Uhang Dihi
Anak Rantau

EVALUASI PENERIMAAN TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI KEPEGAWAIAN POLDA SUMSEL MENGGUNAKAN METODE TAM (TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL)

Oleh :

A.Yani Ranius
Meiky Pratama
1. Pendahuluan
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dewasa ini dirasakan banyak berperan dalam berbagai aspek kehidupan sudah menjadi alat yang begitu penting dalam menyelesaikan pekerjaan serta menghasilkan sebuah informasi secara cepat dan tepat, media yang sering digunakan saat ini adalah komputer. Untuk itu harus diimbangi dengan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk dapat menguasai perkembangan IPTEK komputer tersebut.
Komputer sangat membantu pengguna dalam melakukan pengolahan data dan mempercepat mendapatkan informasi, informasi itu merupakan salah satu kunci yang sangat dibutuhkan dalam melakukan berbagai aktifitas, baik aktifitas dalam suatu instansi pemerintahan diataranya kepolisian. Oleh karena itu dengan adanya perkembangan teknologi informasi perlu dikembangkan berbagai sistem komputerisasi untuk membantu instansi kepolisian untuk memperlancar pekerjaan-pekerjaan seperti suatu sistem informasi untuk membantu dalam pengolahan data pegawai pada kantor Polda Sumsel Palembang.
Instansi kepolisian Polda Sumsel Palembang merupakan suatu Instansi pemerintahan yang bergerak dalam bidang keamanan masyarkat, menjaga ketertiban dan melayani serta menangani tugas-tugas di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat. Pada Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Undang-undang nomor 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Pengembangan kemampuan dan kekuatan serta penggunaan kekuatan Polri dikelola sedemikian rupa agar dapat mendukung pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Polri sebagai pengemban fungsi keamanan dalam negeri.
Instansi kepolisian Polda Sumsel Palembang yang memiliki jumlah pegawai 3437 orang dengan 2 bagian yang dibagi atas bagian anggota Polri 2937 orang serta bagian fungsional/Pegawai Negeri Sipil sebanyak 500 orang. Dalam melakukan aktifitasnya Polda Sumsel Palembang ini sudah menggunakan sistem informasi kepegawaian menggunakan komputer. Sistem informasi yang diterapkan Polda Sumsel Palembang yang dilihat dari segi kualitas dan pelayanannya yang sudah berjalan dengan baik didalam memberikan pelayanan kepada pegawainya maupun masyarakat. Guna memaksimalkan dan meningkatkan kinerja untuk pengelola sistem tersebut perlu ditingkatkan lagi mengingat ada aplikasi yang belum dapat digunakan.
Model yang dikembangkan oleh para peneliti untuk mengukur penerimaan teknologi oleh penggunanya adalah model Technology Acceptance Model (TAM). Model TAM dikembangkan oleh Davis (1989) yang mengadaptasi model TRA (Theory of Reasoned Action). Perbedaan antara TRA dan TAM adalah penempatan sikap-sikap dari TRA, dengan memperkenalkan dua variabel kunci, yaitu kebermanfaatan (perceived usefulness) dan kemudahan (perceived ease of use) yang memiliki relevancy pusat untuk memprediksi sikap penerimaan pengguna (Acceptance of IT) terhadap teknologi komputer. Ada dua variabel penting yang menentukan penerimaan terhadap teknologi informasi yaitu kebermanfaatan dan kemudahan. Faktor kebermanfaatan didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang meyakini bahwa penggunaan teknologi/sistem tertentu meningkatkan kinerja. Sementara kemudahan diartikan sebagai tingkat dimana seseorang meyakini bahwa penggunaan teknologi adalah mudah dan tidak memerlukan usaha keras dari pemakainya untuk bisa menggunakannya. Berdasarkan studi yang sudah dilakukan oleh Davis dapat dikatakan bahwa dalam mengembangkan sebuah teknologi perlu dipertimbangkan faktor kebermanfaatan dan kemudahan dari pengguna teknologi/sistem sehingga penggunaan keseluruhan dapat diketahui.
Berdasarkan uraian diatas, maka dipilih judul Evaluasi Penerimaan Teknologi Sistem Informasi Kepegawaian Pada Polda Sumsel Palembang dengan Menggunakan Metode TAM (Technology Acceptance Model).
2. Metodologi Penelitian
2.1 Waktu Dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian ini dimulai dari bulan Septmber 2012 sampai dengan bulan Desember 2012. Lokasi tempat penelitian adalah Instansi kepolisian Polda Sumsel Palembang yang beralamat di Jl. Jenderal Sudirman. Km 4,5 Palembang 30000. Telp/Fax. (0711) 360295.

2.2 Metode Penelitian
Metode penelitian disini menggunakan metode penelitian deskriptitf kuantitatif yaitu penelitian tentang data yang dikumpulkan dan dinyatakan dalam bentuk angka-angka, meskipun juga berupa data kualitatif sebagai pendukungnya, seperti kata-kata atau kalimat yang tersusun dalam angket, kalimat hasil konsultasi atau wawancara antara peneliti dan informan.
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan. Data kualitatif yang diangkakan misalnya terdapat dalam skala pengukuran. Suatu pernyataan/pertanyaan yang memerlukan alternatif jawaban, dimana masing-masing : sangat setuju digunakan angka 5, setuju 4, cukup setuju 3, tidak setuju 2, dan sangat tidak setuju 1.
Penelitian kuantitatif mengambil jarak antara peneliti dengan objek yang diteliti. Penelitian kuantitatif menggunakan instrumen formal, standar dan bersifat mengukur.

2.3 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran merupakan suatu model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah riset. Kerangka pemikiran akan memberikan manfaat, yaitu terjadi pendapat yang sama antara periset dan pembaca terhadap alur-alur pikiran periset, dalam rangka membentuk hipotesis-hipotesis risetnya secara logis.
Dalam kerangka penelitian ini akan menguji faktor-faktor penentu dan perilaku penggunaan dalam model TAM, yaitu faktor kebermanfaatan (perceived usefulness) (X1) dan faktor kemudahan (perceived ease of use) (X2) terhadap penerimaan teknologi untuk penggunaan sistem informasi kepegawaian (Y) pada Polda Sumsel.
Kerangka pemikiran menggunakan model TAM, terlihat pada gambar sebagai berikut :

Gambar 1. Kerangka model TAM
2.4. Hipotesis
Hipotesis pada penelitian ini adalah :
1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor kebermanfaatan (perceived Usefulness) terhadap penerimaan teknologi dalam penggunaan sistem informasi kepegawaian pada Polda Sumsel.
2. Terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor kemudahan (Perceived Ease Of Use) terhadap penerimaan teknologi dalam penggunaan sistem informasi kepegawaian pada Polda Sumsel.
3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor kebermanfaatan (perceived Usefulness) dan faktor kemudahan (Perceived Ease Of Use) terhadap penerimaan teknologi dalam penggunaan sistem informasi kepegawaian pada Polda Sumsel.

2.5 Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan 3 (tiga) variabel yang telah dimodifikasi dari model penelitian TAM sebelumnya yaitu : kebermanfaatan (perceived usefulness) sebagai variabel pertama (X1), kemudahan (perceived ease of use) sebagai variabel bebas kedua (X2) dan penerimaan teknologi dalam penggunaan teknologi/sistem kepegawaian sebagai variabel terkait (Y). Dimana menurut teori TAM secara signifikan variabel kebermanfaatan dan variabel kemudahan berpengaruh terhadap penerimaan teknologi dalam penggunaan teknologi/sistem kepegawaian. Dari penjelasan sebelumnya penulis membuat beberapa variabel dari objek penelitian untuk membantu kegiatan peghitungan data analisis. Variabel tersebut adalah :
– Variabel Y = Penerimaan teknologi
– Variabel X1 = Kemanfaatan teknologi
– Variabel X2 = Kemudahan teknologi
Uraian dari masing masing variabel ini adalah sebagai berikut :

1. Variabel Penerimaan Teknologi
Variabel Sub Variabel

Penerimaan Teknologi Menambah keterampilan
Menambah pengetahuan
Mempunyai pengaruh positif dan negatif
Memotivasi kinerja

2. Variabel Kebermanfaatan Teknologi
Variabel Sub Variabel
Kemanfaatan Teknologi Menambah produktivitas kinerja
Mempertinggi efektivitas
Meningkatkan kualitas pekerjaan
Mengembangkan kinerja

3. Variabel Kemudahan Teknologi
Variabel Sub Variabel
Kemudahan Teknologi Teknologi mudah dipelajari
Teknologi jelas dan mudah dipahami
Bebas dari kesulitan
Mengurangi usaha,waktu dan tenaga
Fleksibel

