Kearifan Lokal Sastra Lisan Besemah: Kajian Andai-andai Jambu Mbak Kulak

Abstrak :

Sastra lisan tidak sekedar dapat berfungsi sebagai alat penghibur atau mengisi waktu kosong belaka, melainkan juga dapat berfungsi sebagai alat pendidikan. Dalam kaitan ini, pendidikan melalui nilai kearifan lokal yang dikandungnya. Sastra lisan Besemah yang dalam hal ini diwakili andai-andai Jambu Mbak Kulak juga menyimpan potensi kearifan lokal masyarakat setempat melalui perlambangan dan perilaku tokoh cerita. Di antara nilai kearifan lokal tersebut meliputi kegigihan dan keteguhan, kesetiakawanan, konflik kepentingan, dan ketidakadilan.

 

Kata kunci: sastra lisan, andai-andai, kearifan lokal

 

 

 

 

 

 

1. Pendahuluan

Salah satu cabang ilmu sosial yang dapat menjadi alternatif merajut tatanan kenegaraan dan menjadi alat pengendali arogansi iptek adalah sastra. Membaca karya sastra tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan nilai-nilai moral yang dapat memperhalus budi pekerti dan mendukung terbentuknya watak dan kepribadian yang dilandasi oleh iman dan taqwa (Rudy, 2010:2).

Sejalan dengan pernyataan ini, Husniah dan Arifani (2010) mengemukakan membaca sastra berarti mengenal berbagai karakter yang sebagian besar merupakan refleksi dari realitas kehidupan. Dengan demikian, pembaca atau pendengar akan memahami motif yang dilakukan setiap karakter baik yang protagonis maupun yang antagonis sehingga pembaca dapat memahami alasan pelaku dalam setiap perbuatannya.

Bascom (1965) seperti dikutip Aliana (2000:13) menyatakan cerita prosa rakyat  dengan berbagai tokohnya dapat memperluas cakrawala pemahaman kita tentang

 

 

 

 

berbagai macam kehidupan masyarakat. Hal ini dipertegas Rafiek (2010:57) yang menyatakan bahwa sastra lisan mempunyai ciri-ciri gaya bahasa yang berlainan dengan sastra tertulis walaupun perbedaan itu tidak terlalu mencolok. Ciri-ciri khas yang berwujud pengungkapan alam pikiran masyarakat, norma hidup, nilai-nilai, tercakup dalam satra lisan, seperti sering tergambar pula dalam sastra tertulis.

Hal yang sama juga tersimpan dalam sastra lisan Besemah yang ada di Propinsi Sumatera Selatan. Salah satunya seperti yang terdapat dalam andai-andai. Menurut Aliana (2000:16) “andai-andai adalah nama lain untuk cerita prosa rakyat Besemah, sama halnya dengan andi-andi di daerah Komering dan cerite dalam bahasa Ogan.”

Dikatakan, sastra lisan atau sastra tradisional (traditional literature) merupakan suatu bentuk ekspresi masyarakat pada masa lalu yang umumnya disampaikan secara lisan. Sastra lisan tetap hidup dalam segala perubahan zaman. Sastra lisan sebagian besar masih tersimpan di dalam ingatan orang tua atau tukang cerita yang jumlahnya semakin berkurang. Sebagai kekayaan sastra, cerita rakyat yang merupakan bagian dari sastra lisan yaitu salah satu unsur kebudayaan yang perlu dikembangkan karena mengandung nilai-nilai budaya, norma-norma, dan nilai-nilai etika serta nilai moral masyarakat pendukungnya.

Tulisan ini berusaha membahas kearifan lokal yang terkandung di dalam cerita prosa rakyat Besemah  “Jambu Mbak Kulak”. Pertama, dibahas pengertian dasar yang berkait dengan cerita prosa rakyat dan kearifan lokal. Kedua, pembahasan mengenai kandungan kearifan lokal dalam cerita tersebut.

Hal menarik dapat disampaikan di sini bahwa cerita ini didapatkan penulis langsung dari penuturnya, Rohimah (86 tahun). Oleh karena itu, untuk kepentingan kajian ini cerita tersebut ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia.

 

 

2. Kearifan Lokal Dalam Karya Sastra

Sastra lisan pada umumnya menyampaikan nilai-nilai sosial dan budaya tertentu dari masyarakat yang bersangkutan. Sastra lisan tersebut berfungsi untuk memberikan pengetahuan berbagai hal sekaligus untuk mendidik dan membangkitkan semangat dan membina berbagai karakter positif yang lain. Sastra lisan juga mengajarkan tentang norma dan dan tata cara dalam berperilaku serta berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya. Berbagai nilai budaya yang disampaikan oleh sastra lisan itu menunjukkan khasanah budaya nusantara serta pola-pola perilaku dan karakter dari masyarakat pendukung sastra lisan tersebut (Yulianto, 2009:43).

