Pengaruh Kualitas Audit Internal Terhadap Pelaksanaan Good Corporate Governance Pada PT. Pertamina

PENGARUH KUALITAS AUDIT INTERNAL
TERHADAP PELAKSANAAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE
PADA PT. PERTAMINA (Persero) UP III PLAJU

Oleh
Henni Indriyani, SE., Ak., M.Si
Muhammadinah, SE., M.Si

Abstrak: Penelitian ini dilakukan di PT. Pertamina (Persero) UP III Plaju. Tujuan dilakukannya penelitian ini ádalah untuk mengetahui pengaruh audit. Internal terhadap peningkatan good corporate governance pada PT. Pertamina. Variable yang digunakan dalam penelitian ini ádalah variable audit. Internal dan good corporate governance. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini ádalah analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian yang diperoleh adalah audit internal berpengaruh signifikan terhadap peningkatan good corporate governance di PT. Pertamina. Audit internal yang dilaksanakan di PT Pertamina telah memadai hal ini dapat dilihat dari independensi, kompetensi, program audit, pelaksanaan audit, laporan hasil audit dan tindak lanjut audit yang dilaksanakan sudah dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku. Kemudian good corporate governance yang ada di PT Pertamina saat ini sudah meningkat hal ini dapat dilihat dari akuntabilitas, kewajaran, transparansi, pertanggungjawaban dan kemandirian yang diterapkan dalam perusahaan yang dilakukan berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku dan sesuai dengan corporate yang sehat.

Kata Kunci: Audit Internal, Good Corporate Governance

Abstract: This Research is done in PT. Pertamina ( Persero) UP III Plaju. Target doing of this research is to know audit influence. Internal to improvement of good corporate governance of at PT. Pertamina. Variable used in this research are variable audit. Internal and good corporate governance. method of Analysis used in this research is analyse linear regresi modestly. Result of research obtained by is internal audit have an effect on signifikan to improvement of good corporate governance in PT. Pertamina. Internal Audit executed in PT Pertamina have adequate of this matter is visible from independency, interest, program audit, execution make an audit of, report of result of audit and follow-up of audit executed by have been done by as according to order going into effect. Later;Then good corporate governance of exist in PT Pertamina in this time have mounted this matter is visible from akuntabilitas, equity, transparency, responsibility and independence applied in company done by pursuant to regulation perundang – invitation going into effect and as according to healthy corporate

Keyword: Internal Audit, Good Corporate Governance
PENDAHULUAN

Good corporate governance merupakan suatu system bagaimana suatu organisasi dikelola dan dikendalikan. System governance antara lain mengatur mekanisme pengambilan keputusan pada tingkat atas organisasi. Corporate governance mengatur hubungan antara komisaris, direksi dan manajemen perusahaan supaya terjadi keseimbangan dalam pengelolaan organisasi.

Good corporate governance menurut Moeljono (2005, 27) adalah system yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah untuk semua stakeholder. Moeljono mengungkapkan ada dua hal yang ditekankan dalam konsep ini, pertama: pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar (akurat), tepat waktunya dan kedua: kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan secara akurat, tepat waktu dan transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan.

Dalam meningkatkan good corporate governance suatu perusahaan memerlukan peran auditor internal. Auditor internal bertugas meneliti dan mengevaluasi suatu system akuntansi serta menilai kebijakan dan program kerja manajemen yang dilaksanakan. Auditor internal merupakan salah satu profesi yang menunjang peningkatan GCG, yang pada saat ini telah berkembang menjadi komponen utama dalam meningkatkan pengelolaan perusahaan secara efektif dan efisien.

Profesi audit internal megalami perubahan dari waktu ke waktu, sedangkan keberadaan audit internal diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan sebagai fungsi yang independen dalam menciptakan sikap profesional dalam setiap aktivitasnya, sehingga mendorong pihak terkait untuk terus melakukan pengkajian terhadap profesi ini.

Peran audit internal adalah untuk menyediakan informasi yang akurat bagi manajemen dalam pengambilan keputusan. Masalah yang kemudian timbul berkaitan dengan peran audit internal adalah seberapa efektif keberadaan audit internal dalam memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

PT. Pertamina (Persero) selama ini merupakan perusahan pertambangan minyak dan gas bumi negara dengan status Badan Usaha Milik Negara. Namun sejak tahun 2003 telah terjadi perubahan status Pertamina menjadi PT. Pertamina (Persero). Perubahan ini didasarkan pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 31 Tahun 2003 Tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Pertamina) menjadi Perusahaan Perseroaan (Persero).

Perubahan status ini dilakukan dengan tujuan dan harapan bahwa Pertamina (Persero) dapat menjadi Leader Company dalam bidangnya dengan mengusahakan terwujudnya good corporate governance dimasa – masa yang akan datang. Selain itu diharapkan PT. Pertamina (Persero) mampu memenuhi semua kebutuhan minyak dan gas bumi baik di dalam negeri maupun luar negeri sebagaimana tertuang dalam visi, misi dan tujuan yang diemban perusahaan.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian audit.
Menurut Mulyadi (2002,5) audit. adalah statu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan – pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan – pernyataan tersebut sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan serta penyampaian hasil – hasilnya kepada pemakai kepentingan.

Kemudian Mulyadi mendefinisikan audit. Internal sebagai aktivitas pengujian yang memberikan keandalan / jaminan yang independent dan objektif serta aktivitas konsultasi yang dirancang untuk memberikan nilai tambah dan melakukan perbaikan terhadap operasi organisasi. Aktivitas tersebut membantu organisasi dalam mencapai tujuannya dengan pendekatan yang sistematis, disiplin untuk mengevaluasi dan melakukan perbaikan atas keefektifan manajemen resiko, pengendalian dan proses yang jujur, bersih dan baik.

Dari pengertian audit internal di atas Akmal (2005, 5) mengemukakan tentang tujuan audit internal yaitu memberikan nilai tambah dan melakukan perbaikan operasi organisasi. Tujuan pemeriksaan intern membantu organisasi dalam mencapai tujuannya dengan melalui pendekatan yang sistematis, disiplin untuk mengevaluasi dan melakukan perbaikan atas keefektifan manajemen resiko, pengendalian dan proses yang jujur, bersih dan baik.

Selanjutnya Akmal (2005, 9 – 10) menyatakan ruang lingkup audit internal adalah lingkup pemeriksaan internal dalam standar profesional pemeriksa intern yang dikeluarkan IIA dirumuskan secara singkat sebagai pengujian dan evaluasi terhadap kecukupan dan keefektifan pengendalian manajemen dan kualitas pertanggungjawaban manajemen.

Kompetensi Pemeriksaan Intern

Menurut W Tunggal (2002, 22) kompetensi pemeriksaan intern adalah sebagai berikut:
1. Auditor internal harus mempunyai pendidikan dan pelatihan yang memadai karena audit berhubungan dengan analisis dan pertimbangan. Oleh karena itu, auditor internal harus megerti catatan keuangan dan akuntansi sehingga dapat memverifikasi dan menganalisis dengan baik.
2. Selain pendidikan dan pelatihan seorang auditor internal juga harus berpengalaman di bidangnya. Apabila ia seorang auditor internal yang baru, ia harus di bimbing oleh auditor yang kompetensi.
3. Seorang auditor dikatakan kompetensi bila memiliki ciri – ciri sebagai berikut:
• Auditor internal juga harus tertarik dan ingin mengetahui semua operasi perusahaan, selain itu juga mempunyai perhatian terhadap prestasi dan persoalan karyawan perusahaan mulai dari tingkat bawah sampai tingkat atas.
• Seorang auditor internal harus tekun dalam menjalankan pekerjaannya.
• Auditor internal juga harus memandang suatu kesalahan sebagai sesuatu yang harus diselesaikan dan kesalahan yang dibuat sebisa mungkin dihindari.
• Auditor internal harus menelaah semua pengaruh yang terjadi terhadap probabilitas dan efisiensi kegiatan perusahaan.
• Mempertimbangkan auditee sebagai mitra, karena tujuan dari audit. Internal bukan mengkritik tetapi untuk meningkatkan operasi perusahaan.
4. Seorang auditor internal harus mempunyai ide – ide yang cemerlang untuk membangun organisasi.

Kode Etik Pemeriksaan Intern

Menurut Akmal (2005, 15 – 16) ada 11 kode etik yang harus ditaati oleh pemeriksa intern, sebagai berikut:
1. Setiap anggota harus berlaku jujur, objektif dan rajin dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya
2. Setiap anggota harus loyal pada organisasi dimana dia bekerja dan memberikan jasanya.
3. Setiap anggota diperkirakan tidak mengetahui apakah penugasannya dapat memberikan citra buruk bagi profesinya atau bagi organisasinya.
4. Setiap anggota harus menghindari hal yang dapat menimbulkan konflik kepentingan antara dirinya dan organisasinya atau yang dapat menimbulkan dugaan mengenai ketidakmampuannya untuk berlaku objektif dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya.
5. Setiap anggota dilarang menerima sesuatu yang bernilai dari pemberi kerja, klien, pelanggan, pemasok atau relasi usaha organisasi yang akan mempengaruhi pertimbangan profesionalnya.
6. Setiap anggota hanya akan mengambil tugas yang dapat diselesaikannya sesuai dengan kompetensinya.
7. Setiap anggota harus memakai cara yang tepat yang diizinkan oleh standar profesi.
8. Setiap anggota harus hati – hati dalam mempergunakan informasi yang diperolehnya selama menjalankan tugas. Mereka tidak diperkenankan memanfaatkan rahasia untuk kepentingan perorangan, bertentangan dengan hukum dan merugikan organisasi.
9. Setiap anggota harus mencantumkan semua fakta yang penting dalam laporannya.
10. Setiap anggota harus secara terus menerus meningkatkan kemahirannya, serta efektivitas dan kualitas kerjanya.
11. Setiap anggota dalam pelaksanaan profesinya harus selalu memelihara standar yang tinggi mengenai kompetensinya, moralitasnya, dan menjunjung tinggi hal – hal yang diputuskan oleh lembaga perhimpunan Institute of Internal Auditor (IIA)

Pengertian Good Corporate Governance

Moeljono (2005, 27) mendefinisikan good corporate governance sebagai sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah untuk semua stakeholder.

Karakteristik good corporate governance menurut UNDP yang dikutif oleh Mardiasmo (2002, 18) meliputi:
1. Participation
Keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkan aspirasinya
2. Rule of Law
Kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu
3. Transparancy
Transparasi di bangun atas dasar kebebasan memperoleh informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik secara langsung dapat diperoleh oleh mereka yang membutuhkan.
4. Responsivenes
Lembaga – lembaga publik harus cepat dan tanggap dalam melayani stakeholder.
5. Consensus Orientation
Berorientasi pada kepentingan masyarakat luas
6. Equality
Setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan dan keadilan
7. Eficiency and effectiveness
Pengelolaan sumber daya publik dilakukan secara efisien dan efektif
8. Accountability
Pertanggung jawaban kepada publik atas aktivitas yang dilakukan.
9. Strategic vision
Penyelenggaraan pemerintah dan masyarakat harus memiliki visi jauh kedepan.

Prinsip – prinsip GCG menurut Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep 117/M-MBU/2002, tentang penerapan praktik GCG pada BUMN yang dikutif oleh Moeljono (2005, 19) yaitu:
A. Transparansi (Transparency)
Prinsip Dasar
Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.

Pedoman Pokok Pelaksanaan
 Perusahaan harus menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan sesuai dengan haknya.
 Informasi yang harus diungkapkan meliputi, tetapi tidak terbatas pada, visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan, kondisi keuangan, susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali, kepemilikan saham oleh anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris beserta anggota keluarganya dalam perusahaan dan perusahaan lainnya yang memiliki benturan kepentingan, sistem manajemen risiko, sistem pengawasan dan pengendalian internal, sistem dan pelaksanaan GCG serta tingkat kepatuhannya, dan kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan.
 Prinsip keterbukaan yang dianut oleh perusahaan tidak mengurangi kewajiban untuk memenuhi ketentuan kerahasiaan perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, rahasia jabatan, dan hak-hak pribadi.
 Kebijakan perusahaan harus tertulis dan secara proporsional dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan.
B. Akuntabilitas (Accountability)
Prinsip Dasar
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.

Pedoman Pokok Pelaksanaan
 Perusahaan harus menetapkan rincian tugas dan tanggung jawab masing-masing organ perusahaan dan semua karyawan secara jelas dan selaras dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan.
 Perusahaan harus meyakini bahwa semua organ perusahaan dan semua karyawan mempunyai kompetensi sesuai dengan tugas, tanggung jawab, dan perannya dalam pelaksanaan GCG.
 Perusahaan harus memastikan adanya sistem pengendalian internal yang efektif dalam pengelolaan perusahaan.
 Perusahaan harus memiliki ukuran kinerja untuk semua jajaran perusahaan yang konsisten dengan nilai-nilai perusahaan, sasaran utama dan strategi perusahaan, serta memiliki sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishment system) .
 Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, setiap organ perusahaan dan semua karyawan harus berpegang pada etika bisnis dan pedoman perilaku (code of conduct) yang telah disepakati.
C. Responsibilitas (Responsibility)
Prinsip Dasar
Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.

Pedoman Pokok Pelaksanaan
 Organ perusahaan harus berpegang pada prinsip kehati-hatian dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, anggaran dasar dan peraturan perusahaan (by-laws).
 Perusahaan harus melaksanakan tanggung jawab sosial dengan antara lain peduli terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan dengan membuat perencanaan dan pelaksanaan yang memadai.
D. Independensi (Independency)
Prinsip Dasar
Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.

Pedoman Pokok Pelaksanaan
 Masing-masing organ perusahaan harus menghindari terjadinya dominasi oleh pihak manapun, tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu, bebas dari benturan kepentingan dan dari segala pengaruh atau tekanan, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara obyektif.
 Masing-masing organ perusahaan harus melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan, tidak saling mendominasi dan atau melempar tanggung jawab antara satu dengan yang lain sehingga terwujud sistem pengendalian internal yang efektif.
E. Kesetaraan dan Kewajaran (Fairness )
Prinsip Dasar
Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kesetaraan dan kewajaran.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
 Perusahaan harus memberikan kesempatan kepada pemangku kepentingan untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan perusahaan serta membuka akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip transparansi dalam lingkup kedudukan masing-masing
 Perusahaan harus memberikan perlakuan yang setara dan wajar kepada pemangku kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi yang diberikan kepada perusahaan.
 Perusahaan harus memberikan kesempatan yang sama dalam penerimaan karyawan, berkarir dan melaksanakan tugasnya secara profesional tanpa membedakan suku, agama, ras, jender, dan kondisi fisik.
METODOLOGI PENELITIAN

Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini ádalah data primer yang diperoleh dengan cara observasi, wawancara dan menyebarkan kuisioner. Serta data skunder yang diperoleh dengan mempelajari bahan – bahan dari kepustakaan dengan membaca literatur, buku dan lain sebagainya yang berhubungan denga penelitian.

Teknik Analisis
Untuk menganalisis pengaruh koalitas audit. Intern terhadap pelaksanaan good corporate governance digunakan metode regresi linier sederhana yang dinyatakan dalam persamaan berikut:
Y = a + bx + e
Dimana:
Y = Good corporate governance
a = konstanta
b = koefisien regresi
X = koalitas audit. Internal
e = tingkat kesalahan

PEMBAHASAN

Pelaksanaan audit. Internal Pada PT. Pertamina (Persero) Plaju

Pelaksanaan audit. Internal pada PT. Pertamina (Persero) dilaksanakan oleh Satuan Pengendalian Internal yang ada pada PT. Pertamina (Persero) dan audit. Internal yang dilakukan oleh auditor internal yang ada merupakan unit kegiatan yang harus dilakukan disetiap unit verja. Audit internal merupakan bagian yang terpisah dari kegiatan dan pekerjaan operasional yang rutin dan bertanggung jawab langsung kepada general manajer, sehingga tugas – tugas yang dilakukan oleh unit audit internal dapat dilaksanakan secara objektif dan independen.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diuraikan fungsi dan kedudukan audit internal pada PT. Pertamina (Persero) UP III, yaitu:
1. Independensi
Seorang auditor internal pada PT. Pertamina (Persero) mandiri dan terpisah dari kegiatan – kegiatan operacional yang diperiksanya. Dilihat dari status organisasi, bagian audit. Internal ini diberi keleluasaan penuh untuk menyelesaikan tanggung jawab dalam pelaksanaan audit. Yang diberikan kepadanya, sehingga dapat dihasilkan laboran yang dapat membantu manajemen dalam pengambilan keputusan.
2. Kompetensi
Seorang auditor internal PT. Pertamina (Persero) harus dapat menguasai bidang pemeriksaannya, selain itu juga untuk meningkatkan koalitas auditor internal, PT. Pertamina (Persero) berusaha selalu mengikut sertakan para auditornya dalam kursus-kursus seperti:
• Perolehan gelar Qualified Internal Auditor (QIA) yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Internal Auditor (YPIA)
• Kursus pengawasan melekat (Waskat) bekerjasama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
• Kursus akuntansi, keuangan, kepegawaian dan lain – lain.
3. Program Audit Internal
Ada dua program kerja pemeriksaan yang biasa digunakan PT. Pertamina (Persero) yaitu:
• Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT)
Program kerja pengawasan tahunan disusun berdasarkan buku pedoman penyusunan program kerja pengawasan tahunan, laporan hasil pemeriksaan, laporan pelaksanaan pengawasan dan perkembangan kondisi satuan pengawasan intern BUMN dan badan usaha lainnya yang ditetapkan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
• Program Kerja Non PKPT (Pemeriksaan Khusus)
Program ini merupakan pemeriksaan diluar PKPT yang telah ditetapkan dan sifatnya temporer (Non PKPT). Pemeriksaan ini dilakukan sehubunan dengan adanya:
a. Opini masyarakat maupun unit organisasi lain yang cenderung mengarah kepada ketidakpuasan pelayanan.
b. Kondisi penyimpangan yang bersifat khusus yang dapat mempengaruhi citra PT. Pertamina (Persero) secara material.
c. Kondisi – kondisi lainya yang menurut pertimbangan manajemen perlu dilakukan pemeriksaan, diharapkan agar kesalahan atau penyimpangan – penyimpangan dapat diketahui secara dini.
4. Pelaksanaan Audit Internal
Pelaksanaan pekerjaan audit internal terdiri dari tiga tahapan, yaitu:
• Tahapan persiapan pelaksanaan audit, meliputi:
a. Perencanaan dan pemilihan auditee
b. Perumusan lingkup dan tujuan audit
c. Penelaahan informasi yang dikumpulkan dari hasil pemeriksaan pada audit sebelumnya.
d. Penyusunan dan penetapan tim pemeriksa audit
e. Pembagian tugas audit. oleh ketua tim lepada masing – masing anggota tim
f. Penyiapan program audit. dengan membuat jadual pemeriksaan yang berisikan, waktu pemeriksaan dan aktivitas selama pemeriksaan.
g. Perencanaan laporan audit.
h. Mendapatkan persetujuan dari direktur internal
• Tahap pelaksanaan audit pendahuluan, meliputi:
a. Melakukan pembicaraan pendahuluan dengan pimpinan objek
b. Masing – masing anggota tim melakukan pemeriksaan berdasarkan PKP yang telah dibuat sebelumnya
c. Jika mendapatkan temuan – temuan penting, masing – masing anggota tim mencatat hasil pemeriksaannya dalam kerta kerja pemeriksaan (KKP)
• Tahap pemeriksaan lanjutan, meliputi:
a. Pengawas memberikan arahan serta pembinaan lepada ketua tim dan mereview KKP
b. Pemeriksaan pelayanan terhadap customer intern dan ekstern
c. Pemeriksaan ketaatan terhadap ketentuan atau peraturan yang berlaku
d. Pemeriksaan terhadap efektivitas, efisiensi dan ekonomi
e. Pembahasan temuan, meliputi:
- Penyusunan temuan pemeriksaan
- Pengawas mereview temuan pemeriksaan
- Permintaan tanggapan dari objek
- Pembahasan dengan objek, dengan pimpinan tertinggi Divisi/SBU/Unit dan dengan pimpinan tertingi Direktorat.
- Penyusunan draft laporan hasil pemeriksaan
- Penanggung jawab pemeriksaan mereview LHP
- Penandatanganan dan pendistribusian LHP
5. Laporan Hasil audit.
Laporan dan SPI di PT. Pertamina (Persero) disusun dalam bentuk LHP keuangan dan LHP operacional, memuat unsur:
• Laporan kegiatan pemeriksaan
Bagian ini menyajikan laporan kegiatan yang diperiksa SPI, misalnya laboran keuangan, laporan penjuan dll.
• Hasil pemeriksaan
Bagian ini memuat hal umum dan uraian hasil pemeriksaan
a. Umum
- Ruang lingkup dan masa pemeriksaan
- Uraian organisasi secara singkat
- Uraian adminitrasi secara singkat
b. Uraian
- Sistem pengendalian akuntansi
- Kelengkapan dan kewajaran laporan keuangan
- Ketaatan terhadap ketentuan yang berlaku
- Pengkajian ulang analisis laporan keuangan
- Informasi khusus yang bertalian dengan gejala kecurangan serta hambatan – hambatan yang berkaitan dengan perusahaan
- Komentar atas penyimpangan atau ketidaktaatan terhadap ketentuan yang berlaku.
• Kesimpulan dan saran atau rekomendasi
Bagian ini berisikan ringkasan masalah dan saran yang perlu mendapatkan perhatian dari manajemen, kesimpulan dan saran ditandatangi oleh kepala SPI.
• Lampiran – lampiran
Bagian ini berisikan daftar – daftar yang merupakan perincian lebih lanjut dan laboran keuangan yang diperiksa sepanjang diperlukan
6. Tindak Lanjut
 Sesuai dengan kebijakan pengawasan di PT. Pertamina (Persero) yang tertuang dalam SK direksi No. K.N.006/OT.012/UTA.00/95 bab VIII butir 8.2 menunjukkan objek pemeriksaan untuk membuat laporan program pelaksanaan tindak lanjut beserta bukti – bukti dokumen pendukung atas tindak lanjut yang telah dilaksanakan dalam waktu satu bulan sejak diterimanya laporan hasil pemeriksaan dari bagian SPI, apabila objek yang diperiksa tidak melakukan perbaikan yang disarankan oleh tim audit, maka kepala SPI akan melayangkan surat teguran kepada objek yang diperiksa, apabila masih tidak mendapatkan tanggapan maka kepala SPI akan melayangkan teguran kembali dan jika masih tidak ditanggapi, maka kepala SPI akan memanggil kepala bagian objek yang diperiksa.

Pengaruh Kualitas Audit Internal Terhadap Pelaksanaan Good Corporate Governance pada PT. Pertamina (Persero)

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan program SPSS diperoleh nilai t hitung sebesar 2,171 lalu dibandingkan dengan nilai t tabel (1/2 0,05 ; 23) sebesar 2,069. Kesimpulan, oleh karena t hitung > t tabel maka Ho ditolak artinya kualitas audit internal berpengaruh secara nyata (signifikan) terhadap pelaksanaan good corporate governance.
Kemudian diketahui nilai korelasi pearson (pearson correlation) sebesar 0,992 yang merupakan nilai r hitung. Angka ini menunjukkan hubungan positif antara kualitas audit internal dan pelaksanaan good corporate governance artinya jika kualitas audit internal tersebut meningkat maka pelaksanaan good corporate governance juga akan meningkat.
Selanjutnya juga diperoleh nilai probabilitasnya sebesar 0,000. Oleh karena nilai probabilitasnya 0,000 atau lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 berarti hubungan antara kualitas audit internal (X) dengan pelaksanaan good corporate governance (Y) signifikan.
Dari tabel di atas di ketahui nilai koefisien korelasi (R) antara variabel koalitas audit. internal (X) dan pelaksanaan good corporate governance (Y) adalah 0,992, ini berarti bahwa hubungan antara koalitas audit. internal (X) dengan pelaksanaan good corporate governance (Y) sebesar 0,992 (hubungannya sangat kuat). Nilai koefisien determinasi (R square) adalah sebesar 0,984 ini berarti bahwa 98,4% pelaksanaan good corporate governance tersebut dipengaruhi oleh koalitas audit. internal dan sisanya 1,6% dipengaruhi oleh faktor lain.

KESIMPULAN

1. Kualiatas audit. internal yang dilaksanakan oleh PT. Pertamina (Persero) sudah baik, hal ini dapat dilihat dari independensi, kompetensi, program audit, pelaksanaan audit, laporan hasil audit dan tindak lanjut audit yang dilaksanakan sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.
2. Kualitas audit internal berpengaruh signifikan terhadap pelaksanaan good corporate governance.

SARAN

1. Ada baiknya auditor internal sering melakukan pemeriksaan mendadak, sehingga dapat mencegah jika seandainya akan terjadi penyimpangan.
2. PT. Pertamina harus lebih mensosialisasikan pedoman penerapan pelaksanaan good corporate kepada karyawannya, sehingga karyawan memilik kejelasan mengenai pelaksanaan good corporate governance.

DAFTAR PUSTAKA

Akmal. 2005. Pemeriksaan Intern. Pertukangan Utara: Indeks Indonesia

Mahsun. 2006. Pengukuran Kinerja Sektor Publik. BPFE. Yogyakarta.

Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi Offset Yogyakarta.

Moeljono, Djokosantoso. 2005. Good Corporate Cultur Sebagai Inti dari Good Corporate GovernanceI. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta.

Mulyadi. 2001. Auditing. Salemba Empat. Yogyakarta

_______.2001. Sistem Akuntansi. Salemba Empat. Yogyakarta

Riduan. 2004. Statistika Untuk Lembaga dan Instansi Pmemerintah / Swasta. Alfa Beta. Bandung.

Sugiono. 2004. Metode Penelitian Bisnis. Alfa Beta Bandung.

Violeta, Vina. 2007. Analisis Pengaruh Audit Internal Terhadap Peningkatan Good Corporate Governance.

W, Tunggal. 2002. Sistem Pengendalian Intern. Alfa Beta Bandung

Yushartina. 2004. Peranan Audit Internal dalam Meningakatkan Good Corporate Governance.

About admin

Muhammadinah lahir di Palembang tanggal 01 Juni 1976 anak pertama dari 4 bersaudara yang terdiri dari 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Status menikah dengan dua orang anak laki-laki yang diberi nama: 1. Muhammad Zaki Asshafi 2. Muhammad Raja Al-Faatih
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>