Sekilas Kondisi Sampah Perkotaan

Wilayah perkotaan menawarkan kemodernan dan kemajuan dalam segala aspek kehidupan masyarakatnya. Dimulai dari tersedianya segala fasilitas-fasilitas yang menggambarkan kemodernan dan peradaban suatu masyarakat, hingga nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat perkotaan. Nilai-nilai kemodernan identik dengan kebersihan dan efisiensi tinggi yang dianut oleh sebagian besar penduduk kota. Bahkan, nilai-nilai kebersihan dan efisiensi ini diterapkan diseluruh relung kehidupan masyarakat kota.

Hal inilah yang menyebabkan terjadinya sampah yang diakibatkan tuntutan hidup yang bersih dan efisien. Sampah selalu dianonimkan sebagai sesuatu yang menjijikkan, kotor, dan tidak berguna sehingga masyarakat merasa perlu menjauhkan diri dari sampah demi alasan kebersihan, higienis, dan kesehatan. Dengan perilaku seperti ini, sampah menjadi beban bagi masyarakat perkotaan.

Namun, adakah masyarakat kota sadar, bahwa sampah yang ada merupakan hasil dari prilaku masyarakat itu sendiri. Kemodernan dan kemajuan telah menciptakan perilaku masyarakat yang mempunyai tingkat konsumsi yang tinggi. Semua bentuk konsumsi masyarakat perkotaan sekarang, sudah dapat dipastikan akan menghasilkan sampah. Kita sebut saja pola konsumsi makanan yang serba instan yang mewarnai prilaku masyarakat, semua bentuk konsumsi instan tersebut menghasilkan zat-zat sisa yang pada akhirnya menjadi sampah. Bahkan pola konsumsi tinggi, seperti pakaian, juga menyebabkan masyarakat cepat sekali mempunyai barang-barang bekas yang pada ujung-ujungnya menjadi sampah. Hal ini diperparah dengan perilaku modern yang menuntut efisiensi yang dicerminkan oleh terciptanya styroform, kantong plantik, kantong kertas, dan berbagai produk sekali pakai yang pada akhirnya menjadi sampah.
Jadi, siapa yang harus disalahkan dengan adanya sampah. Toh, yang menghasilkan sampah juga masyarakat sendiri. Pertambahan jumlah sampah setiap hari juga menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Data BPS di tahun 2000 saja, sampah yang dihasilkan oleh 384 kota di seluruh Indonesia adalah sebesar 80.253,47 ton/hari. Jumlah itu akan terus meningkat perharinya, seiring dengan jumlah pertambahan penduduk serta pola konsumsi masyarakat yang tinggi. Jadi, dapat dibayangkan berapa juta ton sampah yang dihasilkan oleh masyarakat kota dalam satu tahun.

Jika kita lihat data, perbandingan rata-rata sampah yang ditimbulkan oleh setiap penduduk di Jakarta adalah sebanyak 0,8 kg/hari, di Bangkok sebanyak 0,9 kg/hari, di Singapura 1,0 kg/hari, dan di Seoul sebanyak 2,8 kg/hari (Water Supply and Sanitation Sector Review, Strategy and Action Plan Preparation, RWSG-EAP, BAPPENAS, 1995). Jadi, silahkan dihitung berapa kilogram sampah yang dihasilkan oleh satu orang penduduk Jakarta dalam satu tahun. Artinya dalam satu tahun seseorang akan menghasilkan sampah sebesar 291,2 kg. Suatu angka yang sangat fantastis, yang dihasilkan oleh seorang penduduk modern yang mengagungkan kebersihan dan efisiensi.

Memang suatu angka yang kontras, dengan apa yang selalu didengung-dengungkan oleh masyarakat kota yang modern yang mengusung konsep kebersihan dan efisiensi, serta dilain pihak jumlah sampah yang dihasilkan oleh oleh masyarakat itu per harinya sungguh-sungguh di luar batas. Dengan nilai-nilai modern ini, masyarakat kota akhirnya selalu menempatkan sampah sebagai sesuatu yang kotor dan jijik, yang harus dijauhi oleh masyarakat. Jadi, sampah dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang dan dihilangkan. Dalam arti lain, sampah dianggap beban bagi kehidupan masyarakat yang modern.

Manajemen Pengelolaan Sampah Saat ini

Nilai-nilai yang ada di masyarakat, yang menganggap sampah sebagai sesuatu beban yang harus dibuang dan dimusnahkan, mewarnai dan mempengaruhi pola pengelolaan sampah di perkotaan pada saat ini. Dinas Kebersihan Kota, telah didirikan sebagai lembaga yang berwenang dalam penanganan sampah di Kota. Namun, apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah dengan dinasnya ini dalam hal pengelolaan sampah? Pemerintah atas desakan masyarakat kota yang membutuhkan lingkungan bersih dan higienis membuat suatu konsep dalam penanganan sampah, dengan menempatkan sampah-sampah hasil dari pola konsumsi dan kegiatan masyarakat tersebut jauh dari tempat pemukiman penduduk. Sampah harus ditempatkan di suatu tempat yang terisolir dari masyarakat kota, sehingga kota akan tetap terlihat bersih dan nyaman sebagai ciri dari peradaban yang modern.

Untuk itu, didirikanlah Tempat Penampungan Akhir (TPA), yang marak diberbagai kota. TPA dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk dari pengelolaan sampah yang didasarkan kepada anggapan bahwa sampah adalah beban. Sampah-sampah yang dihasilkan setiap harinya dari prilaku modern masyarakat kota ditempatkan di suatu tempat, yang biasanya berada di pinggiran kota.

Pengelolaan sampah dengan metode TPA ini, melalui beberapa tahapan. Pertama, masyarakat kota akan mengumpulkan sampah atau yang sering disebut dengan timbunan sampah. Kedua, timbunan sampah ini selanjutnya dibawa dengan mengunakan gerobak-gerobak menuju ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Ketiga, sampah-sampah dari TPS akan dibawa dengan menggunakan truk-truk sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Manajemen pengelolaan yang dilakukan oleh dinas kebersihan ini, tentunya mempunyai beberapa kelemahan dan kendala. Sebagai contoh, minimnya gerobak-gerobak sampah serta truk-truk sampah menyebabkan pengalokasian sampah menjadi tersendat. Bahkan di daerah perkotaan yang padat penduduk banyak dijumpai sampah-sampah yang tidak dapat diangkut disebabkan karena minimnya jumlah angkutan sampah, sehingga pada akhirnya sampah-sampah ini menjadi busuk dan mengganggu masyarakat dan lingkungan sekitar.

Pola pengelolaan sampah seperti ini dapat dikatakan sebagai pola penyingkiran sampah, bukan pola penanganan sampah. Konflik-konflik sosial banyak sekali ditemui dalam pendirian TPA-TPA. Penolakan masyarakat terhadap pendirian TPA seharusnya dapat dimaklumi karena tidak memberikan nilai tambah pada masyarakat sekitar. Sampah-sampah yang dihasilkan oleh masyarakat kota dalam jumlah tidak sedikit dibuang ke suatu wilayah pinggiran, yang masyarakatnya sendiri sebenarnya memiliki pola konsumsi yang rendah. Artinya, masyarakat pinggiran tersebut harus menjadi korban akibat dari perilaku dan pola konsumsi masyarakat kota. Apakah ini adil bagi mereka?
Masih banyak lagi kelemahan-kelemahan pengelolaan sampah dengan sistem ini. Semua kelemahan manajemen pengelolaan sampah ini sebetulnya bermuara dari penilaian masyarakat itu sendiri yang menganggap sampah adalah beban, yang artinya harus disingkirkan, dibuang, dan dijauhi sehingga pola pengelolaan sampahpun lebih kepada bagaimana cara menyingkirkan sampah.

