Abstracts
 
 The objective of this study is to explore note-taking activity that students manage for a variety of reasons: time, space, planning and memory. Methodology/approach – A classroom-based instruction using Reception Learning Method emphasizing on incremental phonics and whole-language approaches and Discovery Learning Method focusing on radical approach were used to administer a test for a small sample of students in note-taking. Findings – it is found that students find note-taking activity easier by practicing Reception Learning Method with incremental approach than Discovery Learning Method with radical approach that this focus is related to improve quality. Practical implications – Any student, particularly those undertaking note-taking activity tend to focus on incremental approaches as these are actually related positively to improve quality of note taking in terms of speed and clarity.

 

Keywords : Effects, Language, Language Function, Note, Note-Taking, Skill.

 


 

 

 

PENDAHULUAN

Tujuan akhir suatu pengajaran bahasa ialah agar para pelajar terampil berbahasa. Dengan perkataan lain, agar para pelajar mempunyai keterampilan bahasa yang baik, meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Setiap keterampilan itu erat sekali hubungannya dengan keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Setiap keterampilan itu pula berhubungan dengan proses berpikir yang mendasari bahasa. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Artinya, melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih kemampuan berpikir (Tarigan, 1989:13-14).

Bahasa adalah pencapaian yang mendalam, oleh karena itulah beberapa orang berpendapat bahwa hidup manusia tidak ada tanpa bahasa. Bahasa membuat manusia berkomunikasi, berbicara, dan mengekspresikan ide, hasrat, dan keinginan dalam segala aspek kehidupan dan usaha mereka (Ridwan, 1986).

Definisi bahasa berakar pada cara berpikir kreatif. Finnochiaro (1974: 3) menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah sistem dari simbol – simbol suara yang secara turun temurun memampukan suatu kelompok dalam suatu kebudayaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi. A.S Hornby (1980: 472) berpendapat bahwa bahasa adalah manusia dan metode pendekatan naluri dalam penyampaian ide, perasaan dengan menggunakan sistem bunyi dan simbol – simbol bunyi.

Sejauh pengajaran bahasa tetap diperhatikan, pendidik atau guru sebaiknya menguasai keterampilan berbahasa: berbicara, menyimak, membaca, dan menulis. Dengan demikian, tujuan akhir pembelajaran bahasa dapat dicapai sesuai dengan tuntutan pembelajaran bahasa. Hal yang sangat ampuh untuk mencapai tujuan itu seperti disarankan Khorn (1977) dengan melatih sebuah bahasa (asing) mungkin dengan menggunakannya berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini kelihatannya sangat memungkinkan karena bahasa mempunyai banyak aspek, peraturan, dan norma – norma.

Dari keempat keterampilan berbahasa seperti diuraikan di atas, kegiatan menulis adalah mungkin hal yang paling sulit. Bahkan untuk penutur asli bahasa Inggris, banyak dari mereka menemukan kegiatan menulis adalah aktivitas yang sulit. Menulis dalam bahasa Inggris semakin dipersulit oleh sistem ejaan bahasa Inggris dengan keterbatasan peraturan dan banyaknya pengecualian.

Menulis dapat merupakan kegiatan individu – hal ini dilakukan hanya untuk kepentingan  penulis itu sendiri, seperti menulis buku harian, jurnal dan daftar belanja. Meskipun demikian, menulis tetaplah merupakan suatu bentuk komunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, penting untuk diketahui untuk siapa anda menulis, dan menulislah dengan gaya tulisan yang sesuai. (Bell, 2005).

Satu hal yang kurang disadari pada pendidik dan pembelajar adalah sebuah bentuk sederhana dalam kegiatan menulis, yaitu mencatat atau membuat catatan dalam suatu peristiwa pembelajaran.  Dengan membuat catatan, seorang pelajar dapat memetik pengetahuan secara efektif, karena hal ini sangat berkaitan dengan komunikasi tertulis (Boch dan Piolat, 2005:101).

Dengan berpijak pada paparan di atas, kajian ini akan membahas pengaruh fungsi bahasa terhadap kemampuan pelajar dalam membuat catatan (note taking). Aspek kajian ini tidak dapat dilepaskan dari keterampilan berbahasa pelajar, terutama kemampuannya dalam keterampilan menulis dan metode note taking yang digunakan.

 

 

 

KAJIAN PUSTAKA

 

Mencatat dan Menulis

Pada awalnya, pelajar mulai membuat catatan untuk berbagai alasan. Misalnya, keterbatasan waktu, kebutuhan kertas sebagai alat tulis, perencanaan tulisan dan daya ingat. Dalam hal ini, buku yang berjudul Key Skills in English yang ditulis oleh Terry Bell, dkk (2005) digunakan sebagai referensi utama.

Kegiatan pencatatan adalah bagian dari kemampuan menulis. Sama halnya dengan latihan menulis, semakin banyak anda latihan, semakin mudah jadinya. Orang membuat catatan untuk berbagai alasan: 1) waktu: mereka tidak mempunyai cukup waktu untuk menulis semuanya, sebagai contoh, dalam perkuliahan dan pesan telepon, 2) kebutuhan kertas: mereka tidak mempunyai cukup alat/media untuk menulis semuanya, sebagai contoh ketika mereka kehabisan kertas. 3) perencanaan: Mereka menulis catatan untuk merencanakan tulisan resmi, contohnya, merencanakan tulisan esai atau menyusun ide. 4) Daya ingat. Mereka menulis catatan untuk membantu mereka mengingat hal – hal tertentu, sebagai contoh, dalam sebuah perkuliahan, dari buku teks atau kata-kata kunci untuk persentasi.

Pencatat dapat menghemat waktu dengan menggunakan singkatan, contohnya, WW2 untuk ‘World War II’, simbol, contohnya, ≠ untuk “tidak sama dengan”; ≥ untuk ‘lebih besar daripada atau ‘sama dengan’; .  untuk ‘oleh karena itu’, tanda ) untuk ‘telepon’, è untuk ‘tempat parkir’. Selanjutnya, mereka tidak menggunakan kata – kata tata bahasa sebagai contoh, artikel (a/an/the), kata kerja tertentu (is/are/was, were/has, have, had), kata ganti (I/you/he/she/it/we/they), kata depan untuk waktu (at/on/in), penghubung kalimat (and/so/but) dan hanya berfokus kepada kata – kata inti.