2.6 Penelitian Kuantitatif
Penelitian Kuantitatif dilakukan dengan alat bantu statistika yang dipakai untuk mengevaluasi pengaruh variabel yang diteliti. Evaluasi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu menggunakan statistik inferensi. Statistik inferensi digunakan untuk pengambilan keputusan dan pada umumnya menyertakan pengambilan keputusan dengan uji hipotesis. Uji hipotesis yang dilakukan pada penelitian yaitu menggunakan evaluasi korelasi yaitu melalui evaluasi korelasi Pearson yang merupakan uji statistik bagi variabel yang berskala interval dimana alternatif jawaban kuesioner yang diisi oleh responden akan diberi bobot skala likert, yaitu 5, 4, 3, 2, 1 untuk setiap pernyataan/pertanyaan. Untuk mengetahui skor total yang diperoleh dari masing-masing variabel digunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
Skor actual = Jawaban seluruh responden
Skor Ideal = Skor /nilai tertinggi /semua responden diasumsikan memilih jawaban tertinggi.
Skor aktual adalah jawaban seluruh responden atas kuesioner yang telah diajukan. Skor ideal adalah skor atau bobot tertinggi atau semua responden diasumsikan memilih jawaban dengan skor tertinggi. Penjelasan bobot nilai skor
aktual dapat dilihat pada tabel berikut:
Kriteria Persentase Tanggapan Responden
No. % Jumlah Skor Kriteria
1. 20.00% – 36.00% Sangat Tidak Setuju
2. 36.01% – 52.00% Tidak Setuju
3. 52.01% – 68.00% Cukup
4. 68.01% – 84.00% Setuju
5. 84.01% – 100% Sangat Setuju

2.7 Uji Validitas
Setelah kuisioner ditabulasi maka dilakukan uji validitas untuk mengetahui sejauh mana alat pengukur dapat mengukur apa yang ingin diukur. Pengujian validitas untuk mengetahui apakah pertanyaan (Instrumen) penelitian yang diajukan untuk mengukur variabel penelitian adalah valid. Uji validitas dilakukan dengan cara melihat nilai signifikansi masing-masing instrumen. Untuk menghitung nilai korelasi antara data pada masing–masing pernyataan dengan skor total memakai rumus teknik korelisasi product moment, dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
r : Nilai Korelasi
n : Jumlah Responden
X : Skor pernyataan dengan kode tertentu
Y : Skor total pernyataan
XY : Skor pernyataan x skor total pernyataan
(∑X)2 : Kuadrat jumlah skor item
∑X2 : Jumlah kuadrat skor item
(∑Y)2 : Kuadrat jumlah skor total
∑Y2 : Jumlah kuadrat skor total.

2.8 Uji Reabilitas
Jika alat ukur telah valid, selanjutnya alat ukur tersebut diujikan. Reabilitas adalah suatu nilai yang menunjukan konsistensi suatu alat pengukur dalam mengukur gejala yang sama. Pengujian reabilitas digunakan guna mengukur konsistensi jawaban responden.
Teknik pengukuran reabilitas yang digunakan adalah teknik Cronbach Alpha (CA). Mencari reabilitas instrumen yang skornya bukan 0-1, tetapi merupakan antara beberapa nilai. Skor yang digunakan oleh penulis adalah 1 sampai 5. Rumus yang digunakan adalah:

Keterangan :
r11 : Reabilitas instrumen
k : Banyak butir pernyataan
αt2 : Deviasi standar total
∑αp2 : Jumlah deviasi standar butir.

Untuk jumlah varians butir ditentukan dengan cara menentukan nilai varians tiap butir dengan menggunakan rumus berikut :

Keterangan :
N : Jumlah responden
X : Nilai skor yang dipilih dari butir pernyataan.

2.9 Model Evaluasi
Adapun bentuk persamaan regresi linier berganda yang digunakan dalam penelitian ini. Persamaan regresi yang dipakai adalah sebagai berikut (Supranto, 1998) (dalam Indriarty, 2010):

Keterangan:
Y = penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian
β1, β2 = koefisien regresi
X1 = faktor kebermanfaatan (perceived usefullness)
X2 = faktor kemudahan (perceived ease of use)
e = standard error.

