Palembang
email: ay_ranius@yahoo.com

Abstrak – Perubahan perilaku konsumen dalam membeli produk menuntut layanan pemasaran saat memasarkan produk secara online melalui internet. Dalam melakukan pembelian pada dasarnya konsumen menginginkan kemudahan pada saat membeli suatu produk. Keinginan tersebut diantaranya mendapatkan informasi produk yang diiklankan. Pemasaran melalui media internet yang dapat diakses menyesuaikan kebutuhan mereka terhadap suatu produk. Guna memenuhi kebutuhan konsumen akan infomasi suatu produk maka para pengusaha khususnya bagian pemasaran menyadari bahwa mereka segera menyesuaikan cara tidak hanya pemasaran secara konvensional tetapi juga melakukan cara pemasaran berbasis internet atau secara online. Dengan menerapkan cara pemasaran seperti ini diharapkan mampu meningkatkan omset yang akan meningkatkan penjualan. Tujuan dari penulisan ini untuk mengetahui apakah pemasaran produk secara online dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk pembelian suatu produk.

Kata Kunci: Pemasaran, Online, Pembelian.

I. PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi yang semakin maju terutama dibidang Internet, menciptakan cara baru untuk menawarkan produk. Saat ini pemasaran dapat dapat dilakukan melalui teknologi internet yang cepat dan mampu menjangkau konsumen secara global dalam waktu singkat. Ditinjau dari sisi biaya operasional tidak terlalu besar. Metode pemasaran dengan menggunakan media elektronik ini dapat menekan biaya operasional pemasaran serta dapat meningkatkan omset penjualan. Melalui metode pemasaran ini maka dapat menciptakan hubungan antara konsumen dan produsen.
Pemasaran secara online dapat mempengaruhi proses periklanan yang dapat mempengaruhi tingkat pembelian oleh para pengguna internet. Dari informasi iklan tersebut dapat mempengaruhi keputusan para pengguna internet untuk melakukan pembelian. Cara pemasaran melalui internet dan periklanan dilakukan terus-menerus juga dapat berpengaruh secara langsung terhadap keputusan pembelian. Cara seperti ini dapat mengukur tingkat pelaksanaan program pada pemasaran, periklanan, pemasaran, serta keputusan konsumen untuk melakukan pembelian melalui Internet. Cara penilaian ini dilakukan berdasarkan tanggapan dan asumsi konsumen.

II. LANDASAN TEORI
2.1. Transaksi Elektronik.
Pemasaran dan pembelian secrara online merupakan bentuk transaksi elektronik yang dilakukan oleh penjual dan pembeli. Dalam melakukan transaksi elektronik dilakukan dengan menggunakan perangkat komputer, jaringan internet, dan media elektronik pendukung lainnya. Penyelenggaraan transaksi elektronik adalah rangkaian transaksi adalah rangkaian transaksi elektronik yang dilakukan oleh pengirim dan penerima dengan menggunakan sistem elektronik.[6]

2.2. Pemasaran.
Hukum pemasaran berasumsi bahwa dengan menganggap hal lainnya tetap, kuantitas barang yang ditawarkan akan meningkat ketika harga barang tersebut terus meningkat [5]. Hubungan antara harga produk dengan kuantitas yang ditawarkan dapat dilihat dalam skedul pemasaran (supply schedule)[5]. Dapat dikatakan bahwa pemasaran adalah sejumlah barang atau jasa yang tersedia dapat dijual oleh penjual pada berbagai tingkat harga dalam waktu tertentu.

2.3. Online
Secara umum sesuatu yang dikatakan online adalah bila ia terkoneksi atau terhubung dalam suatu jaringan ataupun sistem yang lebih besar. Arti kata online lainnya yang lebih spesifik yaitu dalam percakapan secara umum pada, jaringan atau network. Dalam konteks ini biasanya lebih mengarah pada fasilitas internet sehingga online lebih pada menjelaskan status bahwa ia dapat mengdiakses melalui internet. Dapat dikatakan online adalah terhubung, terkoneksi, aktif yang siap untuk komunikasi dan dikontrol oleh komputer. Online juga bisa diartikan sebagai suatu keadaan dimana sebuah device (komputer) terhubung dengan device lain melalui perangkat modem. Online adalah sedang menggunakan jaringan yang terhubung dalam jaringan, satu perangkat dengan perangkat lainnya yang terhubung sehingga bisa saling berkomunikasi.

2.4. Pembelian
Proses pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen melakukan pemembelian. Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang ditawarkan [4]. Dapat dikatakan bahwa pembelian merupakan keputusan konsumen dalam kegiatan untuk mendapatkan barang atau jasa yang ditawarkan.
Pemasaran melalui internet umumnya berkisar pada hal-hal yang berhubungan dengan produk periklanan, pencarian prospek atau pembeli serta penulisan kalimat pemasaran. Pemasaran internet secara umum meliputi kegiatan pembuatan desain web (web design), periklanan dengan menggunakan gambar tampilan, mempromosikan perusahaan melalui mesin pencari informasi (search engine), surat elektronik (e-mail), periklanan lewat e-mail (email advertising), advertensi interaktif (interactive advertising) dan lain-lain.
Ada dua jenis cara pemasaran online, yaitu :
a. Layanan online komersial yaitu layanan lewat internet yang memberikan informasi dan layanan kepada pelanggan yang akan melakukan pembayaran, misalnya Artajasa sebagai penyedia fasilitas pembayaran online bagi perusahaan penyedia tagihan (billing provider). [2]
b. Internet, yaitu web global jaringan komputer yang berkembang pesat dan tidak mempunyai struktur manajemen secara pisik dan dapat juga tidak mempunyai kepemilikan sentral.

Gambar 1. Contoh Layanan Online [2]

Gambar 2. Contoh Pemasaran Online [3]

2.5. Keputusan Konsumen Pembelian
Pemasaran harus mempunyai pengetahuan yang cermat terhadap prilaku konsumen agar dapat memberikan keinginan pasar yang sesuai terhadap perubahan perilaku konsumen dan berupaya terus menerus merancang bauran perkembangan pasar.
Perilaku konsumen menggambarkan bagaimana konsumen dapat memutuskan untuk membeli dan bagaimana mereka dapat melakukan dan mengatur pembelien barang atau jasa. Proses pengambilan keputusan pembelian terdiri dari lima tahap: pengenalan masalah, pencarian informasi, dan evaluasi alternatif, keputusan pembelian, serta perilaku pasca pembelian. Lima tahap pada tiap pembelian, yaitu :

Gambar 3. Model lima tahap proses pembelian [4]

5.1. Pengenalan Masalah.
Proses pembelian dimulai dari pengenalan masalah sesuai dengan kebutuhan (need recognition) pembeli akan mengenali permasalahan atau kebutuhannya. Adanya perbedaan antara keadaan aktual dengan keadaan yang diinginkan. Kebutuhan dapat dipengaruhi oleh stimulus internal ketika muncul kebutuhan normal meningkat cukup tinggi sehingga menjadi pendorong keinginan. Saat kondisi ini, pemasaran harus membaca peluang untuk mengetahui kebutuhan apa yang muncul, dan bagaimana cara menawarkan produk ke konsumen agar membeli produk tersebut.
5.2. Pencarian Informasi.
Ketika konsumen sudah berkeinginan mencari informasi tentang produk yang ia butuhkan dan kemungkinan muncul dorongan kuat ia cenderung akan membelinya. Namun jika tidak, konsumen akan menyimpan rencananya itu kedalam ingatan untuk melakukannya dikemudian hari mengerjakan pencarian kembali tentang informasi yang berhubungan dengan kebutuhannya itu. Konsumen dapat memperoleh informasi dari sumber pribadi (dintaranya dari keluarga, teman, tetangga, rekan kerja), sumber penawarna komersial (seperti iklan, penjual, pengecer, situs Web), sumber publik (seperti koran, televisi, radio), atau sumber lain dari pengalaman (seperti pengguna atau pemakai produk). Diantara sumber informasi yang berbeda-beda tersebut relatif berpengaruh terhadap keputusan pembeli.
5.3. Penilaian Alternatif.
Cara konsumen mencari informasi yang menghasilkan sekumpulan beberapa produk yang akhirnya diantaranya akan ia pilih. Dari informasi produk yang telah diperoleh konsumen akan memilih alternatif produk yang dicari, untuk menjadi pertimbangan agar konsumen melakukan evaluasi secara tunggal dan sederhana untuk melakukan beberapa proses evaluasi. Cara konsumen mengevaluasi alternatif pembelian tergantung pada konsumen secara individual dan situasi pada saat melakukan pembelian. Pemasaran produk harus mempelajari pembeli agar dapat memberikan alternatif produk secara aktual. Jika pemasaran dapat mengetahui proses evaluasi konsumen maka pemasaran harus menentukan langkah agar dapat mempengaruhi keputusan konsumen.
5.4. Keputusan Pembeli.
Hasil evaluasi konsumen akan menghasilkan peringkat produk yang akan ia beli dan membentuk kecenderuangan (niat) untuk membeli. Keputusan pembelian konsumen yang akan membeli produk dapat berdasarkan merek yang paling disukai. Diantara kecenderungan pembelian dan keputusan pembelian dapat dipengaruhi oleh faktor sikap konsumen lain terhadap produk yang ia beli dan faktor situasi tak terduga.
5.5. Perilaku Setelah Pembelian.
Setelah membeli produk, konsumen akan merasa puas ataupun tidak puas, dan ini akan masuk ke perilaku konsumen setelah pembelian. Jika produk yang dibeli jauh dari harapan konsumen maka konsumen kecewa, dan jika produk yang dibeli telah memenuhi harapannya maka konsumen akan merasa terpuaskan. Akan tetapi jika produk tersebut melebihi harapannya, maka konsumen akan sangat senang. Penilaian konsumen terhadap produk yang dibeli merupakan kunci keberlangsungan hubungan jangka panjang dengan konsumen. Untuk mempertahankan dan menumbuhkan kepuasan konsumen serta untuk memetik hasilnya berupa konsumen akan kembali membeli dan akan menyampaikan ke orang lain tentang produk tersebut.
Saat konsumen melakukan pengambilan keputusan menjadi suatu keseluruhan melalu tiga komponen berikut : [7]
1. Masukan (Input)
Pengaruh dari luar akan berlaku sebagai sumber informasi tentang produk tertentu yang akan mempengaruhi nilai, sikap dan prilaku konsumen terhadap produk yang akan dibeli. Masukan ini terdiri dari dua yaitu pertama masukan pemasaran dilakukan secara langsung untuk memberikan informasi dan mempengaruhi konsumen untuk membeli dan menggunakannya. Kedua dari sisi sosial budaya yang akan mempengaruhi, yang bersumber dari komentar dan pendapat teman, pemakaian anggota keluarga, atau pendapat kelompok diskusi.
2. Proses (Process)
Proses merupakan model yang berhubungan dengan cara konsumen saat mengambil keputusan, terdapat tiga tahap yaitu :
a. Pengenalan kebutuhan terjadi saat konsumen dihadapkan dengan suatu masalah. Persoalan ini akan muncul dikalangan konsumen dengan dua kondisi pengenalan kebutuhan atau masalah yang berbeda.
b. Pembelian dimulai ketika konsumen merasa adanya kebutuhan yang harus dipenuhi dengan membeli dan mengkonsumsi suatu produk. Informasi pengalaman masa lalu dapat memepengaruhi konsumen untuk melakukan pilihan saat ini. Jika konsumen belum mempunyai pengalaman sebelumnya maka konsumen dapat melakukan pencarian informasi yang berguna sebagai dasar pemilihan untuk mencapai keputusan.
c. Penilaian alternative dilakukan para konsumen dengan menggunakan dua macam pencarian informasi diantaranya membuat daftar berdasarkan merek dan kriteria produk yang akan dipergunakan. Melakukan penilaian dari semua merek yang didata dan memilih berdasarkan kriteria si pemakai sehingga membantu proses pengambilan keputusan.
3. Keluaran (Output)
Pengambilan keputusan konsumen menjadi pertimbangan ada dua kegiatan setelah melakukan proses pembelian yakni perilaku pembelian dan penilaian setelah pembelian. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kepuasaan konsumen terhadap pembelian produk tersebut. Pembelian yang bersifat penjajakan, konsumen akan berusaha menilai suatu produk dengan pemakaian langsung. Ada tiga hasil penilaian yang akan muncul yaitu kinerja yang sesungguhnya sesuai dengan harapan, kinerja melebihi harapan, dan ketidakpuasan konsumen. Penilaian ini mempunyai hubungan yang erat saat konsumen cenderung menilai pengalaman mereka ketika melakukan penilaian produk setelah melakukan pembelian

Gambar 4 Model Pengambilan Keputusan Konsumen[7]

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Mencari Calon Pelanggan Secara Online
Memiliki produk yang baik dan berkualitas sebagai produk andalan tidak cukup untuk menarik minat calon pelanggan untuk membeli produk tersebut, ketatnya persaingan sekarang harus diikuti strategi jitu dalam menarik pelanggan. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain :
a. Product Knowledge, harus mengetahui produk yang dijual, spesifikasi dan manfaat produk, serta cara penggunaan atau perawatan produknya.
b. Target Konsumen, Sebaiknya menetapkan pasar calon pelanggan yang akan membeli produknya. Dengan demikian dapat lebih mendalami karakter pelanggan dan dapat mengetahui keinginkan pasar terhadap produknya.
c. Gaya bahasa yang memikat, harus dapat merangkai kata dalam iklan yang sesuai bagi mereka sesuai dengan target konsumen. Misalnya target pasar adalah kalangan pelajar, maka pemasaran seharusnya bisa memberi kesan pendidikan yang menarik dan semangat belajar yang disusun dalam iklan.
d. Tulis deskripsi lengkap keunggulan dan manfaat produk perusahaan ketika konsumen membeli produknya, spesifikasi produk, saran dan penilaian dari konsumen terhadap membeli produk tersebut.
e. Tampilan gambar atau visual produk, menawarkan produk dengan gambar atau dengan visualisasi produk akan lebih membuat konsumen tertarik melihat produk yang ditawarkan. Keinginan konsumen rasa ingin tahu dan penasaran terhadap produk tersebut akan mempengaruhi keputusan untuk membeli.
f. Promosi yang gencar, menawarkan produk promosi gencar terhadap produk yang dijual. Contoh membuat tulisan Potongan harga hingga 50%, Beli 2 Gratis 1, atau kata-kata lainnya.
g. Layanan penjualan, setelah melaksanakan transaksi pembelian produk tidak lupa juga untuk mencantumkan nama pelanggan agar dapat dihubungi bagian penjual perusahaan pembeli dapat sebanyak mungkin melakukan pembeliannya serta dapat memberikan rasa aman bagi pelanggan.
h. Cepat memberikan tanggapan, calon pelanggan ingin cepat dilayani dan begitu juga dalam melakukan transaksi jual beli online. Ketika pelanggan mengirim tanggapan terhadap produk yang ditawarkan, maka sebaiknya harus secepat mungkin menanggapinya. Hal ini akan berpengaruh dan berpeluang bagi pesaing untuk untuk berubah pikiran dan berpaling ke produk lain.

3.2. Pemasaran Online.
Pemasaran Online dilakukan dengan system komputer online secara interaktif, yang menghubungkan antara pembeli dan penjual menggunakan mendia elektronik.
Dua jenis pemasaran online :
a. Layanan Online Komersial, layanan yang menawarkan informasi dan pelayanan pemasaran secara online kepada pelanggan dan membayar biaya bulanan, seperti artajasa.co.id.
b. Internet, Web global jaringan komputer yang luas dan berkembang dan tidak memiliki manajemen dan kepemilikan terpusat.
Perdagangan elektronik (e-commerce) adalah istilah yang lazim pada proses pembelian dan penjualan menggunakan sarana elektronik. Proses tersebut dilakukan oleh konsumen online adalah penguna internet. Cara melakukan pemasaran online adalah dengan menciptakan kehadiran konsumen secara online. Cara seperti ini dilakukan dengan dua cara yaitu memberi ruang pada layanan online komersial dan membentuk situs internet tersendiri seperti situs web perusahaan.

3.3. Membuat Iklan Online
Merupakan layanan iklan yang akan muncul ketika para pencari layanan secrara online. Misalnya pada situs internet yang menyiapkan layanan iklan, tampilan jendela yang timbul dan tengelam, ticker, roadblock dan lain-lain. Cara lain misalnya mengikuti dan berperan aktif dalam subuah forum, group tertentu, dan diantara kelompok masyarakat internet. Kesempatan ini akan memungkinkan untuk menampilkan atau menyisipkan iklan.
Media e-mail atau webcasting, dimaksudkan melalui webcasting proses download yang dilakukan secara otomatis. Informasi yang disampaikan dapat dikirimkan ke media komputer si penerima dan dapat membuat saluran yang menarik serta mampu mengirimkan pemasangan iklan internet.

