PENGGUNAAN BAHASA JURNALISTIK TABLOID BOSS

               Yudi Abdullah

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma

Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12, Palembang

Email : yudi_boss06@yahoo.com

 

Abstract : Languages was an implementation to communicate information, as the language used in a work of journalism. The use of the language in journalism, is still not in accordance with the use of Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). This research aimed at knowing the language usage of journalism by Columnist of tabloid BOSS. This research used the qualitative method that produced the descriptive data. The subject in this research was Columnist of tabloid BOSS. Result of this research showed that the use of the journalism language in tabloid BOSS naturally used Indonesian language but was not good enough because were still found mistakes here and there in the writing of news, because there are still lack of human resource with journalism educational background.

 

Keyword: Tabloid BOSS, EYD, Language in journalism, News

 

Abstrak : Bahasa merupakan suatu alat penyampai informasi, begitu juga halnya bahasa yang digunakan dalam sebuah karya jurnalistik. Penggunaan bahasa dalam jurnalistik banyak yang belum sesuai dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan bahasa jurnalistik yang sesuai dengan bahasa baku pada redaksi tabloid BOSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa jurnalistik pada tabloid BOSS memang menggunakan bahasa Indonesia tapi belum cukup baik karena masih banyak ditemukan kesalahan- kesalahan dalam penulisan beritanya, dikarenakan masih kurangnya sumber daya manusia yang berlatar belakang pendidikan jurnalistik.

 

Kata Kunci : Tabloid BOSS, EYD, Bahasa Jurnalistik, Berita

 


1.              PENDAHULUAN

Dalam kehidupan masyarakat moderen dewasa ini cukup banyak saluran atau media komunikasi yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Sesuai dengan kodratnya, manusia tidak mungkin bisa hidup secara normal tanpa bantuan orang lain. Untuk mendapatkan bantuan orang lain tidak mungkin bisa datang begitu saja kepada orang yang membutuhkan pertolongan tersebut tanpa melalui proses komunikasi yang baik yang dapat menghasilkan kerjasama. Dalam konteks komunikasi antar manusia/individu dalam masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui media massa dalam hal ini media cetak. Media massa hadir untuk menjembatani komunikasi antar massa.  Massa adalah masyarakat luas yang heterogen, tetapi saling bergantung satu sama lain.  Ketergantungan antar massa menjadi penyebab lahirnya media yang mampu menyalurkan ide atau gagasan dan kepentingan masing-masing agar diketahui dan dipahami oleh orang lain.  Penyaluran ide atau gagasan dan kepentingan tersebut dinamakan pesan, dimana pesan tersebut akan disampaikan kepada masyarakat.

Media massa cetak dalam hal ini tabloid (media terbitan berkala) merupakan salah satu media komunikasi dan sumber informasi yang dapat menjembatani hal-hal yang akan diungkapkan kepada orang lain/massa dan memberikan gambaran tentang peristiwa atau kejadian yang dianggap bersejarah atau penting dari generasi ke generasi.  Sesuai dengan sifat media cetak, tabloid dapat menjangkau masyarakat hingga ke pelosok desa, sehingga masyarakat yang berada di desa terpencil sekalipun bisa memperoleh pesan / informasi yang dimuat dalam tabloid.

1

Media cetak dalam hal ini tabloid memiliki keunggulan-keunggulan tersendiri, yaitu informasi yang disajikan kepada pembaca selalu aktual, menarik, dapat dibawa kemana-mana, terdokumentasi, mudah diperoleh dan dapat dibaca berulang-ulang dalam kondisi apapun. 

            Pesan/informasi yang dimuat dalam tabloid tentunya harus menggunakan bahasa jurnalistik yang efektif dan memenuhi kaidah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Penggunaan bahasa jurnalistik yang baik dalam penyampaian informasi di tabloid, dilakukan mulai dari wartawan yang bertugas mencari dan membuat berita hingga redaktur yang bertanggung jawab menyeleksi materi informasi, mengedit kalimat dan bahasa, serta menentukan layak tidaknya berita disebarluaskan melalui tabloid.

            Pesan/informasi yang disebarluaskan dalam bentuk berita di tabloid,  harus memenuhi kaidah-kaidah jurnalistik, diantaranya aktual, akurat, obyektif, faktual, jujur, efektif, jelas, terus terang, dan santun.

 Bahasa  yang digunakan wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik yang memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa yang dapat dilihat dalam surat kabar harian, terbitan berkala (tabloid, bulletin, majalah). Oleh sebab itu bahasa yang digunakan haruslah jelas dan mudah dibaca oleh masyarakat dengan ukuran intelek yang minimal, karena pembaca tabloid memiliki latar belakang pengetahuan, pendidikan dan status sosial yang berbeda-beda.

Bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa yaitu susunan kalimat yang benar dan pilihan kata yang cocok serta tidak mengandung makna ganda.

Penggunaan ejaan yang benar pada bahasa jurnalistik tidaklah mudah. Pada prakteknya, akan banyak menemukan kesulitan-kesulitan.  Menurut Badudu (Anwar, 2004: 9), kesalahan-kesalahan yang paling menonjol dalam bahasa surat kabar / media cetak sekarang ini adalah kesalahan ejaan, pemenggalan suku kata, penulisan kata yang serangkai atau dipisah dan  pemakaian titik pada kata singkatan.

Seperti halnya pada Tabloid BOSS yang merupakan salah satu media cetak untuk umum terbitan berkala milik Universitas Bina Darma Palembang, terkadang masih ditemukan kesalahan-kesalahan dalam penulisan walaupun sudah melewati proses editing.  Salah satu contoh kesalahan dalam penulisan berita pada Tabloid BOSS edisi khusus (Maret 2009) hal 13) adalah :

Penggalan Teks Asli Berita dengan Judul :

FIKOM UBD Gelar Workshop Jurnalistik dan Kehumasan

Pada alinea ke tiga :

Kegiatan ini akan berlangsung di kampus UBD Palembang selama tiga hari pada tgl 6 Mei sampai 8 Mei 2009 Peserta terbuka untuk umum dan mahasiswa.

 

Hasil Suntingan

   Judul: FIKOM UBD GELAR WORKSHOP JURNALISTIK DAN KEHUMASAN

Kegiatan ini akan berlangsung di kampus UBD Palembang selama tiga hari pada tanggal 6 hingga 8 Mei 2009 dengan peserta terbuka untuk umum dan mahasiswa.

 

Berdasarkan teks pada berita tabloid BOSS tersebut, terdapat beberapa kesalahan baik dalam penulisannya maupun penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan bahasa yang baik dan benar.  Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Penggunaan Bahasa Jurnalistik Tabloid BOSS Edisi Khusus Maret 2009”.

2.         METODOLOGI PENELITIAN

Komunikasi akan terjadi jika bahasa dan pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator dapat dimengerti oleh komunikan dan mampu mempengaruhi perilaku komunikan, dimana yang berperan sebagai komunikator adalah jajaran redaksi (pemimpin redaksi, redaktur, wartawan) tabloid BOSS. Kata komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang artinya membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih.  Komunikasi juga berasal dari bahasa latin Communico yang berarti membagi (Cangara, 2004: 18) 

Menurut  Rogers dalam Cangara (2004: 19), komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.

Secara etimologi, jurnalistik berasal dari kata journ.  Dalam bahasa Perancis, journ berarti catatan harian atau laporan harian. Secara sederhana jurnalistik diartikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari.

Pengertian jurnalistik menurut Adinegoro (Sumadiria, 2006: 3) adalah semacam kepandaian mengarang yang pokoknya memberikan pekabaran pada masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luasnya. Effendy (Sumadiria, 2006: 3) mengemukakan secara sederhana bahwa jurnalistik dapat didefinisikan sebagai teknik mengelola berita mulai dari mendapatkan bahan sampai kepada menyebarluaskannya kepada khalayak.

Dilihat dari segi bentuk dan pengelolaannya, jurnalistik dibagi ke dalam tiga bagian besar yaitu: jurnalistik media cetak, jurnalistik media elektronik auditif, dan jurnalistik media audiovisual (Sumadiria, 2006: 4).

Berkaitan dengan penelitian ini, jurnalistik media cetak dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor verbal dan visual. Verbal, sangat menekankan pada kemampuan kita memilih dan menyusun kata dalam rangkaian kalimat dan paragraf yang efektif dan komunikatif. Visual, menunjuk pada kemampuan kita dalam menata, menempatkan, mendesain tata letak atau hal-hal yang menyangkut perwajahan.

            Menurut Arifin (1984: 25) tabloid adalah lembaga masyarakat, alat revolusi yang mempunyai karya sebagai salah satu media komunikasi massa yang bersifat umum berupa penerbitan yang teratur waktu terbitnya, dilengkapi dengan alat-alat milik sendiri berupa percetakan, alat foto, mesin-mesin stenlis atau alat-alat teknik lainnya.  Selain itu tabloid memiliki ciri khas, yaitu dapat ditandai dari isinya yang bersifat universal dan aktual terbuka bagi semua orang dan terbitnya teratur dalam jangka waktu tertentu (mingguan, bulanan, triwulanan dst).

            Lain halnya dengan pendapat Widodo (1997: 60), menurutnya tabloid  adalah media yang digunakan wartawan untuk menulis berita. Tabloid adalah sarana penyebaran produk jurnalistik.

            Karakteristik tabloid menurut Pareno (2005: 24) adalah:

  1. Berita merupakan unsur utama yang dominan
  2. Memiliki ruang yang relatif lebih leluasa
  3. Memiliki waktu untuk dibaca ulang relatif lebih lama
  4. Umpan balik relatif lebih lamban.
  5. Kesegaran relatif lamban.
  6. Dalam hal kenyataan relatif kurang kredibel.
  7. Ditentukan oleh jalur distribusi.

       Bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa yang dipergunakan dalam tabloid, majalah, surat kabar, televisi, radio dan media online. Bahasa jurnalistik tidak berbeda dengan bahasa tulisan umumnya, kecuali beberapa kekhususan yang dimilikinya. Struktur atau susunan tata bahasa jurnalistik juga tidak berbeda dengan bahasa tulisan yang baku, serta tidak boleh menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia. Oleh karena itu aturan- aturan dalam bahasa Indonesia harus dipatuhi (Patmoko, 1996: 56)

Pengertian bahasa jurnalistik menurut Anwar (2004: 4) adalah bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu : singkat, padat, sederhana, jelas, lugas, dan menarik. Bahasa jurnalistik didasarkan pada bahasa baku, tidak menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa, memperhatikan ejaan yang benar, dalam kosakata bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat.

Menurut Wojowasito (Anwar, 2004: 4) bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa sebagai tampak dalam harian-harian dan majalah-majalah. Dengan fungsi yang demikian itu bahasa tersebut haruslah jelas dan mudah dibaca oleh mereka dengan ukuran intelek yang minimal. Bahasa jurnalistik menurut Badudu (Anwar, 2004: 4), adalah bahasa surat kabar harus singkat, padat, sederhana, jelas, lugas, tetapi selalu menarik. Sifat-sifat itu harus dipenuhi oleh bahasa surat kabar mengingat bahasa surat kabar dibaca oleh lapisan-lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya.

             Beberapa penyimpangan bahasa jurnalistik yang sering dijumpai dibandingkan dengan kaidah bahasa Indonesia baku antara lain (Suroso, 2008).

Penyimpangan morfologis. Penyimpangan ini sering terjadi dijumpai pada judul berita surat kabar yang memakai kalimat aktif, yaitu pemakaian kata kerja tidak baku dengan penghilangan afiks. Afiks pada kata kerja yang berupa prefiks atau awalan dihilangkan.

Kesalahan sintaksis. Kesalahan berupa pemakaian tata bahasa atau struktur kalimat yang kurang benar sehingga sering mengacaukan pengertian. Hal ini disebabkan logika yang kurang bagus. Contoh: Kerajinan Kasongan Banyak Diekspor Hasilnya Ke Amerika Serikat. Seharusnya Judul tersebut diubah Hasil Kerajinan Desa Kasongan Banyak Diekspor Ke Amerika.

Kesalahan kosakata. Kesalahan ini sering dilakukan dengan alasan kesopanan (eufemisme) atau meminimalkan dampak buruk pemberitaan.

Kesalahan ejaan. Kesalahan ini sering ditemukan dalam berita tabloid. Tabloid BOSS edisi khusus yang terbit pada 21 Maret 2009 yang lalu tidak luput dari berbagai kesalahan ejaan antara lain tanggal ditulis tgl, Dewan Pers ditulis Dewab Pers.

 

Untuk menghindari beberapa kesalahan seperti diuraikan di atas, cara yang dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan penyuntingan baik menyangkut pemakaian kalimat, pilihan kata, dan ejaan. Selain itu, pemakaian bahasa jurnalistik yang baik tercermin dari kesanggupannya menulis paragraf yang baik. Syarat untuk menulis paragraf yang baik tentu memerlukan persyaratan menulis kalimat yang baik pula. Paragraf yang berhasil tidak hanya lengkap pengembangannya tetapi juga menunjukkan kesatuan dalam isinya.

Paragraf menjadi rusak karena penyisipan-penyisipan yang tidak bertemali dan pemasukan kalimat topik kedua atau gagasan pokok lain ke dalamnya.

Beberapa kegiatan editing yang dilakukan oleh seorang redaktur yaitu  memperbaiki kesalahan-kesalahan faktual, menghindari kontradiksi dan mengedit berita untuk diperbaiki, memperbaiki keaslian ejaan (tanda baca, tata bahasa, angka, nama, dan  alamat), menyesuaikan gaya bahasa dengan gaya tabloid  bersangkutan, mengetatkan tulisan (meringkas beberapa kalimat menjadi satu atau dua kalimat yang memiliki kejelasan makna serupa), menghindari dari unsur -unsur penghinaan, arti ganda, dan tulisan yang memuakkan (bad taste), melengkapi tulisan dengan bahan-bahan tipografi (misal, anak judul atau subjudul), menulis judul yang menarik, menulis keterangan gambar atau caption untuk gambar atau foto dan pekerjaan lain yang bersangkutan dengan cerita yang disunting dan menelaah kembali hasil tulisan yang telah dicetak, mungkin masih terdapat kesalahan secara redaksional dan substansial.  

Prinsip dasar bahasa jurnalistik (Sumadiria, 2006: 53) adalah bahasa yang lazim dipakai media cetak berkala yakni tabloid, surat kabar dan majalah, yang disebut bahasa jurnalistik pers.  Selain bahasa jurnalistik pers, kita juga mengenal bahasa jurnalistik radio, bahasa jurnalistik televisi, bahasa jurnalistik film, dan bahasa jurnalistik media on line internet.  Sebagai salah satu ragam bahasa, bahasa jurnalistik tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku.

Ciri utama bahasa jurnalistik (Sumadiria, 2006: 54) diantaranya sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, mengutamakan kalimat aktif, sejauh mungkin menghindari penggunaan kata atau istilah teknis, dan tunduk kepada kaidah serta etika bahasa baku, yaitu :

1.       Sederhana berarti selalu mengutamakan dan memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca.  Singkat berarti langsung pada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga.

2.       Padat, menurut Patmono SK (1996:45), berarti sarat informasi.  Setiap kalimat dan paragraf yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca.

3.       Lugas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufisme atau penghalusan kata atau kalimat yang bisa membingungkan khalayak  pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi. 

4.       Jelas berarti mudah ditangkap maksudnya, tidak baur dan kabur.  Susunan kata atau kalimat sesuai dengan kaidah subjek, objek, predikat dan keterangan

5.       Jernih berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah.

6.       Menarik, artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian pembaca, memicu selera baca.  Nilai dan nuansa edukatif harus tampak pada bahasa jurnalistik.

7.       Demokratis, tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta atau perbedaan dari pihak yang menyapa dan pihak yang disapa.

8.       Mengutamakan kalimat aktif, karena lebih mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca daripada kalimat pasif.  Bahasa jurnalistik harus jelas susunan katanya dan kuat maknanya.  Kalimat aktif lebih memudahkan pengertian dan memperjelas tingkat pemahaman

9.       Menghindari kata atau istilah teknis. Karena ditujukan untuk umum, maka bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, tidak membuat kening berkerut apalagi sampai membuat kepala berdenyut. 

10.   Tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku. Bahasa pers merujuk kepada bahasa baku, yaitu bahasa resmi sesuai dengan ketentuan tata bahasa serta pedoman pembentukan istilah yang menyertainya.

 

 

2.1       Objek Penelitian

            Penulis menetapkan objek penelitian pada Tabloid BOSS yang terbit secara berkala (satu bulan sekali), dimana penulis membahas tentang penggunaan bahasa yang benar dalam tabloid BOSS edisi khusus Maret 2009 yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).  Hal ini dilakukan agar pembaca dapat dengan mudah memahami informasi/pesan yang dimuat dalam tabloid.

 

2.2       Desain Penelitian

Penelitian dengan judul “Penggunaan Bahasa Jurnalistik Tabloid BOSS Edisi Khusus Maret 2009” ini, menggunakan metode kualitatif. Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2004: 4) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif menggunakan prosedur analisa non matematis.  Prosedur ini menghasilkan temuan yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai sarana, seperti wawancara, pengamatan, dokumentasi, dan lain sebagainya.

 

           

2.3       Kerangka Pemikiran

Pada pembahasan kerangka pemikiran, penulis membuat batasan-batasan tentang konsep yang berhubungan dengan permasalah penelitian.  Penulisan kerangka penelitian ini untuk memberikan landasan penelitian sekaligus acuan dalam menjawab permasalahan secara teoritis.

Untuk mendasari dan menjawab permasalahan dalam penelitian ini maka penulis akan mengemukakan pemikiran dan teori yang relevan dengan masalah yang akan dibahas sesuai dengan gambar di bawah ini :

 

 

 

Bahasa  Jurnalistik

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

BERITA

Redaksi Tabloid

BOSS

 

 

 

 

 

 

 


            Bagan 1.  Kerangka Pemikiran

 

Berita yang dibuat oleh wartawan dengan menggunakan bahasa jurnalistik kemudian berita tersebut akan diolah atau diperiksa di dalam redaksi tabloid,  bahasa-bahasa yang digunakan oleh wartawan apakah sudah memenuhi syarat penggunaan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan bahasa jurnalistik dan bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD.

 

2.4       Metodologi Penelitian           

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisis deskriptif (Moleong, 2004: 5) yaitu suatu analisa yang memberikan gambaran serta uraian dalam bentuk kalimat berdasarkan kenyataan dan fakta yang ditemui di lapangan, yaitu mengenai penggunaan tata bahasa dan bahasa jurnalistik yang disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Menurut Artherton dan Klemmack dalam Ruslan (2006: 12), biasanya penelitian deskriptif dapat menggunakan metode survei yang meliputi penelitian yang menggambarkan karakteristik suatu masyarakat, kelompok, atau individu tertentu sebagai objek penelitian, untuk mengetahui dan menelaah karakteristik, distribusi, umur dan sebagainya yang menjadi pedoman penelitian tertentu.

 

2.5       Teknik Pengumpulan Data

            Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

A.  Studi Lapangan (Field Research)

a)      Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.  Percakapan itu mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2005:186).  Dalam penelitian ini, peneliti mewawancarai secara langsung mengenai penggunaan bahasa jurnalistik, faktor yang mempengaruhi kesalahan dalam penulisan berita dan usaha dalam meningkatkan kualitas penggunaan bahasa jurnalistik. Wawancara dilakukan dengan cara berstruktur dengan tujuan untuk mendukung kelengkapan data. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dengan pimpinan redaksi, redaktur dan wartawan surat kabar Jurnal Sumatra.

b)      Observasi

Karl Weick mendefinisikan observasi sebagai pemilihan, pengubahan, pencatatan, dan pengkodean serangkaian perilaku dan suasana yang berkenan dengan organisme in situ, sesuai dengan tujuan-tujuan empiris.  Dari definisi itu terdapat tujuh karakteristik observasi yaitu pemilihan (selection), pengubahan (provocation), pencatatan (recording), pengkodean (encoding), rangkaian perilaku dan suasana in situ, dan untuk tujuan ampiris (Rakhmat, 2002: 83)

Observasi dalam penelitian ini yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap subjek penelitian, untuk mengetahui bagaimana penggunaan bahasa jurnalistik yang dipakai oleh surat kabar Jurnal Sumatra.

c)       Dokumentasi

Dokumentasi (Sugiyono, 2008: 82) merupakan catatan peristiwa yang sudah laku. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.

 

B.  Studi Pustaka (Library Research)

Teknik pengumpulan data guna mendapatkan teori-teori tentang masalah yang berkaitan dengan penelitian, dengan cara banyak membaca referensi buku-buku, tulisan ilmiah, jurnal yang berhubungan dengan masalah yang dibahas sebagai landasan teori.

 

2.6       Teknik Analisis Data

            Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisa data kualitatif.  Menurut Bogdan dan Biklen (1982) dalam Moleong (2004: 248), analisa data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

            Data yang terkumpul melalui wawancara, observasi dan dokumentasi digambarkan kembali dalam penulisan secara kualitatif, yaitu menggambarkan kembali sesuai dengan data-data di lapangan dan menjelaskan serta menganalisa permasalahan yang diteliti dalam bentuk kalimat dan diuraikan secara sistematis dengan berpedoman pada landasan teori yang berhubungan dengan pembahasan untuk mencari pemecahan masalah.

            Miles and Huberman (Sugiyono, 2008) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display dan conclusion drawing/ verification.

 

2.7        Sumber Data

Data adalah bentuk jamak dari data umum.  Data merupakan keterangan-keterangan tentang suatu hal, dapat merupakan sesuatu yang diketahui atau dianggap atau suatu fakta yang diigambarkan lewat angka, simbol, kode dan lain-lain.  Data perlu dikelompokkan terlebih dahulu sebelum dipakai dalam proses analisis. Menurut Lofland (1984: 47), sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan (Moleong, 2004: 157), selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.

Berdasarkan sumbernya, pengambilan data dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :

1.       Data Primer

Merupakan data-data yang diperoleh langsung dari sumber aslinya.  Data primer dalam penelitian ini adalah data yang didapatkan dari hasil wawancara dengan empat orang informan pimpinan redaksi, wartawan, redaktur mengenai penggunaan bahasa jurnalistik dalam tabloid BOSS.

2.       Data Sekunder

Data sekunder merupakan data-data yang diperoleh secara tidak langsung, umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah disusun dalam arsip.  Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari kantor atau instansi yaitu redaksi tabloid BOSS berupa gambaran umum tabloid BOSS, seperti struktur organisasi, sejarah singkat dan data-data lain yang mendukung data primer.

 

2.8       Lokasi dan Jadwal Penelitian

Penulis melaksanakan penelitian ini pada tabloid BOSS yang beralamat di Jl. A.Yani No.12 Kampus Utama Lt.4 Plaju, Palembang.  Penelitian ini  dilaksanakan pada bulan April 2009.

 

3.         HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1       Sejarah Singkat Tabloid BOSS

Tabloid BOSS adalah media massa cetak untuk umum milik Universitas Bina Darma (UBD) Palembang yang penerbitannya dikelola oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UBD. Tabloid BOSS dengan selogan  yang diambil dari singkatan kata Bacaan Orang Sukses (BOSS) terbit secara berkala satu bulan sekali sejak tahun 2006.

Tabloid kampus ini merupakan salah satu media massa cetak umum yang dikonsep sebagai sarana menyebarluaskan informasi tentang pembangunan daerah, informasi yang penting dan menarik bagi masyarkat Sumatra Selatan, sebagai media komunikasi dan informasi civitas akademika UBD, sebagai media pendidikan, wadah kreatifitas mahasiswa, tempat latihan mahasiswa FIKOM UBD jurusan jurnalistik, media hiburan dan control social.

Media massa cetak ini bermarkas di lantai 4 Kampus Utama Universitas Bina Darma, Jalan AYani No.12 Plaju, Palembang, Sumatera Selatan yang diluncurkan perdana pada tahun 2006 oleh Rektor Universitas Bina Darma Prof.Ir.H.Bochari Rachman MSc. Surat kabar ini dirintis oleh Kabiro Administrasi dan Umum UBD A.Juanda SH, CN bersama dosen FIKOM UBD Yudi Abdullah S.Sos MM dan mendapat dukungan penuh dari Rektor dan Pengurus Yayasan Bina Darma, Suheri Yatmono SE,Ak,MM.

Tabloid BOSS sesuai dengan slogannya bacaan orang sukses, berupaya menjadi media massa cetak yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa dan masyarakat Sumsel secara umum, sebagai salah satu lembaga pers yang mampu membela kepentingan umum sekaigus berfungsi sebagai media pendidikan, hiburan, sosial kontrol dan sebagai media komunikasi dan informasi masyarakat.

 

 

3.2       Gambaran Data

Tabloid BOSS merupakan objek dari penelitian, yang membahas mengenai penggunaan bahasa jurnalistik yang baik dan benar sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).            Bahasa pers menjadi suatu alat penyampai informasi kepada khalayak, oleh sebab itu perlu diperhatikan penggunaan bahasa yang baik dan benar agar informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan kesalahan dalam pengertian.

“Penggunaan Bahasa Jurnalistik  Tabloid BOSS” merupakan inti penulisan dari penelitian ini, menggunakan empat orang informan yaitu pimpinan redaksi, redaktur dan 2 orang wartawan tabloid BOSS. Dengan mewawancarai empat orang informan ini, penulis dapat mengetahui bagaimana penggunaan bahasa jurnalistik pada tabloid BOSS.

 

3.3       Pembahasan

3.3.1    Pemimpin Redaksi

            Berdasarkan wawancara dengan Pemimpin Redaksi (Pemred) penggunaan bahasa untuk membuat sebuah berita dalam tabloid BOSS menggunakan bahasa Indonesia yang berpedoman pada Ejaan Yang Disempurnakan. Hal ini tertuang juga dalam pedoman pemakaian bahasa pers (Anwar, 2004: 148) yaitu Wartawan hendaknya secara konsekuen melaksanakan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Hal ini juga harus diperhatikan para korektor oleh karena kesalahan paling menonjol dalam penerbitan pers sekarang ini adalah kesalahan ejaan.

 

3.3.2        Redaktur

Dari hasil wawancara yang telah dilaksanakan, maka diketahui bahwa Redaktur bertanggungjawab sepenuhnya terhadap koreksi penulisan berita. Hal ini sesuai dengan tugas Redaktur (Djuroto, 2002: 21) yaitu menerima bahan berita, baik dari kantor berita, wartawan, koresponden atau bahkan press release dari lembaga, organisasi, instansi pemerintah atau perusahaan swasta. Bahan berita itu kemudian diseleksi untuk dipilih mana yang layak untuk dimuat dengan segera dan mana yang bisa ditunda pemuatannya. Dengan tugas ini redaktur memang harus mempunyai kelebihan dari penulis berita. Kelebihan bisa berupa pengetahuan, pengalaman, penguasaan bahasa, maupun pengetahuan umum yang lebih luas.

 

 

3.3.3    Wartawan

Dari hasil wawancara dengan nara sumber, penulisan berita pada  tabloid BOSS ini berupa berita berkedalaman, hal ini dikarenakan tabloid BOSS ini merupakan media cetak yang terbit satu bulan sekali. Berita yang ditulis oleh wartawan merupakan hasil investigasi dan temuan di lapangan. Menurut Simbolon (Ermanto, 2005: 74) kiat penting wartawan dalam mencari berita adalah terjun langsung ke lapangan, menguasai jalan ceritanya, mencek, mericek, kalau perlu tiga kali cek, lalu menakar nilai beritanya, dan melakukan cek dan ricek lagi.

Berdasarkan hasil wawancara secara keseluruhan, tabloid BOSS dan redaksionalnya dalam penulisan berita telah menggunakan bahasa Indonesia, namun belum sesuai dengan yang diharapkan berdasarkan aturan- aturan yang terdapat dalam Ejaan Yang Disempurnakan. Penerapan aturan- aturan ejaan yang tercantum di dalam buku ejaan belum diterapkan secara baik dan konsekuen. Kesalahan yang paling menonjol dan sering ditemukan adalah kesalahan dalam ejaan.

Penggunaan ejaan yang sesuai dengan EYD yang digunakan media massa (Sarwoko, 2007:17- 35) adalah sebagai berikut:

  1. Abjad

Abjad yang digunakan untuk menulis dalam media massa mengikuti abjad internasional sebagaimana yang tercantum dalam EYD, yaitu :A- Z. Selain itu dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Masing- masing melambangkan satu bunyi konsonan. Kemudian juga ada vocal rangkap atau diftong, yaitu ai, au, dan oi. Diftong ini melambangkan satu bunyi vocal.

  1. Pemenggalan kata

Aturan pemenggalan dalam bahasa Indonesia terdiri dari beberapa butir, yaitu:

a)      Apabila ada dua vocal berurutan atau dua konsonan berurutan, pemenggalan dilakukan di antaranya. Misalnya: ca-plok, ma- in.

b)      Jika di tengah kata ada huruf konsonan di antara dua vocal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan, misalnya: sa- tu, tu- gas.

c)      Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara konsonan pertama dan konsonan kedua. Misalnya: in- fra, sas- tra.

d)      Kata berimbuhan dipenggal dengan mempertahankan keutuhan kata dasarnya. Misalnya: meng- ajar, bel- ajar.

e)      Tidak memenggal dengan menyisakan satu huruf.

Misalnya: Tentu saja makanan itu akan lebih enak jika digula- i. Sayangnya, makanan lezat ini tak disukai semu-a orang.

            Huruf besar atau huruf kapital

Huruf capital, menurut EYD, digunakan untuk :

a)      Huruf pertama kata pada awal kalimat dan petikan langsung.

b)      Huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, jabatan, pangkat, dan keagamaan yang diikuti nama orang atau instansi, lembaga, organisasi, atau nama tempat.

c)      Huruf pertama unsur nama bangsa, suku bangsa, bahasa, dan geografi.

d)      Huruf pertama nama tahun, buku, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

e)      Huruf pertama semua unsur nama Negara, lembaga pemerintahan, dan ketatanegaraan, nama dokumentasi resmi, nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak di posisi awal.

f)       Huruf pertama setiap bentuk ulang sempurna, pengulangan sama persis antara kata yang diulang, dalam judul, nama buku atau dokumentasi.

g)      Huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

  1. Huruf miring

Perkembangan pemakaian huruf miring di pers lebih banyak dibandingkan dengan yang tertulis dalam EYD. Dalam EYD hanya disebutkan tiga, yaitu:

a)      Untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

b)      Untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata- kata, atau kelompok kata.

c)      Untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing.

  1. Huruf Tebal

Huruf tebal adalah perangkat yang tidak diatur dalam EYD, namun pemakaiannya dalam media massa cukup banyak,

  1. Tanda Baca

a)      Tanda Titik (.)

Digunakan pada :

§         Akhir kalimat

§         Pemisahan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan waktu.

§         Memisahkan bilangan ribuan dan kelipatannya.

§         Akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.

b)      Tanda Koma (,)

Tanda koma merupakan tanda baca yang tingkat kesalahannya relatif besar ketimbang tanda baca lain. Oleh karena itu pemakaiannya perlu dicermati dengan baik. Tanda baca ini dipergunakan untuk:

a)      Memisahkan induk kalimat dari anak kalimat.

b)      Dalam kalimat majemuk setara yang menggunakan konjungsi tetapi, melainkan.

c)      Di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada posisi awal.

d)      Memisahkan petikan langsung dari bagian lain.

e)      Di belakang kata- kata seruan.

f)       Menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya.

g)      Di antara tempat penerbitan, nama penerbit, dan tahun terbitan.

h)      Di muka angka persepuluhan.

i)        Untuk mengapit keterangan tambahan, aposisi, sisipan, dan sebagainya.

j)        Untuk menghindari salah baca.

Pemakaian koma memang tidak dapat dianggap sepele. Bukan saja menempatkan koma dapat mengubah arti, melainkan juga menyangkut cita rasa, yaitu nada dan irama kalimat. Namun kita merasakan ketentuan yang menyebutkan koma harus ditempatkan di belakang kata penghubung antar kalimat ataupun kata seru menyebabkan kalimat tidak lancar. Iramanya merasa tersendat. Apabila jika pemakaian kata penghubung antarkalimat berurutan. Nada kalimat terasa monoton, tersendat, kurang enak untuk dinikmati.

 

c)      Tanda Titik Koma (;)

Tanda baca ini digunakan untuk:

§         Memisahkan bagian- bagian kalimat sejenis.

§         Sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara dalam kalimat majemuk.

Mengingat media massa memiliki pola gaya atau pemakaian bahasa yang mandiri maka ada beberapa tambahan tata tulisan dalam media massa (Sarwoko, 2007: 36- 45) :

  1. Penulisan Baris Nama atau By Line

Nama penulis yang dicantumkan di awal tulisan ditulis tanpa titik dua (:) karena bukan merupakan rincian, misalnya:

            Oleh Setiawan Djodi

            Oleh Bondan Winarno

            Oleh Ashadi Siregar

  1. Penulisan Angka

a)      Umumnya angka satu sampai sembilan ditulis dengan huruf, kecuali diikuti satuan hitung, satuan ukur, atau mata uang.

Misalnya : Rp 50, 40 kg, 35 ha.

b)      Dalam perincian, angka satu sampai sembilan ditulis dengan angka.

Misalnya : Dia membeli 8 ekor ayam, 3 sapi, dan 7 bebek.

  1. Penulisan Gelar Akademis

Gelar akademis yang lazimnya ditulis mengikuti nama orang cenderung tidak dicantumkan tetapi ditulis secara lengkap.

Kesalahan merupakan hal yang biasa yang dialami oleh semua manusia yang masih hidup. Kesalahan redaksional berita merupakan suatu kesalahan yang biasa ditemui pada media massa umumnya, media cetak khususnya. Kesalahan- kesalahan tersebut dapat dimaklumi karena singkatnya jarak waktu antara peliputan berita sampai pada proses pengolahan, pengeditan dan naik cetak, hal tersebut terjadi karena mengejar deadline. Hal seperti ini bisa dipahami apabila terjadi pada surat kabar harian, yang batas waktu peliputan hingga naik cetak sangat singkat. Akan tetapi sangat disayangkan apabila hal ini terjadi pada surat kabar mingguan.

Dari hasil penelitian di lapangan dan berdasarkan wawancara penulis dengan wartawan dan jajaran redaksi tabloid BOSS, bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesalahan dalam penulisan berita dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar yaitu :

  1. Wartawan
    1. Tidak menguasai pokok permasalahan yang akan diberitakan
    2. Dikejar deadline
    3. Kurangnya referensi bacaan

 

  1. Redaksi

a.      Human error

b.       Teknologi

c.       Kurang mengindahkan unsur pemberitaan dalam 5W + 1H

d.       Penggunaan gaya bahasa EYD

 

Untuk mengantisipasi kesalahan penulisan dalam berita, maka ada usaha- usaha yang dilakukan oleh seluruh redaksi tabloid BOSS untuk meningkatkan kualitas dalam pemberitaan, agar berita yang ditulis sesuai dengan yang diharapkan yaitu penggunaan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan.

Berdasarkan data- data yang diperoleh langsung oleh penulis dalam penelitian, melalui wawancara dengan wartawan dan jajaran redaksi tentang usaha- usaha yang dilakukan dalam peningkatan kualitas penggunaan bahasa jurnalistik yaitu :

1.       Wartawan

a.       Membuat konsep dan menguasai materi berita

b.       Disiplin waktu

c.       Memperbanyak referensi buku- buku yang menunjang

2.       Redaksi

a.       Melakukan pelatihan jurrnalistik terutama buat redaktur

b.       Menambah literatur dan referensi- referensi

c.       Manajemen waktu dan disiplin.

 

4.         SIMPULAN

Dari hasil pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya yaitu mengenai penggunaan bahasa jurnalistik pada tabloid BOSS, maka dapat diambil kesimpulan dari pembahasan yaitu sebagai berikut :

Penggunaan bahasa jurnalistik pada tabloid BOSS belum cukup baik karena masih banyak ditemui kesalahan- kesalahan dalam penulisan beritanya. Beberapa penggunaan kata- kata dalam kalimat masih menggunakan kata yang tidak baku yang tidak sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Kesalahan terbanyak yang ditemui adalah kesalahan dalam ejaan. Banyak faktor yang mempengaruhi kesalahan- kesalahan dalam penulisan berita yaitu kurangnya penguasaan terhadap masalah yang akan diangkat sebagai bahan berita, dikejar deadline, kurangnya referensi bacaan dan kesalahan paling banyak adalah human error.

Dalam penyajian berita yang baik dan benar, redaksi tabloid BOSS perlu memperhatikan upaya peningkatan kualitas penggunaan bahasa jurnalistik dengan melakukan berbagai macam usaha antara lain melakukan pelatihan terhadap redaktur dan wartawannya, meningkatkan manajemen waktu dan disiplin dan memperbanyak buku- buku referensi yang dapat menunjang kerja dalam bidang jurnalistik.

 

DAFTAR RUJUKAN

BUKU :

Anwar, Rosihan. 2004.  Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi.Yogyakarta: Media Abadi.

 

Cangara, Hafied. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

Djuroto, Totok. 2002. Manajemen Penerbitan Pers.Bandung: Remaja Rosdakarya. 

 

Moleong, Lexy. 2004.  Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Pareno, A. Sam. 2005. Media Massa antara Realitas dan Mimpi. Surabaya: Papyrus.

 

Rakhmat, Jalaluddin. 2002. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.

 

Ruslan, Rosady.  2006.  Metode Penelitian Publik Relations dan Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 

 

Sumadiria, Haris.  2006.  Jurnalistik Indonesia. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.

 

Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

 

Widodo. 1997. Menjadi Wartawan Handal dan Profesional; Panduan Praktis dan Teoritis. Yogyakarta: Cinta Pena.

 

SUMBER LAIN :

 

Suroso. 2008. Bahasa Jurnalistik Kebakuan atau kekomunikatifan. Diakses pada tanggal 23 April 2009. www. Ialf. Edu/ kipbipa/ papes/ suroso.doc.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>