Orang biasanya membuat catatan dengan cepat, tetapi sangatlah penting untuk menulis sejelas mungkin sehingga pencatat dapat membaca catatan tersebut di lain waktu, ketika dibutuhkan lagi.

Dalam hal pengajaran bahasa Inggris, khususnya dalam membuat catatan, pelajar harus dilatih pada empat kemampuan dasar berbahasa: menyimak (pemahaman), berbicara, membaca, dan menulis. Di banyak kelas penekanan hanya pada bahasa tulisan. Pelajar dilatih untuk menggunakan mata daripada telinga mereka dan ketidakmampuan untuk mencapai segala hal seperti pengucapan yang benar, penekanan, dan intonasi disebabkan oleh tirani dari kata – kata yang dicetak. Jika guru diminta untuk melatih pelajar mencakup empat kemampuan tersebut, guru haruslah menggunakan waktu secara efisien untuk pencapaian tujuan. Efisiensi mengisyaratkan penyesuaian prosedur kelas yang akan menghasilkan hasil terbaik dalam waktu yang cepat. Urutan pemaparan di bawah ini harus diperhatikan sebagai pernyataan yang benar (Alexander, 1967):   1) tidak ada yang seharusnya dibicarakan sampai hal itu terdengar, 2) tidak ada yang seharusnya dibaca sebelum hal itu diungkapkan, dan 3) tidak ada yang seharusnya ditulis sebelum hal itu dibaca.

Berbicara dan menulis adalah kemampuan yang paling penting, karena dalam beberapa hal keduanya mensyaratkan keberhasilan untuk dua kemampuan lainnya. Belajar kemampuan berbicara. ‘Kelas percakapan tradisional’ tidak ada nilai dan manfaatnya sama sekali jika siswanya belum siap. Siswa pertama kali haruslah dilatih untuk menggunakan pola – pola tertentu dalam bentuk latihan mendengarkan/mengucapkan. Hanya pada tahap ini pada akhirnya dia belajar berbicara.

Sebelum mempertimbangkan bagaimana hal ini dilakukan, harus diperhatikan bahwa pola dalam bahasa dibagi menjadi dua kategori: berkembang dan statis. Sebagai contoh, belajar menjawab dan bertanya adalah hal yang melibatkan penggunaan dari pola berkembang. Mereka menggunakannya karena kemampuan siswa dalam mengatasi bentuk yang kompleks harus dikembangkan untuk waktu yang lama, dimulai dengan tanggapan sederhana seperti ‘Yes, it is’ dan berakhir pada tanggapan kompleks seperti ‘Yes, I should, shouldn’t I’. Sebaliknya, pola statis seperti perbandingan menggunakan kata sifat dapat diajarkan pada jam tertentu, dan tidak membutuhkan waktu yang panjang.

Pola berkembang sebaiknya dilatih melalui latihan – latihan pemahaman yang meminta siswa untuk menjawab dan bertanya sebuah pertanyaan yang meningkat tingkat kerumitannya selama proses belajar. Pelajar seharusnya dilatih untuk memberikan jawaban dari pertanyaan akhiran; membuat kalimat sangkalan dan pernyataan untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan ganda yang di gabungkan menggunakan or, menjawab pertanyaan – pertanyaan umum yang dimulai dengan kata tanya seperti When, How, dan sebagainya, dan pada setiap tingkatan, pelajar dilatih untuk bertanya sendiri. Hal memperjelas bahwa kemampuan tidak dapat dilaksanakan hanya dengan satu atau dua kali pertemuan: pelajar  membutuhkan latihan seperti ini di setiap pelajaran.

Pada saat yang sama, pola statis seharusnya dilatih dengan menggunakan latihan–latihan yang menggunakan teknik kumpulan kosakata. Guru mempersiapkan pelajar dengan rangsangan untuk memancing pola baru dalam serangkaian latihan berbicara sampai pelajar mampu merespon secara akurat dan otomatis.

Pelajar mungkin juga di latih untuk berbicara melalui latihan mengarang secara lisan, Mereka diminta untuk menghasilkan sebuah wacana dalam bahasa Inggris yang mereka kenal secara lisan. Pada awalnya, pelajar sebaiknya mengulang kembali wacana naratif dan deskriptif. Pada tahapan berikutnya, pelajar berlatih membuat isi pokok dari sebuah argumen. Ketika pelajar dapat melakukan hal ini dengan baik, mereka akan berada pada posisi siap untuk berpindah ke beberapa topik yang berhubungan dengan ide–ide abstrak. Akhirnya, pelajar akan mampu mengekspresikan dirinya sendiri dengan percaya diri dan membuat sedikit kesalahan.

Adapun indikator yang dapat memicu pelajar membuat catatan, diidentifikasi oleh beberapa studi penelitian menggunakan metode kuantitatif (Boch, 1999: Branca-Rosoff & Doggen, 2003) seperti dikutip Boch dan Piolat (2005:103) adalah sebagai berikut:

(1)  Menulis di papan tulis: indikator yang sangat kuat. (Guru dengan baik disarankan untuk memilih apa yang mereka tulis di papan dengan hati-hati, karena itu sangat mungkin untuk dimasukkan dalam catatan siswa)

(2)  “Dikte”: ketika guru bertindak seolah-olah ia mendikte informasi (pengiriman lambat, register vokal rendah)

(3)  Sebuah judul bagian atau daftar atau daftar informasi (yang, apalagi, sering ditulis di papan)

(4)  Definisi, menangkap frase. (Bahkan jika pelajar tidak memahami itu, mereka akan sangat membuat catatan)

(5)  Perencanaan makro-indikator tekstual yang mengatur dan struktur kelas (ekspresi seperti “pertama”/”kedua” atau “pertanyaan pertama” / “pertanyaan kedua”.

 

Semua indikator ini sangat terikat dengan komunikasi tertulis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kegiatan pelajar dalam mencatat dilakukan setelah mendapat “stimulus” dari guru. Dari guru sebagai sumber belajar menjadi guru sebagai fasilitator dalam belajar mengajar. Hal ini seperti yang diungkapkan Gagne (1992:3) sebagaimana dikutip Muttaqien (2010), yang menyatakan bahwa “Instruction is a set of event that effect learners in such a way that learning is facilitated.” Oleh karena itu menurut Gagne, mengajar merupakan bagian dari pembelajaran, dengan konsekuensi peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu.

 

Belajar Kemampuan Menulis

Lado (1979:143) menyatakan menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang difahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang tersebut jika mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut. Menulis merupakan suatu representasi bagian dari kesatuan-kesatuan ekspresi bahasa.

Dalam pandangan yang hampir sama D’Angelo (1980:5) mengatakan menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar berpikir. Juga dapat menolong kita berpikir secara kritis. Selain itu, juga sangat memudahkan dalam merasakan dan menikmati hubungan-hubungan, memperdalam daya tanggap atau persepsi, memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, menyusun urutan-urutan pengalaman. Tulisan akan sangat membantu memperjelas pikiran-pikiran. Singkatnya, belajar menulis adalah belajar berpikir dalam/dengan cara-cara tertentu.

Tingkatan pembelajaran yang sama dibutuhkan ketika seorang guru  mengajarkan pelajar menulis. Hal ini harus dimulai dengan bentuk pernyataan yang sederhana. Pelajar terlalu sering menenggelamkan diri pada karangan yang panjang sebelum mereka siap untuk itu. Pada poin tertentu, guru mungkin memutuskan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk siswa – siswanya menulis sebuah karangan, sehingga guru mempersiapkan potongan wacana naratif atau deskriptif singkat dan mengharapkan hasil yang terbaik. Ini adalah metode yang menimbulkan banyak masalah pengayaan pembelajaran, dan menghasilkan hasil yang merusak.

Jika pengalaman menulis bahasa Inggris pelajar diciptakan untuk mengisi titik – titik pada kalimat yang dipenggal, sangatlah tidak beralasan secara tiba-tiba memberikan sebuah pelajaran mengarang kepada mereka dan mengharapkan mereka menghasilkan prosa yang benar dan enak dibaca. Hal ini justru akan mendorong mereka membuat kesalahan. Akibatnya tidak bisa diharapkan setelah beberapa tahun kemudian pelajar akan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Sangat sedikit sekali pelajar yang berkeinginan dan termotivasi untuk menelaah kembali secara teliti hasil tulisan mereka yang sudah dikoreksi. Meskipun mereka menelaah ulang, dapat dipastikan tidak adanya jaminan bahwa mereka tidak membuat kesalahan yang sama. Kemampuan menulis dapat dikembangkan melalui pengontrolan dan tingkatan kepemahaman/latihan penulisan garis besar yang baik. Penulisan garis besar bukanlah latihan akademik yang sia – sia yang digunakan hanya untuk tujuan akhir saja.

Penulisan ini dapat digunakan secara efektif dalam mengembangkan kemampuan menulis pelajar. Pengontrolan penulisan teknik garis besar memampukan pelajar menguasai semua kesulitan dan membawa mereka ke titik dimana mereka mampu untuk menulis sebuah karangan dengan sedikit kesalahan.

Kegiatan mencatat dapat dianggap sebagai bagian dari menulis di kurikulum, pencatatan membantu mereka belajar, dan pencatatan membantu belajar untuk menulis (Boch dan Piolat, 2005:101-102) . Menurutnya, kompleksitas fungsional mencatat belum cukup diterima oleh peneliti dan guru. Pencatatan lebih banyak dilihat sebagai transkripsi informasi yang cepat dengan menggunakan teknik kondensasi beberapa, seperti kata-kata singkat dan simbol substitusi, untuk menciptakan memori eksternal yang hanya akan pentingnya penggunaan di lain waktunya. Selanjutnya terdapat empat aspek mencatat, yaitu: (1) Fungsi pokok mencatat: “menulis untuk belajar”; (2) Pesan utama yang mengambil strategi yang digunakan oleh pelajar; (3) Faktor-faktor yang terlibat dalam pemahaman dan pembelajaran pengetahuan melalui catatan mengambil; (4) konteks pembelajaran yang memungkinkan catatan efektif mengambil: “belajar menulis”

Di sisi  lain, menurut Boch dan Piolat yang mengutip Kiewra (1987), pelajar membuat catatan untuk memenuhi dua fungsi utama: untuk merekam informasi dan / atau untuk membantu refleksi. Membuat catatan adalah alat penting dalam situasi informasi-transmisi yang banyak. Secara umum, siswa membuat catatan untuk merekam informasi yang perlu dipelajari di kemudian hari. Hasil mencatat jauh lebih banyak produktif secara eksternal, sebagai tindakan tersendiri yang merupakan bagian dari proses menghafal dan hasil dalam penciptaan suatu bentuk penyimpanan “internal”. Selain itu, mencatat dapat mengurangi beban pada memori kerja dan dengan demikian membantu orang menyelesaikan masalah yang kompleks.

Berpijak pada pandangan Stahl, Raja dan Henk (1991), Boch dan Piolat menyatakan kompleksitas fungsional mencatat yang sedemikian rupa mengharuskan tiga keterampilan minimal perlu diajarkan, yakni pemahaman melalui mencatat, memproduksi catatan, dan manajemen sadar untuk kegiatan secara keseluruhan.

 

Kecakapan Fungsi Bahasa

Bell (2005) menyatakan banyak faktor yang berhubungan dengan fungsi bahasa, (temasuk pembicara, pendengar, dan objek), tidak dapat dipisahkan dari analisis bahasa dengan ciri–ciri: a) keseimbangan bahasa, sebuah bahasa menjadi efisien dan efektif ketika bahasa tersebut menerapkan aturan/sistem yang seimbang/fleksibel, b) kecerdasan berbahasadimana fungsi bahasa membutuhkan sistematisasi dan arah terhadap akurasi dan kepastiaan dari sebuah ekspresi dan ucapan.

Fungsi bahasa seharusnya mempertimbangkan aturan/sistem dan makna  singkatan, tanda, dan simbol ketika membuat catatan. Yang dimaksud dengan aturan/sistem adalah serangkaian instruksi – instruksi bahasa, sistem, peraturan, dan susunan dari penggunaan singkatan, tanda, dan simbol yang sering dipakai beserta maknanya.

 

Tabel 1

Singkatan – singkatan yang biasa dipakai

 

 

e.g.                  b.1898                         cm

et al.                incl.                             kW

ca.                    km.p.h.                        mm

i.e.                   Mt.                              kg

cf.                    no.                               CD

etc.                  d. 1976

1066 A.D.       ed.

33 B.C.            dept.

p.a.                  bldg.

WHO

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2

Simbol – simbol yang biasa dipakai

 

\ a ?
# b <
= d >
¹ f £
± m £
% q ´
­ p ¤
¬ & ¦
® D ¢
¯ * ²
» ¸ È
Î Ï

 

 

 

Tabel 3

Tanda – tanda yang biasa dipakai

 

z € ²
V  é
$ è @
* Ž å
% Œ ñ
‰ Û
G ˆ Ü
y x Ý
¯ ” Þ

 

Singkatan, simbol dan tanda yang dipaparkan diatas adalah bagian dari objek atau proses penulisan yang pembicara dan pendengar seharusnya pahami maknanya ketika membuat catatan dari sebuah tulisan/ujaran.

Dibawah ini adalah beberapa makna singkatan, simbol, dan tanda tersebut:

 

Tabel 4

Makna singkatan, simbol, dan tanda

 

Singkatan                 Arti

e.g.                              exempli gratia ‘sebagai

contoh’

Et al. et alii ‘dan kawan-kawan’

at a/ia ‘dan hal yang

lainnya’

Et c.                            et cetera ‘dan yang

lainnya’

fl                                  floor ‘lantai’

fol(l)                            following ‘mengikuti’

i.e.                               id est ‘yang dimaksud’

ibid                              ibidem ‘tempat yang

sama’

kg                                kilogram

Cf                                confer

‘membandingkan’

A.D.                            Anno Domini ‘setelah

masehi’

N.B.                            nota bene ‘catatan

khusus’

No or no(s)                numbers ‘nomor’

ed.                               edited by; editor; edition,

education, educated.

Diedit oleh, editor, edisi,

pendidikan, terdidik

ca                                circa ‘tentang’ ‘hampir’

p.a.                              per annum ‘per tahun’

incl.                             inclucding ‘termasuk’

dept.                           departement

‘departemen’

bldg(s)                        Buildings(s) ‘bangunan’

cc                                Centimeter Cubic

‘sentimeter kubik’

CD                              Corps Diplomatique

‘diploma servis’

Co.                              Company ‘perusahaan’

Concl                         Concluded

termasuk ’conclusion

‘kesimpulan’

Mt.                               Mount ‘gunung’

 

 

Dibawah ini adalah makna simbol:

 

Tabel 5

Arti dari simbol

 

Simbol                       Arti

Oleh karena itu

=                                  sama dengan

≠                                  tidak sama dengan

x                                  dikali

–                                   dikurang

+                                  ditambah

/                                   dibagi

<                                  lebih kecil dari

+                                  kurang lebih

>                                  lebih besar dari

>                                  lebih besar atau sama

dengan

<                                  lebih kecil atau sama dengan

↑                                  meningkat

↓                                  menurun

→                                maju

←                                mundur

a                                  pertama

W                                 akhir

®                                 terdaftar

©                                 hak cipta

Kemudian, guru memperkenalkan makna beberapa tanda sebagai berikut:

 

Tabel 6

Guru memperkenalkan makna beberapa tanda

 

Simbol                       Arti     

 

z                     Tidak boleh

 

merokok

)                           Telepon

$                         optik

€                          laki-laki (toilet)

                          Perempuan (toilet)

*                          Surat

Q                           Bandara

N                           Bahaya

 

Fokus Fungsi Bahasa

Fungsi bahasa dengan hanya berfokus pada kata inti atau bagian terpenting saja dan tidak menggunakan kata – kata tata bahasa dan melatih membuat catatan  pada kalimat, paragraf, pembicaraan singkat, esai singkat.

Dibawah ini adalah contoh (tugas/tes) fungsi bahasa untuk melatih kata – kata inti atau bagian terpenting dari tulisan dan ujaran.

 

Contoh-1 ‘membuat catatan’ pada kalimat         

Pada kasus ini berhubungan dengan latihan membuat catatan pada kalimat dan kemudian menulis kalimat tersebut dalam bentuk catatan, dengan menggunakan singkatan, tanda, dan simbol atau yang lainnya yang mungkin akan membantu fungsi bahasa (pembicara/pendengar) menghemat waktu. Bagaimanapun juga, mereka hanya berfokus pada kata – kata inti saja.

 

  1. 1.    Peningkatan level asumsi alkohol mengarah kepada ketergantungan atau bahkan kecanduan.

 

  1. 2.    Einstein adalah seorang ilmuwan Jerman yang lahir pada tahun 1879.

 

  1. 3.    Kimia mungkin didefinisikan sebagai cabang ilmu yang mempelajari komposisi dan reaksi dari elemen – elemen dan zat – zat  yang berbeda.

 

  1. 4.    Telah diramalkan bahwa kita sangat menanti jam kerja yang sedikit di masa depan.

 

  1. 5.    Isu perbudakan adalah salah satu alasan mengapa negara bagian utara dan selatan berjuang melawan satu sama lainnya di Perang Sipil Amerika ( American Civil War).

 

Contoh-2 ‘membuat catatan pada paragraf’

Contoh ini meminta fungsi bahasa (pembicara/pendengar) untuk melatih mambuat catatan pada paragraf. Hal penting yang harus dikerjakan adalah membaca paragraf dan membuat catatan. Selanjutnya, pencatat (penerima/pendengar) harus mampu mengerti catatan masing – masing nantinya.

Kanker kulit disebabkan oleh terkena cahaya matahari secara konstan. Dokter di Australia menemukan bahwa 140,000 kasus baru mengenai kanker kulit setiap tahunnya, kurang lebih 1000 yang menyebabkan kematian. Ada tiga jenis kanker kulit. Yang paling berbahaya adalah melanoma. Dua tipe lainnya tidak begitu serius tetapi tetap harus di obati lebih awal agar mendapatkan pengobatan secara utuh. Menurut penelitian medis, radiasi sinar ultraviolet adalah hal yang menyebabkan kanker kulit. Ada tiga jenis sinar ultraviolet: UVA, UVB, dan UVC. Dari ketiga jenis ini, UVB adalah yang paling berbahaya, dan menyebabkan kerusakan kulit. UVA mempunyai efek yang pelan pada sel kulit dan menyebabkan proses penuan yang membuat kulit berkerut dan sinar UVC tidak pernah mencapai bumi oleh sebab itu bukan merupakan suatu masalah. Semakin sering terkena sinar matahari, semakin besar resiko terkena kanker kulit. Waktu paling berbahaya terkena sinar matahari adalah  antara jam 11 pagi dan 3 sore. Orang yang berkulit putih paling mudah terpengaruh efek sinar matahari tetapi setiap orang cenderung terkena kanker kulit terkecuali Suku Aborigin. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kanker kulit, memakai kaos, memakai topi, dan menggunakan krim tabir surya adalah tiga cara untuk melindungi diri kita sendiri dari efek bahaya sinar matahari.

 

Contoh-3 (tugas 1) ‘membuat catatan untuk pembicaraan singkat’  

Dalam contoh 3 ini (tugas 1), fungsi bahasa diminta untuk membaca informasi tentang Leonardo da Vinci, (atau meminta seorang teman untuk membaca teks dan berpura-pura sedang memberikan penjelasan pada pelajaran itu), dan membuat catatan untuk pembicaraan singkat. Kemudian, dengan hanya menggunakan catatan pendengar, dia diminta untuk memberikan cerita singkat tentang kehidupan Leonardo.

Leonardo da Vinci adalah salah seorang pemikir terbaik didunia. Dia juga seorang seniman dan penemu.

Dia lahir di keluarga yang sederhana di Italia kota Vinci tahun 1452. dia tinggal disana sampai berumur 12 tahun kemudian keluarganya pindah ke kota Florence. Kepindahan ini sangatlah menarik dan mungkin agak sedikit menakutkan untuk seorang anak laki-laki muda yang terbiasa tinggal di perbukitan yang tenang disekitar tempat kelahirannya.

Sebagai seorang anak Leonardo sangat pandai dalam hal menggambar sehinggga ayahnya mengirimkannya sebagai murid ke Andreadel Verrocchio, seorang seniman Florence. Disini dia belajar banyak keahlian yang dibutuhkan seniman – seniman di abad ke-15: menyiapkan kanvas, memahat kayu, seni ukir batu dan mengubah metal menjadi bel, perhiasan, dan alat musik. Penguasa Florence pada waktu adalah Lorenzo de Medici, dan Leonardo cukup beruntung mendapatkan sebuah jabatan sebagai seorang seniman. Pada tahun 1492 kelompok senimannya mengirimkan Leonardo ke Milan untuk mengantarkan alat musik yang sangat indah terbuat dari perak sebagai hadiah untuk penguasa Duke Lodovico. Leonardo mempesona Duke Lodovico bukan hanya oleh kemampuannya sebagai seorang musisi dan seniman, tetapi juga dengan ide – ide cemerlangnya untuk membangun jembatan, kapal perang bersenjata, dan kereta kuda. Pada tahun 1943 Leonardo pindah ke Milan untuk bekerja pada Duke sebagai seniman dan seorang insinyur.

Dia menetap di Milan selama 17 tahun sebelum kembali ke Florence untuk melanjutkan lukisannya. Disinilah dia menyelesaikan lukisan terkenalnya, Mona Lisa. Dia juga bekerja cukup lama di Roma tempat dimana dia mengamati burung dan mendesain mesin terbang tenaga manusia. Ide – idenya sangat terdepan dizamannya dan tidak selalu diterima oleh teman-teman seangkatannya. Sebagai contoh, dia ingin mempelajari anatomi manusia tetapi dia dilarang menggunakan bagian – bagian tubuh manusia. Dia dipaksa untuk mempelajari organ – organ tubuh yang dia dapat dari tukang daging. Walaupun begitu dia tetap mampu mendapatkan model yang akurat tentang bagaimana jantung bekerja.

Akhirnya dia meninggalkan Itali dan bekerja untuk Raja Prancis (Francis I) sebagai seorang pelukis, arsitek dan mekanik. Raja tersebut sangat baik hati dan memberikan kesempatan kepada  Leornardo untuk mencari tau jawaban dari semua keinginanya sendiri.

Pada akhir hidupnya Leonardo mulai menelaah dan menyusun tulisan – tulisannya tetapi sayangnya dia tidak mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan tugasnya sebelum dia wafat pada 2 Mei 1519. Sayangnya lagi,  makam Leonardo dihancurkan ketika Revolusi Prancis sehingga kita tidak dapat melihat dimana dia dimakamkan dan tidak bisa memberikan penghormatan kepada laki – laki hebat ini.

 

Contoh-4 (tugas 2) ‘Membuat catatan untuk esai singkat’

Pada contoh 4 (tugas 2), fungsi bahasa diminta untuk membaca informasi tentang Galileo Galilei, (atau meminta seorang teman untuk membaca teks dan berpura-pura sedang memberikan penjelasan pada pelajaran itu), dan membuat catatan untuk penulisan esai singkat. Hal yang harus dilakukan oleh fungsi bahasa (pembicara/pendengar) adalah memilih gaya yang berbeda dalam membuat catatan dari tugas 1, dan kemudian dengan hanya menggunakan catatan, fungsi bahasa diminta untuk menulis karangan singkat tentang kehidupan dan pekerjaan Galileo Galilei.

Galileo Galilei terlahir di Florence pada tahun 1520. Hal pertama yang dicintainya adalah musik dan dia adalah pemain kecapi yang sukses. Umur 10 tahun dia dikirim ke biara untuk belajar. Pada saat itu pula, dia berencana untuk menjadi seorang biksu tetapi ayahnya membujuk dia untuk melanjutkan kuliahnya di bidang kedokteran. Galileo mulai tertarik pada Matematika dan Filosofi Alamiah selama masa kuliahnya. Dan akhirnya ketertarikannya menjadi begitu kuat sehingga ayahnya mengizinkannya untuk berhenti dari kuliahnya  di kedokteran demi Matematika. Hasil karyanya banyak dipuji;  pada tahun 1589 dia menjadi matematikawan yang paling penting di Universitas Pisa dan kemudian di Universitas Padua.

Walaupun Galileo mempunyai dua orang anak perempuan dan seorang anak laki – laki dengan pasangannya Maria Gamba, namun mereka tidak pernah mengesahkan hubungan mereka dengan pernikahan. Ini mungkin contoh lain tentang pemikirannya yang tidak biasa. Galileo melanjutkan pekerjaanya di bidang matematika dan mulai mempelajari bintang dan planet. Bukunya tentang penemuan astronomi, Starry Messenger, diterbitkan di Venice pada tahun 1610.  Dunia terkejut ketika pertama kali membaca bahwa Bima Sakti terdiri dari bintang – bintang, terdapat gunung dibulan dan planet Jupiter mempunyai sedikitnya empat buah bulan.

Pernyataannya bertentangan dengan kepercayaan umum masyarakat bahwa Bumi dan bagian yang lainnya bergerak mengelilingi matahari di sambut dengan ketakjuban. Buku selanjutnya dihapuskan oleh kaum agamais yang merasa menemukan sesuatu yang membahayakan. Galileo dinyatakan mencoba melawan suatu kebenaran umum dan Galileo dipenjarakan selama sisa hidupnya. Buku Galileo yang berikutnya, Discourses diselundupkan keluar Italia dan diterbitkan di Belanda. Banyak orang mempercayai buku ini adalah hasil karya terbaiknya.

Galileo meninggal pada tahun 1642 masih dalam keadaan tidak menyesal dan masih berlawanan dengan kaum agamais. Penolakkannya untuk di dikte oleh pemikiran yang kurang beralasan dan keinginannya untuk berpikir secara logis membuat Galileo menjadi pemikir terhebat pada zamannya.

 

 

Metode Note Taking

Karena membuat catatan bertumpu pada beberapa alasan seperti waktu, kebutuhan kertas sebagai alat tulis, perencanaan tulisan dan daya ingat dan berhubungan dengan fungsi bahasa (pembicara/pengirim; pendengar/penerima dan objek dalam pesan tertulis dan lisaan), maka pencatat sebaiknya mengetahui satu metode untuk membuat catatan yang sesuai dengan mereka.

Ada banyak metode untuk membuat catatan : 1) Metode Ringkasan, 2) Metode Pemetaan, 3) Metode Diagram, dan 4) Metode kalimat (Bell, 2005).

Sebagai contoh, contoh 1 (tugas 1 dan 2) di atas, pelajar yang berlatih membuat catatan sebaiknya memutuskan metode yang mana yang sesuai dengan mereka.

Bagaimana pun juga, membuat catatan adalah sebuah proses yang membutuhkan fungsi bahasa, pencatat menerapkan Metode Pembelajaran Reseptif (membuat catatan yang berbasis instruksi dalam hal pengembangan proses dan produk dari membuat catatan yang biasa dikenal dengan singkatan, tanda, dan simbol yang berfokus hanya pada kata inti dan bagian terpenting dalam tulisan dan ujaran). Pendekatan ini juga menyangkut metode bunyi bahasa dan pendekatan bahasa terpadu (lihat Jarome Bruner, The Process of Education (1960).

Dalam makna ideologi, ketika seseorang membuat catatan, dia harus mempelajari secara terperinci tentang sistem penyampaian berbasis bunyi bahasa dan pendekatan bahasa terpadu. Penyampaian berbasis bunyi bahasa berdasarkan kepentingan pembaca dimana guru (pembicara/pengirim) menekankan pada kemampuan pemahaman kata sedangkan pendekatan bahasa terpadu berdasarkan kepada literasi dan pengalaman.

Pada masalah kelas ketika mengajar cara membuat catatan, guru sebaiknya menjelaskan pengetahuan seperti diatas sehingga pelajar mampu mempelajari kemampuan membuat catatan. Ada beberapa cara untuk itu, antara lain: menciptakan lingkungan belajar  yang positif ; sadar akan rasa mengayomi, permintaan pasangan atau sosial, dan memahami kebutuhan individu pelajar.

Tambahan lagi, beberapa pencatat juga menerapkan Metode Pembelajaran Riset yang berfokus kepada pendekatan radikal (perkembangan dari singkatan, tanda dan simbol baru yang berfokus kepada inti kata dan bagian terpenting dari tulisan dan ujaran). Lebih jauh lagi, Model Instruksi Bruner yang berlandaskan empat kunci konsep: tata bahasa, kesiapan, intuisi, dan motivasi. (konsep–konsep ini dikembangkan secara terperinci oleh Burner dalam The Process of Education).

Konsep struktur dari sebuah disiplin ilmu bukanlah hal yang baru. Konsep inilah yang mengubah pembelajaran dari fakta-fakta ke ide – ide yang signifikan. Bruner mendefinisikan struktur dari sebuah disiplin ilmu sebagai konsep dasarnya dan metodenya. Sebagai contoh, struktur dari membuat catatan di bentuk dari konsep penyusunannya, seperti waktu, kebutuhan kertas sebagai alat tulis, perencanaan tulisan dan daya ingat. Metode ini memerlukan latihan dari membuat catatan dalam tulisan dan ujaran pada tingkatan kalimat dan paragraf dan mengerjakan tugas seperti bercerita singkat dan tulisan singkat.

Bruner berpendapat bahwa mengajari siswa struktur dari sebuah disiplin ilmu menuntun mereka berpartisipasi aktif karena mereka menemukan prinsip dasar untuk mereka sendiri. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan pendekatan tradisional yang menyarankan siswa lebih menjadi penerima daripada pengembang sebuah informasi. Bruner menyatakan bahwa mempelajari struktur pengetahuan di sebuah disiplin ilmu atau subjek memfasilitasi kepemahaman, daya ingat, dan proses belajar.

Struktur ide dalam belajar secara alamiah menuntun kepada pendekatan proses dimana proses pembelajaran (atau bagaimana seseorang belajar) menjadi sama pentingnya dengan isi pelajaran (atau apa yang orang pelajari). Bruner berpendapat bahwa cara terbaik untuk menciptakan ketertarikan pada sebuah subjek/pelajaran adalah menjadikan hal tersebut layak untuk diketahui, yang berarti membuat pengetahuan yang didapatkan berguna bagi seseorang diluar situasi pembelajaran, serangkaian fakta yang tak ternilai memiliki sebuah daya ingat yang singkat dan menyedihkan. Menyusun fakta dalam bentuk prinsip dan ide dari hal yang mungkin mereka putuskan adalah cara mengurangi daya ingat manusia secara cepat.

Dalam hal kesiapan untuk pembelajaran, Bruner percaya bahwa semua subjek/pelajaran dapat di ajarkan secara efektif dengan tingkat kejujuran ke anak –anak (pelajar) pada tingkatan yang bervariasi dalam setiap perkembangannya. Sangat jelas bahwa penentu kesiapan belajar adalah perkembangan intelektualitas, atau bagaimana seorang anak (siswa) melihat dunia. Melalui tulisan Bruner, gagasan kunci dari kesiapan adalah kekayaan dan lingkungan pembelajaran yang bermakna dipasangkan dengan seorang guru yang menarik yang mengajak siswa bergabung dalam pembelajaran sebagai sebuah proses yang menciptakan kesenangan pribadi.

Bruner secara jelas menghargai intuisi atau naluri berpikir sebagai gaya belajar. Dia merasa bahwa hal ini telah terlalu dilihat secara umum dan tidak dihargai sebagai alat yang cukup berasalan untuk dipergunakan sebagai pembelajaran di ruangan kelas. Masalah – masalah yang nyata, khususnya hal – hal yang berhubungan dengan fokus kedisiplinan, jarang membuat mereka mencapai keteraturan, dan pendekatan yang terpaku pada buku teks.

Motivasi adalah konsep penting lainnya yang disebutkan oleh Bruner dalam model instruksinya. Alasan seseorang ingin atau tidak ingin untuk mempelajari sesuatu seringkali sangat sulit di pastikan. Tetapi, Bruner menyarankan bahwa motivasi intrinsik – belajar oleh karena kepentingan belajar itu sendiri – adalah kunci yang sangat penting untuk belajar secara efektif. John Dewey berpendapat bahwa “momen yang tepat untuk diajarkan” (the teachable moment), adalah ketika motivasi dan informasi datang bersamaan. Seorang guru yang berkeingintahuan tinggi, yang menghargai pemikiran reflektif, dan yang menerima siswa apa adanya, dan berusaha untuk mencapai tingkatan intelektual akan menimbulkan motivasi. Apapun yang seorang guru dapat lakukan untuk memperdalam keinginan siswa belajar sangatlah berharga.

Pendekatan yang disarankan Bruner meminta pelajar untuk mengambil bagian dalam proses pemerolehan ilmu atau ilmu adalah sebuah proses. Kombinasi dari proses dengan metode membuat catatan mungkin membantu fungsi bahasa mendapatkan pengaruh baik dalam membuat catatan yang berhubungan dengan penggunaan singkatan, tanda dan simbol; dan hanya berfokus pada kata inti atau bagian terpenting saja.

 

PEMBAHASAN

Penelitian ini menunjukan bahwa untuk seorang yang sedang berlatih mencatat, ada sebuah fokus fungsi bahasa (pengembangan dari kualitas membuat catatan dengan menggunakan metode ringkasan, metode pemetaan, metode diagram dan metode kalimat untuk memenuhi kebutuhan pencatat). Hal ini adalah masukan yang penting pada penelitian ini; hal ini berhubungan dengan contoh – contoh dan tugas – tugas membuat catatan dalam kalimat, paragraf, cerita pendek, dan tulisan singkat yang menunjukkan bahwa perkembangan pembaca/penerima dalam menyampaikan informasi dan kejelasan pesan dari tulisan dan ujaran akan mempengaruhi kemampuan pemahaman pendengar/penerima informasi. Hal yang menarik adalah fokus pada fungsi bahasa sebenarnya berhubungan dengan kemampuan membuat catatan.

Hasilnya menunjukkan bahwa ada hubungan antara fungsi bahasa dengan penggunaan metode Pembelajaran Reseptif/pendekatan inkremental (metode ringkasan, metode pemetaan, metode diagram, dan metode kalimat) pada saat membuat catatan. Hubungan ini mempunyai implikasi yang penting. Hal ini membuktikan akan pentingnya bunyi bahasa dan pendekatan bahasa terpadu dan penyediaan dukungan untuk pemberian semangat dalam latihan membuat catatan. Kami menemukan kesamaan pencatat dengan beberapa metode membuat catatan yang berbeda akan membuat mereka memilih jenis tugas yang sangat sesuai dengan mereka.

Lebih jauh lagi, kesukaan pribadi juga menjadi faktor utama. Dalam hal ini, pencatat seharusnya menggunakan/melatih gaya membuat catatan yang berbeda sampai menemukan yang sesuai dengannya.

Ada beberapa kekurangan dalam penelitian ini. Sebagai contoh, sampel pelajar yang kecil, khususnya ketika fungsi bahasa dianggap mempengaruhi dalam aktivitas membuat catatan. Dan juga, dapat dimaknai bahwa penelitian ini kontekstual, hanya berfokus pada sejumlah pelajar yang telah diberi nama “pelajar yang berlatih membuat catatan” dalam ruangan kelas. Oleh karena itu, faktor fungsi bahasa seperti yang tercantum di atas harus dilihat pada batasan tertentu. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk lebih mengesahkan penemuan dalam penelitian ini dengan menggunakan sampel yang lebih besar dan konteks yang berbeda untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih mantap dan tegas. Dan juga, masalah bagaimana seorang pencatat biasanya melatih diri dalam membuat catatan  atau mengatur kegiatan membuat catatan perlu untuk di telaah lebih lanjut. Akan lebih menarik mengidentifikasi pencatat yang sangat percaya diri dan mencari tahu bagaimana mereka berbeda dari pencatat kurang percaya diri dalam hal mengatur kegiatan membuat catatan.

