Kalau mau jalan-jalan ke Eropa jangan melewatkan Belanda. Pemerintah Belanda betul-betul ramah dengan turis manca negara. Pusat informasi disediakan di hampir setiap sudut. Apabila butuh informasi, cukup mencari lambang tanda tanya (?) berwarna kuning, maka dengan cekatan mereka akan membantu memberi informasi yang kita butuhkan. Hal ini dimungkinkan dengan bantuan teknologi informasi yang canggih dan terkoneksi.

Kalau berkunjung ke Eropa jangan lupa untuk membuat schengen visa sebagai pass untuk berkeliling di 23 negara yang tergabung dalam uni eropa. Tapi, apabila kita memilih Belanda sebagai negara kunjungan pertama, kita harus melalui tahap wawancara di kedubes belanda di jkt, so jadikan belanda sebagai negara kunjungan ke 2 or selanjutnya supaya gak repot dengan pengurusan visa karena dapat dilakukan melalui agen perjalanan.

Banyak sekali paket-paket wisata dalam bentuk brosur yg dapat diambil pada saat check-in di Hotel. Sepertinya sudah terjalin kerjasama yg cukup baik antara penyedia paket wisata dengan hotel-hotel yang ada. Brosur paket-paket wisata yang tersedia sama banyaknya seperti pada saat kita baru sampai di bandara Ngurah Rai, Bali. Kita tinggal mencari informasi dan memilih tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Saya tiba d schipol air port, kota yang sangat ramah. Dari bandara, saya beli karcis kereta api di mesin (rada sedikit bingung karena harus berhubungan dgn mesin instead of manusia, maklum blum terbiasa) menuju central station. Sampai di central station, sy mencari informasi ttg Amstel Boatel tempat saya akan menginap. Amstel Boatel adalah hotel bintang 3 yg berasal dari kapal. Karena itu hotel ini ada di atas sungai persis di sebelah Indonesian Floating Restaurant.

Setiba di resepsionis, saya mengambil beberapa brosur paket wisata yang saya bawa ke kamar. Saya agak surprise dalam brosur ada paket ” Tour to the Redlight District”. Bertambah kaget lagi setelah membaca keterangan paket yang dimaksud. Paket ini adalah paket berkunjung ke lokalisasi dimana tour leadernya seorang PSK. Weleh…weleh….Saya cukup kagum dengan kreatifitas orang Belanda menciptakan paket-paket yg cukup unik yang saya yakin kalau di Indonesia paket ini pasti akan ditentang habizzzz.

Sebetulnya paket dimaksud cukup menarik, tetapi karena saya traveling sendiri saya tidak berani mencoba walaupun dapat jaminan aman dari pihak hotel karena berangkat dalam rombongan. Saya memilih paket-paket aman yang sama menariknya.

Hari pertama saya habiskan berjalan-jalan di Amsterdam dengan hoop in hoop off. Karena Amsterdam terdiri dari kanal-kanal, maka dengan mudah kita dapat berjalan dan membaca peta yg tersedia. Saya ke Madam Tusaud/ patung lilin dan berfoto dengan Queen Beatrix, Lady Diana, Pierce Brosnan, dan banyak lagi yang lain. Sayang, hasil fotonya agak sedikit kabur. Saya juga sempat mampir di Gasan diamond factory. Waktu datang, masing-masing peserta ditanya asal negara. Ternyata, ada leader yg akan menemani tour dan saya sendiri dapat tour guide dari Indonesia. Namanya Mira, dia sudah 10 tahun di Belanda setelah menamatkan S1 nya di jkt. Karena sy sendiri yg berasal dari indonesia, jdnya hanya berdua aja n bs lebih banyak tanya ttg diamond. Dari kunjungan itu saya tau ada 4 C yang menentukan harga berlian. 1) Carrat, makin besar carratnya makin mahal harganya, 2) Colour, warna yg paling bagus warna biru jadi waktu dipotong kilaunya lebih menonjol, setelah biru putih dan yg terakhir kuning. Di martapura kebanyakan warna berlian kuning. 3) Cutting, makin banyak cutting maka makin mahal. Pada saat ke sana thn 2006, ada cutting terbaru dgn 210 sayatan. Wah, kebayang gak kilaunya. Tapi sayatan ini harus minimal 1 carrat karena kalo kurang dari itu maka berliannya akan hancur. Yang terakhir 4) Clarity. Ini sih baru bisa terlihat dengan alat khusus untuk melihat bubble or spot yg ada pada berlian. Karena berlian hasil alam, jarang ada berlian yg benar-benar sempurna. Akhirnya, setelah mendapat penjelasan panjang lebar, sy membeli cincin yg cukup menguras kantong. Hik….hik…hik…. Packagingnya rapi bgt n ada sertifikat keasliannya yg berlaku secara Internasional karena Gassan ada di beberapa negara termasuk outlet di jkt.

Hari kedua saya ikut paket ke Madurodam, melihat miniatur Belanda. Berbeda dgn taman mini yg tidak mini, di sana semuanya betul-betul dalam ukuran mini. Saya sempat menitikkan airmata waktu melihat peasawat Garuda parkir di landasan Schipol. Otw, ke Maduraodam, rombongan mampir ke Delft melihat pembuatan pottery. Delft terkenal dengan hasil tembikarnya.

Saya ingin sekali melihat bunga tulip di hokenkoff, tapi sayang baru berbunga di bulan Maret-Mei sedangkan saya datang pada bulan Juli. Sehingga saya putuskan untuk melihat volendam, desa nelayan dan pembuat keju.

Masih banyak yg bisa diceritakan di Belanda, karena saya bertemu dengan orang Belanda yg pernah ke Indonesia yg sepertinya illfeel, so dia always nice to me…… Sampai di sini dulu ya……..