i saw you …

How lucky to be young, but lost in expression

or I’m just a man who’s usually unable to stop the time.

I’m sitting here alone, with no conclusion … which part should I take … with an old pen, freeze on a pieces of paper.
I draw you, but an art can’t find you any longer, even a scratch of masterpiece… it seems I’ve lost my light on earth…

She” don’t know …”She” don’t … !
All I have to do now, is to show you, what for I’ve got through to this journey, and You’ll see me, yes we will meet again sooner or later.

keep praying for me, and I’ll show you, what it means to start and then finish this, then I’ll run straight to you … I promised.


Constantine I’m fell in love with you …. :)


(Rush hour in Istanbul)

(Birdman of Istanbul)



(Constantinopel and Blue Mosque)


(Feel free, Ayeee)



(The City)



(The landscape )





Please follow and like us:
0

Atas Nama “Proses”

Challenge Me, Color Me !

Sungguh Naif dan tepat, jika slogan blog saya diatas tersebut kemudian dimaknai sebagai suatu “semangat
oportunis” yang kekanak-kanakan”, hehe :) tanpa saya menyadari lagi tentang keberadaan “entitas – entitas” “ketidak pedulian” yang nyata, itu kalau kita bicara tentang isu-isu “keadilan” dan “pemerataan” yang terjadi di bangsa ini, sadar atau tidak, semakin mengkerucut lagi, hal ini pun berpengaruh di dalam interaksi kehidupan bermasyarakat kita sehari-hari, misalnya. dan kalau kita jeli, ternyata benturan/gesekan nya itu dekat sekali, namun sengaja atau tidak, hal ini berlarut-larut kita abaikan, pertanyaan nya kenapa ? untuk kemudian “ambil gampang” kah, tidak mau pusing lah, atas alasan praktisitas, yang penting lancar dan puffff… selesai… lalu kita ter-arahkan agar selalu cepat di dalam mengadaptasi perubahan-perubahan yang terjadi, untuk akhirnya mengambil kesimpulan dan berbagai ketentuan yang prinsip, bahwa inilah “proses” yang sebenarnya, inilah hakikat daripada suatu kompleksitas nasib dan takdir, atau inilah omong kosong yang sesungguhnya. :)

“seignorage …” ternyata memang ada yang tidak beres dibalik semua ini.


(Kita berasumsi bahwa kita telah berada pada jalur yang tepat, ya inilah jalanmu wahai anak muda… , lalu kejar lah … kemudian kita berharap banyak pada “nya” namun agak sulit dimengerti pada akhirnya). “nya” disini adalah “bermacam orientasi kita terhadap objek yang akan diraih”.

Iqra’ (Bacalah)


1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Q.S Al-Alaq (1-5)

Tidak ada suatu kegemilangan tanpa adanya kekuatan “pengorbanan”, dan pastilah tidak ada kesempurnaan dalam “kehambaan”, dan jelas… bahwa tidak ada pengaruh reaksi tanpa adanya aksi, semua ini akan lalu lalang berjalan seiring dalam substansi alur perjalanan yang dinamakan Kesuksesan yaitu
” PROSES “.


e=mc2

Cara mudah untuk berpikir dalam sudut pandang yang “positif” adalah, selalu belajar menemukan solusi permasalahan dengan metode kuadran keikhlasan (99 thinking hats-ESQ way) terhadap hasil apapun yang akan kita terima, hihi.. :) walau saya bukanlah alumni dari Kaum elit ESQ, karena saat itu hanya cukup mampu membeli buku nya saja. :p tapi sedikit banyak bisa membekali saya diwaktu-waktu “transisi” saat itu…

“Rasa suka atau tidak suka dalam menerima hasil sangatlah bertentangan dengan pemahaman nilai-nilai keikhlasan itu sendiri” – ini kalau kita sudah bicara hasil, terlepas dari suatu perjalanan proses yang kita lalui… –

Kita membentuk siapa kita atas pilihan-pilihan yang kita ambil, secara sadar atau tidak, ini jelas… namun ada “kuasa” lain yang membentuk kita diluar dari dalam diri… yaitu aturan-aturan “tertentu” diatas kepentingan “penguasa”… sistem pengarahan secara massal dan cenderung bekerja secara tersembunyi tapi pasti… atau apalah namanya itu, yang jelas kita berada di dalam “lingkaran setan” yang terus ber-eksponensial ! yang kian hari menggenggam pencapaian kita dengan “keras”, bahkan lambat laun tanpa kita sadari “meng-kerdilkan” dan akhirnya menyisihkan kita dalam pertarungan “ability versus mentality”. dan ini tidak bisa kita pungkiri, terhadap se-nyaman apapun posisi kita saat ini.
dan kemudian kita pun kehilangan arah ….

Suatu penggiringan yang berbahaya -New way of fascism !- wallaaa….

(saya jadi ingat kisah seekor katak yang mati dalam air yang dipanas kan secara perlahan, apakah mungkin pada akhirnya kita akan menyerah dan kemudian mati lemas dikarenakan tanpa disadari menerima dan menerima, (karena proses pengarahan tadi) pada keadaan yang hampir sama seperti katak itu ?) yg jelas kita tidak “serendah” itu toh :)

Ada lagi kutipan beberapa sahabat dekat, yang mengatakan bahwa ;
” Beruntunglah… bagi mereka-mereka yang berkesempatan “

Ada benarnya …
Tetapi… jika kita mencoba melihat lebih dalam lagi kutipan tersebut, ada “simpul-simpul” kekecewaan disitu, bahwa sepenuhnya tidak terlalu tepat jika mereka-mereka yang selangkah lebih “maju” atau berkesempatan saat ini, telah membawa kesiapan dan solusi atas keberlangsungan hidup kita yang ada dibelakang, hingga untuk menjadi penggembala domba-domba yang sengaja disesatkan.

apa peduli mereka !? nah … kalau sudah begini… (ini nyata yang terjadi bagi sebagian orang , termasuk saya, dan tidak bermaksud selalu berprasangka buruk)
jelas… hal ini menunjukkan bahwa ” proses pun bisa diarahkan”… tanpa kita sadari.
tinggal diatur maunya seperti apa…
Saya tidak mengatakan bahwa itu sebuah kecurangan, tetapi inilah realitanya, dan saya menyadari suka atau tidak…akan ada pengulangan-pengulangan dan rasa ketidak adilan yang semakin tumbuh karena perlakuan itu. dan akan terus bergerak berputar – putar tanpa titik temu …
Kembali lagi kita sering mengkaitkan nya dengan peruntungan hakikat nasib dan takdir, secara manusiawi itu adalah sebuah pembenaran yang mutlak dan “tendensial” (curang bagi sebagian orang tapi tidak ada masalah bagi sebagian yang lain), meski dengan lampiran keterbatasan seorang hamba dimata Tuhan, dengan asumsi bahwa pilihan kita itu benar.
Lalu… Bagaimana kita tahu bahwa pilihan kita itu benar ?
Jawaban atas proses penciptaan. TIDAK ADA YANG TAHU. :)
Apakah suara kita akan terdengar oleh telinga-telinga yang tuli dan mata hati yang buta ?
tidak, kecuali kepada Tuhan.

Apakah kita akan berlaksana seikhlas-ikhlasnya, jika yang tersisa di sekeliling kita pun telah berevolusi menjadi suatu hamparan “labirin” yang luas , dimana kita tak dapat menemukan pintu-pintu kita sendiri, yang ada hanya pintu-pintu teror dan keputus asa an.
bisa saja, cobalah untuk sedikit “sensitif” terhadap apa yang ditemui dan dirasakan…(dalam artian yang positif tentu lah)

Tulisan ini saya buat dalam ketidak berpihakan saya kepada teori-teori pembenaran dan kejadian-kejadian yang disimpulkan sekonyong-konyongnya “sistemik”, yang langsung saya temui dan rasakan akhir-akhir ini. bahwa selalu ada proses untuk mencapai sesuatu, itu benar…
tetapi dalam bentuk “ekliptika” proses yang seperti apa ? proses yang diarahkan pada “entitas” tertentu. kah? proses yang sengaja di “Sistemastis” kan agar membentuk kita menjadi pribadi – pribadi yang “pasif”. …. pfff :p

” Tanpa kita sadari, kita tidak membentuk kita sendiri, ada “tangan-tangan tak terlihat (invisible hand) “ yang membentuk kita Ini ! “

maka bersikap kritis sangatlah dianjurkan dalam mencerna setiap informasi dan aturan-aturan yang berkembang, apalagi terhadap kepentingan beberapa penguasa media dan opini… jangan mau dilemahkan oleh bombardir media dan kepentingan-kepentingan yang mengatas namakan “perubahan”. karena pilihan sepenuhnya ada pada kita.

Selalu ikut-ikutan tertawa namun tidak mengetahui apa yang ditertawakan, selalu ikut menangis, namun tidak tahu persis apa yang sebetulnya kita tangisi, merasa tahu dengan pembenaran-pembenaran sederhana. lalu akhirnya menjadi penonton yang letih dan bosan atas komentar-komentar yang kita ciptakan sendiri.
Semakin tahu realita yang terjadi, kita seharusnya jangan menyerah lalu mengambil sikap “self-help” dan aman sendiri, kita menyadari ada yang tidak beres terhadap penerimaan kita, itu saja sudah suatu langkah pembelajaran yang baik… .
“hidup ini indah, jika dilalui pada proses yang benar !”
Sebuah pernyataan yang menimbulkan pertanyaan : Bagaimana ukuran Kepercayaan, ukuran Kejujuran, dan Keadilan yang ideal itu, dalam konteks proses meraih sesuatu (terlepas dari perjuangan keras kita sendiri)?
menurut saya kita semua sebagai makhluk yang paling mulia di semesta ini pastilah telah mengetahui persis seperti apa jawabannya.
bukalah mata kita lebar-lebar, dan lihat kondisi perjuangan masyarakat “marginal” itu seperti apa … tumbuhkan semangat berbagi, peduli lah…
Sadari bahwa kesempatan itu akan datang dan pergi, bisa hari ini anda, bisa juga saya dan bisa juga siapa pun … (memang ini tidak mudah, tapi setidaknya kita sudah berusaha untuk tidak menjadi orang-orang yang “terarah” tadi).

” ya, saya ikhlas dengan hasil yang saya dapatkan…. dan ini lah arti kecukupan dan penerimaan ( tanpa pengecualian terhadap hasil yang kita terima: suka ataupun tidak suka) , dan itulah makna d idalam melalui dan menikmati perjalanan “PROSES” yang sesungguhnya, sebelum kita bicara lebih jauh lagi mengenai “HASIL” yang diharap-harapkan”


Zaid Amin
(Dalam sebuah persimpangan dan pilihan)

Please follow and like us:
0