PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI METODE SOSIODRAMA DALAM PEMBELAJARAN DRAMA SISWA SEKOLAH DASAR

Abstract : This classroom action research conducted in class V SD Negeri 8 Banyuasin III, consisting of 19 students. Based on the observation found that the students’ speaking skills lacking. The learning method used is the method sociodramas. Data taken the form of the test data and data describing all the activities of the students. This study was conducted during two cycles observed with assessment criteria are accuracy, fluency, intonation, expression, and tema. Acquisition average value of before the cycle, the first cycle and the second cycle is a value of 47.8, 55.15, and 76, while the percentage of completeness study was 5.26%, 36.8% and 89.5%. As for the results of students’ learning activeness described that students become more active and more willing to express opinions and ideas, boost confidence of students, and also attracted the attention of students. Thus, this study was successful because it increases students’ speaking skills and also a change in student behavior became more active during the course.

Keywords: speaking skills, dialogue, sociodramas

Abstrak : Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas V SD Negeri 8 Banyuasin III, terdiri dari 19 orang siswa. Berdasarkan kegiatan observasi ditemukan bahwa keterampilan berbicara siswa kurang. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode sosiodrama. Data yang diambil berupa data tes dan data yang menggambarkan segala aktivitas siswa. Penelitian ini dilakukan selama dua siklus dengan kriteria penilaian yang diamati adalah ketepatan, kelancaran, intonasi, ekspresi, dan tema.Perolehan nilai rata-rata dari tahap prasiklus, siklus I dan siklus II adalah nilai 47.8, 55.15, dan 76, sedangkan untuk persentase ketuntasan belajar adalah 5,26%, 36,8%, dan 89,5%. Sementara untuk hasil keaktifan belajar siswa dideskripsikan bahwa siswa menjadi lebih aktif dan lebih berani mengemukakan pendapat dan ide, meningkatkan kepercayaan diri siswa, dan juga menarik perhatian siswa. Dengan demikian, penelitian ini dapat dikatakan berhasil karena keterampilan berbicara siswa meningkat dan juga adanya perubahan tingkah laku siswa menjadi lebih aktif selama mengikuti pelajaran.

Kata kunci: keterampilan berbicara, berdialog, sosiodrama

1. PENDAHULUAN
Dunia pendidikan secara terus menerus mengalami proses perubahan dan perkembangan. Proses perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini, secara tidak langsung menyebabkan terjadinya pergeseran paradigma dalam masyarakat (Aqib dkk., 2011:161).
Pendidikan merupakan sejumlah pengalaman dari seseorang atau kelompok untuk dapat memahami sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami. Pendidikan di Indonesia, terbagi menjadi tiga jenis yaitu pendidikan informal, formal, dan nonformal. Pendidikan formal merupakan kegiatan pendidikan secara sistematis, bertingkat, dan berjenjang yang dimulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi, (Ambarjaya, 2012:6). Pendidikan pada tiap tingkatan tersebut, tentu saja ada perbedaannya karena pengembangan pembelajaran disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku di setiap sekolah masing-masing.
Kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Melalui program pendidikan tersebut siswa dapat melakukan kegiatan belajar, sehingga dapat mendorong perkembangan dan pertumbuhan sesuai dengan tujuan pendidikan (Hamalik, 2012:65). Dalam dunia pendidikan tentu saja akan ditemukan suatu kegiatan yang dinamakan sebagai kegiatan belajar dan mengajar. Kedua kegiatan tersebut, merupakan dua elemen yang sangat penting yaitu guru sebagai pengajar dan siswa (peserta didik) sebagai objek atau sasaran guru dalam menyampaikan materi pelajaran.
Belajar adalah kegiatan fisik atau badaniah dan hasil yang dicapai berupa perubahan-perubahan dalam fisik. Pendapat ilmu tradisional dalam Budiningsi (2011:1) , mengatakan bahwa belajar adalah kegiatan rohaniah atau psikis, dan sasaran yang hendak dicapai di sini bukan hanya sekedar perubahan ilmu pengetahuan saja tetapi juga perubahan jiwa atau sikap dan perilaku. Menurut Nasution (2010:1) Belajar adalah mengubah kelakuan, membentuk kepribadian dan hasil-hasil yang diharapkan bukan hanya bersifat pengetahuan akan tetapi juga sikap pemahaman, minat, penghargaan norma-norma, dan juga kecakapan.Sementara mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak, menyampaikan kebudayaan pada anak, dan mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasikan atau mengatur lingkungan sebaik-sebaiknya sehingga dapat menghubungkannya dengan anak atau peserta didik sehingga terjadisuatu kegiatan yang dinamakan kegiatan belajar mengajar (Nasution, 2010: 4).
Bahasa Indonesia adalah salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah formal dari segala tingkatan pendidikan termasuk SD. Bahasa Indonesia memiliki peran yang sangat penting dan merupakan penunjang untuk mempelajari mata pelajaran pada bidang lain. Ruang lingkup pembelajaran bahasa Indonesia mencakup empat komponen kemampuan berbahasa yang meliputi empat aspek yaitu keterampilan mendengar, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut saling terkait satu sama lain (Tarigan, 2008: 1). Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan pada keterampilan kemampuan berbicara.
Tarigan (2008:16) menjelaskan “Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran”. Kemampuan berbicara ini merupakan salah satu dari keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, karena melalui keterampilan berbicara segala pesan yang hendak disampaikan akan mudah dicerna sehingga komunikasi dapat berjalan dengan lancar. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2004:24) menjelaskan berbicara adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan berkata, bercakap, berbahasa atau melahirkan pendapat.
Penelitian mengenai peningkatan kemampuan berbicara dilakukan di kelas V SD Negeri 08 Banyuasin III dikarenakan, berdasarkan hasil observasi awal yang peneliti lakukan di SD tersebut terungkap bahwa rata-rata siswa belum mampu berbicara (kurang lancar, merasa malu, dan takut) siswa juga terlihat kurang percaya diri dalam mengungkapkan pikiran, gagasan, serta memberi komentar terhadap materi yang sedang dibahas. Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara dengan guru bidang studi Bahasa Indonesia kelas V yaitu Ibu Wasilawati, S.Pd. yang sekaligus menjadi Wali Kelas V. Dari kegiatan wawancara ini, diperoleh informasi bahwa dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya kemampuan berbicara selama ini sistem pembelajaran yang dilakukan hanya sebatas bertanya jawab dan selama kegiatan belajar berlangsung guru lebih mendominasi dengan metode pembelajaran ceramah sehingga tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya. Dengan begitu, kebanyakkan siswa mengalami kebosanan selama kegiatan belajar mengajar di kelas berlangsung. Maka dari itulah tidak heran jika siswa menjadi pasif, tidak kreatif dan tidak mampu berpikir kritis sehingga pada akhirnya motivasi untuk berbicara masuk dalam kategori kurang.
Berdasarkan observasi awal tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurangnya kreativitas guru dalam merancang, dan menyajikan pembelajaran kemampuan berbicara membuat siswa menjadi pasif selama kegiatan belajar berlangsung. Sementara, standar kompetensi yang hendak dicapai tidak dijelaskan secara rinci seperti aspek penilaian ketepatan, kelancaran, intonasi, ekspresi dan tema dalan berbicara. Dengan demikian, hal tersebut akan berdampak pada hasil belajar siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia, khususnya kemampuan berbicara.
Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas V SD adalah metode sosiodrama. Metode ini digunakan dalam materi pelajaran Bahasa Indonesia, karena menuntut kecakapan berbicara siswa, dan materi yang tepat untuk belajar melalui metode sosiodrama ini adalah materi bermain drama. Berdasarkan pengertiannya sosiodrama adalah metode yang dapat mendramatisasikan tingkah laku, atau ungkapan gerak-gerik seseorang dalam hubungan sosial antar manusia (Roestiyah, 2008:90). Metode ini dapat melatih siswa untuk saling berbagi informasi, mendengarkan dengan cermat serta berbicara penuh perhitungan, sehingga siswa lebih produktif dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, metode sosiodrama dapat dijadikan alternatif metode pembelajaran yang cocok untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa khususnya dalam pelajaran bahasa Indonesia.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, serta diperkuat oleh data yang didapat melalui tahap observasi awal di SD Negeri 08 Banyuasin III.Penulis merasa perlu mengadakan suatu penelitian guna membantu menyelesaikan masalah yang ada di SD Negeri 08 Banyuasin III tersebut, dengan judul penelitian“Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Sosiodrama dalam Pembelajaran Drama Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 08 Banyuasin III”. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 08 Banyuasin III melalui metode sosiodrama. Sementara manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini sebagai berikut.
a. Teoretis
Secara teoretis penelitian diharapkan bermanfaat sebagai sumbangan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya peningkatan kemampuan berbicara dengan menggunakan metode sosiodrama.
b. Praktis
Manfaat secara praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai bahan acuan untuk memotivasi siswa dalam belajar, meningkatkan keaktifan siswa, mengembangkan semangat kerja sama saling menguntungkan, menghargai satu sama lain, membangun kepercayaan diri siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi siswa dan sebagainya.

2. METODOLOGI PENELITIAN
2.1 Pengertian Metode Sosiodrama
Metode Sosiodrama dan role playing dapat dikatakan sama artinya, sebab dalam pemakaiannya sering disilihgantikan. Sosiodrama pada dasarnya adalah suatu metode pembelajaran yang mendramatisirkan tingkah laku seseorang dengan masalah sosial (Djahmarah., dkk, 2010:88). Pada umumnya kebanyakan siswa sekitar usia 9 atau yang lebih tua, menyenangi penggunaan metode ini karena berkenaan dengan isu-isu sosial dan kesempatan komunikasi interpersonal di dalam kelas. Dalam kegiatan bermain sosiodrama, posisi guru adalah menerima peran noniterpersonal di dalam kelas, sedangkan peran siswa menerima karakter, perasaan, dan ide-ide orang lain dalam suatu situasi khusus (Hamalik, 2012:214). Selanjutnya Roestiyah (2008: 90) mengatakan metode sosiodrama adalah metode dimana siswa dapat mendramatisir tingkah laku, ungkapan, gerak-gerik wajah atau ekspresi seseorang dalam hubungan sosial antarmanusia. Dengan sosiodrama, siswa bisa berperan atau memainkan peranan sesuai dengan masalah yang terjadi dalam lingkungan sosial/psikologis mereka.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa metode sosiodrama adalah salah satu alternatif metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara melalui upaya menciptakan suatu karakter yang akan memerankan suatu pokok permasalahan yang diangkat dari kasus sosial atau kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian dalam penerapannya membutuhkan kemampuan siswa dalam berbicara.

2.1.1 Langkah-langkah Metode Sosiodrama
Hamalik (2012:215) langkah-langkah atau persiapan metode Sosiodrama adalah sebagai berikut.
a. memilih masalah atau tema haruslah sesuai dengan kejadian atau pengalaman siswa itu sendiri;
b. sebelum memulai bermain sosiodrama, siswa harus latihan terlebih dahulu agar ketika tampil siswa sudah mengetahui atau memahami posisinya masing-masing;
c. guru diharapkan memberi intruksi khusus kepada peserta sosiodrama yang meliputi latar belakang dan karakter yang diperankan melalui tulisan atau penjelasan lisan.
Bahri dan Aswan (2010:89), mengatakan bahwa langkah-langkah atau petunjuk menggunakan metode sosiodrama adalah.
a. menetapkan masalah-masalah sosial yang menarik perhatian siswa untuk dibahas;
b. menjelaskan pada siswa mengenai isi dari permasalahan tersebut;
c. menjelaskan kepada siswa mengenai peranan mereka pada waktu sosiodrama sedang berlangsung;
d. memberi kesempatan kepada siswa untuk berunding beberapa menit sebelum mereka memainkan peranannya;
e. diakhir pembelajaran dilakukan diskusi untuk memecahkan masalah atau persoalan yang ada pada sosiodrama tersebut.;
f. memberi penilaian.
Adapun langkah-langkah metode sosiodrama menurut Roestiyah (2008: 91) sebagai berikut.
a. guru menerangkan kepada siswa tentang metode sosiodrama;
b. guru memilih masalah yang urgen, sehingga menarik minat siswa;
c. guru membantu siswa memahami peranan mereka;
d. jika ada kesediaan sukarela dari siswa untuk berperan, harap ditanggapi tetapi guru harus mempertimbangkan apakah ia tepat untuk peranan itu;
e. siswa yang tidak ikut bermain sosiodrama, tetap berpartisipasi karena nanya akan dimintai kritik dan saran atas penampilan sosiodrama yang mereka lihat/simak;
f. jika sosiodrama dalam situasi klimaks, maka harus dihentikan agar kemungkinan pemecahan masalah dapat didiskusikan secara umum;
g. diakhir pembelajaran perlu dibuka tanya jawab dan diskusi.

2.1.2 Tujuan Metode Sosiodrama
Tujuan yang diharapkan dengan penggunaan Sosiodrama (Bahri dan Aswan, 2010: 88) antara lain.
a. Agar siswa dapat mengerti dan memahami perasaan orang lain;
b. belajar bagaimana membagi tanggung jawab;
c. belajar mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan;
d. meransang siswa untuk berpikir dan kreatif.

2.1.3 Kelebihan dan Kelemahan Metode Sosiodrama
Djamarah dan Aswan (2010:89) metode sosiodrama selain mempunyai kelebihan juga mempunya beberapa kelemahan, sebagai berikut.
A. Kelebihan Metode Sosiodrama
a. dengan metode sosiodrama secara keseluruhan dapat melatih daya ingat siswa;
b. siswa terlatih untuk berpikir kritis dan kreatif dalam bertindak;
c. dapat mengembangkan bakat;
d. memperoleh kebiasan untuk menerima pendapat orang lain serta terbiasa untuk saling menghormati pada saat bekerja sama;
e. siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya;
f. bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain.

B. Kelemahan Metode Sosiodrama
a. sebagian besar anak yang tidak ikut bermain sosiodrama menjadi kurang kreatif;
b. dalam penerapannya memakan cukup banyak waktu, baik waktu persiapan maupun pada pelaksanaan pertunjukan;
c. memerlukan tempat yang cukup luas, jika tempat bermain sempit maka ruang gerak siswa mejadi kurang bebas;
d. seringkali kelas lain terganggu dikarenaka suara pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan, dan sebagainya.

2.1.4 Evaluasi Metode Sosiodrama
Evaluasi dalam bermain peran menurut Hamalik (2012: 216) adalah sebagai berikut.
a. Siswa memberi keterangan, secara tertulis maupun lisan dalam kegiatan diskusi dan hasil-hasil yang dicapai dalam bermain sosiodrama;
b. guru memberikan penilaian berdasarkan aspek penilaian dalam keterampilan berbicara yang meliputi penilaian dalam hal ketepatan, kelancaran, intonasi, ekspresi, dan tema.
2.2 Metode Penelitian
Penelitian ini adalah jenis penelitian yang menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).PTKadalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas.
2.3 Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data sebagai berikut:
a. Teknik Tes
Tes yang digunakan untuk mengukur keterampilan berbicara adalah tes penampilan bisa juga disebut sebagai tes kinerja yaitu tes yang melibatkan aktivitas motorik siswa dalam merespons kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran bahasa, tes kinerja dikaitkan dengan kompetensi berbahasa, salah satunya keterampilan berbicara. Tes kinerja atau tugas-tugas berunjuk kerja bahasa yang memakai saluran lisan misalnya, wawancara, menceritakan kembali, membaca cerpen, dan drama (Nurgiyantoro, 2012: 142). Tes ini digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa kelas V SD Negeri 08 Banyuasin, dalam penguasaan keterampilan berbahasa. Nilai akhir adalah jumlah keseluruhan skor dari masing-masing aspek yang dinilai. Adapun langkah-langkah pengumpulan data dengan menggunakan teknik tes kinerja adalah.
1. guru menjelaskan terlebih dahulu meteri pembelajaran;
2. guru memberikan gambaran mengenai pembelajaran sosiodrama;
3. guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 4-5 orang siswa;
4. guru memberikan tes kinerja kepada setiap kelompok untuk berdialog di depan kelas sesuai dengan tema drama yang sudah ditetapkan guru;
5. selama tes bermain peran berlangsung, guru menilai kemampuan berbicara per siswa berdasarkan aspek-aspek penilaian yang sudah ditentukan;
6. setelah semua nilai terkumpul, guru akan mejumlahkan semua skor yang didapatkan siswa dan dimasukkan ke dalam tabel data untuk melihat perolehan skor secara keseluruhan.
b. Teknik Observasi
Observasi juga dilakukan untuk melihat aktivitas atau sikap siswa selama mengikuti proses belajar. Selain observasi siswa, dalam penelitian ini juga dilakukan observasi terhadap guru atau peneliti untuk mengetahui partisipasi peneliti selama proses belajar mengajar belangsung. Kemudian, yang menjadi obsevatornya adalah rekan kerja atau wali kelas V yang bernama Ibu Wasilawati, S.Pd.
Observasi adalah alat penilaian yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi tentang keadaan yang menjadi subjek penelitian. Tujuan adanya observasi ini adalah untuk mendapatkan data tentang situasi kegiatan belajar mengajar di kelas, dan kesulitan-kesulitan siswa dalam keterampilan berbicara.

3. HASIL
Penelitian tindakan dengan menggunakan metode sosiodrama dilaksanakan melalui 2 tahap yaitu siklus I dan siklus II. Pembahasan hasil penelitian tersebut meliputi hasil tes dan hasil observasi aktivitas siswa. Hasil tes keterampilan berbicara mengacu pada perolehan skor yang dicapai siswa dalam kemampuan berbicara bahasa Indonesia yang meliputi empat aspek, yaitu aspek ketepatan, aspek kelancaran, aspek intonasi dan aspek tema. Sementara hasil observasi berpedoman pada instrumen penelitian yaitu lembar observasi/ pengamatan yang dibantu oleh rekan kerja di SD Negeri 08 Banyuasin III.
Kegiatan prasiklus dilakukan sebelum tindakan siklus I. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui gambaran kondisi awal keterampilan siswa dalam berbicara bahasa Indonesia melalui kegiatana bermain sosiodrama. Dalam kegiatan pembelajaran drama dengan menggunakan metode sosiodrama dibagi menjadi 3 bagian yaitu, bagian awal pembelajaran, bagian inti dan penutup. Selanjutnya guru melakukan apresiasi dengan menanyakan keadaan siswa dan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang praktik drama yang akan diperankan. Setelah siswa benar-benar siap untuk memulai kegiatan pembelajaran, guru mulai menjelaskan segala kegiatan yang akan dilakukan selama 2 jam pembelajaran.
Kegiatan inti dalam pembelajaran berupa kegiatan guru dan siswa dalam keterampilan berbicara bahasa Indonesia untuk melatih kemampuan siswa dalam berbicara.Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, siswa disuruh mengambil lintingan yang berisi topik yang harus dimainkan, siswa diberi tugas untuk melakukan percakapan atau dialog di depan
No Pencapaian Nilai
Rata-rata Nilai Terendah Nilai Tertinggi Tuntas Belajar
1 Prasiklus 42,8 40 68 5,30 %
2 Siklus I 55,15 40 72 36,8 %
3 Siklus II 76 64 92 89,5 %
kelas dengan menggunakan bahasa Indonesia. Pada kegiatan inti siklus II ada sedikit perbedaan karena setiap kelompok mendapatkan tema sosiodrama yang sama dan mereka bermain sosiodrama tanpa membuat naskah terlebih dahulu, atau dengan cara spontanitas. Pada akhir pembelajaran ditutup dengan menyimpulkan dan perbaikan materi yang telah disampaikan.
Berdasarkan hasil penelitian dari prasiklus, siklus I, dan siklus II terdapat peningkatan pada tingkat kemampuan siswa dalam keterampilan berbicara. Pada kondisi awal sebelum peneliti melakukan tindakan dengan menggunakan metode sosiodrama nilai rata-rata keterampilan berbicara siswa hanya mencapai 47,8 dan sikap perilaku siswa selama mengikuti pelajaran drama masih kurang aktif, hal ini diperoleh dari lembar observasi. Namun, ketika menggunakan metode sosiodrama pada tahap siklus I dan tahap siklus II keterampilan berbicara siswa mengalami peningkatan dengan perolehan nilai rata-rata sebesar 55,15 kemudian meningkat pada siklus II dengan perolehan nilai rata-rata sebesar 76. Selain itu, pada tahap siklus I dan siklus II ini siswa jauh lebih aktif dan berminat mengikuti pelajaran, dibandingkan dengan tindakan prasiklus. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat rekapitulasi hasil analisis data.
Tabel 1.

Rekapitulasi Hasil Data Penelitian

Dari tindakan prasiklus, siklus I dan siklus II diperoleh gambaran bahwa pada tahap prasiklus diperoleh hasil 94,7 % untuk siswa yang belum mencapai nilai KKM atau tidak tuntas dan hanya 5,30 % untuk siswa yang sudah mencapai nilai KKM atau tuntas. Pada siklus I jumlah siswa yang belum mencapai nilai KKM berkurang menjadi 63,3 % dan 36,8 % yang sudah mencapai nilai KKM atau tuntas. Kemudian , pada siklus II hanya 10,5 % yang nilainya belum mencapai KKM atau tidak tuntas dan 89,5 % yang sudah mencapai KKM atau tuntas.
Dengan demikian, penelitian ini dapat dikatakan berhasil walaupun tidak sepenuhnya mencapai 100 %, karena dari 19 orang siswa masih terdapat 2 orang siswa atau sebesar 10,5% yang tingkat keterampilan berbicara yang belum meningkat dan nilai yang diperoleh oleh kedua siswa tersebut belum mencapai nilai KKM yang sudah ditentukan yaitu sebesar 65.

4. SIMPULAN
Berdasarkan rumusan masalah dan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri 08 Banyuasin III pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Perolehan nilai berdasarkan aspek penilaian ketepatan, kejelasan, intonasi, ekspresi, dan tema pada setiap siklusnya mengalami peningkatan.Selain itu, perilaku siswa selama pembelajaran kemampuan berbicara dari tahap prasiklus, siklus I sampai siklus II mengalami perubahan. Pada tahap prasiklus, tingkah laku siswa terlihat tidak memperhatikan serta terkesan malu saat diminta untuk berbicara di depan kelas. Namun setelah digunakan metode sosiodrama dari siklus I sampai siklus II siswa merasa terlatih, tertarik dan pembelajaran dirasa lebih bervariasi dan tidak monoton. Dengan demikian, terdapat peningkatan yang cukup signifikan untuk hasil keterampilan berbicara siswa setelah menggunakan metode sosiodrama.
Secara umum dapat diketahui bahwa skor rata-rata yang diperoleh pada kegiatan prasiklus sebesar 47,8 dengan rincian bahwa nilai antara 10 – 69 ada 19 orang siswa atau 100% dan termasuk kategori kurang. Pada siklus I siswa yang memperoleh nilai 70 – 79 ada 2 orang siswa (10,5%) termasuk kategori cukup dan yang memperoleh nilai 10-69 ada 17orang siswa (89,5%). Adapun pada siklus II yang memperoleh nilai 90-100 ada 1 orang siswa (5,30%), nilai 80-89 ada 6 orang siswa (31,6%), nilai 70-79 ada 8 orang siswa (42,10%) dan nilai 10-69 ada 4 orang siswa (21,00%). Jadi, yang mendapatkan kategori baik hanya ada 1 orang siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Ambarjaya, Beni S. 2012. Psikologi Pendidikan Pengajaran. Jogjakarta: CAPS.

Aqib, Zainal dan kawan-kawan. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya.

Budiningsih, Asri. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Djamarah dan Zain, Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2012. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution. 2010. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Nurgiyantoro, Burhan. 2012. Penilaian Pembelajaran Bahasa.Yongyakarta: BPFE.

Pusat Bahasa Depdiknas. 2004. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Roestiyah. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Sikap Motivasi dan Prestasi Belajar Bahasa

SIKAP MOTIVASI DAN PRESTASI
BELAJAR BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS
SISWA SMPN DI PALEMBANG

Ayu Puspita Indah Sari
Universitas Bina Darma
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.3, Palembang
Sur-el: ayupuspita.indahsari@binadarma.ac.id

Abstract: This study discusses the influence the attitudes and motivation to learn the language to achievement in subjects Indonesian and English Junior High School (SMP) in Palembang. This is motivated by the value of the results of the national exams SMP throughout the city of Palembang from year to years shows that the Indonesian average score lower than the average score of the value of the subjects in English. The method used in this research is descriptive quantitative method. Population in this research is the students of SMP Negeri in the area opposite the Ulu Palembang, totaling 13 SMP, the sampling technique in this study is a simple random sample, so elected SMP 7, SMP 15, and SMPN 16. Based on the results of data analysis, it can be concluded that the attitude and motivation of students to learn the language has no effect on achievement in subjects Indonesian.
Keywords: attitude, motivation, learning, achievement, Indonesian, English

Abstrak: Penelitian ini membahas tentang pengaruh sikap dan motivasi belajar bahasa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris siswa SMP Negeri di Palembang. Hal ini dilatarbelakangi oleh nilai hasil ujian nasional SMP se-kota Palembang dari tahun ke-tahun menunjukkan bahwa nilai bahasa Indonesia skor rata-ratanya lebih rendah jika dibandingkan dengan skor rata-rata nilai mata pelajaran bahasa Inggris. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP Negeri yang ada di daerah seberang Ulu Palembang, yang berjumlah 13 SMP Negeri, teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah simple random sample, sehingga terpilih SMP Negeri 7, SMP Negeri 15, dan SMP Negeri 16. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sikap dan motivasi belajar bahasa siswa tidak berpengaruh terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

Kata kunci: sikap, motivasi, belajar, prestasi, bahasa Indonesia, bahasa Inggris

1. PENDAHULUAN
Kenyataan menunjukkan bahwa nilai hasil ujian nasional SMP se-kota Palembang dari tahun ke-tahun menunjukkan bahwa nilai bahasa Indonesia skor rata-ratanya lebih rendah jika dibandingkan dengan skor rata-rata nilai mata pelajaran bahasa Inggris. Padahal jika dilihat siswa yang mengikuti ujian tersebut bukanlah siswa asing, melainkan siswa pribumi yang lahir dan dibesarkan di Indonesia. Mereka merupakan penutur asli bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-harinya mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, bahkan rata-rata bahasa ibunya atau bahasa pertama (B1) adalah bahasa Indonesia. Selain itu, karena dibesarkan di Indonesia, mereka mengenal lingkungan dan budaya yang ada di Indonesia. Seharusnya hal tersebut dapat membentuk sebuah pengalaman bahasa karena dalam komunikasi kesehariannya mereka menggunakan bahasa Indonesia. Secara teoritis latar yang telah dimiliki tersebut akan memberikan kemudahan dalam mempelajari bahasa Indonesia, karena pemelajaran menurut Verhouven, (1997:399) merupakan sebuah proses menyatunya informasi baru dengan pengetahuan lama, dengan kata lain, pemelajar menggabungkan informasi baru dengan yang telah diketahui. Dengan mengacu pada pendapat Verhouven tersebut, dalam konteks pemelajaran bahasa formal, pemelajaran bahasa kedua lebih diuntungkan dibandingkan dengan pemelajaran bahasa asing. Pemelajaran bahasa kedua berlangsung pada situasi bahasa itu digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Pemelajaran bahasa kedua dikelilingi oleh stimulus audiovisual, sehingga mereka memiliki keuntungan motivasional dan instruksional.
Berdasarkan pada hal di atas, seharusnya hasil yang dicapai oleh siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia lebih baik jika dibandingkan dengan bahasa Inggris karena hubungan antara pengetahuan bahasa dan pengalaman akademis yang dimiliki oleh seseorang, konteks sosial pengajaran dan hasil pengajaran bahasa formal, memiliki hubungan yang kompleks dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Berdasarkan pada fenomena tersebut penulis terdorong untuk mengupas permasalahan tersebut dengan berfokus pada sikap dan motivasi belajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris serta pengaruhnya terhadap prestasi siswa dalam mata pelajaran tersebut. Sikap yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah sikap bahasa; sikap siswa terhadap bahasa Indonesia. Motivasi yang dimaksud adalah motivasi belajar siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia.
Sikap dan motivasi berpengaruh besar terhadap pemelajar (Mc Groarty, 1996:4). Sayangnya hal tersebut sering tidak disadari dan dimengerti sehingga akan sulit untuk diidentifikasi. Sikap dan motivasi memiliki hubungan yang sangat erat. Gardner (1985:10) berpendapat bahwa “Motivation …refers to the combination of efford plus desire to achieve the goal of learning the language plus favorable attitudes towards learning language.” Dengan menempatkan ‘usaha’, ‘hasrat pencapaian’, dan sikap positif secara bersama, Gardner bermaksud menunjukkan bahwa mendeskripsikan motivasi hanya dengan ‘usaha’ saja tidak cukup tetapi harus disertai keinginan mencapai tujuan pemelajaran dan sikap yang positif.
Pandangan McGroarty dan Gardner tersebut menggambarkan betapa pentingnya sikap dan motivasi dalam pemelajaran, yang kemudian menjadi latar dilakukannya penelitian ini. Survei sikap bahasa juga dapat memberikan informasi yang bernilai bagi perencana bahasa ketika mereka membuat kebijakan tentang bahasa atau variasi bahasa yang mana yang biasa digunakan sebagai bahasa resmi atau bahasa pendidikan. Sikap dapat menyimpulkan, menjelaskan, atau bahkan meramalkan perilaku. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa penelitian terhadap sikap bahasa sangat penting untuk dilakukan.
Prestasi atau keberhasilan belajar bahasa akan tercapai jika diimbangi dengan sikap positif terhadap bahasa dan pemelajaran bahasa. Demikian juga motivasi memiliki peran penting dalam mewujudkan suatu kegiatan, karena berhubungan dengan persoalan psikologis, perasaan (afeksi), dan emosi untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu yang didorong adanya tujuan, kebutuhan, dan keinginan. Menurut Tileston (2004:2) motivasi berkaitan dengan keinginan melakukan sesuatu, mempelajari hal baru dan mendorong seseorang untuk mencoba lagi ketika ia gagal. Dalam kaitannya dengan belajar, motivasi lebih dimaknai sebagai energi dalam diri siswa yang mendorong keinginan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah kegiatan belajar. Kondisi hasil ujian akhir nasional di atas merupakan indikator dan sebuah gejala masalah yang melatarbelakangi dilakukannya penelitian sikap bahasa dan motivasi belajar ini. Oleh karena itu penelitian ini mengkaji sikap bahasa dan motivasi belajar bahasa siswa yang saat ini sedang mengikuti pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP).
Masalah pokok yang akan dibahas dalam penelitian ini mengenai masalah sikap bahasa dan motivasi belajar bahasa yang difokuskan pada sikap dan motivasi belajar bahasa Indonesia pada SMP Negeri di seberang Ulu Palembang. Dari masalah pokok yang telah ada, dapat dimunculkan beberapa masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini, yaitu.
1) Bagaimanakah pengaruh sikap belajar bahasa siswa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?
2) Bagaimanakah pengaruh motivasi belajar bahasa siswa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?
3) Bagaimanakah pengaruh sikap dan motivasi belajar bahasa siswa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?
Tujuan pokok yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menjawab masalah yang berkaitan dengan sikap bahasa dan motivasi belajar bahasa yang difokuskan pada sikap dan motivasi belajar bahasa Indonesia pada SMP di seberang Ulu Palembang. Adapun tujuan penelitian ini adalah.
1) Untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh sikap belajar bahasa siswa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?
2) Untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh motivasi belajar bahasa siswa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?
3) Untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh sikap dan motivasi belajar bahasa siswa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?

2. METODOLOGI PENELITIAN
Bahasa memiliki fungsi yang sangat hakiki, yaitu sebagai alat untuk berkomunikasi antara satu individu dengan individu yang lainnya, antara individu dengan kelompok individu. Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi akan mampu mengakomodasi berbagai kepentingan masyarakat. Apa yang diinginkan oleh seseorang akan dapat dipahami dengan adanya bahasa. Secara singkat dapat dikatakan bahwa bahasa menjadi sesuatu yang sangat vital untuk memahami dan mengerti apa yang diinginkan oleh manusia. Melihat hal tersebut, bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itulah, manusia baik sebagai anggota masyarakat suatu suku maupun sebagai anggota suatu bangsa, tidak akan dapat meninggalkan bahasa dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

2.1 Teori Tentang Sikap
Ada dua pendekatan yang berbeda terhadap definisi sikap. Kedua pendekatan tersebut adalah pertama, pendekatan yang dikemukakan oleh Rosenberg dan Havland (1960), dan kedua pendekatan yang dikemukakan oleh Petty dan Cacioppo (1981). Berikut ini akan dipaparkan kedua teori tentang sikap dari kedua pendekatan tersebut. Pertama, adalah konsep multidimensional. Pendekatan yang dikemukakan oleh Rosenberg dan Havland yang menyatakan bahwa sikap merupakan gabungan tiga reaksi yang secara konseptual berbeda terhadap suatu objek tertentu. Tiga reaksi tersebut adalah afektif, kognitif, dan konatif. Untuk lebih jelasnya ketiga komponen tersebut dapat digambarkan dalam bagan berikut ini.
Afektif berkaitan dengan emosi, seperti perasaan cinta atau benci, suka atau tidak suka terhadap objek sikap. Kognitif berhubungan dengan kepercayaan, pendapat, dan penilaian terhadap objek sikap objek yang diarahkan sikap. Konatif berkaitan dengan maksud perilaku dan kecenderungan tindakan. Sikap adalah kecenderungan psikologis yang diungkapkan dengan menilai entitas tertentu dengan beberapa tingkat kepuasan dan ketidakpuasan Penilaian mengacu pada semua bentuk tanggapan penilaian, apakah jelas atau samar, kognitif, afektif, atau berkaitan dengan cara berprilaku.

2.2 Sikap Bahasa
Sikap atau attitude adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang atau suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap sesuatu perangsang atau situasi yang dihadapi” (Purwanto, 2002:140). Secara singkat dapat dikatakan bahwa pegertian sikap dalam penelitian ini memiliki tiga unsur penting yang berkaitan antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya. Ketiga unsur tersebut adalah unsur afektif, kognitif, dan konatif. Sikap yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sikap yang dikaitkan dengan bahasa, yaitu sikap peserta didik terhadap bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Penelitian ini mengadopsi pendapat dari Cooper dan Fishman, dan pendapat Holmes tentang sikap bahasa. Menurut Cooper dan Fishman (1973) sikap bahasa berdasarkan pada acuannya meliputi bahasa, perilaku bahasa, dan hal yang berkaitan dengan bahasa atau prilaku bahasa yang menjadi penanda atau lambang. Secara singkat dapat dikatakan bahwa sikap terhadap suatu bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) atau terhadap ciri suatu bahasa (suatu farina fonologis misalnya), atau terhadap bahasa sebagai penanda suatu kelompok (bahasa Indonesia sebagai bahasa orang Indonesia) adalah contoh sikap bahasa. Akan tetapi, sikap terhadap penutur bahasa Indonesia atau orang Indonesia bukanlah sikap bahasa. Anderson mendefinisikan sikap bahasa secara utuh, yaitu sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka panjang, sebagian mengenai bahasa, objek bahasa, yang memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya (dalam Chaer dan Agustina, 2004:151). Pendapat lain juga dikemukakan oleh Aslinda dan Syafyahya, yang mengatakan bahwa “sikap bahasa adalah kesopanan bereaksi terhadap suatu keadaan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat dinyatakan bahwa sikap bahasa tidak hanya mengacu pada bahasa saja, melainkan kepada sikap penutur bahasa juga. Dalam hal ini sikap dapat dimaknai dari dua sisi, yaitu dalam artian yang sempit dan dalam artian yang luas. Dalam arti sempit, sikap bahasa dapat dimaknai sebagai sikap yang mengacu pada penilaian pribadi individu terhadap suatu bahasa. Sedangkan dalam arti luas, sikap bahasa dapat diartikan sebagai pemilihan atau perencanaan bahasa.
Dalam penelitian ini, sikap bahasa dimaknai dalam artian yang sempit, yaitu perasaan dan penilaian subjek terhadap suatu bahasa. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini yang dimaksud dengan sikap bahasa adalah sikap peserta didik terhadap bahasa Indonesia dan bahas Inggris.

2.3 Teori Motivasi Belajar Bahasa
Banyak ahli yang merumuskan teori tentang motivasi. Ada juga ahli yang memperluas teori motivasi yang dikaitkan dengan pemelajaran bahasa. Salah satunya adalah Crookes dan Schmidt (1991:4) yang menyatakan bahwa ada dua fitur dalam teori motivasi belajar bahasa, yaiu fitur internal dan fitur eksternal. Ada empat faktor internal dalam motivasi belajar bahasa. Keempat faktor internal tersebut adalah.
1) Ketertarikan terhadap bahasa sasaran yang didasari oleh keberadaan sikap, pengalaman, dan latar belakang peserta didik.
2) Relevansi yang melibatkan persepsi yang dibutuhkan seseorang seperti prestasi, afiliasi, dan kekuatan yang ditemui pada waktu mengikuti proses kegiatan belajar mengajar bahasa sasaran.
3) Harapan akan keberhasilan atau kegagalan.
4) Hasil, berupa imbalan ekstrinsik yang dirasakan peserta didik.
Dari segi eksternal motivasi peserta didik dapat berupa karakteristik perilaku peserta didik yang meliputi tiga faktor. Ketiga faktor tersebut adalah.
1) Peserta didik memutuskan memilih, menaruh perhatian, dan membuat ikatan dengan peserta didik bahasa sasaran.
2) Tekun belajar untuk suatu periode tertentu dan akan kembali belajar setelah terjadinya pemutusan belajar sementara (interupsi).
3) Peserta didik memelihara tingkat aktivitas belajar yang tinggi.
Dalam kaitannya dengan pemelajaran bahasa, Gardner dan lambert (1985: 266–272) mengajukan dua bangun utama motivasi mempelajari bahasa. Kedua bangun utama tersebut adalah motivasi integratif (integrative motivation) dan motivasi instrumental (instrumental motivation). Motivasi integratif adalah keinginan untuk seperti dan berinteraksi dengan penutur bahasa sasaran. Motivasi instrumental adalah keinginan untuk mempelajari sebuah bahasa untuk mencapai tujuan seperti akademik atau keberhasilan di bidang pekerjaan. Sebaliknya, siswa yang memiliki orientasi instrumental mempelajari bahasa asing untuk mencapai tujuan akademis atau tujuan yang berkaitan dengan karir masa depan.
Motivasi belajar merupakan proses internal yang mengaktifkan, membimbing, dan mempertahankan perilaku belajar dalam rentang waktu tertentu. Motivasi belajar adalah kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas belajar. Adapun pentingnya motivasi bagi kepentingan belajar adalah (1) motivasi menentukan arah tindakan seseorang dalam belajar; (2) Motivasi menentukan intensitas atau kadar tindakan seseorang dalam belajar (analogi seperti mesin mobil), (Dimyati dan Mudjiono, 2002:80)
Penelitian ini, membahas mengenai dua motivasi belajar bahasa, yaitu motivasi integratif dan motivasi instrumental dikaitkan dengan pemelajaran bahasa kedua, dalam hal ini adalah bahasa Indonesia. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kedua motivasi tersebut akan digunakan oleh peneliti untuk memberikan penilaian terhadap tujuan siswa dalam mempelajari bahasa, dalam hal ini adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris

2.4 Prestasi Belajar
Prestasi adalah sesuatu yang dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah prestasi yang diraih oleh peserta didik berdasarkan pada nilai rapor. Prestasi yang dilihat adalah prestasi peserta didik di mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Nilai yang tercantum dalam buku rapor adalah representasi dari kemampuan, pemahaman, dan tigkat penguasaan peserta didik terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang meliputi bidang-bidang kemampuan afektif, kognitif, dan konatif.
Tolok ukur prestasi belajar peserta didik adalah jika peserta didik mampu meraih nilai di atas nilai standar, maka peserta didik tersebut dapat dikatakan sebagai peserta didik yang berprestasi. Sebaliknya jika peserta didik mendapatkan nilai di bawah nilai standar, maka peserta didik tersebut belum dapat dikatakan sebagai peserta didik yang berprestasi. Jika peserta didik mampu meraih nilai bahasa Indonesia yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bahasa Inggris, maka peserta didik tersebut memiliki prestasi terhadap bahasa Indoensia. Akan tetapi jika peserta didik memiliki nilai bahasa Inggris lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai bahasa Indonesia, peserta didik tersebut memiliki prestasi terhadap bahasa Inggris. Pengukuran prestasi peserta didik pada nilai bahasa Indonesia dan bahasa Inggris adalah untuk melihat perbandingan nilai peserta didik pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Purwanto (2002:103) ada dua variabel besar yang berpengaruh terhadap pencapaian prestasi peserta didik. Kedua faktor tersebut adalah faktor dari dalam diri peserta didik dan faktor dari luar peserta didik. Faktor ekstern meliputi (1) faktor lingkungan dan faktor instrumental. Faktor lingkungan terdiri dari lingkungan alam dan lingkungan sosial (rumah dan sekolah). (2) faktor instrumental yang terdiri atas kurikulum, pengajar, sarana dan prasarana, administrasi dan manajemen. Faktor intern meliputi dua hal yaitu (1) faktor fisiologis, dan (2) faktor psikologis. Faktor fisiologis meliputi kondisi fisik dan kondisi panca indra. Sedangka faktor psikologis terdiri dari bakat, minat, kecerdasan, motivasi, dan kemampuan kognitif. Lebih lanjut Puwanto (2002:106—107) membuat bagan terhadap dua faktor yang memiliki peranan dalam pencapaian prestasi peserta didik seperti berikut ini.
Kedua faktor tersebut, faktor intern dan faktor ekstern, menjadi satu kesatuan dan saling berhubungan satu sama lainnya dalam pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Kedua foktor tersebut memiliki peranan yang sangat besar dalam mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam mencapai prestasi belajar di sekolah. Kedua faktor tersebut saling menentukan dan saling melengkapi satu sama yang lainnya. Senada dengan hal tersebut, Purwanto menyatakan bahwa ‘…pengajar hendaknya dapat mengarahkan proses ekstern sedemikian rupa sehingga dapat mempengaruhi proses intern (2002:107).
Slameto (1991:2) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Secara sederhana dari pengertian belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh pendapat di atas, dapat diambil suatu pemahaman tentang hakikat dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan kemudian akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Menurut Suryabrata (2005:76) “penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian”. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi, atau hal-hal yang sudah disebutkan, yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian (Arikunto, 2010:3).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran data tersebut, serta penampilan dari hasilnya (Arikunto, 2010:27). Dalam penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, pemahaman akan kesimpulan penelitian akan lebih baik apabila disertai dengan tabel, grafik, bagan, gambar, atau tampilan lain. Menurut Sugiyono (2010:14) metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP Negeri yang ada di daerah seberang Ulu Palembang, yang terdiri dari 13 SMP Negeri, yaitu SMP Negeri 7, SMP Negeri 12, SMP Negeri 15, SMP Negeri 16, SMP Negeri 20, SMP Negeri 24, SMP Negeri 25, SMP Negeri 30, SMP Negeri 31, SMP Negeri 35, SMP Negeri 36, SMP Negeri 44, dan SMP Negeri 48.
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2010: 174). Dalam pengambilan sampel ada teknik-teknik tertentu yang harus digunakan. Teknik penarikan sampel atau teknik sampel adalah suatu cara mengambil sampel yang representatif dari populasi (Akdon, 2007:57), karena populasi dalam penelitian ini bersifat homogen, maka teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah simple random sample, adalah cara pengambilan sampel dari anggota populasi dengan menggunakan acak tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dalam anggota populasi tersebut (Akdon, 2007:58). Hal yang menjadi bahan pertimbangan adalah dengan menggunakan teknik ini, semua satuan elementer dari populasi akan memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel penelitian. Setiap nama sekolah menengah pertama negeri yang berada di seberang Ulu ditulis dalam secarik kertas dan digulung, kemudian dimasukkan ke dalam gelas. Selanjutnya gelas tersebut diguncang hingga didapati jumlah sampel sekolah yang telah direncanakan, yaitu 20% dari jumlah populasi. Di antara nama-nama sekolah menengah pertama yang terletak di seberang Ulu, Palembang, keluar nama SMP Negeri 7, SMP Negeri 15, dan SMP Negeri 16 terpilih secara acak sebagai sekolah yang menjadi subjek dalam penelitian ini. Dari ketiga sekolah tersebut terpilih secara acak 89 siswa laki-laki dan perempuan dari kelas VIII, yang merupakan subjek dari penelitian ini.
Dari jumlah sampel yang telah terpilih, tidak semuanya dapat dikategorikan sebagai sampel. Hal yang menjadi pertimbangan adalah karena ada beberapa siswa yang tidak mengisi angket secara benar dan utuh. Ada responden yang mengikuti les bahasa Inggris. Responden yang mengikuti les bahasa Inggris tidak dapat dijadikan sampel karena menurut asumsi peneliti siswa tersebut pasti memiliki pengetahuan kemampuan dalam berbahasa Inggris jika dibandingkan dengan responden yang tidak mengkuti les bahasa Inggris. Kemampuan yang telah mereka miliki secara langsung akan berpengaruh terhadap prestasi yang diraih.
Surakhmad dalam Akdon (2007:65) mengatakan bahwa apabila ukuran populasi sebanyak kurang lebih dari 100, pengambilan sampel sekurang-kurangnya 50% dari populasi. Apabila ukuran populasi sama dengan atau lebih dari 1000, ukuran sampel diharapkan sekurang-kurangnya 15% dari ukuran populasi. Dalam penelitian ini, jumlah anggota populasi sebanyak 800 orang siswa kelas VIII yang terdiri dari 3 sekolah yaitu, SMP Negeri 7, SMP Negeri 15, dan SMP Negeri 16, berdasarkan pengambilan sampel dengan menggunakan rumus dari Taro Yamane dalam Akdon (2007:65).

Tabel 1. Sampel Penelitian

No Nama Sekolah Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 SMP Negeri 7 12 Orang 18 Orang 30 Orang
2 SMP Negeri 15 10 Orang 15 Orang 25 Orang
3 SMP Negeri 16 14 Orang 20 Orang 34 Orang
Jumlah 89 Orang

Untuk mendapatkan data mengenai sikap berbahasa dan motivasi belajar bahasa Indonesia dan Inggris, peneliti menggunakan angket yang disebarkan ke siswa yag menjadi subjek penelitian. Angket yang dibuat dibagi menjadi tiga bagian. Ketiga bagian tersebut dapat dirinci seperti berikut ini
a. Bagian pertama berisi identitas responden.
b. Bagian kedua berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan denngan sikap berbahas siswa. Bagian ini dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu
1. Daftar pertanyaan yang berisi tentang sikap berbahasa siswa terhadap bahasa ndonesia.
2. Daftar pertanyaan yang berisi tentang sikap berbahasa siswa terhadap bahasa Inggris.
c. Bagian ketiga berisi pertanyaan-pertanyaan yang dijadikan tolok ukur untuk mengukur motivasi belajar bahasa. Bagian ini dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu (1) Daftar pertanyaan yang berisi tentang motivasi belajar berbahasa siswa terhadap bahasa Indonesia dan (2) Daftar pertanyaan yang berisi tentang motivasi belajar berbahasa siswa terhadap bahasa Inggris.
Angket dibagikan ke setiap sekolah yang menjadi subjek dalam penelitian ini. Setelah angket dibagikan, peneliti menunggu siswa dalam mengisi angket. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika ada pertanyaan tentang angket dari subjek penelitian. Selain itu, dengan melakukan hal ini diharapkan angket yang dibagikan dapat terkumpul semua pada hari itu juga.
Untuk melihat apakah sikap berbahasa dan motivasi belajar bahasa Indonesia dan bahas Inggris berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, rumus regresi linier sederhana digunakan dalam penelitian ini.

3. HASIL
Uji validitas dan reliabilitas terhadap instrument kuesioner sikap bahasa terhadap bahasa Indonesia dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak 89 kuesioner dari hasil uji dengan menggunakan SPSS versi 20. Berikut adalah hasil uji validitas dan uji reliabilitas.

a. Uji validitas untuk 27 variabel

Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
X1 70.9600 27.917 .554 .628
X2 70.7000 26.867 .465 .628
X3 71.0200 27.857 .510 .630
X4 70.9600 27.917 .554 .628
X5 70.7000 26.867 .465 .628
X6 71.0200 27.857 .510 .630
X7 69.3400 29.209 .301 .650
X8 69.2600 28.196 .488 .633
X9 69.4200 29.759 .394 .648
X10 69.5800 29.677 .343 .649
X11 70.0000 28.735 .344 .645
X12 69.1600 31.076 .113 .665
X13 69.7000 32.296 -.102 .684
X14 69.5200 31.806 -.022 .675
X15 71.2600 32.523 -.134 .686
X16 71.0000 33.020 -.211 .690
X17 70.8600 32.000 -.071 .687
X18 69.4200 31.187 .042 .674
X19 69.2200 31.196 .077 .668
X20 69.2600 31.053 .101 .667
X21 69.7600 32.227 -.091 .679
X22 69.5800 30.126 .264 .655
X23 69.5600 31.558 .025 .671
X24 69.1200 31.618 -.004 .676
X25 69.1000 31.357 .036 .673
X26 70.7600 28.349 .361 .643
X27 70.4800 28.214 .299 .649

Dari tabel di atas dinyatakan bahwa nilai alfa cronbah = 0.667, artinya hasil uji reliabilitas masih dapat diterima karena α cronbach nilainya > dari 0.6. Untuk melihat validitas dilihat pada kolom corrected Item correlation, jika nilai r pada kolom itu > r tabel maka item atau variabel valid. Dari tabel r product moment dengan α=0,05 dengan df = 50 -2 = 48 adalah 0,279 (lihat tabel r). Nilai x yang valid untuk uji di atas adalah X1 sampai X10, X11, X22, X26 dan X27. Untuk variabel yang lain akan dihapus karena nilainya tidak valid.

b. Uji reliabilitas awal dengan 21 variabel
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
X1 66.3200 28.957 .559 .802
X2 66.2400 29.411 .475 .806
X3 66.7000 29.847 .280 .815
X4 66.2400 28.594 .634 .799
X5 66.8200 28.151 .499 .803
X6 66.6800 30.100 .299 .813
X7 66.7400 29.258 .305 .815
X8 66.8200 30.722 .101 .829
X9 66.5000 28.745 .474 .805
X10 66.4600 29.968 .391 .809
X11 66.8200 29.824 .261 .817
X12 66.2200 29.522 .457 .806
X13 65.9800 29.571 .598 .803

X14 66.1000 29.357 .533 .804
X15 66.3600 27.786 .678 .794
X16 67.0200 30.836 .075 .833
X17 66.4000 28.816 .470 .805
X18 66.2000 29.714 .424 .808
X19 66.5200 30.051 .400 .809
X20 66.6800 30.549 .276 .814
X21 66.1800 30.028 .368 .810

Dari tabel di atas dijelaskan bahwa untuk melihat validitas dapat dilihat pada kolom corrected Item correlation, jika nilai r pada kolom itu > r tabel maka item atau variabel valid. Dari tabel r product moment dengan α=0,05 dengan df = 50 -2 = 48 adalah 0,279 (lihat tabel r). Nilai X yang valid untuk uji di atas adalah X1, X2, X4, X5, X6, X7, X9, X10, X12, X13, X14, X15, X17, X18, X19, dan X21.Untuk variabel yang lain akan dihapus karena nilainya tidak valid.

a. Uji reliabilitas awal dengan 25 variabel

Nilai alfa cronbah = 0.7I7, artinya hasil uji reliabilitas dapat diterima karena α cronbach nilainya > dari 0.6

b. Uji validitas untuk 25 variabel

Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
X1 63.9200 38.769 .405 .699
X2 63.9200 37.953 .436 .695
X3 63.8400 43.239 -.151 .738
X4 63.7400 39.951 .121 .723
X5 64.3400 40.351 .138 .718
X6 64.4600 41.600 .020 .726
X7 64.6000 38.122 .378 .699
X8 64.2400 40.594 .134 .718
X9 64.2600 42.931 -.123 .732
X10 62.7200 40.410 .234 .711
X11 63.0800 42.524 -.082 .737
X12 63.3200 38.304 .473 .695
X13 62.9400 41.649 .023 .725
X14 63.2400 35.778 .675 .675
X15 63.0600 41.772 .038 .721
X16 62.6400 41.256 .131 .716
X17 62.8200 39.947 .240 .710
X18 64.8400 41.933 .002 .725
X19 64.5600 39.762 .217 .712
X20 64.0600 37.200 .377 .698
X21 63.2800 35.838 .591 .679
X22 63.0200 35.693 .606 .678
X23 63.2200 33.563 .737 .660
X24 63.0200 40.387 .180 .714
X25 63.1000 36.990 .558 .686

Kesimpulan dari tabel di atas bahwa bahwa untuk melihat validitas dilihat pada kolom corrected Item correlation, jika nilai r pada kolom itu > r table maka item/variable valid. Dari tabel r product moment dengan α=0,05 dengan df = 50 -2 = 48 adalah 0,279 (lihat tabel r). Nilai x yang valid untuk uji di atas adalah X1, X2, X7,X12,X14, X20, X21, X22, X23, X25. Untuk variabel yang lain akan dihapus karena nilainya tidak valid. Setelah nilai variabel yang tidak valid dihapus maka dilakukan kembali uji reliabilitas dan validitas, maka hasilnya adalah nilai α cronbahnya 0,837, nilai ini sangat baik, sedangkan hasil uji validitasnya adalah.

Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
X1 24.5800 24.657 .473 .869
X2 24.5800 23.677 .545 .864
X7 25.2600 26.645 .094 .897
X12 23.9800 23.571 .671 .857
X14 23.9000 22.133 .761 .848
X20 24.7200 23.920 .355 .883
X21 23.9400 21.119 .822 .841
X22 23.6800 21.120 .820 .841
X23 23.8800 20.353 .813 .840
X25 23.7600 22.758 .698 .853

Dari tabel di atas dijelaskan bawa semua nilai r hitung sudah lebih besar dari r tabel (kecuali untuk X7) maka semua varibel yang tersisa diikutkan pada pengolahan data berikutnya.
Uji validitas dan reliabilitas terhadap instrument kuesioner motivasi terhadap bahasa Inggris dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak 89 kuesioner dari hasil uji dengan menggunakan SPSS versi 20.
a. Uji reliabilitas awal dengan 22 variabel

Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
X1 47.5686 27.610 .337 .823
X2 47.8039 25.281 .623 .806
X4 48.0784 27.234 .420 .819
X5 48.0784 27.474 .340 .822
X7 48.0588 27.016 .355 .822
X8 48.1569 25.375 .587 .808
X9 48.2941 24.212 .658 .801
X10 47.9020 26.690 .473 .816
X11 48.4314 26.930 .319 .825
X12 48.4510 25.093 .421 .821
X14 48.4314 26.930 .319 .825
X17 48.4510 25.093 .421 .821
X18 47.6078 27.283 .357 .822
X19 47.6863 26.060 .661 .807
X20 47.9020 26.690 .473 .816
X21 47.6275 27.558 .333 .823

Dari tabel di atas diketahui bahwa nilai alfa cronbah = 817, artinya hasil uji reliabilitas masih dapat diterima karena α cronbach nilainya > dari 0.6

b. Uji validitas untuk 22 variabel

Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
X1 66.6275 33.998 .297 .792
X2 66.8627 31.481 .579 .776
X3 66.5490 34.693 .225 .794
X4 67.1373 32.921 .496 .783
X5 67.1373 32.761 .482 .783
X6 67.0588 34.256 .231 .795
X7 67.1176 33.026 .368 .788
X8 67.2157 31.853 .507 .780
X9 67.3529 30.593 .581 .773
X10 67.3137 34.580 .138 .801
X11 67.1569 32.775 .275 .795
X12 67.0000 32.600 .512 .781
X13 67.3922 34.043 .199 .798
X14 67.4902 33.815 .218 .797
X15 67.6471 34.353 .152 .800
X16 67.8235 33.988 .205 .797
X17 67.5098 31.295 .391 .788
X18 66.6667 33.187 .392 .787
X19 66.7451 32.434 .588 .779
X20 66.9608 33.078 .419 .786
X21 66.6863 33.620 .348 .789
X22 66.7255 34.323 .228 .795

Dari tabel di atas untuk melihat validitas dilihat pada kolom corrected Item correlation, jika nilai r pada kolom itu > r tabel maka item atau variabel valid. Dari tabel r product moment dengan α=0,05 dengan df = 50 -2 = 48 adalah 0,279 (lihat tabel r). Nilai x yang valid untuk uji di atas adalah X1, X2, X4, X5, X7, X8, X9, X10, X11, X12, X14, X17, X18, X19, X20, X21. Untuk variabel yang lain akan dihapus karena nilainya tidak valid. Setelah nilai variabel yang tidak valid dihapus maka dilakukan kembali uji reliabilitas dan validitas, maka hasilnya adalah nilai α cronbahnya 0,827, nilai ini sangat baik, sedangkan hasil uji validitasnya adalah karena semua nilai r hitung sudah lebih besar dari r tabel maka semua varibel yang tersisa diikutkan pada pengolahan data berikutnya.

4.Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sikap bahasa siswa tidak berpengaruh terhadap nilai bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yang menunjukkan bahwa nilai t hitung adalah -1,038 dan signifikansi adalah 0,000, maka H0 diterima. Hasil analisis data motivasi belajar bahasa Indonesia menunjukkan bahwa nilai t hitung adalah 1,243 dan signifikansi adalah 0,000, maka H0 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi tidak berpengaruh terhadap nilai bahasa Indonesia
Dari hasil analisis terhadap sikap bahasa Inggris terhadap prestasi belajar bahasa Inggris didapat hasil yang menunjukkan bahwa ternyata sikap siswa terhadap bahasa Inggris tidak berpengaruh terhadap pestasi belajar bahasa Inggris yang diraih oleh siswa. Hal ini tampak dalam hasil analisis data berikut ini: dari output didapat bahwa nilai t hitung adalah 0,381 dan signifikansi adalah 0,704. Maka H0 di diterima. Dari output didapat bahwa nilai t hitung adalah 0,268 dan signifikansi adalah 0,000, maka H0 diditerima sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi tidak berpengaruh terhadap nilai bahasa inggris. Ternyata sikap bahasa dan motivasi belajar tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar yang diraih oleh siswa. Hal ini ditunjukkan dengan hasil anlisis data bahwa nilai F tablel adalah 3.09, sedangkan nilai F hitung adalah 1,686 dan siginifikansi 0,190> 0,05, karena F hitung < dari F tabel maka H0 diterima. DAFTAR PUSTAKA Akdon, Riduwan. 2007. Rumus dan Data dalam Aplikasi Statistika. Bandung: Alfabeta. Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta. Cooper, R. And Joshua A. Fishman. 1973. Dalam Suhardi. “Some Issues in the Theory and Measurement of Language Attitude”. Paper Presented on International Seminar on Language Testing in San Juan. Crookes, G. and Schmidt, R.W. 1991. Motivation: Reopening the Research Agenda. Language Learning 41. Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Gardner, Robert C. Dan Wallace, Lambert E. 1985. “Motivational Variables in Second Acquisition”. Canadian Journal of Psychology 13. . McGroarty, Mary. 1996. “Language Attitudes, Motivation, and Standard”. In McKay and Hornberger [ed]. Sociolinguistics and Language Teaching.Cambridge: Cambridge University Press. Petty, R.E. dan Caciopo,J.T. 1981. Attitudes and Persuasion: Classic and Contamporary Approaches. Dubuque, IA: Wm C. Brown. Purwanto, Ngalim. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rosenberg, M.J. dan C.I. Hovland.1960. “An Analysis of Affective-Cognitive Consistency.” In C.I Hovland dan M.J. Rosenberg (ed). Attitude Organization and Change. New Haven: Yale University Press. Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina Aksara. Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Jakarta: Alfabeta Arikunto, Suharsimi.2010.Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:Rineka Cipta. Suryabrata, Sumadi. 2005. Pengembangan Alat Ukur Psikologi. Yogyakarta: Andi Tileston, D.W. 2004. What Every Teacher Should Know about Student Motivation. California: Corwin Verhouven, Ludo. 1997. “Sociolinguistics and Education”. Dalam Florian Coulmas [ed]. The Handbook of Sociolinguistics. Oxford: Blackwell Publisher.

CITRA WANITA DALAM NOVEL JEPUN NEGERINYA HIROKO KARYA NH. DINI

CITRA WANITA DALAM NOVEL JEPUN NEGERINYA HIROKO
KARYA NH. DINI

Ayu Puspita Indah Sari, M.Pd.
Dosen Universitas Bina Darma
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12 Palembang
ayoe_pis@yahoo.com

Abstrak
Fokus utama dalam tulisan ini adalah membahas citra wanita yang terdapat dalam Novel Jepun Negerinya Hiroko karya NH Dini. Tulisan ini bertujuan untuk untuk menemukan citra wanita yang ada dalam novel  Jepun Negerinya Hiroko karya NH Dini. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan menemukan perubahan citra wanita dalam cerita popular klasik Roro Mendut karya Ajip Rosidi (bila ditemukan). Metode deskriptif digunakan dalam penelitian ini untuk menunjukkan dan memaparkan citra wanita.  Teori yang digunakan adalah teori sosiologi sastra Kesimpulan yang didapat dari hasil analisis terhadap novel ini adalah muncul citra wanita yang ditampilkan oleh pengarang, yaitu (1) citra wanita dalam hubungannya dengan Tuhan, (2) citra wanita dalam hubungannya dengan alam, (3) citra wanita dalam hubungannya dengan alam, (4) citra wanita dalam hubungannya dengan manusia yang lainnya, dan (5) citra wanita dalam hubungannya dengan diri sendiri.

Kata Kunci: Citra, wanita, Citra wanita.

Abstract

The main focus in this paper is to discuss the image of women in the novel are Jepun Affairs Hiroko NH Dini’s work. This paper aims to find images of women in the novel Jepun Affairs Hiroko NH Dini’s work. In addition, this study also aims to find the image of the woman in the story changes popular classical works Ajip Rosidi Mendut Roro (if found). Descriptive method used in this study to demonstrate and describe the image of women. The theory used is the theory of literary sociology The conclusion from the analysis of this novel is the emerging image of women presented by the author, namely (1) the image of a woman in a relationship with God, (2) the image of women in relation to nature, (3) image women in relation to nature, (4) the image of women in relation to other human beings, and (5) the image of women in relation to oneself.

Keywords: Image, female, female image.
1.    Pendahuluan
Di dalam sebuah karya sastra terdapat citra-citra yang dapat menimbulkan daya apresiasi penikmatnya. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya perasaan terpikat pada diri pembaca yang kemudian akan menimbulkan keinginan untuk menggauli karya sastra dengan sunguh-sungguh. Aminuddin (1991:35) mengatakan bahwa sikap sungguh-sungguh dalam menggauli karya sastra dapat menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra.
Elliot (dalam Wellek dan Warren, 1990:237-238) mengemukakan bahwa citra dalam karya sastra harus menggambarkan hal-hal khusus yang jelas atau pencitraan visual yang jelas. Pencitraan visual dapat menunjuk ke sesuatu yang nyata atau mewakili sesuatu yang tidak tampak.
Salah satu citra yang dapat ditemukan dalam sebuah karya sastra, terutama prosa adalah citra wanita. Wanita dan masalahnya sering dibicarakan dalam karya sastra prosa. Wanita selalu menjadi sasaran cipta sastra pujangga. Maksudnya, karya sastra yang dihasilkan para sastrawan banyak menampilkan wanita sebagai tokoh.
Salah seorang pengarang Indonesia yang banyak mengangkat tokoh wanita dalam karya sastranya adalah Nh. Dini. Bahkan “hampir dalam setiap karya sastranya, Nh. Dini menampilkan tokoh wanita sebagai tokoh utama” (Mahayana dkk., 1992:276). Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis mengambil novel karya Nh. Dim, dengan pertimbangan bahwa selain banyak mengangkat tokoh wanita dalam karya sastranya, Nh. Dini adalah seorang pengarang wanita Indonesia yang menonjol di antara para pengarang Indonesia lainnya dan secara pelan-pelan tetap mengalirkan karya-karya yang matang dan bernilai (prihatmi, 1977:90). Selain itu, sebagai seorang wanita, Nh. Dini tentu mempunyai peluang besar untuk mengungkapkan naluri, emosi, dan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam diri seorang wanita. Seperti yang dikemukakan H. B Jassin (1983:61) bahwa seorang “pengarang wanita akan lain memandang persoalan-persoalan dan lebih mendalam bisa mengerti jiwa wanita dari pengarang laki-laki.Dengan demikian, tokoh-tokoh wanita yang ditampilkan dapat mengungkapkan citra wanita yang memang didasarkan atas pandangan kaumnya sendiri, yang tentunya juga akan memberikan citra wanita yang sangat berguna bagi kehidupan.
Penulis memilih novel Jepun Negerinya Hiroko sebagai bahan penelitian karena isi ceritanya banyak mengandung persoalan, baik masalah individu, sosial, moral dan spiritual. Dengan demikian, Novel Jepun Negerinya Hiroko merupakan karya sastra yang dapat mengajak pembaca berpikir dalam menafsirkan dan merenungkan kehidupan. Selain itu, di dalam novel ini pengarang mengangkat tokoh wanita dalam karya sastranya dan menampilkan tokoh wanita sebagai tokoh utama.
Adapun Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah “bagaimanakah citra wanita, baik sebagai tokoh sentral maupun sebagai tokoh bawahan, dalam novel Jepun Negerinya Hiroko karya Nh. Dini ?” Deskripsi citra wanita dalam novel Jepun Negerinya Hiroko karya Nh. Dini ini diperinci berdasarkan (1) hubungan wanita dengan Tuhan, (2) hubungan wanita dengan alam, (3) hubungan wanita dengan masyarakat, (4) hubungan wanita dengan manusia lain, dan (5) hubungan wanita dengan diri sendiri (Pradopo dkk., 1994:4).
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan citra wanita dalam novel Jepun Negerinva Hiroko karya Nh. Dini yang mencakup: hubungan wanita dengan Tuhan. hubungan wanita dengan alam, hubungan wanita dengan masyarakat, hubungan wanite dengan manusia lain, dan hubungan wanita dengan diri sendiri.
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian agar hasil penlitian dapat bermanfaat sebagai bahan rujukan bagi pembaca, khususnya peminat sastra, untuk mengetahui citra wanita dalam novel Jepun Negerinva Hiroko karya Nh. Dini sebagai usaha meningkatkan kegiatan apresiasi karya sastra, terutama novel. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pembanding bagi pembaca yang akan melakukan penelitian lebih lanjut.

2.Tinjauan Pustaka
2.1 Konsep Citra Wanita
Konsep citra wanita di dalam penelitian ini diartikan sebagai kesan mental, bayangan visual atau yang mewakili sesuatu yang tidak tampak, atau gambaran mengenai wanita yang dijadikan tokoh dalam novel Jepun Negerinya Hiroko karya Nh. Dini. Hal ini berpadanan dengan konsep citra wanita Effendi dkk. (1995:25) dan konsep citra wanita Kamus Besar Bahasa Indonesia, karangan Moeliono ed., (1990). Effendi dkk. (1995) mengemukakan bahwa citra wanita merupakan gambaran angan atau imaji yang timbul dalam proses pembacaan. Sejalan dengan itu, Moeliono dalam terbitan bukunya Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa citra wanita adalah kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frase, atau kalimat, dar merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi.

2.2 Jenis Citra Wanita
Citra wanita di dalam sebuah karya sastra, khususnya novel dapat diperinci berdasarkan (1) hubungan wanita dengan Tuhan, (2) hubungan wanita dengan alam, (3) hubungan wanita dengan masyarakat, (4) hubungan wanita dengan manusia lain, dan (5) hubungan wanita dengan diri sendiri (Pradopo dkk., 1994:4).
Konsep citra wanita hubungan wanita dengan Tuhan, hubungan wanita dengan alam, hubungan wanita dengan masyarakat, hubungan wanita dengan manusia lain, dan hubungan wanita dengan diri sendiri, didasarkan pada konsep yang dikemukakan oleh Boen   S.   Oeimajati   dkk.    (1994).   Dalam   hubungan   dengan    Tuhan,   wanita memperlihatkan citra, seperti: wanita yang bertakwa kepada Tuhan dan wanita yang tidak bertakwa kepada Tuhan. Makhluk beragama (termasuk wanita) yang mempercayai adanya kekuasaan dan zat tertinggi, yaitu Tuhan, yang menciptakan manusia dan alam semesta ini. Karena menyadari hal itu, manusia senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, berusaha memuji dan mengagungkan narna Tuhan, misalnya melalui doa. Adanya bermacam-macam  agama tidak menghalangi upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Yang membedakan manusia yang satu dari manusia yang lain adalah kadar keimanannya. Citra wanita dalam hubungan dengan alam adalah wanita yang bersatu dengan  alam dan wanita yang memanfaatkan atav mendayagunakan alam. Wanita yang bersatu dengan alam adalah wanita yang berupaya untuk hidup selaras dengan alam, yang menganggap dirinya merupakan bagian dari alam. Manusia (termasuk wanita) adalah makhluk sosial yang tidak mungkin lepas dari hidup bermasyarakat. Sementara ia tidak mungkin lepas dari hidup bermasyarakat, tetap saja seorang manusia yang memiliki kepentingan-kepentingan pribadi, yang mungkin selaras dan barangkali juga berbenturan dengan kepentingan masyarakat, jadi citra wanita hubungan dengan masyarakat yang mungkin muncul adalah wanita yan selaras dengan masyarakat dan wanita yang bertentangan atau mengalami konflik dengan masyarakat Citra wanita dalam hubungannya dengan manusia lain, terdapat dua corak yaog mendasarinya, yaitu keselarasan atau keserasian dan konflik, yang dapat terjadi dalam hubungan wanita dengan anggota keluarga, dengan sahabat, maupun dengan kekasih. Ada saatnya wanita berhadapan dengan dirinya sendiri. Pada saat wanita berhadapan dengan dirinya sendiri, mungkin dia menjumpai masalah, baik masalah yang berasal dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Pengendapan masalah maupun konflik batin di dalam dirinya itu akan menampakan suatu gejala tingkah laku wanita tersebut. Gejala tingkah laku itu seperti, suka bekerja keras, penuh pertimbangan, memiliki pendirian, menemukan diri, memiliki pengetahuan. Bentuk bentuk gejala tingkah laku seperti itulah yang merupakan bentuk citra wanita dalan hubungannya dengan diri sendiri. Oermajati dkk. (1994).

3. Metode Penelitian
Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode pendekata sosiologi karya sastra dan pendekatan struktural. Pendekatan sosiologi karya sastra adalah pendekatan yang membicarakan isi karya sastra yang berkaitan dengan masala sosial” (Wellek dan Warren dalam Semi, 1985:53). M. Atar Semi (1989:44-45) mengatakan bahwa pendekatan struktural atau pendekatan objektif membatasi diri pada penelaahan karya sastra itu sendiri, terlepas dari soal pengarang dan pembaca. Dengan kata lain, pendekatan struktural memandang dan menelaah sastra dari segi intrinsik yang membangun suatu karya sastra, yaitu tema, alur, latar, penokohan, dan gaya bahasa serta hubungan yang harmonis antaraspek yang membentuk menjadi karya sastra.
Penggunaan pendekatan sosiologi karya sastra dalam penelitian ini, yang menjadi pokok penelaahan adalah isi karya sastra (dalam hal ini novel) yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial. Sosiologi karya sastra dalam penelitian ini mencakup masalah-masalah yang menyangkut tokoh wanita dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan alam, dengan masyarakat, dengan manusia lain, dan dengan dirinya sendiri.
Penggunaan pendekatan struktural dalam penelitian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa penelitian ini sangat terkait dengan unsur-unsur tokoh dan penokohan sebagai bagian dari struktur karya sastra.
4. Hasil Penelitian
4.1.Citra Wanita dalam Novel Jepun Negerinya Hiroko
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, citra wanita diartikan sebagai “kesan mental atau bayangan yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frase, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi” (Moelionon ed., 169).
Effendi dkk. (1995:25) mengemukakan pendapat bahwa “citra wanita merupakan gambaran angan atau imaji yang timbul dalam proses pembacaan.”
Menurut Elliot (dalam Wellek dan Warren, 1990:237—238) citra dalam karya sastra harus menggambarkan hal-hal khusus yang jelas atau pencitraan visual yang jelas. Pencitraan visual dapat menunjuk ke sesuatu yang nyata atau mewakili sesuatu yan tidak tampak.
Berdasarkan ketiga pengertian di atas, istilah citra wanita dalam penelitian ini diartikan sebagai kesan mental, bayangan visual atau yang mewakilisesuatu yang tidak tampak, atau gambaran mengenai wanita yang dijadikan tokoh dalam novel Jepu Negerinya Hiroko karya Nh. Dini.
Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi karya sastra dan pendekatan struktural. Pendekatan sosiologi karya sastra adala pendekatan “yang membicarakan isi karya sastra yang berkaitan dengan masalah sosial (Wellek dan Warren dalam Semi, 1985:53). Atar Semi (1989;44—45) menyataka bahwa pendekatan struktural atau pendekatan objektif membatasi diri pada penelaahan karya sastra itu sendiri, terlepas dari soal pengarang dan pembaca. Dengan kata lain pendekatan structural memandang dan menelaah sastra dari segi intrinsic yan membangun suatu karya sastra, yaitu tema, alur, latar, penokohan, dan gaya bahasa serta hubungan yang harmonis antaraspek yang membentuk menjadi karya sastra.
Penggunaan pendekatan sosiologi karya sastra dalam penelitian ini, yang menjadi pokok penelaahan adalah isi karya sastra (dalam hal ini novel)) yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial. Sosiologi karya sastra dalam penelitian ini mencakup masalah-masalah yang menyangkut tokoh wanita dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan alam, dengan masyakarat, dengan manusia lain, dan dengan dirinya sendiri.
Penggunaan pendekatan strukural dalam penelitian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa penelitian ini sangat terkait dengan unsur-unsur tokoh-tokoh dan penokohan sebagai bagian dari struktur karya sastra.

4.2 Sinopsis
Tokoh ‘Aku’ adalah salah satu wanita Indonesia yang melepas kewarganegaraan Indonesianya, ia menjatuhkan pilihan untuk menikah dengan seorang diplomat Prancis Yves Coffin. Laki-laki dengan latar belakang budaya yang berbeda dengan dia—seorang perempuan Jawa. Meskipun bukan sebagai kewarganegaraan Indonesia lagi, di dalam jiwanya masih tertanam sikap patriotiknya terhadap bangsa Indonesia.
“Aku tetap mencintai tumpah darahku dan manusia Indonesia”. Inilah pernyataan sikap patriotik Nh. Dini. Jepang menjadi negara pertama tempat Dini menjalani kehidupan sebagai istri wakil konsul. Di negeri Matahari terbit itu pula dia mengenal Hiroko, orang pertam yang membantunya menyesuaikan diri di negeri Jepang—seorang wanita Jepang yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga Nh. Dini.
Pendek kata, Negeri Jepang memberinya kekayaan batin tidak terhingga. Di sana dia menemukan beberapa teman akrab, di antaranya Hiroko yang kemudian merupakan nama sumber utama novel Namaku Hiroko. Dan yang paling penting dari semuany adalah belahan bumi itu menjadi tempat kelahiran putri pertamnya, Marie-Clair Lintang.
Suka dan duka selama berada di negara Jepang dan menjadi istri seorang diplomat Prancis dijalani dengan tulus dan sabar oleh Dini. Terlebih saat menemuka Yves tidak seperti yang ia kenal sebelumnya. Meskipun demikian, rumah tangga mereka tidak berantakan di tengah jalan. Dini selalu menjaga keharmonisan rumah tangga mereka.
Dalam penelitian ini penelitian hanya menganalisis Citra Wanita dalam Novel Jepun Negeririva Hiroko Karya Nh. Dini pada tokoh ‘Aku’, Hiroko (sahabat Nh. Dini} Michiko (adik angkat suami Nh. Dini, Yeves)—Hanya pada citra wanita hubungannya dengan alam, dan Hiroko (pembantu rumah tangga Nh. Dini). Hal ini berdasarkan kemampuan dan keterbatasan waktu peneliti. Selain itu, yang sangat mendasari pengambilan tokoh-tokoh tersebut dilatarbelakangi kejelasan pengarang dalam mengutarakan dialog atau tingkah dari tokoh-tokoh tersebut.

5.  Pembahasan
5.1 Citra Wanita dalam Hubungan dengan Tuhan

Dalam penelitian ini peneliti hanya menganalisis citra wanita dalam hubungan dengan Tuhan pada tokoh ‘Aku’ dan pada tokoh Hiroko (sahabat’ Aku’).

1. Tokoh ‘Aku’
Dialog yang mencerminkan tokoh ‘aku’ mempunyai citra wanita dalan hubungan dengan Tuhan, sebagai berikut.
“Matur nuwun, Gusti Allah!**) Kupejamkan mata menyebut rasa syukur, mengingat semua leluhurku, bapak dan ibuku. Tuhan sungguh Maha Kuasa Pengasih dan Penyayang. Aku telah mengalami melahirkai bayi dengan seluruh kesadaran. Alangkah besar artinya dan ini adalah bagian dari kebesaran Tuhan.” (J N H. 2000:161-162).
Berdasarkan kutipan di atas, pandangan yang disampaikan oleh ‘Aku’ bahwa Tuhan Maha Besar, Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Dengan kebesarannya, Dia telah menjadikan seorang wanita menjadi lebih sempurna dan bahagia karena karunia yang telah diberikannya, yaitu melahirkan bayi dengan seluruh kesadaran dan selama tanpa halangan. Sehingga kita dengan segala karunia yang telah diberikan-Nya harus bersyukur kepada-Nya.
“Aku kembali duduk, mengatur napas dan kusebut nama Allah. Aku ingin mengembalikan ketenanganku. Aku berbicara kepada Tuhan, aku berbicara kepada bayiku.” (J N H. 2000:100).

Sepenggal pernyataan tersebut merupakan pandangan yang disampaika pengarang sebagai tokoh ‘Aku’ bahwa dalam keadaan apa pun untuk mencapai suatu ketenangan di dalam diri, dia selalu mengingat Tuhannya.
Kedua kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh ‘Aku’ bertakwa kepada Tuhannya. Hal ini membuktikan bahwa tokoh ‘Aku’ mempunyai citra wanita hubunga dengan Tuhan.

2. Hiroko (sahabat Nh. Dini)
“Meskipun tidak menikah resmi, dia bahagia bersama lelaki yang dia cintai Perkawinan hanyalah sebuah pintu di mana orang yang di luar ingin masuk, yang di dalam ingin keluar.” (J N H. 2000:91).
Berdasarkan kutipan pengarang di atas, pandangan tokoh Hiroko ini tidak menganggap bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral dan suci. Dia tidak mempedulikan status resmi hubungan pernikahan antara wanita dan laki-laki. Baginya pernikahan itu tidak ada gunanya, asalkan bisa bahagia dengan orang yang dcintai dan sama-sama saling mencintai, pernikahan tanpa status yang jelas tidak masalah.
Meskipun Hiroko wanita Jepang, yang mendewakan matahari sebagai dewa yang mengandung kepercayan terhadap kekuatan gaib dan kekuatan terhadap alam (Suryohadiprojo, 1987:197), di negara mana pun, agama apa pun tetap mengajarkan pernikahan itu adalah bagian dari kegiatan ritual agama yang suci dan sakral, kecuali negara yang beraliran ateis.
Pendeskripsian kutipan di atas mengandung persoalan keagamaan dan ketuhanan. Kutipan di atas menunjukkan bahwa Hiroko tidak bertakwa. Jadi, tokoh Hiroko mempunyai citra wanita dalam hubungannya dengan Tuhan.
5.2 Citra Wanita dalam Hubungan dengan Alam
1. Tokoh Utama
‘Aku’
“Melihat ryoanji, aku dapat langsung merasakan terkandungnya kehendak berkomunikasi dalam diam, tanpa suara. Seni dalam kontemplasi itu alangkah menyejukkan  jiwa.” (N J H. 2000:24).
Berdasarkan kutipan di atas, pandangan yang ingin disampaikan oleh tokoh ‘Aku’ adalah ryoanji, kebun taman bebatuan yang terdapat di Kyoto, Jepang. Toko ‘Aku’ sangat menikmati tempat ini. Menyejukkan jiwa berarti menenangkan pikiran mendamaikan hati. Di tempat ini, tokoh ‘Aku’ benar-benar merasakan jiwanya bersatu dengan keindahan seni yang terkandung di ryoanji.

Kutipan di atas membuktikan bahwa tokoh ‘Aku’ mempunyai citra wanita dalam hubungannya dengan alam. Citra wanita hubungan dengan alam yang terdapat pada tokoh ‘Aku’ adalah citra wanita yang bersatu dengan alam

2.TokohBawahan
Tokoh Andalan

1.  Hiroko (sahabat Nh. Dini)
Di dalam novel ini diceritakan tokoh Hiroko ini sangat menikmati kedamaian yang dirasakan di dalam dirinya dan lingkungannya. Hiroko merasakan lingkunganya menjadi sahabat kehidupannya. Hal ini digambarkan dalam penggalan kalimat berikt yang ditulis oleh pengarang.
“Hiroko bagiku adalah contoh wanita yang merasa damai dengan diri dan lingkungannya. Hiroko menjadikan lingkungannya bagian dari sahabat yang membuat keceriaan di dalam dirinya.” (N J H. 2000:91).
“Hiroko bagiku adalah wanita yang merasa damai dengan dirinya dan lingkungannya.” (N J H. 2000:9 1).
Penggalan-penggalan kalimat di atas menunjukkan bahwa citra wanita dalan hubungannya dengan alam pada tokoh Hiroko adalah citra wanita yang bersatu dengai alam

2.  Michiko/Michang
“Sepekan sekali, dirumahnya, seorang sensei atau guru datang mengajar Michanj bagaimana mengatur bunga secara artistik. Kursus pribadi itu sangat mahal. Aku beruntung karena Michang sudi mengundangku untuk belajar secara pasif bersama dia dan adik-adiknya. Dan dengan kepekaanku, aku mampu menyerap prinsip prinsip merangkai bunga Jepang. Seni yang nyaris seumur hidup bangsa Jepang itu sendiri kusukai.” (J N H. 2000:51).
Berdasarkan kutipan sebelumnya, Michang itu pecinta bunga, termasuk menata bunga dengan seindah mungkin. Walaupun teknik merangkai bunga bergaya Jepang itu nyaris hilang dalam budaya Jepang, Michang tetap mau belajar teknik merangkai bunga tersebut.
Jadi, kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Michiko mempunyai citri wanita hubungan dengan alam yang bersatu dengan alam.

Tokoh Tambahan
Hiroko (pembantu rumah tangga)
” Namaku Hiroko juga mengandung sedikit sifat Hiroko kepala rumah tangga kami. Ini kusengaja sebagai ungkapan terima kasih ku kepada gadis Jepang yang pertama kali membantuku menyesuaikan diri di negeri itu dan di masa-masa awal hidupku berumah tangga. Dia membantuku menata ruangan yang bersenikan bangunan Jepang yang mempunyai nilai artistik yang tinggi.” (N H J. 2000:91).

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa Hiroko mencintai dan menyukai budaya dan lingkungan tempat dia dibesarkan yaitu, Jepang. Berdasarkan uraian diatas, tokoh Hiroko ini mempunyai citra wanita hubungan dengan alam, yang bersatu dengan alam

5.3 Citra Wanita dalam Hubungan dengan Masyarakat

Dalam penelitian ini peneliti hanya menganalisis citra wanita dalam hubungan dengan masyarakat pada tokoh ‘Aku’ dan pada tokoh Hiroko (sahabat ‘Aku’).

1. Tokoh ‘Aku’
“Sejak beberapa bulan itu aku sudah terbiasa dengan cita rasa mandi orang orang Jepang. Yang belum juga ku anggap sebagai sesuatu yang ‘biasa’ ialah air yang terlalu panas dan mandi bersama-sama.” (N J H. 2000:39).
Berdasarkan kutipan di atas, tokoh ‘Aku’ dapat menyesuaikan diri dengai budaya mandi wanita-wanita di Jepang meskipun hal itu dianggapnya bukan sesuatu hal yang biasa baginya. Jadi, Tokoh ‘Aku’ mempunyai citra wanita dalam hubungannya dengan masyarakat yang selaras dengan masyarakat.

2. Hiroko
“Meskipun anak-anaknya menggunakan nama keluarga Numazawa, tidak menggunakan nama ayah kandung mereka. Masyarakat menerima mereka seadanya, sebagai manusia penuh. Tetapi Hiroko Daimaru sadar, bahwa anak anaknya harus menjadi lebih baik daripada anak-anak lain. Karena bila terjadi sesuatu yang kurang pada sifat dan sikap mereka, tudingan orang akan lebih kejam.”(NJH. 2000:91).
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa tokoh Hiroko merupakan wanita Jepang yang berani mengambil resiko terhadap apa yang telah dia lakukan. Meskipun perbuatannya itu bisa diterima masyarakat. Tetapi perbuatannya harus diimbanginya dengan hasil yang baik agar kedepannya apa yang telah diperbuatnya tidak menjad bahan tudingan  masyarakat.
Berdasarkan pendeskripsian kutipan di atas, tokoh Hiroko ini mempunyai citra wanita dalam hubungannya dengan masyarakat yang mengalami konflik dengan masyarakat.
5.4  Citra Wanita dalam hubungannya dengan manusia lain
Dalam penelitian ini peneliti hanya menganalisis citra wanita dalam hubungan dengan manusia lain pada tokoh ‘Aku’ dan pada tokoh Hiroko (sahabat’ Aku’).

1. Tokoh ‘Aku’

“Dia buai badanku di dalam rengkuhannya. Tuhan Berilah aku ketabahan. Jangan biarkan aku mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada bapak anakku ini! Kalimat-kalimat bujukan seolah-olah berisi kebenaran terus mengalir dari mulut suamiku. Kupejamkan mataku. Tiba-tiba aku letih. Sangat lemas dan ingin tidur.” (N J H. 2000:257).
Pandangan tokoh ‘Aku’ berdasarkan kutipan di atas menyatakan, meskipun dia sedang kesal dengan suaminya, dia tidak berani untuk mengumpat atau mengeluarkan kata-kata kasar kepada suaminya. Tokoh ‘Aku’ sangat menghormati suaminya dan berusaha untuk menghindari percecokan meskipun suaminya itu sering membuat dia kesal.
Berdasarkan uraian dari kutipan di atas, tokoh ‘Aku’ mempunyai citra wanita dalam hubungan dengan manusia lain yang berusaha untuk menyelaraskan sifat suami dengan diri seorang wanita (istri).

2. TokohHiroko
“Kamu tidur berbaring dulu. Tiduran dulu biar tenang sementara kupesankan makanan dari restoran di bawah.” (N J H. 2000:101).
Kutipan di atas merupakan dialog tokoh Hiroko kepada tokoh ‘Aku^ Berdasarkan kutipan di atas Hiroko adalah seorang sahabat yang sangat perhatian dai peduli terhadap sahabatnya yang sedang mengalami kesusahan.
Jadi, tokoh Hiroko mempunyai citra wanita dalam hubungannya dengai manusia lain yang berkaitan dengan keselarasan dan keserasiaan terhadap sahabatnya.
5.5 Citra Wanita dalam Hubungannya dengan diri sendiri.
Dalam penelitian ini peneliti hanya menganalisis citra wanita dalam hubungan dengan masyarakat pada tokoh ‘Aku’ dan pada tokoh Hiroko (sahabat’ Aku’).

1. Tokoh ‘Aku’
” Tetapi aku hanya diam menerimanya, karena di lain waktu Yves menunjukka betapa besarnya cintanya padaku. Di saat dia kasar aku berusaha untuk meredakan kemarahannya.” (N J H. 2000:9).
Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa citra wanita dalan hubungannya dengan diri sendiri pada tokoh ‘aku’ adalah sikap wanita yang berhati sabar dan penuh kelembutan.

2. TokohHiroko
“Wajah Hiroko sahabatku kulihat memang damai. Sikapnya selalu ramah, penuh senyum.” (N J H. 2000:247).
“Hiroko Daimaru, dia ceriwis sekali.” (N J H. 2000:139).

Dari kutipan-kutipan di atas, pengarang mengatakan bahwa Hiroko itu wanita yang puas dan merasa bahagia dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya. Selain itu, Hiroko juga wanita yang cerewet.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Hiroko mempunyai citra wanita hubungannya dengan diri sendiri, yang ditunjukkan melalui sikap yang selalu damai, penuh keramahan dan penuh dengan senyuman.

6. Penutup
Pendekatan sosiologis sastra dan pendekatan struktural pada penelitian ini berusaha merumuskan citra wanita dalam hubungan wanita dengan Tuhan, hubungan wanita dengan alam, hubungan wanita dengan masyarakat, hubungan wanita dengan manusia lain, dan hubungan wanita dengan diri sendiri dengan cara mendeskripsikan data-data yang menunjukkan hubungan wanita tokoh ‘Aku’, Hiroko (sahabat tokoh ‘Aku’), Michiko (adik angkat suami tokoh ‘Aku’, Yeves), dan Hiroko (pembantu rumah tangga tokoh ‘Aku’) dengan Tuhan, alam, masyarakat, manusia lain, dan diri sendiri. Berdasarkan kriteria atau batasan yang menunjukkan citra wanita dalam hubungan wanita dengan Tuhan, hubungan wanita dengan alam, hubungan wanita dengar masyarakat, hubungan wanita dengan manusia lain, dan hubungan wanita dengan dir sendiri
Dalam penelitian ini peneliti hanya menganalisis Citra Wanita dalam Novel Jepun Negerinya Hiroko Karya Nh. Dini pada tokoh ‘aku’ (Nh. Dini), Hiroko (sahaba Nh. Dini), Michiko (adik angkat suami Nh. Dini, Yeves)—Hanya pada citra wanit hubungannya dengan alam, dan Hiroko (pembantu rumah tangga Nh. Dini). Hal ini berdasarkan kemampuan dan keterbatasan waktu peneliti. Selain itu, yang sangat mendasari pengambilan tokoh-tokoh tersebut dilatarbelakangi kejelasan pengarang dalam mengutarakan dialog atau tingkah laku dari tokoh-tokoh tersebut. Disarankan bagi pembaca atau penikmat sastra, khususnya wanita hendaknya, harus memperhatikan citra wanita yang terdapat pada tokoh-tokoh wanita pada novel Jepun Negerinya Hiroko. Citra wanita yang baik, yang terdapat pada tokoh-tokoh wanita di dalam novel ini hendaknya kita tiru. Tetapi sebaliknya, jika citra wanitany buruk  maka  jangan  ditiru.
Dengan selesainya penelitian tentang citra wanita ini penulis berharap makalah ini dapat berfungsi juga bagi pembaca atau penikmat sastra yang ingin mengetahui citra wanita yang terdapat dalam novel Jepun Negerinya Hiroko.

DAFTAR  PUSTAKA

Aminuddin. 1991. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru.

Dini, Nh. 2000. Jepun Negerinya Hiroko. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Effendi, Chairil dkk.. 1995. Citra Wanita dalam Sastra Nusantara di Kalimanta Barat. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Jassin, H. B.. 1983. Pengarang Indonesia dan Dunianya. Jakarta: PT. Gramedia.
Mahayana, Maman S. dkk.. 1992. Ringkasan dan Ulasan novel Indonesia. Jakart Grasindo.
Moeliono, anton M. (ed.). 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia.. Jakarta: Balai Pustaka.
Oemarjati, Boen S. dkk.. 1994. Citra Manusia dalam Puisi Indonesia Modern 1920-1960. Jakarta: Balai Pustaka.
Pradopo, Rachmat Djoko dkk.. 1994. Wajah Indonesia dalam Sastra Indoneisa: Puisi 1960-1980. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Prihatmi, Th. Sri Rahaju. 1977. Pengarang-Pengarang Wanita Indonesia. Jakarta Pustaka Jaya.
Semi, M. Atar. 1989. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.
Suryohadiprojo, Sayidiman. 1987. Belajar dariJepang. Jakarta: Universitas Indonesia
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

STRATEGI PERMAINAN BAHASA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN DI SEKOLAH DASAR

Abstract: Learning Indonesian in primary schools aimed at improving
students ability to communicate effectively, both orally and in writing.
Reading skills as one of the written language skills that are receptive
to elementary school students have to be able to communicate in
writing. Therefore, the role of Indonesian language teaching, especially
teaching reading in primary schools is very important. Reading is the
beginning stages of learning to read for elementary school students
beginning classes. Teachers need to design learning to read well in
order to be able to cultivate the habit of reading in students. The
atmosphere of learning to read can be created through language games.
Hopefully with this language game will have an important role in
cognitive and social development of children, because teachers play in
supporting children learn and develop.

Key words: Game, Language, Strategy, Reading, Beginning

Abstrak: Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar bertujuan
meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi agar lebih efektif, baik
berkomunikasi dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk tulisan. Membaca
sebagai salah satu keterampilan berbahasa tulis yang bersifat reseptif
perlu dimiliki siswa sekolah dasar agar mampu berkomunikasi secara
tertulis. Oleh  sebab itu, peranan pengajaran bahasa Indonesia khususnya
pengajaran membaca di SD menjadi sangat penting. Membaca permulaan
merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas
awal. Guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik agar mampu
menumbuhkan kebiasaan membaca pada siswa. Suasana pembelajaran membaca
dapat diciptakan melalui kegiatan permainan bahasa. Diharapkan dengan
permainan bahasa ini akan  memiliki peranan penting dalam perkembangan
kognitif, afektif,psikomotorik dan perkembangan sosial anak, karena
dengan bermain guru dapat mendukung anak dalam kegiatan belajar dan
mengembangkannya.

Kata kunci: Permainan, Bahasa, Strategi, Membaca, Permulaan

1.    PENDAHULUAN
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan penyempurnaan dari
kurikulum 2004 atau biasa disebut KBK (Kurikulum Berbasis pada
Kompetensi). KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa pendidikan
berpusat pada hal-hal seperti potensi atau
kemampuan,kebutuhan,perkembangan serta kepentingan siswa atau peserta
didik dan lingkungannya (BSNP, 2006:4). Seperti KBK, KTSP juga berbasis
kompetensi. KTSP memberikan keleluasaan kepada pihak sekolah untuk
menyelengarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi
lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang
tersedia, dan  (4) kekhasan daerah.
Tujuan pelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) Sekolah Dasar adalah agar peserta didik memiliki
kemampuan sebagai berikut; (1) berkomunikasi secara efektif dan efesien
sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, (2)
menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia, (3) menggunakan
bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta
kematangan emosional dan sosial, (4) menikmati dan memanfaatkan karya
sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, (5) menghargai dan
membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual
manusia Indonesia (Depdiknas, 2006).
Bahasa Indonesia mempunyai ragam lisan dan tulisan yang kedua-duanya
digunakan dalam situasi formal serta situasi nonformal, dimana guru
selayaknya harus memperkenalkan bahasa Indonesia kepada peserta didik.
Ruang lingkup pembelajaran pada  bahasa Indonesia pada dasarnya memiliki
empat aspek, yakni(1)aspek menyimak;(2) aspek berbicara;(3)aspek
membaca;dan (4) aspek menulis (Depdiknas, 2006:23). Pembelajaran bahasa
Indonesia hakikatnya adalah pembelajaran keterampilan dalam berbahasa,
bukan pembelajaran mengenai berbahasa. Keterampilan berbahasa tersebut
yang perlu ditekankan dalam pengajaran berbahasa Indonesia adalah
keterampilan reseftif (mendengarkan dan membaca) dan keterampilan
produktif (menulis serta berbicara). Pembelajaran bahasa diawali dengan
pengajaran keterampilan pada reseptif,sedangkan untuk keterampilan pada
produktif dapat turut ditingkatkan pada langkah berikutnya agar
peningkatan kedua keterampilan berbahasa tersebut  menyatu sebagai
kegiatan pembelajaran berbahasa yang terpadu.
Membaca merupakan bagian terpadu dari keterampilan berbahasa.
Keterampilan membaca berlandaskan  pada kemampuan dalam berbahasa.
Pendekatan pengalaman dalam berbahasa dapat diterapkan dalam
pembelajaran membaca, karena pada pendekatan ini, kekuatan yang ada pada
konseptual dan linguistik dibawa anak ke sekolah harus digunakan secara
penuh.
Perkembangan ilmu pengetahuan sangat pesat. Mereka yang tidak memiliki
keinginan untuk belajar dengan sendirinya akan jauh tertinggal dengan
mereka yang memang benar-benar belajar. Ilmu pengetahuan yang akan
dikuasai tidak bisa dilakukan hanya dengan mendengar atau menerima
pengajaran dari guru, akan tetapi harus melalui proses membaca. Kemajuan
dalam proses belajar, 80% ditentukan oleh kesediaan kita untuk belajar
membaca. Apabiala syarat ini kita diabaikan, maka kegiatan belajar untuk
mencapai proses kemajuan menjadi terhambat, (Prasetyono, 2008:25).
Berpijak pada hal tersebut, maka kita sebagai anggota dalam masyarakat
yang tidak ikut ambil bagian dalam proses membaca, tidak bisa memberikan
arti pada dunia. Oleh sebab itu, jelaslah bahwa aktivitas membaca
menjadi suatu kebutuhan pokok manusia dalam suatu masyrakat modern.

link: Universitas Bina Darma Palembang

PERANAN MEMBACA EKSTENSIF DALAM PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA

Abstract:     Extensive reading is to read widely, ie, read as much reading material in the shortest possible time. While language acquisition or language acquisition is a process used by the children adapt to increasingly complex set of hypotheses, or theories that are still latent, or hidden that may very well happen, with the utterances of his parents until he’s choosing, based on a measure or dose assessment, the best grammar and the simplest of language tersebut. Extensive reading help in obtaining a second language learners. Learner does not need a description of the convoluted and complicated, the important effects produced after reading the main idea of reading material to know it. Extensive reading can be used as a tool for learners in the acquisition of inputs in a very large number. It is clear that the role of extensive reading is very greatly to the learner in second language acquisition, can assist learners in acquiring a second language, can be used as reinforcement in the control of second language, the learner can obtain as much input as possible so that can improve the quality of the monitor to the output second language, as a tool for acculturation, the learner can improve his knowledge of language and second language can foster motivation to learn second language.

Key words: reading, extensive, acquisition, second language

Abstrak : Membaca ekstensif adalah  membaca secara  luas, yakni membaca sebanyak mungkin bahan bacaan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Sedangkan pemerolehan bahasa atau language acquisition adalah suatu proses yang dipergunakan oleh anak-anak menyesuaikan serangkaian hipotesis yang semakin rumit, ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi, dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai dia memilih, berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian, tata bahasa yang paling baik serta yang  paling sederhana dari bahasa tersebut.Membaca ekstensif dapat membantu pembelajar dalam memperoleh bahasa kedua. Pembelajar tidaklah membutuhkan uraian yang berbelit dan rumit, yang penting efek yang dihasilkan setelah membaca yakni mengetahui ide utama bahan bacaan itu. Membaca ekstensif dapat dijadikan alat bagi pembelajar dalam pemerolehan input dalam jumlah yang sangat besar. Jelas bahwa peranan membaca ekstensif sangatlah besar terhadap pembelajar dalam pemerolehan bahasa kedua, dapat membantu pembelajar dalam memperoleh bahasa kedua, dapat dipakai sebagai reinforcement dalam menguasai B2, pembelajar dapat memperoleh input sebanyak mungkin sehingga dapat meningkatkan kualitas monitornya terhadap output B2, sebagai alat untuk mengakulturasi B2, pembelajar dapat meningkatkan pengetahuan kebahasaan B2-nya serta dapat menumbuhkan motivasi yang tinggi untuk mernpelajari B2.

Kata-kata kunci: membaca, ekstensif, pemerolehan, bahasa kedua

1.    PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan sangat cepat seiring dengan perkembangan bidang ilmu yang lainnya. Mereka yang tidak mau belajar dengan sendiriya akan terlinggal. Untuk menguasai ilmu pengetahuan tidak bisa dilakukan hanya dengan mendengar atau menerima pengajaran dari guru ataupun dosen, akan tetapi harus melalui proses membaca. Kemajuan dalam proses belajar, 80% ditentukan oleh kesediaan kita untuk membaca. Jika syarat ini diabaikan, maka proses belajar untuk mencapai kemajuan menjadi terhambat. Dengan demikian, kita sebagai anggota masyarakat yang tidak ikut ambil bagian dalam proses membaca, tidak bisa memberikan arti pada dunia. Oleh karena itu, jelaslah bahwa aktivitas membaca menjadi suatu kebutuhan pokok manusia dalam suatu masyrakat modern (Prasetyono, 2008:25).

Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Membaca dan mendengar adalah dua cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor, (http://id.wikipedia.org/wiki/Membaca).
Bahasa mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dan bangsa, Suwarjono (www.suwarjono.com). Manusia memiliki warisan biologi yang sudah dibawa sejak lahir berupa kesanggupannya untuk berkomunikasi dengan bahasa khusus manusia dan itu tidak ada hubungannya dengan kecerdasan atau pemikiran. Kemampuan berbahasa hanya sedikit korelasinya terhadap IQ manusia. Kemampuan berbahasa anak yang normal sama dengan anak-anak yang cacat. Kemampuan berbahasa sangat erat hubungannya dengan bagian-bagian anatomi dan fisiologi manusia, seperti bagian otak tertentu yang mendasari bahasa dan topografi korteks yang khusus untuk bahasa. Tingkat perkembangan bahasa anak sama bagi semua anak normal, semua anak dapat dikatakan mengikuti pola perkembangan bahasa yang sama, yaitu lebih dahulu menguasai prinsip-prinsip pembagian dan pola persepsi. Kekurangan hanya sedikit saja dapat melambangkan perkembangan bahasa anak. Bahasa tidak dapat diajarkan pada makhluk lain. Bahasa bersifat universal. Pemerolehan bahasa pertama erat kaitannya dengan permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik, (http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/pemerolehan-bahasa-pertama-dan-bahasa-kedua/).
Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama (B1) (anak) terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya.
Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.
Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik, (http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/pemerolehan-bahasa-pertama-dan-bahasa-kedua/).
Pemerolehan bahasa kedua dapat terjadi dengan bermacam-macam cara, pada usia berapa saja, untuk tujuan bermacam-macam dan pada tingkat kebahasaan yang berlainan. Berdasarkan fakta ini, kita dapat membedakan beberapa tipe pemerolehan B2, sebagaimana yang dijelaskan oleh Sri Utari Subyakto dan Nababan (1992:83), yang mengemukakan bahwa perbedaan yang mendasar dalam pemerolehan B2 adalah (1) terpimpin dan (2) secara alamiah. Dalam hal mempelajari bahasa kedua, Krashen (1981), mengatakan bahwa pembelajar dapat menguasai bahasa kedua melalui dua cara, yakni pemerolehan dan pembelajaran. Ellis (1986) mengatakan bahwa salah satu hal yang dapat membantu keberhasilan PBK adalah input dalam jumlah besar yang diarahkan kepada pembelajar. Belajar bahasa kedua dalam pendidikan formal tidak memungkinkan pemerolehan input dalam jumlah yang sangat besar, karena terbatasnya jam di kelas. Salah satu cara memperoleh input dalam jumlah yang besar adalah melalui membaca ekstensif yang dapat dilakukan di luar kelas.
Membaca ekstensif adalah  membaca secara  luas, yakni membaca sebanyak mungkin bahan bacaan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Sedangkan pemerolehan bahasa atau language acquisition adalah suatu proses yang dipergunakan oleh anak-anak menyesuaikan serangkaian hipotesis yang semakin rumit, ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi, dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai dia memilih, berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian, tata bahasa yang paling baik serta yang  paling sederhana dari bahasa tersebut. (Tarigan, 1980:243).

Masalah sekarang, sejauh mana serta dalam hal apa kegiatan membaca ekstensif ini berperan dalam pemerolehan bahasa kedua ?

Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan peranan membaca ekstensif dalam pemerolehan bahasa kedua pada pembelajar.

link: http//www.binadarma.ac.id