mod5fig1

Link Agregasi Menggunakan Cisco EtherChannel

Menurut Conlan (2009, p57), EtherChannel adalah sebuah teknik antara switch dengan switch (switch to switch), yang memberikan beberapa layanan link secara multipleks melalui port-port switch pada fast atau gigabit ethernet (kartu jaringan), ke satu jalur logikal. EtherChannel dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas bandwidth pada sebuah koneksi ke single server. EtherChannel adalah sebuah metode lintas platform yang mendukung load balancing, diantara perangkat servers, switches dan routers. EtherChannel dapat melakukan kombinasi dua, empat, atau delapan port (tergantung daripada platform switch) menjadi satu logikal link yang terhubung dan dapat juga sekaligus sebagai redundant (backup link).

Etherchannel adalah suatu teknologi trunking  yang digunakan oleh switch Cisco catalyst dimana sejumlah fisikal port pada device digabung menjadi satu jalur logika saja, dalam satu buah port group. Fungsinya adalah untuk meningkatkan kecepatan koneksi antar switch, router ataupun server, dan jika salah satu port atau jalur rusak atau mengalami failover, maka port group akan tetap bekerja menggunakan jalur atau port yang lain.

EtherChannel adalah istilah untuk teknologi berbasis perangkat Cisco yang memungkinkan pembuatan link hingga delapan fisik ethernet link, ke satu link logis. Pada awalnya teknologi ini disebut dengan Fast EtherChannel (FEC), atau saat teknologi Ethernet hanya tersedia di Fast Ethernet. Teknologi ini juga disebut Gigabit EtherChannel (GEC), atau lebih umum, hanya disebut dengan istilah Port Channel. Untuk vendor umum diluar perangkat Cisco istilah yang digunakan untuk link agregasi tersebut adalah Link Aggregation, atau disingkat dengan LAG.

Melalui protokol EtherChannel, kecepatan satu link tunggal Logis, sama untuk agregat kecepatan semua link fisik yang digunakan. Sebagai contoh, jika Anda membuat EtherChannel dari empat 100 Mbps Ethernet Link, maka EtherChannel akan memiliki kecepatan 400 Mbps.


1. Keuntungan EtherChannel

Menurut (Cisco System,Inc) adapun keuntungan daripada teknologi EtherChannel ini adalah:
a.Berbasis Standards IEEE 802.3 -compliant Ethernet
Teknologi Cisco EtherChannel dibangun berdasarkan protokol IEEE 802.3-compliant Ethernet, dengan pengelompokan beberapa full-duplex point-to-point link secara bersama-sama. Teknologi EtherChannel menggunakan mekanisme IEEE 802.3 untuk full-duplex autonegotiation, dan autosensing ketika layanan tersebut dibutuhkan.

b.Multiple platforms
Teknologi Cisco EtherChannel  sangatlah fleksibel dan dapat digunakan di mana saja, bahkan dalam jaringan yang sering terjadi hambatan. Dapat digunakan di jaringan untuk meningkatkan bandwidth antara switch, dan antara router dan switch, serta menyediakan scalable bandwidth untuk server jaringan, seperti server UNIX atau PC berbasis Web server.

c.Fleksibel dalam meningkatkan bandwidth
Teknologi Cisco EtherChannel menyediakan agregasi bandwidth dalam kelipatan dari 100 Mbps, 1 Gbps atau 10 Gbps, tergantung pada kecepatan link agregat. Sebagai contoh, admin jaringan dapat menerapkan teknologi EtherChannel yang terdiri dari pasangan Fast Ethernet Link full-duplex untuk memberikan lebih dari 400 Mbps antara kabel dan data center. Di data center, bandwidth hingga 800 Mbps dapat disediakan antara server dan jaringan tulang punggung (backbone) untuk memberikan dan meningkatkan sejumlah bandwidth yang scalable.

d.Load Balancing
Teknologi Cisco EtherChannel terdiri dari beberapa Fast Ethernet Link dan mampu melakukan load balancing lalu lintas link tersebut, baik itu dengan metode Unicast, Broadcast, dan Multicast hingga merata di seluruh link, memberikan kinerja yang lebih tinggi dan jalur paralel backup. Ketika link mengalami kegagalan, lalu lintas diarahkan ke link yang tersisa tanpa campur tangan pengguna (user) dan dengan paket hilang (packet loss) yang minimal.

e.Ketahanan dan konvergensi yang cepat
Ketika link mengalami kegagalan, teknologi Cisco EtherChannel menyediakan pemulihan otomatis oleh redistributing beban di seluruh link tersisa. Ketika link gagal, teknologi Cisco EtherChannel akan mengarahkan lalu lintas dari link gagal ke link tersisa, dalam waktu kurang dari satu detik. Konvergensi ini merupakan bersifat transparan kepada pengguna (user).

f.Kemudahan manajemen
Teknologi Cisco EtherChannel mengambil keuntungan dari pengalaman produk Cisco, yang dikembangkan selama bertahun-tahun dalam pemecahan masalah, dan mempertahankan jaringan Ethernet. Ada banyak terdapat jaringan yang digunakan untuk manajemen lalu lintas dan melakukan pemecahan masalah, dan aplikasi manajemen seperti CiscoWorks dan aplikasi manajemen pihak ketiga yang sekarang mengakui teknologi EtherChannel.

g.Transparan untuk aplikasi jaringan
Teknologi Cisco EtherChannel tidak memerlukan perubahan aplikasi jaringan. Ketika EtherChannel digunakan dalam kampus, switch dan router akan menyediakan load balancing beberapa link yang bersifat transparan untuk pengguna jaringan. Untuk mendukung teknologi EtherChannel pada kelas enterprise server dan kartu antarmuka jaringan, perangkat lunak smart driver dapat mengkoordinasikan distribusi beban di beberapa antarmuka jaringan.

h.Compatible dengan Cisco IOS ® Software
Cisco EtherChannel memiliki koneksi yang kompatibel sepenuhnya dengan Cisco IOS virtual LAN (VLAN) dan routing teknologi. Inter-Switch Link (ISL) VLAN Trunking Protocol (VTP) dapat membawa beberapa VLAN pada EtherChannel link.

i.Kompabilitas 100 Megabit, 1 Gigabit, dan 10 Gigabit Ethernet
Teknologi Cisco EtherChannel tersedia dalam semua kecepatan Ethernet link. Teknologi EtherChannel memungkinkan admin jaringan untuk menyebarkan jaringan dengan lancar melalui dukungan ketersediaan teknologi generasi berikutnya, berbasis standar Ethernet protocol.

j.Dukungan kompabilitas dengan konverter antarmuka Gigabit Coarse Wavelength Division Multiplexing (CWDM), Secara bersamaan menerapkan teknologi Gigabit EtherChannel dan CWDM, admin jaringan dapat meningkatkan link bandwidth mereka tanpa harus berinvestasi menggunakan media fiber optic. CWDM teknologi memungkinkan lalu lintas yang dikumpulkan oleh Cisco EtherChannel link ke multiplexed pada satu kabel fiber optic.


2. Komponen-komponen EtherChannel

Menurut (Cisco System,Inc), teknologi Cisco EtherChannel terdiri dari beberapa elemen-elemen penting, diantaranya adalah:

a.Fast Ethernet Link
Koneksi Cisco EtherChannel, dapat terdiri dari satu sampai delapan standar industri Fast Ethernet link untuk memuat bandwidth hingga 80 Gbps pada pembagian lalu lintas. Koneksi EtherChannel, dapat melakukan interkoneksi antara LAN switch, router, server dan klien. Dikarenakan load balancing sudah terintegrasi dengan arsitektur Cisco Catalyst ® LAN, maka tidak ada penurunan kinerja ketika admin menambahkan link ke saluran, throughput yang tinggi dan latency rendah dapat dipertahankan sebelum mendapatkan ketersediaan bandwidth yang lebih. Teknologi EtherChannel menyediakan ketahanan link dalam saluran, jika salah satu link gagal, maka lalu lintas langsung diarahkan ke link tersisa. Kesimpulannya adalah teknologi EtherChannel bukanlah tergantung pada jenis medianya. Teknologi EtherChannel  dapat digunakan dengan Ethernet yang berjalan pada kabel unshielded twisted pair (UTP), atau single mode dan multimode fiber optic.

b.Teknologi Cisco EtherChannel merupakan fitur standar di seluruh seri Cisco Catalyst switch, dan Cisco IOS ® yang berbasis perangkat lunak router. Menggunakan algoritma load-sharing yang digunakan secara bervariasi antar platform, yang memungkinkan untuk menjalankan keputusan berdasarkan sumber atau tujuan melalui pengalamatan berbasis Media Access Control (MAC), IP Address, atau penomoran berbasis port TCP/UDP.

c.Redundansi
Teknologi Cisco EtherChannel tidak memerlukan penggunaan 802.1 D (Spanning Tree Protocol), untuk mempertahankan keadaan topologi dalam saluran. Sebaliknya, ia menggunakan sebuah protokol peer-to-peer, yang menyediakan autokonfigurasi dan konvergensi berbasis subseconds untuk link yang paralel, namun juga memungkinkan protokol tingkat yang lebih tinggi (seperti Spanning Tree Protocol) atau protokol-protokol routing yang digunakan untuk mempertahankan topologi. Pendekatan ini memungkinkan teknologi EtherChannel, menggunakan fitur pemulihan jaringan tanpa menambahkan kompleksitas, atau menciptakan tidak kompatibel nya dengan alat-alat hardware & software dari pihak ketiga.

d.Manajemen
Teknologi Cisco EtherChannel mudah dikonfigurasi dengan antarmuka baris perintah (CLI/Command Line Interface), atau oleh aplikasi berbasis SNMP monitoring seperti CiscoWorks. Seorang manajer jaringan perlu mengidentifikasi, dan menentukan jumlah port yang akan dibuat saluran, dan kemudian menghubungkan perangkat-perangkat tersebut dengan mudah. CiscoWorks untuk perangkat berbasis Switch Internetworks, akan menampilkan grafis keadaan  EtherChannel yang memperlihatkan koneksi antar perangkat, mengumpulkan informasi statistik untuk kedua individu Ethernet Link dalam saluran, dan statistik gabungan untuk sambungan agregat EtherChannel. Kemudahan lain pada proses manajemen adalah, teknologi EtherChannel sudah secara terintegrasi memiliki kemampuan untuk mendeteksi, melaporkan, dan mencegah penggunaan salah pemasangan interface dalam saluran, baik itu dikarenakan adanya missmatched kecepatan antara link, dan secara konsisten memonitor konfigurasi yang diterapkan, agar dipastikan aktif pada keseluruhan jaringan.


Br
Zaid Amin











Please follow and like us:
0
cisco-ppdioo

Metode Perancangan Jaringan dengan Model PPDIOO

Dengan kebutuhan layanan jaringan yang semakin kompleks, maka diperlukan suatu metodologi yang mendukung perancangan arsitektur dan disain jaringan. Cisco memperkenalkan sebuah metode perancangan jaringan dengan model PPDIOO (Cisco: 2011,p8)  yaitu, Prepare, Plan, Design, Implement, Operate, and Optimize.

Model siklus hidup metode pengembangan jaringan dengan konsep PPDIOO ini, memberikan langkah-langkah kunci dalam keberhasilan perencanaan jaringan, baik itu pada tahapan desain, implementasi dan operasional nantinya. Pendekatan dengan model top-down design, mengarahkan infrastruktur jaringan untuk beradaptasi pada aplikasi-aplikasi apa saja yang dibutuhkan oleh suatu jaringan.

