PENGARUH KOMUNIKASI,IKLIM ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA DINAS PENDIDIKAN NASIONAL PROVINSI SUMATERA SELATAN

I. PENDAHULUAN
Menciptakan sebuah iklim organisasi yang mampu membawa para anggotanya untuk meningkatkan prestasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya manusia memiliki karakteristik tingkah laku yang berbeda sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Apabila terdapat perbedaan atau kesenjangan antara persepsi anggota dengan persepsi pimpinan mengenai iklim yang dirasakan dan yang diharapkan, maka ini akan memungkinkan terciptanya ketidakpuasan kerja dari anggota, sehingga dapat menimbulkan penyalah gunaan hak dan kewajiban yang akhimya mengakibatkan tujuan organisasi tidak dapat dipenuhi secara optimal. Persoalan-persoalan ini semakin bertumpuk dengan kecenderungan organisasi untuk berkembang, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan lingkungan di sekitarnya sehingga anggota seringkali kehilangan identitas pribadi, dan pimpinan makin sulit untuk memuaskan kebutuhan anggota dan mencapai tujuan organisasi sekaligus.

Seorang pimpinan adalah seseorang yang mempunyai wewenang untuk memerintah orang lain. Seseorang yang dalam menjalankan pekerjaannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dengan menggunakan bantuan orang lain. Dengan demikian ia perlu memimpin para pegawai. Tidak setiap orang yang menjadi pemimpin bisa menjalankan pekerjaannya dengan baik. Tidak setiap pemimpin bisa menjadi pemimpin yang baik. Dengan demikian timbul pertanyaan, mengapa seseorang bisa menjadi pemimpin, sedangkan orang lain tidak ? Kalau demikian, apakah seorang pemimpin itu mempunyai pembawaan sejak lahir, ataukah bisa dibentuk lewat latihan, pendidikan, atau apapun nama-nya? Berbagai studi tentang kepemimpinan bisa dikelompokkan menjadi tiga pendekatan, yaitu yang mendasarkan atas traits (sifat) atau kualitas yang diperlukan seseorang untuk menjadi pimpinan, kedua, yang mempelajari perilaku (behavior) yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang efektif. Kedua pendekatan ini menganggap bahwa apabila seseorang mempunyai karakteristik atau kualitas dan perilaku tertentu, akan menjadi seorang pemimpin dalam situasi apapun ia ditempatkan. Dan yang ketiga adalah pendekatan contingency yang berdasarkan factor-faktor situasional.
Dari uraian diatas, dapat dirumuskan permasalahan meliputi: 1. Lambatnya penyelesaian suatu pekerjaan yang ditugaskan kepada sebagian pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan. 2. Kurangnya komitmen terhadap pekerjaan sebagian pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan. 3. Sering terjadi miss communication sehingga hasil perintah yang diinginkan tidak sesuai dengan yang didapat. Tujuan penelitian meliputi:1. Untuk mengetahui pengaruh Komunikasi terhadap kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional pada Provinsi Sumatera Selatan 2. Untuk mengetahui pengaruh Iklim organisasi terhadap kinerja Pegawai pada Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan. 3. Untuk mengetahui pengaruh Kepemimpinan terhadap kinerja Pegawai pada Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Komunikasi
Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada sumber satu penerima atau lebih,dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. (Sutrisna: 2006,hal.3)
Ada beberapa definisi komunikasi yang mudah dipahami, antara lain (Sutrisna: 2006,hal.3).:
1) Komunikasi adalah proses dimana merupakan kegiatan pengiriman dan penerimaan pesan yang berlansung secara dimanis.
2) Komunikasi jika dipandang secara simbolik komunikasi menggunakan berbagai lambang atau simbol yang dinyatakan dalam bentuk verbal dan non.verbal.
3) Komunikasi adalah suatu sistem komunikasi terdiri atas unsur-unsur yang saling bergantung dan merupakan satu kesatuan yang integratif.

2. 2 Iklim Organisasi
Komunikasi dapat diartikan sebagai gabungan persepsi-persepsi mengenai peristiwa komunikasi, perilaku manusia, respon pegawai terhadap pegawai lainnya, harapan-harapan, konflik antar personal dan kesempatan bagi pertumbuhan dalam organisasi (Pace: 2000: hal. 147).
Apakah iklim organisasi sebuah organisasi penting? Dengan cara yang serupa, Komunikasi sebuah organisasi mempengaruhi cara hidup kita: kepada siapa kita bicara, siapa yang kita sukai, bagaimana perasaan kita, bagaimana kegiatan kerja kita, bagaimana perkembangan kita, apa yang ingin kita capai, dan bagaimana cara kita menyesuaikan diri dengan organisasi. Charles Redding (Pace : 2000, hal. 146) menyatakan bahwa “iklim organisasi jauh lebih penting daripada keterampilan atau teknik-teknik komunikasi semata-mata dalam menciptakan suatu organisasi yang efektif”.
Marshall Scott Poole (dalam Pace : 2000: 148) lebih lanjut mengatakan bahwa ” iklim organisasi penting karena mengaitkan konteks organisasi dengan konsep-konsep, perasaan-perasaan dan harapan-harapan anggota organisasi dan membantu menjelaskan perilaku anggota organisasi”. Dengan mengetahui sesuatu tentang iklim suatu organisasi, kita dapat memahami lebih baik apa yang mendorong anggota organisasi untuk bersikap dengan cara-cara tertentu. Telah ditunjukkan bahwa iklim memiliki sifat-sifat yang membuatnya tampak bertumpang tindih dengan konsep budaya. Poole (Pace : 2000: hal. 148) selanjutnya menjelaskan bahwa “secara keseluruhan, tampaknya iklim lebih merupakan sifat budaya daripada merupakan suatu pengganti budaya. Sebagai suatu sistem kepercayaan yang digeneralisasikan, iklim berperan dalam keutuhan suatu budaya dan membimbing perkembangan budaya tersebut” .
Ada enam faktor yang mempengaruhi iklim organisasi menurut Pace (2000 : hal. 159-160) sebagai berikut :
a) Kepercayaan. Personel di semua tingkat harus berusaha keras untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan yang di dalamnya kepercayaan, keyakinan, dan kredibilitas didukung oleh pernyataan dan tindakan.
b) Pembuatan keputusan bersama. Para pegawai di semua tingkat dalam organisasi harus diajak berkomunikasi dan berkonsultasi mengenai semua masalah dalam semua wilayah kebijakan organisasi, yang relevan dengan kedudukan mereka. Para pegawai di semua tingkat harus diberi kesempatan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan manajemen di atas mereka agar berperan serta dalam proses pembuatan keputusan dan penentuan tujuan.
c) Kejujuran. Suasana umum yang diliputi kejujuran dan keterus terangan harus mewarnai hubungan-hubungan dalam organisasi, dan para pegawai mampu mengatakan “apa yang ada dalam pikiran mereka” tanpa mengindahkan apakah mereka berbicara kepada teman sejawat, bawahan, atau atasan.
d) Keterbukaan dalam komunikasi ke bawah. Kecuali untuk keperluan informasi rahasia, anggota organisasi harus relatif mudah memperoleh informasi yang berhubungan langsung dengan tugas mereka saat itu, yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengkoordinasikan pekerjaan mereka dengan orang-orang atau bagian-bagian lainnya, dan yang berhubungan luas dengan perusahaan, organisasinya, para pemimpin, dan rencana-rencana.
e) Mendengarkan dalam komunikasi ke atas. Personel di setiap tingkat dalam organisasi harus mendengarkan saran-saran atau laporan-laporan masalah yang dikemukakan personel di setiap tingkat bawahan dalam organisasi, secara berkesinambungan dan dengan pikiran terbuka. Informasi dari bawahan harus dipandang cukup penting untuk dilaksanakan kecuali ada petunjuk yang berlawanan.
f) Perhatian pada tujuan-tujuan berkinerja tinggi. Personel di semua tingkat dalam organisasi harus menunjukkan suatu komitmen terhadap tujuan-tujuan berkinerja tinggi-produktivitas tinggi, kualitas tinggi, biaya rendah.

2.3. Kepemimpinan
Istilah kepemimpinan itu sendiri berasal dari kata “pimpin” yang berarti bimbing atau tuntun, dari kata ira lahiriah kata umum pemimpin yang artinya seseorang yang memiliki kemampuan memimpin artinya kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya (Wirawan: 2003: hal. 109). Kemudian menurut S. Pamudji (2003, hal. 145) ada lima teori tentang munculnya kepemimpinan yakni:
a. Teori Serba Sifat (Trafis Theory), bahwa kepemimpinan itu memerlukan serangkaian sifat-sifat, ciri-ciri atau perangai tertentu yang menjamin keberhasilan pada setiap situasi.
b. Teori Interaksi dan Harapan (Interaction-Expectation Theory), bahwa kepemimpinan didasarkan pada aksi, reaksi, interaksi dan perasaan.
c. Teori Pribadi dan Situasi (Personal Situational Theory), bahwa kepemimpinan merupakan produk dari terkaitnya tiga faktor yakni perangai, teori pemimpin, sifat dari kelompok dan anggota-anggotanya serta kejadian-kejadian atau masalah yang dihadapi kelompok.
d. Teori Humanistik (Humanistik Theory), berdasarkan pada “Organization is by Nature Structure and Controled” yaitu manusia karena sifatnya adalah organisme yang diMotivasi Kerja sedangkan organisasi karena sifatnya tersusun dan terkendali.
e. Teori Lingkungan (Environmental Theory) bahwa pemimpin itu memerlukan hasil daripada waktu, tempat dan keadaan.
Beberapa teori tentang kepemimpinan dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Teori Ciri
Menurut Robbins (2002) ketika Margaret Theacher berulangkali terpilih menjadi perdana menteri Inggris yang tentu saja karena kepemimpinannya, ia diistilahkan seperti seorang yang percaya diri, berkemauan besi, penuh tekad dan tegas, pembarani, dan lain-lain. Istitah ini adalah ciri (traits). Adapun yang paling dahulu yakin dengan teori ini adalah kalangan pers. Perbedaan kepribadian, sosial, fisik dan intelektual yang akan memberikan perbedaan diri kepemimpinan mereka.
Menurut Susanto (2003, hal. 187), ada enam ciri yang cenderung membedakan pemimpin dengan yang bukan pemimpin yaitu : ambisi dan energi, hasrat untuk memimpin, kejujuran dan integritas, percaya diri, kecerdasan dan pengetahuan yang relevan dengan pekerjaan. Disamping itu orang-orang yang memberikan sifat pemantauan diri yang tinggi yang artinya sangat luwes dalam menyesuaikan perilaku muncul sebagai pemimpin dalam kelompok dibandingkan dengan orang yang pemantauan dirinya lebih rendah.

3.METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian
Kondisi ini juga terjadi di lingkungan pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan, dimana pimpinan memegang peran sangat penting terhadap kinerja kerja seorang bawahan. Semakin baik pimpinan memberikan dorongan kepada pegawai maka semakin termotivasilah pegawai tersebut bekerja yang nantinya akan berdampak kepada kinerja pada setiap pegawai.

3.2 Kerangka Pemikiran
Iklim organisasi yang baik dan nyaman akan menyebabkan seorang pegawai merasa nyaman dalam bekerja yang berarti adanya keinginan untuk bekerja lebih baik atau mempunyai Motivasi Kerjakerja yang baik. Selain itu Motivasi Kerjajuga dipengaruhi oleh sifat kepemimpinan seorang pimpinan terhadap pegawainya. Karena pimpinan tersebut dapat memotivasi kerja atau tidak pegawai tersebut.
Sehingga dari kerangka pemikiran diatas dapat digambarkan pada gambar 1

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

3.3 Desain Penelitian
A. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir di atas, hipotesis penelitian yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Komunikasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai
2. Iklim organisasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai
3. Sifat kepemimpinan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai
4. Komunikasi, iklim organisasi dan Kepemimpinan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai

B.Penarikan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempuyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan berjumlah 384orang. Sedangkan sampel diambil dengan cara menggunakan rumus Slovin dengan tingkat keyakinan 90% atau tingkat kesalahan 10% seperti dibawah ini (Umar : 2002: 141-142):

n = N /(1 + N e2)

Dimana :
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
e = tingkat kesalahan yang digunakan
Jumlah sampel n = 384/(1 + 385.0,12) = 79,48
Sehingga jumlah sampel yang diambil sebanyak 79 dibulatkan menjadi 80 orang.
Adapun jumlah masing-masing golongan terdiri dari sebagai berikut:
Tabel 1 Populasi berdasarkan golongan
GOLONGAN JUMLAH
Golongan II 52 orang
Golongan III 306 orang
Golongan IV 25 orang
Sumber : Data diolah

Dari data tersebut dapat diambil sampel yang disesuaikan dengan golongan masing, dimana hasil tersebut sebagai media untuk seberapa banyak sampel yang diambil sesuai dengan golongan masing-masing.

