Sebuah Blog dari if002
RSS icon Email icon
  • Posted on December 18th, 2013 renilaili No comments

    Abstract: This study aims to determine the composition of castor oil and pemanfa’atannya as a source of oil and fuel sources alternative.Dari survey results revealed that seed is very potential to be used as a source of oil, because the content in castor beans by 46%, the result of pressing cake minmyak also still be dimanfa’atkan as animal feed, oil cakes still contain protein and crude fiber are high enough heating process before the introduction of castor beans pengepressan can affect the yield and quality of castor oil produced. Heating using an oven at a temperature of 110oC for 30 minutes to give the oil yield by 25%, acid number 3.0 mg KOH / g, 90.5 mgr number Yod Yod / g, specific gravity 0.85 g / cc, refractive index 1.5 and the color of clear oil.
    Keywords: castor oil, threaded compression, color being
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi minyak jarak dan pemanfa’atannya sebagai sumber minyak serta sumber bahan bakar alternative.Dari hasil penelitian diketahui bahwa biji jarak sangat potensial untuk digunakan sebagai sumber minyak , karena kandungan dalam biji jarak sebesar 46%, bungkil hasil dari pengepresan minmyak juga masih dapat dimanfa’atkan sebagai pakan ternak , bungkil ini masih mengandung protein dan serat kasar yang cukup tinggi Proses pemanasan pendahuluan terhadap biji jarak sebelum pengepressan dapat mempengaruhi rendemen dan mutu minyak jarak yang dihasilkan . Pemanasan menggunakan oven pada suhu 110oC selama 30 menit memberikan rendemen minyak sebesar 25% , bilangan asam 3,0 mg KOH/g, bilangan Yod 90,5 mgr Yod/gr, berat jenis 0,85 gr/cc , index bias 1,5 dan warna minyak bening.
    Keywords: minyak jarak, pengempaan berulir, warna bening

  • PEMANFAATAN KEMASAN PLASTIK BEKAS DALAM CAMPURAN BETON POLIMER

    Posted on December 18th, 2013 admin No comments

    Renilaili Dosen Universitas Bina Darma Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12 Palembang Pos-el: renilaili@mail.binadarma.ac.id
    Abstrak: Air minum kemasan banyak sekali dipakai oleh masyarakat kita sa’at ini untuk memenuhi kebutuhan akan air minum, akan tetapi kemasan plastik ini setelah dipakai biasanya langsung dibuang , belum banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan lain , akibatnya menjadikan sampah dimana-mana. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan sampah plastik bekas air minum kemasan, yang digunakan dalam campuran beton sebagai bahan pengganti semen , disini plastik bekas air mjnum kemasan dilarutkan terlebih dahulu dengan menggunakan bahan kimia yaitu NaOH, kemudian setelah setelah semua plastik menjadi larut baru diaduk bersama pasir dan krikil dengan komposisi tertentu , selanjutnya setelah campuran merata kemudian dimasukkan kedalam cetakan untuk selanjudnya didinginkan sampai mengeras. Hasil cetakan beton polimer yang didapat mempunyai kuat tekan yang bervariasi dan didapat kuat tekan yang optimum terjadi pada campuran dengan penggunaan NaOH 60% komposisi berat 350 gr , dengan kuat tekan optimum 184,48 kg/cm2 Kata Kunci: Kemasan Air Minum, Zat Kimia Naoh, dan Kuat Tekan Optimum. Abstract: Bottled water used by a lot of our society Sa’at to meet the need for drinking water, but the plastic is usually disposed of after use, has not been used for other needs, consequently making garbage everywhere. This study aims to utilize waste scrap plastic bottled water, which is used in the concrete mix as a replacement for cement, scrap plastic here mjnum bottled water dissolved in advance using chemicals namely NaOH, then once after all the plastic into a new soluble mixed with sand and gravel with a specific composition, then after the mixture evenly then put into molds to selanjudnya cooled to harden. The results obtained polymer mold concrete compressive strength has acquired a varied and optimum compressive strength occurs in mixtures with the use of NaOH 60% composition by weight 350 gr, with optimum compressive strength kg/cm2 184.48. Keywords: Bottled Water, Chemicals Naoh, and Optimum Compressive Strengthselengkapnya

