APA ITU CYBERCRIME?

Sebagaimana di dunia nyata, di internet atau dunia maya banyak sekali tindak kriminal yang terjadi. Baik yang dilakukan untuk mencari materi atau hanya sekedar melampiaskan keisengan saja. Hal ini menimbulkan fenomena yang sering kita sebut dengan cybercrime (kejahatan di dunia maya).

Jadi cybercrime adalah kejahatan atau tindak kriminal di dunia maya yang dilakukan untuk mencari materi atau hanya sekedar melampiaskan keisengan semata. Dalam ruang lingkup cybercrime, kita sering menemui istilah hacker. Penggunaan istilah ini dalam konteks cybercrime sebenarnya kurang tepat karena istilah hacker lebih mengacu pada seseorang yang mempunyai minat besar untuk mempelajari sistem komputer secara detail untuk meningkatkan kapabilitasnya. Besarnya minat yang dimiliki oleh seorang hacker dapat mendorongnya untuk memiliki kemampuan penguasaan sistem yang diatas rata-rata kebanyakan pengguna komputer, jadi hacker sebenarnya memiliki konotasi yang netral. Adapun yang sering melakukan aksi-aksi perusakan di internet lazimnya disebut sebagai cracker (terjemahan bebas:pembobol). Bisa dibilang para cracker ini sebenarnya adalah hacker yang memanfaatkan kemampuannya untuk hal-hal yang negatif.

Aktifitas cracking di internet memiliki lingkup yang sangat luas, mulai dari pembajakan account milik orang lain, pembajakan situs web, probing, menyebarkan virus hingga pelumpuhan target sasaran. Tindakan kriminal yang terakhir dikenal sebai DoS (Denial of Services). Dibandingkan modus kejahatan yang lain, DoS termasuk yang paling berbahaya karena tidak hanya sekedar melakukan pencurian saja tapi juga melakukan perusakan terhadap data pada sistem milik orang lain hingga sistem tersebut lumpuh total.

Salah satu aktifitas cracking yang paling dikenal dengan istilah deface. Motif tindakan ini bermacam-macam mulai dari sekedar iseng menguji “kesaktian” ilmu yang dimiliki oleh seorang cracker, persaingan bisnis, hingga motif politik. Kadang-kadang ada juga cracker yang melakukan hal ini semata-mata untuk menunjukan kelemahan suatu sistem kepada administrator yang mengelolanya.

Aktifitas destruktif lainnya yang bisa dikategorikan sebagai cybercrime adalah penyebaran virus (worm) melalui internet. Kita tentu masih ingat dengan kasus virus Mellisa atau I Love You yang cukup mengganggu pengguna email beberapa tahun yang lalu. Umumnya bakat “psikopat” yang dimilikinya merupakan suatu kebanggaan apabila berhasil melakukan tindakan yang membuat banyak orang merasa terganggu atau tidak aman.

Cybercrime atau bukan?

Tidak semua cybercrime dapat langsung dikategorikan sebagai kejahatan dalam artian yang sesungguhnya. Adapula jenis kejahatan yang masuk dalam “wilayah abu-abu” salah satunya adalah frobing atau fortscanning. Ini adalah sebutan untuk semacam tindakan pengintaian terhadap sistem milik orang lain dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari sistem yang di intai, termasuk sistem operasi yang digunakan, fort-fort yang ada, baik yang terbuka maupun yang tertutup dan sebagainya. Kalau dianalogikan kegiatan ini mirip dengan maling yang melakukan survey terlebih dahulu terhadap sasaran yang dituju. Dititik ini pelakunya tidak melakukan tindakan apapun terhadap sistem yang di intainya, namun informasi yang ia dapatkan akan sangat bermanfaat untuk melakukan aksi sesungguhnya yang mungkin destruktif. Kejahatan lain yang termasuk kedalam “wilayah abu-abu” ini adalah kejahatan yang berhubungan dengan nama domain di internet. Banyak orang yang melakukan kegiatan “percaloan” pada nama domain dengan membeli domain yang mirip dengan merk dagang atau nama perusahaan tertentu dan kemudian menjualnya dengan harga tinggi terhadap pemilik merk atau perusahaan yang bersangkutan. Kegiatan ini diistilahkan sebagai cyberquatting. Kegiatan lain yang hampir mirip dikenal sebagai typosquatting yaitu membuat nama domain “pelesetan” dari nama domain yang sudah populer. Para typosquatting berharap dapat mengeruk keuntungan dari pengunjung yang tersasar ke situsnya karena salah mengetik nama domain yang dituju pada browser-nya.

Selain kejahatan membutuhkan kemampuan teknis yang memadai, ada juga kejahatan yang menggunakan internet hanya sebagai sarana. Kejahatan semacam ini tidak layak digolongkan sebagai cybercrime, melainkan murni kriminal. Contoh kejahatan semacam ini adalah carding, yaitu pencurian nomor kartu kredit milik orang lain untuk digunakan dalam transaksi perdagangan di internet. Juga pemanfaatan media internet (webserver, mailing list) untuk menyebarkan material bajakan. Pengiriman email anonym yang berisi promosi (spamming) juga dapat dimasukan dalam kategori kejahatan yang menggunakan internet sebagai sarana. Di beberapa Negara maju, para pelaku spamming (yang diistilahkan spammer) dapat di tuntut dengan tuduhan pelanggaran privasi. Jenis-jenis cybercrime maupun kejahatan yang menggunakan internet sebagai sarana ditengarai akan makin bertambah dari waktu ke waktu, tidak hanya dari segi jumlah maupun kualitasnya, tetapi juga modusnya. Di beberapa Negara maju dimana internet sudah sangat memasyarakat, telah dikembangakan undang-undang khusus yang mengatur tentang cybercrime. Undang-undang tersebut yang disebut sebagai cyberlaw, biasanya memuat regulasi-regulasi yang harus dipatuhi oleh para pengguna internet di Negara bersangkutan lengkap dengan perangkat hukum dan sangsi bagi para pelanggarnya. Namun demikian, tidak mudah untuk bisa menjerat para pelaku cybercrime. karena internet yang tidak mengenal batasan Negara, maka penerapan cyberlaw masih terkendala oleh batasan yuridiksi. Padahal, seorang pelaku kejahatan tidak perlu berada di wilayah hukum Negara bersangkutan untuk melakukan aksinya.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*