NILAI MORAL PADA CERPEN HUJAN TERAKHIR MAJALAH BOBO SEBAGAI MEDIA PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA SEKOLAH DASAR

NILAI MORAL PADA CERPEN HUJAN TERAKHIR MAJALAH BOBO
SEBAGAI MEDIA PEMBENTUKAN KARAKTER
SISWA SEKOLAH DASAR

Ayu Puspita Indah Sari
Dosen Universitas Bina Darma, Palembang
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12, Palembang
ayu_puspita@mail.binadarma.ac.id

Abstract: Education is a series of deliberate effort, conscious and organized by individual or groups of learners in this case, in order to explore and develop the potentials that exist on them in order to understand something before they do not understand either the cognitive, affective, and psychomotor, so it would become a whole person is a man of faith and fear of God Almighty, noble, healthy, knowledgeable, skilled, creative, independent, and become citizens of a democratic and responsible. Literature in elementary school learning is the learning of children’s literature. Learning of children’s literature is literature that specifically can be understood by children. Type of children’s literature includes prose, poetry, and drama. Short story is one example of children’s literature that can be given to students as a learning medium in which was found a lot of values that educate readers character both in terms of theme, mandate, characterizations, and other intrinsic elements. The main focus in this paper is to discuss nilai moral pada cerpen Hujan Terakhir majalah Bobo sebagai media pembentukan karakter siswa sekolah dasar. Descriptive method used in this study to demonstrate and explain any moral value contained in Hujan Terakhir short story magazine Bobo. The conclusion from the results of the analysis appear moral values that is instructive on the short story magazine Bobo Last Rain as assessment contained in the spiritual attitude that religious values and social attitudes that honest appraisal, discipline, responsibility, tolerance, mutual cooperation, courtesy and trust self

Keywords: moral values, short stories, character education

Abstrak: Pendidikan merupakan serangkaian usaha yang dilakukan dengan sengaja, sadar dan tertata oleh individu atau kelompok dalam hal ini peserta didik, dalam rangka menggali dan mengembangkan potensi-potensi yang ada pada mereka agar dapat memahami sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik, sehingga kelak menjadi manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pembelajaran sastra di sekolah dasar adalah pembelajaran sastra anak. Pembelajaran sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak. Jenis sastra anak meliputi prosa, puisi, dan drama. Cerpen adalah salah satu contoh sastra anak yang dapat diberikan kepada siswa sebagai media pembelajaran yang di dalamnya banyak sekali dijumpai nilai-nilai yang mencerdaskan karakter pembaca baik dari segi tema, amanat, penokohan, dan unsur intrinsik lainnya. Fokus utama dalam tulisan ini adalah membahas nilai moral pada cerpen Hujan Terakhir majalah Bobo sebagai media pembentukan karakter siswa sekolah dasar. Metode deskriptif digunakan dalam penelitian ini untuk menunjukkan dan memaparkan nilai moral apa saja yang terdapat dalam cerpen Hujan Terakhir majalah Bobo. Kesimpulan yang didapat dari hasil analisis muncul nilai-nilai moral yang bersifat edukatif pada cerpen Hujan Terakhir majalah Bobo seperti penilaian yang terdapat pada sikap spiritual yaitu nilai religius dan penilaian sikap sosial yaitu jujur, disiplin, tanggung jawab, toleransi, gotong royong, santun dan percaya diri.

Kata kunci : nilai moral, cerpen, pendidikan karakter

1. PENDAHULUAN

Inti dari proses pendidikan adalah proses pembelajaran. Pembelajaran sebagai sebuah proses harus didesain oleh guru agar penyelenggaraannya dapat mengantarkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Undang-undang nomor 20 tahun 2013 tentang sistem pendidikan nasional secara jelas menyatakan bahwa komitmen nasional tentang perlunya pendidikan karakter. Pada pasal 3 undang-undang tersebut dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Kurikulum adalah seperangkat pengalaman yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan tertentu , (Dimyati dan Mudjiono, 2006:263). Proses pembelajaran tidak dapat terlepas dari kurikulum khususnya pada pembelajaran formal. Adapun kurikulum yang berlaku saat ini di Indonesia adalah kurikulum 2013 yang lebih menekankan pada kompetensi dengan pemikiran kompetensi berbasis sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Kurikulum berakar pada budaya lokal dan bangsa, memiliki arti bahwa kurikulum harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar dari budaya setempat dan nasional tentang berbagai nilai hidup yang penting. Dengan demikian jelas bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter atau kepribadian siswa.
Suwandi (2011:5) mengatakan bahwa potensi peserta didik yang harus dikembangkan berkaitan erat dengan karakter. Karakter memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari khususnya pada diri siswa, namun sayangnya tak banyak sekolah-sekolah yang pada praktik pendidikan hanya menekankan pada aspek kecerdasan intelektual saja, sementara untuk pembentukan dan pengembangan karakter peserta didik kurang mendapat porsi yang memadai. Saat ini, aspek pengetahuan dan memahami norma atau nilai-nilai saja yang banyak diterapkan di sekolah dan belum pada tingkatan internalisasi serta tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa Indonesia adalah salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah formal dari segala tingkatan pendidikan termasuk SD. Bahasa Indonesia memiliki peran yang sangat penting dan merupakan penunjang untuk mempelajari mata pelajaran pada bidang lain. Ruang lingkup pembelajaran bahasa Indonesia mencakup empat komponen kemampuan berbahasa yang meliputi empat aspek yaitu keterampilan mendengar, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut saling terkait satu sama lain (Tarigan, 2008: 1). Selain empat komponen keterampilan tersebut pembelajaran sastra juga termasuk pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran sastra khususnya cerpen di sekolah, sebenarnya memegang peranan yang sangat penting terutama dalam pembentukan karakter anak didik, mengapa demikian? karena pada cerpen banyak sekali dijumpai nilai-nilai yang mencerdaskan karakter pembaca baik dari segi tema, amanat, penokohan, dan unsur intrinsik lainnya.
Cerpen tidak hanya dapat diterima oleh siswa di sekolah, namun dapat juga diterapkan di rumah yaitu dengan cara menyediakan media pembelajaran seperti buku atau majalah untuk anak yang di dalamnya terdapat cerpen-cerpen yang dapat dibaca oleh anak atau siswa, adapun majalah yang memuat cerpen-cerpen untuk anak tersebut seperti majalah Bobo. Agar penyampaian pesan moral atau amanat dalam cerita tersebut dapat diterima dan tertanam pada diri anak, pendidik harus mengemas cara penyampaian cerita dengan media yang menyenangkan. Dalam konteks implementasi belajar di kelas, maka peranan media pembelajaran menjadi penting dan strategis. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen yang menjadi poin di dalam sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran yang sepatutnya diindahkan oleh para pendidik dan bukan sekedar formalitas hitam di atas putih tanpa adanya pelaksanaan di lapangan. Munadi (2012:8) menyatakan bahwa media pembelajaran dapat dipahami sebagai “segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efesien dan efektif”.
Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah nilai moral apa saja yang terkandung dalam cerpen Hujan Terakhir majalah Bobo sebagai media pembentuk karakter siswa sekolah dasar? Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai moral apa saja yang terkandung dalam cerpen Hujan Terakhir majalah Bobo sebagai media pembentuk karakter siswa sekolah dasar.
Melalui pembelajaran sastra, nilai moral yang terkandung dalam cerpen dapat dijadikan sebagai pelajaran yang sangat berharga bagi generasi muda sejak dini, khususnya bagi peserta didik untuk menanamkan sikap yang baik di dalam dirinya.