  • Aplikasi algoritma genetik dalam rantai pasok untuk permasalahan distribusi

    Posted on October 10th, 2012 renilaili No comments

    APLIKASI ALGORITMA GENETIKA DALAM RANTAI PASOK

    UNTUK PERMASALAHAN DISTRIBUSI

    Rendi Riansyah, Ir. Budi Santoso, MT., Ir. Renilaili, MT

    Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Bina Darma

    E-mail: riansyahrendi@gmail.com

    ABSTRAK

    Rendi Riansyah: Aplikasi Algoritma Genetika Dalam Rantai Pasok Untuk Permasalahan Distribusi.

    PT Semen Baturaja harus memperhatikan jalur pengiriman yang lebih baik agar didapatkan output yang optimal sehingga dapat mencapai sasaran yang tepat dalam segi waktu dan jarak yang efisien dengan tujuan menentukan rute terpendek atau jalur terbaik untuk distribusi semen ke setiap daerah, meminimumkan biaya pengiriman/distribusi semen untuk wilayah Palembang dan menentukan peta jalur yang digunakan dalam persoalan distribusi rantai pasok. Rantai pasok merupakan suatu kegiatan yang berupa aliran dan transportasi dari produk mulai dari raw material sampai ke tangan end use. Metode yang digunakan dalam penenlitian adalah algoritma genetik yang didasarkan pada proses genetik yang ada dalam makhluk hidup; yaitu perkembangan generasi dalam sebuah populasi yang alami, secara lambat laun mengikuti prinsip seleksi. Banyak aplikasi yang berhubungan dengan TSP, di antaranya adalah jasa kurir, transportasi dan sebagainya. Untuk permasalahan pada Traveling Salesman Problem (TSP).

    Kata Kunci: Algoritma Genetika, Supply Chain dan Traveling Salesman Problem

  • Aplikasi Algoritma genetik dalam rantai pasok untuk permasalahan distribusi

    Posted on October 10th, 2012 renilaili No comments

    APLIKASI ALGORITMA GENETIKA DALAM RANTAI PASOK

    UNTUK PERMASALAHAN DISTRIBUSI

    Rendi Riansyah, Ir. Budi Santoso, MT., Ir. Renilaili, MT

    Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Bina Darma

    E-mail: riansyahrendi@gmail.com

    ABSTRAK

    Rendi Riansyah: Aplikasi Algoritma Genetika Dalam Rantai Pasok Untuk Permasalahan Distribusi.

    PT Semen Baturaja harus memperhatikan jalur pengiriman yang lebih baik agar didapatkan output yang optimal sehingga dapat mencapai sasaran yang tepat dalam segi waktu dan jarak yang efisien dengan tujuan menentukan rute terpendek atau jalur terbaik untuk distribusi semen ke setiap daerah, meminimumkan biaya pengiriman/distribusi semen untuk wilayah Palembang dan menentukan peta jalur yang digunakan dalam persoalan distribusi rantai pasok. Rantai pasok merupakan suatu kegiatan yang berupa aliran dan transportasi dari produk mulai dari raw material sampai ke tangan end use. Metode yang digunakan dalam penenlitian adalah algoritma genetik yang didasarkan pada proses genetik yang ada dalam makhluk hidup; yaitu perkembangan generasi dalam sebuah populasi yang alami, secara lambat laun mengikuti prinsip seleksi. Banyak aplikasi yang berhubungan dengan TSP, di antaranya adalah jasa kurir, transportasi dan sebagainya. Untuk permasalahan pada Traveling Salesman Problem (TSP).

    Kata Kunci: Algoritma Genetika, Supply Chain dan Traveling Salesman Problem

  • Optimasi persediaan multi item dengan pendekatan algoritma genetika

    Posted on October 10th, 2012 renilaili No comments

    OPTIMASI PERSEDIAAN MULTI ITEM DENGAN PENDEKATAN

    ALGORITMA GENETIKA

    (Studi Kasus di PT.Semen Baturaja (Persero))

    Dian Arius1, Budi Santoso2, Renilaili2

    1Mahasiswa Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Bina Darma

    2Dosen Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Bina Darma

    Jl.Jendral Ahmad Yani No.3 Palembang 30264

    ABSTRAK

    Setiap hari selalu terjadi proses produksi dengan demikian persediaan akan bahan baku yang di pesan atau dibeli harus selalu tersedia, untuk pemesanan baik secara kuantitas maupun waktu kedatangan bahan baku antara  satu dengan yang lain selalu tidak sama, sehingga sering terjadi penumpukan dan kekurangan bahan baku untuk itu perusahaan harus mengatur persediaan agar jumlah permintaan untuk proses produksi sesuai dengan kebutuhan dengan menentukan waktu pemesanan bahan baku yang tepat agar proses produksi tidak ada hambatan  dibutuhkan  peramalan dengan menggunakan metode least square dan metode linier trend serta Algoritma Genetika dengan EOQ Multi Item diharapkan hasil perhitungan tersebut persediaan bahan baku dapat di optimasi untuk jumlah persediaan bijih besi, pasir silika dan gypsum dan jarak antar pemesanan bahan baku.

    Kata Kunci : Metode Peramalan, Algoritma Genetika, EOQ Multi Item.

  • Pemanfaatan kemasan plastik bekas untuk campuran beton polimer

    Posted on October 8th, 2012 renilaili No comments

    PEMANFA’ATAN  KEMASAN  PLASTIK BEKAS  DALAM  CAMPURAN

    BETON POLIMER

    Oleh : Ir Renilaili.,MT

    Dosen  Tetap Teknik  Industri Universitas Binadarma Palembang

    Abstrak : Air minum kemasan banyak sekali dipakai oleh masyarakat  kita sa’at ini  untuk memenuhi  kebutuhan akan air minum, akan tetapi  kemasan plastik  ini  setelah dipakai biasanya  langsung dibuang , belum banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan lain , akibatnya menjadikan sampah dimana-mana. Penelitian   ini  bertujuan  untuk memanfaatkan   sampah plastik  bekas air minum kemasan, yang digunakan dalam campuran beton  sebagai bahan pengganti semen , disini plastik  bekas air mjnum kemasan dilarutkan  terlebih dahulu  dengan menggunakan  bahan  kimia yaitu NaOH, kemudian  setelah setelah semua plastik menjadi  larut baru  diaduk bersama pasir dan krikil  dengan komposisi tertentu , selanjutnya setelah campuran merata kemudian dimasukkan kedalam cetakan untuk selanjudnya  didinginkan sampai mengeras. Hasil cetakan beton polimer yang didapat mempunyai kuat tekan yang bervariasi  dan didapat kuat tekan yang optimum terjadi pada  campuran dengan  penggunaan  NaOH  60% komposisi   berat  350 gr , dengan kuat tekan optimum  184,48 kg/cm2

  • EKSTRAKSI MINYAK JARAK SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF

    Posted on May 1st, 2012 admin No comments

    Renilailli

    Dosen Universitas Bina Darma, Palembang

    Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12, Palembang

    Pos-el : renilaili@mail.binadarma.ac.id

    Abstract : This study aims to determine the composition of castor oil and pemanfa’atannya as a source of oil and fuel sources alternative.Dari survey results revealed that seed is very potential to be used as a source of oil, because the content in castor beans by 46%, the result of pressing cake minmyak also still be dimanfa’atkan as animal feed, oil cakes still contain protein and crude fiber are high enough heating process before the introduction of castor beans pengepressan can affect the yield and quality of castor oil produced. Heating using an oven at a temperature of 110oC for 30 minutes to give the oil yield by 25%, acid number 3.0 mg KOH / g, 90.5 mgr number Yod Yod / g, specific gravity 0.85 g / cc, refractive index 1.5 and the color of clear oil.

    Keywords: castor oil, threaded compression, color being

    Abstrak : Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui komposisi  minyak jarak dan pemanfa’atannya sebagai sumber minyak serta sumber bahan bakar alternative.Dari hasil penelitian  diketahui   bahwa  biji jarak sangat potensial  untuk digunakan sebagai sumber minyak ,  karena kandungan  dalam biji jarak sebesar 46%, bungkil hasil dari  pengepresan  minmyak  juga masih dapat  dimanfa’atkan sebagai  pakan ternak , bungkil ini masih mengandung protein  dan serat kasar yang cukup tinggi Proses pemanasan pendahuluan terhadap biji jarak  sebelum pengepressan  dapat mempengaruhi   rendemen  dan    mutu minyak jarak yang dihasilkan . Pemanasan menggunakan oven  pada suhu 110oC  selama 30 menit  memberikan rendemen  minyak sebesar 25% ,  bilangan asam  3,0 mg KOH/g, bilangan   Yod 90,5  mgr Yod/gr,  berat  jenis  0,85 gr/cc  , index  bias 1,5  dan warna  minyak bening.

    Keywords: minyak jarak, pengempaan berulir, warna bening

    selengkapnya download

  • EKSTRAKSI MINYAK NILAM

    Posted on May 1st, 2012 admin No comments

    Renilaili

    Dosen Universitas Bina Darma, Palembang

    Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12, Palembang

    Pos-el : renilaili@yahoo.com

    Abstrack: Nilam oil that the content especially Patchouli alcohol (C15H 16) often was used as the binder in perfume aroma and   also was used in the mixture of the cosmetic product for example in soap, shampoo and deodorant or lotion. In this research the method that was used was the extraction method with normal mixed solvent heksan with benzen, in this research wanted to be seen how the influence of extraction time against rendemen oil that was gotten, also how the influence from the raw material comparison (the stick and the leaves) that was used in the production of sapphire oil against rendemen results that were received. From results of the research was known that the raw material comparison (the stick: the leaves) with the comparison (1:1) with rendemen sapphire oil that was gotten by 3.44% whereas the influence of optimum extraction time 150 minutes with rendemen oil 4,07%

    Keyword: Nilam Oil, Method, Material

    Abstrak: Minyak Nilam yang kandungan  utamanya  Patchouli alkohol (C15H 16) banyak digunakan sebagai bahan pengikat (fiksatif) dalam parfum agar  aroma  keharumanya  tahan  lama , juga dipakai dalam campuran  produk kosmetik  misalnya  dalam  sabun , shampo dan deodorant atau  lotion. Dalam penelitian ini  metode yang dipakai  adalah metode ekstraksi  dengan pelarut campuran  normal heksan dengan  benzen, dalam penelitian ini  ingin dilihat  bagaimana  pengaruh  waktu ekstraksi  terhadap  rendemen  minyak yang didapat , juga bagaimana  pengaruh  dari  perbandingan  bahan baku (batang dan daun)  yang digunakan  pada pembuatan  minyak nilam  terhadap  rendemen hasil yang didapat. Dari hasil penelitian  diketahui bahwa  perbandingan  bahan baku (batang : daun) dengan perbandingan (1:1) dengan  rendemen minyak nilam yang didapat  3,44% (15,2 ml) sedangkan pengaruh  waktu ekstraksi yang optimum  150 menit  dengan rendemen minyak 4,07% (17,2 ml)

    Kata kunci: Minyak Nilam, Metode, Bahan Baku

    selengkapnya download

  • PEMANFAATAN LIMBAH CRUDE PALM OIL (CPO) UNTUK PROSES PEMBUATAN BIODIESEL

    Posted on August 19th, 2011 admin No comments

    Renilaili 1, Ch. Desi Kusmindari 2
    Dosen Universitas Bina Darma, Palembang
    Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12, Palembang
    Pos-el: renilailireni@yahoo.co.id 1, desi_christofora@yahoo.com 2

    Abstrak : Biodiesel pada dasarnya merupakan ester alkil dari asam-asam lemak,bahan tanaman yang banyak digunakan sebagai sumber minyak untuk pembuatan biodiesel adalah minyak sawit, minyak kelapa, minyak jarak pagar, minyak biji bunga matahari, minyak kedele, minyak kanola dan lain-lain. Minyak tersebut dikonversi menjadi (alkil ester) mealaui reaksi esterifikasi ,dengan bantuan katalis. Kualitas biodiesel juga dipengaruhi oleh kualitas minyak , juga komposisi asam –asam lemak didalam minyak tersebut. Indonesia sa’at ini berpeluang besar untuk mengembangkan energi biodiesel dari minyak sawit mentah (CPO) sebagai bahan bakar alternative, terutama untuk mesin diesel. Dalam penelitian ini kami menggunakan limbah CPO yang sudah pekat dengan preaksi menggunakan Ethanol 96% dan katalis H2SO4 pekat (98%).Variasi komposisi yang kami lakukan mulai ( CPO : Ethanol ) (1:1), (1:2), (1:3), (1:4) dan(1:5) juga Variasi temperatur mulai dari 40oC, 50oC, 60oC, 70oC,dan 80oC tanpa diaduk. Hasil penelitian ini mendapatkan konversi maksimum 90% pada temperatur yang optimum 70oC.

    Keyword: Limbah CPO, C2H5OH 96%,H2SO4 98%, 70oC

    Abstract : Biodiesel is basically the alkyl esters of fatty acids. A source of oil for making biodiesel are palm oil, sunflower oil, soybean oil, canola oil and others. That oil converted into biodiesel used esterification or transesterification with the help of katalis. Biodiesel quality is influenced by the quality of oil, as well as the composition of fatty acids in that oil. Indonesia has the great opportunity to develop biodiesel from crude palm oil (CPO) as fuel alternatives, particularly for machine diesel. In this study we use a CPO waste, which is reagent with 96% ethanol and the catalyst concentrated H2SO4 (98%). The variation of composition between CPO and Ethanol that start (1:1), (1:2), (1:3), (1:4) and (1:5) is also temperature variation ranging from 40oC, 50oC, 60oC , 70oC, and 80oC without stirring. The results of this study have a maximum of 90% conversion at an optimum temperature of 70oC.

    Keyword: biodiesel, CPO, ethanol

    1. PENDAHULUAN

    Laju konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Nasional menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi (sekitar 6-7% per tahun ) dibandingkan dengan laju konsumsi BBM dunia yang hanya sekitar 2% per tahun. Dengan cadangan BBM nasional yang tidak terlalu besar (hanya sekitar 0,5% cadangan minyak mentah dunia), pemenuhan kebutuhan BBM tidak dapat mengandalkan produksi dalam negeri. Pada akhir tabun 2004, tercatat konsumsi BBM nasional sekitar 1,35 juta barel/hari, sedangkan produksinya hanya sekitar 1,0 juta bare1/hari sehingga terdapat kesenjangan-pasokan BBM sekitar 350 ribu bare1/hari (Warta,2006). Dengan demikian, 40% kebutuhan minyak mentah harus dipenuhi dengan cara mengimpor.Tingginya laju peningkatan konsumsi BBM berbasis fosil tersebut dapat menguras devisa negara untuk mensubsidi harga BBM dalam negeri yang berada di bawah harga pokok BBM dunia. Oleh karena itu, penggunaan BBM yang berasal dari sumber alam terbarukan (renewable resources) produksi dalam negeri menjadi alternatif yang sangat potensial untuk mensubstitusi BBM berbasis fosil dalam pemakaian sehari-hari, terutama sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dan rumah tangga. Salah satu altematif yang sangat potensial untuk dikembangkan adalah penggunaan biodiese1 yang diproduksi dari bahan baku hayati. (Tim MAPI,2006)
    Minyak nabati memiliki kekentalan (viskositas) yang jauh lebih besar dari minyak diesel/solar maupun biodiesel, sehingga pompa penginjeksi bahan bakar di dalam mesin diesel tak mampu menghasilkan pengkabutan (atomization) yang baik ketika minyak nabati disemprotkan ke dalam kamar pembakaran. Molekul minyak nabati relatif lebih bercabang dibanding ester metil asam-asam lemak. Akibatnya, angka setana minyak nabati lebih rendah daripada angka setana ester metil. Angka setana adalah tolok ukur kemudahan menyala/terbakar dari suatu bahan bakar di dalam mesin diesel. Banyak keuntungan penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar altematif pengganti minyak bumi. Pertama, biodiesel diproduksi dari sumber hayati yang merupakan sumber energi terbarukan. Kedua, biodiesel bersifat ramah lingkungan karena tanaman penghasil biodiesel banyak menyerap CO2 dari atmosfir untuk fotosintesisnya sehingga tidak memberikan kontribusi yang berarti pada pemanasan global. Selain itu, biodiesel juga tidak mengandung sulfur, mudah terdegradasi dan tidak beracun.. Ketiga, sebagai bahan bakar, biodiesel memiliki angka Cetan yang tinggi, bahkan lebih tinggi daripada solar dan juga memiliki sifat pelumasan yang baik. Keempat, produksi biodiesel akan menciptakan kebutuhan bahan baku hayati sehingga akan memacu budidaya dan produksi pertanian, yang pada gilirannya alan meningkatkan pendapatan petani. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Cadangan minyak bumi semakin menipis sehingga perlu diupayakan energi alternatif sebagai bahan pengganti energi bahan bakar minyak. Jua perlunya metode pengolahan hasil tanaman yang digunakan untuk pembuatan biodiesel dari CPO agar dalam proses pengolahannya dapat efisien.

    2. METODOLOGI PENELITIAN

    Lokasi Penelitian

    Penelitian dilakukan dilaboratorium kimia Politeknik Negeri Sriwijaya dari tanggal 3 sampai 10 Oktober 2010.

    Alat –alat yang dipakai

    – Labu Godok
    – Thermometer (oC )
    – Glass ukur (1000 cc )
    – Cooller
    – selang plastik kecil
    – Corong pemisah
    – Beaker glass.
    – Waterbath
    – Reffreegrant

    Bahan –bahan yang digunakan:

    – Limbah Crude Palm Oil ( CPO )
    – C2H5OH ( Alkohol 96 % )
    – Vaselin (agar uap tidak keluar)
    – H2SO4 (98%) sebagai katalis

    Hal yang diteliti

    Konversi biodiesel yang didapat dari beberapa varibel seperti Variabel temperatur , Variabel Komposisi perbandingan (CPO : Ethanol 96% ) dan juga analisa hasil dari percobaan.

    Tanaman kelapa sawit

    Secara alami kelapa sawit hanya dapat tumbuh didaerah tropis , Tanaman ini dapat tumbuh ditempat berawa disepanjang bantaran sungai dan ditempat yang basah. Sinar matahari harus langsung mengenai daun kelapa sawit , lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam perhari. Angin tidak mempengaruhi pertumbuhan karena bentuk daun yang sedemikian rupa sehingga tidak mudah dirusak angin . Benih kelapa sawit mengalami dormansi (keadaan sementara tanaman ) yang cukup panjang, Diperlukan aerasi yang baik dan temperatur yang tinggi untuk memutuskan masa dormansi agar bibit dapat berkecambah. Pada proses perkecambahan diperlukan kelembaban 60-80% dengan temperatur 35 oC, curah hujan tahunan antara 1.500-4.000 mm, optimal 2.000 – 3. 000 mm/tahun. (Wirawan, 2005)
    Tanah yang baik untuk budidaya kelapa sawit harus mengandung banyak lempung , beaerasi baik dan subur. Tanah harus berdrainase baik permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam, tidak berbatu. Tanah latosol, ultisol dan aluvial yang meliputi tanah gambut, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit, tanah memiliki derajad keasaman ( pH ) antara 4-6. Ketinggian tempat yang ideal bagi pertumbuhan tanaman kelapa sawit antara 1-400 m, topografi datar dan berombak sampai bergelombang, kelerengan ideal berkisar antara 0-25 %.
    baca selengapnyadownload

  • KINERJA AMILASE ASPERGILUS NIGER DALAM SAKARIFIKASI PATI UBI KAYU MENJADI BIOETANOL

    Posted on March 2nd, 2011 admin No comments

    Renilaili

    Dosen Universitas Bina Darma

    Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12, Palembang

    Pos-el :…………………..

    Abstract : Bioethanol is a derivative product from cassava that is thoroughly developed nowadays. One of the bioethanol research program Product Design and Development Research Group, to increase productivity and the performance of α-amylase and Aspergillus glucoamylase  for saccharification of cassava starch in bioethanol production. The optimum condition of saccharification process related with the effect of pH, temperature, Ca2+ concentration, substrate concentration, and enzyme volume percentage have been carried out. The performance of α-amylase was determined by the iodine method while the performance of glucoamylase was done by the Somogyi-Nelson method. Research variable to determine the optimum performance condition of amylase axtract were pH (3.5 – 7.5), temperature (25 – 80oC), Ca2+ concentration (25 – 200 ppm), substrate concentration (0.5 – 20 %-w/v), and enzyme volume percentage (5 – 50 %-v). The results of this research showed that the optimum performance of amylase complex were pH 4.5, temperature 60oC, Ca2+ concentration 75 ppm, and substrate concentration 7%-w/v.

    Keyword : amylase, glucoamylase, Aspergillus niger, saccharification, starch

    Abstrak: Bioetanol merupakan produk turunan ubi kayu yang sekarang sedang giat dikembangkan. Salah satu program riset bioetanol Kelompok Keahlian Perancangan dan Pengembangan Produk  adalah peningkatan produktifitas dan kinerja enzim ά-amilase dan glukoamilase Aspergillus untuk proses sakarifikasi pati ubi kayu pada produksi bioethanol. Sehubungan dengan kondisi optimum proses sakarifikasi, penelitian tentang pengaruh pH, temperatur, konsentrasi Ca2+, konsentrasi substrat, dan persentase volume enzim, telah dilakukan. Analisis kinerja kompleks amilase yang dilakukan meliputi analisis kinerja enzim ά-amilase dengan metode iodin dan analisis kinerja enzim glukoamilase dengan metode Somogyi-Nelson. Variabel yang diteliti untuk menentukan kondisi optimum kinerja ekstrak amilase adalah pH (3,5 – 7,5), temperatur (25 – 80 oC), konsentrasi Ca2+ (25 – 200 ppm) konsentrasi substrat (0,5 – 20 %-b/v) dan persentase volume enzim (5 – 50%-v). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja kompleks enzim amylase optimum berada pada pH 4,5, temperatur 60oC, konsentrasi Ca2+ 75 ppm, dan konsentrasi substrat 7%-b/v. Kinerja kompleks amilase makin baik seiring dengan peningkatan persentase volume enzim, namun peningkatan ini dibatasi oleh kandungan glukosa dalam enzim yang dapat menyebabkan inhibisi terhadap aktivitas enzim.

    Kata kunci : amilase, glukoamilase, Aspergillus niger, sakarifikasi, pati


    1. PENDAHULUAN

    Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berhasil mengungkapkan betapa penting dan potensialnya bahan-bahan yang mengandung pati sebagai bahan baku untuk suatu industri fermentasi etanol. Pati, suatu polisakarida yang dibentuk oleh monomer-monomer glukosa, banyak terdapat di alam dalam bentuk cadangan bahan makanan dari tumbuh-tumbuhan. Yang termasuk kelompok bahan baku yang mengandung pati antara lain adalah padi-padian dan umbi-umbian. Sebagai bahan baku untuk pembuatan etanol, jenis padi-padian yang banyak digunakan di Negara-negara Asia yaitu beras, sedang di Amerika Serikat umumnya jagung. Umbi-umbian seperti kentang merupakan salah satu jenis bahan baku untuk industri fermentasi etanol yang biasa digunakan di kebanyakan Negara-negara Eropa.

    Ubi kayu merupakan salah satu jenis tanaman yang umbinya banyak mengandung pati. Jenis tanaman ini banyak dibudidayakan masyarakat Indonesia baik dalam skala kecil maupun besar. Ketersediaan ubi kayu cukup banyak, tetapi nilai jualnya rendah. Oleh karena itu, konversi ubi kayu menjadi produk lain yang bernilai jual lebih baik merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

    Bioetanol merupakan produk turunan ubi kayu yang sekarang sedang giat dikembangkan di Indonesia. Rute utama pembuatan bioetanol dari bahan baku yang mengandung gula adalah fermentasi. Oleh karena pati ubi kayu tidak dapat difermentasi secara langsung oleh ragi yang umum digunakan pada proses fermentasi etanol, tahapan proses konversi pati menjadi gula yang dapat difermentasi oleh ragi perlu dilakukan terlebih dahulu.

    Sebagai pelarut, alkohol beratom karbon dua ini banyak digunakan di industri-industri farmasi, kosmetik, zat warna,dan resin. Etanol juga merupakan senyawa kimia antara yang sangat bermanfaat untuk pembuatan produk-produk industri kimia seperti etilen, asetaldehid, butadien, aseton, bahkan polistiren dan polietilen serta poli vinil klorida. Selain itu, bioetanol juga dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar (Balat, dkk., 2008).

    Proses konversi pati menjadi glukosa sebagai senyawa antara pembuatan bioetanol merupakan proses yang sangat penting sehingga penelitian kinerja amilase dari Aspergillus dalam sakarifikasi pati ubi kayu merupakan penelitian yang menarik untuk dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari kondisi proses yang dapat menghasilkan perolehan glukosa yang paling tinggi. Variabel proses yang diamati adalah temperatur, pH, penambahan ion Ca2+, konsentrasi substrat, dan konsentrasi enzim.

    2. METODOLOGI  PENELITIAN

    2.1. Obyek Penelitian

    Bahan yang digunakan dalam percobaan meliputi stillage singkong, pati terlarut, dan reagen uji. Stillage singkong yang digunakan sebagai bahan baku untuk produksi enzim merupakan limbah produksi etanol dari singkong. Pati terlarut digunakan sebagai substrat pada reaksi uji kinerja kompleks enzim, sementara reagen uji yang digunakan adalah iodin untuk uji pati dan Somogyi-Nelson sebagai reagen uji penentuan glukosa.

    2.2. Langkah-langkah Penelitian

    Langkah-langkah percobaan yang dilakukan adalah : produksi kompleks enzim amilase, ekstraksi kompleks enzim amilase, dan analisis kinerja kompleks enzim amilase.

    2.3. Peralatan

    Fermentor produksi yang digunakan adalah labu Erlenmeyer 2L yang dilengkapi dengan sistem aerasi dan diletakkan di dalam water bath untuk menjaga temperatur fermentasi.

    Peralatan yang digunakan pada uji kinerja enzim amilase adalah tabung reaksi, pipet, water bath, dan spektrofotometer (Gambar 1).