PERAN UNIFORM PT. BUKIT ASAM SEBAGAI IDENTITAS PERUSAHAAN DALAM MEMBANGUN CITRA POSITIF PERUSAHAAN

Yudi Abdullah, Sella Septinawati  

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma Palembang, Alumni FIKOM UBD

Email : yudi_boss06@yahoo.com

 

 

Abstract:. Work uniform there anything to do with non-verbal communication is often done, that the work uniform as a symbol of a very decisive in the process of social interaction, it can be seen how the role of PTBA and uniform in building corporate identity through symbols that are used or owned.. The method used in this study is a descriptive qualitative method. Data collected through observation, interviews, and library research. The interview was conducted at PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, the research object is uniform (uniform), PTBA, while her research subjects is PTBA employees totaling 98 employees consisting of eight parts. From the results of this study found that uniform is very important for a company that is one of the identity of a company that can provide a positive image of the company.


Keywords:  Uniform, PTBA, Corporate,  Identity.

 

Abstrak: Pakaian seragam kerja ada hal kaitannya dengan komuniksi non verbal yang sering dilakukan, bahwa pakaian seragam kerja sebagai simbol/lambang yang sangat menentukan dalam proses interaksi sosial, hal ini bisa dilihat bagaimana peran uniform PTBA dalam membangun identitas perusahaan melalui lambang yang dipakai atau dimiliki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan riset kepustakaan. Wawancara ini dilakukan di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, dengan objek penelitian adalah uniform (seragam kerja) PTBA, sedangkan subjek penelitiannya adalah karyawan PTBA yang berjumlah 98 karyawan yang terdiri dari 8 bagian. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa seragam kerja sangat berperan bagi perusahaan yang merupakan salah satu identitas perusahaan yang bisa memberikan citra positif perusahaan.

 

Kata kunci:  Seragam, PTBA, Identitas,  Perusahaan.

 


1.              PENDAHULUAN

 

Suatu perusahaan tentunya dalam menjalankan roda organisasi dan bisnisnya akan berusaha mendapatkan penilaian terbaik di mata pemerintah maupun masyarakat. Untuk mendukung kegiatan tersebut perusahaan perlu membangun komunikasi dengan pihak internal maupun eksternal. Komunikasi dapat dilakukan  salah satunya dengan cara komunikasi nonverbal. Salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang sering dilakukan perusahaan swasta maupun perusahaan milik pemerintah adalah menggunakan pakaian seragam (uniform). Penggunaan pakain seragam perusahaan diperlukan terutama berkaitan erat dengan tampilan luar karyawan sebuah perusahaan. Jika karyawan yang menggunakan pakaian seragam ketika berada di tengah-tengah  masyarakat berperilaku baik (good manner), maka secara tak langsung sebuah perusahaan akan mendapatkan umpan balik yang baik pula, diantaranya citra positif dari masyarakat. Tampilan karyawan perusahaan dalam bentuk seragam kerja diperlukan  karena secara tidak langsung seragam kerja merupakan representasi perusahaan.

Dengan demikian seragam kerja bisa  mempengaruhi pembentukan citra positif dan identitas perusahaan. Sangat jelas bahwa, seragam kerja sangat berpengaruh karena selain sebagai representasi perusahaan juga bisa menjadi simbol yang sangat penting. Melalui pakaian seragam orang bisa mengenal identitas seseorang tanpa terjadinya komunikasi verbal.  Selain itu juga seragam kerja bisa menjadi sebuah simbol perusahaan karena segenap perwujudan dari perusahaan biasanya ada di seragam kerja seperti adanya nama dan logo perusahaan yang bisa memberikan pandangan tertentu seseorang kepada pemakai seragam sekaligus perusahaan tempatnya bekerja.

Sama halnya di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT.Bukit Asam (PTBA) Persero Tbk, seragam kerja menjadi salah satu fokus perhatian yang sangat penting, karena manajemen perusahaan milik negara itu menilai seragam kerja merupakan identitas untuk mengenal seseorang sebagai karyawan perusahaan dan sebagai alat membedakan karyawan PTBA dengan masyarakat umum  atau karyawan perusahaan lainnya.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik  melakukan penelitian seragam kerja (uniform) dengan judul “Peran Uniform PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, Sebagai Identitas Perusahaan Dalam Membangun Citra Positif Perusahaan”

 

1.2        Rumusan Masalah

 Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis merumuskan masalah : bagaimana peran uniform (seragam kerja) PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, sebagai identitas perusahaan dalam membangun citra positif perusahaan ?

 

1.3        Tujuan Penelitian

 Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui peran uniform (seragam kerja)  PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, sebagai  identitas perusahaan dalam membangun citra positif perusahaan.

 

1.4     Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah karyawan PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit Dermaga Kertapati Palembang dimana pakaian seragam kerja (uniform) menjadi salah satu alat komunikasi sekaligus sebagai simbol dan identitas perusahaan dalam membangun citra positif perusahaan.

 

 

2.       METODOLOGI  PENELITIAN

2.1     Definisi Komunikasi

 

            Para ahli mendefinisikan komunikasi menurut sudut pandang mereka masing-masing.  Sejarah komunikasi dikembangkan dari ilmuwan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu.  Rogers dan Lawrence yang dikutip oleh Wiryanto (2005: 6) menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain, yang pada gilirannya terjadi saling pengertian yang mendalam.

           Pengertian lain dari komunikasi diungkapkan oleh Raymond S.Ross dalam Wiryanto (2005: 6) yang mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses menyotrir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa, sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respon dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh sang komunikator.

       

           Dari berbagai definisi tentang ilmu komunikasi, terlihat bahwa para ahli memberikan definisinya sesuai dengan sudut pandangnya dalam melihat komunikasi. Masing-masing memberikan penekanan arti, ruang lingkup dan konteks yang berbeda. Hal ini menunjukan bahwa, ilmu komunikasi sebagai bagian dari ilmu sosial adalah suatu ilmu yang bersifat multi disipliner.

 

2.2     Unsur-unsur Komunikasi

              Dari pengertian komunikasi yang telah dikemukakan, diperoleh penjelasan bahwa komunikasi antar manusia hanya bisa terjadi, jika ada seseorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan tertentu, artinya komunikasi hanya bisa terjadi kalau didukung oleh adanya sumber, pesan, media, penerima dan efek. Unsur-unsur ini juga disebut komponen atau elemen komunikasi.

             Terdapat beberapa macam pandangan tentang banyaknya unsur atau elemen yang mendukung terjadinya komunikasi, cukup didukung oleh tiga unsur, sementara ada juga yang menambahkan umpan balik dan lingkungan selain kelima unsur yang telah disebutkan.

            Perkembangan terakhir adalah munculnya pandangan dari Vito, Sereno dan Vora dalam Cangara (2007: 23), menilai faktor lingkungan merupakan unsur yang tidak kalah pentingnya dalam mendukung terjadinya proses komunikasi.

 

2.3    Proses Komunikasi

             Proses komunikasi adalah setiap langkah mulai dari saat menciptakan informasi sampai dipahami oleh komunikan. Komunikasi adalah sebuah proses, sebuah kegiatan yang berlangsung terus menerus.

             Menurut Effendy (2009: 11), proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap yaitu primer dan sekunder.

a.         Proses komunikasi secara primer

Proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, gesture, isyarat, gambar, warna dan sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator ke komunikan.

b.         Proses komunikasi secara sekunder

Proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Proses komunikasi sekunder ini merupakan sambungan dari komunikasi primer untuk menembus dimensi ruang dan waktu, maka dalam menata lambang-lambang untuk memformulasikan isi pesan komunikasi, komunikator harus memperhitungkan ciri-ciri atau sifat-sifat media yang akan digunakan.

 

 

2.4       Komunikasi Internal dan Eksternal

             a. Komunikasi Internal

  Komunikasi internal menurut          Brennan (Effendi, 2009: 122) adalah:

“Interchange of ideas among the administrators and its particular structure (organization) and interchange of ideas horizontally and vertically within the firm with gets work done (operation and management).” (Pertukaran gagasan diantara para administrator dan karyawan dalam suatu perusahaan atau jawatan yang menyebabkan terwujudnya perusahaan atau jawatan tersebut lengkap dengan strukturnya yang khas (organisasi) dan pertukaran gagasan secara horizontal dan vertikal di dalam perusahaan atau jawatan yang menyebabkan pekerjaan berlangsung (operasi dan manajemen).

 

b. Komunikasi Eksternal

    Komunikasi eksternal menurut Brennan (Effendi, 2009: 122) adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak diluar organisasi. Pada instansi-instansi pemerintah seperti departemen, direktorat, dan pada perusahaan-perusahaan besar, disebabkan oleh luasnya ruang lingkup, komunikasi lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat (public relations officer) dari pada oleh pimpinan sendiri. Yang dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah terbatas pada hal-hal yang dianggap sangat penting, yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain, umpamanya perundingan (negotiation) yang kmenyangkut kebijakan organisasi. Yang lain dilakukan oleh kepala humas dalam kegiatan komunikasi eksternal merupakan tangan kanan pimpinan.

 

 

2.5              Komunikasi Verbal dan Non Verbal

 

Dalam kehidupan sehari-hari komunikasi merupakan suatu tindakan yang memungkinkan kita mampu menerima dan memberikan informasi atau pesan sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Secara teoritis komunikasi dibagi menjadi verbal dan non verbal (Fajar, 2009: 53-54).

 

a. Komunikasi Verbal

Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Di setiap kegiatan yang kita sadari termasuk ke dalam kategori pesan verbal disengaja, yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan, sedangkan bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang mempresentasikan berbagai aspek realitas kita yang mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang diwakili kata-kata itu.   Komunikasi Verbal

a.    Perilaku verbal adalah saluran tunggal, contoh: kata-kata datang dari satu sumber, misalnya yang diucapkan orang yang kita baca dalam media cetak.

b.    Pesan verbal terpisah-pisah, artinya orang dapat mengawali dan mengakhiri pesan verbal kapanpun ia menghendakinya.

c.    Komunikasi verbal, kata-kata umumnya digunkan untuk menyampaikan fakta, pengetahuan dan keadaan.

 

b.    Komunikasi Non Verbal

Pesan non verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut. Samovar dan Porter, komunikasi non verbal mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan dan mengirim banyak pesan non verbal tanpa menyadari bahwa pesan-pesan tersebut bermakna bagi orang lain.

Komunikasi Non Verbal

a.    Perilaku non verbal sifatnya dapat dilihat, didengar, dirasakan, dibaui, atau dicicipi.

b.    Pesan non verbal tetap mengalir sepanjang ada orang yang didekatnya.

c.    Komunikasi non verbal mengandung lebih banyak muatan emosional dimana pesan non verbal lebih potensial untuk menyatakan perasaan seseorang, yang terdalam sekalipun seperti rasa sayang atau rasa sedih.

 

 

2.6  Pengertian Hubungan Masyarakat (Public Relations)

Humas yang merupakan terjemahan bebas dari istilah public relations atau PR, kedua istilah ini akan dipakai secara bergantian. Ini terdiri dari semua bentuk komunikasi yang terselenggara antara organisasi yang bersangkutan dengan siapa saja yang berkepentingan dengannya. Pada dasarnya Humas merupakan bidang atau fungsi tertentu yang diperlukan oleh setiap organisasi yang non komersial.

Menurut definisi kamus terbitan Institute of Public Relations (Anggoro, 2005: 1-2) humas adalah:

“Keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik dan saling pengertian antara suatu organisasi atau individu segenap khalayaknya”.

 

 

 

2.7     Identitas Perusahaan

            Identitas perusahaan (corporate identity) adalah suatu cara atau suatu hal yang memungkinkan suatu perusahaan dikenal dan dibedakan dari perusahaan-perusahaan lainnya. Identitas perusahaan tersebut harus diciptakan melalui suatu rancangan desain khusus yang meliputi segala hal khas/unik berkenaan dengan perusahaan yang bersangkutan secara fisik. Desain itu memiliki wujud sedemikian rupa sehingga dapat mengingatkan khalayak akan perusahaan. Identitas perusahaan memiliki elemen-elemen utama yang meliputi warna/bentuk bangunan atau pabrik, tipe logo, atribut, sampai dengan seragam dan pakaian resmi perusahaan (Anggoro, 2005: 280).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 417) identitas perusahaan adalah ciri-ciri atau keadaan khusus suatu perusahaan atau jati diri yang bersumber dari penilaian dan observasi. Identitas perusahaan ditandai dengan kemampuan memandang sebuah perusahaan menurut diri sendiri berbeda dengan orang lain, mempunyai persepsi tentang peran serta citra perusahaan. Identitas perusahaan adalah simbolisasi ciri khas yang mengandung diferensiasi dan mewakili citra organisasi.

Dalam interaksi sosial akan muncul di dalamnya identitas yang mencirikan golongan sosial dari individu yang bersangkutan. Salah satunya uniform (seragam kerja). Identitas yang muncul tersebut akan berupa atribut-atribut yang bisa mengacu pada satu perusahaan. Atribut disini adalah serangkaian ciri-ciri, tanda, gaya bicara, pakaian yang membedakannya dengan atribut dari golongan lainnya  (Rudito, 2009: 35).

Identitas atau jati diri perusahaan menurut Horowitz dalam  (Rudito, 2009: 35) pada umumnya didapat dari  proses pembentukan identitas diri tidak lebih dari suatu proses perluasan atau pengecilan terhadap dasar penilaian diri sendiri/perusahaan.

            

2.8    Uniform (seragam kerja)

Pengertian uniform dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 1247) adalah seragam atau pakaian tertentu yang dipakai khas oleh semua golongan di suatu instansi perusahaan dan lainnya.

Pakaian seragam kerja (uniform) sebagai sebuah identitas perusahaan yang dimiliki masing-masing karyawan. Seragam kerja menentukan jati diri perusahaan. Pakaian kerja juga mencerminkan karakter seseorang, di mana tempat ia bekerja, bagaimana ia beraktivitas, maka dari itu sergam kerja merupakan salah satu komponen penting dalam meningkatkan citra maupun karakter bagi sebuah perusahaan dan bisa juga dijadikan sebagai sarana promosi untuk memperkenalkan perusahaan ataupun promosi produk.

Pakaian itu sendiri memiliki arti sesuatu yang dipakai. Pengertian pakaian seragam dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 813) adalah pakaian yang warna dan potongannya sama dan dimiliki oleh lebih dari satu orang yang seprofesi atau seperkumpulan (seorganisasi) dan sebagainya.

Tanpa kita sadari pakaian adalah alat komunikasi non-verbal yang dapat dilihat dari cara kita berpakaian. Pakaian yang kita kenakan mencerminkan siapa diri kita serta pakaian juga bukanlah sesuatu yang biasa, karena pakaian merupakan kebutuhan sandang dimana perannya sangat dibutuhkan oleh manusia dan juga merupakan alat komunikasi yang penting.

 

2.9      Citra (image)

2.9.1   Definisi Citra

Citra adalah tujuan utama, dan sekaligus merupakan reputasi dan prestasi yang hendak dicapai bagi dunia hubungan masyarakat (kehumasan). Citra itu sendiri abstrak (intangible) dan tidak dapat diukur secara matematis, tetapi wujudnya bisa dirasakan hasil baik atau buruk. Seperti penerimaan dan tanggapan baik positif maupun negatif yang khususnya datang dari publik (khalayak sasaran) dan masyarakat luas pada umumnya.

 

2.9.2     Jenis-jenis Citra

Beberapa jenis citra (image) yang di dunia aktivitas hubungan masyarakat dan dapat dibedakan satu dengan yang lain sebagai berikut (Ruslan, 2003: 70-72):

a.         Citra Cermin (Mirror Image)

Pengertian di sini bahwa citra cermin yang diyakini oleh perusahaan bersangkutan terutama para pemimpinya yang selalu merasa dalam posisi baik tanpa mengacuhkan kesan orang luar. Setelah diadakan studi tentang tanggapan, kesan dan citra di masyarakat ternyata terjadi perbedaan antara yang dihadapkan dengan kenyataan citra di lapangan, bisa terjadi justru mencerminkan “citra” negatifnya yang muncul.

b.         Citra Kini (Current Image)

Citra merupakan kesan yang baik diperoleh dari orang lain tentang perusahaan atau organisasi atau hal yang lain berkaitan dengan produknya. Berdasarkan pengalaman dan informasi kurang baik penerimaanya, sehingga dalam posisi tersebut pihak Humas akan menghadapi risiko yang sifatnya permusuhan, kecurigaan, prasangka buruk (prejudice), dan hingga muncul kesalapahaman (understandimisung) yang menyebabkan citra kini yang ditanggapi secara tidak adil atau bahkan kesan yang negatif diperolehnya.

c.         Citra Keinginan (Wish Image)

Citra keinginan ini adalah seperti apa yang ingin dan dicapai oleh pihak manajemen terhadap perusahaan, atau produk yang ditampilkan tersebut lebih dikenal (good awareness), menyenangkan dan diterima dengan kesan yang selalu positif diberikan (take and give) oleh publiknya atau masyarakat umum.

d.         Citra Perusahaan (Corporate Image)

Jenis citra ini adalah yang berkaitan dengan sosok perusahaan sebagai tujuan utamanya, bagaimana menciptakan citra perusahaan yang positif, lebih dikenal serta diterima oleh publiknya, mungkin tentang sejarahnya, kualitas pelayanan prima, keberhasilan dalam bidang marketing, dan hingga berkaitan dengan tanggung jawab sosial (social care) sebagainya.

e.       Citra Serbaneka (Multiple Image)

Citra ini merupakan pelengkap dari citra perusahaan di atas, misalnya bagaimana pihak Humas menampikan pengenalan (awareness) terhadap identitas perusahaan, atribut logo, brands name, seragam (uniform), para front liner dan sebagainya. Semua itu diunifikasikan atau diidentikan ke dalam suatu citra serbaneka (Multiple Image) yang diintegrasikan terhadap citra perusahaan (Corporate Image).

f.          Citra Penampilan (Performance Image)

Citra penampilan ini lebih ditujukan kepada subjeknya, bagaimana kinerja atau penampilan diri (performance image) para profesional pada perusahaan bersangkutan.

 

2.9.3     Citra Positif

Citra positif merupakan tujuan dari setiap perusahaan agar mendapatkannya dari masyarakat. Citra positif tentu sangat sulit didapt jika sebuah perusahaan tidak mampu menerapkan pola komunikasi yang baik di dalam pelaksaan program perusahaan dengan baik. Sebaliknya jika hal-hal yang dikaitkan dengan pencitraan positif di dapat melalui program yang baik pula. Maka, akan memberikan manfaat bagi perusahaan itu sendiri.

 

2.9.4     Citra Negatif

Citra negatif ialah sebuah timbal balik dari publik yang di dapat ketika publik merasa diabaikan oleh suatu perusahaan. Citra negatif ialah yang menjadi musuh besar setiap perusahaan karena ketika sebuah perusahaan mendapatkan citra negatif. Maka, perusahaan tersebut akan sangat sulit mengubah image buruk yang sudah terlanjur ada di masyarakat. Karena membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengubah pandangan buruk masyarakat terhadap perusahaan yang bersangkutan.

Akibat dari pencitraan negatif adalah perusahaan tidak memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat, terlebih lagi dengan layanan produk, barang dan jasa. Hal ini mengakibatkan masyarakat  akan mengabaikan kualitas dari sebuah perusahaan dan sebaliknya perusahaan akan mengalami kerugian yang sangat besar.

 

2.10    Perusahaan

Perusahaan dapat dikatakan sebagai sebuah kelompok sosial, sebuah organisasi dengan aturan, moral, norma dan nilai yang tertentu yang dipakai sebagai pedoman dalam berhubungan antaranggota komuniti perusahaan yang ada didalamnya (Rudito, 2009: 75).  Hal ini berkaitan dengan bahwa dalam kehidupan sebuah perusahaan akan terdapat aturan-aturan tertentu yang berkaitan dengan status dan peran yang harus dijalankan oleh individu-individunya dalam unit-unit, bagian-bagian dalam perusahaan.

 

2.11     Kerangka Pemikiran

Dalam penelitian ini penulis menggunakan kerangka pemikiran sebagai berikut:

PT. Bukit Asam (Persero) Tbk,

Citra Positif

Seragam Kerja (Uniform)

Identitas Perusahaan 

 

 

 

 

 

 

 

 


                   Gambar 2.2  Kerangka Pemikiran

 

Dari bagan kerangka pemikiran di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, PTBA dalam membangun identitas perusahaan melalui seragam kerja (uniform) dapat menciptakan citra positif perusahaan.

 

2.12      Subjek Penelitian

Subjek penelitian yang diambil berjumlah 8 informan sesuai dengan tingkat jabatan karyawan dan jenis kelamin dengan menggunakan purposive sampling. Menurut Prijana (2005) dalam Satori Komariah (2010: 7) purposive sampling yaitu menentukan subjek atau objek sesuai tujuan. Sebagai proses seleksi dalam kegiatan observasi, proses seleksi dimaksud di sini adalah proses untuk mendapatkan orang, situasi, kegiatan, dokumen  yang diperoleh dari sejumlah orang yang dapat mengungkapkan permasalahan.

 

2.13      Desain Penelitian

2.13.1   Metode Penelitian

Metode penelitian menurut Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2010: 4), metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriftif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yaitu data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal ini dikarenakan penelitian deskriftif berkaitan dengan metode kualitatif (Moleong, 2010: 11).  Pengungkapan masalah mengenai peran uniform (seragam kerja) pada PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit Dermaga Kertapati Palembang dalam membangun identitas karyawan, dimulai dengan cara mengumpulkan data, menyusun data serta menganalisis sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan.

 

2.13.2   Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data.  Teknik pengumpulan data sangat ditentukan oleh metodologi penelitian menurut Wimmer dan Sendjaya dalam Kriyantono (2008: 93).

Dalam penelitian kualitatif, teknik pengumpulan data yang dikenal melalui observasi (field of observations), wawancara mendalam (intensive/depth interview) dan riset kepustakaan.

a.         Observasi (field of observations)

Observasi adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan secara langsung didalam satu bidang dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti.  Observasi menjadi salah satu teknik pengumpulan data apabila sesuai dengan tujuan penelitian, direncanakan dan dicatat secara sistematis. Pengamatan dilakukan dengan mendatangi langsung PT. Bukit Asam (Persero) Tbk melihat penggunaan seragam kerja yang mereka pakai.

b.         Wawancara mendalam (intensive/depth interview)

Adalah suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data lengkap dan mendalam. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik wawancara dengan informan (karyawan). Menurut Berger dalam Kriyantono (2008:

Pada penelitian ini, yang menjadi interviewee (orang yang diwawancarai) adalah karyawan pada masing-masing  bagian  yang ada di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit Dermaga Kertapati Palembang. Yang berjumlah 24 orang karyawan yang akan diwawancarai yang masing-masing akan diwakilkan oleh setiap bagian. Pertanyaan yang diajukan antara lain mengenai manfaat seragam kerja yang mereka pakai dan perasaan mereka saat memakai seragam kerja tersebut.

Informan (narasumber) penelitian adalah orang yang diwawancarai, dimintai informasi oleh pewawancara/ orang yang diperkirakan menguasai dan memahami data, informasi ataupun fakta dari suatu objek penelitian  (Bungin, 2010: 108).

Dalam melakukan penelitian (pengumpulan data) peneliti dapat bergerak dari satu informan ke informan lain sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu ada yang dikenal sebagai narasumber kunci (key informan)  dan narasumber  pendukung (Amirin: 2009).

a.   Narasumber kunci (key informan) yaitu:

1.         Informan yang paling tahu banyak informasi mengenai objek yang sedang diteliti

2.         Informan  yang mempunyai informasi umum menyeluruh, sementara detail atau rincian yang lebih khusus pada aspek atau bidang tertentu ada pada orang (informan) lain.

Berikut nama-nama informan yang akan diwawancarai, masing-masing bagian hanya 3 orang informan untuk diwawancarai, diantaranya:

Tabel 3.1 Narasumber (informan)

No.

Bagian

Nama Informan

1.

K3

Febriantoro

2.

Sek. General Manager

Rafie Darwis

3.

Umum dan Keuangan

Hariyanto

4.

Operasi dan Teknik

Ruswandi

5.

Hukum, Humas dan SDM

 

Sulaiman

6.

Logistik

Dentinus

7.

Kendali Produk

 

Muslim

8.

Perawatan

Nono Obos

 

b.   Narasumber pendukung

Narasumber yang tidak wajib ada, namun sebagai pelengkap dan untuk memberikan gambaran komprehensif atas proses penelitian, keberadaannya sangat membantu (Balai Arkeologi Yogyakarta: 2010).

Narasumber pendukung dalam penelitian ini adalah masyarakat sekitar yang berada di sekitar kantor PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit Dermaga Kertapati Palembang yang berjumalah 2 informan yaitu bapak Junaidi dan bapak Surya.

c.       Riset Kepustakaan

Riset kepustakaan ini dilakukan dengan mencari data atau informasi riset melalui membaca jurnal ilmiah, buku-buku referensi, dan bahan-bahan publikasi yang tersedia di perpustakaan (Ruslan, 2008: 31). Pada penelitian ini banyak buku yang digunakan seperti  buku pengantar ilmu komunikasi, Company Profile    PT. Bukit  Asam (Persero) Tbk, buku mengenai pakaian seragam kerja, serta buku-buku lainnya yang menjadi bahan acuan dalam pembuatan penelitian ini.

 

2.13.3   Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data yang bersifat kualitatif yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Teknik analisis data dalam penelitian kualitatif didasarkan pada pendekatan yang digunakan. Seperti penelitian ini, peneliti mengorganisasikan data. Banyaknya data yang terkumpul, terdiri dari catatan lapangan peneliti, foto, dokumentasi instansi, berupa laporan, biografi, artikel dan lain sebagainya.

Sedangkan Miles and Huberman (Sugiyono, 2009: 91) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas. Aktivitas dalam analisis data yaitu, data reduction, data display, dan data conclusion drawing/verification.

1.         Data Reduction (Reduksi data)

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang sudah direduksi akan  memberikan gambaran yang lebih jelas, data mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

2.         Data Display (Penyajian data)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan atar kategori, flowchart, dan sejenisnya. Miles dan Huberman (Idrus, 2009: 151), mengatakan bahwa yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif dan memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

3.         Conclusion / verification (Penarikan kesimpulan / verifikasi)

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.

 

2.13.4   Sumber Data

Sumber data yang peneliti dapatkan untuk penelitian ini diperoleh dari :

a.       Data Primer

Data primer adalah data yang dihimpun sendiri dari objek yng diteliti melalui  observasi dan survei. Data primer dapat berbentuk opini subjek secara individul atau kelompok, dan hasil observasi terhadap benda (fisik), kejadian, kegiatan , dan hasil suatu pengujian tertentu (Ruslan, 2008: 138). Untuk penelitian ini menggunakan pengumpulan data primer melalui wawancara dan observasi.

Wawancara yang dilakukan merupakan teknik pengumpulan data dengan cara membuat daftar pertanyaan yang diajukan secara lisan terhadap interviwee (orang yang diwawancarai). Selain itu, teknik observasi dengan proses pencatatan dan pengamatan pola perilaku atau tindakan subjek (orang) terhadap kejadian, karakteristik situasi sosial di lingkungan tersebut. Pada penelitian ini, yang akan diwawancarai dan diamati adalah karyawan pada masing-masing bagian di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit Dermaga Kertapati Palembang.

b.       Data Sekunder

Data sekunder adalah data dalam bentuk yang sudah jadi melalui publikasi dan informasi yang dikeluarkan di berbagai organisasi atau perusahaan, termasuk majalah, jurnal, buku profil perusahaan, laporan data dokumentasi dan lain sebagainya (Ruslan, 2008: 30). Pada penelitian ini perumusan masalahnya pada peran uniform (seragam kerja) pada PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, dalam membangun identitas karyawan, maka sumber datanya diambil dari beberapa buku dan data-data yang diambil dari perusahaan sebagai bahan referensi untuk data sekunder.

 

3.     HASIL DAN PEMBAHASAN

           Mengenakan seragam kerja (uniform) itu sudah bukan lagi dominasi pegawai negeri sipil (PNS) atau TNI/Polri. Pegawai swasta pun dewasa ini  banyak yang mengenakan pakaian seragam dalam aktivitas kerja rutinnya. Pakaian seragam digunakan karyawan sejak dari rumah, namun  tidak sedikit yang memasukkannya di dalam tas kerja dulu, lalu memakainya di toilet atau di tempat lain  sebelum memasuki ruang  kantor/ruang kerja. Karena perusahaan sudah susah menghafal orang satu persatu, maka salah satu cara untuk mengetahuinya dengan seragam atau  diwajibkan dengan alasan untuk identitas profesi dan institusi, misalnya para jurnalis yang ditugaskan kantornya untuk sebuah peliputan. Mereka butuh identitas, apalagi jika tugasnya di kawasan yang tingkat kerawanannya tinggi. Seragam dinilai penting untuk membedakan identitas profesi, institusi, dan eksistensi..

           Seragam kerja (uniform) adalah seragam kerja tertentu yang dipakai khas oleh semua golongan di perusahaan yang dimiliki oleh masing-masing karyawan.  Berikut jenis  seragam  kerja  dinas  harian PT. Bukit  Asam  (Persero) Tbk :

a.         Seragam Kerja (uniform) Lama

Seragam Kerja Dinas Harian Pria

 

 

 

 

 

 


  Gambar 1.  Seragam Kerja Dinas Harian Pria

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

             Gambar 2. Celana Seragam Kerja

   Dinas Harian Pria

     Seragam Kerja Dinas Harian Wanita

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 3. Seragam Kerja

Dinas Harian Wanita

 

 

 

 

 

 

 


 

 Gambar 4. Rok Seragam Kerja

Dinas Harian Wanita

 

 

Seragam Kerja Dinas Harian Wanita Muslim

Logo Perusahaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 5. Seragam Kerja Dinas

Harian Wanita Muslim

 

Penjelasan :

 

Seragam kerja yang dikenakan oleh karyawan PTBA ini merupakan seragam kerja yang belum mengalami perubahan warna dengan ciri warna abu-abu muda, dengan kemeja pria yang letak logo perusahaan ditutup saku begitu juga seragam wanitanya, sedangkan seragam kerja untuk wanita yang memakai kerudung logo perusahaan terletak di bibir saku.

 

 

 

b.        Seragam Kerja (uniform) Terbaru

Seragam Kerja Dinas Harian Pria

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                  Tampak Muka                                       Tampak Belakang

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 6. Seragam Kerja Dinas Harian Pria

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                Tampak Depan                              Tampak Belakang                   

 

 

 

 


Gambar 7. Celana Seragam Kerja

Dinas Harian Pria

 

Seragam Kerja Dinas Harian Wanita

Logo Perusahaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                 

 

 

 

 

 


Gambar 8. Seragam Kerja Dinas Harian Wanita

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                 Tampak Muka                                     Tampak Belakang

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 9.  Rok Seragam Kerja

Dinas Harian Wanita

 

 

 

 

 

 

 

 

Seragam Kerja Dinas Harian Wanita Muslim

Log o Perusahaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                  

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 10. Seragam Kerja

Dinas Harian Wanita Muslim

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 11. Celana Seragam Kerja Dinas Harian Wanita Muslim

 

 

Penjelasan       :

Seragam kerja yang dikenakan oleh karyawan PTBA ini merupakan seragam kerja yang telah mengalami perubahan warna dengan ciri warna coklat camel, dengan kemeja pria yang letak logo perusahaan di badan saku, begitu juga seragam wanitanya, sedangkan seragam kerja untuk wanita yang memakai kerudung logo perusahaan terletak di bibir saku.