3. Hasil
Hasil yang akan diukur dalam penelitian ini adalah penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian pada Polda Sumsel Palembang. Model yang dipakai dalam penelitian ini adalah Technology Acceptance Model (TAM). Pada penelitian ini akan dibahas mengenai pengaruh faktor kebermanfaatan (perceived usefullness) dan faktor kemudahan (perceived ease of use) terhadap penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian.
Hal pertama yang akan dilakukan adalah evaluasi instrumen penelitian, instrumen penelitian dikatakan baik dan layak apabila instrumen penelitian tersebut memenuhi syarat validitas dan reliabilitas. Kemudian dilakukan uji asumsi klasik dan uji regresi berganda.
3.1. Karakteristik Responden
Berikut ini akan dikemukakan gambaran umum responden yang menjadi obyek penelitian ini. Responden dalam penelitian ini adalah anggota Polisi dan Pegawai Negeri Sipil Polda Sumsel Palembang. Kuisioner yang disebarkan sebanyak 35 kuisioner yang ditujukan kepada pemakai sistem informasi kepegawaian Polda Sumsel. Untuk lebih jelas, identitas responden dapat dilihat pada tabel berikut ini :
3.1.1.Jenis Kelamin
Tabel 1. Responden berdasarkan jenis kelamin
Jenis_Kelamin
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Laki-laki 17 48.6 48.6 48.6
Perempuan 18 51.4 51.4 100.0
Total 35 100.0 100.0
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa dari jumlah total 35 responden, terdapat 17 orang atau 48,6% responden berjenis kelamin laki-laki dan 18 orang atau 51,4% responden berjenis kelamin perempuan. Maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan. Dalam hal ini peneliti tidak membedakan jenis kelamin, karena responden dipilih secara random. Komposisi anggota polisi dan pegawai negeri sipil berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini :

Gambar 2. Responden Berdasarkan Jenis kelamin

3.1.2. Status
Tabel 2. Responden berdasarkan Status
Status
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Anggota Polri 16 45.7 45.7 45.7
PNS 19 54.3 54.3 100.0
Total 35 100.0 100.0
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa dari jumlah total 35 responden, terdapat 16 orang atau 45,7% responden adalah anggota Polri dan 19 orang atau 54,3% responden adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden adalah PNS. Komposisi anggota Polri dan PNS berdasarkan status dapat dilihat pada gambar 3 berikut ini :

Gambar 3. Responden Berdasarkan Status
3.2. Deskripsi Jawaban Responden
Berikut adalah hasil tabulasi jawaban kuisioner dari total 35 orang atau 100% responden pada setiap variabel penelitian.

3.2.1.Kebermanfaatan (Perceived Usefullness)
Tabel 3 Jawaban Responden atas variabel kebermanfaatan (X1)
Variabel
Sangat Setuju
(5) Setuju (4) Cukup Setuju
(3) Tidak Setuju
(2) Sangat Tidak Setuju
(1) Total

X1_1 17 13 5 0 0 35
X1_2 10 15 10 0 0 35
X1_3 14 12 7 0 2 35
X1_4 10 20 5 0 0 35
Total 51 60 27 0 2 140
Proporsi 36,4% 42,9% 19,3% 0,0% 1,4% 100,0%

Sumber : Data diolah dengan MS Excel 2007

Dari tabel diatas terlihat bahwa sebanyak 1,4% responden menjawab sangat tidak setuju, responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 0,0%, responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 19,3%, responden yang menjawab setuju sebanyak 42,9% dan responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 36,4%.

3.2.2.Kemudahan (Perceived Ease of Use)
Tabel 4 Jawaban Responden atas variabel kemudahan (X2)
Variabel
Sangat Setuju
(5) Setuju (4) Cukup Setuju
(3) Tidak Setuju (2) Sangat Tidak Setuju
(1) Total

X2_1 10 17 8 0 0 35
X2_2 8 15 12 0 0 35
X2_3 10 11 12 2 0 35
X2_4 5 13 13 2 2 35
X2_5 7 15 13 0 0 35
Total 40 71 58 4 2 175
Proporsi 22,9% 40,6% 33,1% 2,3% 1,1% 100,0%

Sumber : Data diolah dengan MS Excel 2007

Dari tabel diatas terlihat bahwa sebanyak 1,1% responden menjawab sangat tidak setuju, responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 2,3%, responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 33,1%, responden yang menjawab setuju sebanyak 40,6% dan responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 22,9%.
3.2.3. Penerimaan (Acceptance of IT)
Tabel 5. Jawaban Responden atas variabel Penerimaan (Y)
Variabel
Sangat Setuju
(5) Setuju (4) Cukup Setuju
(3) Tidak Setuju
(2) Sangat Tidak Setuju
(1) Total

Y1 14 12 7 0 2 35
Y2 14 12 7 0 2 35
Y3 10 17 8 0 0 35
Y4 8 15 12 0 0 35
Total 46 56 34 0 4 140
Proporsi 32,9% 40,0% 24,3% 0,0% 2,9% 100,0%
Sumber : Data diolah dengan MS Excel 2007

Dari tabel diatas terlihat bahwa sebanyak 2,9% responden menjawab sangat tidak setuju, responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 0,0%, responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 24,3%, responden yang menjawab setuju sebanyak 40,0% dan responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 32,9%.
3.3. Uji Kualitas Data
3.3.1. Uji Validitas
Sugiyono (2006) menyatakan bahwa uji validitas merupakan suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi (content) dari suatu instrumen, dengan tujuan untuk mengukur ketepatan instrumen yang digunakan dalam suatu penelitian.
Tujuan dilakukan uji validitas adalah untuk mengetahui validitas item dari setiap pertanyaan berdasarkan kuisioner yang telah dibagikan dan diisi oleh responden. Semua pengolahan data dilakukan menggunakan bantuan program SPSS 17.0 untuk menghindari kesalahan.
Uji validitas dilakukan dengan membandingkan dengan ketentuan jika rhitung > rtabel maka item tersebut dinyatakan valid. Dalam penelitian ini n = 35, dan terdapat 3 variabel, jadi df = n – 3 = 32, dengan tingkat signifikan 0,05 maka didapat rtabel sebesar 0,339 (2-tailed) Jika Nilai pearson correlation > nilai pembanding berupa r-kritis atau r tabel, maka item tersebut valid. Atau jika nilai Sig. (2-tailed) < 0,05 berarti item tersebut valid dan berlaku sebaliknya. berikut hasil Pengujian validitas setiap variabel dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 6. Hasil Uji Validitas Instrumen Kebermanfaatan (X1)
Correlations
X1_1 X1_2 X1_3 X1_4 Total
X1_1 Pearson Correlation 1 .687** .555** .518** .810**
Sig. (2-tailed) .000 .001 .001 .000
N 35 35 35 35 35
X1_2 Pearson Correlation .687** 1 .645** .710** .897**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000
N 35 35 35 35 35
X1_3 Pearson Correlation .555** .645** 1 .503** .851**
Sig. (2-tailed) .001 .000 .002 .000
N 35 35 35 35 35
X1_4 Pearson Correlation .518** .710** .503** 1 .782**
Sig. (2-tailed) .001 .000 .002 .000
N 35 35 35 35 35
Total Pearson Correlation .810** .897** .851** .782** 1
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000
N 35 35 35 35 35
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Tabel 7. Hasil Uji Validitas Instrumen Kemudahan (X2)

Correlations
X2_1 X2_2 X2_3 X2_4 X2_5 Total
X2_1 Pearson Correlation 1 .654** .718** .242 .453** .784**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .162 .006 .000
N 35 35 35 35 35 35
X2_2 Pearson Correlation .654** 1 .728** .497** .432** .867**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .002 .010 .000
N 35 35 35 35 35 35
X2_3 Pearson Correlation .718** .728** 1 .281 .425* .825**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .102 .011 .000
N 35 35 35 35 35 35
X2_4 Pearson Correlation .242 .497** .281 1 .308 .652**
Sig. (2-tailed) .162 .002 .102 .072 .000
N 35 35 35 35 35 35
X2_5 Pearson Correlation .453** .432** .425* .308 1 .670**
Sig. (2-tailed) .006 .010 .011 .072 .000
N 35 35 35 35 35 35
Total Pearson Correlation .784** .867** .825** .652** .670** 1
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000
N 35 35 35 35 35 35
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0

Tabel 8. Hasil Uji Validitas Instrumen Penerimaan (Y)
Correlations
Y_1 Y_2 Y_3 Y_4 Total
Y_1 Pearson Correlation 1 1.000** .377* .656** .935**
Sig. (2-tailed) .000 .026 .000 .000
N 35 35 35 35 35
Y_2 Pearson Correlation 1.000** 1 .377* .656** .935**
Sig. (2-tailed) .000 .026 .000 .000
N 35 35 35 35 35
Y_3 Pearson Correlation .377* .377* 1 .654** .651**
Sig. (2-tailed) .026 .026 .000 .000
N 35 35 35 35 35
Y_4 Pearson Correlation .656** .656** .654** 1 .847**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000
N 35 35 35 35 35
Total Pearson Correlation .935** .935** .651** .847** 1
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000
N 35 35 35 35 35
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Tabel 9. Keterangan Hasil Uji Validitas Tiap Instrumen Variabel
Variabel r hitung r tabel
(two tailed) Validitas
Kebermanfaatan (X1)
X1_1 0,810 0,339 Valid
X1_2 0,897 0,339 Valid
X1_3 0,851 0,339 Valid
X1_4 0,782 0,339 Valid
Kemudahan (X2)
X2_1 0,784 0,339 Valid
X2_2 0,867 0,339 Valid
X2_3 0,825 0,339 Valid
X2_4 0,652 0,339 Valid
X2_5 0,670 0,339 Valid
Penerimaan (Y)
Y1 0,935 0,339 Valid
Y2 0,935 0,339 Valid
Y3 0,651 0,339 Valid
Y4 0,847 0,339 Valid

Sumber : Diolah dengan Microsoft Excel 2007
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil pengujian validitas pada instrument-instrumen dalam setiap variabel yang menunjukkan rhitung > rtabel , sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen – instrumen dalam setiap variabel terbukti valid dan akan digunakan dalam penelitian ini.
3.3.2. Uji Reliabilitas
Jika alat ukur telah valid, selanjutnya alat ukur tersebut diuji. Reliabilitas adalah proses pengukuran terhadap ketepatan (konsisten) dari suatu instrumen. Pengujian ini dimaksudkan untuk menjamin instrumen yang digunakan merupakan sebuah instrumen yang handal, konsistensi, stabil dan dependibalitas, sehingga bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama (Husaini, 2003). Reliabilitas dilakukan untuk mengetahui konsistensi alat ukur dalam mengukur gejala yang sama. syarat untuk menyatakan jika item itu reliabel adalah dengan melihat hasil uji reliabilitas dan jika hasilnya mendekati 1 maka item tersebut dinyatakan reliabel. Adapaun hasil uji reliabilitas dengan menggunakan Software SPSS 17.0 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 10. Keterangan Hasil Uji Validitas Tiap Instrumen Variabel
Case Processing Summary
N %

Cases Valid 35 100.0
Excludeda 0 .0
Total 35 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.
Reliability Statistics
Cronbach’s Alpha N of Items
.841 4

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Tabel 11. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Kemudahan (X2)
Reliability Statistics
Cronbach’s Alpha N of Items
.804 5

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Tabel 12. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penerimaan (Y)
Reliability Statistics
Cronbach’s Alpha N of Items
.867 4

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Tabel 13. Keterangan Hasil Uji Reliabilitas Tiap Instrumen Variabel
Variabel Cronbach’s Alpha Keterangan
Kebermanfaatan (X1) 0, 841 Reliabel
Kemudahan (X2) 0, 804 Reliabel
Penerimaan (Y) 0, 867 Reliabel
Sumber : Diolah dengan Microsoft Excel 2007
Seperti yang terlihat pada tabel 11 dari hasil output pengolahan menggunakan SPSS, nilai Cronbach’s Alpha pada setiap variabel > 0,6 dan semua pernyataan/pertanyaan pada kuisioner pada penelitian ini dinyatakan reliabel.
3.4. Uji Asumsi klasik
3.4.1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel bebas dan variabel terikat keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Berikut ini adalah hasil uji normalitas data yang berupa grafik normal plot dan grafik histogram dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 4. Grafik Normal Probality Plot

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Gambar 5. Grafik Histogram

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0
Dengan melihat grafik histogram dan grafik normal probability plot diatas, maka dapat disimpulkan bahwa grafik histrogram menunjukkan pola distribusi yang normal, sedangkan grafik probability plot terlihat titik – titik menyebar disekitar garis diagonal serta penyebarannya tidak jauh dari garis atau masih dikategorikan mengikuti garis diagonal. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa model regresi layak karena memenuhi asumsi normalitas. Kedua grafik ini menunjukkan bahwa model regresi memenuhi uji normalitas.
3.4.2. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Multikolinearitas dapat dilihat dari nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Jika nilai tolerance value dibawah 0,1 atau variance inflation factor diatas 10 maka terjadi multikolinearitas.

Tabel 14. Hasil Uji Multikolinieritas
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) -.581 .305 -1.904 .066
X1 .872 .138 .754 6.321 .000 .263 3.802
X2 .257 .148 .208 1.744 .091 .263 3.802

a. Dependent Variable: Y

Tabel 15. Keterangan Hasil Uji Multikolinieritas
Variabel Collinearity Statistics
Tolerance VIF
Kebermanfaatan (X1) 0.263 3.802
Kemudahan (X2) 0.263 3.802

Dari tabel diatas maka dapat dilihat bahwa nilai VIF untuk setiap variabel berada dibawah angka 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.
3.5. Uji Hipotesis
Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Variabel penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian diprediksi dipengaruhi oleh variabel kebermafaatan dan variabel kemudahan.
3.5.1. Uji F
Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi bisa atau tidak dipakai untuk memprediksi variabel dependen yaitu penerimaan. Hasil uji F dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 16. Hasil Uji F
ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 18.157 2 9.079 117.713 .000a
Residual 2.468 32 .077
Total 20.625 34

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
1 .938a .880 .873 .27771 2.301

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0

Berdasarkan hasil uji F test diatas, dihasilkan Fhitung sebesar 117.713 dengan tingkat signifikan (P Value) 0,000 < 0,05. Atas dasar perbandingan tersebut maka H1a diterima dan H1b ditolak atau dengan kata lain bahwa faktor kebermanfaatan dan kemudahan dari sistem informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi kepegawaian. Angka Adjusted R2 sebesar 0.873 menunjukkan bahwa 87,3% penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian Polda bisa dijelaskan oleh kedua variabel independent, dan sisanya sebesar 12,7% dijelaskan oleh faktor lain.
3.5.2. Uji t
Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh secara parsial variabel independent terhadap variabel dependent.
Dari tabel 15 didapatkan model analisis regresi linier berganda sebagai berikut:

Hasil Uji t dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 17. Output Hasil Uji t dengan SPSS
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) -.581 .305 -1.904 .066
X1 .872 .138 .754 6.321 .000 .263 3.802
X2 .257 .148 .208 1.744 .091 .263 3.802

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17.0

a. Dependent Variable: Penerimaan (Y)
Tabel 18. Keterangan Hasil Uji t
Variabel Hasil Uji Keterangan
Signifikansi
Kebermanfaatan (X1) 0.000 Signifikan
Kemudahan (X2) 0.091 Tidak Signifikan

Berdasarkan hasil uji t, didapat 1 hipotesis alternative yang diterima (H1a), dan satu hipotesis yang tidak diterima (H1b).
1. H1a menyatakan bahwa kebermanfaatan dari sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya. Pada tabel 5.11 dapat dilihat bahwa P Value sebesar 0.000 dengan derajat kepercayaan 95% (α =0,05). Dengan melihat bahwa P Value > 0,05 maka H1a diterima atau dengan kata lain kebermanfaatan dari sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya.
2. H1b menyatakan bahwa kemudahan dari sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya. Pada tabel 5.18 dapat dilihat bahwa P Value sebesar 0.091 dengan derajat kepercayaan 95% (α =0,05). Dengan melihat bahwa P Value > 0,05 maka H1b ditolak atau dengan kata lain fasilitas yang diberikan sistem informasi kepegawaian tidak berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya.
Rangkuman hasil uji hipotesis dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 19. Hasil Pengujian Hipotesis
Hipotesis Kesimpulan
H1a kebermanfaatan dari sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan teknologi penggunanya Diterima
H1b kemudahan dari sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan teknologi penggunanya Ditolak

3.6. Pembahasan
3.6.1. Pengaruh Kebermanfaatan dari Sistem Informasi Kepegawaian terhadap Penerimaan Pengguna Teknologi
Pernyataan hipotesis pertama yang menyatakan bahwa kebermanfaatan pada sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya dapat diterima. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikan (P Value) sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Dengan melihat bahwa P Value < 0,05 maka H1a atau dengan kata lain kebermanfaatan pada sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya. Dan hasil koefisien regresi sebesar 0,872 yang bernilai positif, menyatakan bahwa setiap penambahan kebermanfaatan yang dihasilkan, maka akan menambah penerimaan pengguna sebanyak 0,872. Dapat disimpulkan bahwa walaupun semakin tinggi kebermanfaatan dari sistem informasi, maka akan menambah penerimaan bagi penggunanya. Dari sisi kebermanfaatan (perceived usefullness), tanggapan anggota polisi dan pegawai negeri sipil yang memberikan pernyataan sebanyak 1,4% responden menjawab sangat tidak setuju, responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 0,0%, responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 19,3%, responden yang menjawab setuju sebanyak 42,9% dan responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 36,4%. Hal ini dapat diartikan bahwa, Instansi Polda Sumsel Palembang masih perlu meningkatkan respon anggota Polisi dan PNS terhadap faktor kebermanfaatan dari sistem informasi tersebut, sehingga kelompok anggota Polisi dan PNS yang menyatakan Sangat Setuju menjadi mayoritas untuk menerima kebermanfaatan (perceived usefullness) yang dihasilkan oleh sistem informasi kepegawaian.
3.6.2. Pengaruh Kemudahan dari Sistem Informasi Kepegawaian terhadap Penerimaan Pengguna Teknologi
Pernyataan hipotesis kedua yang menyatakan bahwa kemudahan dari sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya tidak dapat diterima. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikan (P Value) sebesar 0,091 yang lebih besar dari 0,05. Dengan melihat bahwa P Value < 0,05 maka H1b ditolak atau dengan kata lain kemudahan pada sistem informasi kepegawaian tidak berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya. Dan hasil koefisien regresi sebesar 0.257 yang bernilai positif, menyatakan bahwa setiap penambahan kemudahan yang dihasilkan, maka akan meningkatkan penerimaan pengguna sebanyak 0.257. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kemudahan yang dihasilkan pada sistem informasi kepegawaian, maka akan semakin meningkatkan penerimaan penggunanya. Dari variabel kemudahan (perceived ease of use), tanggapan anggota Polisi dan PNS yang memberikan pernyataan sebanyak 1,1% responden menjawab sangat tidak setuju, responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 2,3%, responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 33,1%, responden yang menjawab setuju sebanyak 40,6% dan responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 22,9%. Hal ini dapat diartikan bahwa, Instansi Polda Sumsel Palembang masih perlu meningkatkan respon anggota Polisi dan PNS terhadap faktor kemudahan pada sistem informasi kepegawaian tersebut, sehingga kelompok anggota Polisi dan PNS yang menyatakan Sangat Setuju menjadi mayoritas untuk menerima kemudahan pada sistem informasi kepegawaian.
4. Kesimpulan dan Saran
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Tanggapan responden terhadap penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian Polda Sumsel dapat dilihat dibawah ini:
a. 42,9% responden menjawab Setuju terhadap variabel Kemanfaatan (X1).
b. 40,6% responden menjawab Setuju terhadap variabel Kemudahan (X2).
c. 40,0% responden menjawab Setuju terhadap variabel Penerimaan (Y).
d. Tanggapan responden terhadap penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian yang ada pada Instansi Polda Sumsel Palembang adalah baik, dan rata-rata jawaban responden dari setiap variabel adalah setuju, yang mengartikan sistem informasi tersebut memberikan penerimaan kepada pegawainya.
2. Sistem informasi kepegawaian cukup berpengaruh berdasarkan pengolahan data dengan mengunakan SPSS 17.0.
a. Berdasarkan Uji F, untuk Hipotesis H1:
Faktor kebermanfaatan dan kemudahan dari informasi yang dihasilkan oleh Sistem Informasi Kepegawaian, dan kemudahan pengguna Sistem Informasi tersebut, secara bersama-sama mempengaruhi penerimaan penggunanya. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis (uji F), didapatkan nilai signifikan sebesar 0,000 yang jauh lebih kecil dari 0,05. Menurut kriteria uji, jika Nilai signifikasi (P Value) < 0,05 maka H1a diterima dan H1b ditolak.
b. Berdasarkan Uji T, untuk Hipotesis H1a, H1b :
1. Kebermanfaatan (perceived usefullness) yang dihasilkan oleh sistem informasi kepegawaian berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis (uji T), dihasilkan P Value sebesar 0.000 yang lebih kecil dari 0,05. Dengan melihat bahwa P Value < 0,05 maka H1a diterima.
2. Kemudahan (perceived ease of use) dari informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi kepegawaian tidak berpengaruh terhadap penerimaan penggunanya. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis (uji T), dihasilkan P Value sebesar 0,091 yang jauh lebih besar dari 0,05. Dengan melihat bahwa P Value > 0,05 maka H1b ditolak.
Dari hasil uji T diatas, maka hipotesis yang diterima adalah H1a.

4.2. Saran
Saran yang ingin disampaikan yaitu :
1. Sesuai dengan perkembangan teknologi informasi maka sistem informasi yang digunakan harus selalu dievaluasi apakah sistem masih layak atau tidak untuk digunakan, sehingga dapat diketahui perlu tidaknya dilakukan pengembangan atau pergantian sistem yang ada demi memenuhi kebutuhan sistem informasi kepegawaian pada Instansi Polda Sumsel Palembang.
2. Adanya dukungan Instansi dalam bentuk pelatihan dan dukungan secara teknis, konsisten dan berkesinambungan agar penggunaan sistem menjadi sangat baik.
3. Adanya pelatihan serta fasilitas pemanfaatan teknologi sehingga penerimaan teknologi sistem informasi kepegawaian lebih maksimal.

Leave a Comment