Sikap Motivasi dan Prestasi Belajar Bahasa

SIKAP MOTIVASI DAN PRESTASI
BELAJAR BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS
SISWA SMPN DI PALEMBANG

Ayu Puspita Indah Sari
Universitas Bina Darma
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.3, Palembang
Sur-el: ayupuspita.indahsari@binadarma.ac.id

Abstract: This study discusses the influence the attitudes and motivation to learn the language to achievement in subjects Indonesian and English Junior High School (SMP) in Palembang. This is motivated by the value of the results of the national exams SMP throughout the city of Palembang from year to years shows that the Indonesian average score lower than the average score of the value of the subjects in English. The method used in this research is descriptive quantitative method. Population in this research is the students of SMP Negeri in the area opposite the Ulu Palembang, totaling 13 SMP, the sampling technique in this study is a simple random sample, so elected SMP 7, SMP 15, and SMPN 16. Based on the results of data analysis, it can be concluded that the attitude and motivation of students to learn the language has no effect on achievement in subjects Indonesian.
Keywords: attitude, motivation, learning, achievement, Indonesian, English

Abstrak: Penelitian ini membahas tentang pengaruh sikap dan motivasi belajar bahasa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris siswa SMP Negeri di Palembang. Hal ini dilatarbelakangi oleh nilai hasil ujian nasional SMP se-kota Palembang dari tahun ke-tahun menunjukkan bahwa nilai bahasa Indonesia skor rata-ratanya lebih rendah jika dibandingkan dengan skor rata-rata nilai mata pelajaran bahasa Inggris. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP Negeri yang ada di daerah seberang Ulu Palembang, yang berjumlah 13 SMP Negeri, teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah simple random sample, sehingga terpilih SMP Negeri 7, SMP Negeri 15, dan SMP Negeri 16. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sikap dan motivasi belajar bahasa siswa tidak berpengaruh terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

Kata kunci: sikap, motivasi, belajar, prestasi, bahasa Indonesia, bahasa Inggris

1. PENDAHULUAN
Kenyataan menunjukkan bahwa nilai hasil ujian nasional SMP se-kota Palembang dari tahun ke-tahun menunjukkan bahwa nilai bahasa Indonesia skor rata-ratanya lebih rendah jika dibandingkan dengan skor rata-rata nilai mata pelajaran bahasa Inggris. Padahal jika dilihat siswa yang mengikuti ujian tersebut bukanlah siswa asing, melainkan siswa pribumi yang lahir dan dibesarkan di Indonesia. Mereka merupakan penutur asli bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-harinya mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, bahkan rata-rata bahasa ibunya atau bahasa pertama (B1) adalah bahasa Indonesia. Selain itu, karena dibesarkan di Indonesia, mereka mengenal lingkungan dan budaya yang ada di Indonesia. Seharusnya hal tersebut dapat membentuk sebuah pengalaman bahasa karena dalam komunikasi kesehariannya mereka menggunakan bahasa Indonesia. Secara teoritis latar yang telah dimiliki tersebut akan memberikan kemudahan dalam mempelajari bahasa Indonesia, karena pemelajaran menurut Verhouven, (1997:399) merupakan sebuah proses menyatunya informasi baru dengan pengetahuan lama, dengan kata lain, pemelajar menggabungkan informasi baru dengan yang telah diketahui. Dengan mengacu pada pendapat Verhouven tersebut, dalam konteks pemelajaran bahasa formal, pemelajaran bahasa kedua lebih diuntungkan dibandingkan dengan pemelajaran bahasa asing. Pemelajaran bahasa kedua berlangsung pada situasi bahasa itu digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Pemelajaran bahasa kedua dikelilingi oleh stimulus audiovisual, sehingga mereka memiliki keuntungan motivasional dan instruksional.
Berdasarkan pada hal di atas, seharusnya hasil yang dicapai oleh siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia lebih baik jika dibandingkan dengan bahasa Inggris karena hubungan antara pengetahuan bahasa dan pengalaman akademis yang dimiliki oleh seseorang, konteks sosial pengajaran dan hasil pengajaran bahasa formal, memiliki hubungan yang kompleks dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Berdasarkan pada fenomena tersebut penulis terdorong untuk mengupas permasalahan tersebut dengan berfokus pada sikap dan motivasi belajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris serta pengaruhnya terhadap prestasi siswa dalam mata pelajaran tersebut. Sikap yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah sikap bahasa; sikap siswa terhadap bahasa Indonesia. Motivasi yang dimaksud adalah motivasi belajar siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia.
Sikap dan motivasi berpengaruh besar terhadap pemelajar (Mc Groarty, 1996:4). Sayangnya hal tersebut sering tidak disadari dan dimengerti sehingga akan sulit untuk diidentifikasi. Sikap dan motivasi memiliki hubungan yang sangat erat. Gardner (1985:10) berpendapat bahwa “Motivation …refers to the combination of efford plus desire to achieve the goal of learning the language plus favorable attitudes towards learning language.” Dengan menempatkan ‘usaha’, ‘hasrat pencapaian’, dan sikap positif secara bersama, Gardner bermaksud menunjukkan bahwa mendeskripsikan motivasi hanya dengan ‘usaha’ saja tidak cukup tetapi harus disertai keinginan mencapai tujuan pemelajaran dan sikap yang positif.
Pandangan McGroarty dan Gardner tersebut menggambarkan betapa pentingnya sikap dan motivasi dalam pemelajaran, yang kemudian menjadi latar dilakukannya penelitian ini. Survei sikap bahasa juga dapat memberikan informasi yang bernilai bagi perencana bahasa ketika mereka membuat kebijakan tentang bahasa atau variasi bahasa yang mana yang biasa digunakan sebagai bahasa resmi atau bahasa pendidikan. Sikap dapat menyimpulkan, menjelaskan, atau bahkan meramalkan perilaku. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa penelitian terhadap sikap bahasa sangat penting untuk dilakukan.
Prestasi atau keberhasilan belajar bahasa akan tercapai jika diimbangi dengan sikap positif terhadap bahasa dan pemelajaran bahasa. Demikian juga motivasi memiliki peran penting dalam mewujudkan suatu kegiatan, karena berhubungan dengan persoalan psikologis, perasaan (afeksi), dan emosi untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu yang didorong adanya tujuan, kebutuhan, dan keinginan. Menurut Tileston (2004:2) motivasi berkaitan dengan keinginan melakukan sesuatu, mempelajari hal baru dan mendorong seseorang untuk mencoba lagi ketika ia gagal. Dalam kaitannya dengan belajar, motivasi lebih dimaknai sebagai energi dalam diri siswa yang mendorong keinginan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah kegiatan belajar. Kondisi hasil ujian akhir nasional di atas merupakan indikator dan sebuah gejala masalah yang melatarbelakangi dilakukannya penelitian sikap bahasa dan motivasi belajar ini. Oleh karena itu penelitian ini mengkaji sikap bahasa dan motivasi belajar bahasa siswa yang saat ini sedang mengikuti pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP).
Masalah pokok yang akan dibahas dalam penelitian ini mengenai masalah sikap bahasa dan motivasi belajar bahasa yang difokuskan pada sikap dan motivasi belajar bahasa Indonesia pada SMP Negeri di seberang Ulu Palembang. Dari masalah pokok yang telah ada, dapat dimunculkan beberapa masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini, yaitu.
1) Bagaimanakah pengaruh sikap belajar bahasa siswa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?
2) Bagaimanakah pengaruh motivasi belajar bahasa siswa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?
3) Bagaimanakah pengaruh sikap dan motivasi belajar bahasa siswa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?
Tujuan pokok yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menjawab masalah yang berkaitan dengan sikap bahasa dan motivasi belajar bahasa yang difokuskan pada sikap dan motivasi belajar bahasa Indonesia pada SMP di seberang Ulu Palembang. Adapun tujuan penelitian ini adalah.
1) Untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh sikap belajar bahasa siswa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?
2) Untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh motivasi belajar bahasa siswa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?
3) Untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh sikap dan motivasi belajar bahasa siswa terhadap prestasi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?

2. METODOLOGI PENELITIAN
Bahasa memiliki fungsi yang sangat hakiki, yaitu sebagai alat untuk berkomunikasi antara satu individu dengan individu yang lainnya, antara individu dengan kelompok individu. Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi akan mampu mengakomodasi berbagai kepentingan masyarakat. Apa yang diinginkan oleh seseorang akan dapat dipahami dengan adanya bahasa. Secara singkat dapat dikatakan bahwa bahasa menjadi sesuatu yang sangat vital untuk memahami dan mengerti apa yang diinginkan oleh manusia. Melihat hal tersebut, bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itulah, manusia baik sebagai anggota masyarakat suatu suku maupun sebagai anggota suatu bangsa, tidak akan dapat meninggalkan bahasa dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

2.1 Teori Tentang Sikap
Ada dua pendekatan yang berbeda terhadap definisi sikap. Kedua pendekatan tersebut adalah pertama, pendekatan yang dikemukakan oleh Rosenberg dan Havland (1960), dan kedua pendekatan yang dikemukakan oleh Petty dan Cacioppo (1981). Berikut ini akan dipaparkan kedua teori tentang sikap dari kedua pendekatan tersebut. Pertama, adalah konsep multidimensional. Pendekatan yang dikemukakan oleh Rosenberg dan Havland yang menyatakan bahwa sikap merupakan gabungan tiga reaksi yang secara konseptual berbeda terhadap suatu objek tertentu. Tiga reaksi tersebut adalah afektif, kognitif, dan konatif. Untuk lebih jelasnya ketiga komponen tersebut dapat digambarkan dalam bagan berikut ini.
Afektif berkaitan dengan emosi, seperti perasaan cinta atau benci, suka atau tidak suka terhadap objek sikap. Kognitif berhubungan dengan kepercayaan, pendapat, dan penilaian terhadap objek sikap objek yang diarahkan sikap. Konatif berkaitan dengan maksud perilaku dan kecenderungan tindakan. Sikap adalah kecenderungan psikologis yang diungkapkan dengan menilai entitas tertentu dengan beberapa tingkat kepuasan dan ketidakpuasan Penilaian mengacu pada semua bentuk tanggapan penilaian, apakah jelas atau samar, kognitif, afektif, atau berkaitan dengan cara berprilaku.

2.2 Sikap Bahasa
Sikap atau attitude adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang atau suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap sesuatu perangsang atau situasi yang dihadapi” (Purwanto, 2002:140). Secara singkat dapat dikatakan bahwa pegertian sikap dalam penelitian ini memiliki tiga unsur penting yang berkaitan antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya. Ketiga unsur tersebut adalah unsur afektif, kognitif, dan konatif. Sikap yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sikap yang dikaitkan dengan bahasa, yaitu sikap peserta didik terhadap bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Penelitian ini mengadopsi pendapat dari Cooper dan Fishman, dan pendapat Holmes tentang sikap bahasa. Menurut Cooper dan Fishman (1973) sikap bahasa berdasarkan pada acuannya meliputi bahasa, perilaku bahasa, dan hal yang berkaitan dengan bahasa atau prilaku bahasa yang menjadi penanda atau lambang. Secara singkat dapat dikatakan bahwa sikap terhadap suatu bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) atau terhadap ciri suatu bahasa (suatu farina fonologis misalnya), atau terhadap bahasa sebagai penanda suatu kelompok (bahasa Indonesia sebagai bahasa orang Indonesia) adalah contoh sikap bahasa. Akan tetapi, sikap terhadap penutur bahasa Indonesia atau orang Indonesia bukanlah sikap bahasa. Anderson mendefinisikan sikap bahasa secara utuh, yaitu sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka panjang, sebagian mengenai bahasa, objek bahasa, yang memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya (dalam Chaer dan Agustina, 2004:151). Pendapat lain juga dikemukakan oleh Aslinda dan Syafyahya, yang mengatakan bahwa “sikap bahasa adalah kesopanan bereaksi terhadap suatu keadaan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat dinyatakan bahwa sikap bahasa tidak hanya mengacu pada bahasa saja, melainkan kepada sikap penutur bahasa juga. Dalam hal ini sikap dapat dimaknai dari dua sisi, yaitu dalam artian yang sempit dan dalam artian yang luas. Dalam arti sempit, sikap bahasa dapat dimaknai sebagai sikap yang mengacu pada penilaian pribadi individu terhadap suatu bahasa. Sedangkan dalam arti luas, sikap bahasa dapat diartikan sebagai pemilihan atau perencanaan bahasa.
Dalam penelitian ini, sikap bahasa dimaknai dalam artian yang sempit, yaitu perasaan dan penilaian subjek terhadap suatu bahasa. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini yang dimaksud dengan sikap bahasa adalah sikap peserta didik terhadap bahasa Indonesia dan bahas Inggris.

2.3 Teori Motivasi Belajar Bahasa
Banyak ahli yang merumuskan teori tentang motivasi. Ada juga ahli yang memperluas teori motivasi yang dikaitkan dengan pemelajaran bahasa. Salah satunya adalah Crookes dan Schmidt (1991:4) yang menyatakan bahwa ada dua fitur dalam teori motivasi belajar bahasa, yaiu fitur internal dan fitur eksternal. Ada empat faktor internal dalam motivasi belajar bahasa. Keempat faktor internal tersebut adalah.
1) Ketertarikan terhadap bahasa sasaran yang didasari oleh keberadaan sikap, pengalaman, dan latar belakang peserta didik.
2) Relevansi yang melibatkan persepsi yang dibutuhkan seseorang seperti prestasi, afiliasi, dan kekuatan yang ditemui pada waktu mengikuti proses kegiatan belajar mengajar bahasa sasaran.
3) Harapan akan keberhasilan atau kegagalan.
4) Hasil, berupa imbalan ekstrinsik yang dirasakan peserta didik.
Dari segi eksternal motivasi peserta didik dapat berupa karakteristik perilaku peserta didik yang meliputi tiga faktor. Ketiga faktor tersebut adalah.
1) Peserta didik memutuskan memilih, menaruh perhatian, dan membuat ikatan dengan peserta didik bahasa sasaran.
2) Tekun belajar untuk suatu periode tertentu dan akan kembali belajar setelah terjadinya pemutusan belajar sementara (interupsi).
3) Peserta didik memelihara tingkat aktivitas belajar yang tinggi.
Dalam kaitannya dengan pemelajaran bahasa, Gardner dan lambert (1985: 266–272) mengajukan dua bangun utama motivasi mempelajari bahasa. Kedua bangun utama tersebut adalah motivasi integratif (integrative motivation) dan motivasi instrumental (instrumental motivation). Motivasi integratif adalah keinginan untuk seperti dan berinteraksi dengan penutur bahasa sasaran. Motivasi instrumental adalah keinginan untuk mempelajari sebuah bahasa untuk mencapai tujuan seperti akademik atau keberhasilan di bidang pekerjaan. Sebaliknya, siswa yang memiliki orientasi instrumental mempelajari bahasa asing untuk mencapai tujuan akademis atau tujuan yang berkaitan dengan karir masa depan.
Motivasi belajar merupakan proses internal yang mengaktifkan, membimbing, dan mempertahankan perilaku belajar dalam rentang waktu tertentu. Motivasi belajar adalah kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas belajar. Adapun pentingnya motivasi bagi kepentingan belajar adalah (1) motivasi menentukan arah tindakan seseorang dalam belajar; (2) Motivasi menentukan intensitas atau kadar tindakan seseorang dalam belajar (analogi seperti mesin mobil), (Dimyati dan Mudjiono, 2002:80)
Penelitian ini, membahas mengenai dua motivasi belajar bahasa, yaitu motivasi integratif dan motivasi instrumental dikaitkan dengan pemelajaran bahasa kedua, dalam hal ini adalah bahasa Indonesia. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kedua motivasi tersebut akan digunakan oleh peneliti untuk memberikan penilaian terhadap tujuan siswa dalam mempelajari bahasa, dalam hal ini adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris

2.4 Prestasi Belajar
Prestasi adalah sesuatu yang dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah prestasi yang diraih oleh peserta didik berdasarkan pada nilai rapor. Prestasi yang dilihat adalah prestasi peserta didik di mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Nilai yang tercantum dalam buku rapor adalah representasi dari kemampuan, pemahaman, dan tigkat penguasaan peserta didik terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang meliputi bidang-bidang kemampuan afektif, kognitif, dan konatif.
Tolok ukur prestasi belajar peserta didik adalah jika peserta didik mampu meraih nilai di atas nilai standar, maka peserta didik tersebut dapat dikatakan sebagai peserta didik yang berprestasi. Sebaliknya jika peserta didik mendapatkan nilai di bawah nilai standar, maka peserta didik tersebut belum dapat dikatakan sebagai peserta didik yang berprestasi. Jika peserta didik mampu meraih nilai bahasa Indonesia yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bahasa Inggris, maka peserta didik tersebut memiliki prestasi terhadap bahasa Indoensia. Akan tetapi jika peserta didik memiliki nilai bahasa Inggris lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai bahasa Indonesia, peserta didik tersebut memiliki prestasi terhadap bahasa Inggris. Pengukuran prestasi peserta didik pada nilai bahasa Indonesia dan bahasa Inggris adalah untuk melihat perbandingan nilai peserta didik pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Purwanto (2002:103) ada dua variabel besar yang berpengaruh terhadap pencapaian prestasi peserta didik. Kedua faktor tersebut adalah faktor dari dalam diri peserta didik dan faktor dari luar peserta didik. Faktor ekstern meliputi (1) faktor lingkungan dan faktor instrumental. Faktor lingkungan terdiri dari lingkungan alam dan lingkungan sosial (rumah dan sekolah). (2) faktor instrumental yang terdiri atas kurikulum, pengajar, sarana dan prasarana, administrasi dan manajemen. Faktor intern meliputi dua hal yaitu (1) faktor fisiologis, dan (2) faktor psikologis. Faktor fisiologis meliputi kondisi fisik dan kondisi panca indra. Sedangka faktor psikologis terdiri dari bakat, minat, kecerdasan, motivasi, dan kemampuan kognitif. Lebih lanjut Puwanto (2002:106—107) membuat bagan terhadap dua faktor yang memiliki peranan dalam pencapaian prestasi peserta didik seperti berikut ini.
Kedua faktor tersebut, faktor intern dan faktor ekstern, menjadi satu kesatuan dan saling berhubungan satu sama lainnya dalam pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Kedua foktor tersebut memiliki peranan yang sangat besar dalam mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam mencapai prestasi belajar di sekolah. Kedua faktor tersebut saling menentukan dan saling melengkapi satu sama yang lainnya. Senada dengan hal tersebut, Purwanto menyatakan bahwa ‘…pengajar hendaknya dapat mengarahkan proses ekstern sedemikian rupa sehingga dapat mempengaruhi proses intern (2002:107).
Slameto (1991:2) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Secara sederhana dari pengertian belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh pendapat di atas, dapat diambil suatu pemahaman tentang hakikat dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan kemudian akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Menurut Suryabrata (2005:76) “penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian”. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi, atau hal-hal yang sudah disebutkan, yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian (Arikunto, 2010:3).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran data tersebut, serta penampilan dari hasilnya (Arikunto, 2010:27). Dalam penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, pemahaman akan kesimpulan penelitian akan lebih baik apabila disertai dengan tabel, grafik, bagan, gambar, atau tampilan lain. Menurut Sugiyono (2010:14) metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP Negeri yang ada di daerah seberang Ulu Palembang, yang terdiri dari 13 SMP Negeri, yaitu SMP Negeri 7, SMP Negeri 12, SMP Negeri 15, SMP Negeri 16, SMP Negeri 20, SMP Negeri 24, SMP Negeri 25, SMP Negeri 30, SMP Negeri 31, SMP Negeri 35, SMP Negeri 36, SMP Negeri 44, dan SMP Negeri 48.
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2010: 174). Dalam pengambilan sampel ada teknik-teknik tertentu yang harus digunakan. Teknik penarikan sampel atau teknik sampel adalah suatu cara mengambil sampel yang representatif dari populasi (Akdon, 2007:57), karena populasi dalam penelitian ini bersifat homogen, maka teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah simple random sample, adalah cara pengambilan sampel dari anggota populasi dengan menggunakan acak tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dalam anggota populasi tersebut (Akdon, 2007:58). Hal yang menjadi bahan pertimbangan adalah dengan menggunakan teknik ini, semua satuan elementer dari populasi akan memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel penelitian. Setiap nama sekolah menengah pertama negeri yang berada di seberang Ulu ditulis dalam secarik kertas dan digulung, kemudian dimasukkan ke dalam gelas. Selanjutnya gelas tersebut diguncang hingga didapati jumlah sampel sekolah yang telah direncanakan, yaitu 20% dari jumlah populasi. Di antara nama-nama sekolah menengah pertama yang terletak di seberang Ulu, Palembang, keluar nama SMP Negeri 7, SMP Negeri 15, dan SMP Negeri 16 terpilih secara acak sebagai sekolah yang menjadi subjek dalam penelitian ini. Dari ketiga sekolah tersebut terpilih secara acak 89 siswa laki-laki dan perempuan dari kelas VIII, yang merupakan subjek dari penelitian ini.
Dari jumlah sampel yang telah terpilih, tidak semuanya dapat dikategorikan sebagai sampel. Hal yang menjadi pertimbangan adalah karena ada beberapa siswa yang tidak mengisi angket secara benar dan utuh. Ada responden yang mengikuti les bahasa Inggris. Responden yang mengikuti les bahasa Inggris tidak dapat dijadikan sampel karena menurut asumsi peneliti siswa tersebut pasti memiliki pengetahuan kemampuan dalam berbahasa Inggris jika dibandingkan dengan responden yang tidak mengkuti les bahasa Inggris. Kemampuan yang telah mereka miliki secara langsung akan berpengaruh terhadap prestasi yang diraih.
Surakhmad dalam Akdon (2007:65) mengatakan bahwa apabila ukuran populasi sebanyak kurang lebih dari 100, pengambilan sampel sekurang-kurangnya 50% dari populasi. Apabila ukuran populasi sama dengan atau lebih dari 1000, ukuran sampel diharapkan sekurang-kurangnya 15% dari ukuran populasi. Dalam penelitian ini, jumlah anggota populasi sebanyak 800 orang siswa kelas VIII yang terdiri dari 3 sekolah yaitu, SMP Negeri 7, SMP Negeri 15, dan SMP Negeri 16, berdasarkan pengambilan sampel dengan menggunakan rumus dari Taro Yamane dalam Akdon (2007:65).

Tabel 1. Sampel Penelitian

No Nama Sekolah Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 SMP Negeri 7 12 Orang 18 Orang 30 Orang
2 SMP Negeri 15 10 Orang 15 Orang 25 Orang
3 SMP Negeri 16 14 Orang 20 Orang 34 Orang
Jumlah 89 Orang

Untuk mendapatkan data mengenai sikap berbahasa dan motivasi belajar bahasa Indonesia dan Inggris, peneliti menggunakan angket yang disebarkan ke siswa yag menjadi subjek penelitian. Angket yang dibuat dibagi menjadi tiga bagian. Ketiga bagian tersebut dapat dirinci seperti berikut ini
a. Bagian pertama berisi identitas responden.
b. Bagian kedua berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan denngan sikap berbahas siswa. Bagian ini dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu
1. Daftar pertanyaan yang berisi tentang sikap berbahasa siswa terhadap bahasa ndonesia.
2. Daftar pertanyaan yang berisi tentang sikap berbahasa siswa terhadap bahasa Inggris.
c. Bagian ketiga berisi pertanyaan-pertanyaan yang dijadikan tolok ukur untuk mengukur motivasi belajar bahasa. Bagian ini dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu (1) Daftar pertanyaan yang berisi tentang motivasi belajar berbahasa siswa terhadap bahasa Indonesia dan (2) Daftar pertanyaan yang berisi tentang motivasi belajar berbahasa siswa terhadap bahasa Inggris.
Angket dibagikan ke setiap sekolah yang menjadi subjek dalam penelitian ini. Setelah angket dibagikan, peneliti menunggu siswa dalam mengisi angket. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika ada pertanyaan tentang angket dari subjek penelitian. Selain itu, dengan melakukan hal ini diharapkan angket yang dibagikan dapat terkumpul semua pada hari itu juga.
Untuk melihat apakah sikap berbahasa dan motivasi belajar bahasa Indonesia dan bahas Inggris berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, rumus regresi linier sederhana digunakan dalam penelitian ini.

3. HASIL
Uji validitas dan reliabilitas terhadap instrument kuesioner sikap bahasa terhadap bahasa Indonesia dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak 89 kuesioner dari hasil uji dengan menggunakan SPSS versi 20. Berikut adalah hasil uji validitas dan uji reliabilitas.

a. Uji validitas untuk 27 variabel

Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
X1 70.9600 27.917 .554 .628
X2 70.7000 26.867 .465 .628
X3 71.0200 27.857 .510 .630
X4 70.9600 27.917 .554 .628
X5 70.7000 26.867 .465 .628
X6 71.0200 27.857 .510 .630
X7 69.3400 29.209 .301 .650
X8 69.2600 28.196 .488 .633
X9 69.4200 29.759 .394 .648
X10 69.5800 29.677 .343 .649
X11 70.0000 28.735 .344 .645
X12 69.1600 31.076 .113 .665
X13 69.7000 32.296 -.102 .684
X14 69.5200 31.806 -.022 .675
X15 71.2600 32.523 -.134 .686
X16 71.0000 33.020 -.211 .690
X17 70.8600 32.000 -.071 .687
X18 69.4200 31.187 .042 .674
X19 69.2200 31.196 .077 .668
X20 69.2600 31.053 .101 .667
X21 69.7600 32.227 -.091 .679
X22 69.5800 30.126 .264 .655
X23 69.5600 31.558 .025 .671
X24 69.1200 31.618 -.004 .676
X25 69.1000 31.357 .036 .673
X26 70.7600 28.349 .361 .643
X27 70.4800 28.214 .299 .649

Dari tabel di atas dinyatakan bahwa nilai alfa cronbah = 0.667, artinya hasil uji reliabilitas masih dapat diterima karena α cronbach nilainya > dari 0.6. Untuk melihat validitas dilihat pada kolom corrected Item correlation, jika nilai r pada kolom itu > r tabel maka item atau variabel valid. Dari tabel r product moment dengan α=0,05 dengan df = 50 -2 = 48 adalah 0,279 (lihat tabel r). Nilai x yang valid untuk uji di atas adalah X1 sampai X10, X11, X22, X26 dan X27. Untuk variabel yang lain akan dihapus karena nilainya tidak valid.

b. Uji reliabilitas awal dengan 21 variabel
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
X1 66.3200 28.957 .559 .802
X2 66.2400 29.411 .475 .806
X3 66.7000 29.847 .280 .815
X4 66.2400 28.594 .634 .799
X5 66.8200 28.151 .499 .803
X6 66.6800 30.100 .299 .813
X7 66.7400 29.258 .305 .815
X8 66.8200 30.722 .101 .829
X9 66.5000 28.745 .474 .805
X10 66.4600 29.968 .391 .809
X11 66.8200 29.824 .261 .817
X12 66.2200 29.522 .457 .806
X13 65.9800 29.571 .598 .803

X14 66.1000 29.357 .533 .804
X15 66.3600 27.786 .678 .794
X16 67.0200 30.836 .075 .833
X17 66.4000 28.816 .470 .805
X18 66.2000 29.714 .424 .808
X19 66.5200 30.051 .400 .809
X20 66.6800 30.549 .276 .814
X21 66.1800 30.028 .368 .810

Dari tabel di atas dijelaskan bahwa untuk melihat validitas dapat dilihat pada kolom corrected Item correlation, jika nilai r pada kolom itu > r tabel maka item atau variabel valid. Dari tabel r product moment dengan α=0,05 dengan df = 50 -2 = 48 adalah 0,279 (lihat tabel r). Nilai X yang valid untuk uji di atas adalah X1, X2, X4, X5, X6, X7, X9, X10, X12, X13, X14, X15, X17, X18, X19, dan X21.Untuk variabel yang lain akan dihapus karena nilainya tidak valid.

a. Uji reliabilitas awal dengan 25 variabel

Nilai alfa cronbah = 0.7I7, artinya hasil uji reliabilitas dapat diterima karena α cronbach nilainya > dari 0.6

b. Uji validitas untuk 25 variabel

Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
X1 63.9200 38.769 .405 .699
X2 63.9200 37.953 .436 .695
X3 63.8400 43.239 -.151 .738
X4 63.7400 39.951 .121 .723
X5 64.3400 40.351 .138 .718
X6 64.4600 41.600 .020 .726
X7 64.6000 38.122 .378 .699
X8 64.2400 40.594 .134 .718
X9 64.2600 42.931 -.123 .732
X10 62.7200 40.410 .234 .711
X11 63.0800 42.524 -.082 .737
X12 63.3200 38.304 .473 .695
X13 62.9400 41.649 .023 .725
X14 63.2400 35.778 .675 .675
X15 63.0600 41.772 .038 .721
X16 62.6400 41.256 .131 .716
X17 62.8200 39.947 .240 .710
X18 64.8400 41.933 .002 .725
X19 64.5600 39.762 .217 .712
X20 64.0600 37.200 .377 .698
X21 63.2800 35.838 .591 .679
X22 63.0200 35.693 .606 .678
X23 63.2200 33.563 .737 .660
X24 63.0200 40.387 .180 .714
X25 63.1000 36.990 .558 .686

Kesimpulan dari tabel di atas bahwa bahwa untuk melihat validitas dilihat pada kolom corrected Item correlation, jika nilai r pada kolom itu > r table maka item/variable valid. Dari tabel r product moment dengan α=0,05 dengan df = 50 -2 = 48 adalah 0,279 (lihat tabel r). Nilai x yang valid untuk uji di atas adalah X1, X2, X7,X12,X14, X20, X21, X22, X23, X25. Untuk variabel yang lain akan dihapus karena nilainya tidak valid. Setelah nilai variabel yang tidak valid dihapus maka dilakukan kembali uji reliabilitas dan validitas, maka hasilnya adalah nilai α cronbahnya 0,837, nilai ini sangat baik, sedangkan hasil uji validitasnya adalah.

Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
X1 24.5800 24.657 .473 .869
X2 24.5800 23.677 .545 .864
X7 25.2600 26.645 .094 .897
X12 23.9800 23.571 .671 .857
X14 23.9000 22.133 .761 .848
X20 24.7200 23.920 .355 .883
X21 23.9400 21.119 .822 .841
X22 23.6800 21.120 .820 .841
X23 23.8800 20.353 .813 .840
X25 23.7600 22.758 .698 .853

Dari tabel di atas dijelaskan bawa semua nilai r hitung sudah lebih besar dari r tabel (kecuali untuk X7) maka semua varibel yang tersisa diikutkan pada pengolahan data berikutnya.
Uji validitas dan reliabilitas terhadap instrument kuesioner motivasi terhadap bahasa Inggris dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak 89 kuesioner dari hasil uji dengan menggunakan SPSS versi 20.
a. Uji reliabilitas awal dengan 22 variabel

Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
X1 47.5686 27.610 .337 .823
X2 47.8039 25.281 .623 .806
X4 48.0784 27.234 .420 .819
X5 48.0784 27.474 .340 .822
X7 48.0588 27.016 .355 .822
X8 48.1569 25.375 .587 .808
X9 48.2941 24.212 .658 .801
X10 47.9020 26.690 .473 .816
X11 48.4314 26.930 .319 .825
X12 48.4510 25.093 .421 .821
X14 48.4314 26.930 .319 .825
X17 48.4510 25.093 .421 .821
X18 47.6078 27.283 .357 .822
X19 47.6863 26.060 .661 .807
X20 47.9020 26.690 .473 .816
X21 47.6275 27.558 .333 .823

Dari tabel di atas diketahui bahwa nilai alfa cronbah = 817, artinya hasil uji reliabilitas masih dapat diterima karena α cronbach nilainya > dari 0.6

b. Uji validitas untuk 22 variabel

Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
X1 66.6275 33.998 .297 .792
X2 66.8627 31.481 .579 .776
X3 66.5490 34.693 .225 .794
X4 67.1373 32.921 .496 .783
X5 67.1373 32.761 .482 .783
X6 67.0588 34.256 .231 .795
X7 67.1176 33.026 .368 .788
X8 67.2157 31.853 .507 .780
X9 67.3529 30.593 .581 .773
X10 67.3137 34.580 .138 .801
X11 67.1569 32.775 .275 .795
X12 67.0000 32.600 .512 .781
X13 67.3922 34.043 .199 .798
X14 67.4902 33.815 .218 .797
X15 67.6471 34.353 .152 .800
X16 67.8235 33.988 .205 .797
X17 67.5098 31.295 .391 .788
X18 66.6667 33.187 .392 .787
X19 66.7451 32.434 .588 .779
X20 66.9608 33.078 .419 .786
X21 66.6863 33.620 .348 .789
X22 66.7255 34.323 .228 .795

Dari tabel di atas untuk melihat validitas dilihat pada kolom corrected Item correlation, jika nilai r pada kolom itu > r tabel maka item atau variabel valid. Dari tabel r product moment dengan α=0,05 dengan df = 50 -2 = 48 adalah 0,279 (lihat tabel r). Nilai x yang valid untuk uji di atas adalah X1, X2, X4, X5, X7, X8, X9, X10, X11, X12, X14, X17, X18, X19, X20, X21. Untuk variabel yang lain akan dihapus karena nilainya tidak valid. Setelah nilai variabel yang tidak valid dihapus maka dilakukan kembali uji reliabilitas dan validitas, maka hasilnya adalah nilai α cronbahnya 0,827, nilai ini sangat baik, sedangkan hasil uji validitasnya adalah karena semua nilai r hitung sudah lebih besar dari r tabel maka semua varibel yang tersisa diikutkan pada pengolahan data berikutnya.

4.Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sikap bahasa siswa tidak berpengaruh terhadap nilai bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yang menunjukkan bahwa nilai t hitung adalah -1,038 dan signifikansi adalah 0,000, maka H0 diterima. Hasil analisis data motivasi belajar bahasa Indonesia menunjukkan bahwa nilai t hitung adalah 1,243 dan signifikansi adalah 0,000, maka H0 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi tidak berpengaruh terhadap nilai bahasa Indonesia
Dari hasil analisis terhadap sikap bahasa Inggris terhadap prestasi belajar bahasa Inggris didapat hasil yang menunjukkan bahwa ternyata sikap siswa terhadap bahasa Inggris tidak berpengaruh terhadap pestasi belajar bahasa Inggris yang diraih oleh siswa. Hal ini tampak dalam hasil analisis data berikut ini: dari output didapat bahwa nilai t hitung adalah 0,381 dan signifikansi adalah 0,704. Maka H0 di diterima. Dari output didapat bahwa nilai t hitung adalah 0,268 dan signifikansi adalah 0,000, maka H0 diditerima sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi tidak berpengaruh terhadap nilai bahasa inggris. Ternyata sikap bahasa dan motivasi belajar tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar yang diraih oleh siswa. Hal ini ditunjukkan dengan hasil anlisis data bahwa nilai F tablel adalah 3.09, sedangkan nilai F hitung adalah 1,686 dan siginifikansi 0,190> 0,05, karena F hitung < dari F tabel maka H0 diterima. DAFTAR PUSTAKA Akdon, Riduwan. 2007. Rumus dan Data dalam Aplikasi Statistika. Bandung: Alfabeta. Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta. Cooper, R. And Joshua A. Fishman. 1973. Dalam Suhardi. “Some Issues in the Theory and Measurement of Language Attitude”. Paper Presented on International Seminar on Language Testing in San Juan. Crookes, G. and Schmidt, R.W. 1991. Motivation: Reopening the Research Agenda. Language Learning 41. Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Gardner, Robert C. Dan Wallace, Lambert E. 1985. “Motivational Variables in Second Acquisition”. Canadian Journal of Psychology 13. . McGroarty, Mary. 1996. “Language Attitudes, Motivation, and Standard”. In McKay and Hornberger [ed]. Sociolinguistics and Language Teaching.Cambridge: Cambridge University Press. Petty, R.E. dan Caciopo,J.T. 1981. Attitudes and Persuasion: Classic and Contamporary Approaches. Dubuque, IA: Wm C. Brown. Purwanto, Ngalim. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rosenberg, M.J. dan C.I. Hovland.1960. “An Analysis of Affective-Cognitive Consistency.” In C.I Hovland dan M.J. Rosenberg (ed). Attitude Organization and Change. New Haven: Yale University Press. Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina Aksara. Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Jakarta: Alfabeta Arikunto, Suharsimi.2010.Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:Rineka Cipta. Suryabrata, Sumadi. 2005. Pengembangan Alat Ukur Psikologi. Yogyakarta: Andi Tileston, D.W. 2004. What Every Teacher Should Know about Student Motivation. California: Corwin Verhouven, Ludo. 1997. “Sociolinguistics and Education”. Dalam Florian Coulmas [ed]. The Handbook of Sociolinguistics. Oxford: Blackwell Publisher.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *