. .

Adil

Adil adalah harapan setiap mahluk tapi pengertian adil sendiri tak pernah sama. mengharapkan keadilan bukan hanya berlaku hanya pada manusia saja tapi ini sudah terjadi sebelum manusia itu ada dimuka bumi ini. sebagai kisah para syaiton yang meminta keadilan kepada Allah karena Allah menciptakan manusia bernama Adam dan Allah SWT. meminta agar mahluk lainnya termasuk Syaiton menyembah Adam. Allah SWT. maha mengetahui, maha segala-galanya maka apapun keputusannya sesungguhnya itu adalah kebaikan.

Keadilan sendiri yang berlaku pada manusia seharusnya bukan berarti segala sesuatunya harus sama. kenyataan ini akan sangat memicu kecemburuan dan kesia-siaan. contohnya, jika sebuah keluarga memiliki anak yang satu masih sekolah di SD dan yang satunya SMU, kebutuhan mereka tidak mungkin sama, keinginan juga demikian. jadi apa mungkin sebagai orang tua harus memberikan segala sesuatunya harus sama banyak, sama bentuk dan sama rasa. tentu hal ini akan tidak sesuai dan jauh dari rasa keadilan.

Al Qur’an menjadikan keadilan di antara manusia itu sebagai risalah langit, sebagaimana firman Allah s.w.t.: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al Hadid: 25).

yang dimaksud dengan keadilan adalah hendaknya kita memberikan kepada segala yang berhak akan haknya, baik secara pribadi atau secara berjamaah, atau secara nilai apa pun, tanpa melebihi atau mengurangi, sehingga tidak sampai mengurangi haknya dan tidak pula menyelewengkan hak orang lain.

Allah SWT berfirman: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (Ar-Rahman: 7-9)

Kata ‘adil itu sendiri adalah bentuk masdar dari kata kerja ‘adala – ya‘dilu – ‘adlan – wa ‘udulan – wa ‘adalatan (عَدَلَ – يَعْدِلُ – عَدْلاً – وَعُدُوْلاً – وَعَداَلَةً) .[1] Kata kerja ini berakar dengan huruf-huruf ‘ain (عَيْن), dal (دَال) dan lam (لاَم), yang makna pokoknya adalah ‘al-istiwa’’ (اَلْاِسْتِوَاء = keadaan lurus) dan ‘al-i‘wijaj’ (اَلْاِعْوِجَاج = keadaan menyimpang).[2] Jadi rangkaian huruf-huruf tersebut mengandung makna yang bertolak belakang, yakni lurus atau sama dan bengkok atau berbeda. Dari makna pertama, kata ‘adil berarti “menetapkan hukum dengan benar”. Jadi, seorang yang ‘adil adalah berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran ganda. Persamaan itulah yang merupakan makna asal kata ‘adil, yang menjadikan pelakunya “tidak berpihak” kepada salah seorang yang berselisih, dan pada dasarnya pula seorang yang ‘adil berpihak kepada yang benar, karena baik yang benar maupun yang salah sama-sama harus memperoleh haknya. Dengan demikian, ia melakukan sesuatu yang patut dan tidak sewenang-wenang.

 

   Send article as PDF   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *