JURNAL MATRIK VOL 15 NO.3 DESEMBER 2013

 INTENSITAS PERILAKU PENGGUNA E-LEARNING SYSTEM

  DENGAN MODEL UTAUT 

Fatma Sari1 dan Susan Dian P.S.2

Dosen Universitas Bina Darma

Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12 Palembang

Pos-el:  fatmasari@mail.binadarma.ac.id1, susandian@mail.binadarma.ac.id

Abstract: This study aims to determine behavioral intention in the use of e-learning system using models UTAUT. The phenomenon underlying the research is: It is not yet optimal use of e-learning by students information systems in the learning process, not yet optimal socialization of the existence of e-learning, so that is not maximized and yet utilization measurability of the impact of using e-learning for lecturers.This study is limited in its scope: analysis of the influence of performance expectancy, effort expectancy, social influence on behavioral intention in the use of e-learning on the lecturer in the University of Bina Darma. results showed that Performance Expectancy of Behavioral Intention in the use of e-learning system had no significant effect while the Effort Expectancy and Social Influence on Behavior Intention in the use of e-learning system.

 

Keywords:  E-learning System, Models UTAUT, Performance Expectancy, Effort Expectancy, and Social Influence

 

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui niat perilaku dalam penggunaan e-learning sistem menggunakan model UTAUT. Fenomena yang mendasari penelitian ini adalah belum optimalnya penggunaan e-learning oleh mahasiswa program studi sistem informasi dalam proses pembelajaran, sosialisasi keberadaan e-learning belum optimal, sehingga belum maksimal dan belum terukurnya pemanfaatan dampak penggunaan e-learning untuk mahasiswa program studi sistem informasi. Penelitian ini dibatasi dalam ruang lingkup: analisis pengaruh Performance Expextancy, Effort Expextancy, Social Influence  terhadap niat perilaku dalam penggunaan e-learning pada mahasiswa program studi sistem informasi di Universitas Bina Darma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Performance Expextancy dan Social Influence  dari niat perilaku dalam penggunaan sistem e-learning berpengaruh signifikan sedangkan Effort Expextancy pada niat perilaku dalam penggunaan e-learning sistem berpengaruh secara signifikan tetapi mempunyai hubungan yang lemah.

 

Kata kunci: E-Learning System, Models UTAUT, Performance Expectancy, Effort Expectancy, dan Pengaruh Sosial

 


  1. PENDAHULUAN

 

Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di institusi pendidikan Perguruan Tinggi atau sekolah), saat ini sudah menjadi keharusan walaupun tidak ada yang mewajibkan, karena penerapan TIK dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan suatu institusi pendidikan. Cepat atau lambat, pada akhirnya institusi pendidikan akan terkait dalam suatu komunitas yang menuntut untuk mengadopsi penerapan TIK. E-learning (electronic learning) adalah salah satu aspek penerapan TIK di institusi pendidikan. E-learning didefinisikan sebagai penyampaian konten pembelajaran atau pengalaman belajar secara elektronik mengunakan komputer dan media berbasis komputer (Smaldino, 2005). Konsep dan mekanisme belajar mengajar berbasis teknologi informasi telah berkembang ke berbagai ragam bentuk modalitas media pembelajaran. Konsep pembelajaran berbasis e-learning membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, baik dari sisi sistem maupun kontennya. Saat ini konsep e-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-learning di lembaga pendidikan maupun industri. Mengimplementasikan e-learning system adalah sebuah tindakan strategis untuk meningkatkan proses pembelajaran dan interaksi antara mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi. E-learning System berfungsi sebagai alat untuk mendukung manajemen pembelajaran dan membuat interaksi antara mahasiswa dan dosen menjadi lebih mudah. Dengan menggunakan e-learning System mahasiswa dan dosen dapat berinteraksi satu sama lain kapan saja dan dimana saja.

Untuk meraih tujuan tersebut, Universitas Bina Darma telah memanfaatkan e-learning sejak tahun 2008. Pemanfaatan e-learning diikuti dengan kebijakan dari pihak Universitas untuk mendukung penggunaan e-learning di dalam kelas tradisional (belum menggunakan e-learning) termasuk memberikan rewards kepada dosen-dosen yang aktif menggunakan e-learning. Hampir selama dua tahun pemanfaatan e-learning Universitas Bina Darma masih mengalami banyak hambatan untuk mengkombinasikan pembelajaran tradisional dengan e-learning. Beberapa dosen mengalami kesulitan-kesulitan untuk mengubah cara mereka mengajar dari pengajaran tradisional menjadi kombinasi pengajaran tradisional dengan e-learning. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dan mengetahui intensi penggunaan e-learning oleh dosen Universitas Bina Darma.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Unified Theory of Acceptance and Use of The Technology (UTAUT), yang dikembangkan oleh Venkatesh, et. al. (2003). Teori ini menyediakan alat yang berguna bagi para manajer yang perlu menilai kemungkinan keberhasilan pengenalan teknologi baru dan membantu mereka memahami penggerak penerimaan dengan tujuan untuk proaktif mendesain intervensi (termasuk pelatihan, sosialisasi, dan lain-lain) yang ditargetkan pada populasi pengguna yang mungkin cenderung kurang untuk mengadopsi dan menggunakan sistem baru.

UTAUT menggabungkan fitur-fitur yang berhasil dari delapan teori penerimaan teknologi terkemuka menjadi satu teori. Kedelapan teori terkemuka yang disatukan di dalam UTAUT adalah Theory of Reasoned Action (TRA), Technology Acceptance Model (TAM), Motivational Model (MM), Theory of Planned Behavior (TPB), Combined TAM and TPB, Model of PC Utilization (MPTU), Innovation Diffusion Theory (IDT) dan Social Cognitive Theory (SCT). UTAUT terbukti lebih berhasil dibandingkan kedelapan teori yang lain dalam menjelaskan hingga 70 persen varian pengguna. Setelah mengevaluasi kedelapan model, Venkatesh, et. Al. (2003) menemukan tujuh konstruk yang nampak menjadi determinan langsung yang signifikan terhadap behavioral intention atau use behavior dalam satu atau lebih di masing-masing model.

Konstruk-konstruk tersebut adalah performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, attitude toward using technology, dan self-efficacy. Setelah melalui pengujian lebih lanjut, mereka menemukan empat konstruk utama yang memainkan peran penting sebagai determinan langsung dari behavioral intention dan use behavior yaitu, performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating conditions. Dalam penelitian ini akan dibahas pengaruh performance expectancy, effort expectancy, social influence terhadap penerimaan penerapan e-learning system pada e-learning Universitas Bina Darma.

 

 

  1. METODOLOGI PENELITIAN

 

2.1         Pengertian E-Learning

 

E-learning dapat didefinisikan sebagai: 1) Metode belajar mengajar baru yang menggunakan media jaringan komputer dan Internet; 2) Tersampaikannya bahan ajar (konten) melalui media elektronik. Otomatis bentuk bahan ajar juga dalam bentuk elektronik (digital); 3) Adanya sistem dan aplikasi elektronik yang mendukung proses belajar mengajar.(Satria:2009)

 

2.2         Komponen-Komponen E-Learning

 

Ada beberapa komponen dalam e-learning yakni sebagai berikut: (Infrastruktur e-Learning: infrastruktur e-Learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk di dalamnya peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning melalui teleconference.

1)   Sistem dan Aplikasi e-Learning: sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management System (LMS). LMS banyak yang opensource sehingga bisa kita manfaatkan dengan mudah dan murah untuk dibangun di sekolah dan universitas kita.

2)   Konten e-Learning: konten dan bahan ajar yang ada pada e-Learning system (Learning Management System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa). Biasa disimpan dalam Learning Management System (LMS) sehingga dapat dijalankan oleh siswa kapanpun dan dimanapun.

 

2.3         Keuntungan Menggunakan E-Learning

 

E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi, peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun sesama peserta didik.

Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan e-learning yakni: 1) Fleksibel karena siswa dapat belajar kapan saja, dimana saja, dan dengan tipe pembelajaran yang berbeda-beda; 2) Menghemat waktu proses belajar mengajar; 3) Mengurangi biaya perjalanan; 4) Menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku-buku); 5) Menjangkau wilayah geografis yang lebih luas; 6) Melatih pembelajar lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.

.(Satria:2009)

2.4         Kekurangan Menggunakan E-Learning

 

Beberapa kekurangan menggunakan e-learning yakni: 1) Karena e-learning menggunakan teknologi informasi, tidak semua orang terutama orang yang masih awam dapat menggunakannya dengan baik; 2) Membuat e-learning yang interaktif dan sesuai dengan keinginan pengguna membutuhkan programming yang sulit, sehingga pembuatannya cukup lama.; 3) Tidak semua orang mau menggunakan e-learning sebagai media belajar; 4) Butuh usaha lebih dalam mempersiapkan materi pembelajaran; 5) Harus memperhatikan sisi paedagogi dari suatu materi.  (Satrio:2009)

2.5         Metode Penyampaian E-Learning

 

Metode penyampaian ­ e-Learning yang dilakukan dari objek penelitian ini adalah:

1)   Synchrounous e-Learning: pembimbing belajar dan pembelajar dalam ruang dan waktu yang sama meskipun secara tempat berbeda.

Asynchronous e-Learning: pembimbing belajar dan pembelajar dalam ruang yang sama (virtualclass), meskipun dalam waktu dan tempat yang berbeda dimanapun dan kapanpun.(Satrio:2009)

 

2.6         Metode Pembelajaran E-Learning

 

Metode pembelajaran e-Learning yang dilakukan antara lain:

1)      Instruction adanya arahan tugas yang jelas. Interaction adanya sarana untuk berkomunikasi (siswa-siswa, siswa-pengajar, siswa-sumber lain).

Evaluation adanya kriteria keberhasilan (bagi mahasiswa dan program). (Satrio:2009)

2)

2.7          Fungsi dan Manfaat E-Learning

 

Ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu:

1)      Suplemen: dikatakan berfungsi sebagai supplemen (tambahan), apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak.

2)      Komplemen (tambahan): dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi.

Substitusi (pengganti): beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa. (Satria:2009)

2.8         Model UTAUT

 

Beberapa model yang dibangun untuk menganalisis dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi diterimanya penggunaan teknologi komputer, diantaranya yang tercatat dalam berbagai literatur dan referensi hasil riset di bidang teknologi informasi adalah Theory of Reasoned Action (TRA), Theory of Planned Behaviour (TPB), dan Technology Acceptance Model (TAM). Model TAM sebenarnya diadopsi dari model TRA yaitu teori tindakan yang beralasan dengan satu premis bahwa reaksi dan persepsi seseorang terhadap sesuatu hal, akan menentukan sikap dan perilaku orang tersebut. Reaksi dan persepsi pengguna teknologi informasi akan mempengaruhi sikapnya dalam penerimaan terhadap teknologi tersebut. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhinya adalah persepsi pengguna terhadap kemanfaatan dan kemudahan penggunaan Teknologi Informasi (TI) sebagai suatu tindakan yang beralasan dalam konteks pengguna teknologi, sehingga alasan seseorang dalam melihat manfaat dan kemudahan penggunaan TI menjadikan tindakan/perilaku orang tersebut sebagai tolok ukur dalam penerimaan sebuah teknologi.

Model UTAUT ini merupakan model penerimaan teknologi informasi yang relative baru dikembangkan berdasarkan teori dan model sebelumnya. Model UTAUT menguji faktor-faktor penentu user acceptance dan perilaku penggunaan yang terdiri dari: performance expectancy, effort expectancy, social influence dan facilitating conditions, dan menemukan bahwa keempat hal tersebut berkontribusi kepada perilaku penggunaan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui behavioral intention. UTAUT juga mempertimbangkan faktor-faktor seperti gender, usia, pengalaman menggunakan secara sukarela atau tidak. Konsep UTAUT dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini:

Tabel 1. Model UTAUT

Konsep UTAUT

Akar Konsepsi

Model Sumber

Performance Expectancy Perceived Usefulness

Extrinsic Motivation

Job Fit

Realtive Advantage

Outcome Expectations

TAM

MM

MPCU

IDC

SCT

Effort Expectancy

 

 

Social Influence

Perceived Ease of Use

Complexity

Ease of Use

Subjective Norm

Social Factors

Image

TAM

MPCU

IDT

TRA,TPB,C-TAM,TPB

MPCU

IDT

Facilitating Conditions Perceived Behavior Control

Facilitating Conditions

Compatability

TPB,C-TAM-TPB

MPCU

IDT

Sumber: Azhary dan Sari (2008)

Keterkaitan antara determinan-determinan dan moderator-moderator ini dapat dilihat dari gambar 1 berikut ini:

 

Gambar 1. Model UTAUT

 

Selain itu, upaya UTAUT model untuk menjelaskan bagaimana pengaruh perbedaan individu menggunakan teknologi. Lebih khusus lagi, hubungan antara persepsi kemanfaatan, kemudahan penggunaan, dan niat penggunaan dapat dimoderatori oleh usia, jenis kelamin, dan pengalaman. Sebagai contoh, kekuatan antara manfaat yang dirasakan dan niat penggunaan bervariasi dengan usia dan gender seperti itu lebih signifikan bagi pekerja laki-laki dan muda. Pengaruh persepsi kemudahan penggunaan terhadap niat juga dimoderasi oleh jenis kelamin dan usia sedemikian rupa sehingga lebihsignifikan bagi perempuan dan pekerja yang lebih tua, dan mereka mengurangi efek dengan pengalaman. Model UTAUT menyumbang 70 persen dari varians dalam penggunaan niat, lebih baik dari studi TAM saja. Meskipun UTAUT memberikan janji besar untuk meningkatkan. pemahaman kita untuk penerimaan teknologi, awal UTUAT studi difokuskan pada organisasi besar. Selain itu, skala yang digunakan  dalam model UTAUT yang baru sebagai mereka berada dalam kombinasi sejumlah sisik sebelumnya, dan karena itu, kesesuaian skala ini perlu lebih lanjut diuji. (Venkantesh et. al., 2003).

 

2.8.1   Performance Expectancy

Performance expectancy adalah tingkat kemudahaan yang berhubungan dengan penggunaan suatu sistem. Variebel tersebut diformulasikan berdasarkan 3 (tiga) konstruk pada model atau teori sebelumnya yaitu 1) persepsi kemudahaan penggunaan (perceived easy of use-PEOU) dari model TAM; 2) Kompleksitas dari Model of PC Utilization (MPCU); 3) Kemudahan penggunaan dari teori difusi inovasi(Venkantesh et. al., 2003).

 

2.8.2   Effort Expectancy (Ekspektasi Usaha)

Effort Expectancy adalah tingkat keyakinan individu bahwa menggunakan sistem akan membantunya untuk mencapai kinerja pekerjaannya  (Venkantesh et. al., 2003). Variabel dalam model UTAUT ini disusun berdasarkan 5 (lima) konstruk pada model atau teori sebelumnya, yaitu 1) Persepsi manfaat (perceived usefulness-PU) dari model TAM; 2) Motivasi ekstrinsik; 3) Kecocokan pekerjaan; 4) Keunggulan relatif, dan 5) Ekspektasi hasil.  (Venkantesh et. al., 2003).

2.8.3   Social Influence (Pengaruh Sosial)

Social Influence adalah tingkat persepsi seseorang bahwa pihak lain percaya bahwa sebaiknya menggunakan sistem baru (Venkantesh et. al., 2003): 1) Pengaruh sosial merupakan faktor penentu terhadap tujuan perilaku dalam menggunakan teknologi informasi yang direpresentasikan sebagai norma subyektif dalam TRA, TAM, TPB; 2) Faktor sosial dalam MPCU; 3) Serta citra dalam teori difusi inovasi.

 

 

  1. METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1         Desain Penelitian

Ada berbagai istilah lain selain disain penelitian, yaitu metode, teknik, jenis, tipe dan prosedur penelitian.

Menurut Jogiyanto (2008) terdapat dua jenis penelitian yaitu riset eksploratori (exploratory research) dan riset pengujian hipotesis (hypothesis testing). Penelitian ini menggunakan riset pengujian hipotesis, yaitu peneliti membangun hipotesis dengan landasan teori dan penelitian yang relevan.

Menurut Rahadi (2010), Tujuan pokok suatu penelitian adalah untuk menjawab pertanyaan dan hipotesis. Untuk itu peneliti merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, memproses data, membuat analisis dan interpretasi. Analisis data belum dapat menjawab pertanyaan penelitian. Setelah data dianalisis dan diperoleh informasi yang lebih sederhana, hasil analisis tersebut harus diinterpretasi untuk mencari makna dan implikasi dari hasil analisis tersebut

 

3.2         Definisi Operasional

 

Definisi operasional sering dijelaskan sebagai suatu spesifikasi kegiatan peneliti dalam mengukur variabel. Definisi operasional akan mampu menjelaskan suatu fenomena secara tepat. Tabel 2 berikut menjelaskan tentang operasional variabel yang digunakan pada penelitian ini.

Tabel 2. Operasional Variabel

Variabel Dimensi Skala
Perfomance Expectancy (X1) –        Perceived Usefulness

–        Outcome Expectations  

Interval
Effort Expectancy (X2) –        Perceived ease of use

–    Ease of use

Interval
Social Influence (X3) –        Subjective norm

–        Social factor

Interval
Penerimaan E-learning Systems (Y) –  Frekuensi menggunakan

–  Pemakaian nyata

–  Niat

 

Interval

4         Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah :

  1. E-Learning Systems Universitas Bina Darma

Adalah untuk melihat kemampuan belajar mandiri mahasiswa. Sehingga dapat diketahui sejauh mana kemampuan belajar mandiri mereka untuk mencari materi tersebut agar dapat memenuhi tugas yang di minta.

  1. Angket / Kuisioner

Data yang diperlukan meliputi data tentang penerimaan e-learning systems.  Hal-hal yang dilihat adalah performance expectancyeffort expectancy dan social influence terhadap penerimaan e-learning systems. Kuisioner yang dibuat memiliki skala 1 sampai 5 (five-point likert scale).  Skala yang digunakan adalah skala linkert yang berupa interval yaitu : (1) Skor 5 untuk jawaban Sangat Setuju; (2)  Skor 4 untuk jawaban Setuju; (3)      Skor 3 untuk jawaban Netral; (4)         Skor 2 untuk jawaban Kurang Setuju; dan (5) Skor 1 untuk jawaban Sangat Tidak Setuju. Dari jawaban responden kemudian diberi skor nilai, agar dapat diolah secara kuantitatif.

 

5        Sumber Data

Penelitian ini memerlukan data untuk mengungkap fakta sehingga penelitian dapat berhasil sesuai dengan tujuan.  Data yang digunakan adalah data primer, yakni data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya.  Data primer yang dikumpulkan berupa penyebaran kuisioner kepada mahasiswa yang telah menggunakan e-learning systems.

 

6        Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah membagikan kuisioner kepada  mahasiswa.  Kuisioner merupakan suatu daftar pertanyaan yang diberikan kepada subyek penelitian dengan maksud  agar dari jawaban yang diberikan subyek, sehingga kondisi subyek yang akan diteliti dapat terungkap.

 

 

7        Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah :

  1. Deskriptif   Kuantitatif: Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
  2. Pengujian Validitas dan Reliabilitas: Uji validitas ditujukan untuk menguji sejauhmana alat ukur yang berupa kuisioner dapat mengukur apa yang hendak diukur.  Dengan menggunakan teknik korelasi product moment, dihitung dengan skor total untuk mengetahui pertanyaan mana yang valid dan tidak valid. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan nilai  cronbach alpha, karena nilai dari jawaban terdiri dari rentangan nilai dengan koefisien alpha harus lebih besar dari 0,6.
  3. Pengujian  Regresi Linier Berganda: Analisis regresi dilakukan untuk mengetahui  bagaimana variabel dependen dapat diprediksikan melalui variabel independen atau prediktor secara individual.  Dampak dari penggunaan analisis regresi dapat digunakan untuk memutuskan apakah naik dan menurunnya variabel dependen dapat dilakukan melalui menaikkan dan menurunkan keadaan variabel independen atau untuk meningkatkan keadaan variabel dependen dapat dilakukan dengan meningkatkan variabel independen atau sebaliknya.
  4. Pengujian Korelasi: Menurut Umar (2003) analisa korelasi berguna untuk menentukan suatu besaran yang menyatakan bagaimana kuat hubungan suatu variabel dengan variabel yang lain. Simbol dari besaran korelasi adalah r yang disebut koefisien korelasi sedangkan simbol parameternya adalah p.

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1.Hasil

Pada penelitian ini akan dibahas mengenai pengaruh performance expectancy, effort expectancy dan social influence terhadap penerimaan e-learning systems.  Hal pertama yang akan dilakukan adalah analisis instrument penelitian.  Instrumen penelitian dikatakan baik apabila instrument penelitian tersebut memenuhi syarat validitas dan reliable.  Kemudian dilakukan uji regresi berganda dan uji korelasi menjawab hipotesis yang telah ditentukan.

 

3.1.1. Deskripsi Responden

Deskripsi responden yang menjadi target penelitian ini dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin.

Tabel 3. Klasifikasi Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Jumlah

Persentase

Laki-laki

59

59%

Perempuan

41

41%

Total

100

100

 

3.1.2. Validitas Alat Ukur

Validitas sebuah alat ukur diketahui dengan cara mengkorelasikan skor masing-masing item dengan total skor masing-masing item. Di dalam penelitian ini jumlah responden 100 orang, menurut tabel statistika tingkat korelasi nilai r harus lebih besar dari  0,195.

Pada tabel dibawah ini terlihat bahwa nilai corrected item total correlation > 0,195 untuk nilai X1, X2, X3, Y berarti semua pertanyaan didalam kuisioner dinyatakan valid.

Tabel 4. Uji Validitas untuk Variabel X1, X2, X3 dan Y

No

Variabel

Indikator

Corrected item

1.

X1

X11

0,700

X12

0,618

X13

0,698

X14

0,649

X15

0,661

2.

X2

X21

0,560

X22

0,593

X23

0,620

X24

0,685

3.

X3

X31

0,440

X32

0,211

X33

0,456

X34

0,407

4.

Y

Y1

0,563

Y2

0,530

Y3

0,561

Y4

0,668

Y5

0,738

Y6

0,679

Y7

0,458

Y8

0,557

 

 

3.1.3. Reliabilitas Alat Ukur

Pengujian reliabilitas adalah berkaitan dengan masalah adanya kepercayaan terhadap alat test (instrumen).  Suatu instrumen dapat memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi jika hasil dari pengujian instrumen tersebut menunjukkan hasil yang tetap.  Dengan demikian,  masalah reliabilitas berhubungan dengan masalah ketetapan hasil instrumen.  Atau kalaupun terjadi perubahan hasil instrumen, namun perubahan tersebut dianggap tidak berarti.

 

3.1.4. Uji Analisis Regresi Berganda

Dalam regresi linier berganda terdapat tiga persyaratan uji analisis regresi berganda yang harus dipenuhi, yaitu uji normalitas, uji heterokedasitas dan uji autokorelasi.

  1. Uji Normalitas: Tujuan dilakukannya uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah model regresi,  variabel  terikat (Y) dan variabel bebas (X1, X2 dan X3) keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak.  Pada penelitian ini data terdistribusi normal dalam model regresi dapat dilihat pada grafik normal P-P Plot,  di mana titik-titik  yang menyebar di sekitar garis diagonal serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal sehingga dikatakan berdistribusi normal.

 

 

Gambar 2. Uji Normalitas Variabel

 

  1. Uji Heterokedasitas: Pengujian heterokedasitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi  terjadi ketidaksamaan varians dari residual pengamatan ke pengamatan yang lain dengan dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut : (1) Jika ada data yang membentuk pola tertentu,  seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu dan teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka terjadi heterokedasitas.; (2) Jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka o pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedasitas.

Pada penelitian ini yang ditunjukkan oleh grafik scatterplot  terlihat titik-titik yang menyebar secara acak dan data menyebar dengan baik diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, hal ini dapat diartikan tidak terjadi heterokedasitas pada model regresi.

 

Gambar 3. Uji Heterokedasitas

 

  1. Uji Autokorelasi: Pengujian autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah ada korelasi antara kesalahan penggangu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1.  Pengujian autokorelasi pada penelitian ini dapat dilihat dari nilai durbin  watson  sebesar 1.919 dimana angka durbin watson di antara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi.
  2. Uji Regresi Linier Berganda: Pada  penelitian ini,  telah dipenuhi uji normalitas, uji heterokedasitas dan uji autokorelasi, sehingga dapat dibentuk model persamaan linier berganda. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS versi 16 diperoleh tabel uji regresi  linier berganda sebagai berikut :

 

Tabel 5. Uji Regresi Linear Berganda

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

 

B

Std. Error

Beta

t

Sig.

1 (Constant)

.981

.271

3.622

.000

RataX1

.245

.103

.273

2.367

.020

RataX2

.067

.095

.076

.703

.484

RataX3

.386

.098

.394

3.921

.000

2 (Constant)

1.027

.262

3.919

.000

RataX1

.283

.088

.315

3.221

.002

RataX3

.401

.096

.409

4.181

.000

a. Dependent Variable: RataY

 

  1. Uji Korelasi: Uji korelasi merupakan uji yang bertujuan untuk mencari hubungan dan membuktikan hipotesis hubungan antar variabel.  Korelasi parsial digunakan untuk menganalisis pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependent.  Hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS versi 16 diperoleh tabel uji regresi linier berganda sebagai berikut :

 

Tabel 6. Hasil Uji Regresi Linier Berganda

No.

Variabel

R

1.

X1 terhadap Y

0,568

2.

X2 terhadap Y

0,477

3.

X3 terhadap Y

0,604

4.

X1, X2 dan X3 terhadap Y

0,655

 

Dari hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS versi 16, untuk korelasi X1 terhadap Y diperoleh  nilai R sebesar 0,568,  korelasi X2 terhadap Y diperoleh nilai R sebesar 0,477, korelasi X3 terhadap Y diperoleh nilai R sebesar 0,604, dan korelasi X1, X2 dan X3 terhadap Y diperoleh nilai R sebesar 0,655.

 

3.2.Pembahasan

Dugaan awal, bahwa performance expectancy,  effort expectancy dan social influence berpengaruh terhadap penerimaan e-learning systems.  Tabel 5. yang menunjukkan uji regresi linear berganda diperoleh persamaan linear sebagai berikut :

 

Dari fungsi regresi tersebut diatas, maka diketahui sebagai berikut: (1) Jika variabel performance expectation (X1) berubah sebesar satu unit skor maka penerimaan e-learning systems (Y) juga akan meningkat dengan 0,283 unit skor.  Tanda positf menunjukkan perubahan yang searah.  Apabila performance expectancy meningkat penerimaan e-learning systems juga meningkat.; (2)  Jika variabel social influence (X3) berubah sebesar satu unit skor maka penerimaan e-learning systems (Y) juga akan meningkat dengan 0,401 unit skor.  Tanda positf menunjukkan perubahan yang searah.  Apabila social influence meningkat maka penerimaan e-learning systems juga akan meningkat.

Penelitian ini akan menguji hubungan masing masing variabel secara terpisah dengan menggunakan uji statistik korelasi.  Teknik ini dipilih untuk memberikan gambaran hubungan masing masing variabel sebagaimana digambarkan dalam model, walaupun teknik ini belum menghasilkan nilai pengaruh secara simultan antara variabel independent dan dependent.

Dari tabel 6 dapat diketahui bahwa performance expectancy  memiliki korelasi positif dan signifikan terhadap penerimaan e-learning systems. Hasil ini dapat disebabkan oleh persepsi mahasiswa bahwa e-learning systems dapat berguna dalam meningkatkan efektifitas dan kualitas pembelajaran sehingga mahasiswa dapat memahami materi pembelajaran dengan lebih cepat.  Dari hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS versi 16 untuk korelasi performance expectancy (X1) terhadap penerimaan e-learning systems (Y) diperoleh nilai R 0,568.   Ternyata nilai R lebih besar dari nilai koefisien korelasi (0,5) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima.  Jadi kesimpulannya ada hubungan positif dan signifikan antara  variabel performance expectancy  terhadap penerimaan e-learning systems. Kontribusi performance expectancy meningkatkan penerimaan e-learning systems adalah sebesar 56,8%.

Perhitungan uji korelasi effort  expectancy  memiliki korelasi positif dan signifikan tetapi keeratan hubungan antara keduanya lemah terhadap penerimaan pembelajaran dengan menggunakan e-learning systems diperoleh nilai R sebesar 0,477.  Nilai koefisien korelasi lebih besar dari nilai R sehingga Ho diterima dan Ha ditolak.   Jadi kesimpulannya ada hubungan positif dan signifikan tetapi keeratan hubungan antara keduanya lemah antara  variabel effort expectancy  terhadap penerimaan e-learning systems Kontribusi effort expectancy meningkatkan penerimaan e-learning systems adalah sebesar 47,7%.  Diduga hal ini disebabkan oleh persepsi mahasiswa bahwa dengan menggunakan e-learning systems belum dapat menolongnya untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam proses pembelajaran dan membuat mereka belum memahami dengan jelas hal yang disampaikan dalam pembelajaran. Hal ini mendukung hasil penelitian Venkatesh, dkk. (2003)

Uji bersama, yang melihat hubungan antara ketiga variabel bebas terhadap variabel terikat menunjukkan bahwa nilai r hitung yang diperoleh sebesar 0,655  Nilai R lebih besar dari nilai koefisien korelasi sehingga Ho ditolak dan Ha diterima.  Jadi kesimpulannya ada hubungan positif dan signifikan antara variabel performance expectancy, effort expectancy dan social influence terhadap penerimaan e-learning systems.  Kontribusi ketiga variabel bebas terhadap peningkatan penerimaan e-learning systems adalah sebesar 65,5%.  Sisanya 35,5% penerimaan e-learning systems dipengaruhi hal lain yang tidak diteliti pada penelitian ini.

 

 

  1. SIMPULAN

 

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh simpulan sebagai berikut: (1) Berdasarkan uji korelasi,  diperoleh fakta bahwa  terdapat hubungan positif dan signifikan antara ketiga variabel bebas, yakni performance expectancy, effort expectancy dan social influence terhadap penerimaan e-learning systems, baik secara parsial maupun secara bersama-sama. Tetapi effort expectancy mempunyai hubungan yg lemah terhadap e-learning systems.; (2) Kontribusi performance expectancy, effort expectancy dan social influence meningkatkan penerimaan e-learning systems, secara berturut-turut sebesar 56,8%,   47,7%,dan 60,4%.; (3) Kontribusi ketiga variabel bebas terhadap peningkatan penerimaan e-learning systems adalah sebesar 65,5%.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Jogiyanto, HM. 2008. Metodologi Penelitian Sistem Informasi: Pedoman dan Contoh Melakukan Penelitian di Bidang Sistem Teknologi Informasi. Yogyakarta: Andi.

 

Rahadi, Dedi Rianto. 2010. Proses Riset Penelitian. Malang: Tunggal Mandiri Publishing.

 

Smalldino, Sharon E., 2005, Instructional Technology and Media for Learning,

 8th ed, Inc,New Jersey Wahono:Prentice-Hall.

 

 

Romi Satria. 2009. Pengantar e-Learning dan Pengembangannya. http://ilmukomputer.com diakses pada tanggal 17 November 2010.

 

Umar, Husein.  2003.  Metode Riset Bisnis.  Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

 

Venkatesh, V., Morris, M.G., Davis, G.B., dan Davis, F.D. 2003. User acceptance of information technology: toward a unified view. MIS Quarterly, 27(3).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *