Antara gorengan dan karang yang disapu ombak

Bicara investasi adalah bicara kalkulasi matriks yang serba eksponensial, dimana hitungan-hitungan matematis jalanan akan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor x dan y, dimana 1+1=3 atau 1+1=11 atau 1+1=-1, ceilah bahasanya … :p
Berawal dari keinginan untuk memulai belajar bisnis kecil-kecilan, mengenai bagaimana membangun pondasi jangka pendek, bagaimana memulai investasi yang kelihatannya kecil “tak berarti” namun “dahsyat” hasilnya, yang apabila bisa ter-akumulasi dengan disiplin, maka akan menghasilkan suatu keuntungan yang tidak disangka-sangka, contoh saja penjual gorengan.

Coba kita asumsikan harga satu buah gorengan di Palembang ini sekitar Rp.500 dengan content adonan 85% udara,10 persen tepung, dan sisanya beragam hehe..

Lalu, bagaimana kalau satu hari saja bisa menjual 250 buah gorengan, contoh kecil, menjual gorengan dengan strategi simbiosis mutualisme (menjual gorengan di dekat penjual bakso, misalnya, kemudian penjual es dan lain-lain atau ngga’ mungkin khan jual gorengan di dekat tukang sol sepatu hehe… pasti ada juga yang terjual cuma ngga’ banyak…

nah disitu akan terjadi suatu ” law of attraction “, dimana yang satu menarik yang lainnnya… jadi istilahnya memuaskan pelanggan dengan trik-trik jebakan konsumtif, yang disatu sisi memudahkan, disisi lain menguntungkan …

Pendapatan = Rp. 500×250 buah/harix30 hari = Rp. 3.750.000 (kotor)
Pengeluaran = bahan2/hari (minyak, tepung, sayuran)+ gas+makan+ban bocor+dll = 75.000

Total Keuntungan Bersih = Rp1.500.000/bln

itu kalau terjual 250 buah , tapi rata-rata hasil survey saya kecil-kecilan di lapangan menunjukkan, jika menjualnya dengan keliling, ada yang perhari sampe 500 buah dan lebih … kalikan saja berapa keuntungannya .. :)

dari hitung-hitungan yang lebih mengedepankan investasi di sektor riil ini, telah membuat saya berminat untuk menjalankan usaha ini, namun masih terkendala dengan sdm nya saja … hehe :p

Beralih lagi ke investasi yang aman dan cenderung anti inflasi, namun… disini dibutuhkan waktu dan kesabaran yang lebih lama, tidak cocok untuk jangka pendek, yaitu antara 2-3 tahun, contohnya dengan ber-investasi emas batangan, dalam hal ini investasi emas jenis ini lebih cenderung hanya sebagai penjaga asset/mempertahankan nilai kekayaan saja, syukur-syukur harga emas naik 2/3 tahun kedepan … kenaikan harga emas pun rata-rata 20% – 30 % / tahun, nah saya sih masih dalam level ini, belum saatnya bener-bener masuk sektor riil tadi …

keliling – keliling dari satu toko ke toko lainnya, hasilnya pun beragam, setiap toko menjual kadar emas yang berbeda namun sama 24 karat, awalnya saya kurang paham … namun setelah tanya sani-sini ternyata nilai emas dibedakan oleh kadar persen yang ada didalamnya… yang paling baik itu ya yang 99%, namun jenis emas yang memiliki kadar ini harga dan jenis nya pun berbeda dibanding emas-emas yang lain … agak lebih mahal dan warna emasnya solid, tidak kelihatan pucat… btw coba aja deh boleh dibuktikan sendiri …

untuk membeli emas memang tergantung dari jenis dan harga pilihan kita tadi, boleh di pegadaian (dengan sistem kredit), boleh di antam dan lain-lain… tergantung tingkat kebutuhan dan kemampuan :)

Ada cerita menarik ketika saya meminta referensi dari beberapa teman, tentang dimana membeli emas yang baik di Palembang ini, ada satu toko … dimana di toko ini memang harga dan kadar emas yang lebih tinggi dari yang lain, juga terkenal dengan keramahan sang penjual yang enak diajak ngobrol… yahhh… setelah lama berbasa-basi dengan niat hanya bertanya-tanya, sang penjual pun menyuruh saya melihat lukisan yang terpajang disalah satu sudut ruangan tokonya, terlihat ada lukisan ombak yang tanpa henti menyapu karang, dia pun ber-analogi : ” Investasi itu seperti lukisan itu dek, bisa terkadang pasang dan terkadang surut, bisa terkadang hempasan nya kuat namun bisa juga terkadang menyejukkan… jadi tergantung arah angin lah ! hehe… ”

Lalu dengan sedikit berkelakar saya pun menimpali : iya sih ko, cuma tergantung karang nya juga kuat atau ngga’ … (eh si koko pun tertawa, iya, ya bener .. bener .. lama-lama kalau karangnya tidak kuat bisa terkikis oleh ombak-ombak lautan luas”….

Saya langsung teringat kata George Soros (salah satu spekulan terkenal itu).

” You can’t control the market, You cannot control the macro economy, but you do have control over your micro-economy. Start cutting some of the extras, and concentrate on the basics. You will be amazed at the results a little adjustment in your spending can produce “

– in the journal of Open Society-

Zaid Amin

Please follow and like us:
0