3.4. Pembelian Secara Online.
Belanja secara online sebetulnya sudah terjadi beberapa tahun sebelumnya. Media yang digunakan bukan dengan layanan internet tetapi dilakukan dengan memakai media televisi dan atau telepon. Produsen dapat mengiklankan produknya melalui media televisi dan pembeli dapat membelinya secara online dengan menelepon. Cara seperti ini sama saja dengan belanja secara online seperti layanan pada internet. Cara ini tidak jauh berbeda, pembeli tinggal menghubungi penjual serta melakukan pembayaran, kemudian penjual mengirimkan barang Sesuai dengan alamat yang ditunjuk. Dari proses tersebut sudah terjadi transaksi jual beli secara online. Saat ini dinilai sudah biasa ketika seseorang menginginkan sesuatu untuk mendapatkannya dengan mudah dan dilakukan secara sederhana. Diantaranya dalam hal berbelanja. Pembelian tidak perlu harus datang ke toko yang menjual produk yang dicari. Pembeli dapat mengakses melalui internet kemudian memilih barang dari website toko online. Setelah memilih barang sesuai keinginan berikut spesifikasinya, selanjutnya melakukan pembayaran dengan kartu kredit atau pembayaran dengan cara mentransfer bank atau dapat juga dengan phone banking atau juga melalui internet banking. Selanjutnya pembeli akan menunggu barang yang telah dipesan akan dikirim alamat yang ditentukan.

3.5. Keunggulan Belanja Secara Online.
Keunggulan berbelanja secara online antara lain :
a. Pembeli tidak terhambat antara jarak dan waktu. Misalnya pembelinya dari Palembang yang membeli suatu produk yang dijual di Jakarta. Sebelum membeli akan melakukan survei yang tidak perlu harus datang ke Jakarta. Begitu juga pada saat melakukan transaksi dilakukan tidak harus pembayaran dengan uang tunai dan tidak perlu datang langsung.
b. Dari dana yang tersedia dapat membeli barang yang sesuai dan diinginkan secara online. Pembeli hanya memilih barang yang dipesan lalu melakukan pembayaran melalui transfer uang. Proses ini dapat dilakukan dengan cukup kontak lewat telepon atau kontak lewat web, selanjutnya barang akan diantar langsung ke alamat yang ditunjuk. Car seperti ini akan lebih mudah, cepat, dan hemat biaya serta waktu. Calon pembeli tidak harus keluar rumah atau mengeluarkan biaya perjalanan.
c. Belanja secara online sangat menghemat waktu dan tenaga. Bagi pekerja yang selalu disibukan dengan pekerjaannya pemanfaatan waktu dan energi adalah hal yang sangat berharga. Dengan adanya pembelian secara online, tidak perlu lagi khawatir karena berbelanja dapat dilakukan tanpa menyita waktu dan tenaga. Toko online akan buka selama 24 jam dan selalu siap melayani saat transaksi dan selalu memberikan informasi tentang produk yang ditawarkan.

3.6. Kelemahan Belanja Online.
Beberapa kelemahan berbelanja secara online antara lain :
a. Produk yang dipajang di internet bisa saja berbeda dengan yang dikirimkan sesuai dengan keinginan pembeli. Jika hal ini tidak sesuai dengan yang dicantumkan di toko online, pembeli berhak mendapatkan penggantian atau uang kembali. Ketika akan melakukan komplain terhadap barang yang dibeli bila tidak sesuai dengan yang tercantum di internet. Pemberian garansi adalah hal yang lumrah pada proses jual beli. Adanya garansi justru akan memberikan keyakinan pembeli dan dapat menaikan reputasi toko online.
b. Jika barang yang dikirim tidak sesuai yang paling repot adalah melakukan klaim. Prosesnya akan lebih lama dibandingkan dengan proses membelinya. Proses klaim ini menunjukan tingkat kualitas dari toko online tersebut. Cara mengantisipasinya adalah dengan melihat testimoni dari toko online tersebut. Pengelolaan testimoni sebuah toko online akan mempengaruhi reputasi toko online di mata calon pembeli. Pembeli akan menjadi pelanggan tetap jika ia merasa puas dengan layanan ang baik.
c. Toko online juga bergantung pada kurir atau jasa pengiriman barang. Toko online harus teliti menentukan kurir rekanan toko online tersebut. Proses pengiriman barang bisa saja lebih lama dari waktu yang dijanjikan terutama pada libur hari besar nasional. Sebaliknya durasi pengiriman dengan cepat dapat meningkatkan reputasi toko online. Sebaiknya pembeli juga memahami mana perusahaan jasa pengiriman yang menjadi rekanan toko online yang melayani pengiriman barang yang dipesan.
Untuk mengatasi kelemahan tersebut dapat dilakukan dengan cara milihat testimoni dan reputasi toko online tersebut. Jadilah pembeli yang cerdas dimulai dari memilih toko online yang memang sudah memiliki reputasi baik. Agar terhindar dari penipuan dan cybercrime lainnya, pembeli juga harus teliti terhadap barang yang ditawarkan. Gunakan istilah pembeli adalah raja, jadi jangan malu bertanya kepada customer service bila perlu sedikit cerewet untuk memastikan bahwa barang yang akan dipesan sesuai dengan keinginan. Dengan menggunakan fasilitas contact person atau telepon atau e_mail dan lainnya dapat ditanyakan langsung tentang kejelasan barang yang akan dibeli.