Adapun cara pengambilan sampel tersebut sebagaiberikut :
Golongan II = 52/384 x 80 orang = 11 orang
Golongan III = 306/384 x 80 orang = 64 orang
Golongan IV = 25/384 x 80 orang = 5 orang
Pengambilan sampel menggunakan metode stratified random sampling, yaitu dengan metode pengambilan secara acak dari jumlah masing –masing pada setiap golongan.
Sedangkan jenis data yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Data Primer
Yaitu data yang dikumpulkan secara langsung dan objek yang diteliti. Data yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah terdiri dan dokumen-dokumen yang diambil dan perusahaan yang bersangkutan. Data primer ini didapat dari hasil penyebaran kuesioner mengenai Komunikasi, kepemimpinan dan kinerja pegawai.
Selanjutnya data diolah dianalisis dengan menggunakan paket program SPSS (Statistical Package for Social Science) versi 12,0 for windows.
Instrumen yang digunakan adalah kuesioner tertutup model Likert dengan interval 1 sampai 5. Hasil kuesioner selanjutnya dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan teknik Cronbach’s Alpha melalui program SPSS versi 12,0.

Melalui rumus :
n(XY) – (X ¬Y)
r =
√[n(X2 ][nY2 - (Y2)]
Uji Validitas
2 X r ½ ½
r11 =
( 1+ r ½ ½)
Uji Realibitas

2. Data sekunder
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data sekunder, yaitu data-data yang diperoleh dan di gali melalui hasil pengolahan pihak kedua dan hasil penelitian lapangan.

3. Studi Pustaka
Dalam usaha untuk mendukung dan melengkapi penulisan penelitian ini penulis melakukan penelitian untuk memperoleh data yang bersifat teoritis dan buku-buku, diklat, serta catatan kuliah yang mempunyai hubungan yang erat dengan permasalahan yang dihadapi.

C. Variabel Penelitian dan Operasional Variabel
Uraian dari masing-masing variabel penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel Komunikasi
Adapun cara penilaian Komunikasi dengan masing-masing pertanyaan diberi bobot sebagai berikut:
Sangat Baik = 5
Baik = 4
Cukup Baik = 3
Tidak Baik = 2
Sangat Tidak Baik = 1
Secara lengkap, operasionalisasi variabel Komunikasi seperti tertera pada tabel di bawah ini :

Tabel 2. Operasionalisasi variabel Komunikasi
Variabel Dimensi Indikator Skala
Komunikasi Respect Sikap menghargai, keyakinan, kredibilitas Ordinal
Empathy Kemampuan mendengar dan mngerti Ordinal
Audible Dapat dimengerti Ordinal
Clarity Kejelasan, kejujuran, transparansi Ordinal
Humble Sikap menghargai, dapat menerima kritik, tidak sombong.
Ordinal
Sumber : Pace, 2000:159-160

Tabel ini menunjukkan variabel yang akan diteliti dengan mengukur dimensi yang dilihat dari beberapa indikator dengan menggunakan skala ordinal

2. Variabel Iklim Organisasi (X2)
Adapun cara penilaian Iklim organisasi dengan masing-masing pertanyaan diberi bobot sebagai berikut:
Sangat Baik = 5
Baik = 4
Cukup Baik = 3
Tidak Baik = 2
Sangat Tidak Baik = 1
Secara lengkap, operasionalisasi variabel Iklim organisasi seperti tertera pada tabel di bawah ini :

Tabel 3 Operasionalisasi variabel Iklim Organisasi
Variabel Dimensi Indikator Skala
Iklim Organisasi Kepercayaan Kepercayaan, keyakinan, kredibilitas Ordinal
Keputusan bersama Komunikasi, koordinasi Ordinal
Kejujuran Kejujuran Ordinal
Keterbukaan Kemudahan memperoleh informasi Ordinal
Mendengarkan Saluran komunikasi Ordinal
Perhatian Komitmen terhadap produktivitas, kualitas, dan kinerja.
Ordinal
Sumber : Pace, 2000:159-160

Tabel ini menunjukkan variabel yang akan diteliti dengan mengukur dimensi yang dilihar dari beberapa indikator dengan menggunakan skala ordinal

3. Variabel Kepemimpinan (X3)
Model kinerja kepemimpinan Fiedler mengemukakan bahwa Kepuasan Kerja kelompok yang efektif berpantung pada padanan yang tepat antara gaya interaksi dan si pemimpin dengan bawahannya serta sampai tingkat mana situasi memberikan kendali serta pengaruh kepada si pemimpin.
Cara penilaiannya masing-masing pertanyaan diberi bobot sebagai berikut:
Sangat Baik = 5
Baik = 4
Cukup baik = 3
Tidak baik = 2
Sangat Tidak baik = 1
Secara rinci operasionalisasi variabel sifat kepemimpinan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4. Operasionalisasi Variabel kepemimpinan
Variabel Dimensi Indikator Skala
Kepemimpinan Tanggung jawab Pencapaian tujuan, kewiba- waan, konsekuen, profesio nal,jujur,kreativitas,kebijakan Ordinal
Persepsi Kemampuan analisis Ordinal
Objektif Kepekaan Ordinal
Prioritas Kemampuan menentukan prioritas Ordinal
Komunikasi Komunikasi, hubungan harmonis, suasana kondusif Ordinal
Sumber : Husnan: 2002: 222

Tabel ini menunjukkan variabel yang akan diteliti dengan mengukur dimensi yang dilihar dari beberapa indikator dengan menggunakan skala ordinal

4. Kinerja (Y)
Instrumen berikut akan digunakan untuk mengukur kinerja pegawai menurut As’ad (2002:29).Secara lengkap variabel kinerja pegawai seperti tertera
a. Kualitas.
Tingkat dimana hasil aktivitas yang dilakukan mendekati sempurna dalam menyesuaikan beberapa cara ideal dan penampilan aktivitas ataupun memenuhi tujuan-tujuan yang diharapkan dari suatu aktivitas.
b. Kuantitas.
Jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah-istilah seperti dollar, jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.
c. Ketepatan Waktu.
Tingkat suatu aktivitas diselesaikan pada waktu awal yang diinginkan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain
d.. Efektivitas.
Tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga, uang, teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikkan keuntungan atau mengurangi kerugian dari setiap unit atau instansi dalam penggunaan sumber daya.
Tabel 5 Operasionalisasi Variabel Kinerja
Variabel Dimensi Indikator Skala
Kinerja Kualitas kerja Spesifikasi pekerjaan, standar pelayanan, diskusi, perbaikan pekerjaan, potensi ordinal
Kuantitas kerja Kuantitas, penyelesaian pekerjaan, inovasi dan kreativitas, pelaksanaan tugas, dedikasi ordinal
Ketepatan waktu Seusai jadwal, komitmen, tidak menunda pekerjaan, kecepatan menyerap perintah, profesionalisme ordinal
Efektivitas Efisiensi & efektifitas, prioritas, pengawasan, absensi, kerjasama ordinal
Sumber : As’ad : 2002: 29

Tabel ini menunjukkan variabel yang akan diteliti dengan mengukur dimensi yang dilihar dari beberapa indikator dengan skala ordinal
Adapun penilaian dari instrument ini adalah dengan memberi bobot sebagai berikut :
Sangat Baik = 5
Baik = 4
Cukup Baik = 3
Tidak Baik = 2
Sangat Tidak Baik = 1
Setelah instrumen pengukuran ini dijawab oleh responden, lalu di-tabulasi dan bila hasil tabulasi menunjukkan rata-rata skor di atas 3, artinya kinerja pegawai telah cukup kuat tetapi jika kurang maka masih perlu ada perbaikan. Akan tetapi bila rata-rata skor cenderung berada di bawah 3, perlu diteliti butir-butir mana yang perlu mendapat perhatian sebagai salah satu pedoman perbaikan

D. Metode Penelitian
Untuk mengetahui tingkat keeratan hubungan antara variable independen secara bersamaan dan variable dependen maka digunakan alat ukur korelasi berganda (R), sedangkan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variable independen secara bersamaan terhadap variable dependen akan dilihat dari R2. Kemudian untuk melihat keeratan hubungan secara individu antara variable independen dan variable dependen digunakan alat ukur korelasi parsial (r).
Dalam menjelaskan hubungan antara variabel independen dengan dependen, model yang digunakan adalah model regresi berganda (Umar, 2004: 188), yang dapat dinyatakan sebagai berikut :

Y = a + b1X1+ b2X2 + b3X3+ e
Dimana:
Y = Kinerja
a = Konstanta
b1,b2, b3 = koefisien regresi
X1 = Iklim organisasi
X2 = Komunikasi
X3 = Kepemimpinan
e = error term

Selanjutnya untuk menguji hipotesis ketiga maka digunakan uji F. Uji F ini juga digunakan untuk mengetahui secara bersamaan apakah variable independen berpengaruh pada variable dependen.
Dengan asumsi :
 Apabila F-hitung > F-tabel maka Ho ditolak yang berarti ada pengaruh yang signifikan variable independen terhadap variable dependen
 Apabila F-hitung < F-tabel maka Ho diterima yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan variable independen terhadap variable dependen.

4.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Gambaran Umum Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Kantor Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan. Dimana yang menjadi respondennya adalah pegawai kantor tersebut. Jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 80 orang responden yang berasal dari populasi sebesar 384 orang.
Karakteristik Responden yang diambil dari populasi sebanyak 384 dapat dilihat pada tabel 6 dibawah ini :

Tabel 6
Karakteristik Populasi Penelitian

No. Unit Kerja Jumlah Pegawai Berdasarkan Golongan Jumlah
I II III IV
1 Ka. Dinas 1 1
2 Waka. Dinas 1 1
3 Bag. Tata Usaha 1 31 65 2 99
4 Subdin. Program - 2 36 3 41
5 Subdin. Dikmenti - 5 54 4 65
6 Subdin. Diknas - 10 57 4 71
7 Subdin. Diklusdapenjas - 12 55 4 71
8 Subdin Kebudayaan - 2 39 4 35
Jumlah 1 52 306 25 384
Sumber : DIKNAS Prop. Sumsel

Dari jumlah populasi sebanyak 384 diambil jumlah sampel sebanyak 80 orang berdasarkan golongan, karakteristiknya dapat dilihat pada tabel 7 dan gambar 3 dibawah ini :

Tabel 7.
Karakteristik Responden Berdasarkan Golongan

Golongan Jumlah responden Persentase
I 0 0%
II 11 13,75%
III 64 80%
IV 5 6,25%
Sumber : DIKNAS Prop. Sumsel

Gambar 2
Karakteristik Responden Berdasarkan Golongan

Berdasarkan tabel 7dan gambar 2 diatas maka jumlah responden yang berasal dari golongan 1 tidak ada, Golongan II sebanyak 11 orang atau 13,75%. Golongan III sebanyak 64 orang atau 80% dan golongan IV sebanyak 5 orang atau 6,25%. Golongan III diambil terbanyak dikarenakan jumlah populasinya merupakan terbanyak diantara keempat golongan tersebut yaitu 306 orang.
Selanjutnya akan dilihat karekteristik responden berdasarkan jenis kelamin yang ditampilkan pada tabel 8 dan gambar 4 dibawah ini

Tabel 8.
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Laki-laki 48 60%
Wanita 32 40%
Sumber : DIKNAS Prop. Sumsel

Gambar 3
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan tabel 8 dan gambar 3 dapat dilihat bahwa responden laki-laki sebanyak 48 orang atau 60% dan responden wanita sebanyak 32 orang atau 40%.
Selanjutnya akan dilihat karakteristik responden berdasarkan usia pada tabel 9. dan gambar 5 dibawah ini :

Tabel 9.
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia Jumlah Persentase
18 – 25 th 0 0%
26 – 35 th 12 15%
> 35 th 80 85%
Sumber : DIKNAS Prop. Sumsel

Gambar 4 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Berdasarkan tabel 9 dan gambar 4 didapat bahwa jumlah responden yang berusia 18 – 25 th terdapat sebanyak 0 orang atau 0% responden, 26 – 35 th sebanyak 12 orang atau 15% dan usia diatas 35 tahun sebanyak 80 orang atau 85% responden

2.Hasil Perhitungan Regresi Berganda
a. Hasil Perhitungan Model Summary
Hasil perhitungan model summary dapat dilihat pada tabel 14 dibawah ini .
Tabel 10

Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 10 diatas di dapat nilai R = 0,986, nilai ini berarti bahwa komunikasi, iklim organisasi dan kepemimpinan mempunyai hubungan sangat erat terhadap kinerja. Sedangkan nilai R Square = 0,973 yang berarti bahwa komunikasi, iklim organisasi dan kepemimpinan sebesar 97,3% dapat menjelaskan kinerja sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain.

b. Hubungan Korelasi
Tabel 11 Hubungan Korelasi

Pada tabel 11 ini korelasi diperlihatkan. Bahwa korelasi antara variabel Komunikasi dan Kinerja dinyatakan dengan nilai 0,596, hal ini menunjukkan bahwa hubungan keduanya searah dan relatif kuat. Artinya bila variabel Komunikasi naik, maka Kinerja akan naik, dan demikian sebaliknya. Begitu juga dengan variabel Iklim Organisasi dengan variabel Kinerja yang dinyatakan dengan nilai 0,788. hal ini menunjukkan bahwa hubungan keduanya searah dan sangat kuat. Artinya bila variabel Iklim Organisasi naik, maka Kinerja akan naik demikian juga sebaliknya. Variabel Kepemimpinan dengan variabel Kinerja yang dinyatakan dengan nilai 0,926. hal ini menunjukkan bahwa hubungan keduanya searah dan kuat. Artinya bila variabel Kepemimpinan naik, maka Kinerja akan naik demikian juga sebaliknya.

c. Hasil Uji Anova
Pada tabel 16 akan ditampilkan hasil perhitungan ANOVA :
Tabel 12

Dari tabel 12 menunjukkan bahwa nilai F hitung adalah 910,145 atau nilai Sig. F = 0,000 yang besarnya lebih kecil dari nilai α = 0,05 yang berarti bahwa ada pengaruh yang linier siginifikan variabel independen Komunikasi, Iklim Organisasi dan Kepemimpinan terhadap variabel dependen kinerja..

d. Hasil Uji Koefisien Regresi
Hasil perhitungan terhadap koefisien regresi dapat dilihat pada tabel 17 dibawah ini :
Tabel 13
Coefficients(a)

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) ,243 ,089 2,729 ,008
Komunikasi ,563 ,033 ,590 17,224 ,000
Iklim Organisasi ,259 ,028 ,415 9,331 ,000
Kepemimpinan 1,727 ,056 1,784 31,099 ,000
a Dependent Variable: Kinerja

Berdasarkan tabel 13 didapat persamaan regresi sebagai berikut :
Y = 0,243 + 0,563X1 + 0,259X2 + 1,727X3
Dari persamaan diatas maka dapat diinterpretasikan sebagai berikut, nilai 0,243 berarti bahwa jika nilai Komunikasi (X1), Iklim Organisasi (X2), dan Kepemimpinan (X3) sama dengan nol maka nilai Kinerja = 0,243
Nilai koefisien X1 = 0,563 berarti bahwa jika nilai Komunikasi berubah sebesar 1 unit skor maka nilai kinerja juga akan berubah sebesar 0,563 unit skor, dengan ketentuan bahwa nilai Iklim Organisasi (X2) dan Kepemimpinan (X3) sama dengan konstan.
Nilai koefisien X2 = 0,259 berarti bahwa jika nilai Iklim Organisasi berubah sebesar 1 unit skor maka nilai kinerja juga akan berubah sebesar 0,259 unit skor, dengan ketentuan bahwa nilai Komunikasi (X1) dan Kepemimpinan (X3) sama dengan konstan.
Nilai koefisien X3 = 1,727 berarti bahwa jika nilai Kepemimpinan berubah sebesar 1 unit skor maka nilai kinerja juga akan berubah sebesar 1,727 unit skor, dengan ketentuan bahwa nilai Komunikasi (X1) dan Iklim Organisasi (X2) sama dengan konstan.
Selanjutnya untuk melihat apakah hubungan antara variabel independen Komunikasi, Iklim Organisasi dan Kepemimpinan terhadap variabel dependen kinerja signifikan secara parsial akan digunakan uni t. Bedasarkan tabel 17 didapat bahwa nilai sig. t untuk konstanta = 0,008 lebih kecil dari α = 0,05, sig. t untuk Komunikasi = 0,000 lebih kecil dari α = 0,05, Ini berarti bahwa Komunikasi secara parsial berpengaruh terhadap kinerja. Nilai t hitung untuk Iklim Organisasi = 0,000 lebih kecil dari α = 0,05, Ini berarti bahwa Iklim Organisasi secara parsial berpengaruh terhadap kinerja. Nilai sig. t untuk Kepemimpinan = 0,000 lebih kecil dari α = 0,05. Ini berarti bahwa Kepemimpinan secara parsial berpengaruh terhadap kinerja. .

3. HASIL PEMBAHASAN
Pembahasan yang akan dilakukan berikut ini berdasarkan hasil analisis statistik korelasi parsial, hubungan korelasional dan korelasi regresi berganda linier, dan upaya pendalaman tiap variabel dengan menggunakan hasil analisis yang telah diolah dengan bantuan paket program Statistical Program for Social Science (SPSS) For MS Windows Release 12’.

1. Pengaruh Komunikasi, Iklim Organisasi, dan Kepemimpinan terhadap Kinerja
Secara bersama-sama variabel bebas Komunikasi, Iklim Organisasi, dan Kepemimpinan memiliki hubungan yang kuat sebesar 0,981 terhadap variabel terikat Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan. Variasi perubahan variabel terikat (Kinerja) dapat dijelaskan oleh variabel bebas (Komunikasi, Iklim Organisasi, dan Kepemimpinan) secara bersama-sama (simultan) sebesar 96,3% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain.
Dari uji F diperoleh P value = 0,000 (sig. < 0,05). Hasil ini membuktikan bahwa hipotesis penelitian yakni: ” Komunikasi, Iklim Organisasi, dan Kepemimpinan” menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan (nyata) terhadap Kinerja.
Secara parsial variabel Komunikasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Palembang . Dari hasil uji parsial (uji t) dimana hasil thitung = 12,953 lebih besar dari ttabel = 1,645 menunjukkan bahwa hipotesis, “Komunikasi berpengaruh terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan”.
Dengan pemberian Komunikasi dimaksudkan pemberian daya perangsang kepada pegawai yang bersangkutan agar bekerja dengan segala daya upayanya. Dengan mempunyai Komunikasi yang kuat dan tinggi maka seorang pegawai akan bekerja dengan baik sehingga mempunyai kinerja yang baik dan tinggi juga.

2. Pengaruh Iklim Organisasi terhadap Kinerja
Secara parsial variabel kedisiplinan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja pegawai. Dari hasil uji parsial (uji t) dimana hasil thitung = 2,580 lebih besar dari ttabel = 1,645 menunjukkan hipotesis “Iklim Organisasi berpengaruh terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Palembang” terbukti kebenarannya dan hipotesis diterima.
Iklim Organisasi seseorang akan turut serta menentukan perilaku dan hasilnya. Semakin tinggi Iklim Organisasi seseorang maka akan semakin tinggi pula hasil yang didapat yang dalam hal ini adalah kinerja. Iklim Organisasi mental dan phisik ini diperlukan demi keberhasilan kinerja sehingga Iklim Organisasi menjadi hal yang sangat penting.

3. Pengaruh Kepemimpinan terhadap Kinerja
Secara parsial variabel Kepemimpinan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Palembang . Dari hasil uji parsial (uji t) dimana hasil thitung = 12,123 lebih besar dari ttabel = 1,645 menunjukkan hipotesis “Kepemimpinan berpengaruh terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pendidkan Nasional Provinsi Palembang ” terbukti kebenarannya dan hipotesis diterima.
Dari hasil penelitian diatas menunjukkan secara nyata bahwa kesiplinan akan mempengaruhi kinerja kerja. Ini terjadi karena dengan kedisiplinan kerja maka pegawai akan bekerja sesuai dengan prosedur dan target pekerjaan. Pegawai yang disiplin akan mempunyai rasa tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaannya sehingga tidak akan meninggalkan pekerjaannya. Dengan Kepemimpinan yang tinggi maka yang bersangkutan akan konsekuen, konsisten, taat asas, bertanggung jawab atas tugas yang diamanahkan kepadanya.

5. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kesimpulan dan analisis pembahasan yang telah dilakukan serta sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Komunikasi, Iklim Organisasi dan Kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Palembang. Keadaan ini ditunjukkan dari nilai Sig. F yang lebih kecil dari nilai =0,05 yang berati bahwa secara bersamaan Komunikasi, Iklim Organisasi dan Kepemimpinan berpengaruh terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Palembang.
2. Komunikasi berpengaruh signifikan terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Palembang. Keadaan ini ditunjukkan dari nilai Sig. t yang lebih kecil dari nilai =0,05 yang berati bahwa Komunikasi berpengaruh terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Palembang
3. Iklim Organisasi berpengaruh signifikan terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Palembang. Keadaan ini ditunjukkan dari nilai Sig. t yang lebih kecil dari nilai =0,05 yang berati bahwa Iklim Organisasi berpengaruh terhadap Kinerja pegawai pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Palembang .
4. Kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Palembang. Keadaan ini ditunjukkan dari nilai Sig. t yang lebih kecil dari nilai =0,05 yang berati bahwa Kepemimpinan berpengaruh terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Palembang

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Sutrisna, 2006,Komunikasi Bisnis, Penerbit Andi, Yogyakarta
Mohammad As’ad, 2001, Psikologi Industri, Penerbit Liberty, Yogyakarta
Pace, R. Wayne dan Don F. Faules, 2000, Komunikasi Organisasi, Terjemahan Deddy Mulyana dkk, Penerbit PT. Remaja Rosda Karya, Bandung
Robbins, Stephen P, 2003, Perilaku Organisasi Edisi 9 Jilid 1 dan 2, Terjemahan Tim Indeks, PT. Indeks, Jakarta
Saad Husnan Heidjrachman, 2002, Manajemen Personalia, Penerbit BPFE, Yogyakarta
Umar, Hussein,2003, , Metode Riset Organisasi, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Wirawan, 2003, Kapita Selekta Teori Kepemimpinan Jilid I dan II, Yayasan Bangun Indonesia dan Uhamka Press, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Search