2. TINJAUAN PUSTAKA
A. Nilai Moral
Keberagaman nilai yang ada dalam budaya atau kultur manusia, berdasarkan arah tujuan dan fungsi nilai bagi kehidupan manusia dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu (1) nilai hidup ketuhanan manusia, (2) nilai sosial kehidupan manusia, dan (3) nilai kehidupan pribadi manusia (Amir, dalam Sukatman 1992:15). Lebih lanjut Wellek dan Warren (1989) mengatakan bahwa di dalam sastra terdapat nilai kehidupan yang mencakup: (1) masalah keagamaan, berupa interpretasi tentang Tuhan, dosa dan keselamatan, (2) masalah nasib manusia yang berhubungan dengan kebebasan dan keterpaksaan dan semangat manusia, (3) masalah alam, yang berupa minat terhadap alam, mitos dan ilmu gaib, (4) masalah manusia yang berupa konsep manusia, hubungan manusia dengan konsep kematian dan konsep cinta, dan (5) masalah masyarakat, keluarga dan negara (Wellek dan Warren, 1989:141-142). Sementara pada kurikulum 2013 membagi kompetensi sikap menjadi dua sebagai berikut.
a. Sikap spiritual yang terkait dengan pembentukan peserta didik yang beriman dan bertakwa.
b. Sikap sosial yang terkait dengan pembentukan peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.

Cakupan Penilaian Sikap
Penilaian sikap sipiritual Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianut

Penilaian sikap sosial 1. Jujur
2. Disiplin
3. Tanggung jawab
4. Toleransi
5. Gotong royong
6. Santun
7. Percaya diri
(Kurniasih dan Sani, 2014:66)

B. Cerpen
Pembelajaran sastra sangat meningkatkan keterampilan siswa untuk mengimajinasikan pikiran atau kreativitas baik secara lisan maupun tulisan. Salah satu karya sastra adalah cerpen. Cerpen sebagai karya sastra berguna untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam mengapresiasikan cerpen yang dibaca oleh siswa dan bisa diungkapkan kembali dengan karya mereka sendiri.
Cerpen adalah cerita yang menurut wujud fisiknya berbentuk pendek ukuran panjang pendeknya suatu cerita memang relatif. Namun, pada umumnya cerpen merupakan cerita yang habis dibaca sekitar sepuluh menit atau setengah jam. Jumlah katanya sekitar 500-5000 kata, karena itu cerpen sering diungkapkan dengan cerita yang dapat dibaca dalam sekali duduk, (Kosasih, 2012:34).

C. Pendidikan Berkarakter
Suwandi (2011:6), mengatakan bahwa karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya dan adat istiadat (Suwandi, 2011:21). Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter.
Lickona dalam Haryanto (2012:1) mengatakan bahwa karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan kterkaitan ketiga kerangka pikir ini, (http://belajarpsikologi.com/pengertianpendidikan-karakter/).
Untuk menanamkan sikap yang baik, baik pemerintah maupun pelaksana pendidikan perlu menerapkan dan memperhatikan pendidikan berkarakter bagi peserta didik. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

3. METODE PENELITIAN
Penelitian ini tidak terikat tempat penelitian karena objek yang dikaji berupa naskah (teks) sastra, yaitu naskah cerpen Hujan Terakhir karya Nurhasanah yang terdapat di majalah Bobo edisi April 2014. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan sehingga memerlukan bahan pustaka sebagai referensi yang banyak didapatkan baik lewat buku, media massa maupun internet. Penelitian ini bukan penelitian lapangan yang statis melainkan sebuah analisis yang dinamis. Bentuk penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Hal ini disesuaikan dengan rumusan masalah penelitian yang sudah ditetapkan. Dalam penelitian ini informasi yang bersifat kualitatif dideskripsikan secara teliti dan analitis.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah struktural. Pendekatan ini digunakan dalam rangka menafsirkan makna yang mendalam pada karya sastra yang diteliti dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Hal ini diambil berdasar asumsi bahwa pada dasarnya karya sastra adalah pengejawantahan kehidupan masyarakat. Dengan demikian penafsiran makna yang ada dalam karya sastra ini merupakan perwujudan dari makna atau nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.
Data atau informasi yang dikumpulkan dan dikaji dalam penelitian ini berupa data kualitatif. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui membaca naskah cerpen Hujan Terakhir karya Nurhasanah yang terdapat di majalah Bobo edisi April 2014 yang menjadi objek kajian. Dalam objek kajian ini didapatkan dokumen yang meliputi tema, amanat, penokohan dan penerapan ketiganya pada pembelajaran karakter.
Sumber data dalam penelitian ini adalah naskah cerpen Hujan Terakhir karya Nurhasanah yang terdapat di majalah Bobo edisi April 2014 dan tulisan atau buku-buku lain yang terkait. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi beberapa teknik antara lain; analisis langsung, pencatatan dan analisis dokumen.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif (interactive model of analysis) yang digunakan Miles dan Huberman. Model analisis interaktif meliputi tiga komponen-komponen penting yang selalu bergerak, yaitu reduksi data (data reduction), penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan (conclusing drawing). Prosedur penelitian merupakan suatu proses yang menggambarkan tentang kegiatan dan awal persiapan sampai pada penyusunan laporan penelitian. Adapun prosedur penelitian yang dilakukan meliputi tahap-tahap sebagai berikut: 1) tahap persiapan; 2) tahap pengumpulan data; 3) tahap analisis data; 4) tahap akhir.

4. HASIL
A. Sinopsis Cerpen Hujan Terakhir
Cerpen Hujan Terakhir menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Anisa dan ibunya yang setiap hari bekerja sebagai pemungut sampah dengan pendapatan yang sangat kecil. Anisa tinggal bersama ibunya di sebuah rumah yang sangat memprihatinkan, apalagi ketika hujan turun, pasti Anisa dan ibunya sibuk meletakkan ember-ember di dalam rumah karena atap rumah mereka yang sudah banyak bocor, sementara Ayahnya sudah satu tahun bekerja sebagai TKI di Arab Saudi.Suatu hari Anisa yang sedang menuju ke pasar menemukan sebuah tas mewah pada kursi di pinggir taman, di dalam tas itu terdapat sebuah dompet yang berisi banyak uang, lengkap dengan identitas pemiliknya. Anisa pun berniat untuk mengembalikan tas tersebut. Bergegas ia menuju ke kantor polisi terdekat untuk mengembalikan tas tersebut.Akhirnya pihak kepolisian pun berhasil menghubungi pemilik tas mewah tersebut, yang ternyata milik Nyonya Rasti Anggraini, ia merupakan pemilik salah satu perusahaan yang tersohor di Jakarta, Ibu Rasti pun meminta agar pihak kepolisian mempertemukan ia dengan Anisa, ia ingin berterima kasih karena berkat kejujuran Anisa tas yang berisi gaji karyawan dan kartu kreditnya bisa kembali.Mendengar cerita Anisa yang putus sekolah karena tidak adanya biaya, Ibu Rasti yang merasa iba pun akhirnya berniat untuk membiayai sekolah Anisa serta memperbaiki rumah Anisa. Hujan kemarin pun menjadi hujan terakhir yang ia rasakan bersama ibunya di dalam rumah karena sekarang atap rumaah mereka tidak ada yang bocor lagi.Sekarang Anisa bisa melanjutkan sekolah dan menumbuhkan kembali cita-citanya untuk menjadi seorang pramugari agar ia bisa berkeliling dunia dan dapat bertemu kembali dengan Ayahnya.

B. Nilai Moral yang Teradapat dalam Cerpen Hujan Terakhir
Dalam naskah cerpen Hujan Terakhir karya Nurhasanah dalam majalah Bobo terdapat beberapa nilai moral yang sangat menonjol yang dapat membantu membangun karakter pembacanya. Adapun nilai-nilai moral tersebut sebagai berikut.

a. Nilai Spiritual
1) Anisa merupakan seorang anak yang sholehah dan berbakti kepada orang tua, seperti yang tercantum dalam hadist Rasullullah SAW, seorang sahabat nabi mengatakan siapakah orang yang harus kita hormati setelah Allah SWT, kemudian Rasul menjawab, yang pertama Ibu, yang kedua Ibu, yang ketiga Ibu dan yang ke empat barulah Ayah kita.Seperti yang terdapat pada kutipan :
“Ibu, minta ember lagi sebelah ini juga bocor”. Begitulah perkataan yang terdengar dari Anisa dengan halus terhadap ibunya ketika hujan datang pada tengah malam itu.
2) Anisa dan ibunya merupakan orang yang selalu bersyukur, biarpun pendapatan yang mereka terima sebagai pemungut sampah sangatlah kecil, hal ini dapat dilihat dari perkataan ibu Anisa yaitu “Syukurlah nak, upah kita hari ini cukup untuk belanja besok” begitulah ucapan penuh syukur dari ibu Anisa. Seperti yang terkandung dalam Al Quran Allah SWT berfirman barang siapa yang selalu mensyukuri nikmat yang ia berikan maka Allah akan menambah nikmat yang ia berikan kepada umatnya yang selalu bersyukur.
b. Nilai Sosial
a. Jujur
Anisa merupakan anak yang jujur karena ia ingin mengembalikan tas mewah yang berisikan banyak uang kepada pemilik aslinya yaitu Ibu Rasti Anggraini. Kejujuran merupakan mata uang yang berlaku di negara manapun, karena kejujuran merupakan salah satu sikap terpuji yang harus kita miliki.
Seperti yang terdapat pada kutipan :
Ternyata Anisa tak benar-benar ke pasar dia berniat ke kantor polisi terdekat. Sesampainya di kantor poisi Anisa langsung menemui salah satu polisi di sana. “Ada apa gerangan adik ke sini?”. Tanya polisi yang ada di depannya. “ini pak saya menemukan tas ini tergeletak di kursi taman”. Jawab Anisa.

b. Disiplin
Anisa adalah seorang anak yang disiplin karena setiap pagi dia harus pergi ke pembuangan sampah untuk membantu pekerjaan ibunya.

c. Tanggung Jawab
Pak polisi menjalankan tugasnya dengan penuh rasa tanggung jawab.Pak polisi berusaha menghubungi pemilik dari tas mewah yang ditemukan oleh Anisa. Karena setiap pekerjaan yang kita lakukan haruslah dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.
Seperti yang terdapat pada kutipan :
• “Baiklah akan bapak cari tahu siapa pemilik tas ini”. Pak polisi itu menghubungi pemilik tas dengan meneleponnya dari nomor yang tertera di kartu nama.
• “Halo, selamat pagi bisakah saya bicara dengan ibu Rasti Anggraini”, bapak polisi mulai menelpon pemilik tas.
• “Tas anda ditemukan seorang anak di kursi taman”. Pak polisi menjelaskan.

d. Toleransi
Ibu Rasti Anggraini mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini terbukti ketika ia mendengar cerita Anisa yang tidak dapat melanjutkan sekolah, ia yang merasa iba pun akhirnya membantu Anisa untuk membiayai sekolahnya dan memperbaiki rumah Anisa. Karena kita sebagai manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan satu sama lain dan tidak bisa hidup sendiri serta harus saling membantu satu sama lain.
Seperti yang terdapat pada kutipan :
Mendengar tutur kata Anisa, ibu Rasti merasa iba. Atas rasa terima kasihnya, ia membiayai sekolah Anisa dan membantu memperbaiki rumah Anisa.

e. Gotong Royong
Anisa selalu membantu ibunya untuk bekerja di pembuangan sampah, dari hasil yang diperoleh dapat digunakan untuk kebutuhan mereka agar dapat bertahan hidup.Anisa merasa takut, mengapa dia dilarang pulang oleh polisi tersebut. Sesampainya Ibu Rasti di kantor polisi “Terima kasih pak atas bantuannya, dimana anak yang menemukan tas saya” kata ibu Rasti dengan senang. Polisi itu mengantarkannya menemui Anisa.
Pada kutipan di atas terlihat jelas bahwa semua pelaku-pelaku yang ada di dalam cerpen memiliki sikap gotong royong.

f. Santun
1) Anisa merupakan anak yang santun kepada orang tua maupun orang yang lebih tua. Sopan santun merupakan sikap terpuji yang harus kita miiki, karena kita harus selalu sopan santun kepada orang tua maupun kepada orang yag lebih tua dari kita, baik tutur kata maupun sikap kita.
Seperti yang terdapat pada kutipan :
• “Ibu, minta ember lagi sebelah ini juga bocor”. Begitulah perkataan yang terdengar dari Anisa dengan halus terhadap ibunya ketika hujan datang pada tengah malam itu.
• “Nama aku Anisa bu, maaf bu saya harus ke pasar sekarang ibu pasti sedang menunggu. Permisi bu”. Jawab Anisa dengan sopan.
2) Ibu Rasti merupakan seseorang yang santun. Karena sopan santun dalam bertutur dan bersikap merupakan cerminan diri kita yang sebenarnya.
• Sesampainya Ibu Rasti di kantor polisi “Terima kasih pak atas bantuannya, dimana anak yang menemukan tas saya”. Kata Ibu Rasti dengan senang.
• “Terima kasih nak atas kejujurannya, tas ini sangat penting bagi ibu karena di dalamnya adalah gaji karyawan dan kartu kredit ibu. Nama kamu siapa nak?” tanya ibu Rasti.
• Ibu Rasti pun mengantarkan Anisa pergi ke pasar.

g. Percaya Diri
Anisa merupakan anak yang percaya diri, karena kesuksesan berawal dari sebuah mimpi dan percaya kepada diri kita sendiri bahwa kita pasti bisa menggapai cita-cita yang kita inginkan.
Seperti yang terdapat pada kutipan :
Anisa sekarang melanjutkkan sekolahnya dan punya harapan untuk menggapai cita-citanya untuk keliling dunia menjadi seorang pramugari serta menemukan ayahnya.

5. SIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan yang didapat bahwa pembelajaran sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak. Jenis sastra anak meliputi prosa, puisi, dan drama. Cerpen adalah salah satu contoh sastra anak yang dapat diberikan kepada siswa sebagai media pembelajaran yang di dalamnya banyak sekali dijumpai nilai-nilai yang mencerdaskan karakter pembaca baik dari segi tema, amanat, penokohan, dan unsur intrinsik lainnya. Dari analisis yang dilakukan muncul nilai-nilai moral yang bersifat edukatif pada cerpen Hujan Terakhir karya Nurhasanah majalah Bobo seperti penilaian yang terdapat pada nilai spiritual yaitu nilai religius dan penilaian sikap sosial yaitu jujur, disiplin, tanggung jawab, toleransi, gotong royong, santun dan percaya diri.

DAFTAR RUJUKAN

Dimyanti dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Haryanto.2012. Pengertian Pendidikan Karakter. (online), (http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter/, diunduh 5 Mei 2014)

Kosasih. 2012. Dasar-dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrama Widya.

Kurniasih, Imas dan Sani, Berlian. 2014. Implementasi Kurikulum 2013: Konsep dan Penerapan. Surabaya: Kata Pena.

Munadi, Yudhi. 2012. Media Pembelajara: Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta: Gaung Persada Press.

Nurhasanah. 5 April 2014. Hujan Terakhir. Bobo, hlm. 5.

Sarwiji, Suwandi. 2011. Peran Sastra dalam Pendidikan Karakter bagi Peserta Didik.Makalah Seminar Nasional Sastra dalam Rangka Pekan Sastra Himprobsi FKIP UNS Sudiro Satoto. Makalah tidak dipublikasikan. Surakarta: UNS Press.

Sukatman. 1992. Nilai-nilai Kultural Edukatif dalam Peribahasa Indonesia. Tesis tidak dipublikasikan. Malang: IKIP Program Pasca Sarjana.

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusasteraan. Jakarta: Gramedia.

This entry was posted in Uncategorized by admin. Bookmark the permalink.

2 thoughts on “NILAI MORAL PADA CERPEN HUJAN TERAKHIR MAJALAH BOBO SEBAGAI MEDIA PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA SEKOLAH DASAR

  1. Lengkap, jelas, terang dan high education value. Lalu tinggal di terapkan untuk bangsa ini sehingga menjadi generasi mudah yang siap digunakan dimana saja sesuai dengan bidang yang telah digelutinya. Salah tolok ukuran kemajuan sebuah negara adalah kualitas pendidikan yang mampu bersaing dengan bangsa bangsa lain didunia.
    Salam pendidikan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *