Uhang Dihi
Anak Rantau

Archive for the ‘Proceding’ Category

AUDIT TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI PADA UNIVERSITAS BINA DARMA MENGGUNAKAN COBIT 5.0

Tue ,31/03/2015

A Yani Ranius
Universitas Bina Darama, Jl. A. Yani No 12 Palembang, ay_ranius@yahoo.com
ABSTRAK
COBIT 5 merupakan sarana yang dapat membantu perusahaan menciptakan nilai yang optimal dari penggunaan Teknologi Informasi dan dapat mengetahui untuk menjaga keseimbangan antara manfaat dan mengoptimalkan tingkat risiko maupun tingkat kegunaan sumber daya. Kerangka kerja yang dapat membahas teknologi informasi (IT) bidang fungsional di suatu instansi dan mempertimbangkan kepentingan yang berkaitan terhadap IT baik untuk kepentingan internal maupun eksternal. Audit Tata Kelola Teknologi Informasi telah menjadi kebutuhan untuk mengetahui dan pengembangan investasi dalam menerapkan teknologi informasi secara maksimal. Tujuan jangka panjang audit tersebut untuk mencapai agar tata kelola teknologi informasi dapat diketahui tingkat kegunaannya. Dari penelitian ini akan memberikan ruang untuk menentukan model tata kelola teknologi informasi pada Universitas Bina Darma. Metode penelitian yang dipakai yaitu mengaudit tata kelola teknologi informasi menggunakan kerangka kerja COBIT 5.0. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui bagaimana akan mengetahui tata kelola teknologi informasi dengan kerangka kerja COBIT 5.0 serta dapat memberikan masukan terhadap langkah-langkah untuk meningkatkan kinerja serta rekomendasi perencanaan tata kelola tersebut di masa yang akan datang.
Keywords: tata kelola, teknologi informasi, cobit 5.0.

1. Pendahuluan
Penggunaan dan fungsi teknologi informasi saat ini sudah menjadi bagian yang sangat penting dihampir semua sektor pemerintahan maupun bisnis. Agar teknologi informasi menjadi nilai tambah dalam sebuah instansi, maka perlu adanya audit tata kelola teknologi informasi agar faktor dimensi yang berhubungan dengan penggunaan teknologi informasi akan bersinergi dan dapat bisa memberikan nilai tambah guna meningkatkan usaha pengembalian investasi sesuai yang diharapkan. Peningkatan pelayanan dan kepuasan para pengguna dan stakeholder dapat terjaga serta dapat terus ditingkatkan. Penerapan tata kelola teknologi informasi tepat sasaran akan memberikan nilai tambah tersendiri bagi Universitas Bina Darma.
Tata kelola teknologi informasi yang dibutuhkan suatu instansi yaitu agar tercipta proses penyebaran informasi yang lebih interaktif dan dinamis, transparansi tata kelola operasional institusi, serta peningkatan kinerja berbasis evaluasi dengan penilaian yang transparan, keamanan data serta informasi yang berhubungan dengan hak intelektual. Tata kelola teknologi informasi akan menjawab apa yang telah dilakukankan pada teknologi informasi yang dapat memberikan hasil maksimal dan berguna terhadap institusi.
Penelitian dengan menggunakan cara observasi dan dilakukan dengan analisis statistik untuk menyatakan bagaimana kondisi awal, kemudian melakukan mengimplementasikannya mulai dari cara kerja yang diperlukan menyesuaikan kerangka kerja COBIT 5.0. Agar dapat meningkatkan penilaian tata kelola teknologi informasi dan dapat memberikan rekomendasi yang akan dilakukan tahap berikutnya untuk perbaikan diwaktu kemudian.

2. Hasil
Hasil dari pembahasan penerapan framework cobit 5 pada audit tata kelola teknologi informasi di Universitas Bina Darma pada domain Monitor, Evaluate, and Access (MEA) terhadap keadaan tata kelola teknologi informasi di Universitas Bina Darma. Dengan menggunakan capability model yang tergambarkan ke dalam bentuk angka dan grafik, sehingga hal ini dapat memudahkan dalam menganalisa dan memperkirakan kebutuhan teknologi informasi dimasa yang akan datang.
Dalam penelitian ini menggunakan model kapabilitas sebagai alat ukur terhadap jawaban responden dari kuesioner yang dibuat berdasarkan framework cobit 5 yang berisi tentang pertanyaan-pertanyaan dari domain Monitor, Evaluate, and Access (MEA), yaitu:
1. Monitor, Evaluate, and Access (MEA01)
Pengawasan, evaluasi penilaian kinerja proses teknologi informasi pada Universitas Bina Darma terhadap kebijakan yang telah ditetapkan dan memberikan laporan yang sistematis dan tepat waktu.
2. Monitor, Evaluate, and Access (MEA02)
Pengawasan, evaluasi dan penilaian sistem pengendalian internal, termasuk dalam merencanakan, mengatur dan menjaga standarisasi untuk penilaian pengendalian internal dan jaminan proses kegiatan.
3. Monitor, Evaluate, and Access (MEA03)
Pengawasan, evaluasi dan penilaian sistem pengendalian ekternal yaitu mengidentifikasi dan memonitor perubahan dalam kebijakan, peraturan dan ketetapan lainnya yang harus dipenuhi dari teknologi informasi secara terus menerus.
Berdasarkan rekapitulasi jawaban dari para responden, maka didapatkan nilai tingkat kapabilitas saat ini sebesar 3,54 pada rentang 0-5. Nilai kapabilitas tertinggi terdapat pada MEA01 yaitu sebesar 3, sedangkan nilai terendah terdapat pada MEA03 sebesar 3,34. Rekapitulasi ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1 Rekapitulasi model capability

3. Pembahasan
Pada hasil observasi dan survey, Universitas Bina Darma hampir semuanya sudah melaksanakan secara komputerisasi. Data/informasi mengenai sumber daya aset (komputer, server, jaringan, proyektor) ataupun sumber daya manusia sudah dilakukan dan sudah mendekati ke titik nilai .
Model capability merupakan alat ukur untuk mengetahui kondisi proses TI pada universitas Bina Darma. Kegiatan pengukuran ini akan menghasilkan penilaian tentang kondisi sekarang dari proses monitor, evaluate dan assess (MEA), terdiri dari monitor, evaluate, and access (MEA01), monitor, evaluate, and access (MEA02), Monitor, Evaluate, and Access (MEA03).
Pada pengukuran Capability model ini digunakan pengambilan data melalui kuisioner. Sampel responden yang dilibatkan untuk pengisian kuisioner terutama adalah pada unit kerja TI yang kesehariannya mengoprasikan secara langsung dan mengetahui masalah yang berkaitan dengan proses terpilih, responden berasal dari unit kerja lain yang terkait.
Untuk mendukung audit tata kelola teknologi informasi ini diperoleh dari kuisioner akan diolah dan dilakukan :
a. Perhitungan rata-rata terhadap masing-masing attribut jawaban dari semua responden.
b. Penilaian tingkat model capability proses tersebut diperoleh dengan melakukan perhitungan rata-rata semua atribut atau proses .
c. Representasi kondisi Teknologi Informasi yang ada.
Ukuran dalam model ini meliputi ukuran ordinal dan ukuran nominal. Ukuran ordinal merupakan angka-angka yang diberikan dimana angka tersebut mengandung pengartian tingkatan. Ukuran nominal digunakan untuk mengurutkan obyek dari tingkatan terendah sampai tertinggi. Ukuran tersebut tidak memberikan nilai absolut terhadap obyek, akan tetapi hanya memberikan urutan tingkatan dari tingkat terendah sampai dengan tingkat tertinggi.
Selanjutnya merelasikan antara nilai tingkatan dan nilai absolut yang dilakukan dengan perhitungan dalam bentuk indeks menggunakan formula matematik. Dengan menggunakan model capability yang digambarkan ke dalam bentuk angka dan grafik, sehingga hal ini dapat memudahkan dalam hasil penelitian. Persamaan untuk menentukan nilai indeks ini adalah sebagai berikut:

Σ Jawaban Kuesioner
Indeks =
Σ Pertanyaan Kuesioner

Σ MEA01+ Σ MEA02+ Σ MEA03
Indeks =
Σ Domain Proses

3,75 + 3,53 + 3,34
Indeks = = 3,54
3
Pada skala pembuatan indeks bagi pemetaan ketingkat model capability terdapat pada tabel berikut ini.

Tabel 2 Skala Pembulatan Indeks
Tingkat Model Capability
5 – Optimising Process
4 – Predictable Process
3 – Established Process
2 – Managed Process
1- Performed Process
0 – Incomplete Process

Table 5.3 Hasil Pengukuran Tingkat Kapabilitas Proses TI
Control Proses TI Kondisi TI Saat ini Tingkat Model
Capability
Rata-Rata Per Proses TI
Evaluasi dan penilaian kinerja dan kesesuai (MEA01) 3,75 Established Process
Pengawasan, evaluasi dan penilaian sistem pengendalian internal (MEA02) 3,53 Established Process
Memastikan pemenuhan terhadap kebutuhan eksternal (MEA03) 3,34 Managed Process
Total Nilai Tingkat Capability 3,54 Established Process

Dari hasil perhitungan diperoleh gambaran tentang pelaksanaan tata kelola teknologi informasi yang telah dilakukan. Pencapaian saat ini sudah tidak terlalu jauh dari harapan yang akan dicapai, hal tersebut dapat dilihat pada tabel pencapaian berdasarkan domain. Grafik hasil pengukuran tingkat kematangan proses audit tata kelola Teknologi Informasi menggunakan framework cobit 5 pada Universitas Bina Darma, dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 1. Grafik Penilaian Kuesioner

Gambar 2. Grafik Hasil Penilaian Domain MEA01

Gambar 3. Grafik Hasil Penilaian Domain MEA02

Gambar 4. Grafik Hasil Penilaian Domain MEA03

4. Kesimpulan
1. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perbaikan kinerja tata kelola dapat ditingkatkan menggunakan kerangka kerja COBIT 5 terutama dalam menetapkan langkah-langkah perbaikan aktivitas yang dapat dikerjakan dalam tata kelola teknologi informasi di Universitas Bina Darma. Dalam beberapa langkah aktivitas perbaikan yang telah dilakukan, perlu ditingkatkan pelaksanaannya dengan menambahkan penggunaan perangkat lunak/sistem informasi yang berfungsi untuk melakukan pencatatan aset dan sarana komputer beserta sparepart-nya.
2. Untuk pengelolaan sumber daya manusia dibuat sistem informasi pelaksanaan aktivitas pembelajaran (elearning) disertai dengan manajemen pengelolaan komputer yang terhubung dengan server, sehingga terdapat tata kelola akses komputer yang lebih tersistematis dan terkontrol dapat tetap tersimpan di media penyimpanan yang ada di server.

Daftar Pustaka
1. ITGI. 2012. Cobit 5 : Enabling Process. United States America.
2. Van Grembergen, Wim; Steven De Haes. 2009. Enterprise Governance of IT: Achieving StrategicAlignment and Value, Springer.
3. Van Grembergen, Wim; Steven De Haes. 2009. Moving From IT Governance to Enterprise Governance of IT, ISACA Jurnal.
4. Wibowo, Arianto Mukti. 2008. IT Governance Patterns in Indonesian Organization. IT Governance Lab UI.
5. www.isaca.org/cobit

MENINGKATKAN MOTIVASI TECHNOPRENEURSHIP SEBAGAI POTENSI INOVASI MAHASISWA UNTUK BERBISNIS

Tue ,17/03/2015

Paper senasti

Analisis SWOT Penyusunan Rencana Induk e-Government Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Muara Enim

Sat ,01/11/2014

A. Yani Ranius1), Emel Apriandes2)

1) Fakultas Ilmu Komputer Univ. Bina Darma Palembang 30264, email: ay_ranius@yahoo.com

2) Fakultas Ilmu Komputer Univ. Bina Darma Palembang 30264, email: virgo.emel@yahoo.com

 

 

 

 

Abstrak :Salah satu cara yaitu implementasi e-government diperlukan adanya rencana induk e_govrnment dengan berpedoman dalam integrasi teknologi informasi di Pemerintah Daerah, sehingga implementasi e-government diharapkan dapat membantu meningkatkan interaksi antara pemerintah, masyarakat dan bisnis sehingga mampu mendorong perkembangan politik dan ekonomi. Penelitian ini menghasilkan analisis penyusunan rencana induk e-government pada Pemerintah Daerah Kabupaten Muara Enim melalui Kantor Komunikasi dan Informatik.

KataKunci:Analisis, SWOT, egovernment.


 

 

 

Abstract :One way that the implementation of e-government master plan is needed e_govrnment by referring to the integration of information technology in local government, so that the implementation of e-government is expected to help improve interaction between government, community and business so as to encourage political and economic developments.This research resulted in the preparation of analysis of e-government master plan in Muara Enim District Government through the Office of Communications and Informatics.

Keywords:Analysis, SWOT, egovernment

 

 

 

1.PENDAHULUAN

 

Seiring dengan semakin cepatnya perubahan lingkungan strategis yang dinamis, kompleks, dan beraneka ragam yang mengakibatkan terjadinya kompetisi serta berakibat semakin luasnya keinginan dan kebutuhan masyarakat. Dengan keragaman tersebut juga ikut andil peran perguruan tinggi untuk memberikan masukan atau ide yang dapat dijadikan refrensi yang dituangkan dalam bentuk penelitian ini. Selain itu guna memenuhi hal tersebut pemerintahan telah melakukan upaya yang ditunjang dengan teknologi informasi supaya reformasi birokrasi dalam penyelenggaraan dan pemerintahan dapat dioptimalkan dengan efektif. Berdasarkan Instruksi Presiden No 3 tahun 2003 tentang kebijakan dan strategi nasional pengembangan e-government dan keputusan menteri negara komunikasi dan informasi nomor : 12/SK/MENEG/KI/2002 tanggal 1 maret 2002 tentang pembentukan satuan tugas pengembangan e-government disetiap lembaga pemerintah Republik Indonesia [5], membuka jalan bagi penerapan teknologi komunikasi dan informasi dibidang pemerintahan. Saat ini telah banyak instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah otonom yang berinisiatif mengembangkan pelayanan publik melalui jaringan komunikasi dan informasi dalam bentuk website.

E-government [3] adalah istilah yang digunakan berbagai kegiatan pemerintahan yang dibantu melalui media teknologi informasi dan komunikasi. E-government sudah digunakan oleh negara-negara berkembang untuk meningkatkan layanan terhadap warga negara dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Untuk meningkatkan kepuasan warga negara terhadap pemerintah maka digunakan elektronik government atau e-governrment sebagai sarana mengevaluasi kinerja.

Kabupaten Muara Enim adalah salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Selatan. Ibu kota kabupaten ini terletak di kota Muara Enim. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 9.323,06 km² dan populasi sebanyak lebih dari 700.000 jiwa. Kecamatan yang ada di kabupaten muara enim yaitu, kecamatan Abad, Gelumbang, Benakat, Gunung Megang, Kelekar, Lawang Kidul, Lembak, Lubai, Muara Belida, Muara Enim, Penukal Abab, Panukal Utara, Rambang, Rambang Dangku, Semondo Darat Laut, Semendo Darat Ulu, Sungai Rotan, Talang Ubi, Tanjung Agung dan Ujan Mas. Pemeritah Kabupaten Muara Enim melalui kantor Komunikasi dan Informatika kabupaten Muara Enim menyadari pentingnya peranan informasi dengan menggunakan electronic government (egov) sebagai penerapan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik yang dalam implementasinya pemerintah kabupaten Muara Enim membangun website dengan alamat http://www.muaraenimkab.go.id. Beberapa fungsi dan manfaat dari adanya website atau situs remi Pemerintah Kabupaten Muara Enim ini yaitu, memperkenalkan dan mempromosikan sumber daya alam maupun produk hasil bumi, memperlihatkan secara nyata kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam melaksanakan urusan pemerintahan kepada masyarakat umum secara luas, tersedianya sarana interaksi langsung antara Pemerintah daerah dan masyarakat dan menjadi indikator dan barometer bagi pembangunan daerah kabupaten muara enim. E-government pada website pemerintah kabupaten Muara Enim terdiri dari header yang bergambar logo kabupaten Muara Enim dan gedung pemerintah. Menu menu atas terdapat link terdapat home, profil terdiri dari submenu visi misi dan lambang pemerintah terdiri dari submenu dinas, pejabata eselon dan pemerintahan terkait, informasi umum RUP APBD 2012, RUP APBD/P 2012, pengumuman lelang, dan berita lelang, webmail, kontak kami dan buku tamu, pada menu atas juga terdapat fasilitas pencarian. Menu kanan terdapat gambar wakil bupati muara enim, daftar link terkait dan polling. Menu kiri terdapat gambar bupati muara enim, jumlah pengunjung, fasilitas login dan daftar pengumuman. Menu footer terdapat pengelolah website yaitu Kantor Komunikasi dan Informatika.

Pada penelitian ini analisis SWOT dapat mengetahui tentang faktor eksternal yang ada di Kabupaten Muara Enim yaitu peluang adanya teknologi informasi yang menunjukan perkembangan yang pesat dengan adanya fasilitas website. Sedangkan ancaman ekstrenal seperti pencurian data dan data yang rusak. Untuk kekuatan faktor eksternal seperti adanya sumber daya manusia yang memiliki kualitas yang baik dalam updating data pada website dan kelemahan faktor internal seperti kurangnya pemahaman untuk pegawai tentang pentingnya website untuk Kabupaten Muara Enim. Berdasarkan visi dan misi dari kabupaten Muara Enim maka disusunlah rencana strategis (renstra) menggunakan metode analisis SWOT yang terdiri dari analisis lingkungan internal (ALI) dan analisis lingkungan eksternal (ALE) dan menghasilkan perumusan asumsi melalui pembobotan analisis lingkungan internal (ALI) dan analisis lingkungan eksternal (ALE). Analisis SWOT juga menghasilkan analissi stratejik alternatif dan pilihan (ASAP) untuk mendapatkan analisis faktor penentu keberhasilan (FPK). Dari analisis restra yang ada maka dapat disusun Rencana Induk Pengembangan (RIP) untuk periode tahun yang akan datang. Berdasarkan uraian-uraian tersebut maka diangkat permasalahan dengan penetapan judul penelitian yang dipilih yaitu ”Analisis SWOT Guna Penyusunan Rencana Induk E-Government Pada Pemerintahan Daerah Kabupaten MuaraEnim”.

 

2.METODE ANALISIS

2.1. Analisis SWOT

Dari analisis SWOT [9] menurut [6] “Analisis SWOT adalah dentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi Perusahaan” Analisis SWOT mempunyai peranan penting dalam kemajuan usaha yang akhir-akhir ini semakin kompetitif persaingannya dalam mencapai tujuan. arti dari SWOT adalah Strengths, Weakness, Opportunity, and Threats. Yang artinya Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman. Berikut ilustrasi gambar analisis SWOT menurut Rangkuti:

Sumber : [6]

Gambar 1 : Analisis SWOT

 

Definisi analisis SWOT [8] adalah sebagai berikut:

  1. Peluang (Opportunities) Suatu peluang merupakan situasi utama yang mengguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Kecenderungan-kecenderungan utama ini adalah salah satu peluang identifikasi dari segmen pasar yang sebelumnya terlewatkan, perubahan-perubahan dalam keadaan bersaing, atau peraturan, hubungan pembeli, perubahan teknologi dan hubungan pembeli dan pemasok yang telah diperbaiki dapat menunjukan peluang bagi perusahaan.
  2. Ancaman (Threaths) Ancaman adalah rintangan-rintangan utama bagi posisi sekarang atau yang diinginkan dari perusahaan. Masuknya pesaing baru, pertumbuhan pasar yang lambat, daya tawar pembeli dan pemasok utama yang meningkat, perubahan teknologi, dan peraturan yang baru atau yang direvisi dapat merupakan ancaman bagi keberhasilan suatu perusahaan.
  3. Kekuatan (Strenghts) Kekuatan adalah sumber daya, ketrampilan atau keunggulan lain yang relatif terhadap pesaing dan kebutuhan dari pasar suatu perusahaan layani atau hendak layani. Kekuatan merupakan suatu kompetensi yang berbeda (destintive competence) yang memberperusahaan suatu keunggulan komparatif (comparative advantage) dalam pasar. Kekuatan berkaitan dengan sumber daya, keuangan, citra, kepemimpinan pasar, hubungan pembeli/pemasok, dan faktor-faktor lain.
  4. Kelemahan (weaknesses) Kelemahan merupakan keterbatasan/kekurangan dalam sumber daya, ketrampilan, dan kemampuan yang secara seerius menghalangi kinerja efektif suatu perusahaan. Dari pembahasan diatas analisis SWOT merupakan instrumen yang ampuh dalam melakukan analisis strategi. Keampuhan tersebut terletak pada kemampuan para penentu strategi perusahaan untuk memaksimalkan peranan faktor kekuatan dan pemanfaatan peluang sehingga sekaligus berperan sebagai alat untuk meminimalisasi kelemahan yang terdapat dalam tubuh organisasi dan menekan dampak ancaman yang timbul dan harus dihadapi.

2.2 TIK Kabupaten Muara Enim

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada Pemda Kabupaten Muara Enim mempunyai bagian pengurusan TIK. Pada TIK terdapat beberapa komputer yang terbagi menjadi dua kompetensi yaitu kompetensi teknis dan non-teknis. Kompetensi teknis adalah kemampuan dasar TIK, teknis perangkat keras, dan jaringan. Kompetensi nonteknis disini adalah kemampuan komunikasi dan hubungan interpersonal. Pada TIK Pemda Kabupaten Muara Enim terdapat beberapa bagian yang mengelola TIK yaitu :

  1. Kasi PDE yang berfungsi untuk membuat perencanaan strategis, mengelola organisasi, proses-proses yang dilakukan organisasi, mengelola aspek pendidikan, pelatihan kepada SDM yang terkait, dan mengelola keamanan.
  2. Application system analyst yang berfungsi untuk mengembangkan dan mengelola perawatan aplikasi yang dilakukan oleh Sistem Analisis dan Pemrograman.
  3. Application-System Analyst yang berfungsi untuk membuat rancangan sistem berdasarkan kebutuhan pengguna.
  4. Application-Programmer yang berfungsi untuk mengembangkan atau tambahan aplikasi komputer dan dapat melakukan pengujian terhadap aplikasi hasil pengembangannya.
  5. Koordinator data yang berfungsi untuk dokumen arsitektur data dan dokumen perencanaan strategis TIK termasuk arsitektur informasi Unit.
  6. Database administrator yang berfungsi untuk membuat rancangan basisdata dan data definition , ikut mengamankan basisdata, melakukan perawatan data. Memonitor penggunaan basisdata dan statistik kinerja.
  7. Network administrator yang berfungsi untuk membuat perencanaan infrastruktur telekomunikasi, mengimplementasikan perencanaan infrastruktur telekomunikasi, melakukan perawatan terhadap infrastruktur telekomunikasi.
  8. System analyst yang berfungsi untuk mempelajari permasalahan-permasalahan dan kebutuhan-kebutuhan organisasi.
  9. System programmer yang berfungsi merawat sistem dan melakukan pengujian.
  10. Coordinator operation yang berfungsi untuk mengelola kegiatan operasi, mengelola SDM yang terlibat dalam operasi termasuk operator/users, librarians, dan lain-lain.

 

3.HASIL

3.1 Renstra TIK

3.1.1 Tujuan dan Sasaran Renstra TIK

Tujuan penyusunan Rencana Strategi TIK ini adalah untuk merumuskan rencana pentahapan pengembangan TIK Kabupaten Muara Enim tahun 2013 – 2017. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai :

  1. Ketersediaan gambaran strategi pengembangan TIK Kabupaten Muara Enim.
  2. Ketersediaan gambaran prioritas pengembangan TIK Kabupaten Muara Enim.
  3. Ketersediaan gambaran mengenai tahapan pengembangan TIK Kabupaten Muara Enim.

3.1.2Analysis Kesenjangan

Hal yang perlu dilakukan pertama kali dalam merencanakan strategi TIK adalah dengan melakukan analisa kesenjangan sehingga strategi TIK bisa berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang seluas-luasnya terhadap Pemerintah Daerah maupun masyarakat Kabupaten Muara Enim. Berdasarkan hasil dari analisa terhadap kondisi yang ada saat ini maka ada beberapa kesenjangan dan solusi yang diusulkan seperti ditunjukkan pada tabel dibawah ini:

  1. Organisasi dan Tata Kelola TIK
Kesenjangan Solusi yang diusulkan
  • Pada tingkat strategis belum ada Tim Pengarah yang merencanakan, penetapkan dan mengendalikan kebijakan pengembangan sistem informasi.
  • Pengendalian pelaksanaan kebijakan pengembangan sistem informasi tidak ada, hal ini merupakan konsekuensi logis ketiadaan Tim Pengarah pada tingkat strategis.
  • Belum terdapat perencanaan dan pelaksanaan pengendalian risiko sistem informasi secara sistematis;
  • Pengembangan sistem informasi dilakukan secara terpisah dan kurang terkoordinasi oleh masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
  •  Operasional kegiatan SI, pengendalian keamanan, dan pengelolaan risiko dilaksanakan secara terpisah oleh masing-masing SKPD.
  • Membentuk Tim Pengarah TIK Pemerintah guna mengoordinasikan pengembangan dan penerapan TIK. Merumuskan dan menata organisasi pengelolaan TIK secara menyeluruh dan terpadu (IT overnance) sehingga bisa memberi daya dorong yang kuat dan berdaya guna.
  • Merumuskan penataan dan perencanaan tata kelola sistem informasi (IT Governance) secara bertahap, terarah, dan terukur.
  • Melakukan perencanaan untuk mengadopsi dan mengadaptasi berbagai kebijakan, standar, dan prosedur yang menjadi best practices industri teknologi informasi. Meningkatkan fungsi Kantor Komunikasi & Informasi sebagai pengelola semua sistem dan aplikasi yang ada di Pemerintah Daerah Muara Enim.

 

  1. Sumber Daya Manusia
Kesenjangan Solusi yang diusulkan
  • Jumlah sumber daya manusia TI yang ada saat ini masih kurang.
  • Ketersediaan sumber daya  manusia TI yang belum mampu memenuhi seluruh aspek penerapan sistem informasi.
  • Kesulitan yang sering timbul akibat dinamika organisasi (mis. mutasi, promosi ke bidang lain, dsb.) pada sumber daya manusia TI, sementara tenaga pengganti belum tersedia.
  • Analisis secara menyeluruh kebutuhan sumber daya manusia TIK baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, mengingat semakin pentingnya penyelenggaraan layanan TI di lingkungan pemerintah.
  • Menyusun perencanaan pengembangan kompetensi sumber daya manusia TIK sesuai dengan kebutuhan saat ini dan masa depan.
  • Menyiapkan jenjang karir dan insentif sumber daya manusia TIK.
  • Memperbaiki pola kaderisasi melalui perencanaan pelatihan yang lebih terarah dan terukur.
  • Memperbaiki jenjang karir dan insentif sumber daya manusia TIK. Menambah Sumber Daya Manusia yang memiliki kompetensi dalam bidang Teknologi Informasi.

 

  1. Pengembangan Sistem Informasi
Kesenjangan Solusi yang diusulkan
  • Belum tersedia perencanaan sistem informasi yang up-to-date pada tingkat strategis, yang melingkupi seluruh lingkungan Pemerintah Muara Enim.
  • Belum tersedia arsitektur rinci yang mendefinisikan kebutuhan dan interaksi antar sistem aplikasi.
  • Belum tersedia panduan dan/atau rujukan bagi masing-masing SKPD dalam pengembangan sistem informasi.
  • Belum tersedia kebijakan, standar, dan prosedur pada pengembangan sistem informasi misalnya terkait dengan manajemen proyek /kegiatan, penjaminan kualitas, manajemen konfigurasi, manajemen perubahan, dan sebagainya.
  • Belum tersedia kerangka koordinasi pengembangan sistem informasi yang dapat dipergunakan sebagai landasan pelaksanaan koordinasi pengembangan sistem informasi Pemerintah Daerah Muara Enim.

 

  • Menyusun dan menetapkan perencanaan sistem informasi pada tingkat strategis, serta merencanakan pelaksanaannya antara lain sosialisasi, perumusan langkah taktis dan teknisnya, pengendalian, dan perbaikan perencanaan secara berkelanjutan.
  • Menyusun dan menetapkan kebijakan, standar, dan prosedur pengembangan sistem informasi.

 

  1. Pengembangan Infrastruktur
Kesenjangan Solusi yang diusulkan
  • Jaringan lokal antar SKPD tidak semuanya berfungsi dengan baik karena pemeliharaan dan pemanfaatannya belum optimal.
  • Belum terdapat kebijakan yang secara formal mengatur pengelolaan infrastruktur jaringan serta kebijakan dan standar yang mengatur pengelolaan tingkat ketersediaan layanan (Service Level Management) pada penyelenggaraan infrastruktur jaringan.
  • Belum terdapat dokumentasi perencanaan pengembangan infrastruktur jaringan yang disepakati dan tersosialisasi dengan baik.
  • Belum terdapat data center sebagai pusat sumber daya data dan informasi. Koneksi sering bermasalah, misalnya ketika ada satu titik yang terputus maka ada beberapa jaringan lainnya yang juga terputus.
  • Bandwith cukup besar tetapi akses sering lambat.

 

  • Menyusun rencana pengembangan infrastruktur jaringan secara terpadu, dengan mempertimbangkan perkembangan teknologi dan berbagai fitur yang mungkin dapat dimanfaatkan secara optimal dalam meningkatkan kinerja dan efisiensi penyelenggaraan infrastruktur jaringan.
  • Menyusun dan menetapkan kebijakan pengelolaan infrastruktur jaringan pada berbagai aspek terkait.
  • Meningkatkan kinerja dan aspek keamanan infrastruktur jaringan, antara lain dengan mengembangkan NOC (Network Operation Center) terpadu dan fasilitas Helpdesk.
  • Membangun data center sebagai pusat sumber daya data dan informasi terpadu. Topology jaringan disesuaikan sehingga memakai Konsep Arsitektur jaringan Hierarchical Internetworking Model.
  • Diperlukan adanya pengelolaan bandwith (Bandwith Management)

 

3.2 SWOT TIK

3.2.1 Analisis Lingkungan Stratejik

Analisis lingkungan Stratejik yang dilakukan melalui analisis lingkungan internal (ALI) dan analisis lingkungan eksternal (ALE).

3.2.2 Analisis Lingkungan Internal (ALI)

Analisis lingkungan internal dilakukan melalui pencermatan lingkungan internal organisasi yang menghasilkan :

  1. Kekuatan (Strength).
  2. Adanya PERDA No. 15 Tahun 2008 tentang pembentukan dan tata kerja inspektorat, satuan polisi pamong praja dan lembaga teknisi daerah Kabupaten Muara Enim.
  3. Adanya program kerja yang jelas.
  4. Adanya alokasi anggaran yang memadai.
  5. Adanya kewenangan dan mengkoordinasikan tugas bidang TIK.
  6. Telah ditandatanganya MOU dengan pihak investor
  7. Kelemahan (Weakness).
  8. Kurangnya kualitas dan kompetensi SDM bidang TIK.
  9. Kerjasama pegawai masih kurang.
  10. Belum adanya prosedur standar pelayanan operasional yang jelas.
  11. Terbatasnya sasaran dan prasarana.
  12. Masih lemahnya sistem keamanan data.

3.2.3Analisis Lingkungan Ekternal (ALE)

Analisis lingkungan ekternal dilakukan melalui pencermatan lingkungan ekternal organisasi yang menghasilkan :

  1. Peluang (Opportunities).
  2. Kondisi keamanan daerah yang kondusif.
  3. Tingginya animo masyarakat akan kebutuhan informasi.
  4. Tersedianya dana investasi bidang teknologi informasi.
  5. Pesatnya pertumbuhan pembangunan multi media.
  6. Terbitnya kesempatan mengikuti diklat bagi pegawai.
  7. Tantangan (Threats).
  8. Tingginya daya saing dalam menghadapi pasar bebas.
  9. Luasnya jangkuan wilayah.
  10. Lemahnya koordinasi lintas sektor/wilayah.

 

Dari asumsi dan informasi lain yang telah dikembangkan sebelumnya dilakukan Analisis Stratejik dan Pilihan (ASAP) melalui SWOT, sehingga diperoleh strategi alternatif sebagai berikut :

  1. Strategi Strength-Opportunity (SO) :
  2. Dayagunakan alokasi anggaran yang ada untuk memenuhi animo masyarakat akan kebutuhan TIK.
  3. Manfaat Kewenangan yang ada untuk mengawasi pesatnya pertumbuhan pembangunan multimedia

2. Strategi Strength-Opportunity (WO) :

  1. Atasi keterbatasn sarana dan prasarana dengan memanfaatkan tersedianya dana invenstasi bidang teknologi informasi.
  2. Tingkatkan kompetensi SDM pegawai dengan memanfaatkan terbukanya kesempatan mengikuti diklat pegawai.

3. Strategi Strength-Treat  (ST) :

  1. Realisasikan nota kerjasama (MoU) dengan pihak mengatasi luasnya jangkauan wilayah.
  2. Manfaatkan program kerja yang jelas untuk meningkatkan koordinasi lintas sektoral/ wilayah.

4. Strategi Weakness-Treat (WT) :

  1. Terbitkan prosedur standar pelayanan operasional yang jelas untuk mengatasi peraturan yang berubah-ubah.
  2. Tingkatkan sistem keamanan data untuk mencegah adanya ancaman serangan hacker dan virus komputer.

 

4.KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan dari penelitian yang telah dilaksanakan dan sudah diuraikan dalam analisis SWOT guna penyusunan rencana induk e-government pada Pemerintahan Daerah Kabupaten Muara Enim di Kantor Komunikasi dan Informatika sebagai berikut :

  1. Penelitian ini menghasilkan analisis penyusunan rencana induk e-government pada Pemerintah Daerah Kabupaten Muara Enim melalui Kantor Komunikasi dan Informatika.
  2. Rencana induk e-government pada Pemerintah Daerah Kabupaten Muara Enim melalui Kantor Komunikasi dan Informatika menggunakan metode analisis SWOT.
  3. Membantu pegawai dalam menyusun rencana stratejik (RENSTRA) dan rencana induk pengembangan (RIP) untuk website e-goverment.

4.2. Saran

Saran analisis SWOT guna penyusunan rencana induk

e-government pada Pemerintahan Daerah Kabupaten Muara Enim mmelalui Kantor Komunikasi dan Informatika yaitu:

  1. Diharapkan analisis SWOT ini menjadi bagian dari penyusunan rencana induk e-government pada Kantor Komunikasi dan Informatika.
  2. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tidak menutup kemungkinan analisis SWOT guna penyusunan rencana induk e-government pada Pemerintahan Daerah Kabupaten Muara Enim di Kantor Komunikasi dan Informatika nantinya menggunakan metode lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTARREFERENSI

 

[1]  Agung, Gregorius. “Belajar Sendiri Membuat Web Portal Instan dengan ASP Noke”, Elex Media Komputindo,Jakarta, 2003.

[2]  Habibullah, “Kajian Pemanfaatan dan Pengembangan E-Government”, 2010.

[3]  Indrajit, R. Eko. “Electronic GovernmentStrategi Pembangunan dan Pengembangan Sistem Pelayanan Publik Berbasis Teknologi Digital”, Yogyakarta, Andi Yogyakarta, 2002.

[4]  Jogiyanto, “Analisis dan Desain Sistem Informasi”, Andi, Yogyakarta, 2005.

[5]  Kominfo, Inpres No 3 tahun 2003 tentang pedoman penerapan e-government, Kementerian Komunikasi dan Informasi, Muara Enim, 2003.

[6]  Rangkuti Freddy, “Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis” Gramedia Pustaka Utama (GPU), Jakarta 1997.

[7]  Sutabri Tata, “Analisa Sistem Informasi”, Andi, Yogyakarta, 2004.

[8]  Tunggal, Amin, Wijdjaja, “Pengantar manajemen Strategi”, harvarindo, Jakarta 1994

[9]  Zidni, “Pengembangan Website BKD Karanganyar untuk Meningkatkan Kualitas Penyediaan Informassi Kepegawaian”. Sekolah Tingggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta 2010.