Uhang Dihi
Anak Rantau

Opini : Isu Kritis Dalam Pendidikan

TUGAS KULIAH

Dosen Prof. Dr. Bintang Sitepu, M.A

1. PENGANTAR

Pendidikan merupakan suatu yang perlu mendapat perhatian oleh seluruh bangsa di dunia ini. Maju atau mundurnya suatu negara akan dipengaruhi oleh sumber daya manusianya oleh sebab itu kualitas sumber daya manusia akan dapat membangun negaranya. Pendidikan berlangsung sepanjang hayat yang dimulai sejak lahir dan pada hakekatnya pendidikan adalah menyediakan lingkungan bagi perkembangan anak  karena di dalam lingkungan tersebut anak dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki dengan baik.( Jamaris, 2013)

Belajar adalah membangun penafsiran diri terhadap dunia nyata melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi, selanjutnya belajar merupakan proses aktif untuk membangunkan pengetahuan. Kemudian pengajaran juga suatu proses membangunkan pengetahuan dan mengkomunikasikan pengetahuan, sementara belajar terstruktur bukan merupakan suatu tugas, tetapi meminta peserta didik mempergunakan piranti secara aktual dalam situasi dunia nyata dan aktif mempelajari masalah-masalah serta berpikir reflektif.

2. ISU PENDIDIKAN

  • Issu kritis Aspek Masalah Kurikulum dan Pembelajaran.

Banyak permasalahan kurikulum dan cara pembelajaran yang dialami turut andil dan dampaknya berpengaruh terhadap pembelajaran dan pendidikan.

Pendapat penulis adalah :

  1. Terlalu komplek, kurikulum yang dijalankan di Indonesia dinilai terlalu kompleks hal ini berakibat bagi guru dan siswa yang akan terbebani dengan beragam materi yang harus dikuasainya. Siswa harus berusaha untuk memahami dan mengejar materi yang sudah ditargetkan.
  2. Seringnya berganti nama, perubahan nama walaupun sebatas perubahan nama kadang dijadikan sebagai lahan bisnis.
  3. Peralatan pendukung, minimnya peralatan pendukung menyebabkan kurangnya pemerataan pendidikan hal ini berkaitan dengan materi akan yang diajarkan.
  4. Dilaksanakan dalan satu tahun ajaran, kurikulum merupakan sebuah acuan yang dibuat secara nasional dan menjadi dasar pijakan setiap sekolah atau lembaga pendidikan yang ada dengan tujuan agar terjadinya persamaan pengatahuan siswa, namun dalam pelaksanaan kurikulum yang ada dijalankan dalan satu tahun ajaran pendidikan.
  5. Issu kritis aspek Pembelajaran

Skinner (1958) memberikan definisi belajar “Learning is a process progressive behavior adaptation”. Dfinisi tersebut menjelaskan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Skinner percaya bahwa proses adaptasi akan mendatangkan hasil yang optimal apabila diberi penguatan (reinforcement). Ini berarti bahwa belajar akan mengarah pada keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Selain itu belajar juga memebutuhkan proses yang berarti belajar membutuhkan waktu hingga berhasil.

  1. Issu kritis aspek guru
  2. Rendahnya Kualitas Guru

Pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat. Berkaitan dengan paasal tersebut masih ada guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya.

  • Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru akan berperan dalam melaksanakan pendidikan yang akan membuat rendahnya kualitas pendidikan.

  1. Issu kritis aspek Siswa
  2. Faktor intern belajar, siswa akan mengalami beragam masalah dan berpengaruh ketika mereka dalam penyelesainya, mereka akan mengalami masalah atau kesulitan dalam belajar.
  3. Faktor ekstern belajar, proses belajar didorong oleh motivasi intrinsik siswa. Proses belajar dapat terjadi atau menjadi bertambah kuat bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan kata lain aktivitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan baik.
  4. Issu kritis aspek orang tua

Orang tua merupakan tempat anak menerima pendidikan yang pertama dalam proses menerima pengetahuan dan tidak hanya itu orang juga menjadi faktor utama yang terpenting dalam menentukan masa depan seorang anak, namun perkembangan pendidikan yang semakin pesat dan semakin rumit membuat orang tua sulit mengendalikan sikap dan menerapakan tanggung jawab untuk anaknya.

  • Issu kritis aspek pemerintah Daerah

Pemberlakuann UU otonomi daerah yang dimulai dengan diterapkannya UU nomor 22 tahun 1999 dan kemudian disempurnakan dengan UU nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, dengan diserahkannya sejumlah kewenangan yang semula menjadi urusan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, dengan demiklian akan terjadi perubahan dalam berbagai aspek pembangunan termasuk dalam aspek pendidikan.

  • Issu kritis aspek pemerintah pusat

Diantara persoalan yang hingga kini masih dialami bangsa Indonesia adalah isu seputar kebijakan pendidikan. Pendidikan di Indonesia belum semuanya mampu menghasilkan alumni siap kerja, para lulusan kurang mampu dan memiliki kualitas yang dapat diandalkan, para tamatan SMU/SMK dan Perguruan Tinggi minim terhadap kecerdasaan dan kemampuan kewirausahaan (enterpreneurship).

Untuk mengatasi isu kritis perihal mutu (layanan) pendidikan, maka pihak-pihak terkait antara lain pemerintah, Civil Society, dan seluruh stakeholder di bidang pendidikan perlu bersinergi untuk mencari langkah-langkah strategis pencapaian mutu layanan pendidikan seperti diamanatkan oleh Pasal 31 Amandemen UUD 1945, Pasal 28 Konvensi Hak Anak (KHA), dan Pasal 12 UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang sekaligus menjadi arah dan dasar kebijakan pendidikan nasional.

 

3. MUTU PENDIDIKAN

Strategi yang perlu dilakukan dalam kegiatan peningkatan mutu pendidikan antara lain:

  1. Pendidikan dan pelatihan(off the job training). Pelatihan secara individual maupun dalam kelompok untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terbaik dengan menghentikan kegiatan mengajarnya. Kegiatan pelatihan seperti akan memiliki keunggulan karena akan lebih terkonsentrasi dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
  2. Pelaksanaan tugas atau on the job training.Model ini dikenal dengan istilah magang. Pemagangan dapat dilakukan pada ruang lingkup lokal atau pada tempat lain yang memiliki mutu yang lebih baik.
  3. Lesson Studi. Kegiatan ini pada prinsipnya merupakan bentuk kolaborasi pendidik dalam memperbaiki kinerja mengajarnya dengan berkonsentrasi pada studi tentang dampak positif guru terhadap  kinerja belajar siswa dalam kelas.
  4. Penilitian Tindakan Kelas (PTK), kegiatan  ini dilakukan pendidik dalam kelas dalam proses pembelajaran. PTK dapat dilakukan sendiri dalam pelaksanan tugas, melakukan penilaian  proses maupun hasil untuk mendapatkan data mengenai prestasi maupun kendala yang siswa hadapi serta menentukan solusi perbaikan. Karena perlu ada solusi perbaikan. PTK sebaiknya dilakukan melalui beberapa putaran atau siklus sampai guru mencapai prestasi kinerja yang diharapkannya. Penelitian tindakan kelas ini merupakan salah satu sarana bagi pendidik untuk pengembangan profesi secara berkelanjutan.

 

4. RANGKUMAN

  1. Pelaksanaan pendidikan idealnya, pendidik yang efektif tidak membatasi diri hanya pada evaluasi yang formal dan terencana tapi secara berkelanjutan mengobservasi para anak didiknya dalam beragam konteks untuk mengumpulkan informasi mengenai pikiran, keyakinan, perasaan, dan hasil belajar.
  2. Pendidkan merupakan tantangan bagi pendidik untuk bisa mengambil keputusan. Seorang pendidik mungkin harus berpegang kuat pada pedoman pengajaran dan ketika seorang pendidik menjadi semakin berpengalaman, akhirnya akan mampu membuat keputusan-keputusan mengenai berbagai situasi dan masalah rutin secara cepat dan efesien serta akan memiliki banyak waktu dan tenaga untuk berpikir kreatif dan fleksibel mengenai cara-cara terbaik untuk mengajar.
  3. Di samping itu bahwa perubahan prilaku itu sebagai akibat belajar dari latihan (practice)  atau karena pengalaman (experience). Pada pengertian latihan dibutuhkan usaha dari individu yang bersangkutan, sedangkan dari pengertian pengalaman usaha tersebut tidak tentu diperlukan. Artinya adalah bahwa dengan pengalaman seseorang atau individu dapat berubah perilakunya, disamping perubahan itu dapat disebabkan oleh karena latihan.

 

Bahan Referensi

Hanafi, Abdillah. 1987. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional

Jamaris, Martini, Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, cet.ke-1, Bogor: Ghalia Indonesia, 2013

Rogers, Everett M, 1995, Diffusions of Innovations, Forth Edition. New York: Tree Press.

Skinner. 1958. Model Dan Media Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

One Response to “Opini : Isu Kritis Dalam Pendidikan” »

  1. SYAFIRA DIAN RAMADHANI Says:

    Terimakasih.. tulisannya sangat bermanfaat..
    My blog

Leave a Comment