Hampir genap satu minggu rutinitas belakangan agak sedikit berubah dari biasanya, biasanya si macan hitam yang menemani kesana kemari, hehe… kini si macan hitam telah berganti menjadi si merah … si “dia” yang berwarna “merah”… (mobil timor dohc keluaran tahun 1997).

Apa yang menjadi latar belakang hingga Saya akhirnya memilih untuk sedikit melompat menggunakan roda empat ini dikarenakan antara lain, 1. pajak si macan yang telah masuk 5 tahun habis, 2. kondisi si macan yang boleh dibilang sudah uzur (patah dan karatan sana sini), 3. keinginan untuk melengkapi kebutuhan keluarga, dimana kebutuhan akan mobilitas menggunakan si roda empat ini telah menjadi sangat penting, 4. sudah waktunya untuk berubah, 5. Kemauan si penjual mobil untuk bertukar dengan si macan (alias si macan menjadi DP si merah).
Bicara mengenai mobil yang pernah menjadi salah satu grand project di era presiden soeharto ini, bukanlah hal dan alasan yang terlalu menarik perhatian Saya untuk mengambil nya, namun dikarenakan sesuatu dan lain hal yang boleh dikatakan kebetulan dan kerja iseng lah yang akhirnya membuat hal tersebut terjadi. 
Bukan hal yang mudah juga untuk merawat dan menempatkan si merah ini dengan kondisi rumah yang tidak memiliki halaman lebih untuk dijadikan sebagai tempat bersandar si merah, butuh sedikit penyesuaian, butuh sedikit kepercayaan diri dan cost tertentu pula.
Kini si macan telah pergi, dan si merah menjadi pengganti, kegunaan si merah pun terasa ketika seluruh keluarga bisa menikmati dengan segala keterbatasan si merah (yach namanya juga mobkas, banyak dandan, banyak cingcong kalo kata orang Palembang gitu :p ). 
Ada hal yang lucu juga ketika si merah dah waktunya untuk di selimuti di kala hari berganti (maksudnya malem gitu), saya terpaksa harus menunggu tetangga untuk benar-benar telah masuk ke rumah (motor parkir etc), kadang sampai jam 10.00, 11.00 yach tentatif > jam 10.00 an, baru dech si merah ngelongsor merapat di teras bersama kepunyaan tetangga.
Di pagi hari pun begitu, jam 05.00 teng, si merah harus sudah out lagi, (hehe, kadang sambil pake sarung + rambut mohak abis bangun pagi) si merah dikembalikan lagi ke lapangan yang menjadi fasum di daerah kami, begitulah dinamika hari-hari belakangan ini (inzet kalau kata orang Palembang: kalo dak dikejutke gawe ne dak bakalan jadi).
 
Dengan adanya si merah pun aktifitas pagi bertambah (apalagi seperti disaat musim penghujan ini), dipoles terus, dimandiin, disemir etc.
Mudah-mudahan dengan kehadiran si merah akan membawa manfaat lebih (itulah do’a Saya ketika meminta untuk dimudahkan atau disulitkan ketika pertama kali bertemu si merah).
Note: Kalo dak dikejutke gawe ni dak bakalan jadi.
Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>