Alternatif Pengelolaan Sampah : Sampah sebagai Sumberdaya Ekonomi

Paradigma yang menganggap sampah sebagai beban, seharusnya mulai diubah. Masyarakat harus sadar bahwa keberadaan sampah dikarenakan oleh ulah dan tingkah laku dari masyarakat itu sendiri. Pembangunan yang mengarah kepada pertumbuhan ekonomi, dan berdampak pada pemeliharaan pola konsumsi tinggi, tentunya akan berimbas kepada meningkatnya jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat.

Seiring dengan perubahan paradigma tersebut, saat ini, juga telah banyak ditemukan teknologi-teknologi yang mampu mengolah sampah menjadi sesuatu hal yang bermanfaat. Disini, sampah dijadikan sebagai suatu sumberdaya ekonomi yang mampu digunakan oleh masyarakat.

Sebut saja, teknologi yang menemukan bahwa sampah dapat dijadikan salah satu sumber energi alternatif untuk dijadikan listrik. Kelangkaan sumber energi utama seperti minyak dan gas bumi untuk dijadikan listrik, disini dapat dipecahkan dengan mengunakan sesuatu yang menjijikkan, yang dinamakan sampah. Bukankah ini merupakan satu terobosan penting dalam hal pemanfaatan sampah.

Selain itu, sejak lamapun sebenarnya kita telah mengenal pupuk kompos, yang bahan baku utamanya adalah sampah. Artinya, dengan menggunakan sampah yang menjijikkan, ternyata dapat digunakan untuk meningkatkan jumlah produksi pertanian dengan menggunakan teknologi yang dinamakan pupuk kompos.

Masih banyak teknologi lainnya yang telah ditemukan dalam hal pemanfaatan sampah kota. Semua cara tersebut tentunya didasarkan pada asumsi dan prinsip bahwa sampah harus dijadikan sebagai salah satu sumberdaya ekonomis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat banyak.

Selanjutnya, apa yang bisa dilakukan dalam hal pengelolaan sampah dengan mengacu kepada paradigma baru ini. Di sini, keterlibatan semua pihak tentunya diperlukan. Dimulai dari masyarakat kota sendiri sebagai penghasil dan sumber sampah. Seharusnya ada edukasi yang mengubah perilaku membuang sampah dengan memilah sampah menjadi sampah organik dan non-organik. Pemilahan sampah yang telah banyak dilakukan oleh masyarakat-masyarakat di negara maju, telah terbukti sangat membantu mempermudah pengelolaan sampah. Pemerintah dalam hal ini Dinas Kebersihan Kota serta pihak swasta, seharusnya dapat mendorong terciptanya teknologi-teknologi yang mampu membuat sampah-sampah menjadi sumberdaya ekonomi. Peran aktif swasta juga diperlukan untuk inovasi-inovasi dalam pengembangan sampah sebagai sumberdaya ekonomi. Sehingga sampah yang tidak mempunyai nilai, akan mempunyai nilai tambah yang menguntungkan bagi pihak swasta.

Yang penting di sini adalah, perwujudan ”zero waste” pada tahun 2025, akan dapat berhasil jika semua pihak sadar bahwa sampah bukan untuk dibuang atau disingkirkan, akan tetapi keadaaan ”zero waste” tersebut dapat tercapai jika kita menempatkan sampah sebagai salah satu sumberdaya ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat kota.

Semuanya ini dapat terwujud jika semua pihak sadar akan posisi dan peran masing-masing. Artinya, masyarakat kota sebagai penghasil dan sumber sampah harus menyadari bahwa timbunan sampah yang menyebabkan bau dan sumber penyakit dihasilkan oleh prilaku mereka yang konsumtif. Penananganan sampah bukan hanya monopoli tugas dari pemerintah melalui Dinas Kebersihan, tetapi juga tanggung jawab masyarakat.