Membuat catatan adalah kemampuan yang sangat diperlukan oleh pelajar. Walaupun banyak latihan yang mereka harus lakukan untuk menjadi seorang pencatat yang ulung, namun usaha yang mereka lakukan akan terbayar dengan peningkatan kualitas membuat catatan yang mereka miliki.

Mengetik catatan pelajar akan sangat membantu sebagai bahan untuk merevisi catatan mereka sendiri dan memaksa mereka untuk mengulang dan mengembangkan catatan yang mereka buat sebelumnya. Jika hal ini terlalu banyak memakan waktu, siswa sebaiknya diminta untuk merevisi catatan mereka paling tidak diakhir sesi belajar untuk lebih meyakinkan bahwa referensi mereka jelas dan tulisan tangan mereka dapat dibaca.

Meski demikian, pada umumnya jika ditinjau dari fungsi bahasa, maka terlihat bahwa fungsi bahasa mempengaruhi rangkuman tulisan dan membuat catatan yang hanya melihat bagian terpenting dalam tulisan dan ujaran.

Sejalan dengan apa yang diungkapkan Beecher  (1988) yang menyatakan bahwa hasil kajian Henk dan Stahl (1985) terhadap penggunaan membuat catatan sangat membantu meningkatkan daya ingat pelajar, demikian pula dengan Barnet (1981), yang menemukan “dukungan kuat” mencatat untuk fungsi pengkodean. Lebih jauh lagi, pada tahun 1925, Crawford menerbitkan sebuah studi yang berusaha untuk memverifikasi pengamatan bahwa ada korelasi positif antara analisis dari catatan kuliah mahasiswa dan nilai mereka kuis berikutnya. Dia menyimpulkan bahwa pencatatan lebih baik daripada tidak mencatat, bahwa mencatat adalah kuncinya. Pengorganisasian catatan secara efektif memberikan kontribusi pada peningkatan performa pada tes.

Hal yang menarik berkait dengan penelitian sejenis seperti yang dilakukan Fu Tsai (2009), yang berpendapat bahwa mencatat sangat membantu siswa dalam belajar bahasa. Sampel penelitian yang membuat catatan dalam bahasa Inggris mengungguli orang-orang yang tidak menggunakannya, sebagaimana ditegaskan oleh penelitian sebelumnya, karena mencatat pada dasarnya merupakan kegiatan kognitif yang terdiri dari decoding, encoding, dan berpikir. Dengan demikian, pelajar memiliki peluang untuk membuat koneksi, mengorganisasikan pikiran mereka, dan mengembangkan ide-ide dalam bahasa Inggris.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan data, analisis, dan pembahasan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa, pertama, fungsi bahasa mempunyai pengaruh dalam membuat catatan, dengan beragam alasan: a) waktu; bagi pelajar yang tidak mempunyai cukup waktu untuk menulis semuanya, sebagai contoh, dalam perkuliahan dan pesan telepon, b) kebutuhan kertas sebagai alat tulis; pelajar tidak mempunyai cukup alat/media untuk mencatat semuanya, sebagai contoh pelajar kehabisan kertas, c) membuat perencanaan tulisan; pelajar menulis catatan untuk merencanakan tulisan resmi, sebagai contoh perencanaan tulisan esai atau penyusunan ide, d) daya ingat; pelajar menulis catatan untuk mengingat hal-hal tertentu, sebagai contoh dalam perkuliahan, dari buku teks, atau kata kunci untuk persentasi.

Kedua, membuat catatan adalah kemampuan yang sangat penting yang patut dikuasai pelajar. Walaupun sangat membutuhkan latihan yang berat untuk menjadi seorang pencatat yang sangat percaya diri/ulung, namun usaha yang dilakukan akan terbayar dalam hal peningkatan  kualitas catatan mereka.

Ketiga, ringkasan tulisan dan membuat catatan hanya melihat bagian terpenting dalam tulisan atau ujaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

……….. Online, http://www.emeraldinsight.com/0144-3507.htm, diakses on May 2008.

 

Alexander, L.G. 1967. Practice and Progress, Long Group Limited, London.

 

Arslan, Mehmet. 2006. “The Influence of Teaching Note-Taking and Information Mapping on Learning and Recalling in Science” in The Turkish Online Journal of Educational Technology –TOJET April 2006 ISSN:1303-6521, Vol 5, Issue 2, Article 8

 

Beecher, Jeff. 1988. “Note Taking: What Do We Know About the Benefits?” in ERIC Clearinghouses on Reading, English, and Communication Digest #37. Bloomington.

 

Bell, T.; Oxenham, K. 2005. Key Skills in English. CfBTMultimedia Education Sdn, Bhd Publishing, Petaling Jaya. Malaysia.

 

Boch, Francoise & Annie Piolat. 2005. “Note Taking and Learning: A Summary of Research” in The WAC Journal, Vol. 16; September 2005..

 

Buchanan, D. Cynthia. 1963. A Programmed Introduction to Linguistics, DC. Heath and Company.

D’Angelo, Frank J. 1980. Process and Thought in Composition. Massachussets: Winthtrop Publishers, Inc.

 

Fu Tsai, Tsai. 2009. “EFL College Freshman Note-Taking Training for Reading Conprehension” in The Journal of Human Resource and Adult Learning Vol 5, Num 2, December 2009.

 

Hornby, A.S. 1980. Oxford Advanced Learner’s of Current English.

 

Khorn, R. 1977. English Sentence Structure, Ann Arbor, Michigan.

 

Lado, Robert. 1979. Language Teaching: A Scientific Approach. New Delhi. Tata Mc. Graw Hill

 

Muttaqien, Zaenal. 2010. Penerapan Strategi Guided Note Taking dalam Pembelajaran Qur’an Hadits. http://izaskia.wordpress.com diakses  Mei 2010

Ridwan, A. 1986. Bahasa dan Linguistik. Medan: Fajar Rejeki

 

Tarigan, Henry Guntur. 1986.  Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Penerbit  Angkasa.

 

———. 1989. Membaca dalam Kehidupan. Bandung: Penerbit Angkasa