Menurut CCDA 640-864 Official Cert Guide (2011,p11), Cisco telah menghasilkan sebuah formula siklus hidup perencanaan jaringan, menjadi enam fase: Prepare (persiapan), Plan (Perencanaan), Design (Desain), Implement (Implementasi), Operate (Operasi) dan Optimize (Optimasi). Fase-fase ini dikenal dengan istilah PPDIOO. PPDIOO menghasilkan empat manfaat utama, yaitu:


1.Menurunkan total biaya yang harus dikeluarkan oleh organisasi/perusahaan, dengan melakukan validasi persyaratan-persyaratan teknologi, perencanaan perubahan infrastruktur dan kebutuhan akan berbagai macam sumber daya.

2.Meningkatkan ketersediaan layanan jaringan, dengan menghasilkan desain jaringan dan melakukan validasi operasi-operasi di dalam jaringan.

3.Meningkatkan kemampuan percepatan kemajuan bisnis, dengan mempersiapkan kebutuhan yang berorientasi bisnis, yang didukung oleh strategi penerapan teknologi.

4.Meningkatkan kecepatan akses ke aplikasi-aplikasi (software) dan layanan (services), dengan meningkatkan keandalan, ketersediaan, keamanan, skalabilitas dan kinerja.


Pada gambar 3.2 mendeskripsikan sebuah model siklus hidup jaringan dengan konsep PPDIOO yaitu, Prepare (persiapan), Plan (Perencanaan), Design (Desain), Implement (Implementasi), Operate (Operasi) dan Optimize (Optimasi).

Adapun pemahaman detail mengenai tiap-tiap fase pada metode pengembangan jaringan PPDIOO adalah sebagai berikut Cisco, Inc ( 2011,p13):

1.Fase Prepare (Persiapan)
Fase Prepare (persiapan), menetapkan kebutuhan organisasi dan  bisnis, mengembangkan strategi jaringan, dan mengusulkan konsep arsitektur dengan level tingkat tinggi, untuk mendukung suatu strategi, yang didukung dengan kemampuan keuangan pada organisasi atau perusahaan tersebut.

2.Fase Plan (Perencanaan)
Fase Plan (perencanaan) mengidentifikasi persyaratan jaringan berdasarkan tujuan, fasilitas, dan kebutuhan pengguna. Fase ini mendeskripsikan karakteristik suatu jaringan, yang bertujuan untuk menilai jaringan tersebut, melakukan gap analisis pada perancangan terbaik sebuah arsitektur, dengan melihat perilaku dari lingkungan operasional. Sebuah perencanaan proyek dikembangkan untuk mengelola tugas-tugas (tasks), pihak-pihak yang bertanggung jawab, batu pijakan (milestones), dan semua sumber daya untuk melakukan desain dan implementasi. Perencanaan proyek harus sejalan dengan ruang lingkup (batasan), biaya dan parameter sumber daya yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis . Rencana proyek ini diikuti (dan diperbarui) selama fase-fase dalam siklus.

3.Fase Design (Desain)
Desain jaringan dikembangkan berdasarkan persyaratan teknis, dan bisnis yang diperoleh dari kondisi sebelumnya. Spesifikasi desain jaringan adalah desain yang bersifat komprehensif dan terperinci, yang memenuhi persyaratan teknis dan bisnis saat ini. Jaringan tersebut haruslah menyediakan ketersediaan, kehandalan, keamanan, skalabilitas dan kinerja. Hasil desain termasuk diagram jaringan, dan daftar peralatan-peralatan. Rencana proyek harus terus diperbarui, dengan informasi yang lebih terperinci untuk diimplementasikan. Setelah tahap desain disetujui, fase implementasi dimulai.

4.Fase Implement (Implementasi)
Pada fase ini, peralatan-peralatan baru dilakukan instalasi dan di konfigurasi, sesuai spesifikasi desain. Perangkat-perangkat baru ini akan mengganti atau menambah infrastruktur yang ada. Perencanaan proyek juga harus diikuti selama fase ini, jika ada perubahan seharusnya disampaikan dalam pertemuan (meeting), dengan persetujuan yang diperlukan untuk dilanjutkan. Setiap langkah dalam implementasi, harus menyertakan deskripsi, rincian pedoman pelaksanaan, perkiraan waktu untuk penerapan, evaluasi (rollback) langkah-langkah jika terdapat kegagalan, dan informasi-informasi lainnya sebagai referensi tambahan. Seiring perubahan yang telah di implementasikan, tahapan ini juga menjadi langkah pengujian, sebelum pindah ke fase operasional (operate phase).

5.Fase Operate (operasional)
Fase operasional adalah mempertahankan ketahahan kegiatan sehari-hari jaringan. Operasional meliputi pengelolaan dan memonitor komponen-komponan jaringan, pemeliharaan routing, mengelola kegiatan upgrade, mengelola kinerja, mengidentifikasi dan mengoreksi kesalahan jaringan. Tahapan ini adalah ujian akhir bagi tahapan desain. Selama operasi, manajemen jaringan harus memantau stabilitas dan kinerja jaringan, Deteksi kesalahan, koreksi konfigurasi, dan kegiatan-kegiatan pemantauan kinerja, yang menyediakan data awal untuk fase selanjutnya, yaitu fase optimalisasi (optimize phase).

6.Fase Optimize (Optimalisasi)
Fase optimalisasi, melibatkan kesadaran proaktif seorang manajemen jaringan dengan mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah, sebelum persoalan tersebut mempengaruhi jaringan. Fase optimalisasi, memungkinkan untuk memodifikasi desain jaringan, jika terlalu banyak masalah jaringan yang timbul, kemudian juga untuk memperbaiki masalah kinerja, atau untuk menyelesaikan masalah-masalah pada aplikasi (software). Persyaratan-persayaratan untuk desain jaringan yang dimodifikasi mengarahkan perkembangan jaringan tersebut, kembali ke awal siklus hidup dalam model fase PPDIOO.


Br
Zaid Amin






Please follow and like us:
0
url1

Wireless Charging

Inductive charging (also known as “wireless charging“) uses an electromagnetic field to transfer energy between two objects. This is usually done with a charging station. Energy is sent through an inductive coupling to an electrical device, which can then use that energy to charge batteries or run the device.

Induction chargers typically use an induction coil to create an alternating electromagnetic field from within a charging base station, and a second induction coil in the portable device takes power from the electromagnetic field and converts it back into electrical current to charge the battery. The two induction coils in proximity combine to form an electrical transformer.Greater distances between sender and receiver coils can be achieved when the inductive charging system uses resonant inductive coupling.

* Advantages

1. Protected connections – no corrosion when the electronics are all enclosed, away from water or oxygen in the atmosphere.
2. Safer for medical implants – for embedded medical devices, allows recharging/powering through the skin rather than having wires penetrate the skin, which would increase the risk of infection.
3. Durability – Without the need to constantly plug and unplug the device, there is significantly less wear and tear on the socket of the device and the attaching cable.

* Disadvantages

1. Lower efficiency, waste heat – The main disadvantages of inductive charging are its lower efficiency and increased resistive heating in comparison to direct contact. Implementations using lower frequencies or older drive technologies charge more slowly and generate heat within most portable electronics.

2. Slower charging – due to the lower efficiency, devices can take longer to charge when supplied power is equal.

3. More costly – Inductive charging also requires drive electronics and coils in both device and charger, increasing the complexity and cost of manufacturing.

4. Inconvenience – When a mobile device is connected to a cable, it can be freely moved around and operated while charging. In current implementations of inductive charging (such as the Qi standard), the mobile device must be left on a pad, and thus can’t be moved around or easily operated while charging.

5. Newer approaches reduce transfer losses through the use of ultra thin coils, higher frequencies, and optimized drive electronics. This results in more efficient and compact chargers and receivers, facilitating their integration into mobile devices or batteries with minimal changes required. These technologies provide charging times comparable to wired approaches, and they are rapidly finding their way into mobile devices.

For example, the Magne Charge vehicle recharger system employs high-frequency induction to deliver high power at an efficiency of 86% (6.6 kW power delivery from a 7.68 kW power draw).

Courtesy of :  http://en.wikipedia.org/wiki/Inductive_charging

Please follow and like us:
0