1. 1.    Pendahuluan

Bahasa Palembang merupakan salah satu dialek Melayu. Bentuk dan struktur mempunyai kemiripan dengan dialek Melayu lainnya. Ada kekhasan yang dimiliki bahasa Melayu Palembang, yaitu (1) pada tataran bunyi; hampir selalu mengandung vokal /o/ pada silabe tertutup posisi akhir kata yang berkorespondensi dengan /a/ dalam bahasa Indonesia; (2) pada tataran morfologis, bahasa Palembang memiliki afiks yang berbeda dengan bahasa Melayu lainnya. Misalnya afiks {-N} yang dapat direalisasikan menjadi {n-};{ng-}; {nge}; atau {ø}; {me-}; {be}; {di}; {te}; {ke}; {i}; {-an}; {ke-an}; dan {pe-an; (3) pada tataran leksikal kekhasan bahasa Palembang memiliki kemiripan dengan bahasa Jawa dan bahasa Melayu itu sendiri.

Dalam pemakaiannya bahasa Palembang memiliki dua variasi, yaitu bahasa Palembang alus (bebaso) dan bahasa Palembang Jabo (Baso Pelembang seari-ari). Bahasa Palembang seari-ari digunakan oleh sebagian besar masyarakat Palembang dan sebagai lingua franca masyarakat Sumatera Selatan. Bebaso hanya dikuasai oleh penutur asli masyarakat Palembang yang termasuk dalam kelompok bangsawan sehingga penggunaan bebaso terbatas pada kalangan tertentu saja.

Salah satu peristiwa kebahasaan yang memiliki keunikan adalah reduplikasi. Kriteria terpenting dalam reduplikasi bahasa Palembang adalah reduplikasi yang ditinjau dari aspek makna. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan deskripsi reduplikasi dalam bahasa Palembang yang dapat dikelompokkan dalam bentuk dasar reduplikasi, yaitu utuh, sebagian, dan variasi, baik dari bentuk asal maupun turunan. Selain itu, penelitian ini akan membahas reduplikasi dari aspek bentuk, fungsi, dan makna dalam bahasa Palembang.

 

  1. 2.    Reduplikasi Bahasa Palembang

Proses pengulangan merupakan peristiwa pembentukan kata dengan jalan mengulang bentuk dasar, baik seluruhnya maupun sebagian, baik bervariasi fonem maupun tidak, baik berkombinasi dengan afiks maupun tidak. (Muslich,1990:48). Hasil pengulangan disebut kata ulang, satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. (Solichi,1996:9).

Menurut Alwi (2003:109), pengulangan adalah proses pembentukan kata dengan mengulang bentuk dasar, baik secara utuh maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak.

2.1  Reduplikasi Fonologis

Reduplikasi fonologis terjadi pada dasar yang bukan bukan akar atau terhadap bentuk yang statusnya lebih tinggi dari akar. Reduplikasi fonologis ini tidak menghasilkan makna gramatikal, melainkan menghasilkan makna leksikal. Misalnya:   luntang-lantung, kocar-kacir, kula-kilir, wara-wiri, nyap-nyap, dan mato-mato. Bentuk-bentuk ini tidak diketahui mana yang menjadi bentuk dasar pengulangannya. Selain itu, maknanya pun hanya makna leksikal, bukan makna gramatikal.

2.2  Reduplikasi Sintaksis

Reduplikasi sintaksis adalah proses pengulangan terhadap sebuah dasar yang biasanya berupa akar, tetapi menghasilkan satuan bahasa yang statusnya lebih tinggi daripada sebuah kata.

Contohnya:

Macem-macem be gawe budak itu ‘aneh-aneh saja kerja anak itu’

Wong itu maki-maki anak gadis itu ‘orang itu memaki berkali-kali anak gadis itu

Mara-mara be gawe awak ari ni ‘Marah-marah saja kerjamu hari ini’

Mentang-mentang anak pejabat laju nak sekendak ati  ‘Hanya karena anak pejabat jadi mau sekehendak hati

2.3  Reduplikasi Semantis

Reduplikasi semantis adalah pengulangan “makna” yang sama dari dua buah kata yang bersinonim. Contoh: obrak-abrik, agak-igik, kering-kerontang, babas-bingkas, olang-aling, ombang-ambing, malang-melintang, dan orang-aring.

2.4  Reduplikasi Morfologis

Reduplikasi morfologis dapat terjadi pada bentuk dasar yang berupa akar, berupa bentuk berafiks, dan berupa bentuk komposisi. Prosesnya dapat berupa pengulangan utuh, pengulangan sebagian, maupun pengulangan berubah bunyi.

2.4.1        Pengulangan Akar

2.4.1.1  Dwilingga (pengulangan utuh)

Dwilingga (pengulangan utuh) adalah pengulangan bentuk dasar tanpa melakukan perubahan bentuk fisik dari akar itu. Misalnya: masin-masin (bentuk dasar masin ‘asin’), nian-nian (bentuk dasar nian ‘betul’), mengap-mengap (bentuk dasar mengap ‘keadaan bernafas yang sangat sulit), mentang-mentang (bentuk dasar mentang ‘hanya karena merasa’), dan  mintak-mintak (bentuk dasar mintak ‘mengemis).

2.4.1.2  Dwipurwa (pengulangan sebagian)

Dwipurwa (pengulangan sebagian) adalah pengulangan bentuk dasar yang hanya salah satu suku katanya saja yang diulang, dalam hal ini suku awal kata, disertai dengan “pelemahan” bunyi. Misalnya gerigi (bentuk dasar gigi).

2.4.1.3  Dwilingga salin suara (pengulangan dengan perubahan bunyi)

Dwilingga salin suara (pengulangan dengan perubahan bunyi) adalah pengulangan bentuk dasar tetapi disertai dengan perubahan bunyi. Yang berubah bisa bunyi vokalnya bisa pula bunyi konsonannya. Contohnya adalah kula-kilir, bolak-balik, corat-coret, kelap-kelip, lontang-lantung, kakak-kikik dan agak-igik.

2.4.1.4  Dwiwasana

Dwiwasana adalah pengulangan bagian belakang dari leksem. Contoh: ngelaung-laung, ketawa-tawa, temenges-menges,dan meraung-raung 

2.4.1.5  Trilingga

Trilingga adalah pengulangan kata dasar sebanyak tiga kali dengan variasi fonem. Contohnya adalah, dag-dig-dug dan dar dir dor

2.4.2        Pengulangan Dasar Berafiks

Dalam bahasa Palembang ada tiga macam  proses afiksasi dan reduplikasi, yaitu: (1)     Pertama, sebuah akar diberi afiks dahulu, kemudian direduplikasi. Misalnya, pada akar jingok mula-mula diberi prefiks me- menjadi nyingok, kemudian baru diulang menjadi bentuk nyingok-nyingok melihat-lihat’; (2) Sebuah akar direduplikasi dahulu, baru kemudian diberi afiks. Misalnya, akar lamo mula-mula diulang menjadi lamo-lamo, baru kemudian diberi prefiks ber- menjadi belamo-lamo; (3) Sebuah akar diberi afiks dan diulang secara bersamaan. Misalnya, pada akar ejo diberi prefiks me- dan proses pengulangan sekaligus menjadi bentuk ngejo-ejo ‘mengeja-eja’. 

2.4.3        Reduplikasi Morfemis

Reduplikasi Morfemis, yaitu: (1) Reduplikasi pembentuk verba. Contoh: budak itu nangis ngelaung-laung ‘anak itu menangis menjerit-jerit’; dari tadi budak itu begebuk-gebukan ‘dari tadi budak itu pukul-memukul’; dio ngeliting-ngeliting disiram banyu panas ‘dia mengoyang-goyangkan tubuhnya terkena air panas’; (2)  Reduplikasi pembentuk ajektiva. Contoh: Alangke belagak-belagaknyo anak Mang Pai ‘alangkah cantik-cantik/ganteng-genteng anak Pak Pai’; jangan galak bepikir muluk-muluk nian ‘jangan suka berpikir yang tinggi-tinggi sekali’; Alangke mudo-mudonyo timun ini ‘Alangkah muda-muda mentimun ini’; (3) Reduplikasi pembentuk nomina. Contoh: duku tu musim-musiman ‘buah duku itu ada pada musim tertentu’; Alangke banyaknyo lampu-lampu tebeng di jalan ni ‘alangkah banyaknya lampu-lampu tempel di jalan ini’; Banyaknyo tajung-tajung awak di gerobok ‘Banyaknya tajung-tajung (kain tenun khas yang biasa dipakai laki-laki di lemarimu’; (4)  Reduplikasi pembentuk pronominal. Contoh: Kami-kami ni la yang jadi besan ‘Kami-kami inilah yang akan menjadi pihak besan’; Kito-kito ni la yang  bakal ngeramike acara tu ‘Kita-kita inilah yang akan merawaikan perayaan itu’; (5)  Reduplikasi pembentuk adverbial. Contoh: Kalu antri sikok-sikok ‘Jika antri satu-satu; Naik jerambah tuh lembet-lembet be ‘Naik jembatan itu perlahan-lahan saja’; dio datang ke kantor pagi-pagi buto ‘Dia datang ke kantor pagi-pagi buta’ (6)  Reduplikasi pembentuk interogativa. Contoh: apo-apoan maksud kau ni ‘apa-apa maksudmu ini’ (7)  Reduplikasi pembentuk numeralia. Contoh: Bejubel-jubel wong nak ngembek raskin ‘Banyak dan penuh sekali orang yang akan mengambil raskin’.

  1. 3.        Penutup

Dalam bahasa Palembang, reduplikasi merupakan bagian penting dalam pembentukan kata. Dari pembahasan terdahulu banyak ditemukan bentuk dan makna reduplikasi dalam bahasa Palembang dari tataran fonologis, sintaksis, semantis, dan morfologis yang mencakup pengulangan akar (dwilingga, dwilingga salin suara, dwipurwa, dwiwasana, dan trilingga), dasar berafiks, dan morfemis.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan et. al.. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta:  Balai Pustaka.

Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Muslich, Masnur. 1990. Tata Bentuk Bahasa Indonesia Kajian ke Arah Tata Bahasa Deskriptif. Malang: YA 3 Malang.

Solichi, Mansur. 1996. Hand-Out Morfologi. Malang: IKIP Malang.