Saya berkesempatan untuk mengikuti short training di Leeds University, Inggris dengan biaya TPSDP (Technological and Professional Skills Development Project) -program bantuan ADB untuk perguruan Tinggi di seluruh Indonesia- dan merasakan bagaimana atmosfer pendidikan di sana. Memang waktu yang sangat singkat (1 bulan) tidak dapat mewakili gambaran secara lengkap pendidikan di Inggris namun cukup untuk mengamati dan mencerna seperti apa pendidikan, khususnya perguruan tinggi di sana dan ‘adapt and adopt’ hal-hal yang baik untuk diterapkan di Universitas Bina Darma.
Ada beberapa hal yang cukup menarik untuk diamati dan menjadi perhatian saya. Yang pertama, atmosfer akademik sangat terasa di lingkungan kampus dimana kampus menjadi rumah ke dua dan waktu mahasiswa sebagian besar dihabiskan di kampus untuk berdiskusi ataupun mengerjakan tugas di perpustakaan atau ‘help zone’-suatu area yang dirancang untuk membantu mahasiswa menyelesaikan tugas. Mahasiswa dituntut untuk menyelesaikan tugas dengan baik dan biasanya satu tugas dengan referensi paling sedikit 5 buku atau jurnal yang harus dibaca untuk dapat disarikan dan dikutip sebagai penunjang dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Di sana tidak kita jumpai mahasiswa yang hanya duduk menunggu kelas berikutnya tanpa mengerjakan apapun karena mereka sangat menghargai waktu sehingga waktu yang tersedia mereka manfaatkan sebesar mungkin untuk belajar atau membaca. Budaya membaca tidak hanya dijumpai di kampus tetapi di dalam bis, stasiun, taman, bahkan di kafetaria dapat kita temukan orang yang makan siang sambil membaca. Sungguh pemandangan yang tidak lazim di Indonesia.
Yang kedua, pengajaran di perguruan tinggi di Indonesia umumnya menggunakan ‘lecturing style’ dimana dosen yang menjadi center dan mahasiswa menunggu informasi yang akan diberikan oleh dosen, tidak demikian halnya yang saya lihat di sana. Dengan didukung fasilitas belajar mengajar yang lengkap, dosen tidak selalu memulai dengan informasi yang ingin disampaikan tetapi juga mengaktifkan mahasiswa untuk berpartisipasi membahas dan mendiskusikan topik pada saat itu dengan menggunakan fasilitas-fasilitas belajar mengajar yang tersedia di dalam kelas termasuk fasilitas internet. Di lain waktu, mahasiswa yang ‘berperan’ sebagai dosen dimana mereka diberi tanggung jawab untuk membahas satu topik yang didiskusikan di dalam kelas. Yang sangat saya rasakan adalah mahasiswa sangat dituntut untuk aktif belajar mandiri dengan dosen sebagai fasilitator bukan sebagai satu-satunya sumber informasi karena metode yang diterapkan membuat mahasiswa menjadi aktif mencari informasi dari berbagai sumber tidak hanya menunggu masukan dari dosen. Hal ini dapat dimungkinkan mengingat kampus dilengkapi dengan perpustakaan yang memiliki koleksi yang kuantitas maupun kualitas yang relatif lebih baik dan perpustakaannya juga sudah didukung oleh teknologi informasi yang canggih sehingga memudahkan mahasiswa untuk meminjam maupun membaca melalui internet yang dapat diakses dimanapun.
Yang ketiga adalah budaya mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran untuk dapat disampaikan dengan kalimat dan cara yang baik di dalam kelas. Dalam satu kelas training yang saya ikuti ada 11 peserta dari Eropa dan 3 peserta dari Asia termasuk saya. Peserta dari Eropa saya rasakan lebih aktif menyampaikan pendapatnya termasuk ‘menentang’ informasi yang disampaikan oleh pengajar tentu saja dengan didukung oleh sumber-sumber informasi yang sudah dibaca. Padamulanya hal ini sangat mengganggu saya karena saya mau pengajar menyelesaikan dulu apa yang ingin disampaikan barulah disanggah apabila ada yang tidak sesuai. Namun karena masukan disampaikan dengan cara yang baik dan kemudian didiskusikan bersama, lama kelamaan saya dapat menerima hal ini. Menyampaikan sesuatu yang berbeda tidak diharamkan sepanjang disampaikan dengan cara-cara yang baik dan benar. Mahasiswa di Indonesia pada umumnya, dengan fasilitas terbatas dan budaya manut, menjadi mahasiswa yang pasif dan menerima apa yang disampaikan tanpa terbiasa memproses dan menganalisis masukan yang didapat. Masyarakat Eropa pada umumnya sejak dini sudah dibiasakan untuk mengekspresikan keinginan dan menganalisis kejadian yang ditemui. Hal ini sangat saya rasakan pada saat menonton tv dengan keluarga home stay dimana mereka sepanjang menonton terus membahas dan mendiskusikan apa saja yang dilihat dan didengar baik itu program berita maupun tontonan ringan seperti soap opera. Dari serangan Israel dan kebijakan Amerika yang berpihak sampai pakaian yang dikenakan oleh artis pendukung dikomentari dan dibahas. Bagi saya yang terbiasa menonton dengan tenang hal ini benar-benar mengganggu konsentrasi apalagi sekali-kali mereka juga meminta pendapat saya. Setelah saya renungi, kebiasaan ini berdampak positif pada keaktifan mahasiswa mengemukakan pendapat di dalam kelas dimana mereka di keluarga juga sudah terbiasa mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran.
Apa yang saya temui di sana tidak semuanya baik karena ada juga hal-hal yang saya rasakan tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia. Namun hal-hal yang tidak baik tidak terlalu menjadi pengamatan saya sehingga tidak perlu saya ungkapkan di sini. Apa yang sudah disampaikan di atas, seperti yang sudah saya sampaikan di awal, tentu tidak dapat mewakili pendidikan di Inggris maupun di Indonesia karena hanya berdasarkan pengamatan dan kesimpulan saya sendiri. Mudah-mudahan ini dapat menjadi oleh-oleh bagi perguruan tinggi khususnya Universitas Bina Darma untuk terus memperbaiki dan mengembangkan hal-hal baik yang dapat diadopsi dari pengalaman ini.