Routing Protocols pada Holistic Network di Era Big Data

 

Zaid Amin,

Universitas Bina Darma: Fakultas Ilmu Komputer, Teknik Informatika,

Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia,

zaidamin@binadarma.ac.id

 

Abstract-Era “Big Data” telah menjadi suatu tantangan  besar yang harus dihadapi oleh suatu jaringan komputer untuk dapat reliable menghantarkan data, dan sekaligus menjadi jembatan bagi ketersediaan lalu lintas data, baik dalam hal layanan pengolahan, penyimpanan dan analisa data yang berukuran besar, memiliki tingkat variasi tinggi dari beberapa sumber yang disampaikan dari sumber secara realtime ke tujuan. Pengaruh pemilihan protokol routing dengan klasifikasi static routing atau dynamic routing seperti RIP, EIGRP, OSPF, IS-IS dan BGP layaknya harus sesuai dengan kebutuhan setiap user dengan memperhatikan tantangan dan kebutuhan di era big data. Pada penelitian ini digunakan metode perancangan jaringan dengan model PPDIOO yaitu, Prepare, Plan, Design, Implement, Operate, and Optimize dan menghasilkan rekomendasi mengenai kebutuhan desain arsitektur dan jenis protokol routing yang tepat ditinjau dari karakteristik jaringan dengan memahami konsep distance vector protocol atau link-state protocol, untuk digunakan oleh jaringan dalam menyediakan layanan yang dapat diandalkan dengan konsep arsitektur holistic network di era big data.


BACKGROUND

Fenomena yang terjadi pada era big data dimana pertukaran informasi, dan pertumbuhan lalu lintas jaringan berbasis internet telah meningkat hampir tiga kali lipat per tahun berdasarkan data dari Cisco, Inc. Pertumbuhan akan aplikasi yang beragam yang disertai dengan fitur terbaru bertambah hampir setiap hari, dan menjadi sebuah tantangan baru bagi suatu jaringan untuk menjamin kehandalan kinerja baik ditinjau dari segi model desain jaringan maupun bagaimana cara melakukan optimasi pada proses konfigurasi nya, baik itu proses routing maupun switching, kesiapan perangkat dan aplikasi yang mendukung konsep 3V (volume, velocity, and variety) dalam bertukar paket pada sebuah jaringan menjadi hal yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan jaringan. Jaringan juga dihadapkan dengan tantangan mengenai apakah perangkat-perangkat jaringan mampu menangani lalu lintas data yang semakin meningkat. Konsumsi lalu lintas internet global diperkirakan pada akhir tahun 2015 sebanyak tiga miliar pengguna akan mencapai quadruple 1 zettabyte per tahun. Trafik IP global tahunan akan melewati ambang zettabyte (1000 exabytes) pada akhir tahun 2016, dan akan mencapai 2 zettabytes per tahun menjelang 2019. Lalu lintas IP global telah meningkat lima kali lipat selama lima tahun, dan diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat selama lima tahun ke depan. Secara keseluruhan, lalu lintas IP akan tumbuh sebesar 23 persen dari tahun 2014 hingga 2019 menurut compound annual growth rate (CAGR) [2]. Holistic network adalah sebuah konsep jaringan dimana kebutuhan akan performa suatu jaringan harus terus menerus di optimalkan dalam terminologi era big data dan hubungannya pada jaringan enterprise yang tradisional. Jaringan menjadi sebuah landasan yang sangat penting untuk melakukan transaksi yang reliable antara massively parallel server dengan teknologi Hadoop atau arsitektur lainnya, dan antara server cluster dengan enterprise storage system. Adapun manfaat dalam pendekatan holistik jaringan (holistic network) meliputi:

  • Kemampuan untuk meminimalkan duplikasi biaya dimana satu jaringan dapat mendukung semua beban kerja
  • Multitenancy untuk mengkonsolidasikan dan memusatkan proyek-proyek big data
  • Kemudahan penyediaan jaringan dimana pengelolaan beban kerja berdasarkan prioritas bisnis
  • Kemampuan untuk memanfaatkan keahlian staf jaringan di seluruh datacente [1].

METHODS

Dengan kebutuhan layanan jaringan yang semakin kompleks, maka diperlukan suatu metodologi yang mendukung perancangan arsitektur dan disain jaringan. Cisco memperkenalkan sebuah metode perancangan jaringan dengan model PPDIOO yaitu, Prepare, Plan, Design, Implement, Operate, and Optimize. Model siklus hidup metode pengembangan jaringan dengan konsep PPDIOO ini, memberikan langkah-langkah kunci dalam keberhasilan perencanaan jaringan, baik itu pada tahapan desain, implementasi dan operasional nantinya. Pendekatan dengan model top-down design, mengarahkan infrastruktur jaringan untuk beradaptasi pada aplikasi-aplikasi apa saja yang dibutuhkan oleh suatu jaringan.

Fase-fase ini dikenal dengan istilah PPDIOO. PPDIOO menghasilkan empat manfaat utama, yaitu:

  • Menurunkan total biaya yang harus dikeluarkan oleh organisasi/perusahaan, dengan melakukan validasi persyaratan-persyaratan teknologi, perencanaan perubahan infrastruktur dan kebutuhan akan berbagai macam sumber daya.
  • Meningkatkan ketersediaan layanan jaringan, dengan menghasilkan desain jaringan dan melakukan validasi operasi-operasi di dalam jaringan.
  • Meningkatkan kemampuan percepatan kemajuan bisnis, dengan mempersiapkan kebutuhan yang berorientasi bisnis, yang didukung oleh strategi penerapan teknologi.
  • Meningkatkan kecepatan akses ke aplikasi-aplikasi (software) dan layanan (services), dengan meningkatkan keandalan, ketersediaan, keamanan, skalabilitas dan kinerja.

CURRENT RESULTS

Era big data menghasilkan tingkat lalu lintas data jaringan yang massive dan dalam proses konfigurasi routing protokol diperlukan penguasaan pengetahuan tentang algoritma routing protokol seperti apa yang cocok untuk digunakan. Protokol routing dinamis yang diperlukan untuk mendukung karakteristik big data haruslah mengacu pada konsep 3V (volume, velocity, and variety). Penggunaan protokol routing dengan jenis static routing dinilai sangatlah tidak tepat jika dilihat dari faktor kemudahan administrasi pada jaringan berskala besar, dan juga ditinjau dari kecepatan adaptasi sebuah perangkat router dalam mengarahkan suatu paket dalam jaringan (convergence time). Begitupun juga pada sebuah holistic network dimana kemudahan penyediaan jaringan dengan performa yang selalu tinggi dengan konsep data centre yang besar membutuhkan protokol routing yang dapat memperkecil convergence time, sehingga jaringan dapat melakukan update routing tables tanpa konsekuensi kehilangan resources seperti bandwidth dan CPU time. Semakin banyaknya aplikasi yang meningkatkan jumlah koneksi baru pada jaringan, seperti smart meter, video monitoring, sensor big data, juga menyebabkan perlunya protokol routing dinamis yang mampu memperkecil jumlah metrics. Kesiapan protokol routing yang muktahir untuk memperbarui routing tables sangat penting untuk jaringan holistik. Hasil daripada nilai administrative distance (AD) yang rendah seperti protokol EIGRP akan menjadi jawaban untuk bisnis dalam menangani kebutuhan dan tantangan era big data di masa depan.

REFERENCES

[1]       B. Lucinda and L. Richard,”The Critical Role of the Network in Big Data Applications.” White Paper of Cisco Systems, April 2012.

[2]       Cisco, “The Zettabyte Era: Trends and Analysis”, USA. May 2015.

[3]       Cisco, “CCNA Exploration Routing Protocols and Concepts 4.0.0.0”, Cisco Materials 2007.

[4]       Hsinchun Chen, Roger H. L. Chiang, Veda C. Storey, “Business Intelligence and Analytics: from Big Data to Big Impact”. MIS Quarterly Vol. 36 No. 4/December 2012.

[5]       Morabito, Vincenzo, “Big Data and Analytics Strategic and Organizational Impacts”, Springer International Publishing Switzerland 2015.

Paper Presented at:

http://seminar.ilkom.unsri.ac.id/index.php/ars

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>