 

Pembahasan

Setelah peneliti melakukan wawancara, selanjutnya peneliti menganalisa hasil wawancara tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskrtiptif kualitatif, yaitu (Ruslan, 2008: 215) metode yang mengintepretasikan data yang diperoleh dalam penelitian dan menghasilkan sesuatu uraian mendalam tentang ucapan, tulisan, tingkah laku yang dapat diamati dari individu, kelompok, masyarakat, organisasi tertentu yang dikaji sudut pandangnya secara utuh.

 

Deskripsi Mengenai Peran Uniform PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, sebagai Identitas Perusahaan dalam Membangun Citra positif Perusahaan

Setelah melakukan penelitian, peneliti mendapatkan gambaran mengenai peran uniform (seragam kerja) PTBA sebagai identitas perusahaan. Dari pernyataan tersebut, dapat kita ketahui bahwa seragam kerja di dalam penggunaanya memang menjadi representasi perusahaan dimana seragam kerja merupakan identitas perusahaan yang mudah dikenal pihak-pihak luar, selain dari apa yang diproduksi oleh perusahaan tersebut. Apalagi di dalam penggunaan seragam tersebut, seragam kerja yang ada menjadi ciri khas perusahaan dan sekaligus sebagai alat komunikasi penghubung serta melalui seragam kerja komunikasi dapat terjalin dengan baik. Seperti yang diungkapkan oleh Emile Durkheim  (Rudito, 2009: 80) menyatakan bahwa ciri khas perusahaan merupakan karakteristik yang mendasar pada kebudayaan perusahaan, dimana ciri khas perusahaan akan tampak jelas dalam bentuknya ketika berinteraksi dengan orang lain, ciri khas suatu perusahaan biasanya akan diikuti oleh lambang pada perusahaan yang bersangkutan, hal ini menyangkut suatu perubahan simbol atau lambang dari perusahaan.

Lebih lanjut, selain sebagai representasi perusahaan, seragam kerja juga  berhubungan erat dengan pembentukan identitas perusahaan karena keduanya merupakan tampilan perusahaan yang mewakili identitas perusahaan (representasi perusahaan) dan sebagai simbol perusahaan dapat dijadikan sebagai sarana promosi untuk memperkenalkan perusahaan ke masyarakat luas. Sama halnya seperti yang diungkapkan oleh masyarakat bahwa, seragam kerja PTBA memiliki hubungan dengan pembentukan identitas perusahaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Horowitz (Rudito, 2009: 35), yang menyatakan identitas atau jati diri perusahaan pada umumnya didapat dari proses pembentukan identitas diri tidak lebih dari satu proses perluasan/pengecilan terhadap dasar penilaian diri sendiri/perusahaan dan sebagai simbolisasi atau ciri khas yang mengandung proses pembedaaan yang mewakili citra organisasi.

Berdasarkan pada uraian di atas, diketahui bahwa selain sebagai representasi dan pembentukan identitas perusahaan. Seragam kerja juga berhasil dalam upaya pembentukan citra positif karena seragam kerja dapat menunjang kegiatan yang berkaitan erat dengan pembentukan citra positif. Terlebih lagi, apa yang telah dihasilak oleh PTBA dapat membentuk citra positif perusahaan.

Inilah suatu indikasi bahwa keberadaan seragam kerja (uniform) sangatlah penting, karena reputasi suatu perusahaan tidak hanya berada pada perusahaan itu saja. Melainkan juga pada seragam kerja yang merupakan suatu simbol dan media penghubung yang sangat berperan dalam meningkatkan komunikasi antar karyawan. Seperti yang diungkapkan Edgard Schein (Ubaydillah, 2010) menyatakan bahwa seragam kerja bagi perusahaan memiliki kepentingan langsung terhadap pentingnya menunjukkan identitas dan trust kepada pihak luar, seragam kerja juga dipakai untuk penanda job title dan keberadaan perusahaan di tingkat internal maupun eksternal, serta memberikan kontribusi nyata terhadap keberadaan organisasi bagi masyarakat.

Di sisi lain, selain sebagai reputasi, identitas perusahaan serta upaya pembentukan citra positif perusahaan tentunya ada bagian-bagian dari seragam kerja itu sendiri yang mudah dikenali oleh masyarakat. Melalui hasil wawancara peneliti mengetahui hal tersebut dari warna seragam kerja serta logo perusahaan yang terletak di salah satu bagian seragam kerja. Pernyataan ini berkaitan dengan apa yang diungkapkan oleh Holzschlag (Kusrianto, 2006: 46-47), warna merupakan perlengkapan gambar serta mewakili kejiwaan pelukisnya dalam berkomunikasi. Secara visual warna memiliki kekuatan yang mampu mempengaruhi citra orang yang melihatnya, masing-masing warna mampu memberikan respon secara psikologis.

Berbicara mengenai seragam kerja PTBA, tentunya tidak akan pernah habis,  karena ada banyak sisi yang harus dibahas. Salah satunya ialah mengenai apakah seragam kerja tersebut dibuat dengan desain dari perancang busana, sedangkan pembuatannya dipercayaka pada karyawan PTBA itu sendiri, yang membedakan adalah mode dan jenis kelamin yang memakainya.

 Pada dasarnya, ada banyak cara yang bisa ditempuh oleh suatu perusahaan untuk membentuk citra positif perusahaan. Hanya saja peneliti pada penelitian ini memfokuskan penelitian pada satu hal saja yaitu pada seragam kerja, karena seragam kerja bisa menjadi media untuk membentuk identitas serta untuk membentuk citra positif perusahaan. Hal ini dikarenakan seragam kerja merupakan media penghubung antara pihak eksteren dan interen serta sebagai sarana informasi perusahaan ke pihak-pihak luar perusahaan. Pernyataan diatas berkaitan dengan apa yang diungkapkan oleh H. Fayol (Ruslan, 2008: 23), membangun identitas dan citra perusahaan (building corporate identity and image) harus mampu menciptakan identitas dan citra perusahaan yang positif serta mendukung kegiatan komunikasi timbal balik dua arah dengan berbagai pihak.

Sehingga dari proses wawancara yang dilakukan oleh peneliti mengenai seragam kerja PTBA. Maka, peneliti mendapat gambaran bahwa memang pengaruh seragam kerja tidak begitu besar, namun tetap berpengaruh. Karena citra positif dibentuk tidak hanya melalui seragam kerja saja, tetapi banyak hal yang bisa membentuk citra positif itu, diantaranya bisa melalui melalui berbagai program-program dan kegiatan yang dilakuakn oleh PTBA. Pernyataan ini berkaitan dengan apa yang diungkapkan oleh Jefkins (Ruslan, 2003: 70-72), ada beberapa jenis citra (image) di dunia aktivitas hubungan masyarakat, salah satunya adalah Citra Perusahaan (Corporate Image), Jenis citra ini adalah yang berkaitan dengan sosok perusahaan sebagai tujuan utamanya, bagaimana menciptakan citra perusahaan yang positif, lebih dikenal serta diterima oleh publiknya, mungkin tentang sejarahnya, kualitas pelayanan prima, keberhasilan dalam bidang marketing, dan hingga berkaitan dengan tanggung jawab sosial (social care) sebagainya, serta Citra Sarbeneka (Multiple Image), yang merupakan bagaimana citra itu ditampilkan dengan pengenalan (awarness) terhadap identitas perusahaan, atribut logo, brancis name, seragam (uniform) dan sebagainya, semua diidentifikasikan kedalam suatu citra sarbeneka yang diintegrasikan terhadap citra perusahaan (corporate image).

 

4.    SIMPULAN

            Berdasarkan uraian  yang membahas peran uniform (seragam kerja) PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, sebagai identitas perusahaan dalam membangun citra positif perusahaan. dan setelah penulis membahas antara teori dan hasil wawancara dengan 24  karyawan sebagai informan, maka penulis dapat menarik kesimpulan seperti :

            Sebagai salah satu identitas perusahaan dan tampilan perusahaan, uniform (seragam kerja) sangat bermanfaat bagi para karyawan dalam menjalin suatu hubungan baik eksternal maupun internal dan sebagai alat komunikasi yang dapat dijadikan sebagai sarana penghubung antara perusahaan-perusahaan lain serta masyarakat luas. Mengenai citra positif yang didapat melalui segala sesuatu yang tampak bisa dilihat dari kasat mata, dengan demikian seragam kerja bisa mempengaruhi pembentukan citra positif dan identitas perusahaan. Seragam kerja sangat berpengaruh karena selain sebagai representasi perusahaan juga bisa menjadi simbol yang sangat penting, dimana perwujudan baik tidaknya suatu perusahaan bisa dilihat dari seragam kerjanya. Selain itu juga seragam kerja bisa menjadi sebuah simbol perusahaan karena segenap perwujudan dari perusahaan berada di seragam kerja.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

BUKU

 

Anggoro, M. Linggar.  2005.  Teori dan Profesi Kehumasan Serta Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: PT.  Bumi Aksara.

 

Kriyantono, Rachmat.  2008.  Teknik Praktis Riset Komunikasi.  Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 

 

Kusrianto, Adi. 2006. Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: CV.Andi Offset.

 

Moleong, Lexy J.  2010.  Metodologi Penelitian Kualitatif.  Bandung: PT.  Remaja Rosda Karya.   

 

Rudito, Bambang.  2009.  Membangun Orientasi Nilai Budaya Perusahaan.  Bandung: Rekayasa Sains. 

 

Ruslan, Rosady.  2008.  Metode Penelitian Public Relation dan Komunikasi.  Jakarta: Raja Grafindo Persada. 

 

Sugiyono. 2009.  Memahami Penelitian Kualitatif.  Jakarta: Alfabeta.   

 

 

Waskito, A. A. 2010.  Kamus Praktis Bahasa Indonesia.  Jakarta: PT.  Wahyu Media. 

 

SUMBER LAIN :

 

INTERNET

Ubaydillah, 2010. Makna Seragam Kerja. Diakses pada tanggal 12 Agustus 2010 dari http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=629

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>