Pengumpulan Ide Mahasiswa dengan Memanfaatkan Forum Diskusi sebagai Electronic Brainstorming

Analisis Uji Ekonometrika

Pengujian uji ekonometrika digunakan untuk mengetahui apakah model yang digunakan adalah baik / sesuai. Analisis ini terdiri dari uji autokorelasi dan uji heterokedasitas.

Pengujian heterokedasitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual pengamatan ke pengamatan yang lain. Pada penelitian ini yang ditunjukkan oleh grafik scatterplot terlihat titik-titik yang menyebar secara acak dan data menyebar dengan baik diatas dibawah angka 0 pada sumbu Y hal ini dapat diartikan tidak terjadi heterokedasitas pada model regresi.

Pengujian autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Pengujian autokorelasi pada penelitian ini dapat dilihat dari nilai durbin watson sebesar 1.776 dimana angka DW diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi.

Tabel 4.7. Uji Autokorelasi

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Durbin- Watson

1

.139a

,219

-0,11

1,776

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Predictors : (Constant), RATAX2, RATAX1

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Dependent Variable : RATAY

Sumber : Hasil pengolahan SPSS versi 12

<!–[if !supportLists]–>4.2.5 <!–[endif]–>Analisis Regresi Linier Berganda

Tujuan uji regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh data primer yang diuji.

<!–[if !supportLists]–>4.3 <!–[endif]–>Pembuktian Hipotesis

Uji korelasi merupakan uji yang bertujuan untuk mencari hubungan dan membuktikan hipotesis hubungan dua variabel bila data kedua variabel berbentuk interval atau ratio, dan sumber data dari dua variabel atau lebih adalah sama. Korelasi parsial digunakan untuk menganalisis bila peneliti bermaksud mengetahui pengaruh atau hubungan antara variabel independen dan dependen, dimana salah satu variabel independennya dibuat tetap atau dikendalikan. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS versi 12 diperoleh tabel uji regresi linear berganda sebagai berikut :

Tabel 4.8. Uji Korelasi

No.

Variabel

R-Square

1.

X1 terhadap Y

0.248

2.

X1- fear terhadap Y

0,196

3.

X1- antipation terhadap Y

0,370

4.

X2 terhadap Y

0,202

5.

X2 – pessimism terhadap Y

0,033

6.

X2 – optimism terhadap Y

0,394

7.

X2 – intimidation terhadap Y

0,091

8.

X1 dan X2 terhadap Y

0.219

Berdasarkan tabel korelasi product moment nilai r tabel pada penelitian ini adalah 0.235.

<!–[if !supportLists]–>4.3.1 <!–[endif]–>Pengujian Hipotesis H1a

Berdasarkan tabel korelasi product moment nilai r tabel pada penelitian ini adalah 0.235. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS versi 12 untuk korelasi computer anxiety (X1) terhadap penguasaan teknologi komputer (Y) diperoleh nilai r hitung 0,248. Ternyata nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel sehingga Ho di tolak dan Ha diterima. Jadi kesimpulannya ada hubungan negatif dan signifikan antara variabel computer anxiety terhadap penguasaan teknologi komputer mahasiswa. Hal ini berarti, Mahasiswa yang memiliki computer anxiety yang relatif rendah terhadap komputer, akan memperlihatkan tingkat penguasaan teknologi komputer yang lebih tinggi daripada mahasiswa yang memiliki computer anxiety yang relatif tinggi. Kontribusi perasaan computer anxiety dalam menurunkan penguasaan teknologi komputer mahasiswa adalah 24,8%.

<!–[if !supportLists]–>4.3.2 <!–[endif]–>Pengujian Hipotesis H1b

Korelasi antara tingkat ketakutan (computer anxiety – fear) terhadap penguasaan teknologi komputer (Y) diperoleh nilai r hitung 0,196. Ternyata nilai r hitung lebih kecil dari nilai r tabel sehingga Ho di terima dan Ha ditolak. Jadi kesimpulannya tidak ada hubungan signifikan antara variabel computer anxiety – fear terhadap penguasaan teknologi komputer mahasiswa. Hal ini berarti, mahasiswa yang memiliki tingkat ketakutan (fear) yang relatif rendah terhadap komputer, tidak memperlihatkan hubungan yang signifikan terhadap tingkat penguasaan teknologi komputer. Kontribusi sikap computer anxiety – fear dalam menurunkan tingkat penguasaan teknologi komputer mahasiswa adalah 19,6%.

<!–[if !supportLists]–>4.3.3 <!–[endif]–>Pengujian Hipotesis H1c

Dari hasil perhitungan uji korelasi computer anxietyantipation terhadap penguasaan teknologi komputer (Y) diperoleh nilai r hitung 0,370. Ternyata nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel sehingga Ho di tolak dan Ha diterima. Jadi kesimpulannya ada hubungan positif dan signifikan antara variabel computer anxiety – antipation terhadap penguasaan teknologi komputer mahasiswa. Hal ini berarti, perasaan computer anxiety – antipation akan meningkatkan penguasaan teknologi komputer mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki tingkat keyakinan dan kesenangan yang relatif tinggi terhadap ide pembelajaran komputer (antipation) akan memperlihatkan tingkat penguasaan teknologi komputer yang lebih tinggi daripada mahasiswa yang memiliki keyakinan dan kesenangan yang relatif rendah. Kontribusi perasaan computer anxiety – antipation dalam meningkatkan penguasaan teknologi komputer mahasiswa adalah 37,0%.

<!–[if !supportLists]–>4.3.4 <!–[endif]–>Pengujian Hipotesis H2a

Korelasi antara computer attitude terhadap penguasaan teknologi komputer (Y) diperoleh nilai r hitung 0,202. Ternyata nilai r hitung lebih kecil dari nilai r tabel sehingga Ho di terima dan Ha ditolak. Jadi kesimpulannya tidak ada hubungan signifikan antara variabel computer attitudes terhadap penguasaan teknologi komputer mahasiswa. Kontribusi perasaan computer attitude terhadap peningkatan penguasaan teknologi komputer mahasiswa adalah 20,2% .

<!–[if !supportLists]–>4.3.5 <!–[endif]–>Pengujian Hipotesis H2b

Korelasi antara computer attitude – pessimism terhadap penguasaan teknologi komputer (Y) diperoleh nilai r hitung 0,033. Ternyata nilai r hitung lebih kecil dari nilai r tabel sehingga Ho di terima dan Ha ditolak. Jadi kesimpulannya tidak ada hubungan signifikan antara variabel computer attitudes – pessimism terhadap penguasaan teknologi komputer mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki sikap pesimis yang relatif rendah terhadap komputer tidak memperlihatkan tingkat pengusaan teknologi komputer yang lebih tinggi daripada mahasiswa yang memiliki sikap pesimis yang relatif tinggi. Kontribusi perasaan computer attitudes – pessimism dalam meningkatkan penguasaan teknologi komputer mahasiswa adalah 3,3%.

<!–[if !supportLists]–>4.3.6 <!–[endif]–>Pengujian Hipotesis H2c

Korelasi antara computer attitude – optimism terhadap penguasaan teknologi komputer (Y) diperoleh nilai r hitung 0,394. Ternyata nilai r hitung lebih kecil dari nilai r tabel sehingga Ho di tolak dan Ha diterima. Jadi kesimpulannya ada hubungan signifikan antara variabel computer attitude – optimism terhadap penguasaan teknologi komputer mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki sikap optimis yang relatif tinggi terhadap komputer akan memperlihatkan tingkat penguasaan teknologi komputer yang relatif tinggi daripada mahasiswa yang memiliki sikap optimis yang relatif rendah. Kontribusi perasaan computer attitude – optimism dalam meningkatkan penguasaan teknologi komputer mahasiswa adalah 39,4%.

<!–[if !supportLists]–>4.3.7 <!–[endif]–>Pengujian Hipotesis H2d

Korelasi antara computer attitude – intimidation terhadap penguasaan teknologi komputer (Y) diperoleh nilai r hitung 0,091. Ternyata nilai r hitung lebih kecil dari nilai r tabel sehingga Ho di terima dan Ha ditolak. Jadi kesimpulannya tidak ada hubungan signifikan antara variabel computer attitude – intimidation terhadap penguasaan teknologi komputer mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki kepercayaan yang relatif rendah bahwa komputer menakutkan (intimidation) tidak memperlihatkan tingkat penguasaan teknologi komputer yang lebih tinggi. memiliki Kontribusi perasaan computer attitude – intimidation dalam meningkatkan penguasaan teknologi komputer mahasiswa adalah 9,1%.

<!–[if !supportLists]–>4.3.8 <!–[endif]–>Pengujian Hipotesis H3a

Dari hasil perhitungan uji korelasi computer anxiety dan computer attitude terhadap kemampuan inisiatif mahasiswa diperoleh nilai r hitung 0.219. Ternyata nilai r hitung lebih kecil dari nilai r tabel sehingga Ho di terima dan Ha ditolak. Jadi kesimpulannya tidak ada hubungan positif dan signifikan antara variabel computer anxiety dan computer attitude secara bersama-sama terhadap penguasaan teknologi komputer mahasiswa. Kontribusi computer anxiety dan computer attitude terhadap peningkatan penguasaan teknologi komputer secara bersama-sama dalam meningkatkan kemampuan inisiatif mahasiswa hanya 21,9%. Sisanya, yakni 79,1% peningkatan penguasaan teknologi komputer dipengaruhi hal lain yang tidak diteliti pada penelitian ini.

<!–[if !supportLists]–>4.4 <!–[endif]–>Pembahasan Hasil Analisis

Dugaan awal, computer anxiety dan computer attitude berpengaruh terhadap penguasaan teknologi komputer. Hasil regresi linear berganda diperoleh persamaan linear sebagai berikut :

Y= 4,657 – 2,56X1 + 0,57X2

Dari fungsi regresi tersebut diatas, maka diketahui sebagai berikut:

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Jika variabel computer anxiety (X1) sebesar berubah satu unit skor maka penguasaan teknologi komputer (Y) akan menurun sebesar -2,56. Tanda negatif menunjukkan perubahan tidak searah.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Jika variabel computer attitude (X2) berubah dengan satu unit skor maka penguasaan teknologi komputer (Y) juga akan menaik dengan 0,57 unit skor. Tanda positif menunjukkan perubahan yang searah. Apabila computer attitude meningkat maka penguasaan teknologi komputer mahasiswa akan meningkat.

<!–[if !supportLists]–>IV. <!–[endif]–>KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Berdasarkan uji korelasi, diperoleh fakta bahwa terdapat hubungan signifikan antara variabel computer anxiety terhadap tingkat penguasaan teknologi komputer mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki computer anxiety yang relatif rendah terhadap komputer, akan memperlihatkan tingkat penguasaan teknologi komputer yang lebih tinggi daripada mahasiswa yang memiliki computer anxiety yang relatif tinggi. Namun, mahasiswa yang memiliki tingkat ketakutan (fear) yang relatif rendah terhadap komputer, tidak memperlihatkan hubungan yang signifikan terhadap tingkat penguasaan teknologi komputer. Dan mahasiswa yang memiliki tingkat keyakinan dan kesenangan yang relatif tinggi terhadap ide pembelajaran komputer (antipation) akan memperlihatkan tingkat penguasaan teknologi komputer yang lebih tinggi daripada mahasiswa yang memiliki keyakinan dan kesenangan yang relatif rendah.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Tidak ada hubungan signifikan antara variabel computer attitudes terhadap penguasaan teknologi komputer mahasiswa. Dan mahasiswa yang memiliki sikap pesimis yang relatif rendah terhadap komputer tidak memperlihatkan tingkat pengusaan teknologi komputer yang lebih tinggi daripada mahasiswa yang memiliki sikap pesimis yang relatif tinggi. Mahasiswa yang memiliki sikap optimis yang relatif tinggi terhadap komputer akan memperlihatkan tingkat penguasaan teknologi komputer yang relatif tinggi daripada mahasiswa yang memiliki sikap optimis yang relatif rendah. Mahasiswa yang memiliki kepercayaan yang relatif rendah bahwa komputer menakutkan (intimidation) tidak memperlihatkan tingkat penguasaan teknologi komputer yang lebih tinggi

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Tidak ada hubungan positif dan signifikan antara variabel computer anxiety dan computer attitude secara bersama-sama terhadap penguasaan teknologi komputer mahasiswa. Kontribusi computer anxiety dan computer attitude terhadap peningkatan penguasaan teknologi komputer secara bersama-sama hanya 21,9%.

<!–[if !supportLists]–>V. <!–[endif]–>DAFTAR PUSTAKA

Nugrahani, A., 2009, Pengaruh Faktor Personality terhadap keahlian karyawan dalam menggunakan komputer, Fakultas Ekonomi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah, Surakarta.

Imroniyah, H., 2009, Pengaruh Faktor Demografi dan Personality terhadap keahlian dalam End User Computing, Fakultas Ekonomi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah, Surakarta.

Wibowo, A, 2005, Kajian tentang Perilaku Pengguna Sistem Informasi dengan Pendekatan Technology Acceptance Model (TAM), Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Budi Luhur.

Sudarmanto, YB., 2005, Tuntunan Metodologi Belajar, Grasindo, Jakarta.

Sudaryono, Eko Arief dan Istiati Diah Astuti. 2006. “Pengaruh Computer Anxiety

Terhadap Keahlian Karyawan Bagian Akuntansi Dalam Menggunakan Komputer.Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 5 No. 1, April: 63-77.

Suryabrata, S., 2004, Statistik non Parametrik, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Rifa, Dandes dan M. Gudono. 1999. ”Pengaruh Faktor Demografi dan Personality Terhadap Keahlian Dalam End-User Computing.” Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 2 No.1, Januari: 20-36.


Leave a Reply