blog berry psychology
RSS icon Email icon
  • Jurnal Psyche

    Posted on December 5th, 2011 admin No comments

    HUBUNGAN ANTARA  DUKUNGAN SOSIAL DENGAN DEPRESI

    PADA PASIEN GAGAL GINJAL YANG MENJALANI HEMODIALISIS

    Rina Oktaviana

    Dosen Universitas Bina Darma, Palembang

    Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12, Palembang

    Pos-el : rina_twin2003@yahoo.com

    Abstract: The purpose of this research was to determine empirically the relationship between social support with depression in patients with renal failure undergoing hemodialysis in RSUP. Dr. Mohammad Hoesin Palembang. The hypothesis proposed is that there is a negative relationship between social support with depression in patients with renal failure who undergo hemodialysis, where the higher the social support more low-depressed patients with renal failure who undergo hemodialysis, conversely the lower the social support the higher depression of renal failure patients who underwent hemodialysis in RSUP. Dr. Mohammad Hoesin.The conclusion of the research data was there is a negative relationship between social support with depression in patients with renal failure undergoing hemodialysis in RSPU. Dr. Mohammad Hoesin . Obtained from the results of r = 0.722 and p = .000 which means p <0.01 means that more negative or less social support, the higher depression in patients with renal failure undergoing hemodialysis

    ( lebih 2 kata)maksimal 150 kata

    Keywords: Social Support and Depression

    Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara empiris hubungan antara dukungan sosial dengan depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis di RSPU. Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan negatif antara dukungan sosial dengan depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis, dimana semakin positif atau baik  dukungan sosial maka semakin rendah depresi pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis, sebaliknya semakin negatif dukungan sosial maka semakin tinggi depresi pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis di RSPU. Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Kesimpulan dari hasil data penelitian adalah ada hubungan yang negatif antara dukungan sosial dengan depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis di RSPU. Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Yang didapatkan dari hasil r= 0,722 dan nilai p= 0,000 yang berarti p< 0,01 Artinya semakin negatif atau kurang dukungan sosial maka semakin tinggi depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis.

    Kata Kunci : Dukungan sosial dan Depresi


    1. PENDAHULUAN (Font 12)

    Manusia dalam kehidupan ini pada dasarnya menginginkan hidup dalam keadaan sehat baik secara psikis maupun fisik, karena dalam keadaan sehatlah manusia dapat mengerjakan semua kegiatan  secara baik. Namun dalam kenyataannya manusia tidak selalu berada pada kondisi sehat baik secara psikis maupun fisik melainkan dapat mengalami suatu penyakit  yang diderita.

    Saat ini banyak jenis penyakit yang diderita oleh manusia, ada jenis penyakit yang ringan dan cukup mudah untuk menyembuhkannya tetapi ada pula jenis penyakit yang tergolong berat dan perlu waktu yang cukup lama untuk menyembuhkannya, tidak itu saja diperlukan pula tenaga dan biaya  yang cukup besar sehingga dapat menimbulkan tekanan secara psikologis, dan salah satu penyakit berat yaitu penyakit gagal ginjal.

    Manifestasi puncak dari gagal ginjal kronis, ditandai dengan fungsi ginjal yang semakin mengecil sehingga diperlukan pengaturan pemasukan cairan yang sangat ketat serta perawatan lain berupa dialisa kronis atau transplasi untuk mempertahankan hidup. Metode perawatan yang umum untuk penderita gagal ginjal di Amerika Serikat dan di Indonesia adalah hemodialisa. Peterson, Kartono, Darmairini & Roza (Rohmat, 2010).

    Hemodialisis didefinisikan sebagai bergeraknya air dan zat-zat beracun hasil metabolisme dari dalam darah melewati membran semipermable ke dalam cairan dialisa. Bentuk seperti ini sering disebut juga dengan ginjal tiruan ekstrakorporeal. Di banyak negara, sebagian besar pasien hemodialisis dirawat di rumah sakit atau di unit dialisa dimana mereka menjadi pasien rawat jalan, Michael (Rohmat, 2010). Proses pengobatan tersebut dapat membantu memperbaiki homeostatis tubuh namun tidak dapat mengganti fungsi ginjal lainnya, sehingga biasanya pasien melakukan hemodialisis dua kali dalam seminggu dan hal ini harus dilakukan secara rutin

    Menurut National Institut of Mental Health (Siswanto, 2007) mengartikan depresi sebagai suatu penyakit tubuh yang menyeluruh (whole-body), yang meliputi tubuh, suasana perasaan (mood), dan pikiran. Ini berpengaruh terhadap cara makan dan tidur, cara seseorang merasa mengenai dirinya sendiri dan cara orang berfikir mengenai sesuatu.

    Di Palembang terdapat beberapa rumah sakit yang memberikan Hemodialisis, dan salah satu rumah sakit yang paling banyak menerima pasien yang melakukan hemodialisis adalah RSUP Dr Mohammad Hoesin, dimana pasien menjalankan hemodialisis memiliki jadwal rutin yang berbeda-beda, dengan melakukan hemodialisis 2 kali dalam seminggu. Saat ini pasien yang menjalani hemodialisis di RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang sebanyak 144 pasien tetap dan rutin 2 kali dalam satu minggu dan selebihnya pasien yang baru menjalani hemodialisis. Dimana kebanyakan dari pasien yang menjalani hemodialisis berusia 25 sampai 65 tahun tetapi ada pula yang berusia dibawah 25 tahun.

    Terjadinya gangguan pada fungsi tubuh pasien hemodialisis, menyebabkan pasien harus melakukan penyesuaian diri secara terus menerus selama sisa hidupnya. Bagi pasien hemodialisis, penyesuaian ini mencakup keterbatasan dalam memanfaatkan kemampuan fisik dan motorik, penyesuaian terhadap perubahan fisik dan pola hidup, ketergantungan secara fisik dan ekonomi pada orang lain serta ketergantungan pada mesin dialisa selama sisa hidup, keadaan seperti ini dapat menimbulkan perasaan tertekan bahkan dapat menimbulkan gangguan-gangguan mental seperti depresi.

    Menurut Lubis (2009) faktor-faktor penyebab timbulnya depresi ada 2 yaitu: 1. Faktor fisik meliputi faktor genetik, usia, gender, gaya hidup, penyakit fisik dan obat-oatan. 2. Faktor psikologis meliputi faktor kepribadian, harga diri, stres, lingkungan keluarga, kecemasan terhadap ketidakamanan finansial.

    Dari faktor penyebab depresi tersebut terdapat faktor dari lingkungan sosial yaitu penghargaan diri dari orang lain, stres yang disebabkan oleh lingkungan dan faktor lingkungan keluarga meliputi jenis pengasuhan dan kehilangan orang tua, kecemasan terhadap ketidakamanan finansial merupakan bentuk dukungan sosial Instrumental maka dukungan sosial sangat mempengaruhi depresi seseorang.

    Jhonson (Davison, Neale & Kring 2006) yang mengemukakan bahwa dukungan sosial memprediksi pemulihan yang lebih cepat serta berkurangnya simtom-simtom depresi.

    Dukungan sosial pada umumnya menggambarkan mengenai peranan atau pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh orang lain yang berarti seperti anggota keluarga, teman, saudara, dan rekan kerja. Johnson and Johnson (Mazbow, 2009) berpendapat bahwa dukungan sosial adalah pemberian bantuan seperti materi, emosi, dan informasi yang berpengaruh terhadap kesejahteraan manusia. Dukungan sosial juga dimaksudkan sebagai keberadaan dan kesediaan orang-orang yang berarti, yang dapat dipercaya untuk membantu, mendorong, menerima, dan menjaga individu.

    Ditambahkan Saronson (Mazbow, 2009) menerangkan bahwa dukungan sosial dapat dianggap sebagai sesuatu keadaan yang bermanfaat bagi individu yang diperoleh dari orang lain yang dapat dipercaya. Dari keadaan tersebut individu akan mengetahui bahwa orang lain memperhatikan, menghargai, dan mencintainya.

    Individu yang berada pada suatu kondisi yang tidak berdaya sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang yang berada didekatnya. Seperti halnya pasien-pasien yang sedang mengalami sakit gagal ginjal dan sekarang harus menjalani hemodialisis di RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang sangat membutuhkan dukungan dari keluarganya.

    METODOLOGI PENELITIAN

    Menurut Esterlianawati (2008) secara umum depresi ditandai oleh suasana perasaan yang murung, hilang minat terhadap kegiatan, hilang semangat, lemah, lesu, dan rasa tidak berdaya. Pada pasien usia lanjut tampilan yang paling umum adalah keluhan somatis, hilang selera makan dan ganguan pola tidur.

    Beck (Lubis, 2009) mengungkapkan simptom-simptom atau gejala depresi kedalam empat simptom sebagai berikut:

    a.       Simptom-simptom emosional

    Meliputi penurunan mood (merasa sedih dan kelabu), tidak menyukai diri sendiri (perasaan negatif pada diri sendiri) hilangnya atau kurangnya respon gembira pada situasi yang menimbulkan kesenangan, hilangnya rasa senang dan menangis.

    b.      Simptom-simptom kognitif.

    Berupa rendahnya penilaian terhadap diri sendiri, pikiran – pikiran negatif terhadap masa depan, menyalahkan, mengkritik atau mencela diri sendiri, tidak dapat membuat keputusan dan gambaran yang salah tentang diri sendiri

    c.       Simptom-simptom motivasional.

    Hilangnya motivasi untuk melakukan segala aktivitas, keinginan untuk menghindar dan menarik diri, meningkatnya ketergantungan dan yaitu menginginkan bantuan, pegarahan dan bimbingan.

    d.      Simptom-simptom fisik dan vegetatif.

    Seperti hilangnya nafsu makan, mengalami gangguan tidur, hilangnya nafsu sexual, perasaan lelah yang sangat berat, gangguan berat badan dan kemampuan fisik.

    Menurut Muslim (2003) depresi memiliki beberapa gejala sebagai berikut:

    a.       Gejala utama (pada derajat ringan,sedang dan berat)

    Afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan dan berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktifitas.

    b.      Gejala lainnya

    Konsentrasi dan perhatian berakurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu dan nafsu makan berkurang.

    Untuk variabel dukungan sosial (social support) didefinisikan oleh Gottlieb (Kuntjoro, 2002) sebagai informasi verbal atau non-verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkahlaku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di dalam lingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkahlaku penerimanya.

    Menurut Sheridan & Radmacher 1992, Sarafino 1998 serta Taylor 1999 (Lubis 2009) membagi dukungan kedalam lima bentuk, yaitu:

    a.  Dukungan Instrumental (Tangible Assistance)

    Bentuk dukungan ini merupakan penyediaan materi yang dapat  pertolongan langsung, seperti pinjaman uang, pemberian barang, makanan, serta pelayanan.

    b.   Dukungan Informasi

    Bentuk dukungan ini melibatkan pemberian informasi, saran dan umpan balik tentang situasi dan keadaan individi. Jenis informasi seperti ini dapat menolong individu untuk mengenali dan mengatasi masalah dengan lebih muda.

    c.   Dukungan Emosional

    Bentuk dukungan ini membuat individu memiliki perasaan nyaman, yakin, diperlukan dan dicintai oleh pemberi dukungan sosial sehingga individu dapat mengatasi masalah dengan baik Dukungan ini sangat penting dalam menghadapi kedaan yang tidak dapat dikontrol

    d.   Dukungan pada harga diri

    Bentuk dukungan ini berupa penghargaan diri pada individu, pemberian semangat, persetujuan pada pendapat individu, perbandingan positif pada individul lain. Bentuk dukungan ini membantu individu dalam membangun harga diri dan kompetensi.

    e.   Dukungan dari kelompok sosial

    Bentuk dukungan ini akan membuat individu merasa menjadi anggota dari suatu kelompok yang memiliki kesamaan minat dan aktivitas sosial dengannya. Dengan begitu individu merasa memiliki teman senasib.

    Lieberman (Hady, 2009) mengemukakan bahwa secara teoritis dampak dukungan sosial  dapat positif dan juga negatif, sebagai berikut:

    1.    Dukungan sosial dapat menurunkan kecenderungan munculnya kejadian yang dapat mengakibatkan stress. Apabila kejadian tersebut muncul, interaksi dengan orang lain dapat memodifikasi atau mengubah persepsi individu pada kejadian tersebut dan oleh karena itu akan mengurangi potensi munculnya stress.

    2.    Sosial juga dapat mengubah hubungan antara respon individu pada kejadian yang dapat menimbulkan stres dan stres itu sendiri, mempengaruhi strategi untuk mengatasi stress dan dengan begitu memodifikasi hubungan antara kejadian yang menimbulkan stres mengganggu kepercayaan diri, dukungan sosial dapat memodifikasi efek itu.

    Variabel-Variabel Penelitian

    Variabel-variabel yang terdapat dalam penelitian ini meliputi variabel bebasnya adalah dukungan sosial kemudian variabel tergantungnya adalah depresi pada pasien gagal ginjal

    Berdasarkan data dari absensi hemodialisis bulanan. Jumlah pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis yang memenuhi karakteristik penelitian adalah sebanyak 110 yang terbagi pada hari senin, selasa dan kamis. Apabila populasi berjumlah 110 Maka di dapat 86 orang sebagai sampel penelitian. Sisanya sebanyak 24 orang digunakan untuk sampel try out alat ukur. pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis selama diatas 1 tahun baik itu pria atau wanita yang berusia 25-62 tahun yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini. Sampel diambil dengan teknik Incidental sampling (Hadi, 2004) yaitu tidak semua pasien dalam populasi diberi kesemptan yang sama untuk ditugaskan menjadi sampel melainkan pasien gagal ginjal yang ditemui pada saat penelitian.

    Alat Ukur

    Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini menggunakan skala. Skala penyesuaian diri dan skala kecemasan. Analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik. Adapun metode analisis datanya menggunakan analisis regresi sederhana, diolah dengan program SPSS 16.

    Sebelum melakukan analisis data terlebih dahulu dilakukan uji asumsi yang meliputi uji normalitas dan uji linieritas. Uji normalitas dan uji linieritas ini merupakan syarat sebelum melakukan analisis regresi, hal ini maksudnya agar kesimpulan yang ditarik tidak menyimpang dari kebenaran yang seharusnya (Hadi, 2004).

    HASIL PENELITIAN

    Hasil uji hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dengan depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis di RSUP. Dr. Mohammad Hoesin Palembang (r=0,722; p= 0,000 atau p<0,01). Hal ini berarti jika variabel dukungan sosial positif maka depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis rendah, Sebaliknya jika variabel dukungan sosial negatif maka depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis tinggi. Selanjutnya, besar sumbangan efektif yang diberikan oleh variabel dukungan sosial terhadap variabel depresi sebesar 52,1% (R2 =0,521). Hal ini berarti ada 47,9% faktor lain yang juga mempengaruhi depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis namun tidak diteliti lebih lanjut oleh penulis.

    Hasil uji hipotesis penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dengan depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis di RSUP. Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Hal ini ditunjukan dengan nilai korelasi (r=0,722 dan nilai p= 0,000 yang berarti p< 0,01). Artinya semakin positif atau baik dukungan sosial maka semakin rendah depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis, sebaliknya semakin negatif dukungan sosial maka semakin tinggi depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis.

    Besarnya sumbangan efektif yang diberikan oleh variabel dukungan sosial terhadap variabel depresi sebesar 52,1% (R2 =0,521). Hal ini dapat diartikan bahwa ada 47,9% faktor lain ang juga mempengaruhi depresi namun tidak diteliti lebih lanjut oleh penulis.

    Adanya hubungan antara dukungan sosial dengan depresi didukung pernyataan dari Jhonson (Davison, Neale & Kring 2006) yang mengemukakan bahwa dukungan sosial memprediksi pemulihan yang lebih cepat serta berkurangnya simptom-simptom depresi.

    Kategori Variabel Dukungan Sosial

    Berdasarkan Skor yang berada pada X≤(M) sebagai kategori rendah atau negatif dan skor yang berada pada X>(M) sebagai kategori tinggi atau positif. Kelompok subjek dikategorikan mempunyai dukungan sosial yang negatif jika skor X≤102,35 dan positif jika skor X>102,35. Secara sederhana, pengelompokan subjek penelitian berdasarkan kategorisasi distribusi normal untuk dukungan sosial dapat dilihat pada tabel 9 di bawah ini:

    Tabel 11

    Kategori subjek penelitian berdasarkan distribusi normal

    Skala Dukungan Sosial

    Skor

    Kategorisasi

    N

    %

    X ≤102,35

    Negatif

    45

    52,3%

    X >102,35

    Positif

    41

    47,7%

    Total

    86

    100%

    Sumber       : diolah dari data penelitian.

    Tabel diatas menunjukan bahwa dari 86 pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis yang dijadikan subjek penelitian, ada 45 pasien (52,3%) menerima dukungan sosial negatif, 41 pasien (47,7%) menerima dukungan sosial positif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis menerima dukungan sosial negatif.

    Kategori Variabel Depresi Pada Pasien Gagal Ginjal Yang Menjalani Hemodialisis.

    Berdasarkan Skor dari Beck Depression Inventory pengelompokan skor kategori depresi dengan kategori normal, ringan, sedang, dan berat berdasarkan norma untuk penggolongan tingkat depresi yang dilakukan oleh Greist dan Jefferson (Retnowati, 1990) sebagai berikut. Normal 0 – 9, Ringan 10 ─ 15, Sedang 16 – 23, Berat 24 – 63. Secara sederhana, pengelompokan subjek penelitian berdasarkan kategorisasi distribusi normal dari norma Greist dan Jefferson (Retnowati, 1990) untuk depresi dapat dilihat pada tabel 10 di bawah ini:

    Tabel 12

    Kategori subjek penelitian berdasarkan norma

    Skala Beck Depression Inventory

    Skor

    Kategorisasi

    N

    %

    0 – 9

    Normal

    5

    5,81%

    10 – 15

    Depresi Ringan

    11

    12,80%

    16 – 23

    Depresi Sedang

    21

    24,41%

    24 – 63

    Depresi Berat

    49

    56,98%

    Total

    86

    100%

    Sumber       : diolah dari data penelitian.

    Tabel diatas menunjukan bahwa dari 86 pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis yang dijadikan subjek penelitian, ada 5 pasien (5,81%) yang tidak mengalami depresi atau normal, 11 pasien (12,80%) mengalami tingkat depresi ringan, 21 pasien (24,41%) mengalami tingkat depresi sedang, 49 pasien (56,98%) mengalami tingkat depresi berat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis mengalami tingkat depresi berat.

    Untuk pengkategorian tingkat depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis penulis mengacu pada norma untuk penggolongan tingkat depresi yang dilakukan oleh Greist dan Jefferson (Retnowati, 1990) sebagai berikut. Normal 0 – 9, Ringan 10 ─ 15, Sedang 16 – 23, Berat 24 – 63. Dan dari hasil penelitian didapat data dari 86 pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis yang dijadikan subjek penelitian, ada 5 pasien (5,81%) yang tidak mengalami depresi atau normal, 11 pasien (12,80%) mengalami tingkat depresi ringan, 21 pasien (24,41%) mengalami tingkat depresi sedang, 49 pasien (56,98%) mengalami tingkat depresi tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis mengalami tingkat depresi tinggi.

    Hal ini membuktikan pada pernyataan awal fenomena yang didapatkan dari angket awal, observasi dan wawancara yang memperlihatkan sebagian besar pasien menjalani hemodialisis menunjukan simptom-simptom depresi yang cukup besar pada beberapa bulan pertama menjalani hemodialisis, namun tidak sesuai dengan fenomena setelah 3 bulan menjalani hemodialisis yang menunjukkan adanya penurunan simptom-simptom depresi lebih dari 50% setelah empat bulan lebih menjalani hemodialisis, dimana pada saat penelitian dengan  menggunakan skala Back Depression Inventory masih ada 49 dari 86 pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis mengalami depresi berat.

    Pengaruh lain dari hasil penelitian ini adalah sumbangan dari variabel dukungan sosial adalah negatif. Hal ini dapat diketahui dari 86 pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis yang dijadikan subjek penelitian, ada 45 pasien (53,3%) menerima dukungan sosial, 41 pasien (47,7%) menerima dukungan sosial positif. Dapat disimpulkan bahwa rata-rata pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis menerima dukungan sosial negatif.

    Ada faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi hasil penelitian ini seperti penggalian informasi awal tidak menggunakan karakteristik yang jelas tetapi pada saat penelitian pasien yang dikenakan penelitian adalah pasien yang memiliki karakteristik menjalani hemodialisis selama 1 tahun lebih dan pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis berusia 25-62 tahun. Dukungan sosial rendah ini dapat dikarenakan setelah pasien gagal ginjal menjalani hemodialisis telah lebih dari satu tahun seperti pada karakteristik populasi dimana banyak pasien dalam menjalani hemodialisis tidak selalu ditemani oleh keluarganya, selain itu informasi mengenai pengobatan alternatif yang telah dicoba banyak pasien ternyata tidak memberikan kesembuhan hal ini meyakinkan pasien bahwa tidak ada jalan lain selain menjalani hemodialisis selama sisa hidupnya.

    Dukungan sosial diartikan sebagai suatu bentuk tingkah laku yang menimbulkan perasaan nyaman dan membuat individu percaya bahwa ia dihormati, dihargai, dicintai dan bahwa orang lain bersedia memberikan perhatian dan keamanan Jacobson (Orford, 1992). Pernyataan tersebut didukung oleh pernyataan Cobb (Kuntjoro, 2002) yang mendefinisikan dukungan sosial sebagai adanya kenyamanan, perhatian, penghargaan atau menolong orang dengan sikap menerima kondisinya, dukungan sosial tersebut diperoleh dari individu maupun kelompok. Sehingga ketika pasien mendapatkan dukungan sosial yang positif atau sesuai dengan kebutuhan pasien maka dapat menurunkan depresi pasien gagal ginjal tersebut tetapi karena dukungan sosial yang dirasakan pasien tersebut adalah negatif maka keadaan tersebut tidak dapat menurunkan depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis sehingga sebagian besar pasien berada pada depresi berat.

    Terjadinya gangguan pada fungsi tubuh pasien hemodialisis, menyebabkan pasien harus melakukan penyesuaian diri secara terus menerus selama sisa hidupnya. Bagi pasien hemodialisis, penyesuaian ini mencakup keterbatasan dalam memanfaatkan kemampuan fisik dan motorik, penyesuaian terhadap perubahan fisik dan pola hidup, ketergantungan secara fisik dan ekonomi pada orang lain serta ketergantungan pada mesin dialisa selama sisa hidup, keadaan seperti ini dapat menimbulkan perasaan tertekan bahkan dapat menimbulkan gangguan-gangguan mental seperti depresi. Penyesuaian diri secara terus menerus terhadap keadaan fisik yang selalu berubah-ubah, inilah yang mungkin dapat menyebabkan tidak menurunnya depresi pada sebagian besar pasien gagal ginjal setelah satu tahun lebih menjalani hemodialisis.

    SIMPULAN

    Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : ada hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dengan depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis di RSUP. Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Selanjutnya besarnya sumbangan efektif yang diberikan oleh variabel dukungan sosial terhadap depresi sebesar 52,1%.

    B. Saran-saran

    Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan, maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut:

    1.      Bagi Pasien Gagal Ginjal Yang Menjalani Hemodialisis

    Bagi pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis di RS. Dr. Mohammad Hoesin Palembang, penulis menyarankan agar pasien harus selalu yakin bahwa keluarga dan orang-orang dilingkungan sosial selalu memberikan dukungan, dengan cara selalu berfikir positif  seperti dapat menerima keadaan yang dialami, tidak mengeluh dan putus asa, selalu berusaha untuk sembuh dengan tetap menjalani pengobatan secara rutin, dan menerima batuan dari orang lain atau berusaha untuk tetap bersosialisasi.

    2.      Bagi Rumah Sakit

    Bagi pihak rumah sakit penulis menyarankan agar dapat memberikan pelayanan pengobatan dengan sebaik mungkin, menghadapi pasien dengan rasa sayang dan ramah tama sehingga pasien merasa nyaman setiap hemodialisis, memperhatikan keadaan pasien baik secara fisik maupun psikis.

    3.      Bagi Keluarga pasien

    Bagi keluarga pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis, penulis menyarankan untuk tetap sabar dan selalu memberikan perhatian serta memberikan kasih sayang, berusaha tegar dan tidak mengeluh dihadapan pasien. Selalu memperhatikan keadaan fisik dan juga psikis pasien, apabila keadaan psikis pasien mengalami banyak gangguan atau penurunan diharapkan untuk mencari informasi mengenai apa yang terjadi pada pasien, sehingga dapat membantu penyembuhan dari pasien.

    4.      Bagi Peneliti Selanjutnya

    Bagi peneliti selanjutnya, penulis menyarankan untuk meneliti variabel lain yang turut mempengaruhi depresi pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis, dengan wawancara yang mendalam dan observasi, menyempurnakan alat ukur dan memperluas subjek penelitian.

    DAFTAR RUJUKAN

    Davison, G.C.  Neale, J & Kring,A. 2006. Psikologi abnormal. Edisi ke -9. Jakarta: PT raja Grafindo Persada.

    Esterlianawati. 2008. Kenapa bisa depresi. blog psychology.http://esterlianawati. wordpress.com/2008/04/02/kenapa-bisa-depresi/. Dikses 14 april 2010.

    Hadi, P. 2004. Depresi dan Solusinya. Yogyakarta: Penerbit Tugu.

    Hady, A. 2009. Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Sosial. http://hady-aprilia.blogspot.com/2010/04/hubungan-pengetahuan-dan-dukungan.html. Diakses tanggal 12 April 2010.

    Kuntjoro, J.S. 2002. Dukungan sosial pada lansia. jakarta .http://www.e-psikologi.com/epsi/lanjutusia_detail.asp?id=183. Diakses 9 Mei 2010.

    Lubis, N.L. 2009. Depresi; Tinjauan psikologis. Jakarta: Kencana.

    Muslim, R. 2003. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkasan dari PPDGJ-III. Jakarta: PT Nuh jaya.

    Mazbow. 2009. Apa itu dukungan sosialhttp://www.masbow.com/2009/08/apa- itu-dukungan-sosial.html. Diakses 14 April 2010.

    Orford, J. 1992. Community Psychology. Theory & Practise. West Sussex: John Wiley & Suns. Ltd.

    Retnowati, S. 1990. Efektivitas Terapi Kognitif dan Terapi Perilaku Pada Penanganan Gangguan Depresi. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

    Rohmat, Ilham. 2010. Hubungan Tingkat Pengetahuan Pasien Gagal Ginjal Tentang Hemodialisa Dengan Kepatuhan Pelaksanaan Hemodialisa. http://ilhamrohmat.blogspot.com/2010/01/proposal.html. Diakses 2 mei 2010.

    Siswanto. 2007. Kesehatan Mental Konsep Cakupan dan Perkembangan. Yogyakarta: Penerbit Andi.

    Leave a reply