jurnal

ANALISIS KOMPARATIF MANAJEMEN INVESTASI PERLUASAN LAHAN PERKEBUNAN DI KECAMATAN GUNUNG MEGANG KABUPATEN MUARA ENIM

(STUDI KASUS : PERKEBUNAN SAWIT DAN KARET)

NOVITA PERMATA SARI

ABSTRAK    : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis tingkat keuntungan masing-masing investasi perluasan lahan perkebunan sawit dan karet serta untuk mengetahui dan menganalisis perbandingan dua investasi perluasan lahan yang paling menguntungkan antara perkebunan sawit dan karet. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa investasi perluasan lahan perkebunan sawit menguntungkan karena memiliki NPV sebesar Rp 3.464.989.520, IRR sebesar 69,91 %, PP selama 1 tahun 9 bulan 2 hari (dengan DPP selama 2 tahun 4 bulan 5 hari), PI sebesar 6,93, dan ARR sebesar 69,41 %. Sedangkan investasi perluasan lahan perkebunan karet juga menguntungkan karena memiliki NPV sebesar Rp3.974.206.500, IRR sebesar 60,94 %, PP selama 1 tahun 11 bulan 19 hari (dengan DPP selama 2 tahun 5 bulan 25 hari), PI sebesar 7,95, dan ARR sebesar 73,13 %. Apabila hasil penelitian dua jenis investasi perluasan lahan antara perkebunan sawit dan karet dianalisis secara komparatif maka dapat disimpulkan bahwa perkebunan karet merupakan investasi perluasan lahan perkebunan yang paling menguntungkan.

Kata Kunci : Manajemen Investasi, Perkebunan Sawit, Perkebunan Karet


PENDAHULUAN

Usaha perkebunan yang saat ini dianggap potensial adalah usaha perkebunan sawit. Berbagai perkembangan dan kajian yang ada menunjukkan bahwa usaha perkebunan sawit di masa depan akan semakin meningkat. Komoditi di Indonesia yang juga memiliki potensi yang besar adalah karet. Karet juga merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia.  Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1,0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1,3 juta ton pada tahun 1995 dan 1,9 juta ton pada tahun 2004.  Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2,25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-migas.

Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk perkebunan sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan, salah satunya adalah Sumatera Selatan dengan luas lahan 690.729 ha untuk komoditi sawit dan 662.686 ha untuk komoditi karet. Salah satu wilayah potensi sawit dan karet di Sumatera Selatan berada di kabupaten Muara Enim. Luas potensi pengembangan perkebunan sawit di kabupaten Muara Enim adalah 95.152 ha dan 114.696 ha untuk perkebunan karet. Kecamatan Gunung Megang memiliki luas potensi pengembangan perkebunan sawit sebesar 13.615 ha dan 12.137 ha untuk perkebunan karet. Potensi perluasan lahan perkebunan di Kecamatan Gunung Megang relatif tinggi, namun keputusan untuk melakukan investasi perluasan lahan perkebunan masih sulit untuk direalisasikan oleh para pelaku usaha perkebunan.

Berbagai kendala yang harus dihadapi oleh para pelaku usaha perkebunan sehingga mereka masih sulit untuk mengambil keputusan investasi, seperti infrastruktur yang kurang memadai menyebabkan distribusi hasil perkebunan menjadi relatif lebih lama karena desa Sido Mulyo yang memiliki lahan potensial tersebut berada di daerah transmigrasi yang sangat jauh dari ibukota kabupaten Muara Enim. Kendala selanjutnya adalah harga sawit dan karet yang fluktuatif menyebabkan para pelaku usaha perkebunan bingung untuk memprediksikan laba yang dapat diperoleh apabila mereka melakukan investasi perluasan lahan, selain itu kurangnya konsolidasi sesama anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) menyebabkan mereka tidak mampu untuk menuntut pemerintah agar mau memberikan standar penentuan harga hasil perkebunan sawit dan karet. Biaya pemeliharaan perkebunan yang relatif tinggi juga menjadi suatu hal yang dipermasalahkan karena kurangnya subsidi pemerintah terhadap pupuk dan keterbatasan persediaan pupuk di pasar menyebabkan harga pupuk relatif tinggi dan jumlah pembelian pupuk sangat terbatas.

Peluang investasi perluasan lahan perkebunan sawit dan karet sebenarnya cukup kompetitif dibandingkan dengan peluang investasi perkebunan lainnya hanya saja masih banyak pelaku usaha perkebunan masih ragu untuk memilih investasi perluasan lahan perkebunan yang lebih menguntungkan di antara dua proyek investasi yaitu perkebunan sawit dan karet. Perluasan lahan ini tentunya diharapkan dapat berkembang sesuai dengan tujuan pelaku usaha perkebunan yaitu memperoleh laba sebesar-besarnya. Proses pengambilan keputusan untuk melakukan investasi merupakan suatu proses yang cukup panjang, sulit dan komplek, sehingga membutuhkan pertimbangan yang benar-benar matang, termasuk salah satunya adalah penilaian berbagai macam usulan dalam manajemen investasi yang dapat dilakukan dengan metode analisis penganggaran modal dengan metode Net Present Value (NPV), metode Internal Rate of Return (IRR), metode Payback Period (PP), metode Profitability Index (PI), metode Average Rate of Return (ARR)

Uraian tersebut yang telah menjadi latar belakang peneliti untuk mengambil judul penelitian “Analisis Komparatif Manajemen Investasi Perluasan Lahan Perkebunan di Kecamatan Gunung Megang Kabupaten Muara Enim (Studi Kasus : Perkebunan Sawit dan Karet) dengan tujuan untuk mengetahui dan menganalisis tingkat keuntungan investasi perluasan lahan perkebunan sawit dan karet di Kecamatan Gunung Megang Kabupaten Muara Enim, serta mengetahui dan menganalisis perbandingan tingkat keuntungan kedua investasi tersebut sehingga diperoleh investasi perluasan lahan perkebunan yang paling menguntungkan antara perkebunan sawit dan karet.

KESIMPULAN

Hasil dan pembahasan dalam penelitian ini adalah investasi perluasan lahan perkebunan sawit apabila ditinjau dari aspek keuangan dengan menggunakan metode penganggaran modal, yaitu metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP), Profitability Index (PI), dan Average Rate of Return (ARR) dan dikaitkan dengan kriteria keputusan berdasarkan teori yang ada maka dapat dikatakan investasi tersebut menguntungkan sehingga pelaku usaha perkebunan akan mendapatkan tambahan kemakmuran riil apabila melakukan keputusan investasi sesuai dengan tujuan normatif manajemen keuangan yaitu meningkatkan kemakmuran pemilik usaha.

Investasi perluasan lahan perkebunan karet apabila ditinjau dari aspek keuangan dengan menggunakan metode penganggaran modal, yaitu metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP), Profitability Index (PI), dan Average Rate of Return (ARR) dan dikaitkan dengan kriteria keputusan berdasarkan teori yang ada maka dapat dikatakan investasi tersebut juga menguntungkan sehingga pelaku usaha perkebunan akan mendapatkan tambahan kemakmuran riil apabila melakukan keputusan investasi sesuai dengan tujuan normatif manajemen keuangan yaitu meningkatkan kemakmuran pemilik usaha.

Dua jenis investasi perluasan lahan antara perkebunan sawit dan karet apabila dianalisis secara komparatif dan ditinjau dari aspek keuangan dengan menggunakan metode penganggaran modal, yaitu metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP), Profitability Index (PI), dan Average Rate of Return (ARR) dan dikaitkan dengan kriteria keputusan berdasarkan teori yang ada dari masing-masing investasi maka akan diperoleh satu investasi yang paling menguntungkan dan dapat disimpulkan bahwa investasi perluasan lahan perkebunan karet lebih menguntungkan daripada investasi perluasan lahan perkebunan sawit.

SARAN

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pelaku usaha perkebunan dalam melakukan keputusan investasi, namun hendaknya para pelaku tidak hanya mengambil keputusan investasi berdasarkan tingkat keuntungan dari aspek keuangan, tetapi harus mempertimbangkan keputusan investasi dari berbagai aspek lainnya, seperti aspek pemasaran, aspek SDM, aspek sosial, dan aspek lainnya.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi masyarakat umum untuk melakukan investasi di bidang perkebunan khususnya sawit dan karet, namun hendaknya masyarakat umum juga harus mempelajari terlebih dahulu tentang perkebunan karena investasi di bidang perkebunan berbeda dengan investasi lainnya. Ketika investor melakukan keputusan investasi di bidang perkebunan maka investor tidak mendapatkan keuntungan riil pada tahun pertama, keuntungan riil baru didapatkan saat perkebunan mencapai usia produktif. Selain itu, investor juga harus memahami tentang teknis budidaya sawit ataupun karet, mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman, serta hama dan penyakit dari sawit ataupun karet.

Penelitian ini diharapkan dapat disempurnakan oleh mahasiswa yang akan melakukan penelitian selanjutnya mengenai manajemen investasi khususnya perluasan lahan perkebunan sawit dan karet agar penelitian ini menjadi lebih baik dan dapat menjadi pedoman serta bahan pertimbangan bagi para investor untuk melakukan investasi khususnya di bidang perkebunan sawit dan karet serta dapat menjadi referensi bagi mahasiswa lainnya dalam mempelajari manajemen investasi menggunakan metode penganggaran modal, yaitu metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP), Profitability Index (PI), dan Average Rate of Return (ARR).

Kasus sengketa lahan perkebunan dewasa ini marak terjadi, seperti kasus sengketa lahan perkebunan sawit yang berujung pada kasus pembantaian yang terjadi di Mesuji, Lampung. Oleh karena itu, bagi para pemodal yang ingin berinvestasi di bidang perkebunan hendaknya mengurus dokumen-dokumen bukti kepemilikan tanah perkebunan untuk menghindari terjadinya kasus sengketa lahan.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) hendaknya mampu meningkatkan konsolidasi anggotanya sehingga para pelaku usaha perkebunan tidak lagi hanya memikirkan kesejahteraan masing-masing individu, akan tetapi lebih memprioritaskan kesejahteraan sesama anggota kelompok sehingga Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dapat menjadi suatu ikatan yang mampu menuntut pemerintah untuk lebih mempedulikan kesejahteraan petani.

Pemerintah sendiri hendaknya juga mampu untuk lebih memperhatikan nasib para petani Indonesia, khususnya perkebunan sawit dan karet yang merupakan komoditi ekspor non-migas unggulan agar ekspor pun akan lebih meningkat. Pemerintah hendaknya melakukan perbaikan terhadap infrastruktur untuk memperlancar proses distribusi hasil perkebunan dan meningkatkan subsidi pupuk agar persediaan pupuk tidak terbatas serta lebih meningkatkan transparansi terhadap standar penentuan harga hasil perkebunan agar para pelaku usaha perkebunan tidak dibingungkan lagi oleh standar harga yang fluktuatif tersebut.

Leave a Reply