Edi Sedyawati (2004:210) menegaskan cerita prosa rakyat dalam sastra lisan Nusantara, khususnya dongeng, adalah cermin kualitas kehidupan dari masyarakat pemiliknya. Kisah tentang orang miskin, tolol, dan pintar-pintar bodoh yang kocak sering mewarnai alur.

Orang miskin yang dinista berubah menjadi orang kaya yang berhati emas. Orang-orang tolol senantiasa menjadi tertawaan banyak orang karena tindakannya tidak pernah mencerminkan kearifan. Orang-orang kocak, pintar-pintar bodoh, selalu luput dari kesulitan. Namun, siapa pun tokohnya, bagaimanapun alurnya, sastra lisan Melayu hampir selalu menyimpan pesan yang mulia, yang dapat digunakan sebagai cermin dalam kehidupan bermasyarakat.

Karya sastra tentu saja tidak sebatas cerminan namun mampu mengakomodasikan nilai-nilai moral maupun kritik sosial yang ada di dalamnya dan menjadi dasar atau sekurang-kurangnya mengilhami perilaku masyarakat pendukungnya. A’la (2010) menyatakan kearifan lokal itu tentu tidak muncul serta-merta, tapi berproses panjang sehingga akhirnya terbukti, hal itu mengandung kebaikan bagi kehidupan mereka. Keterujiannya dalam sisi ini membuat kearifan lokal menjadi budaya yang mentradisi, melekat kuat pada kehidupan masyarakat. Artinya, sampai batas tertentu ada nilai-nilai perenial yang berakar kuat pada setiap aspek lokalitas budaya ini. Semua, terlepas dari perbedaan intensitasnya, mengeram visi terciptanya kehidupan bermartabat, sejahtera dan damai. Dalam bingkai kearifan lokal ini, masyarakat bereksistensi, dan berkoeksistensi satu dengan yang lain.

Yudi Latif seperti dikutip Rudy (2010), mengatakan  “Sastra juga mengajarkan karakter tanpa harus menggurui lewat cerita-cerita yang membangun karakter bangsa. Masyarakat saat ini membutuhkan role model yang kuat,” Pernyataan ini disampaikan Yudi Latif, saat peluncuran bukunya Menyemai Karakter Bangsa. Ini juga berarti bahwa karya sastra dengan kearifan yang tersimpan di dalamnya juga dapat berperan dalam membangun karakter bangsa.

Pembahasan tentang kearifan lokal yang berkait dengan nilai moral, budaya, dan kritik sosial dalam karya sastra, berarti mempertimbangkan aspek-aspek sosiologis dalam karya sastra tersebut. Sebuah penedekatan dan penelaahan terhadap karya sastra dengan menoroti aspek-aspek sosial dari karya tersebut disebut dengan sosiologi sastra (Yulianto, 2009:47).

Escarpit (dalam Yulianto, 2009:47) mengemukakan bahwa apa yang dimaksud dengan sosiologi sastra adalah terkait dengan pandangannya bahwa karya sastra pada dasarnya merupakan sebuah proses komunikasi antara penulis, penutur dengan masyarakat penikmatnya.

Perspektif sosiologi sastra yang patut diperhatikan juga adalah pernyataan Levin  bahwa “literature is not only the effect of social causes but also the cause of social effect”. Sugesti ini memberikan arah bahwa penelitian sosiologi sastra dapat ke arah hubungan timbal balik antara sosiologi dan sastra (Endraswara, 2008:79).

Sosiologi sastra adalah frasa yang mengandung dua bidang ilmu di dalamnya yaitu sosiologi dan sastra. “Sosiologi” merujuk pada ilmu tentang manusia dan masyarakat. Charon (dalam Yulianto, 2009:48) mengemukakan bahwa sosiologi adalah disiplin ilmu yang membahas tentang manusia dan kehidupan sosialnya. Ilmu ini tidak membahas kepribadian seseorang dan perilakunya melainkan membicarakan tentang interaksi sosial, pola-pola sosial (seperti peranan, kelompok sosial, budaya, dsb.) serta proses sosialisasi yang sedang berlangsung. Ilmu ini membicarakan manusia dalam konteks kehidupan sosialnya; manusia adalah makhluk sosial yang berinteraksi satu dengan yang lain; pola-pola perilaku kelompok sosial dan proses sosialisasi.  Sedangkan kata “sastra” dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta; kata kerja sas berarti mengarahkan, menunjukkan, mengajar,menunjukkan alat, sarana. Akhiran -tra berarti alat atau sarana. Oleh karena itu, “sastra” berarti “alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi, atau pengajaran” (Teeuw, 1988:23). Frasa “sosiologi sastra” berarti sebuah pendekatan terhadap telaah karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek dalam karya tersebut.

Sosiologi sastra berkembang dengan pesat sejak penelitian-penelitian dengan memanfaatkan teori strukturalisme dianggap mengalami kemunduran atau stagnasi. Analisis strukturalisme dianggap mengabaikan relevansi masyarakat yang justru merupakan asal-usulnya. Dipicu oleh kesadaran bahwa karya sastra harus difungsikan sama dengan aspek-aspek kebudayaan lain, maka satu-satumya cara adalah mengembalikan karya sastra ke tengah-tengah masyarakat, memahaminya sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan sistem komunikasi secara keseluruhan (Ratna, 2010:330).

Menurut Ratna  (2010:332-333) terdapat beberapa hal yang menyebabkan sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat dan dengan demikian harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai berikut:

  1. a.      Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, sedangkan ketiga subjek tersebut adalah anggota masyarakat.
  2. b.      Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat.
  3. c.       Medium karya sastra, baik lisan maupun tulisan, dipinjam melalui kompetensi masyarakat, yang dengan sendirinya telah mengandung masalah-masalah kemasyrakatan.
  4. d.      Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat, dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetika, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentingan terhadap ketiga aspek tersebut.
  5. e.       Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya. (Ratna, 2010: 332-333).

 

Dalam kaitannya dengan kearifan lokal yang terdapat dalam karya sastra, Sutarto (2002) seperti dikutip Edy Sedyawati et al (2004:199) menyebutkan cerita prosa rakyat memiliki dua kekuatan dasar yang dapat dimanfaatkan. Kekuatan dasar yang pertama adalah kekuatan yang bermakna spiritual. Maksudnya, pesan-pesan mulia yang tersembunyi dalam serita rakyat dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam meningkatkan kualitas kehidupan. Kekuatan dasar kedua adalah kekuatan bermakna ekonomis. Cerita rakyat dapat menjadi komoditas yang laku jual ketika diangkat ke atas panggung, layar perak, layar kaca, sebagai seni pertunjukan, atau disajikan dalam bentuk sastra tulis berupa roman, novel, cerita pendek, atau dapat pula dikemas  dalam bentuk sandiwara radio.

Lebih lanjut dikatakan, cerita prosa rakyat juga sangat kaya dengan nilai-nilai kehidupan. Ketamakan, keculasan, kebodohan, kemalangan, adalah tema-tema yang menjadi pengimbang tema-tema yang berlawanan seperti ketulusan, kebaikan hati, kearifan, dan keluhuran budi pekerti, selain petuah orang tua, ketulusan cinta, bahaya ingkar janji, kekuatan akal, hubungan antara nasib seseorang dengan perbuatannya, pengabdian kepada kepentingan umum, toleransi, dan tenggang rasa (Edy Sedyawati, 2004:207).

 

3. Ringkasan Cerita Jambu Mbak Kulak

Dikisahkan seorang putri dan adiknya sedang berjalan menuju hutan. Di perjalanan, sang adik melihat jambu sebesar kulak (kaleng mentega ukuran 2 kg). Sang adik meminta Putri untuk mengambilkan jambu di atas pohon. Namun karena Putri tidak bisa memanjat, maka dia meminta Tupai yang kebetulan sedang lewat.

Putri: Tupai, maukah Engkau mengambilkan jambu untuk adikku? Tupai: Mau. Engkau ‘kan temanku. Dengan senang hati Putri menunggu Tupai mengambilkan jambu untuk Adiknya. Namun, setelah Tupai mendapatkan jambu, ternyata dia tidak mau memberikan jambu itu kepada Putri dan Adiknya. Tupai justru asyik memakan jambu itu.

Dengan sedih Putri dan Adiknya berjalan masuk ke dalam hutan untuk mencari pertolongan. Di dalam hutan, mereka bertemu dengan Kayu Bakar. Putri pun meminta pertolongan Kayu Bakar. Putri: Kayu Bakar, maukah kau memukul Tupai? Tupai tidak mau mengembalikan jambu adikku. Kata Kayu Bakar: Mengapa saya harus menolong mu? Tupai ‘kan teman ku.

Putri kembali berjalan mencari pertolongan, dan ia pun bertemu dengan Api. Putri pun kembali meminta pertolongan dengan Api. Putri: Api, maukah kau membakar Kayu Bakar? Kayu Bakar tidak mau memukul Tupai. Tupai tidak mau mengembalikan jambu adikku. Sahut Api: Mengapa saya harus membakar Kayu Bakar? Kayu Bakar kan temanku.

Putri bersedih karena tidak ada yang mau menolongnya. Dia dan adiknya berjalan lagi

masuk ke hutan dan bertemu Air. Kembali Putri meminta pertolongan Air. Putri berkata: Air, maukah kau mematikan Api? Api tidak mau membakar Kayu Bakar. Kayu Bakar tidak mau memukul Tupai. Tupai tidak mau mengembalikan jambu Adikku. Ternyata air menolak permintaan Putri. “Mengapa saya harus memadamkan Api? Api kan temanku,” katanya.

Lagi-lagi Putri harus menelan kekecewaan karena tidak mendapatkan pertolongan dari Air.

Lalu dia berjalan lagi dan bertemu dengan Gunung. Putri pun meminta pertolongan Gunung. “Gunung, maukah kau menahan Air? Air tidak mau memadamkan Api. Api tidak mau membakar Kayu Bakar. Kayu Bakar tidak mau memukul Tupai. Tupai tidak mau mengembalikan jambu Adikku,” kata Putri. Gunung menyahut, “Mengapa saya harus menahan Air. Air kan teman ku.”

Dengan bersedih Putri melanjutkan perjalanannya dan bertemu dengan Kerbau. Dia pun kembali mencoba meminta pertolongan Kerbau. “Kerbau, maukah kau menghancurkan Gunung? Gunung tidak mau menahan Air. Air tidak mau memadamkan Api. Api tidak mau membakar Kayu Bakar. Kayu Bakar tidak mau memukul Tupai. Tupai tidak mau mengembalikan jambu Adikku,” kata Putri. Kerbau menjawab, “Mengapa saya harus menghancurkan Gunung? Gunung kan teman ku.”

Putri kemudian berjalan lagi dan bertemu dengan Tali. Ia mencoba untuk meminta bantuan dari Tali. KataPutri, “Tali, maukah kau mengikat Kerbau? Kerbau tidak mau menghancurkan Gunung. Gunung tidak mau menahan air. Air tidak mau memadamkan Api. Api tidak mau membakar Kayu Bakar. Kayu Bakar tidak mau memukul Tupai. Tupai tidak mau mengembalikan jambu Adikku.” “Mengapa saya harus mengikat Kerbau. Kerbau kan temanku,” jawab Tali.

Dengan sedih Putri berjalan lagi dan bertemu dengan Tikus. Dia pun meminta pertolongan Tikus. Putri meminta Tikus untuk mengerat Tali. Tali tidak mau mengikat Kerbau. Kerbau tidak mau menghancurkan Gunung. Gunung tidak mau menahan Air. Air tidak mau memadamkan Api. Api tidak mau membakar Kayu Bakar. Kayu Bakar tidak mau memukul Tupai. Tupai tidak mau mengembalikan jambu Adikku. Tikus menjawab, “Mengapa saya harus mengerat Tali. Tali kan teman ku.”

Putri terus melanjutkan perjalanan dengan hati yang sedih. Bertemulah dia dengan Kucing. Dia pun minta pertolongan Kucing. Putri berkata, “Kucing, maukah kau memakan Tikus? Tikus tidak mau mengerat tali. Tali tidak mau mengikat Kerbau. Kerbau tidak mau menghancurkan Gunung. Gunung tidak mau menahan Air. Air tidak mau memadamkan Api. Api tidak mau membakar Kayu Bakar. Kayu Bakar tidak mau memukul Tupai. Tupai tidak mau mengembalikan jambu adikku.” Kucing dengan senang hati menjawab, “Tentu saja Saya mau.Tikus kan makanan Saya.”

Mendengar Kucing akan memakannya, segera Tikus berkata, “Daripada saya dimakan Kucing lebih baik saya mengerat Tali. Mengetahui Tikus akan mengeratnya, segera Tali berkata, “Daripada Tikus mengerat saya, lebih baik saya mengikat Kerbau. Lalu Kerbau mendengar bahwa ia akan diikat oleh Tali maka dia berkata, “Daripada saya diikat Tali lebih baik saya menghancurkan Gunung. Ketika gunung mengetahui akan dihancurkan oleh kerbau, ia pun mengancam akan menahan Air. Ketika Air mengetahui ia akan ditahan Gunung, Air pun berkata, “Daripada saya ditahan Gunung, lebih baik saya memadamkan Api.” Seterusnya, ketika Api mengetahui ia akan disiram Air, Api pun berkata, “Daripada saya dipadamkan oleh Air, lebih baik saya membakar Kayu Bakar.” Ketika Kayu Bakar tahu akan dibakar oleh Api, Kayu Bakar pun berkata, “Daripada saya dibakar Api lebih baik saya memukul Tupai.”

Akhirnya, Tupai mengetahui dirinya akan dipukul oleh Kayu Bakar, segera Tupai mengembalikan jambu kepada si Putri. Sayangnya, ternyata jambu yang dikembalikan tinggal sisa yang kecil, karena sepanjang perjalanan Putri meminta pertolongan, jambu selalu digigit oleh Tupai.

 

 

4. Analisis Kearifan Lokal dalam Cerita Jambu Mbak Kulak

Ratna (2010:340) menambahkan bahwa model analisis yang bisa dapat dilakukan dengan pendekatan sosiologi sastra meliputi tiga hal, yaitu:

  1. a.      menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri, kemudian menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah terjadi.
  2. b.      Menganalisis hubungan antarstruktur, seperti alur, tokoh, latar, dan sebagainya. Dalam hubungan yang bersifat dialektika
  3. c.       Menganalisis karya dengan tujuan untuk memperoleh informasi tertentu, dilakukan oleh disiplin tertentu.

Dari ketiga analisis tersebut, model analisis kedua yang dianggap lebih relevan karena dalam model ini, karya sastra bersifat aktif dan dinamis. Dengan kata lain, seseorang perlu menyoroti dua aspek dari karya sastra yaitu unsur intrinsik maupun aspek sosial yang menjadi latar dalam karya tersebut ketika menganalisis karya dengan pendekatan sosiologi sastra (Yulianto, 2009: 49)

Sebelum penulis melakukan kajian yang mendalam terhadap andai-andai “Jambu Mbak Kulak”, ada baiknya disampaikan skema hubungan sebab-akibat dan akibat-sebab yang merangkai isi cerita. Hal ini diperlukan untuk lebih membantu melihat keterkaitan sikap dan perilaku masing-masing tokoh cerita.

Nilai merupakan sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan, misalnya nilai-nilai agama yang perlu kita indahkan.(Departemen Pendidkan Nasional, 2008:963). Charon dalam Yulianto (2009: 50) menjelaskan bahwa nilai” merupakan komitmen yang berlangsung lama dari organisasi atau individu. Nilai adalah pilihan yang kuat. Seseorang mempelajari nilai-nilai dalam interaksinya  dalam kelompok sosial. Nilai memberikan tujuan ; menggerakkan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan menyebabkan mereka bertindak.

 

 

 

 

 

Skema Penceritaan

 

 

 

 

 

 

 

Tupai

(1)

 

 

 

 

 

Kayu Bakar

(2)

 

 

Api

(3)

 

 

 

 

 

Air

(4)

 

 

 

 

 

Gunung

(5)

 

 

 

 

(6)

 

 

 

 

(7)

 

 

 

 

(8)

 

 

 

 

 

Kucing

(9)

 

 

Keterangan :

(1)   Panah ke kiri, awal permintaan pertolongan

(2)   Panah ke bawah menunjukkan jenjang permintaan pertolongan

(3)   Panah ke kanan menunjukkan tokoh yang dimintai pertolongan

(4)   Panah ke atas menunjukkan alur balik pencerahan

 

 

Sedangkan “moral” berarti sesuatu yang berhubungan dengan kebaikan atau keburukan dari sifat atau perilaku sesorang, atau yang berhubungan dengan hal-hal yang benar dan salah (Pearshall & Trumble dalam Yulianto, 2009: 50). Teori tentang nilai merupakan bagian penting dari teori tentang moral (Pojman dalam Yulianto. 2009:50).

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Selain itu, budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh yang  bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia. (Wikipedia, 2011).

Charon melalui Yulianto (2009: 50-51) mengatakan bahwa budaya berkembang dalam sebuah interaksi. Budaya menggambarkan sesuatu yang diberikan oleh  orang-orang ketika mereka berinteraksi. Budaya adalah sekumpulan norma yang mengarahkan atau mengatur tindakan seseorang. Budaya merupakan aspek utama dalam interaksi individu dengan masyarakat. Pertama, budaya mempengaruhi apa yang dikerjakan oleh individu, misalnya seseorang berpartisipasi dalam kerja bakti karena nilai-nilai kegotongroyongan dalam masyarakatnya. Kedua, budaya menjadi aspek penting bagi kelompok sosial karena mereka yang mengadakan interaksi akan dapat saling memehami dan dapat bekerja sama dalam mengerjakan suatu pekerjaan.

Dalam Andai-andai “Jambu Mbak Kulak” pembahasan aspek ‘moral’ dan ‘budaya’ digabungkan menjadi satu pokok bahasan. Nilai moral juga meliputi nilai budaya, demikian pula nilai budaya juga meliputi nilai moral.

Kritik, arti harfiah yang diperoleh dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:742) adalah ‘kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu karya, pendapat, dan sebagainya.’

Amalia (melaui Aliyah, 2010:20) menyatakan bahwa kritik sosial adalah sindiran, tanggapan, yang ditujukan pada suatu hal yang terjadi dalam masyarakat manakala terdapat sebuah konfrontasi dengan realitas berupa kepincangan atau kebobrokan. Kritik sosial diangkat ketika kehidupan dinilai tidak selaras dan tidak harmonis, ketika masalah-masalah sosial tidak dapat diatasi dan perubahan sosial mengarah kepada dampak-dampak disosiatif dalam masyarakat. Kritik sosial disampaikan secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung, kritik sosial dapat disampaikan melalui media. Media penyampaian kritik sosial beraneka ragam jenisnya. Karya sastra adalah salah satu media paling ampuh untuk menyampaikan kritik sosial.

Kritik sosial adalah salah satu bentuk komunikasi dalam masyarakat yang bertujuan atau berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya sebuah sistem sosial atau proses bermasyarakat. Penekanan dalam pengertian ini adalah kontrol terhadap sebuah sistem sosial atau proses bermasyarakat yang merupakan realita sosial. Kritik sebagai salah satu bentuk komunikasi pada dasarnya adalah sebuah cara menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap realita yang ada (Akhmad Zaini Abar, melaui Aliyah 2010: 20).

Dengan memperhatikan batasan-batasan di atas, maka kearifan lokal berupa nilai-nilai moral, budaya dan kritik sosial yang ditunjukkan mayarakat Besemah dalam andai-andai “Jambu Mbak Kulak “ adalah sebagai berikut.

 

4.1 Kegigihan dan Keteguhan

Dikisahkan kegigihan dan keteguhan hati sang Putri demi memenuhi permintaan sang adik, yaitu memetikkan sebuah jambu besar. Sang Putri meminta pertolongan tupai, namun tidak sesuai harapan. Tupai tidak mau memberikan jambu pada sang putri.  Sang putri meminta tolong pada kayu bakar untuk memukul tupai dengan maksud agar tupai mau memberikan jambu besar yang sudah dipetiknya tadi. Tetapi sayang, kayu bakar menolak permintaan itu dengan mengatakan bahwa tupai adalah temannya.

Sang putri berusaha kembali dan bertemu dengan api yang diminta untuk membakar kayu bakar karena tidak mau memukul tupai. Lagi-lagi si api menolak karena kayu bakar adalah temannya.

Sang putri berupaya kembali dan bertemu dengan air yang dimintanya untuk memadamkan api. Api sudah menolak permintaan tolong sang putri yang tidak mau membakar kayu. Namun air menolak permintaan putri.

Perjuangan berlanjut dengan pertemuan putri dengan gunung. Gunung diminta untuk menahan air karena air tidak mau memadamkan api. Namun sang gunung juga menolak untuk menahan air dengan alasan air adalah temannya..

Sang putri menemui kerbau. Dia membujuk kerbau agar mau merobohkan gunung yang tidak mau menahan air.Sayangnya, kerbau menolak permintaan putri dengan dalih gunung adalah temannya.

Putri berjalan kembali dan bertemu seutas tali. Kepada tali, putri mohon agar tali mau mengikat kerabau yang sudah menolak permintaannya untuk merobohkan gunung. Apa daya, tali pun menolak karena merasa kerbau adalah temannya.

Sang putri terus berusaha dan bertemu dengan tikus. Sang tikus diminta untuk mengerat tali karena tali tidak mau mengikat kerabu sesuai permintaannya. Namun tikus juga menolak dengan dalih bahwa tali adalah temannya.

Sang putri tidak putus asa. Dia kembali bertemu dengan kucing yang diminta memangsa ttikus. Kucing setuju karena tikus adalah santapannya.

Keadaan pun berbalik. Tikus tak mau disantap kucing, maka dia pun mengerat tali. Tali tak mau dikerat dan dia mau mengikat kerbau. Tentu saja kerbau tak mau diikat dan dia bersedia merobohkan gunung.

Gunung juga tak rela dirobohkan, maka dia mau menahan air. Air tak mau dibendung, maka air bersedia untuk memadamkan api. Daripada padam, api pun sanggup untuk membakar kayu. Mendengar dirinya mau dibakar, sang kayu rela untuk memukul tupai. Tupai ketakutan, daripada dipukul kayu, lebih baik memberikan jambu besar pada sang putri meskipun tinggal sisa kecil karena sudah dimakannya.

Dari andai-andai ini tergambar bagaimana perjuangan dan upaya  sesungguhnya seorang perempuan. Dalam pandangan sebagian masyarakat, perempuan digambarkan sebagai sosok yang lemah, tidak berdaya, tergantung pada laki-laki. Namun dalam andai-andai ini, sang putri digambarkan sebagai sosok yang pantang menyerah demi mewujudkan keinginannya. Hal ini memberikan pengajaran kepada pembaca atau pendengar agar tidak cepat putus asa, dan yakin bahwa keinginan apapun akan dapat terwujud dengan kegigihan dan keteguhan untuk mewujudkannya. Jika dilihat dari pandangan ini bahwa perjuangan Putri sangat tinggi karena ia sampai 9 (Sembilan) kali meminta pertolongan, barulah terkabulkan.

 

4.2 Kesetiakawanan

Nilai moral kesetiakawanan yang melahirkan budaya saling menolong, gotong royong, dan sebagainya. tercermin lewat tokoh-tokoh cerita ini. Nilai moral ini terlihat pada saat para tokoh mau menerima pihak lain dengan tangan terbuka seperti yang dilakukan tokoh Tupai. Sang putri meminta tolong tupai untuk mengambilkan jambu buat adiknya. Dengan senang hati tupai menyanggupi karena nilai kesetiakawanan. Salah satu hal yang menjadi unsur dalam kesetiakawanan adalah saling membantu pada saat mengalami kesulitan dan masalah.

Unsur lain dalam kesetiakawanan itu ditandai saling melindungi dari masalah dan kesulitan yang menghadang. Tokoh-tokoh dalam cerita ini berusaha melindungi tokoh-tokoh lain yang dirasakan akan mendapat kesulitan dengan permintaan sang putri. Diawali dengan tokoh kayu bakar yang diminta memukul tupai. Kayu bakar menolak dengan alasan kesetiakawanan. Si api juga menolak permbintaan sang putri karena menjunjung nilai pertemanannya. Seluruh tokoh yang ada baik itu tupai, kayu bakar, api, air, gunung, kerbau, tali, dan tikus amat mengedepankan nilai ini dengan menolak permintaan sang Putri.

Cerita ini mengajarkan betapa besarnya nilai kesetiakawanan yang ditandai dengan sikap saling membantu, meringankan beban, dan berempati terhadap masalah orang lain. Nilai kesetiakawanan  itu sendiri  diperkuat dengan sikap saling menjaga kerukunan, menghindari masalah dan konflik yang berpotensi merugikan dan membahayakan orang lain.

 

4.3 Konflik kepentingan

Selain nilai moral kesetiakawanan, ada hal lain yang menarik untuk disimak adalah adanya kritik sosial terhadap konflik kepentingan tokoh-tokoh yang berlawanan dengan nilai moral kesetiakawanan itu.

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya..

Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik (Wikipedia, 2011b).

Dalam cerita ini, konflik kepentingan terlihat pada tokoh-tokoh Tupai, Kayu Bakar, Api, Air, Gunung, Kerbau, Tali, dan Tikus. Pada awalnya, mereka menolak kepentingan sang putri yang ingin mendapatkan kembali jambu yang berada di tangan Tupai. Mereka menolak dengan alasan yang sama bahwa mereka semua berteman dan bersaudara. Namun, ketika ancaman “maut” mengintai lewat tokoh Kucing, mereka berbalik menyelamatkan diri dan lupa dengan komitmen awal dalam pertemanan.

Dalam masyarakat sekarang ini, hal-hal seperti itu sering muncul. Persaudaraan, persahabatan, dan hubungan baik bisa berubah menjadi permusuhan karena adanya kepentingan-kepentingan pribadi. Ini menjadi kritik bagi masyarakat yang terkadang hanya memikirkan kepentingannya sendiri, mengabaikan hak-hak orang lain, dan cenderung mengambil keuntungan pribadi.

 

4.4 Ketidakadilan

Pada awalnya, sang Putri yakin akan mendapatkan jambu besar lewat tangan tupai. Jambu itu digambarkan “mbak kulak” atau besarnya seperti canting penakar beras yang terbuat dari kaleng margarin besar. Namun ada pula yang mengartikan sebesar buah semangka.

Ternyata, harapan sang putri meleset. Adiknya hanya mendapatkan sisa jambu yang tinggal sedikit karena sudah dimakan tupai. Perjuangan panjang sang putri dalam mencari bantuan, telah memberikan kelonggaran waktu bagi si tupai untuk menggerogoti jambu yang memang menggiurkan itu.

Hal tersebut merupakan kritik sosial terhadap kepincangan dan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Seseorang sudah susah payah berjuang dan berkorban, namun ironisnya, hasil perjuangan itu malah dinikmati pihak lain.

Selain itu, terkandung pula kritik sosial atas kasus-kasus korupsi dan kebocoran bantuan. Masyarakat menunggu bantuan dari pihak yang bertanggung jawab (pemerintah). Namun apa daya, bantuan besar seringkali  sampai di tangan masyarakat hanya tinggal sedikit saja. Begitu panjang jalan “birokrasi “ yang harus dilalui, akibatnya, bantuan datang sudah tidak utuh seperti semula.

Kritikan ini demikian pedas. Akibatnya, menurut penuturnya pada tahun 1980-an masa Orde Baru, andai-andai sempat dilarang oleh penguasa waktu itu. Pemerintah menganggap ini sebuah sindiran atas banyaknya kasus kebocoran bantuan dari pemerintah pusat waktu itu sehingga masyarakat kecil di daerah-daerah terpencil  hanya tinggal memperoleh sedikit saja.

 

5. SIMPULAN

Masyarakat nusantara mempunyai cara tersendiri untuk menyampaikan pesan-pesannya moralnya, salah satunya melalui sastra lisan Besemah berupa andai-andai. Lewat andai-andai, masyarakat menyampaikan nilai-nilai moral, budaya, bahkan kritik-kritik sosia kepada para pendengarnya, yang kesemuanya itu mencerminkan kekuatan kearifan lokal yang dikandungnya.

Biasanya pendengar akan menyimak pesan-pesan tersebut, dan kemudian membawanya kepada sebuah perenungan atau kontemplasi. Inilah sesungguhnya fungsi sastra yang sudah amat termasyhur menurut Horatius yaitu dulce et utile (keindahan dan kebergunaan, menghibur dan bermanfaat).

Keindahan dan hiburan didapat dari ketegangan (suspense) penyimak pada saat sang putri berupaya untuk mencari tokoh yang dianggap akan mampu “mengalahkan” tokoh sebelumnya. Harapannya adalah sang tokoh baru dapat memaksa tokoh sebelumnya agar dapat menuruti keinginan sang Putri.

Setelah menyimak, penutur akan merenung dan mengambil pelajaran yang dikandung andai-andai tersebut. Secara tidak langsung, penyimak diajarkan pesan-pesan moral dan budaya seperti kegigihan dan keteguhan, kesetiakawanan, berupaya mengatasi konflik kepentingan dan menentang ketidakadilan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

A’la, Abdala. (2011, Januari 30). “Kearifan Lokal dalam Konteks Indonesia Kekinian.”  http://blog.sunan-ampel.ac.id/abdala/2010/10/09/kearifan-lokal-dalam-konteks-indonesia-kekinian/.

 

Ali Imron Al-Ma’ruf. (2010). “Kearifan Lokal pada Novel Ronggeng Dukuh Paruk sebagai Khasanah Budaya Bangsa.” Makalah diseminarkan pada Seminar Nasional Bulan Bahasa, Jakarta.

 

Aliana, Zainul Arifin. (2000). Ekspresi Semiotik Tokoh Mitos dan Legendaris dalam Tutur Sastra Nusantara di Sumatra Selatan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

 

Aliyah, Laely Nurul. (2010).  Kritik Sosial dalam Kumpulan Sajak Terkenang Topeng Cirebon Karya Ajib Rosidi : Tinjauan Sosiologi sastra. Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Endraswara, Suwardi. (2008). Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: MedPress

 

Husniah, Rohmy dan Yudhi Arifani. (2008). “Pendidikan Budi Pekerti Melalui Pendekatan Moral dalam Pengajaran Sastra.” Makalah disajikan dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / HISKI, Batu, 12-14 Agustus 2008.

 

Luxemburg, Jan van, Mieke Bal dan Willen G. Westjein. (1989). Pengantar Ilmu Sastra. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Jakarta: PT Gramedia

 

Rafiek, M. (2010). Teori Sastra: Kajian Teori dan Praktik. Bandung: Refika Aditama

 

Ratna, Nyoman Kutha. (2010).Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

Rudy, Rita Inderawati. (2010). “Kontribusi Pembelajaran Apresiasi Sastra Lokal Bagi Industri Kreatif Indonesia” dalam Mukmin, Suhardi, Bianglala Bahasa dan Sastra. Jakarta: Azhar Publishing.

 

Sedyawati, Edy. (2004). Sastra Melayu Lintas Daerah. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

 

Sutarto, Ayu. (2002). “Pesan Tersembunyi dalam Dongeng Nusantara” dalam Menjinakkan Globalisasi. Jember: Kompyawisda Jatim.

 

Teeuw, A. (1988). Sastra dan Ilmu Sastra : Pengantar Teori Sastra. Jakarta : Pustaka Jaya

 

Wikipedia. (2011a). Budaya (on line).(http://id.wikipedia.budaya.

 

Wikipedia.(2011b). Konflik (on line).(http://id.wikipedia/wiki/konflik.

 

Yulianto, Henrikus Joko. (2009). Nilai-Nilai Moral dan Budaya dari Beberapa Karya Sastra Indonesia dan Kontribusinya dalam Memabangkitkan Semangat Nasionalisme Bangsa. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

PDF Download    Send article as PDF   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco

Visit Us On Facebook