3.7. Keunggulan dan Kelemahan Pemasaran Online.
Saat ini pemasaran online memiliki beberapa keunggulan diantaranya biaya yang lebih murah dalam artian pemasaran online tidak perlu membangun atau menyewa tempat.selain itu tidak terikat oleh waktu dan jarak dalam artian pemasaran online dapat memasarkan produk kapan saja dan dimana saja di seluruh wilayah. Dilakukan tanpa berpengaruh kapan dan dimana pembeli bekerja, bahkan tidak harus dilakukan pada waktu yang sama saat melakukan pekerjaan. Keunggulan yang lain yaitu dalam bisnis online penjual dapat sebagai manager dan pemiliknya karena dalam bisnis online tidak terikat oleh orang lain yang dapat mengatur jadwal pekerjaan dan dalam menjalankan bisnisnya. Keunggulan lainnya adalah dapat menghemat waktu dan biaya opersional dalam artian melalui situs pemasaran online dapat mengirimkan daftar produk yanhg dapat dilihat oleh para pelanggan. Dengan sendirinya pelanggan akan melihat produknya dan tidak perlu membutuhkan karyawan menjelaskan produk yang ditawarkan. Bila pelanggan akan membeli produk tersebut tidak perlu membutuhkan karyawan untuk melayani proses pembelian.
4. Beberapa kelemahan yang membuat orang masih lebih memilih cara pemasaran secara konvensional. Kelemahan pemasaran online diantaranya kepercayaan masyarakat masih kecil, dalam artian kepercayaan para pelanggan masih kecil karena kehati-hatian dan takut ditipu. Kelemahan berikutnya adalah pada pemasaran online produk yang ditawarkan kurang nyata, dalam artian hanya menampilkan produk dengan gambar dan dilihat melalui jaringan internet sehingga pelanggan tidak bisa merasakan produk tersebut secara keseluruhan. Kelemahan yang lain adalah terhadap kredibilitas bisnis yang ditawarkan, dalam artian pelanggan akan berpikir apakah situs tersebut benar-benar ada atau berupa penipuan.
3.8. Perlindungan Transaksi Elektronik
Pada dasarnya pemerintah Indonesia telah menuangkan aturan pada pelaksanaan transaksi elektronik yang berkaitan dengan pemasaran secara online. Peraturan tersebut untuk menghindari proses penjualan dan pembelian dari unsur penipuan. Diantara aturan tersebut tertuang pada pasal 43 ayat 1 yaitu Penyelenggaraan transaksi elektronik di wilayah Negara Republik Indonesia harus : [6]
a. Memperhatikan aspek keamanan, keandalan, dan efisiensi.
b. Melakukan penyimpanan data transaksi di dalam negeri.
c. Memanfaatkan gerbang nasional, jika dalam penyelenggaraannya melibatkan lebih dari satu Penyelenggara Sistem Elektronik, dan
d. Memanfaatkan jaringan Sistem Elektronk dalam negeri.
Diantara hal lain yang mewajibkan kepada penjual maupun pembeli dalam melaksanakan transaksi elektronik juga telah diatur pada pasal 46 ayat 2 yaitu penyelenggaraan transaksi elektronik yang dilakukan para pihak wajib memperhatikan itikad baik, prinsip kehati-hatian, transparansi, akuntabilitas, dan kewajaran. [6]

IV. KESIMPULAN
Kesimpulan pada hasil pembahasan tentang hubungan pemasaran secara online terhadap keputusan konsumen dalam pembelian yaitu:
1. Kemungkinan barang yang tidak sesuai dengan keinginan menyebabkan konsumen lebih suka melakukan belanja secara konvensional.
2. Adanya program pemasaran dengan menggunakan internet dapat meningkatkan tingkat penjualan karena dengan adanya program pemasaran melalui internet dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
3. Bagi perusahaan yang belum menerapkan pemasaran melalui internet dapat melakukan cara periklanan seperti ini karena cara seperti ini lebih murah dan dapat meningkatkan tingkat penjualan yeng dapat meningkatkan laba perusahaan.
4. Pengetahuan perilaku konsumen harus dipahami agar dapat mengikuti perubahan terus menerus serta untuk menyesuaikan bauran pemasaran yang tepat.
5. Pemasaran secara online memiliki banyak keunggulan dan kemudahan dibandingkan dengan transaksi secrara konvensional, terutama untuk pengusaha mikro, kecil dan menengah.
6. Untuk mengatasi unsur penipuan transaksi online telah diatur dalam peraturan pemerintah diantaranya tertuang pada pasal 49 ayat 2 yaitu pelaku usaha wajib memberikan kejelasan informasi tentang penawaran kontran atau iklan, dan ayat 4 yaitu pelaku usaha wajib menyampaikan informasi mengenai barang yang telah dikirim. [6]

DAFTAR REFERENSI

[1] Destianty Citra, Pengembangan Rooster dalam Menunjang Sistem Pelayanan Iduhelp!, 2013,http://widuri.raharja.info/index.php
[2] http://www.artajasa.co.id/id/online-payment.html. diakses 28 Nop. 2013.
[3] http://www.lazada.co.id/ diakses 28 Nop. 2013.
[4] Kloter, Philip, Strategi Pemasaran Untuk Organisasi Nirlaba, Edisi ketiga, Universitas Gajah Mada Press, 2002.
[5] Mankiw Gregory, Pengantar Ekonomi Makro, Edisi kelima, Erlangga, Jakarta, 2003
[6] PP RI no. 82 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, Dirjen Aplikasi Informatika, Kementrian Kominfo.
[7] Schiffman, Kanuk (2008;p.493),
http://library.binus.ac.id/Bab2001.pdf diakses 28 Nop. 2013.
Biodata Penulis
A Yani Ranius, memperoleh gelar Sarjana Komputer (S.Kom), Jurusan Manajemen Informatika STMIK Bina Darma Palembang, lulus tahun 1998. Memperoleh gelar Magister Manajemen (M.M) Program Pasca Sarjana Magister Manajemen Universitas Bina Darma Palembang, lulus tahun 2006. Saat ini menjadi Dosen di Universitas Bina Darma Palembang.

Sistem Penunjang Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing dan Penguji Skipsi Dengan Menggunakan Metode AHP

Tue ,31/03/2015

A Yani Ranius
Universitas Bina Darama, Jl. A. Yani No 12 Palembang, ay_ranius@yahoo.com
ABSTRAK
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) adalah sistem yang dapat membantu seseorang dalam mengambil keputusan yang akurat dan tepat sasaran. Diantara permasalahan yang dapat diselesaikan dengan menggunakan SPK adalah penentuan dosen pembimbing dan penguji skripsi. Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam membangun suatu SPK diantaranya analytical hierarchy process (AHP). AHP merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam memecahkan permasalahan yang bersifat multikriteria. Penelitian ini menggunakan metode AHP dalam menentukan dosen pembimbing dan penguji skripsi. Kriteria dosen yang menjadi dasar pengambilan keputusan dalam menentukan dosen pembimbing dan penguji skripsi antara lain dosen yang memiliki jenjang akademik, kualifikasi pendidikan, dan golongan jabatan dosen. Adapun hasil akhir dalam penelitian ini adalah hasil prioritas kriteria dosen sebagai pembimbing dan penguji, yang diurutkan dari yang tertinggi hingga terendah, sehingga penentuan dosen pembimbing dan penguji dapat dengan mudah ditentukan.
Kata kunci: Dosen, Pembimbing, Penguji, AHP

1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi saat ini sudah sedemikian pesat. Perkembangan yang pesat tersebut tidak hanya dari sisi teknologi perangkat keras dan perangkat lunak saja, akan tetapi juga termasuk metode komputasinya ikut berkembang. Metode komputasi yang cukup berkembang saat ini adalah metode sistem pengambilan keputusan (Decisions Support System). Pada teknologi informasi, sistem pengambilan keputusan merupakan cabang ilmu yang letaknya diantara system informasi dan sistem cerdas.
Sistem pengambilan keputusan juga membutuhkan teknologi informasi karena di era globalisasi, suatu instansi dituntut untuk bergerak cepat saat mengambil suatu keputusan dan tindakan diantaranya adalah penetapan dosen pembimbing dan penguji skripsi. Mengacu kepada solusi yang ada pada metode AHP (Analytical Hierarcy Process) untuk membantu membuat keputusan, seorang decision maker dapat menentukan keputusan tentang penetapan dosen pembimbing dan penguji secara objektif berdasarkan multi kriteria yang ditentukan.
Pengambilan keputusan menetapkan dosen pembimbing dan penguji juga mengandalkan kriteria-kriteria sesuai dengan metode AHP yaitu metode pengambilan keputusan yang multi kriteria. Kriteria menetapkan dosen pembimbing dan penguji yang dipergunakan untuk mengambil keputusan akan sangat baik menggunakan metode AHP dengan multi kriteria.

2. Pembahasan
Metode AHP adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan yang kompleks dengan menyederhanakan dan mempercepat proses pengambilan keputusan dengan mengurai persoalan tersebut kedalam bagian-bagiannya. Metode AHP membantu memecahkan persoalan yang kompleks dengan menstruktur suatu hirarki kriteria, pihak yang berkepentingan, hasil dan didasari dari berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot atau prioritas. Metode ini juga menggabungkan kriteria yang ditentukan dan logika sesuai aturan dari berbagai persoalan, selanjutnya dengan menyeimbangkan dari berbagai pertimbangan yang beragam menjadi hasil yang cocok untuk diterapkan (Saaty, 1993).
Proses hierarki adalah suatu model yang memberikan kesempatan bagi perorangan atau kelompok untuk membangun kebijakan dan mendefinisikan persoalan dengan cara membuat perkiraan agar masing-masing dapat memperoleh pemecahan dari persoalan yang ada sesuai dengan yang diinginkan Ada dua alasan untuk menyatakan suatu tindakan akan lebih baik dibanding tindakan lain. Pertama adalah pengaruh tindakan tersebut kadang-kadang tidak dapat dibandingkan karena sutu ukuran atau bidang yang berbeda. Kedua adalah menyatakan bahwa pengaruh tindakan tersebut kadang-kadang saling bentrok, yang berarti perbaikan pengaruh tindakan tersebut yang satu dapat dicapai dan yang lainnya tidak. Dari alasan tersebut akan menyulitkan dalam membuat ekuivalensi antar pengaruh sehingga diperlukan suatu skala luwes yang disebut prioritas.
Prinsip Dasar dan Aksioma AHP
AHP berdasarkan atas 3 prinsip dasar yaitu:
1. Dekomposisi, dengan prinsip ini struktur masalah yang kompleks dibagi menjadi bagian-bagian secara hierarki. Tujuannya untuk mendefinisikan dari yang umum sampai khusus. Bentuk yang paling sederhana struktur akan dibandingkan dengan tujuan, kriteria dan level alternatif. Himpunan alternatif dapat dibagi dengan lebih banyak menjadi tingkatan yang lebih detail, mencakup lebih banyak kriteria yang lain. Level paling atas dari hirarki tersebut merupakan tujuan yang terdiri atas satu elemen. Level berikutnya mungkin memiliki beberapa elemen, dari elemen-elemen tersebut bisa dibandingkan apakah memiliki kepentingan yang hampir sama dan tidak memiliki perbedaan yang terlalu mencolok. Bila perbedaan tersebut terlalu besar harus dibuatkan level yang baru.
2. Perbandingan penilaian/pertimbangan (comparative judgments), menggunakan prinsip ini akan dibangun perbandingan berpasangan dari semua elemen yang ada dengan tujuan menghasilkan skala kepentingan relatif dari elemen yang ada. Penilaian dapat menghasilkan skala penilaian yang berupa angka. Perbandingan seacara berpasangan dalam bentuk matriks bila dikombinasikan akan menghasilkan prioritas.
3. Sintesa prioritas, dilakukan dengan mengalikan prioritas lokal dengan prioritas dari kriteria bersangkutan di level atasnya dan menambahkannya ke tiap elemen dalam level yang dipengaruhi oleh kriteria. Hasil yang diperoleh berupa gabungan atau dikenal dengan prioritas global yang kemudian digunakan untuk memboboti prioritas lokal dari elemen di level terendah sesuai dengan kriterianya.
AHP didasarkan atas 3 aksioma utama yaitu :
1. Aksioma resiprokal, menyatakan jika PC (EA,EB) adalah sebuah perbandingan berpasangan antara elemen A dan elemen B, yang memperhitungkan C sebagai elemen parent, hal ini menunjukan berapa kali lebih banyak properti yang dimiliki elemen A terhadap B, maka PC (EB,EA)= 1/ PC (EA,EB). Misalnya jika A 5 kali lebih besar dari B, maka B=1/5 A.
2. Aksioma homogenitas, menyatakan bahwa elemen yang dibandingkan tidak berbeda terlalu jauh. Bila perbedaan terlalu besar, hasil yang didapatkan mempunyai nilai kesalahan yang tinggi. Saat hirarki dibangun harus berusaha mengatur elemen-elemen agar elemen tersebut tidak menghasilkan hasil dengan akurasi rendah dan inkonsistensi tinggi.
3. Aksioma ketergantungan, menyatakan bahwa prioritas elemen dalam hirarki tidak bergantung pada elemen level di bawahnya. Aksioma ini bisa menerapkan prinsip komposisi hirarki.
Metode “pairwise comparison” AHP mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang diteliti multi obyek dan multi kriteria yang berdasar pada perbandingan preferensi dari tiap elemen dalam hierarki. Model ini merupakan model yang komperehensif yang dapat membuat keputusan untuk menetukan pilihan atas pasangan perbandingan yang sederhana, dapat membangun semua prioritas untuk urutan alternatif. Pairwaise comparison AHP menggunakan data yang ada bersifat kualitatif berdasarkan pada pendapat, pengalaman, intuisi sehingga dirasakan dan diamati, namun kelengkapan data numerik tidak dapat menunjang untuk memodelkan secara kuantitatif.
Langkah – langkah dan proses Analisis Hierarki Proses (AHP) adalah sebagai berikut :
1. Mendefinisikan permasalahan dan menentukan tujuan. Jika AHP digunakan untuk memilih dari alternatif yang ada atau menyusun prioriras alternatif, tahapan ini dilakukan untuk pengembangan alternatif.
2. Menyusun masalah kedalam hierarki sehingga permasalahan yang kompleks dapat ditinjau dari sisi yang detail dan terukur.
3. Penyusunan prioritas untuk tiap elemen masalah pada hierarki. Proses tersebut menghasilkan bobot atau kontribusi elemen terhadap pencapaian tujuan sehingga elemen dengan bobot tertinggi memiliki prioritas penanganan. Prioritas yang dihasilkan dari suatu matriks perbandinagan berpasangan antara seluruh elemen pada tingkat hierarki yang sama.
4. Melakukan pengujian konsitensi terhadap perbandingan antar elemen yang didapatkan pada tiap tingkat hierarki.
Sedangkan langkah-langkah “pairwise comparison” AHP adalah
1. Pengambilan data dari obyek yang diteliti.
2. Menghitung data dari bobot perbandingan berpasangan responden dengan metode “pairwise comparison” AHP berdasar hasil kuisioner.
3. Menghitung rata-rata rasio konsistensi dari masing-masing responden.
4. Pengolahan dengan metode “pairwise comparison” AHP.
5. Setelah dilakukan pengolahan tersebut, maka disimpulkan adanya konsitensi atau tidak, bila data tidak konsisten maka diulangi lagi dengan pengambilan data seperti semula, namun sebaliknya maka akan digolongkan data terbobot yang selanjutnya dapat dicari nilai beta (b).
Menentukan Pembimbing dan Penguji
Saat menentukan siapa dosen pembimbing dan penguji seorang mahasiswa dalam membuat dan melaksanakan ujian skripsi ditententukan oleh dosen yang memiliki jenjang akademik, urutan dosen yang memiliki kualifikasi pendidikan, dan golongan. Jumlah yang dibimbing ataupun yang diuji dosen juga menjadi pertimbangan secara logis dapat dijalankan atau tidak. Pertimbangan lain adalah dilihat dari jumlah mahasiswa yang mengajukan skripsi, jumlah dosen yang akan ditetapkan sebagai pembimbing atau penguji, dan dari jawdal ujian yang ditetapkan dalam satu semester.
Penyelesaian
Langkah pertama, menentukan botot dari masing – masing kriteria.
Jenjang akademik lebih penting 2 kali dari pada kualifikasi pendidikan.
Jenjang akademik lebih penting 3 kali dari pada golongan.
Kualifikasi pendidikan lebih penting 1.5 kali dari pada golongan.
Pair Comparation Matrix
Kriteria Jenjang akademik Kualifikasi pendidikan Golongan Priority Vector
Jenjang akademik 1 2 3 0,5455
Kualifikasi pendidikan 0,5 1 1,5 0,2727
Golongan 0,333 0,667 1 0,1818
Jumlah 1,833 3,667 5,5 1,0000
Pricipal Eigen Value (lmax) 3,00
Consistency Index (CI) 0
Consistency Ratio (CR) 0,0%
Dari gambar diatas, Prioity Vector (kolom paling kanan) menunjukan bobot dari masing-masing kriteria, jadi dalam hal ini Jenjang akademik merupakan bobot tertinggi/terpenting, disusul kualifikasi pendidikan dan yang terakhir adalah golongan.
Cara menentukan tabel tersebut :
1. Untuk perbandingan antara masing–masing kriteria berasal dari bobot yang telah ditetapkan pertama kali.
2. Sedangkan untuk baris jumlah, merupakan hasil proses penjumlahan vertikal dari masing–masing kriteria.
3. Untuk Priority Vector didapat dari hasil penjumlahan dari semua sel disebelah kirinya (pada baris yang sama) setelah terlebih dahulu dibagi dengan jumlah yang ada dibawahnya, selanjutnya hasil penjumlahan tersebut dibagi dengan angka 3.
4. Untuk mencari Principal Eigen Value (lmax) rumusnya adalah menjumlahkan hasil perkalian antara sel pada baris jumlah dan sel pada kolom Priority Vector
5. Menghitung Consistency Index (CI) dengan rumus CI = (lmax-n)/(n-1)
6. Sedangkan untuk menghitung nilai CR
Menggunakan rumuas CR = CI/RI , nilai RI didapat dari :
N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
RI 0 0 5,8 0,9 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49
Jadi untuk n=3, RI=0.58. Jika hasil perhitungan CR lebih kecil atau sama dengan 10%, ketidak konsistenan masih bisa diterima, sebaliknya jika lebih besar dari 10%, tidak bisa diterima.
Langkah Kedua, berdasarkan penetapan pembimbing dan penguji semester sebelumnya telah ditentukan jumlah dosen pembimbing dan penguji dengan memperhatikan jumlah mahasiswa yang dapat menyelesikan skripsinya ( disebut sebagai pair-wire comparation).
Jenjang akademik lebih penting 2 kali dari pada kualifikasi pendidikan.
Jenjang akademik lebih penting 3 kali dari pada golongan.
Kualifikasi pendidikan lebih penting 1.5 kali dari pada golongan.
Pembimbing I 4 kali Jenjangnya lebih tinggi daripada Pembimbing II
Pembimbing I 3 kali Jenjangnya lebih tinggi dari pada Penguji I
Pembimbing II 1/2 kali Jenjangnya lebih tinggi dari pada Penguji I
Pembimbing I 1/3 kali kualifikasi pendidikan daripada Pembimbing II
Pembimbing I 1/4 kali kualifikasi pendidikan dari pada Penguji I
Pembimbing II 1/2 kali kualifikasi pendidikan dari pada Penguji I
Dari hasil penilaian tersebut dapat dibuat table (disebut Pair-wire comparation matrix)
Jenjang akademik Pemb. I Pemb. II Penguji I Priority Vector
Pemb. I 1 4 3 0,6233
Pemb. II 0,25 1 0,5 0,1373
Penguji I 0,333 2 1 0,2394
Pricipal Eigen Value (lmax) 3,025
Consistency Index (CI) 0,01
Consistency Ratio (CR) 2,2%

Kualifikasi pendidikan Pemb. I Pemb. II Penguji I Priority Vector
Pemb. I 1 0,333 0,25 0,1226
Pemb. II 3 1 0,5 0,3202
Penguji I 4 2 1 0,5572
Jumlah 8 3,333 1,75 1,0000
Pricipal Eigen Value (lmax) 3,023
Consistency Index (CI) 0,01
Consistency Ratio (CR) 2,0%

Kualifikasi pendidikan Pemb. I Pemb. II Penguji I Priority Vector
Pemb. I 1,00 0,010 0,10 0,0090
Pemb. II 100,00 1,00 10,0 0,9009
Penguji I 10,00 0,100 1,0 0,0901
Jumlah 111,00 1,11 11,10 1,0000
Pricipal Eigen Value (lmax) 3
Consistency Index (CI) 0
Consistency Ratio (CR) 0,0%
Langkah ketiga, setelah mendapatkan bobot untuk ketiga kriteria dan skor untuk masing-masing kriteria bagi ketiga pilihan, maka langkah terakhir adalah menghitung total skor untuk ketiga kriteria tersebut. Dapat dirangkum semua hasil penilaiannya tersebut dalam bentuk tabel yang disebut Overall composite weight, seperti berikut :
Overall composit weight Pemb. I Pemb. II Penguji I Penguji II
Jenjang akademik 0,5455 0,6233 0,1373 0,2394
Kualifikasi pendidikan 0,2727 0,1226 0,3202 0,5572
Golongan 0,1818 0,0090 0,9009 0,0901
Composit Weight 0,3751 0,3260 0,2989

3. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
1. Memakai metode ini dapat memberikan pertimbangan untuk menentukan pembimbing dan penguji skipsi berdasarkan kriteria yang ditetapkan.
2. Keputusan dapat membantu dan menghindari kesalahan dalam penentuan perimbangan siapa dapat membimbing dan menguji skipsi dapat berkurang.

Daftar Pustaka
1. Dewayana, A Budi. 2009, Pemilihan Pemasok Cooper Rod menggunakan Metode ANP (Studi Kasus: PT. Olex Cables Indonesia (OLEXINDO)), Jurnal. UNDIP
2. Erika Susilo. 2011. Sistem Pendukung Keputusan Perizinan dan Penempatan Kolam Jaring Terapung Menggunakan Metode AHP Studi Kasus PT. PJB Cirata Badan Pengelolaan Waduk Cirata, Jurnal. Universitas Komputer Indonesia
3. http://haniif.wordpress.com/23-tinjauan-pustaka-sistem-pendukung-keputusan-spk/
4. http://blog.uad.ac.id/sulisworo/2009/04/16/analisis-hierarki-proses/
5. Permenpan no 12 tahun 2013 tentang Jabatan fungsional dosen dan angka kreditnya.
6. Saaty, TL. 1993. The Analytical Hierarchy Process : Planning, Priority, Setting, Resources Allocation. The Wharton Scholl. University of Pennsylvania